Kamis, 19 Oktober 2023

Makna Filosofi Punakawan

 Wayang dalam budaya Jawa merupakan bentuk kesenian yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan namun juga media penyampaian pesan dan filosofi.


Dalam sebuah pertunjukan wayang biasanya akan ditampilkan tokoh-tokoh pewayangan, salah satunya dijuluki dengan Punakawan.


Makna filosofi Punakawan dalam pewayangan merupakan ciptaan orang Jawa yaitu Sunan Kalijaga, di mana keempat tokoh tersebut digunakan untuk menyebarkan agama Islam dengan metode dakwah.


Asal usul anak-anak Semar berkaitan dengan proses penciptaan yang dilakukan tokoh setengah dewa itu. Anak tertua dan kedua, yaitu Gareng dan Petruk merupakan hasil dari proses pemujaan Semar. Anak ketiga, Bagong, diciptakan saat Semar memerlukan teman ketika berkunjung ke dunia, sehingga tercipta Bagong dari bayang-bayang Semar, dengan perawakannya yang pendek dan gemuk mirip postur Semar. Sedangkan, Semar sendiri adalah dewa yang bernama Betara Ismaya, yang bersaudara dengan Betara Manikmaya (Betara Guru), anak Sang Hyang Tunggal.


Semar diberi tugas untuk mengasuh keturunan dewa, yaitu Pandawa. Ia pun berubah wujud ketika berada di dunia sebagaimana yang kita kenal sekarang. Peranan para Punakawan dalam cerita wayang adalah mendampingi seorang kesatria, yang biasanya lekat dengan kesatria Pandawa, seperti Arjuna. Mereka diberi tugas untuk 

(1) menemani dan mengabdi sang kesatria; 

(2) membimbing, menasihati; 

(3) menghibur sambil menyampaikan pesan-pesan kebaikan.


Mereka adalah teman seperjalanan ketika sang kesatria mengembara, berburu, atau melakukan perjalanan ke suatu negeri tertentu.


Di dalam dunia pewayangan, karakter setiap tokoh pada dasarnya tercermin dari berbagai bentuk visual yang secara langsung dilihat penonton dan diinterpretasikan menjadi sebuah konsep. 


Selain itu, Punakawan juga memiliki karakter masing-masing yang tentunya patut untuk diselami lebih dalam. 


Pertama, Semar merupakan tokoh yang digambarkan memiliki wajah dengan kelopak mata yang lebar dan menyipit, hidung pesek, mulut yang lebar dan membentuk garis ke bawah, kodisi dagu yang lebih panjang. Dalam pewayangan, mata Semar diceritakan senantiasa berair. Dari wajah yang murung demikian itu mengesankan adanya kemurungan yang berasal dari kondisi jiwa, sehingga menggambarkan kesedihan. Kesedihan itu berkorelasi dengan perasaannya yang nelangsa (merana), prihatin terhadap keadaan manusia di dunia. Di wajah Semar tersebut tersirat filosofi umat manusia yang menderita oleh nafsu duniawi. Ia tahu apa yang dihadapi manusia, sehingga petuah dan ucapannya akan memberi pengajaran agar manusia memperoleh pencerahan dalam mengenali dirinya.


Kedua, Gareng sebagai anak tertua Semar ini dalam format wayang kulit memiliki komposisi wajahnya bermata besar, hidung bulat besar, mulut dan bibir yang lebar dengan garis keatas yang mengesankan tersenyum. Ia tergolong manusia yang memiliki pengetahuan dan dari dirinya lahir kebijaksanaan. Hal itu, terlihat pada komposisi bola matanya yang juling, yang mengesankan bahwa ia senantiasa memusatkan perhatian dan banyak berpikir sebelum bertindak. Tindakan yang hati-hati tersebut ditunjang pula oleh kondisi fisik kakinya yang jinjit (pincang jika berjalan), dan tangan yang bengkok. Gareng adalah simbol kehati-hatian.


Ketiga, Petruk memiliki wajah yang sangat khas, yaitu mata yang besar dengan kelopak mata yang panjang, hidung yang panjang, mulut yang lebar dengan bibir melengkung ke atas mengesankan tersenyum. Ia memiliki kumis yang tipis dan panjang. Kondisi fisik Petruk yang panjang bukan saja di bagian wajah, tetapi juga hampir di semua bagian tubuhnya: leher, badan, tangan, dan kaki. Ukuran serba panjang itu menyiratkan bahwa Petruk senantiasa memiliki pikiran yang panjang (kreatif, cermat, dan tidak terburu-buru). Secara keseluruhan perawakan Petruk mengesankan bahwa ia lucu dan memiliki selera humor yang tinggi.


Keempat, Bagong yang kendati tokoh ini berasal dari bayang-bayang Semar, terdapat perbedaan signifikan dengan perawakan Semar. Bagong memiliki mata yang bulat besar, hidung pesek, bibir tebal dan mulut yang lebar dengan garis mengarah ke atas. Kumis tipis dan panjang menghiasi bibir atasnya. Mata Bagong yang besar mencirikan tokoh ini agak bodoh. Bibir tebal dan mulut yang lebar menandakan ia banyak bicara.


Menurut penulis, sesuai dengan karakteristik tokoh Punakawan yang telah dijabarkan satu persatu, dapat dipetik nilai filosofi bahwa Punakawan sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam karena nilai pada setiap karakternya yang mengajarkan kita agar senantiasa ingat untuk tidak nafsu pada kehidupan duniawi saja seperti filosofi yang tersirat pada wajah Semar yang menderita oleh nafsu duniawi.


Kita harus senantiasa bijaksana dalam bertindak dan kehati-hatian dalam bertindak sangat harus dipikirkan matang-matang seperti pada nilai filosofi tokoh Gareng, kita harus senantiasa memiliki pikiran panjang (kreatif, cermat, dan tidak terburu-buru) serta memiliki selera humor yang tinggi seperti tokoh Petruk, yang terakhir adalah kita juga harus senantiasa mengingat untuk tidak seperti peribahasa "tong kosong nyaring bunyinya" atau kita tidak boleh banyak bicara dalam konteks berlagak pintar namun aslinya tidak begitu pintar seperti tokoh Bagong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar