Translate

Senin, 15 Mei 2017

JANGAN TERGESA-GESA UNTUK PERGI SHOLAT

Pernahkah kita mendengar adzan atau iqamat sedangkan saat itu kita belum sempat bersiap-siap pergi ke masjid?

Kemudian, kita segera bergegas untuk pergi ke masjid dengan terburu-buru karena khawatir tertinggal takbir pertama, atau tertinggal raka'at ataupun tertinggal shalat berjama'ah di masjid?

Mungkin pernah, mungkin juga sering.....

Nah, berkenaan dengan hal ini, maka Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Telah menceritakan kepada kami Adam, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami ibnu Abi Dzi-b, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, -dan juga diriwayatkan- dari Az-Zuhri dari Abi Salamah dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Apabila kalian mendengar suara iqamat, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaknya kalian berjalan perlahan-lahan serta bersikap tenang.

Janganlah kalian tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah dan apa yang terluput dari kalian, maka sempurnakanlah.”
(Shahih al-Bukhari 1/129 no. 636)

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu ini terdapat satu perintah yang terang bagi seseorang untuk mendatangi masjid, apabila ia mendengar iqamat dikumandangkan.

Sekaligus dalam hal ini terkandung pula larangan bagi seseorang yang mendatangi masjid dari tergesa-gesa ketika ia mendatanginya, entah karena takut tertinggal takbir pertama ataupun karena sebab lainnya.

Berkenaan dengan masalah ini, Al-Hafizh ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

قوله ( : ( ( إذاسمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة ، ولا تسعوا ) ) أمر بالمشي ونهي عن الإسراع إلى الصلاة لمن سمع الإقامة

“Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ““Apabila kalian mendengar suara iqamat, maka berjalanlah menuju shalat..”, adalah perintah untuk berjalan menuju shalat, dan sekaligus larangan dari tergesa-gesa menuju shalat bagi siapa yang mendengar iqamat.”
(Fath al-Bari 5/391)

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :

وحديث أبي هريرة : دليل ظاهر على أنه لإيسرع لخوف فوت التكبيرة الأولى ، ولا الركعة ؛ فانه قال : ( ( فإذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة ، ولا تسرعوا ) ) ، فدل على أنه ينهى عن الإسراع مع خوف فوات التكبيرة أو الركعة .

“Hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu adalah dalil yang menjelaskan bahwa seseorang itu tidaklah perlu tergesa-gesa untuk mendatangi shalat karena takut ketinggalan takbir pertama ataupun ketinggalan raka’at, sebab sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kalian mendengar suara iqamat, maka berjalanlah menuju shalat dan janganlah kalian tergesa-gesa..”

Yang menunjukkan bahwa seseorang itu bersamaan dengan takutnya ia tertinggal takbir pertama ataupun tertinggal raka’at, maka tetaplah ia dilarang untuk tergesa-gesa.”
(Fath al-Bari 5/391)

Adapun berkenaan tentang sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apa yang kalian dapati, maka shalatlah.”, maka al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :

واستدل بهذا الحديث على حصول فضيلة الجماعة بإدراك جزء من الصلاة لقوله: "فما أدركتم فصلوا " ولم يفصل بين القليل والكثير، وهذا قول الجمهور

“Dan hadits ini menjadi dalil bahwa keutamaan shalat berjama’ah akan tetap didapat meski dengan hanya mendapatkan sebagian shalat, berdasarkan sabda beliau : “Apa yang kalian dapati, maka shalatlah”, tanpa membedakan apa yang didapat dari shalat itu apakah sedikit ataupun banyak.

Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.”
(Fathul Bari 2/140)

Na'am.
Ini merupakan satu pandangan yang benar, yakni bagi seseorang yang tertinggal raka’at, maka ia tetaplah mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah, berapapun jumlah raka’at yang tertinggal tersebut.

Begitupula jika seseorang itu saat mendengar iqamat, ia lalu mendatangi masjid dengan tenang dan tidak terburu-buru karena melaksanakan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, dan ternyata setelah sampai ke masjid, ia dapati shalat berjama’ah telah selesai, maka iapun tetap dianggap mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh imam Muslim rahimahullah dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“Salah seorang diantara kamu apabila mendatangi shalat, maka sesungguhnya ia dianggap berada dalam shalat.” (Shahih Muslim 1/420 no.602).

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah dalam hal ini menukilkan perkataan imam Imam An-Nawawi rahimahullah yang mengatakan tentang sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “sesungguhnya ia dianggap berada dalam shalat.”:

نبه بذلك على أنه لم يدرك من الصلاة شيئا لكان محصلا لمقصوده لكونه في صلاة

“Dalam hadits ini dikabarkan bahwa apabila seseorang itu tidak mendapatkan shalat sedikitpun (setelah sampai di masjid), maka sesungguhnya ia telah mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, karena ia dianggap berada dalam shalat saat dalam perjalanannya.”
(Fathul Bari 2/139)

Jangan tergesa sholat jika sedang makan

Jika Anda merasa lapar dan keinginan untuk makan, maka Anda dahulukan untuk makan daripada shalat. Dalilnya antara lain adalah:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ، وَلَا تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

Dari Anas bin Maalik, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila makan malam telah tersedia, dahulukan makan malam sebelum engkau melaksanakan shalat Maghrib. Dan jangan engkau tergesa-gesa dari makan malam kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 672 & 5463, Muslim no. 557, At-Tirmidziy no. 353, An-Nasaa’iy no. 853, dan Ibnu Maajah no. 933].

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Tidak sempurna shalat seseorang apabila makanan telah dihidangkan atau menahan buang air besar atau kecil” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 560 dan Abu Daawud no. 89].

عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ " قَالَ: وَتَعَشَّى ابْنُ عُمَرَ وَهُوَ يَسْمَعُ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ

Dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Apabila makan malam telah dihidangkan sedangkan shalat sudah ditegakkan (iqamat), maka dahulukan makan malam”. Naafi’ berkata : “Ibnu ‘Umar pernah makan malam sedangkan ia mendengar bacaan imam” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy 354; shahih].

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ إِذَا وُضِعَ عَشَاؤُهُ أَوْ حَضَرَ عَشَاؤُهُ لَمْ يَقُمْ حَتَّى يَفْرُغَ، وَإِنْ سَمِعَ الْإِقَامَةَ، وَإِنْ سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ

“Apabila makan malam telah dihidangkan, maka ‘Abdullah (bin ‘Umar) tidak berdiri shalat hingga ia menyelesaikan makannya, meskipun ia mendengar iqamah dan bacaan imam” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3757; shahih].

At-Tirmidziy rahimahullah berkata:

وَعَلَيْهِ الْعَمَلُ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَابْنُ عُمَرَ، وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ، وَإِسْحَاق يَقُولَانِ: يَبْدَأُ بِالْعَشَاءِ وَإِنْ فَاتَتْهُ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ.قَالَ أَبُو عِيسَى: سَمِعْت الْجَارُودَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ وَكِيعًا يَقُولُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ: يَبْدَأُ بِالْعَشَاءِ إِذَا كَانَ طَعَامًا يَخَافُ فَسَادَهُ وَالَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَشْبَهُ بِالِاتِّبَاعِ، وَإِنَّمَا أَرَادُوا أَنْ لَا يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الصَّلَاةِ وَقَلْبُهُ مَشْغُولٌ بِسَبَبِ شَيْءٍ، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: لَا نَقُومُ إِلَى الصَّلَاةِ وَفِي أَنْفُسِنَا شَيْءٌ

“Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya : Abu Bakr, ‘Umar, dan Ibnu ‘Umar. Ahmad dan Ishaaq berpendapat dengannya, dimana mereka berdua berkata : ‘Hendaklah ia mulai dengan makan malam meskipun akan ketinggalan shalat berjama’ah’. Abu ‘Iisaa (At-Tirmidziy) berkata : Aku mendengar Al-Jaarud berkata : Aku mendengar Wakii’ berkata tentang hadits ini : ‘Hendaknya ia mulai dengan makan malam apabila makanan dikhawatirkan menjadi rusak’. Pendapat yang dipegang oleh sebagian ulama dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya lebih tepat untuk diikuti. Yang mereka maksudkan hanyalah seseorang tidak berdiri shalat sedangkan hatinya tersibukkan oleh sesuatu (selain shalat). Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas bahwasannya ia berkata : ‘Kami tidak berdiri shalat sedangkan pada diri kami terdapat sesuatu” [A-Jaami’ At-Kabiir, 1/381].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث كَرَاهَة الصَّلَاة بِحَضْرَةِ الطَّعَام الَّذِي يُرِيد أَكْله ، لِمَا فِيهِ مِنْ اِشْتِغَال الْقَلْب بِهِ ، وَذَهَاب كَمَالِ الْخُشُوع ، ....... ، وَهَذِهِ الْكَرَاهَة عِنْد جُمْهُور أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ إِذَا صَلَّى كَذَلِكَ وَفِي الْوَقْت سَعَة ، فَإِذَا ضَاقَ بِحَيْثُ لَوْ أَكَلَ أَوْ تَطَهَّرَ خَرَجَ وَقْت الصَّلَاة صَلَّى عَلَى حَاله مُحَافَظَة عَلَى حُرْمَة الْوَقْت ، وَلَا يَجُوز تَأْخِيرهَا

“Dalam hadits-hadits ini terdapat petunjuk tentang dimakruhkannya shalat ketika makanan telah dihidangkan bagi orang yang hendak memakannya, karena akan menyebabkan kesibukan hati terhadapnya dan hilangnya kesempurnaan kekhusyukan…. Kemakruhan ini menurut jumhur shahabat kami dan yang lainnya, apabila waktu shalat masih luas. Namun apabila waktu shalat sempit sekiranya jika ia makan lalu bersuci (wudlu) menyebabkan waktu shalat habis, maka ia harus shalat pada waktu tersebut untuk menjaga kehormatan waktu  shalat, dan tidak diperbolehkan untuk mengakhirkannya” [Syarh Shahiih Muslim, 5/46].

Al-Manawiy rahimahullah ketika mengomentari hadits ‘Aaisyah, berkata:

وفيه تقديم فضيلة حضور القلب على فضيلة أول الوقت

“Dalam hadits tersebut terdapat faedah mendahulukan keutamaan hadirnya hati daripada keutamaan awal waktu” [Faidlul-Qadiir, 6/557 no. 9896].

Maksud mendahulukan makan di sini bukan untuk makan sampai kenyang, akan tetapi sekedar menghilangkan rasa laparnya. An-Nawawiy rahimahullah berkata:

أن يكون به جوع، أو عطش شديد، وحضر الطعام والشراب، وتاقت نفسه إليه، فيبدأ بالاكل والشرب. قال الاصحاب: وليس المراد أن يستوفي الشبع، بل يأكل لقما يكسر حدة جوعه

“Apabila ia merasa sangat lapar atau haus, sedangkan makanan dan minuman telah tersedia dan dirinya sangat menginginkannya; hendaklah ia dahulukan untuk makan dan minum (daripada shalat). Shahabat-shahabat kami berkata : Maksudnya di sini bukanlah untuk makan sampai kenyang, akan tetapi makan sekedar untuk menghilangkan rasa laparnya” [Raudlatuth-Thaalibiin, 1/451].

‘Illat mendahulukan makan daripada shalat di sini adalah untuk menghilangkan kesibukan hati (dari sesuatu selain shalat) dan ketidakkhusyukan. Jika seseorang tidak terlalu berkeinginan untuk makan sehingga ia dapat menghadirkan hati dan kekhusyukan selama shalat, maka didahulukan shalat.

Sebagaimana dikatakan An Nawawiy rahimahullah di atas, ketentuan untuk mendahulukan makan atau minum daripada shalat ini berlaku jika waktu shalat masih longgar. Namun jika waktu shalat hampir habis, tetap wajib untuk mendahulukan shalat; karena shalat di luar waktunya adalah haram, sedangkan shalat dengan menahan rasa lapar dan haus hanyalah makruh saja (tidak sampai haram). Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [QS. An-Nisaa’ : 103].

WALLOHUL WALIYYUT TAUFIQ ILA SABILUL HUDA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar