Translate

Sabtu, 27 Oktober 2018

KISAH PERJUANGAN MBAH KYAI DJAUHARI ZAWAWI KENCONG

K.H. Djauhari Zawawi (1911 – 20 Juli 1994 /11 Safar 1415); dimakamkan di Kencong,Jember) adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Assunniyyah, salah satu pesantren salaf terbesar di wilayah kabupaten Jember.

K.H. DJauhari Zawawi adalah cucu Raden Yusuf Mangkudirjo, yang masih keturunan Sunan Kalijaga. Mbah putrinya, Nyai Saroh binti Muhsin adalah cucu Mbah Saman bin Sriman dari Klampis, Madura, mantan prajurit Goa Selarong, pasukan inti Pangeran Diponegoro yang kemudian memilih berjuang di bidang pendidikan dan merintis berdirinya Pondok Pesantren Sarang, Rembang Jawa Tengah. Sementara ibu Beliau Nyai Umamah bin Kyai Nur Khotib adalah keturunan ke-9 Sayyid Abdurrahman Basyaiban alias Mbah Sambu (Pangeran Sambutbakdo) Lasem Rembang.

KH Djauhari Zawawi belajar dasar-dasar agama dari ayahnya, KH. Zawawi di Waru, Sidorejo, Sedan, Rembang.  Di halaman rumah dia dilahirkan, sampai sekarang masih berdiri kokoh madrasah  diniyah bernama Madrasah Tuhfatusshibyan yang dirintis Abahnya bersama Sayyid Hamzah Syatho, cucu keponakan dari Sayyid Bakri Syatho, pengarang kitab I'anah al-Thalibin. Ketika Alfiyah sudah dihafalkan pada usia 11 tahun, Beliau mengatakan bahwa ini bukan hal yang luar biasa.

Pencarian KH. DJauhari terhadap ilmu tidak hanya cukup di desanya saja, Beliau melanjutkan mondok kepada KH. Abd. Syakur, Suwedang, Jatirogo abah KH. Abul Fadlol, Senori,Tuban. Di sana Beliau nyambi ngaji nduduk pada KH. Ma'ruf Jatirogo. Setelah itu Beliau tinggal di Kajen Pati mengaji kepada kyai-kyai dzurriyah Mbah Mutamakkin, seperti KH. Mahfudh (Abah KH. Sahal Mahfudh), KH. Nawawi dan lain sebagainya.

Kurang lebih dua tahun di Kajen, Beliau pindah ke Sarang, ngaji kepada KH. Umar, KH. Syu'aib, KH. Imam, dan KH. Zubair. Lalu tabarrukan di Termas di pesantren KH. Dimyati (adik Syaikh Mahfudh At-Turmusi).

Puas menjelajah pesantren-pesantren di Pantura, KH. DJauhari melanjutkan pencariannya ke Tebu Ireng Jombang, berguru kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari. Setelah beberapa lama di Tebu Ireng, pindah ke Probolinggo, mendirikan madrasah dibantu oleh K. Nawawi, Pajarakan, hingga berkembang pesat. Setelah kurang lebih dua tahun berada di sana, KH. DJauhari memanggil adiknya KH. Atho'illah, meneruskan perjuangannya di Probolinggo, sementara Beliau melanjutkan pengelanaan ke Tanah Suci. Di Tanah Suci yang saat itu berkecamuk perang Wahhabi, KH. Djauhari berguru kepada ulama-ulama Mekah saat itu, seperti Syaikh Masduqi, Syeikh Hamdan, Syeikh Amin Kutby dan lain-lain.

Di Kencong sebagai tempat iqamah permanen, KH. Jauhari memulai nasyrul ilmi dengan membantu mengajar di Langgar Waqaf Ky. Sholihi, disamping membuka pengajian sendiri di ndalem. Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Assunniyyah.

Tahun 1946, tentara gabungan Belanda dari Probolinggo, Banyuwangi, Jember, Situbondo dan Bondowoso dengan persenjataan lengkap mengadakan serangan umum dari berbagai penjuru, menumpas para gerilyawan Kencong. Basis pertahanan tentara Hizbullah di Cakru dibumi hanguskan, memaksa rakyat dan para gerilyawan menyingkir ke daerah rawa-rawa, walau harus menempuh risiko serangan binatang buas. Akibat serangan ini, seluruh perlawanan rakyat lumpuh. KH. Jauhari yang termasuk target utama buronan Belanda harus berpindah-pindah tempat.

Satu tahun setelah NU didirikan, di Kencong sudah berjalan pengajian-pengajian NU yang dimotori oleh Ky. Zein. Setelah beberapa tahun NU Kencong berstatus ranting, melalui perjuangan dan perjalanan yang melelahkan, pada tanggal, 16 Rajab 1356 H./21 September 1937 M. Cabang NU Kencong berdiri, membawahi seluruh wilayah kawedanan Puger, melalui keputusan Hoofd Bertuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) yang berkedudukan di Surabaya.

Dalam konperensi Cabang NU Kencong tahun 1950 yang diselenggarakan di Pesantren KH. Abdullah Yaqin, Mlokorejo, KH. Djauhari terpilih menjadi Rais Syuriah PCNU Kencong pertama kali setelah Indonesia Merdeka secara de facto dan de Jure, menggantikan KH. Abd. Kholiq. Inilah salah satu kiprah KH. Djauhari dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini.

Loyalias KH. Jauhari terhadap NU beserta jajaran pengurus atasannya tidak diragukan sama sekali. Beliau aktif dalam kegiatan-kegitan NU. Namun, karakter beliau yang mutasyaddid (keras) menyatakan keluar dari NU, setelah Muktamar Nasional NU di PP. Salafiyah Syafi'iyyah Situbondo, yang kala itu diasuh KH. As'ad Syamsul Arifin, menetapkan Pancasila sebagai asas NU. Argumentasi KH. Ahmad Shidiq yang ahli diplomasi, tidak mampu meluluhkan hati beliau.

Saling Memaafkan Salahsatu Ajaran Beliau.

KH.Abdul Kholiq yang sudah udzur karena kesepuhannya datang ke ndalem KH.Djauhari dengan mengendarai becak. Beliau rupanya hanya ingin bertemu dan bermaaf-maafan dengan KH.Djauhari yang sama-sama sudah sepuh. KH.Abdul Kholiq turun dari becak dan berjongkok (Jawa: ndodok) didepan ndalem. Begitu KH.Djauhari diberi tahu bahwa ada KH.Kholiq di halaman ndalem langsung bergegas keluar. Beliau langsung mempersilahkan KH.Abdul KHoliq agar masuk kedalam. “Monggo mlebet Kiai… kulo mboten purun sepuro-sepuroan yen panjenengan mboten kerso mlebet (Silahkan masuk kiai saya tidak mau bermaaf-maafan kalau tuan masih belum mau masuk)” KH.Abdul Kholiq akhirnya masuk kedalam dan berangkul –rangkulan dengan KH.Djauhari untuk saling maaf memaafkan. Yang lalu biarlah berlalu. Kini kita sama-sama sudah sepuh dan sudah dekat panggilan Tuhan. Kita harus siap-siap mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan kita masing-masing dihadapan-Nya. Kira – kira begitulah isi hati kedua beliau ketika dalam rangkulan permaafan. Sementara Ibu Nyai Sa’dah Djauhari melihat dari belakang dengan pandangan yang sangat terharu.

KH.Abdul Kholiq yang pernah memegang pengurus NU Kencong masih peripean misanan (sepupu ipar) dengan KH.Djauhari. Garwo sepuh KH.Djauhari (Bu Zuhriyah) adalah sepupu garwo KH.Abdul Kholiq. Kedua tokoh yang terkadang ada selisih pendapat ini wafat berurutan. + 40 hari dari wafat KH.Djauhari, KH.Abdul Kholiq menyusul.

Demikian pula halnya dengan KH.Abdul Hayyi. Tokoh ini paling akrab dengan KH.Djauhari ketika sama-sama semangat memimpin NU Cabang Kencong. Bahkan KH.Abdul Hayyi sudah akrab mulai zaman perlawanan terhadap kolonial dahulu. KH.Abdul Hayyi yang juga santri tebuireng inilah yang dulu bersama P.Thowi (H. Nawawi) mengajak kembali KH.Djauhari agar pulang ke Kencong untuk diajak berjuang bersama-sama , ketika itu beliau sudah mulai kerasan menetap dan berjuang di Menampu.

Ibu Nyai Sa’dah Djauhari mempersilahkan KH.Abdul Hayyi agar langsung saja masuk ke ruangan dalam dimana KH.Djauhari sudah berbaring letih karena sakit. KH.Djauhari mempersilahkan KH.Abdul Hayyi agar duduk mendekat disisi beliau dipinggir ranjang. Tidak ada sepatah kata yang mampu keluar dari mulut kedua tokoh idola masyarakat NU Cabang Kencong ini. Rupanya ketika berdekatan satu ranjang itu, kedua tokoh lagi menghayal kembali masa-masa lampau yang penuh suka duka bersama. Sampai pada akhirnya ada perbedaan yang sedikit tajam dalam menanggapi Asas Tunggal BPR. Tapi kini sudah sama-sama sepuh. Sudah dekat dengan panggilan Yang Maha Kuasa. Tidak ada harapan kecuali semoga di akhirat nanti disatukan kembali dalam sorga-Nya. Amin…!. KH.AbdulHayyi lama duduk disamping KH.Djauhari sambil sesenggukan menangis. Sekali-sekali beliau mengusap air matanya. Ibu Nyai mempersilahkan KH.Abdul Hayyi meminum minumannya. Tapi KH.Abdul Hayyi tidak beranjak dari duduknya. “Biarlah Mas Hayyi selalu disampingku. Tinggal kali ini kok” demikian KH.Djauhari bilang kepada Ibu Nyai. Setelah lama KH.Abdul Hayyi berpamitan dengan rasa berat hati. Sampai dihalaman ndalem KH.Djauhari, KH.Abdul Hayyi masih saja menangis. Itulah pertemuan terakhir dari kedua beliau di dunia ini. Setelah 63 hari dari wafat KH.Djauhari. KH.Abdul Hayyi ikut menyusulnya.

Kencong dalam 63 hari ditinggal tokoh-tokohnya secara beruntun:

1.       KH.Djauhari,
2.       KH.Abdul Kholiq
3.       KH.Abdul Hayyi.

Rabu Kliwon, 11 Shafar 1415 H yang bertepatan dengan 20 Juli 1994, jam 05.10 Istiwa' menjelang maghrib, KH. Jauhari Zawawi menghadap Sang Kekasih yang beliau rindukan. Keesokan harinya ribuan pelayat menyaksikan kepergian beliau menuju taman-taman surga. Al-Maghfurlah meninggalkan empat orang putra dan seorang isteri serta Pondok Pesantren Assunniyyah, di tengah putaran arus zaman yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Allahumma la taftinna ba'dahu waghfir lana wa lahu. Amin.

سمة صدق العبد فى طاعته * كرامة تظهر بعد موته
فالاولياء الصا لحون عامة * تظهر بعد موتهم كرمة

“pertanda kesungguhan seorang hamba dalam ketaatannya adalah kekeramatan yang nampak setelah wafatnya. Maka para kekasih ( Allah ) yang sholeh-sholeh semuanya. Tampaklah setelah wafat mereka kekeramatan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar