Sabtu, 12 Oktober 2019

Pentingnya Belajar Melalui Guru Dan Sanad


Seseorang bisa keliru pikiran dan keyakinannya disebabkan ilmu yang diperolehnya salah. Karena itu, posisi ilmu sangat penting. Adapun kerusakan dalam bidang ilmu bisa disebabkan beberapa hal. Antara lain; mempelajari ilmu tanpa guru, meremehkan otoritas ulama dan guru yang keliru.

Belajar agama tanpa guru sangat rawan gagal paham dalil agama, dan mudah ditipu aliran sesat. Sesorang ingin mengetahui makna al-Qur’an tanpa belajar dan tanpa bimbingan guru, akan menemui kesulitan. Sebab lafadz al-Qur’an bisa berupa metafora, mengandung makna ganda, dan sifatnya global. Sehingga perlu rincian untuk menemukan hakikat makna sesungguhnya. Begitu pula berlaku dalam belajar fikih, hadis dan lain-lain. Selain itu, seseorang akan mudah ditipu oleh ‘penjahat agama’ bila dia belajar tanpa guru. ‘Penjahat agama’ akan memberi mempengaruhi cara berpikir. Karena tidak figur yang dianuti, ia bisa terpleset logika sesat.

Penting untuk dipertegas, bahwa Islam merupakan agama yang sangat menghormati, memulyakan dan memberi penekanan pada kepentingan ilmu. Apa pun yang dihubungkan dengan ilmu akan menjadi mulya. Ulama mulya karena penguasaan dan pengamalannya terhadap ilmu. Suatu tempat menjadi mulya bila ditempati untuk majelis ilmu. 

Manusia paling mulya di sisi Allah Swt adalah orang yang bertakwa. Ilmu merupakan tangga menuju manusia bertakwa, beribadah dengan betul. Ibadah dikehendaki oleh Allah diperoleh setelah manusia memiliki pengetahuan dan kenal dengan Allah Swt. Ilmu bisa menjadi alat mengendalikan manusia dari perbuatan keji dan munkar.

Bila kita pelajari suatu ilmu, tetapi tidak semakin bertakwa, maka ada dua sebab; bisa jadi ada subjek ilmu yang belum ditekuni dan bisa pula mindset belajarnya keliru yaitu ilmunya dituju untuk tujuan-tujuan tidak baik.

Ternyata, disiplin ilmu-ilmu itu tidak mengandung manfaat kecuali bila membantu menuju kepada takwa. Jadi, kemuliaan ilmu digantungkan oleh manfaat atau tidaknya. Sudah pasti dengan memenuhi syarat mempelajari; yaitu niat karena Allah Swt. Sementara, ilmu yang tidak bermanfaat akan menjadi ‘senjata’ menenggelamkan seseorang dalam kekeliruan.

Maka, setiap ilmu yang tidak disertai rasa takwa dipastikan tidak akan memberikan kebaikan. Dan pemiliknya tidak boleh digelari dengan alim. Ilmu yang wajib diperoleh manusia itu adalah ilmu-ilmu yang dapat menghantar untuk mengenal Allah. Inilah ilmu terbaik, termulya yang setiap Muslim wajib mempelajarinya.

Tidak ada petunjuk – baik itu dalam al-Qur’an, hadis, atau fatwa ulama – itu yang mengukur kemulyaan dengan harta. Karena sikap Islam cukup jelas, bahwa ilmu lebih mulya daripada harta. Justru, cela terhadap harta duniawi sering dijelaskan oleh para ulama.

Karena itu, jika ilmu dicampuri atau dikuasai oleh harta duniawi, maka ilmu menjadi rusak. Dorongan nafsu termasuk duniawi. Makanya, ilmu semestinya mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang menguasai ilmu.

Dorongan nafsu yang biasa menyerang penuntut ilmu adalah ketidak sabaran menerima ilmu. Imam Syafi’i menasihati, bahwa supaya penuntut ilmu berhasil, memerlukan waktu yang panjang (thulul zaman).

Tetapi akibat dorongan nafsu, maka penuntut ilmu secara instan. Kita lihat kasus-kasus dalam dunia pendidikan saat ini. Gelar akademik yang diperjual-belikan.

Perkembangan di dunia teknologi juga memberi peluang orang melakukan langkah instan dalam belajar. Seorang penuntut ilmu bisa mengakses segala informasi dari media sosial dan website. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjelaskan salah satu adab seorang pelajar adalah jangan sekali-kali mengambil ilmu dari buku tanpa guru. Sebab, lembaran kertas tidak bisa membimbing. Sementara guru akan membimbing jika bacaan pelajar yang keliru.Sepintar apapun dan seluas apapun pengetahuan seseorang bila tidak memiliki sanad guru, maka dalam Islam keilmuannya tidak sah. Serta tidak pantas diangkat sebagai seorang guru alim.

Ilmu sanad adalah sebuah tradisi ilmiah yang hanya dimiliki oleh umat Islam. Tidak ada umat, dari agama dan ras manapun yang memiliki tradisi ilmiah ini. Ahli hadits menyusun rumusan keilmuan ini dengan kaidah-kaidah detil yang mengagumkan.

Isnad atau sanad adalah silsilah nama-nama perawi (pewarta) yang membawakan suatu berita tentang hadits Nabi ﷺ atau kejadian-kejadian sejarah. Dinamakan sanad, karena para penghafal menjadikannya acuan dalam menilai kualitas suatu berita atau ucapan. Apakah ucapan tersebut shahih (valid) atau dha’if (tidak valid).

Dalam tradisi Islam sejarah Islam, kita harus membaca sejarah sebagaimana halnya membaca hadits-hadits Rasulullah ﷺ. Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah ﷺ diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui proses penelitian sanad (silsilah pewarta) dan matannya (teks berita). Para ulama kita memperhatikan nama-nama periwayat dan redaksi ucapan yang mereka riwayatkan. Mereka mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan oleh perawi, memilah-milahnya, menghukuminya, dan memisahkan mana yang shahih dan mana yang dha’if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ bisa dibersihkan dari kebohongan dan hal-hal buruk yang disisipkan padanya.

Ironisnya, sekarang ini kaum muslimin tidak lagi memperdulikan kualitas kabar, cerita, dan berita yang mereka baca. Mereka lupa tradisi emas yang disusun oleh ulama-ulama mereka. Sebagian umat Islam gandrung dengan tulisan-tulisan modern dan mengenyampingkan karya ulama-ulama mereka. Mereka membaca sejarah dengan mengedepankan keindahan bahasa dan runut alurnya. Tak lagi memperhatikan apakah riwayat yang dinukil buku-buku tersebut benar atau tidak. Padahal Islam memiliki standar yang tinggi dalam menerima berita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS:Al-Hujuraat | Ayat: 6).

Ajaran Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah atau Maturidiyah berbeda jauh dari ajaran Salafi Wahabi, yang mengakibatkan sikap dan pandangan ulama dan pengikutnya jauh berbeda. Demikian juga dalam mengambil ilmu agama. Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad dari mana ilmu itu didapat.

Jauh berbeda dari Ulama Salafi Wahabi yang mengatakan bahwa ilmu sudah tertulis lengkap dari zaman salaf. Sanad hanya diperlukan di zaman salaf ketika menyampaikan Hadits. Katanya ilmu pengetahuan sudah berkembang sudah tertulis dalam buku. Jadi dengan membaca Kitab induk itu sudah cukup, tidak perlu pakai sanad yang sambung menyambung hingga ke penulis Kitabnya.

Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah sangat mementingkan sanad ilmu, sebab mereka berkeyakinan ilmu agama itu ada dalam diri manusia yaitu pada hati dan akhlak para Ulama. Sedang Kitab adalah hanya catatan ilmu dari hati para Ulama, yang untuk memahaminya kita perlu kenal Ulama itu, agar pemahaman kita dalam membaca Kitab itu sama dengan yang difahami oleh Ulama yang menulisnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengisyaratkan bahwa ilmu para Nabi memang diwariskan pada Ulama sebagaimana disebut dalam hadits berikut:

العلماء ورثة الأنبياء

Ulama adalah pewaris Nabi

Kemudian hadits berikut lebih menegaskan lagi bahwa ilmu ada pada ulama

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

Telah bersabda Rasulullahi shallallahu alaihi wassalam: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. [Al-Bukhari (100, 7307); Muslim (2673)]

Itu sebabnya duduk dan bertemu bersama Ulama adalah media belajar dan menimba ilmu yang utama, selain membaca Kitabnya. Dengan bertemu, melihat dan duduk bersama Ulama, kita akan dapat melihat tauladan, merasakan suasana bersama Ulama yang tidak dapat diperoleh kecuali dengan bertemu dan duduk bersama Ulama. Bukankah seorang muslim yang bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan wafatnya dalam keadaan muslim mendapat gelar yang tidak diperoleh oleh muslim lain yaitu Shahabat radhiallahu anhum.

Ulama yang Ilmunya bersanad, akan selalu bercerita kepada muridnya tentang gurunya. Bahkan Ulama itu sangat ingin agar murid menjumpai gurunya itu, agar muridnya itu memperoleh ilmu dan berkat sebagaimana yang diperoleh oleh Ulama itu. Demikianlah sikap para Ulama yang ilmunya bersanad.

Bukankah doa yang selalu kita baca dalam Surat Al Fatihah, adalah meminta ditunjukkan oleh Allah, jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat. Nikmat yang dimaksud adalah tentu nikmat Iman dan Islam. Orang yang telah diberi nikmat itulah para guru dan Ulama, yang belajar dari gurunya yang belajar dari gurunya yang sambung menyambung tanpa putus hingga sampai kepada Sahabat dan seterusnya sampai kepada Rasulullah shallallahu alaih wassalam, puncak pimpinan dari golongan orang yang telah diberi nikmat Iman dan Islam oleh Allah.
Itu pula sebabnya murid-murid sangat hormat pada gurunya, karena memuliakan ilmu warisan Rasulullah shallallahu alaih wassalam yang ada pada diri guru itu. Mereka sangat berterima kasih dan mendatangi gurunya ketika beliau masih hidup maupun sudah wafat dengan menziarahi makamnya. Murid-murid itu juga menziarahi makam Ulama-Ulama terdahulu yaitu guru dari guru mereka, karena begitulah gurunya memberi contoh kepada mereka.

Menziarahi dengan tujuan selain untuk mengingati mati, juga untuk mendoakan, mengingati jasa dan untuk lebih mengenal pribadi Ulama itu untuk dapat mengikuti jejak para Ulama itu. Itu pula sebabnya pengikut Ahlussunnah wal Jamaah Asy’ariyah/Maturidiyah menjaga peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan para Ulamanya agar kita dapat mengenal pribadi, mencintai dan mengikuti jejak para pendahulu mereka.

Kita selalu melihat bagaimana para murid menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada guru-guru mereka, sebagai tanda terima kasih atas jasa para guru, dan berdoa kepada Allah seperti apa yang diminta dalam surat Al Fatihah agar ditunjukkan jalan seperti guru-guru mereka yang telah mendapatkan nikmat Iman dan Islam.
Berbeda jauh dari golongan Salafi Wahabi yang justru menghilangkan jejak dan peninggalan mereka itu, bahkan peninggalan Rasulullahu shallallahu alaihi wassalam –pun dihancurkan oleh mereka. Mereka merasa tidak perlu mengenal gurunya lebih dekat sebab ilmu agama menurut mereka ada pada Kitab tanpa perlu guru yang bersanad.

Salah satu sebab pentingnya belajar bersanad adalah untuk memastikan bahwa ilmu yang disampaikan dan diterima dari Ulama dari satu generasi ke Ulama di generasi berikutnya adalah sama sebagaimana ilmu itu diterima dar Ulama di generasi sebelumnya. Hal ini sangat penting, sebab cara penyampaian seperti ini menjamin kebenaran pemahaman ilmu yang diwariskan.
Sedang ilmu yang disampaikan dengan hanya membaca Kitab dari Ulama Salaf tanpa sanad ilmu, sangat memungkinkan ilmu yang diterima sudah dimasukkan oleh pemahaman dari dirinya sendiri dan terpengaruh hawa nafsunya.
Belum lagi kalau Kitab itu sudah dipalsukan textnya, sebagaimana yang terjadi pada Kitab-Kitab Ulama Muktabar, Atau diberi catatan kaki yang menyesatkan yang sama sekali tidak jelas sanad asalnya. Bahkan catatan kaki yang menyesatkan ini juga ada pada Kitab terjemah Al Qur’an.

Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.
Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah
Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.

Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.

Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, hubungan, sanad adalah hubungan kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilah adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita.

“Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah”.

Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan”

“Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw,”
Kita jangan mengulang apa yang telah terjadi pada kaum Nasrani dimana ilmu agama mereka sanadnya terputus dari lisannya Nabi Isa a.s.  Kitab suci yang ditangan mereka telah bercampur dengan akal pikiran mereka sendiri di mana di dalamnya ada unsur  hawa nafsu atau kepentingan manusia belaka sehingga mereka tidak “mengenal”  Rasul Allah yang terakhir , Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam

وَلاَبُدَ فِى سُلُوْكِ طَرِيْقِ الْحَقِّ مِنْ اِرْشَادِ اُسْتَاذٍ حَاذِقٍ وَتَسْلِيْكِ شَيْخٍ كَامِلٍ مُكَمَّلٍ حَتَّى تَظْهَرُ حَقِيْقَةِ التَّوْحِيْدِ بِتَغْلِيْبِ الْقَوِى الرُّحَانِيَةِ عَلَى اْلقَوِىِّ الْجِسْمَانِيَّةِ

Diwajibkan bagi orang yang mencari jalan yang benar (belajar agama) untuk mencari seorang guru yang benar, dan di bawah arahan guru yang sempurna dan bisa menyempurnakan sehingga bisa menghantarkan kepada hakikatnya keyakinan dengan mengedepankan kekuatan ruhani mengalahkan kekuatan jasmani (akal fikiran)
(Tafsir haqqi, juz 15, hal: 13)

وقال الشيخ أَبُوْ عَلِىّ الدَّقَاقِ : لَوْ أَنَّ رَجُلاً يُوْحَى إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ لاَ يَجِيْئُ مِنْهُ مِنَ اْلأَسْرَارِ

Syeh Abu Ali al-Daqoq berkata: seandainya seseorang diberi petunjuk dan baginya tidak memiliki guru maka jangan berharap akan muncul baginya asror (rahasia yang benar dari kebenaran ilmu tersebut).

فَعَلَى قَارِئَ اْلقُرآنِ اَنْ يَأْخُذَ قِرَائَتُهُ عَلَى طَرِيْقِ التَّلَقِّى وَ اْلإِسْنَادِ عَنِ الشُّيُوْخِ اْلآخِذِيْنَ عَنْ شُيُوْخِهِمْ كَى يَصِلَ اِلَى تَأْكِدٍ مِنْ أَنَّ تِلاَوَتَهُ تُطَابِقُ مَا جَاءَ عَنِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه و سلم

Bagi orang yang belajar membaca al-Qur’an di(syaratkan) untuk belajar cara membaca dari (guru) yang guru tersebut mendapat ajaran dari gurunya, agar kebenaran dari bacaan tersebut sesuai dengan apa yang di ajarkan rasulullah saw.
(Haqqu al-Tilawaah, hal: 46)

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda 

2 komentar:


  1. Izin promo ya Admin^^
    bosan tidak ada yang mau di kerjakan, mau di rumah saja suntuk,
    mau keluar tidak tahu mesti kemana, dari pada bingung
    mari bergabung dengan kami di ionqq^^com, permainan yang menarik dan menguras emosi
    ayo ditunggu apa lagi.. segera bergabung ya dengan kami...
    add Whatshapp : +85515373217 ^_~

    BalasHapus
  2. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus