Translate

Rabu, 15 Februari 2023

Sholat Sunah Mi'roj

 اعلم ان الليالى المخصوصة بمزيد الفضل التي يتأكد فيها استحباب الاحياء في السنة خمس عشرة ليلة…وليلة سبع وعشرين منه وهي ليلة المعراج… فمن صلى في هذه الليلة اثنتى عشرة ركعة يقراء في كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة من القران ويتشهد في كل ركعتين ويسلم


Artinya: ketahuilah.. sesungguhnya malam malam yang dikhususkan dengan tambahnya keutamaan, dianjurkan untuk menghidupkanya dalam satu tahun ada 15 malam.. dan malam 27 Rajab termasuk dari malam tersebut, yaitu malam mirajnya Nabi Muhammad SAW.


Barang siapa melakukan sholat pada malam tersebut 12 rokaat, dalam setiap rokaatnya membaca surat alfatihah dan surat dari Alqur an bertsyahud dalam dua rokaat dan salam.


Untuk melaksanakannya bisa dengan niat shalat hajat. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah.


Ada banyak amalan sunah yang bisa dilakukan saat malam Isra Miraj dan saat Isra Miraj.


Termasuk melaksanakan salat sunah sebanyak 12 rekaat dengan salam setiap dua rekaat.


Shalat sunnah mutlak pada malam Isra dan Miraj ini boleh dilaksanakan setelah salat Maghrib, dan boleh juga dilaksanakan setelah salat Isya.


- Pertama, niat melaksanakan salat sunnah mi'roj sebanyak dua belas rakaat dengan melakukan salam setiap dua rakaat.


Lafal niatnya sebagai berikut:


اُصَلِّى سُنَّةً معراج رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالٰى


Ushollii sunnatan mi'roj rok’ataini lillaahi ta’ala.


Aku niat shalat sunnah mi'roj dua rakaat karena Allah Ta’ala.



- Kedua, pada setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah.


Kemudian dilanjutkan membaca surah Al-Ikhlas atau surah-surah Al-Quran lainnya.


- Ketiga, setelah salam dilanjutkan membaca kalimat tasbih berikut sebanyak seratus kali;


سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر


Subhaanallah walhamdu lillah walaa ilaaha illallah wallaahu akbar.


Kemudian membaca kalimat istighfar berikut sebanyak seratus kali;


استغفر الله العظيم


Astaghfirullaahal ‘adziim.



- Setelah itu, dilanjutkan membaca shalawat berikut sebanyak seratus kali;


اللهم صل وسلم على سيدنا محمد


Allohumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin.



Shalat ini berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam kitab Lamahatul Anwar wa Nafahatul Azhar riwayat Ibnu Abbas berikut;


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: للعابد في هذه الليلة حسنات مائة سنة فمن صلى فيها اثنتي عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة بأم القرأن وسورة من القرأن فيتشهد في كل ركعة ويسلم في أخرهن ثم يقول سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر مائة مرة ويستغفر الله مائة مرة ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم مائة مرة ويدعو لنفسه ما يشاء من امر دنياه واخرته ويصبح صا ئما فان الله يستجيب دعاءه الا ان يدعو في معصية


Artinya: Rasulullah Saw bersabda, bagi orang yang beribadah pada malam ini (27 Rajab) mendapatkan kebaikan seratus tahun. Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam ini sebanyak dua belas rakaat, pada setiap rakaat membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Quran, kemudian tasyahud dalam setiap rakaat dan salam setelah selesai Sholat kemudian membaca  



Subhaanallah walhamdu lillah walaa ilaaha illallah wallaahu akbar’ 100x

Istighfar 100x

Sholawat 100x


Kemudian Berdoa untuk kebaikan dirinya dalam urusan dunia maupun akhirat, kemudian berpuasa keesokan harinya, maka Allah akan mengabulkan doanya kecuali berdoa untuk tujuan maksiat.


Selasa, 14 Februari 2023

Kisah Percikan Darah Dalam Penulisan Baratayuda

 Pada Pemerintahan Sang Prabu Jayabaya di Kerajaan Kediri ditulislah Kitab Bharatayuda oleh dua Pujangga Keraton yaitu Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Biasanya Kitab apapun itu hanya ditulis oleh seorang Pujangga saja, namun kali ini oleh dua Pujangga Keraton. Apa sebabnya?


Di Pasewakan Agung Kerajaan Kediri Sang Prabu Jayabaya duduk di Singgasana gading dihadap para Nayaka Praja antara lain Patih, para Bupati, para Tumenggung dan seluruh Pejabat Istana yang memenuhi ruang pasewakan. Semua duduk dengan menundukkan kepala dan diam seribu bahasa sambil menunggu sabda Sang Prabu.


Setelah Sang Prabu berdialog dengan Patih dan para Bupati serta para Tumenggung dipangginyalah Mpu Sedah mendekat.


“Sedah, bocah bagus silakan maju ke depan. Jangan sungkan karena kamu abdi saya yang paling saya kasihi.”


“Mohon maaf Paduka, karena kami sudah berani ikut menghadap dalam pisowanan agung ini.”


“Apakah ada yang perlu kamu sampaikan kepada saya?”

“Mohon ampun Paduka, hamba merasa bingung dan tidak sanggup lagi untuk meneruskan menerjemahkan Kitab Bharatayuda.”

“Lho, apa yang menjadi penyebanya? Apakah kehabisan daun lontar? Kan tinggal minta saja ke perbendaharaan kraton.”

“Bukan masalah itu Sinuwun. Tapi hamba merasa berat untuk mengutarakannya.”

“Tidak apa-apa. Jangan sungkan-sungkan kalau memang itu untuk kelancaran penulisanmu.”

“Sendika Sinuwun, yang menyebabkan terhentinya tulisan hamba ketika hamba ingin menggambarkan kecantikan Dewi Setyawati saat akan berpisah dengan Prabu Salya untuk maju ke medan perang Kurusetra.”

“Apakah saudaramu Panuluh tidak bisa membantu kesulitanmu itu?”

“Adi Panuluh belum lama berkecimpung dalam kesusasteraan ini Sang Prabu. Hamba kawatir kalau kurang teliti bisa berakibat cacatnya penerjemahan tersebut.”

Prabu Jayabaya terdiam sejenak mengingat penulisan Kitab Bharatayuda itu sangat penting karena kitab itu menggambarkan kemenangan Prabu Jayabaya atas Kerajaan Daha.

“Jadi apa yang bisa melancarkan penulisan ini sehingga tidak terhenti?”

“Penerjemahan hamba bisa lancar kembali kalau diberikan contoh sebagai model Dewi Setyawati.” 

“Baik Sedah. Lalu apakah ada wanita di Kerajaan Kediri ini yang mirip dengan Dewi Setyawati?”

“Sekali lagi mohon ampun Paduka, menurut pemikiran hamba hanya isteri Paduka Dewi Ambar  yang mirip dengan Dewi Setyawati.”

Terhenyak Prabu Jayabaya mendengar penuturan Mpu Sedah tersebut, karena Dewi Ambar adalah selir Sang Prabu yang sangat cantik dan menjadi selir kesayanagan Sang Prabu.

Tetapi mengingat penerjemahan Kitab Bharatayuda itu sangat penting untuk pribadi Sang Prabu maka diijinkannya Dewi Ambar sebagai model untuk menggambarkan kecantikan Dewi Setyawati.

Mpu Sedah adalah pemuda yang tampan, perkasa dan cerdas sehingga dipanggil ke dalam Keraton untuk menerjemahkan Kitab Bharatayuda yang diambil dari Kitab Mahabharata dari India  kedalam Bahasa Jawa Kuna.

Sesungguhnya Mpu Sedah yang tinggal di Desa Medang sudah menjalin asmara dan saling mencinta serta bersumpah setia sehidup semati dengan Dewi Ambar putri Akuwu Medang. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, karena kecantikan Dewi Ambar sudah terkenal di seluruh Kerajaan Kediri dan terdengar pula oleh Sang Prabu Jayabaya, akhirnya diambil selir oleh Sang Prabu.

Tidak seorangpun yang bisa dan berani menolak kehendak Sang Prabu, dan sesungguhnya Sang Prabu Jayabaya juga tidak tahu kalau Dewi Ambar sudah menjalin asmara dengan Mpu Sedah.

Pagi hari ketika matahari baru saja terbit sepanjang galah, datanglah kereta kerajaan dan berhenti di depan Kapujanggan tempat Mpu Sedah tinggal.

Dari dalam kereta turunlah seorang wanita yang sangat cantik mengagumkan bak Dewi turun dari Kahyangan. Ternyata Sang Dewi itu memang Dewi Ambar yang baru datang dari Keputren.

Sang Prabu Jayabaya mengijinkan Dewi Ambar untuk datang ke Kapujanggan pada pagi hari dan sorenya kembali ke Keputren.

“Hamba menghaturkan selamat datang di Kapujanggan ini Sang Putri.”

“Ah Kakang Sedah, mbok ya jangan begitu ta.”

“Lho sekarang Sang Dewi sudah menjadi selir Sang Prabu, tentu bahagia sekali berada disampingnya serta dikelilingi para dayang.”

“Kakang Sedah, meski kini aku menjadi selir Sang Prabu namun hatiku tetap milikmu.”

Betapa berbunga-bunga hati Mpu Sedah mendengar penuturan Sang Dewi yang ternyata masih mencintainya dengan tulus. Dipegangnya tangan Sang Dewi dan diremas-remas jarinya sebagai pengobat rindu karena sebenarnya Mpu Sedah sudah kehilangan harapan samasekali.

Penuturan Sang Dewi bagaikan air telaga yang bening menyejukkan batin Mpu Sedah yang sudah mengering.

Setiap hari Dewi Ambar datang dan pergi ke Kapujanggan tempat Mpu Sedah menulis lontar, sehingga karena begitu haus dan saling merindukan maka lupalah mereka akan kedudukan masing-masing dan terjadilah cinta terlarang.

Setelah tujuh hari Dewi Ambar berperan sebagi model gambaran kecantikan Dewi Setyawati maka seorang prajurit Kajineman atau prajurit sandi melihat kejadian yang tak diduganya dan dianggap sebagi pelanggaran kesusilaan yang berat. Segrea prajurit sandi tersebut melapor kepada Sang Prabu apa yang dilihatnya.

Bukan main gusar dan amarah Sang Prabu Jayabaya kepada Mpu Sedah yang sudah diberi kepercayaan begitu besar serta sangat disayanginya ternyata mengkhianati Sang Prabu.

Segera dipanggilnya Mpu Sedah dan Dewi Ambar dan selanjutnya keduanya dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya. Pada waktu itu Sedah yang baru 25 tahun.

Meskipun terbukti bersalah, Sedah enggan berlutut apalagi memohon ampun. Sambil tersenyum di depan algojo pancung, Sedah berdiri dan mengatakan bahwa hati Dewi Ambar adalah miliknya. Yang dimiliki Jayabaya hanyalah tubuhnya. Sedah tewas tanpa penyesalan.

Selanjutnya, Mpu Panuluh yang sebelumnya nggak sanggup mengerjakan Barathayudha diperintahkan untuk mengerjakan bagian yang ditinggalkan Sedah. Jadi, bagian babak permulaan sampai tampilnya Prabu Salya ke medan perang merupakan karya Mpu Sedah, sementara sisanya adalah karya Mpu Panuluh. Pada 6 November 1157 karya ini selesai.

Rabu, 08 Februari 2023

Sholawat Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Jailany

 Shalawat Imam Abdul Qadir al-Jilaniy


اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد صلاة من في السموات والأرضين عليه وأجر يا رب لطفك في أمري  .

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammadin wa ala ali Sayyidina Muhammad sholata man fis samawati wal arodhina alaihi, wa ajri Ya Robbi luthfaka fi amri.

Artinya: "Ya Allah, berikan sholawat atas pemimpin kami Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benarnya sholawat sebanyak makhluq yang ada di 7 lapis langit dan bumi. Ya Tuhanku, lancarkan segala urusanku dengan KelembutanMu.

Shalawat ini dinisbahkan kepada Imam al-Quthb Sayyidi Abdul Qadir al-Jilaniy al-Baghdadiy al-Hasaniy Radhiyallahu Anhu. Dilahirkan di kota Jilan, atau disebut juga kota Kilan yang berada di negri Iran pada tahun 470 Hijriyah bertepatan 1077 Masehi. Wafat pada tahun 561 Hijriyah dan dimakamkan di kota Baghdad Iraq.

Syekh Muhammad Bin Ahmad al-Manla Mursyid Thoriqoh al-Qadiriy mencacatkan sholawat ini dalam kitab beliau "Syarh Shalawat Syekh Abdul Qodir al-Jilaniy" halaman: 103.

Keutamaannya: Siapa yang membacanya sebanyak 1000 kali, maka Allah Taala akan hilangkan kesulitan dan masalah pelik hidupnya serta Segala hajatnya terkabulkan.

Adapun sanad muttashil (bersambung) kepada Imam Abdul Qadir al-Jilaniy Radhiyallahu Anhu, alFaqir diriwayatkan sebagai berikut:

احمد بن احمد عن العلامة المسند السيد ماجد بن حامد الشيحاوي الأعرجي الحسيني عن شيخه العلامة محمد صالح بن عثمان جلال الدين ملايوي عن العلامة المحدث حسن محمد المشاط عن شيخه العلامة عبد الله بن محمد غازي الهندي المكي عن شيخه العلامة الحبيب حسين بن السيد محمد بن حسين بن عبد الله الحبشي العلوي عن والده عن شيخه السيد طاهر بن الحسين بن طاهر عن السيد الامام عبد الرحمن بن علوي عن السيد عبد الرحمن بن عبد الله بلفقيه عن والده عن العلامة احمد القشاشي عن الامام الشناوي عن الامام عبد الرحمن بن عبد القادر بن عبد العزيز بن فهد العلوي عن عمه جار الله بن عبد العزيز عن الحافظ جلال الدين السيوطي عن الامام جلال الدين الملقن عن شيخه ابي اسحاق التنوخي عن ابي العباس الحجار عن الامام احمد بن يعقوب المارستاني عن سلطان الاولياء الامام القطب سيدي عبد القادر الجيلاني رضي الله عنه .

Keutamaan membaca shalawat bukan hal yang berlebihan. Dalam sebuah riwayat, imam al-Baihaqiy menyebutkan dalam kitab Suabul Iman:

من صلى علي في كل يوم مائة مرة قضى الله له مائة حاجة سبعين منها لآخرته وثلاثين منها لدنياه" 

Artinya; siapa saja yang bersholawat kepadaku setiap hari 100 kali, maka Allah akan mengabulkan 100 hajatnya. 70 hajat urusan akhirat dan sisanya 30 terkait urusan dunianya." 

Hijaunya Makkah Tanda Qiamat???

 Awal Januari tahun 2023 kita disuguhkan suatu fenomena langka dan menarik dengan adanya beberapa wilayah Arab Saudi bagian barat yang tampak menghijau. Beberapa wilayah tersebut termasuk Makkah, Madinah, dan Jeddah.   


Dataran dan pegunungan yang biasanya tandus, dalam beberapa hari terakhir tampak ditumbuhi rerumputan. Hal tersebut akibat curah hujan yang tinggi beberapa hari terakhir. Fenomena tersebut menghasilkan sebuah pemandangan yang indah. 


Namun, pemandangan hijau tersebut diprediksi akan kembali berganti tandus setelah musim hujan usai. Sebenarnya ada beberapa wilayah di Arab Saudi yang memang hijau di musim panas sekalipun, yaitu di desa Al-Majmal dan Lembah Bardani. 


Munculnya fenomena Arab menghijau mendapatkan berbagai tanggapan dari masyarakat dunia. Ada yang menanggapinya dengan takjub dan mengagumi indahnya pemandangan tersebut, ada pula yang melihatnya dari sisi sains. Namun, cukup banyak pula yang mengaitkan pemandangan asri tersebut dengan tanda-tanda kiamat. 


Golongan terakhir ini berpegangan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh banyak Imam, di antaranya adalah Imam Muslim, Imam Ibnu Hibban, Imam Ahmad, dan Imam Al-Hakim: 


 لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ الْمَالُ وَيَفِيْضُ، حَتَّى يَخْرُجَ الرَّجُلُ بِزَكَاةِ مَالِهِ فَلَا يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهَا مِنْهُ، وَحَتَّى تَعُوْدَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَأَنْهَارًا   


Artinya, “Kiamat tidak akan terjadi sampai harta menjadi banyak, hingga seseorang keluar membawa zakat lalu tidak menemukan orang yang sah untuk menerimanya, dan sampai bumi Arab kembali menjadi tanah lapang penuh tumbuhan dan sungai-sungai mengalir.” (Muslim, Shahih Muslim, [Beirut: Dar Ihya’ut Turatsil ‘Arabi], juz II, halaman 701).


Yang nampak jelas dari hadits tersebut bahwa negeri-negeri Arab akan dilimpahi dengan air yang banyak, sehingga menjadi beberapa sungai, tumbuh di atasnya berbagai macam tumbuhan sehingga menjadi padang rumput, kebun-kebun, dan hutan-hutan.


Bukti yang mendukung pendapat ini adalah munculnya di zaman ini sumber-sumber air bagaikan sungai, dan tumbuh di atasnya berbagai macam tanaman, dan akan terbukti segala hal yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda pada perang Tabuk:


إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوكَ، وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّـى يُضْحِيَ النَّهَارُ، فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ، فَلاَ يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّـى آتِيَ، فَجِئْنَاهَا وَقَدْ سَبَقَنَا إِلَيْهَا رَجُلاَنِ وَالْعَيْنُ مِثْلُ الشِّرَاكِ تَبِضُّ بِشَيْءٍ مِنْ مَاءٍ، قَالَ: فَسَأَلَهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا؟ قَالاَ نَعَمْ، فَسَبَّهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَقَالَ لَهُمَا: مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُولَ. قَالَ: ثُمَّ غَرَفُوا بِأَيْدِيهِمْ مِنَ الْعَيْنِ قَلِيلاً قَلِيلاً، حَتَّى اجْتَمَعَ فِي شَيْءٍ. قَالَ: وَغَسَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ، ثُمَّ أَعَادَهُ فِيهَا، فَجَرَتِ الْعَيْنُ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ أَوْ قَالَ: غَزِيرٍ… حَتَّى اسْتَقَى النَّاسُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَاهُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا.


“Sesungguhnya kalian -insya Allah- akan mendatangi mata air Tabuk esok hari, dan sesungguhnya kalian tidak akan mendatanginya sehingga siang sudah meninggi (waktu dhuha). Barangsiapa dari kalian mendatangi-nya, maka janganlah ia menyentuh airnya sedikit pun hingga aku tiba.” “Akhirnya kami datang dan ternyata ada dua orang yang telah menda-hului kami. Mata air itu bagaikan tali sandal yang mengucurkan sedikit air.” Mu’adz berkata, “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya, ‘Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?’ Keduanya menjawab, ‘Betul,’ kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencerca keduanya, dan mengatakan berbagai hal kepada keduanya.’” Mu’adz berkata, “Kemudian mereka menyiduk air dari mata air sedikit demi sedikit, sehingga air tersebut terkumpul di suatu wadah.” Mu’adz berkata, “Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci kedua tangan juga muka di dalamnya, lalu beliau mengembalikan air tersebut ke dalam mata air, kemudian mata air itu memancarkan air dengan jumlah yang sangat banyak,” atau ia berkata, “Dengan melimpah,” …sehingga semua orang bisa memakainya. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hampir saja wahai Mu’adz! Seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat tempat ini dipenuhi dengan kebun-kebun.’” 

Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il, bab Mukjizaatun Nabiyyi J (XV/40-41, Syarh Muslim).


Hadits di atas menjelaskan bahwa salah satu tanda kiamat adalah bumi Arab kembali menjadi maraj, yang berarti tanah lapang yang dipenuhi tumbuhan. Untuk mengetahui bagaimana maksud hadits di atas, kita perlu merujuk penjelasan dari para ulama.   


Imam An-Nawawi menjelaskan hadits di atas sebagai berikut:  


معناه والله أعلم أنهم يتركونها ويعرضون عنها فتبقى مهملة لا تزرع ولا تسقى من مياهها وذلك لقلة الرجال وكثرة الحروب وتراكم القتن وقرب الساعة وقلة الآمال و عدم الفراغ لذلك والاهتمام به   


Artinya, “Makna tanah Arab menjadi ladang yang hijau—wallahu a’lam—adalah orang-orang meninggalkannya, tidak ditanami dan disirami dari sungai-sungainya. Demikian itu sebab jumlah kaum lelaki sedikit, banyaknya peperangan dan kerusuhan, dekatnya kiamat, minimnya harapan, dan tidak adanya waktu untuk mengurus hal tersebut.” (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, [Beirut: Dar Ihya’ut Turatsil ‘Araby], juz VII, halaman 97).  


An-Nawawi bukan satu-satunya yang menjelaskan makna hadits tersebut. Imam Al-Qurthubi sebagaimana dinukil oleh Imam As-Suyuthi juga menjelaskan maknanya, bahkan dengan penjelasan yang sama sekali berbeda dari paparan An-Nawawi:


أي تنصرف دواعي العرب عن مقتضى عادتهم من انتجاع الغيث والارتحال عن المواطن للحروب والغارات ومن عزة النفوس العربية الكريمة الأبية إلى أن يتقاعدوا عن ذلك فيشتغلوا بغراسة الأرض وعمارتها وإجراء مياهها


Artinya, “Maksud hadits di atas adalah keinginan orang Arab telah beralih dari yang sebelumnya meminta pertolongan dan berpindah-pindah tempat karena banyak peperangan dan serangan, mereka menjadi enggan melakukan itu semua, lalu mereka menyibukan diri dengan bercocok tanam dan mengalirkan air-air sungai.” (Jalaluddin As-Suyuthi, Syarh Shahih Muslim, [KSA: Dar Ibn ‘Affan, 1996], juz III, halaman 84).     


Dari kedua paparan di atas, ada titik temu yang dapat kita simpulkan, bahwa apapun sebab tanah Arab menghijau, tidak menjadi tanda kiamat jika hanya terjadi dalam batas waktu tertentu saja. 


Wallahu a’lam.

Selasa, 07 Februari 2023

Gempa Bumi Di Turki Tak Sekedar Fenomena Alam

 Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لا تقوم الساعة حتى يقبض العلم ويتقارب الزمان وتكثر الزلازل ، وتظهر الفتن ، ويكثر الهرج ” قيل وما الهرج يا رسول الله ؟ قال : القتل القتل


“Tidak akan terjadi kiamat, sampai ilmu itu diangkat, waktu semakin pendek, banyak gempa bumi, fitnah meraja lela, dan banyak terjadi al-haraj.” Sahabat bertanya, apa itu al-haraj? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan”. (HR. Bukhari)


Gempa bumi termasuk bencana yang disebabkan dari alam yang menghasilkan guncangan atau getaran pada permukaan bumi akibat pergerakan lempeng bumi di bawah yang sewaktu-waktu bisa terjadi kapan saja. Tidak ada satupun makhluk yang mampu mencegah gempa bumi selain kehendak Allah SWT.


Segala yang terjadi pada alam semesta sudah sudah tercatat dalam Lauh Mahfuz termasuk Gempa Bumi, telah menjadi ketetapan Allah. Sebagaimana yang terkandung di dalam Surah Al-Hadid ayat 22:


مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ


“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”


Bencana Alam adalah fenomena alam yang pasti terjadi dan tidak bisa diciptakan oleh makhluk siapapun. Letak geografis yang sudah pasti terkena bencana alam seperti daerah bagian bawahnya terdapat patahan lempeng aktif yang sewaktu-waktu bisa mengakibatkan gempa. Fenomena alam itu sudah menjadi ketetapan Allah bahwa bumi ini mengandung segala hikmah dan manfaat termasuk pergerakan gunung dan lapisan dalam bumi. Allah berfirman dalam Surah An-Naml ayat 88:


وَتَرَى ٱلْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ ٱلسَّحَابِ ۚ صُنْعَ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ أَتْقَنَ كُلَّ شَىْءٍ ۚ إِنَّهُۥ خَبِيرٌۢ بِمَا تَفْعَلُونَ


“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka gunung-gunung itu tetap ada di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak seperti awan yang bergerak. Allah telah membuat segala sesuatu dengan kokoh. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah. Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,


إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم


“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka’.”


Orang ini bertanya lagi, “Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”


Beliau menjawab,


بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..


“Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir.”  (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87–88)


Hari Kiamat merupakan hari yang dimana terjadi kehancuran di alam semesta hingga tak tersisa. Manusia akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan selama di dunia ini. Umat Islam wajib meyakini akan terjadinya hari kiamat yang merupakan rukun iman kelima. Kehancuran dunia telang diungkap oleh ilmuwan melalui pendekatan sains dan ini juga sudah tertuang dalam Al-Quran dan Hadis.


كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ


“Jangan (berbuat demikian). Apabila Bumi diguncangkan berturut-turut,” (QS. Al-Fajr: 21)


إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا ) 1( وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا ) 2( وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا )3


Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)-nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”. (QS Al-Zalzalah: 1-3)


Dari ayat diatas menjelaskan ketika kiamat tiba, bumi akan terjadi gempa yang sangat dahsyat secara berturur-turut. Bumi juga mengeluarkan segala isi kandungan dalam bumi.


Salah satu tanda kiamat adalah banyaknya terjadi gempa bumi. Hal tersebut disabdakan oleh Rasulullah SAW.


Rasulullah SAW menjelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat. Salah satunya memang adalah gempa bumi yang terjadi terus menerus Abu Hurairah RA mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda:


قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ


Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, Al haraj -yaitu pembunuhan- dan harta melimpah ruah kepada kalian.” (HR Bukhari). Dalam hadist lain disebutkan juga:


بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مُوتَانٌ شَدِيدٌ وَبَعْدَهُ سَنَوَاتُ الزَّلَازِلِ


Artinya: “Ketika hari kiamat sudah dekat akan ada kematian yang sangat banyak dan setelahnya akan datang tahun-tahun dimana terjadi banyak gempa," (HR Ahmad).


Sementara dalam hadist lain dijelaskan:


يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ  فَقَدْ دَنَتْ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْععِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ


Artinya: “Wahai Ibnu Hawaalah jika engkau telah melihat khilafah tersebar dari Madinah hingga Syam, terjadi gempa-gempa, bala bencana serta hal-hal menggentarkan lainnya. Maka pada saat itu tejadinya hari kiamat lebih dekat daripada jarak antara tangan dan kepalamu." (HR Ahmad).


أما بعد فإن هذا الرجف شيء يعاتب الله عز وجل به العباد ، وقد كتبت إلى سائر الأمصار أن يخرجوا في يوم كذا ، فمن كان عنده شيء فليتصدق به فإن الله عز وجل قال : (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى) وقولوا كما قال آدم : (( قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) وقولوا كما قال نوح : (( وإلا تغفر لي وترحمني أكن من الخاسرين )) وقولوا كما قال يونس : (( لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين ))


Amma ba’du, sesungguhnya gempa yang terjadi ini merupakan teguran dari Allah kepada hamba-Nya. Saya telah mengirim surat ke berbagai daerah untuk keluar pada hari tertentu. Siapa yang memiliki sesuatu, hendaknya dia sedekahkan. Karena Allah berfirman,


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى


“Sungguh beruntung orang yang mengeluarkan zakat. Dia mengingat nama Tuhannya kemudian shalat.”


Dan aku perintahkan mereka untuk mengatakan sebagaimana yang diucapkan Adam:


رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


“Ya Allah, kami telah menzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, tentu kami akan menjaid orang yang rugi.”


Aku juga perintahkan agar mereka mengucapkan sebagaimana yang dikatakan Yunus:


لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين


Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.

Enam Perkara Yang Dirahasiakan Alloh

 Menurut Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu, ada enam perkara yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala rahasiakan terhadap hamba-Nya. Semua itu tentu saja memiliki sebuah alasan. Antara lain, agar hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra. Bahwa ia berkata sebagai berikut :

إِنَّ اللهَ كَتَمَ سِتَّةً فِى سِتَّةٍ : كَتَمَ الرِّضَا فِى طَاعَةٍ وَكَتَمَ اْلغَضَبَ فِى مَعْصِيَةٍ  وَكَتَمَ لَيْلَةَ اْلقَدْرِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ وَكَتَمَ اَوْلِيَاءَهُ فِيْمَا بَيْنَ النَّاسِ وَكَتَمَ الْمَوْتَ فِى اْلعُمْرِ وَكَتَمَ الصَّلَاةَ اْلوُسْطَى فِى الصَّلَوَاتِ

"Sesungguhnya Allah merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara lainnya, yaitu : merahasiakan ridha-Nya dalam perbuatan taat. Merahasiakan murka-Nya dalam perbuatan maksiat. Merahasiakan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan. Merahasiakan wali-wali-Nya di tengah tengah manusia. Dan menyisipkan kematian di sepanjang umur. Serta merahasiakan shalat Wustha di dalam shalat lima waktu. “

Pertama, Allah merahasiakan ridha-Nya di balik ketaatan seorang hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah. walaupun terlihat sederhana. Sebab, boleh jadi di balik ketaatan seorang hamba yang tampaknya sederhana ternyata disitulah terdapat ridha-Nya.

Kedua, Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahasiakan murka-Nya terhadap hamba-Nya yang berani melakukan kemaksiatan. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh menjauhi kemaksiatan. Dengan begitu, hamba-Nya tidak akan menyepelekan segala bentuk kemaksiatan, walaupun tampaknya sederhana. Sebab, boleh jadi di balik kemaksiatan yang tampaknya sederhana itulah terdapat murka-Nya.

Ketiga, Allah merahasiakan kapan datangnya malam kemuliaan (lailatul qadar) di bulan Ramadhan. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah sepanjang bulan suci Ramadhan. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, bahwa malam lailatul qadar itu lebih baik dibandingkan seribu bulan.

Allah berfirman yang artinya:

 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS al-Qadr [97] : 3).

Sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, pahala atau amalan sunah di dalamnya (di bulan ramadhan) ditingkatkan menjadi setara dengan pahala (amalan) wajib.

Tetapi Imam Naho’i berpendapat bahwa “satu rakaat shalat di bulan ramadhan lebih utama dari pada shalat 1000 rakaat selain di bulan ramadhan, dan 1 tasbih di bulan ramadhan lebih utama dari 1000 tasbih selain di bulan ramadhan.”

Dalam sebuah hadits marfu` yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani telah diterangkan, bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda sebagai berikut :

مَنْ زَنَا فِيْهِ اَوْ شَرِبَ خَمْرًالَعَنَهُ اللهُ وَمَنْ فِى اْلسَّمَوَاتِ إِلَى مِثْلِهِ مِنَ اْلحَوْلِ الثَّانِى .

“Barangsiapa berzina atau khamer di bulan Ramadhan, maka ia dilaknat oleh Allah dan Malaikat yang ada di langit, sampai datang tanggal (hari) yang sama di tahun depan. “

Maka sebagai seorang muslim, kita harus memaksimalkan ibadah kita, terlebih lagi pada bulan ramadhan, karena banyak sekali ganjaran pahala yang Allah lipatkan di bulan ramadhan.

Keempat, Allah merahasiakan wali-Nya terhadap hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya tidak merendahkan derajat orang lain. Dengan begitu, hamba-Nya akan bersungguh-sungguh menghormati setiap hamba-Nya dengan tidak meremehkannya. Sebab, boleh jadi orang yang diremehkan itu adalah wali-Nya.

Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak meremehkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya karena mungkin ia adalah waliyullah. Dengan kata lain kita sesungguhnya tidak perlu mengorek-ngorek apakah seseorang adalah waliyullah atau bukan terutama jika upaya ini hanya akan membuat kita meremehkan orang itu setelah kita meyakini bahwa ia bukan seorang wali. 

Justru seharusnya ketika Allah sengaja merahasiakan para wali-Nya dari hamba-hamba-Nya, maka kita sebaiknya memiliki keyakinan bahwa setiap orang sebaiknya kita hormati sebab mereka memang pantas dihormati karena kemanusiaannya. Allah sendiri memuliakan mereka sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70).

Selain itu, agar kita tidak gampang meremehkan orang lain dan justru terdorong untuk menghormatinya, kita perlu meyakini bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Cara ini lebih menjamin keselamatan kita dari meremehkan orang lain. 

Sebuah pepatah bahasa Arab menyatakan: 

 لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ لِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ. 

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan orang lain sebab segala sesuatu (atau setiap orang) memiliki kelebihannya sendiri (yang kita mungkin tidak memilikinya). 

Pepatah tersebut sejalan dengan firman Allah subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Kelima, Allah merahasiakan datangnya ajal (kematian) di balik umur hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mempersiapkan diri dengan baik sepanjang hayatnya untuk menyambut ajalnya. karena sejatinya kematian itu bisa datang secara tiba-tiba.

Keenam, Allah merahasiakan datangnya waktu sholat Wustha. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh mengikhtiarkannya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, sholat Wustha merupakan sholat paling utama di antara sholat lima waktu.