Translate

Jumat, 12 Februari 2016

Istri (Antara Perhiasan Dan Fitnah)

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dunia ini begitu indahnya, membuat terkagum-kagum setiap orang yang memandangnya. Tak jenuh dan bosan setiap orang berusaha untuk menikmati keindahannya, mereguk kenikmatannya, mati-matian tuk mendapatkannya.Bahkan dengan menghalalkan segala cara. Dengan semboyan “mumpung masih muda, mumpung masih punya jabatan, mumpung masih punya harta…dst” mereka melampiaskan segala syhahwat mereka.

Begitu beragamnya keindahan dunia yang menipu banyak manusia, menjungkir balikkan mereka ke lembah kenistaan di dunia, sebelum dibenamkan dalam keadaan tersungkur ke dalam neraka jahannam kelak. Na'udzubillah

Tidak sedikit orang mulia berubah menjadi hina dina, terhormat menjadi terlaknat, dipuji dan disanjung menjadi tersandung….semua disebabkan ambisi untuk meraih dunia. Bukanlah hal aneh jika seorang pejabat ataupun ustadz berubah menjadi penjahat, tatkala kesabarannya habis berhadapan dengan godaan tumpukan harta, tenggelam dalam pelukan wanita…inna lillah wa inna ilahi rajiun.

Alquran telah menggambarkan betapa manusia diuji dengan segala keindahan dunia ini dalam firmanNya:

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب).سورة آل عمران. آية: 14

Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita, anak-anak,tumpukan-tumpukan emas dan perak, kuda-kuda yang mahal, binatang ternak dan sawah lading, itu semua hakikatnya hanyalah kenikmatan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik. QS: Al-Imran: 14.

Wanita adalah perhiasan dunia yang paling indah

Diantara semua bentuk kenikmatan dunia yang digandrungi manusia, Allah subhanahu wa ta’ala menempatkan wanita pada posisi pertama dari segala bentuk kenikmatan lainnya. Hal ini tentunya bukan tanpa makna, tetapi karena memang diatara segala keindahan dunia ini wanita yang paling menggoda. Karena itulah Imam Alqurtubi menyebutkan dalam tafsirnya:” Allah memulai kenikmatan dengan wanita karena betapa condongnya jiwa terhadap mereka, karena mereka adalah jerat rajutan syaitan menjadi fitnah bagi kaum lelaki.”

Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:

ما تركت بعدي فتنة أشد على الرجال من النساء) (اخرجه البخاري ومسلم)

“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” HR. Albukhari dan Muslim.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah : hadis ini menerangkan bahwa fitnah wanita itu paling dahsyat dibandingkan fitnah selainnya, sebagaimana yang telah diperkuat dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :” Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita..” maka Allah menjadikan kecintaan terhadap mereka bagian dari syahwat yang digandrungi manusia, dan Allah menempatkan mereka pada posisi pertama sebelum fitnah lainnya sebagai bentuk isyarat bahwa mereka adalah sumber segala fitnah…

Berkata sebagian ahli hikmah: “ wanita itu seluruhnya jelek, sejelek-jelek apa yang terdapat pada mereka bahwa betapa butuhnya (para lelaki) kepada mereka, padahal mereka adalah makhluk yang kurang akal dan agamanya, terkadang mereka mampu menggiring lelaki untuk melakukan tindakan-tindakan yang hakikatnya tidak layak dilakukan karena dianggap tindakan yang kurang akal dan agama, seperti menyibukkan mereka sehingga lalai dari hal-hal yang dituntut oleh agama, bahkan terkadang mereka menerumuskan mereka rangka untuk sekedar mewujudkan ambisi dunia, dan itu adalah kerusakan yang paling terdahsyat.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadis Abu Sa’id:

واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

“takutlah kalian terhadap (fitnah wanita) karena sesungguhnyya awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah di sebabkan wanita”.

Agar wanita tidak menjadi fitnah

Mengingat betapata dahsyatnya fitnah wanita bagi pria maka Islam telah menetapkan aturan-aturan yang begitu sempurna untuk menjaga kehormatan wanita dan menjaga masyarakat dari fitnah mereka,diantara aturan tersebut:

1.Melarang kaum wanita agar tidak merendah-rendahkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis.

2.Melarang kaum wanita sering-sering keluar rumah kecuali jika ada hajat yang harus ditunaikan.

3.Melarang kaum wanita ber tabarruj (berdandan dan berhias menarik perhatian para lelaki) ketika keluar rumah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada istri-istri Nabi shallallahu ’alaihi wasallam sebagai contoh suri tauladan bagi kaum wanita untuk dijadikan panutan:

يانساء النبي لستن كأحد من النساء إن اتقيتن فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلن قولا معروفا وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا .واذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله والحكمة إن الله كان لطيفا خبيرا

“wahai para istri Nabi, kalian tidaklah sama dengan salah sorang wanita lainnya, maka jika kalian bertaqwa janganlah merendah-rendahkan suara hingga membuat condong kepada kalian orang-orang yang di hatinya ada penyakit, dan katakanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana yang diperbuat orang-orang jahiliyyah yang terdahulu, maka tegakanlah sholat dan tunaikan zakat dan patuhilahh Allah dan RasulNya, sesungguhnya Allah ingin menjauhkan dari kalian segala kekejian wahai Ahlul Bait dan mensucikan kalian. Dan ingatlah apa-apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan hikmah sesungguhnya Allah Maha lembut lagi Maha Mengetahui”.QS. Al- Ahzab: 32-34.

Berkata Ibnu Katsir:”Ini adalah adab-adab yang diperintahkan Allah kepada para istri Nabi dan tentunya kaum wanita umat ini juga diperintahkan untuk mengikuti mereka, Maka Allah menyeru para istri Nabi –jika mereka bertakwa kepada Allah, karena mereka tidak dapat disamakan dengan kaum wanita lainnya, karena mereka tidak akan mungkin menyamai keutamaan dan kedudukan para istri Nabi—yaitu agar mereka tidak merendahkan suara. Maksudnya menurut imam Assuddi’ dan ulama lainnya: tidak melembut-lembutkan suara ketika berbicara dengan pria…maknanya yaitu hendaklah ketika berbicara dengan lelaki asing tidak berbicara mendayu-dayu sebagaiman dia berbicara pada suaminya.

Dan firmannya:” Dan hendaklah kalian menetap di rumah-rumah kalian” maksudnya: hendaklah kalian menetap dirumah-rumah kalian dan tidak keluar jika tidak ada hajat. Seperti keluar untuk melaksanakan sholat di masjid dengan syarat-syarat yang ditetapkan sebagaimana sabda Nabi: Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk pergi ke masjid-masjid milik Allah, dan hendaklah mereka keluar dengan tidak menggunakan parfum, dalam sebagian riwayat: Dan Rumah mereka lebih baik bagi mereka”.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bazzar bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

إن المرأة عورة ، فإذا خرجت استشرفها الشيطان ، وأقرب ما تكون بروحة ربها وهي في قعر بيتها ”

“sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika dia keluar niscaya akan dihiasi oleh syaitan, dan sedekat-dekatnya seorang wanita dengan Tuhannya yaitu tatkala dia di dalam rumahnya”.

4.Melarang berkhulwat dengan lelaki yang bukan mahram dan tidak halal baginya, sekalipun ada hubungan kekerabatan dengan suami.

Ketika konsep agama yang mulia ini tidak dipahami kaum muslimin; ketika pergaulan muda-mudi dilepas tanpa kekangan syariat; ketika ikhtilath dianggap hal yang wajar; masuk ke rumah-rumah ipar dan tinggal bersamanya tanpa batasan syariat dianggap hal yang lumrah…maka lihatlah betapa perzinahan telah meluluh lantakkan bangunan masyarakat, merusak keturunan, mendatangkan berbagai penyakit, menjadi sebab meninggkatnya praktek aborsi terhadap bayi-bayi yang tidak berdosa, anak-anak baru lahir yang di buang ditong sampah atau jalanan….dst, –hanya kepada Allah kita mengadu—melihat rusaknya zaman.

Ketika Alquran mencela prilaku orang-orang jahiliyyah yang membunuh anak mereka hidup-hidup,ternyata sejarah kembali berulang di zaman ini; zaman yang dianggap telah modern…ma’azallah.

Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:

“إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat wanita” , maka seseorang bertanya:” bagaimana dengan ipar(sepupu) wahai Rasulullah? Beliau menjawab :” ipar(sepupu) itulah letak kebinasaan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Bersabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

لا يخلون رجلٌ بامرأة إلا ومعها ذو محرم

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram baginya”. HR. Bukhari dan Muslim

5.Melarang segala macam bentuk sarana menuju perzinahan seperti : memandang lawan jenis dnegan syahwat, berpacaran, berkomunikasi bebas antara pria dan wanita; menonton acara-acara yang membangkitkan birahi, baik dari siaran-siaran televisi swasta yang sarat muatan fornografi dan forno aksinya; melalui film-film, sinetron-sinetron dll, ataupun via internet; mendengarkan berbagai musik dan lagu-laguan yang menghanyutkan dan menghumbar syahwat; mengkonsumsi berbagai media cetak berbau maksiat baik dari Koran-koran maupun majalah-majalah….dst.

Allah berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Jangan dekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan.QS: Al-Isra: 32.

Fitnah wanita dapat menimpa siapa saja dari seluruh level tingkatan manusia baik dari kalangan pemimpin maupun rakyat biasa. Sejarah telah membuktikan kenyataan tersebut. Banyak para pemimpin dunia yang jatuh karena faktor fitnah wanita.  

Banyak sekali bentuk fitnah wanita, jika wanita itu istri maka banyak para istri dapat memalingkan suaminya dari ibadah, dakwah dan amal shalih yang prioritas lainnya. Jika wanita itu wanita selain istrinya, maka fitnah dapat berbentuk perselingkuhan dan perzinahan. Fitnah inilah yang sangat dahsyat yang menimpa banyak umat Islam.

Fitnah Istri Bagi Suami

Kecintaan kepada istri, tanpa disadari banyak menggiring suami ke bibir jurang petaka. Betapa banyak suami yang memusuhi orang tuanya demi membela istrinya. Betapa banyak suami yang berani menyeberangi batasan-batasan syariat karena terlalu menuruti keinginan istri. Malangnya, setelah hubungan kekerabatan berantakan, karir hancur, harta tak ada lagi yang tersisa, banyak suami yang belum juga menyadari kesalahannya.

Cinta kepada istri merupakan tabiat seorang insan dan merupakan anugerah Ilahi yang diberikan-Nya kepada sepasang insan yang menyatukan kata dan hati mereka dalam ikatan pernikahan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya, yang beliau nyatakan dalam sabdanya:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ

“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian,para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”

Namun yang disayangkan, terkadang rasa cinta itu membawa seorang suami kepada perbuatan yang tercela. Karena menuruti istri tercinta, ia rela memutuskan hubungan dengan orang tuanya. Ia berani melakukan korupsi di tempat kerjanya. Ia enggan untuk turun berjihad fi sabilillah ketika ada seruan jihad dari penguasa. Ia bahkan siap menempuh segala cara demi membahagiakan istri tercinta walaupun harus melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika sudah seperti ini keadaannya, berarti cintanya itu membawa madharat baginya. Ia telah terfitnah dengan istrinya. Yang lebih berbahaya lagi bila cinta kepada istri lebih dia dahulukan dari segala hal. Bahkan lebih dia dahulukan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya dan agama-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Karena adanya dampak cinta yang berlebihan seperti inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan bahwa di antara istri dan anak, ada yang menjadi musuh bagi seseorang dalam status dia sebagai suami atau sebagai ayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)

Musuh di sini dalam arti si istri atau si anak dapat melalaikan sang suami atau sang ayah dari melakukan amal shalih. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan jangan pula anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Mujahid berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

“Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” Yakni, cinta seorang lelaki/suami kepada istrinya membawanya untuk memutuskan silaturahim atau bermaksiat kepada Rabbnya. Si suami tidak mampu berbuat apa-apa karena cintanya kepada si istri kecuali sekedar menuruti istrinya.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)

Beliau juga berkata: “Kecintaan kepada istri dan anak membawa mereka untuk mengambil penghasilan yang haram, lalu diberikan kepada orang-orang yang dicintai ini.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)

Selain itu, istri dan anak dapat memalingkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuat mereka lamban untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an, 12/116)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Ayat ini umum, meliputi seluruh maksiat yang dilakukan seseorang karena istri dan anak.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/93-94)

Setelah mengingatkan keberadaan mereka sebagai musuh, Allah Subhanahu wa Ta’alamemerintahkan: فَاحْذَرُوْهُمْ (maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka). Berhati-hati di sini, kata Ibnu Zaid, adalah berhati-hati menjaga agama kalian. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Berhati-hatinya kalian dalam menjaga diri kalian disebabkan dua hal. Bisa jadi karena mereka akan membuat kemudaratan/bahaya pada jasmani, bisa pula kemadharatan pada agama. Kemudaratan tubuh berkaitan dengan dunia, sedangkan kemudaratan pada agama berkaitan dengan akhirat.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)

Lantas, bagaimana bisa seorang istri yang merupakan teman hidup yang selalu menemani dan mendampingi, dinyatakan sebagai musuh? Dalam hal ini, Al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi rahimahullah telah menerangkan: “Yang namanya musuh tidaklah mesti diri/individunya sebagai musuh. Namun dia menjadi musuh karena perbuatannya. Dengan demikian, apabila istri dan anak berperilaku seperti musuh, jadilah ia sebagai musuh. Dan tidak ada perbuatan yang lebih jelek daripada menghalangi seorang hamba dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ahkamul Qur`an, 4/1818)

Di dalam tafsirnya terhadap ayat di atas, Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum mukminin agar tidak tertipu dan terpedaya oleh istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, ia menginginkan kejelekan bagimu. Dan tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang bersifat demikian. Sementara jiwa itu memang tercipta untuk mencintai istri dan anak-anak. Maka Allah Subhanahu wa Ta’alamenasehati hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membuat mereka terikat dengan tuntutan istri dan anak-anak, sementara tuntutan itu mengandung perkara yang dilarang secara syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan mereka untuk berpegang dengan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya, dengan menjanjikan apa yang ada di sisi-Nya berupa pahala yang besar yang mencakup tuntutan yang tinggi dan cinta yang mahal. Juga agar mereka lebih mementingkan akhirat daripada dunia yang fana yang akan berakhir.

Karena menaati istri dan anak-anak menimbulkan kemudaratan bagi seorang hamba dan adanya peringatan dari hal tersebut, bisa jadi memunculkan anggapan bahwa istri dan anak-anak hendaknya disikapi secara keras, serta harus diberikan hukuman kepada mereka. Namun ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan untuk berhati-hati dari mereka, memaafkan mereka, tidak menghukum mereka. Karena dalam pemaaafan ada kemaslahatan/kebaikan yang tidak terbatas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14) [Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 868]

Demikianlah keberadaan seorang wanita, baik statusnya sebagai istri atau bukan, merupakan fitnah terbesar bagi lelaki. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan wanita ketika mengurutkan kecintaan kepada syahwat (kesenangan yang diinginkan dari dunia).

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan dunia ini berupa ragam kelezatan, dari wanita, anak-anak, dan selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai penyebutan wanita karena fitnahnya yang paling besar. Sebagaimana dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang paling berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/15)

Mungkin timbul pertanyaan, bila istri dapat menjadi musuh bagi suaminya, apakah juga berlaku sebaliknya, suami dapat menjadi musuh bagi istrinya?

Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi rahimahullah menjawab permasalahan ini: “Sebagaimana seorang lelaki/suami memiliki musuh dari kalangan anak dan istrinya, demikian pula wanita/istri. Suami dan anaknya dapat menjadi musuh baginya dengan makna yang sama. Firman AllahSubhanahu wa Ta’ala: مِنْ أَزْوَاجِكُمْ (di antara istri-istri kalian atau pasangan hidup kalian) ini sifatnya umum, masuk di dalamnya lelaki (suami) dan wanita (istri) karena keduanya tercakup dalam seluruh ayat.” (Ahkamul Qur`an, 4/1818)

Dengan demikian, janganlah kecintaan seorang suami kepada istrinya dan sebaliknya kecintaan istri kepada suaminya membawa keduanya untuk melanggar larangan AllahSubhanahu wa Ta’ala, berbuat maksiat, menghalalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’alaharamkan atau sebaliknya, mengharamkan untuk dirinya apa yang Allah Subhanahu wa Ta’alahalalkan karena ingin mencari keridhaan pasangannya. Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika beliau sempat mengharamkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan karena ingin mencari keridhaan istri-istri beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan hal itu dalam Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, karena engkau mencari keridhaan (kesenangan hati) istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Tahrim: 1)

Nasehat kepada Istri

Karena engkau –wahai seorang istri– dapat menjadi fitnah bagi suamimu, maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai engkau menjadi musuh dalam selimut baginya. Jangan engkau jerat dia atas nama cinta, hingga ia terjaring dan tak dapat lepas darinya. Akibatnya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mencari ridhamu, mengikuti kemauanmu, walaupun hal itu bertentangan dengan syariat.

Bertakwalah engkau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadilah istri yang shalihah dengan membantu suamimu agar selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semestinya engkau tidak suka bila ia melakukan perkara yang melanggar syar’i karena ingin menyenangkan hatimu. Keberadaanmu di sisinya, sebagai teman hidupnya, jangan menjadi penghalang baginya untuk menjadi hamba yang bertakwa dan menjadi anak yang shalih bagi kedua orang tuanya.

Cintailah suamimu, syukurilah dengan cara engkau semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan kewajibanmu dengan sebaik mungkin, dan mencurahkan segala kemampuanmu untuk memenuhi haknya sebagai suami.

Zuhud terhadap dunia, jangan engkau abaikan. Sehingga engkau tidak menuntut suamimu agar memenuhi kenikmatan dunia yang engkau idamkan. Pautkan selalu hatimu dengan darul akhirat agar engkau tidak menghamba pada dunia yang tidak kekal.

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (no. 3317) membawakan asbabun nuzul (sebab turunnya) surah At-Taghabun ayat 14 di atas, dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini, beliau menyatakan: “Mereka adalah orang-orang yang telah berislam dari penduduk Makkah dan mereka ingin mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun istri dan anak mereka enggan ditinggalkan mereka. Ketika mereka pada akhirnya mendatangi Rasulullah ‎Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang yang lebih dahulu berhijrah telah ‎tafaqquh fid dien (mendalami agama), mereka pun berkeinginan untuk memberi hukuman kepada istri dan anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menurunkan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَ أَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

Namun riwayat asbabun nuzul ini dha’if (lemah) sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syaikh Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, dalam karya beliau Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul (hal. 249).

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar