Translate

Senin, 15 Mei 2017

KEJUJURAN YANG BISA MENJADIKAN TERCELA

Pada asalnya, kejujuran itu sangat terpuji dalam syari’at. Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa kejujuran itu merupakan sifat orang yang beriman.

إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ الّذِينَ آمَنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ ثُمّ لَمْ يَرْتَابُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـَئِكَ هُمُ الصّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu; dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” [QS. Al-Hujuraat : 15].

Tidaklah kejujuran itu akan membawa pelakunya kecuali kepada surga. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عليكم بالصدق فإن الصدق يهدى إلى البر وإن البر يهدى إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا وإياكم والكذب فإن الكذب يهدى إلى الفجور وإن الفجور يهدى إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

“Berpegangteguhlah pada kejujuran karena kejujuran membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah kamu terhadap kedustaan karena kedustaan membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta“ [HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607].

Akan tetapi, ada beberapa hal yang dikecualikan dimana orang yang jujur malah tidak mendapat sanjungan sebagaimana di atas. Apakah itu ? Berikut penjelasannya……

Ghibah

Ghibah atau menggunjing (ngrumpi, nggosip) merupakan perkataan jujur yang tercela dan merupakan khianat terhadap aib-aib kaum muslimin yang seharusnya ditutupi. Allah ta’ala berfirman :

وَلاَ يَغْتَب بّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوه

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya “[QS. Al-Hujuraat : 12].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أتدرون ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل فرأيت إن كان في أخي ما أقول قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Apakah kalian tahu apa ghibah itu ?” Para shahabat menjawab : ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda : ”Jika kamu menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci, maka kamu telah melakukan ghibah”. Beliau ditanya : ”Bagaimana jika sesuatu yang aku katakan ada pada saudaraku?” Beliau menjawab : ”Bila sesuatu yang kamu bicarakan ada padanya maka kamu telah melakukan ghibah, dan apabila yang kamu bicarakan tidak ada maka kamu telah membuat kebohongan atasnya “ [HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, At-Tirmidzi no. 1934, Ahmad 2/230, Ad-Darimi no. 2717, dan yang lainnya].

Ghibah itu hukumnya haram, baik sedikit ataupun banyak.

عن عائشة قالت : قلت للنبي صلى الله عليه وسلم حسبك من صفية كذا وكذا قال غير مسدد تعني قصيرة فقال لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته

Dari ’Aisyah ia berkata : ”Aku pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ‘Cukuplah Shafiyyah itu begini dan begitu’. Salah seorang perawi berkata bahwa yang dimaksud ‘Aisyah adalah Shafiyyah itu pendek badannya. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang seandainya dicelupkan ke dalam air laut niscaya akan berubah warnanya” [HR. Abu Dawud no. 4875, At-Tirmidzi no. 2502, Ahmad 6/128, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1080].

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما عرج بي مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم فقلت من هؤلاء يا جبريل قال هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

Dari Anas bin Malik ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : “Ketika aku sedang dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga yang sedang mencakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya : ‘Siapakah mereka wahai Jibril ?’. Jibril menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatannya” [HR. Abu Dawud no. 4878 dan Ahmad 3/224].

Ibnu Katsir menjelaskan :

والغيبة محرمة بالإجماع, ولا يستثنى من ذلك إلا من رجحت مصلحته, كما في الجرح والتعديل والنصيحة كقوله صلى الله عليه وسلم, لما استأذن عليه ذلك الرجل الفاجر: «ائذنوا له بئس أخو العشيرة!» وكقوله صلى الله عليه وسلم لفاطمة بنت قيس رضي الله عنها, وقد خطبها معاوية وأبو الجهم: «أما معاوية فصعلوك, وأما أبو الجهم فلا يضع عصاه عن عاتقه» وكذا ما جرى مجرى ذلك, ثم بقيتها على الترحيم الشديد

“Menurut kesepakatan, ghibah merupakan perbuatan yang diharamkan, dan tidak ada pengecualian dalam hal ini kecuali jika terdapat kemaslahatan yang lebih kuat, seperti misal dalam al-jarh wat-ta’dil dan nasihat. Hal itu sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika ada seorang jahat yang meminta ijin kepada beliau : ‘Berikanlah oleh kalian ijin kepadanya, ia adalah seburuk-buruk saudara dalam keluarga’. Dan juga seperti sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah binti Qais radliyallaahu ‘anhaa ketika dilamar oleh Mu'awiyyah dan Abul-Jahm : ‘Adapun Mu’awiyyah adalah seorang yang tidak Mempunyai harta. Sedangkan Abul-Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (ringan tangan)’. Demikianlah yang memang terjadi dan berlangsung. Kemudian selain dari hal yang di atas, maka hukumnya haram, yang karenanya pelakunya diberikan ancaman keras” [Tafsir Ibnu Katsir hal. 517].

Jumhur ‘ulamaa menjelaskan bahwa ghibah itu termasuk dosa besar. Dalil yang menjadi sandaran tentang hal tersebut adalah :

عن سعيد بن زيد عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن من أربى الربا الاستطالة في عرض المسلم بغير حق

Dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda :“Sesungguhnya termasuk dari riba yang paling berat adalah terus-menerus melanggar kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang benar” [HR. Abu Dawud no. 4876 dan Al-Baihaqi 10/241].

Bagaimana cara bertaubat dari ghibah ?

Ibnu Katsir menjelaskan :

قال الجمهور من العلماء: طريق المغتاب للناس في توبته أن يقلع عن ذلك ويعزم على أن لا يعود, وهل يشترط الندم على ما فات ؟ فيه نزاع, وأن يتحلل من الذي اغتابه. وقال آخرون: لا يشترط أن يتحلله فإنه إذا أعلمه بذلك ربما تأذى أشد مما إذا لم يعلم بما كان منه فطريقه إذاً أن يثني عليه بما فيه في المجالس التي كان يذمه فيها, وأن يرد عنه الغيبة بحسبه وطاقته, لتكون تلك بتلك

“Jumhur ulama mengatakan : ‘Jalan yang harus ditempuh orang yang berbuat ghibah adalah dengan melepaskan diri darinya dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya kembali’. Apakah dalam taubat itu disyaratkan adanya penyesalan atas segala yang telah berlalu dan meminta maaf kepada orang yang telah dighibahinya itu ? Mengenai hal ini, terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta penghalalan (maaf) kepada orang yang dighibah. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan baginya meminta maaf kepadanya. Karena jika ia memberitahukan apa yang telah dighibahkannya itu kepadanya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada jika ia tidak diberitahu. Dengan demikian, cara yang harus ia tempuh adalah memberi sanjungan kepada orang yang telah dighibahnya itu di tempat-tempat dimana ia telah mencelanya. Selanjutnya ia menghindari ghibah orang lain atas orang itu sesuai dengan kemampuannya. Sehingga ghibah itu dibayar dengan pujian” [Tafsir Ibnu Katsir, hal. 517].

Pendapat kedua lah yang lebih dekat dengan kebenaran. Ibnul-Qayyim menjelaskan secara lebih detail :

يذكر عن النبي صلى الله عليه وسلم أن كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته، تقول : ((اللهم اغفر لنا وله)). ذكره البيهقي في كتاب ((الدعوات الكبير))، وقال : في إسناده ضعف.
وهذه مسألة فيها قولان للعلماء - هما روايتان عن الإمام أحمد - ، وهما : هل يكفي في التوبة من الغيبة الاستغفار للمغتاب، أم لابد من أعلامه وتحلله؟
والصحيح أنه لا يحتاج إلى إعلامه، بل يكفيه الاستغفار له، وذكره بمحاسن ما فيه في المواطن التي اغتابه فيها.وهذا اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية، وغيره.
والذين قالوا : لابد من إعلامه؛ جعلوا الغيبة كالحقوق المالية، والفرق بينهما ظاهر، فإن في الحقوق المالية ينتفع المظلوم بعود نظير مظلمته إليه، فإن شاء أخذها، وإن شاء تصدق بها.
وأما في الغيبة، فلا يمكن ذلك، ولا يحصل له بإعلامه إلا عكس مقصود الشارع، فإنه يوغر صدره ويؤذيه إذا سمع ما رُمِيَ به، ولعله يُنْتِجُ عداوته، ولا وصفو له أبداً، وما كان هذا سبيله فإن الشارع الحكيم لا يبيحه ولا يُجَوِّزُه، فضلاً عن أن يوجبه ويأمر به، ومدار الشرعية على تعطيل المفاسد وتقليلها، لا على تحصيلها وتكميلها، والله أعلم

”Disebutkan dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwa kaffarah (tebusan) perbuatan ghibah adalah dengan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang dighibahi dengan mengatakan : ”Ya Allah, ampunilah kami dan dia”. Ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Ad-Da’awaat Al-Kabiir dan ia mengatakan dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, keduanya merupakan riwayat dari Al-Imam Ahmad, yaitu : Apakah sudah mencukupi bertaubat dari perbuatan ghibah hanya dengan memohonkan ampunan untuk orang yang dighibahi ? Ataukah harus memberitahukannya dan minta dihalalkan ?

Yang benar, bahwasannya tidak perlu memberitahukannya, akan tetapi cukup baginya memohonkan ampunan serta menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ada padanya di tempat-tempat dimana ia telah membicarakan (meng-ghibah) orang tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya.

Adapun orang yang mengharuskan untuk memberitahukannya, mereka menganggap bahwa ghibah itu seperti hak-hak harta. Sedangkan perbedaan keduanya sangat jelas, karena dalam kasus hak harta, yang terdhalimi akan mendapatkan manfaat dengan dikembalikannya semisal kedhalimannya. Maka jika ia menghendaki boleh diambilnya, atau dia shadaqahkan harta tersebut jika ia mau.

Adapun dalam kasus ghibah, maka hal itu tidak memungkinkan, dan tidak akan ia peroleh melalui keterangannya itu kecuali kebalikan dari yang dimaksud oleh Pembuat syari’at, karena hal itu justru membuat dadanya panas, dan menyakitinya jika ia mendengar apa yang dighibahkan tentang dirinya, dan mungkin sekali itu akan membangkitkan rasa permusuhan serta tidak menjernihkan permasalahan selama-lamanya. Dan apapun yang seperti ini jalannya, maka Pembuat syari’at yang bijaksana tidaklah memperkenankannya dan tidak mengijinkannya, lebih-lebih mewajibkan apalagi memerintahkannya. Adapun poros beredarnya syari’at ini adalah menghilangkan kerusakan (yang ada) dan meminimalkannya, bukan untuk menimbulkan kerusakan (yang baru) atau (bahkan) menyempurnakannya. Allahu a’lam” [selesai perkataan Ibnul-Qayyim –Al-Waabilush-Shayyib wa Raafi’ul-Kalimith-Thayyib, hal. 389-390, tahqiq : ’Abdurrahman bin Hasan bin Qaaid, isyraf : Bakr Abu Zaid; Daar ’Aalamil-Fawaaid].

Namimah (mengadu domba)

Namimah lebih tercela dan lebih buruk daripada ghibah. Disamping itu merupakan pengkhianatan dan kehinaan yang kemudian berakhir dengan percekcokan, pemutusan silaturahim, dan kebencian di antara teman. Allah ta’ala telah mencela orang yang berperangai seperti ini dengan firman-Nya :

وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa” [QS. Al-Qalam : 10-12].

Ibnu Katsir menjelaskan :

{مشاء بنميم} يعني الذي يمشي بين الناس ويحرش بينهم وينقل الحديث لفساد ذات البين وهي الحالقة, وقد ثبت في الصحيحين من حديث مجاهد عن طاوس عن ابن عباس قال: مر رسول الله صلى الله عليه وسلم بقبرين فقال «إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير, أما أحدهما فكان لا يستتر من البول, وأما الاَخر فكان يمشي بالنميمة» الحديث.

”Firman-Nya : { مشاء بنميم} ”yang kian kemari menghambur fitnah” ; yaitu : yang berjalan di tengah-tengah umat manusia seraya memprovokasi mereka serta menyebarluaskan pembicaraan untuk mengaburkan yang sudah jelas. Dan telah ditegaskan dalam Ash-Shahihain, dari hadits Mujahid, dari Thawus, dari Ibnu ’Abbas ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda : ’Kedua orang (yang berada di kuburan ini) sedang disiksa. Keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Adapun salah satunya, (mereka disiksa) karena tidak menutup diri saat buang air, sedangkan yang lain (disiksa) karena suka mengadu domba (namimah)’. Al-Hadits” [Tafsir Ibnu Katsir, hal. 564].

Tidak disangsikan lagi bahwa namimah termasuk salah satu jenis dosa besar. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang namimah dengan sabdanya :

لا يدخل الجنة نمام

“Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” [HR. Al-Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105].

Orang yang mengadu domba adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah, penghuni neraka jahannam dan bila tidak bertaubat akan menjadi hamba yang terhina di dunia dan putus asa dari rahmat Allah di akhirat.

وذكر ابن عبد البر عن يحيى بن أبي كثير قال : يفسد النمام والكذاب في ساعة ما لا يفسد الساحر في سنة . وقال أبو الخطاب في عيون المسائل : ومن السحر السعي بالنميمة والإفساد بين الناس . قال في الفروع : ووجهه أن يقصد الأذى بكلامه وعمله على وجه المكر والحيلة ، أشبه السحر ، وهذا يعرف بالعرف والعادة أنه يؤثر وينتج ما يعمله السحر ، أو أكثر فيعطى حكمه تسوية بين المتماثلين أو المتقاربين . لكن يقال : الساحر إنما يكفر لوصف السحر وهو أمر خاص ودليله خاص ، وهذا ليس بساحر . وإنما يؤثر عمله ما يؤثره فيعطي حكمه إلا فيما اختص به من الكفر وعدم قبول التوبة . انتهى ملخصاً .
وبه يظهر مطابقة الحديث للترجمة . وهو يدل على تحريم النميمة ، وهو مجمع عليه قال ابن حزم رحمه الله : اتفقوا على تحريم الغيبة والنميمة في غير النصيحة الواجبة . وفيه دليل على أنها من الكبائر .

”Ibnu ’Abdil-Barr menyebutkan dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata : ”Para pengadu domba dan pendusta membuat kerusakan dalam satu saat yang tidak dapat dicapai oleh tukang sihir selama setahun”. Abul-Khaththab berkata dalam kitab ’Uyuunul-Masaaail : ”Termasuk sihir adalah berkeliling dengan namimah dan berbuat kerusakan di antara manusia”. Ia juga berkata dalam kitab Al-Furu’ : ”Ini permasalahannya adalah, bahwa orang itu bermaksud menyakiti dengan ucapannya dan perbuatannya dengan cara makar dan tipu muslihat, dan itu menyerupai sihir. Ini dapat diketahui secara adat kebiasaan, bahwa perbuatan itu berpengaruh dan membuahkan sesuatu serupa dengan apa yang dihasilkan oleh sihir, atau bahkan lebih banyak. Maka hukumnya pun serupa dengan sihir, karena di antara keduanya terdapat kesamaan yang saling berdekatan”. Akan tetapi dikatakan bahwa tukang sihir adalah kafir karena kriteria sihirnya. Ia adalah sesuatu yang khusus dan dalil yang dimilikinya pun khusus; sedangkan yang ini (yaitu namimah) tidak seperti pelaku sihir. Akan tetapi keduanya ada kesamaan dalam pengaruh. Maka hukum keduanya pun harus disamakan, kecuali dalam kekafiran yang khusus pada sihir dan tidak diterimanya taubat. Selesai dengan peringkasan.
Dengan ini jelaslah relevansi hadits ini dengan bab di atas, dan hadits itu menunjukkan haramnya namimah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Mereka sepakat atas haramnya ghibah dan namimah di luar nasihat yang wajib. Hal ini juga menunjukkan bahwa namimah termasuk perbuatan dosa besar”

Para ulama berbeda pendapat tentang ghibah dan namimah; apakah keduanya sama atau berbeda ?

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata :

وأن بينهما عموما وخصوصا وجهيا وذلك لأن النميمة نقل حال الشخص لغيره على جهة الإفساد بغير رضاه سواء كان بعلمه أم بغير علمه والغيبة ذكره في غيبته بما لا يرضيه فامتازت النميمة بقصد الافساد ولا يشترط ذلك في الغيبة وامتازت الغيبة بكونها في غيبة المقول فيه واشتركتا فيما عدا ذلك ومن العلماء من يشترط في الغيبة أن يكون المقول فيه غائبا والله أعلم

”Bahwasannya di antara keduanya terdapat perbedaan, dan di antara keduanya terdapat sisi keumuman dan kekhususan. Karena namimah adalah menukil keadaan seseorang untuk disampaikan kepada yang lain dengan tujuan membuat kerusakan tanpa keridlaannya, baik ia tahu atau tidak tahu. Sedangkan ghibah adalah menyebut tentang seseorang tanpa kehadiran orang yang disebut dengan sesuatu yang tidak diridlainya. Maka namimah itu terbedakan dengan adanya tujuan untuk merusak, dan ini tidak disyaratkan dalam ghibah. Dan ghibah sendiri terbedakan dengan ketidakhadiran orang yang dibicarakan. Keduanya memiliki sisi kesamaan dalam hal yang selain itu. Di antara ulama ada yang mensyaratkan tentang ghibah, keharusan orang yang dibicarakan tidak ada di tempat. Wallaahu a’lam” [Fathul-Bari, 10/473; Daarul-Ma’rifah, Beirut].

Menyebarkan Rahasia

Menyebarkan rahasia adalah satu kejujuran yang sangat tercela dan merupakan bukti pengkhianatan dari pelakunya. Ia merupakan satu sikap khianat terhadap amanah. Allah ta’alatelah mengabadikan satu contoh dalam Al-Qur’an :

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" [QS. At-Tahrim : 3].

Ayat di atas berisi terkandung satu teguran bagi Ummul-Mukminin Hafshah binti ’Umar bin Al-Khaththab ketika ia membocorkan rahasia Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang seharusnya ia simpan. Ia melakukannya karena rasa cemburu dengan madunya (istri beliau shallallaahu ’alaihi wasallam yang lain). Setelah mendapat teguran dari Allah dan Rasul-Nya melalui ayat tersebut, maka ia adalah salah satu wanita yang paling cepat sadar akan kesalahannya, bertaubat, dan kembali kepada kebenaran.

Para ulama berbeda pendapat mengenai ”rahasia” yang dimaksud dalam ayat. Ada dua pendapat masyhur dalam hal ini :

Pertama, maksudnya adalah pengharaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam terhadap madu.

عن عبيد بن عمير قال سمعت عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يمكث عند زينب ابنة جحش، ويثرب عندها عسلا فتواصيت أنا وحفصة أن أيتنا دخل عليها النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم فلتقل: إني لأجد منك ريح مغافير، أكلت مغافير. فدخل على إحداهما فقالت له ذلك، فقال: "لا بأس شربت عسلا عند زينب ابنة جحش ولن أعود له". فنزلت {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ} إلى {تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ} لعائشة وحفصة {وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا} لقوله بل شربت عسلا.

Dari ’Ubaid bin ’Umair berkata : Aku mendengar ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wa ’alaa aalihi wasallam tinggal di tempat Zainab binti Jahsy dan beliau meminum madu di sana. Maka aku dan Hafshah bersepakat bahwa siapa saja di antara kami yang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam masuk kepadanya, hendaknya ia berkata : ”Sesungguhnya aku mencium bau maghaafir (sesuatu yang kurang sedap baunya)”. Lalu Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam masuk kepada salah satu dari keduanya, ia pun mengatakan hal itu kepada Nabi. Beliau menjawab : ”Tidak mengapa, aku telah minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan meminumnya lagi”. Maka turunlah ayat :”Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu”sampai pada ayat : ”Jika kamu berdua bertobat kepada Allah” (QS. At-Tahrim : 1 - 4) – dimana ayat ini turun kepada ’Aisyah dan Hafshah. Adapun ayat : ”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa” – turun karena perkataan beliau shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Akan tetapi aku meminum madu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 11/293].

Kedua, maksudnya pengharaman terhadap Mariyyah Al-Qibthiyyah. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebut riwayat sebagai berikut :

عن ابن عباس قال: قلت لعمر بن الخطاب: من المرأتان ؟ قال: عائشة وحفصة. وكان بدء الحديث في شأن أم إبراهيم مارية القبطية أصابها النبي صلى الله عليه وسلم في بيت حفصة في نوبتها, فوجدت حفصة: فقالت: يا نبي الله لقد جئت إليّ شيئاً ما جئت إلى أحد من أزواجك في يومي وفي دوري وعلى فراشي قال: «ألا ترضين أن أحرمها فلا أقربها» قالت: بلى فحرمها وقال لها «لا تذكري ذلك لأحد»

Dari Ibnu ’Abbas ia berkata : Aku bertanya kepada ’Umar bin Al-Khaththab : ’Siapa dua wanita yang dimaksudkan dalam ayat ?’. Ia menjawab : ’Aisyah dan Hafshah’. Kejadian itu terjadi berkaitan dengan perkara Ummu Ibrahim Mariyah Al-Qibthiyyah yang digauli Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam di rumah Hafshah, sedangkan hari itu merupakan hari giliran Hafshah. Dan ternyata Hafshah pun melihatnya. Maka ia pun berkata : ”Wahai Nabi Allah, sungguh engkau telah mendatangkan kepadaku sesuatu yang tidak pernah engkau datangkan kepada seorang pun dari para istrimu, di hari (giliran)-ku dan di atas tempat tidurku”. Lalu beliau shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Tidakkah engkau ridlai, kalau aku haramkan dia dan aku berjanji untuk tidak mendekatinya lagi”. Hafshah berkata : ”Tentu”. Kemudian beliau shallallaahu ’alaihi wasallam mengharamkannya (yaitu mengharamkan Mariyyah Al-Qibthiyyah untuk diri beliau). Dan beliau berkata kepada Hafshah : ”Janganlah engkau ceritakan hal ini kepada siapapun” [Tafsir Ibnu Katsir hal. 560].

Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa para shahabat adalah orang yang sangat menjaga rahasia :

عن أنس قال أتى علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا العب مع الغلمان قال فسلم علينا فبعثني إلى حاجة فأبطأت على أمي فلما جئت قالت ما حبسك قلت بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم لحاجة قالت ما حاجته قلت انها سر قالت لا تحدثن بسر رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدا قال أنس والله لو حدثت به أحدا لحدثتك يا ثابت

Dari Anas ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam mendatangiku ketika itu aku sedang bermain-main bersama beberapa orang anak laki-laki, kemudian beliau memberi salam kepada kami. Lalu beliau menyuruhku untuk satu keperluan hingga aku terlambat pulang ke rumah. Dan ketika aku pulang menemui ibuku, ia bertanya : ”Apa yang menyebabkan engkau pulang terlambat ?”. Maka aku pun menjawab : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menyuruhku untuk satu keperluan”. Ia bertanya : ”Apa Apa keperluannya ?”. Aku menjawab : ”Ini rahasia”. Ibuku pun berkata : ”Jangan sekali-kali engkau ceritakan rahasia Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam kepada seorangpun”. Anas berkata : ”Demi Allah, seandainya aku menceritakannya kepada seseorang, niscaya aku menceritakannya kepadamu wahai Tsabit !” [HR. Al-Bukhari no. 6289 dan Muslim no. 2482].

Namun, ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian shahabat menyebutkan satu rahasia dari beliau setelah beliau shallallaahu ’alaihi wasallam wafat. Diantaranya :

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم ومعاذ رديفه على الرحل قال يا معاذ بن جبل قال لبيك يا رسول الله وسعديك قال يا معاذ قال لبيك يا رسول الله وسعديك ثلاثا قال ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار قال يا رسول الله أفلا أخبر به الناس فيستبشروا قال إذا يتكلوا وأخبر بها معاذ عند موته تأثما

Dari Anas bin Malik : Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu’adz ketika ia dibonceng oleh beliau di atas kendaraan :”Wahai Mu’adz !”. Mu’adz berkata :”Labbaika ya Rasulallah wa sa’daika!”.Beliau berkata lagi : ”Wahai Mu’adz !”.Mu’adz berkata : ”Labbaika ya Rasulallah wa sa’daika!”. Setelah tiga kali, beliau shallallaahu ’alaihi wasallam melanjutkan :”Barangsiapa yang bersaksi dengan tulus sepenuh hati bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah, maka Allah akan mengharamkannya dari api neraka”. Mu’adz bertanya : ”Wahai Rasulullah, bolehkah saya beritahukan hal ini kepada manusia agar mereka merasa gembira ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”(Apabila engkau beritahukan hal ini kepada mereka), niscaya akan menyandarkan diri (pada hal ini saja)”. Maka Mu’adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya karena takut berdoa (jika tidak disampaikan)” [HR. Al-Bukhari no. 128 dan Muslim no. 30].

Al-Hafidh Ibnu Hajar memberikan satu penjelasan yang sangat bagus dalam mengkompromikan dua hal tersebut, yaitu ketika beliau mengomentari hadits Anas (Shahih Al-Bukhari no. 6289) :

قال بعض العلماء : كأن هذا السر كان يختص بنساء النبي صلى الله عليه وسلم وإلا فلو كان من العلم ما وسع أنسا كتمانه. وقال بن بطال الذي عليه أهل العلم أن السر لا يباح به إذا كان على صاحبه منه مضرة وأكثرهم يقول انه إذا مات لا يلزم من كتمانه ما كان يلزم في حياته إلا أن يكون عليه فيه غضاضة قلت الذي يظهر انقسام ذلك بعد الموت إلى ما يباح وقد يستحب ذكره ولو كرهه صاحب السر كأن يكون فيه تزكية له من كرامة أو منقبة أو نحو ذلك وإلى ما يكره مطلقا وقد يحرم وهو الذي أشار إليه بن بطال وقد يجب كأن يكون فيه ما يجب ذكره كحق عليه كان يعذر بترك القيام به فيرجى بعده إذا ذكر لمن يقوم به عنه ان يفعل ذلك

”Sebagian ulama mengatakan : ’Sepertinya rahasia itu khusus berkaitan dengan istri-istri Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Kalau tidak, andaikan itu tentang ilmu, tidak pantas bagi Anas untuk menyembunyikannya’. Ibnu Baththal mengatakan : ’Yang dipegangi oleh ahli ilmu adalah bahwa menceritakan rahasia itu tidak diperbolehkan jika menimbulkan kemudlaratan bagi orangnya. Mayoritas mereka mengatakan : Apabila dia telah meninggal, maka tidak harus menyembunyikannya sebagaimana keharusan menyembunyikan ketika masih hidup, kecuali jika rahasia itu di dalamnya ada perkara-perkara yang mengandung kerendahan’. Aku (Ibnu Hajar) katakan : Yang lebih jelas (dan tepat) adalah memperinci perkara tersebut, yaitu :

1. Perkara yang diperbolehkan dan terkadang disukai penyebutannya walaupun si pemilik rahasia tidak menyukainya. Seperti misal, jika rahasia itu mengandung pujian kepadanya karena kemuliaan atau perbuatannya baik atau yang semisal dengan itu.

2. Perkara yang dibenci secara mutlak dan mungkin diharamkan, dan inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Baththal.

3. Bahkan bisa jadi diwajibkan apabila dalam rahasia itu ada sesuatu yang wajib disebutkan. Misalnya hak yang harus dipenuhinya, tetapi ia terhalang (dengan sesuatu) sehingga tidak menunaikannya. Kemudian setelah ia meninggal, ada orang yang mau menunaikan hak itu apabila rahasia itu diceritakan” [Fathul-Bari, 11/82].

Jadi, jika rahasia itu mengandung satu pujian, kebaikan, ilmu, atau hak yang harus ditunaikan; maka boleh – dan bahkan bisa menjadi wajib – untuk disampaikan setelah meninggalnya si pemilik rahasia. Namun jika rahasia itu berkaitan dengan aib, hubungan pribadi suami istri, atau hal-hal yang rendah yang tidak membawa maslahat jika disampaikan – atau bahkan membawa kemudlaratan - , maka rahasia tersebut tidak boleh untuk disampaikan. Wallaahu a’lam.

Demikianlah sedikit uraian yang membahas kejujuran dari ”sisi yang lain”. Semoga ada manfaatnya.

WALLOHUL WALIYYUT TAUFIQ ILA SABILUL HUDA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar