Translate

Minggu, 23 Juli 2017

Hakikat Ilmu Dalam Menggapai Ketaqwaan

Janganlah engkau sebarkan ilmumu agar engkau dibenarkan oleh manusia. Namun sebarkanlah ilmumu agar Allah membenarkan dirimu, walaupun ada sebab yang mencercamu. Maka sebab yang ada diantara dirimu dan Allah dimana datangnya dari arah perintah-Nya kepadamu itu lebih baik bagimu daripada sebab yang ada diantara dirimu dan manusia, dari sisi, dimana Allah melarangmu.

Suatu sebab yang engkau bisa kembali kepada Allah lebih baik dari sebab yang memutuskan dirimu dengan Allah. Untuk tujuan itulah Allah mengaitkan dirimu dengan pahala dan siksa. Sebab tak ada yang diharapkan dan ditakuti kecuali dari sisi Allah. Allah cukup sebagai Pendamping dan Pembenar.

Hendaknya engkau selalu bersama Allah sebagai orang yang alim dan pengajar. Cukuplah Allah sebagai Penunjuk, Penolong dan Kekasih. Yakni Penunjuk yang memberi petunjuk padamu, dan menunjukkan bersamamu dan kepadamu; Penolong yang menolongmu, menolong bersamamu dan tidak menolong yang membuatmu sengsara; sebagai Kekasih yang mengasihimu, mengasihi bersamamu dan tidak mengasihi yang mencelakakanmu.

Ilmu-ilmu ini mengandung beberapa firasat dan penjelasan dalam obyek-obyek jiwa, dalam bisikan-bisikan, cobaan dan kehendak jiwa. Hati, harus melakukan analisa, penentraman dan pendasaran menurut jalan tauhid dan syariat, dengan kejernihan mahabbah dan keikhlasan demi agama dan sunnah.

Setelah itu, mereka mendapatkan tambahan-tambahan dalam tahap-tahap yaqin: berupa zuhud, sabar, syukur, harapan, ketakutan, tawakkal, ridha dan sebagainya, dari tahap-tahap yaqin. Inilah jalan para penempuh amal bagi Allah.

Sedangkan Ahlullah dan kalangan khusus-Nya, adalah kaum yang ditarik dari keburukan dan prinsip-prinsipnya. Mereka diperamalkan untuk kebajikan dan cabang-cabangnya. Mereka dicintakan untuk khalwat, dan dibukakan pintu jalan munajat. Allah memperkenalkan diri pada mereka, sehingga merekapun kenal Dia. Allah memberikan kecintaan kepada mereka sehingga mereka mencintai-Nya.

Allah menunjukkan jalan dan mereka menempuh jalan itu. Mereka selalu bersama-Nya dan bagi-Nya. Mereka tidak dibiarkan untuk yang lain-Nya, dan mereka tidak ditutupi dari-Nya. Namun justru mereka tertutup —bersama-Nya— dari selain-Nya. Mereka tidak mengenal selain Dia dan tidak pula mencintai selain Dia. ”Mereka adalah orang-orang yang oleh Allah diberi petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memiliki hati nurani.”

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28].

Al-Hafidh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

أي: إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به؛ لأنه كلما كانت المعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى -كلما كانت المعرفة به أتمّ والعلم به أكمل، كانت الخشية له أعظم وأكثر


“Yaitu : orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya hanyalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena, setiap kali pengetahuan tentang Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui serta memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama-Nya yang baik; semakin sempurna dan semakin lengkap, maka setiap kali itu pula rasa takut semakin besar dan semakin banyak.

وقال سعيد بن جبير: الخشية هي التي تحول بينك وبين معصية الله عز وجل.
وقال الحسن البصري: العالم مَن خشي الرحمن بالغيب، ورغب فيما رغب الله فيه، وزهد فيما سَخط الله فيه، ثم تلا الحسن: { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ } .
وعن ابن مسعود، رضي الله عنه، أنه قال: ليس العلم عن كثرة الحديث، ولكن العلم عن كثرة الخشية.
وقال أحمد بن صالح المصري، عن ابن وهب، عن مالك قال: إن العلم ليس بكثرة الرواية، وإنما العلم نور يجعله الله في القلب.
قال أحمد بن صالح المصري : معناه: أن الخشية لا تدرك بكثرة الرواية، وأما العلم الذي فرض الله، عز وجل، أن يتبع فإنما هو الكتاب والسنة، وما جاء عن الصحابة، رضي الله عنهم، ومن بعدهم من أئمة المسلمين، فهذا لا يدرك إلا بالرواية ويكون تأويل قوله: "نور" يريد به فهم العلم، ومعرفة معانيه.

وقال سفيان الثوري، عن أبي حيان [التميمي] ، عن رجل قال: كان يقال: العلماء ثلاثة: عالم بالله عالم بأمر الله، وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله. فالعالم بالله وبأمر الله: الذي يخشى الله ويعلم الحدود والفرائض. والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله: الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض. والعالم بأمر الله ليس بعالم بالله: الذي يعلم الحدود والفرائض، ولا يخشى الله عز وجل.

“Sa’iid bin Jubair berkata : ‘Al-Khasyyah adalah sesuatu yang menghalangi antaramu dan maksiat kepada Allah‘azza wa jalla’.

Al-Hasan Al-Bashriy berkata : ‘Seorang ‘aalim adalah orang yang takut kepada Ar-Rahmaan (Allah) dalam kesendirian, senang dengan apa yang disenangi oleh Allah, zuhud terhadap apa yang yang dimurkai Allah’ – kemudian Al-Hasan membaca ayat : ‘Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun’ (QS. Faathir : 28).

Dari Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : ‘Ilmu bukanlah dengan banyaknya bicara, akan tetapi ilmu itu adalah banyaknya khasyyah (rasa takut kepada Allah)’.

Telah berkata Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, dari Ibnu Wahb, dari Maalik (bin Anas), ia berkata : ‘Sesungguhnya ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu hanyalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati’.

Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy berkata : ‘Maknanya adalah, kasyyah itu tidak didapatkan dengan banyaknya riwayat. Adapun ilmu yang telah Allah ‘azza wa jallawajibkan untuk diikuti, maka ia hanyalah Al-Qur’an, As-Sunnah, dan apa-apa yang datang dari para shahabatradliyallaahu ‘anhum, dan yang datang dari generasi setelah mereka dari kalangan para imam kaum muslimin. Maka ini tidak mungkin didapatkan kecuali dengan riwayat. Sehingga makna perkataannya (Maalik) tentang ‘cahaya’, adalah pemahaman atas ilmu dan pengetahuan akan makna-maknanya”.

Telah berkata Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Abu Hayyaan (At-Tamiimiy), dari seorang laki-laki, ia berkata : “Pernah dikatakan : ‘Ulama itu ada tiga : (1) Yang mengetahui Allah dan mengetahui perintah Allah, (2) Yang mengetahui Allah, namun tidak mengetahui perintah Allah, dan (3) Yang mengetahui perintah Allah, namun tidak mengetahui Allah. Ulama yang mengetahui Allah dan perintah-Nya adalah orang yang takut kepada Allah, mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya). Ulama yang mengetahui Allah namun tidak mengetahui perintahnya adalah orang yang takut kepada Allah, namun tidak mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya). Ulama yang mengetahui perintah Allah namun tidak mengetahui Allah adalah orang yang mengetahui hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban (yang telah ditetapkan-Nya) namun tidak takut kepada Allah” [Tafsiir Al-Qur’aanil-‘Adhiim, 6/544-545, tahqiq : Saamiy bin Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayyibah, Cet. 2/1420 H].

Al-Baghawiy  rahimahullah  menyebutkan atsar dalam Tafsir-nya :

وقال مسروق: كفى بخشية الله علمًا وكفى بالاغترار بالله جهلا. وقال رجل للشعبي: أفتني أيها العالم، فقال الشعبي: إنما العالم من خشي الله عز وجل.

“Masruuq berkata : ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu, dan cukuplah durhaka kepada Allah disebut sebagai kebodohan’. Dan seorang laki-laki perah berkata kepada Asy-Sya’biy : ‘Berilah aku fatwa wahai ‘aalim’. Maka ia (Asy-Sya’biy) berkata : ‘Seorang‘aalim itu hanyalah orang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla” [Tafsir Al-Baghawiy, 6/419].

Allah ta’ala berfirman :

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” [QS. Az-Zumar : 9].

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (23)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya” [QS. Az-Zumar : 23].

قال عبد الرزاق: حدثنا مَعْمَر قال: تلا قتادة، رحمه الله: { تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ } قال: هذا نعت أولياء الله، نعتهم الله بأن تقشعر جلودهم، وتبكي أعينهم، وتطمئن قلوبهم إلى ذكر الله، ولم ينعتهم بذهاب عقولهم والغشيان عليهم، إنما هذا في أهل البدع، وهذا من الشيطان.

‘Abdurrazzaaq berkata : Telah menceritakan kepada kami Ma’mar, ia berkata : Qataadah pernah membaca ayat ini : ‘gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah’ (QS. Az-Zumar : 23), ia berkata : “Ini adalah sifat para wali Allah. Allah telah menyifati mereka bahwasannya gemetar kulit mereka, menangis mata-mata mereka, dan tenang hati-hati mereka ketika mengingat Allah. Allah tidak menyifati mereka dengan hilangnya akal-akal dan mabuk kepada mereka. Sifat seperti ini hanyalah ada pada ahlul-bida’, dan ini berasal dari setan” [Tafsiir Ibni Katsiir, 7/95].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ: قُلْتُ لَجَدَّتِي أَسْمَاءَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأُوا الْقُرْآنَ؟ قَالَتْ:"كَانُوا كَمَا نَعَتَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتُقَشْعِرُّ جُلُودُهُمْ"، قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا هَاهُنَا إِذَا سَمِعُوا ذَلِكَ تَأْخُذُهُمْ عَلَيْهِ غَشْيَةٌ، فَقَالَتْ:"أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ"

Dari ‘Abdullah bin ‘Urwah bin Az-Zubair, ia berkata : Aku bertanya kepada nenekku Asmaa’ radliyallaahu ‘anhaa : “Bagaimanakah sikap yang dilakukan para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka membaca Al-Qur’an ?”. Asmaa’ menjawab : “Mereka, sebagaimana yang Allah ta’ala terangkan kepada mereka, mata mereka meneteskan air mata dan kulit mereka bergetar”. Aku berkata : “Sesungguhnya manusia sekarang ini apabila mereka mendengar Al-Qur’an, membuat mereka pingsan”. Asmaa’ berkata : ‘A’uudzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)” [Tafsir Ibni Abi Haatim, hal. 3249 no. 18383, tahqiq : As’ad Muhammad Thayyib; Maktabah Nizaar Mushthafaa Al-Baaz, Cet. 1/1417 H. Lihat juga atsar ini dengan sanadnya dalam Tafsir Al-Baghawiy, 7/116].

Kondisi ulama dan penuntut ilmu tanpa ruh pernah menjadi keprihatinan Ibnul-Jauziy rahimahullah, sebagaimana perkataannya berikut :

رأيت أكثر العلماء مشتغلين بصورة العلم دون فهم حقيقته ومقصوده؛ فالقارئ مشغول بالروايات، عاكف على الشواذ، يرى أن المقصود نفس التلاوة، ولا يتلمح عظمة المتكلم، ولا زجر القرآن ووعده، وربما ظن أن حفظ القرآن يدفع عنه، فتراه يترخص في الذنوب، ولو فهم، لعلم أن الحجة عليه أقوى ممن لم يقرأ!
والمحدث يجمع الطرق، ويحفظ الأسانيد، ولا يتأمل مقصود المنقول، ويرى أنه قد حفظ على الناس الأحاديث، فهو يرجو بذلك السلامة، وربما ترخص في الخطايا، ظنًّا منه أن ما فعل في الشريعة يدفع عنه!
والفقيه قد وقع له أنه بما قد عرف من الجدال، الذي يقوي به خصامه، أو المسائل التي قد عرف فيها المذهب: قد حصل بما يفتي به الناس ما يرفع قدره، ويمحو ذنبه؛ فربما هجم على الخطايا، ظنًّا منه أن ذلك يدفع عنه! وربما لم يحفظ القرآن، ولم يعرف الحديث، وأنهما ينهيان عن الفواحش بزجر ورفق، وينضاف إليه -مع الجهل بهما- حب الرئاسة، وإيثار الغلبة في الجدل، فتزيد قسوة قلبه!
وعلى هذا أكثر الناس، صور العلم عندهم صناعة، فهي تكسبهم الكبر والحماقة....

.......

وهؤلاء لم يفهموا معنى العلم، وليس العلم صور الألفاظ؛ إنما المقصود فهم المراد منه، وذاك يورث الخشية والخوف، ويري المنة للمنعم بالعلم، وقوة الحجة له على المتعلم

“Aku telah melihat kebanyakan ulama dewasa ini hanyamenyibukkan diri dengan simbol ilmu saja tanpa kepahaman akan hakekat dan maksudnya. Seorangqaari’ sibuk dengan riwayat-riwayat dengan menetapi bacaan-bacaan syaadz untuk tujuan tilaawah semata, tanpa menatap akan keagungan Allah dan kandungan Al-Qur’an yang ia baca. Ia menyangka hapalan Al-Qur’an-nya akan dapat memberikan keringanan dalam dosa. Seandainya memahami, niscaya ia akan mengetahui bahwa hujjah Allah kepadanya lebih kuat daripada orang selain dirinya yang bukan qaari’.

Seorang muhaddits yang mengumpulkan jalan-jalan riwayat dan menghapal sanad-sanad, namun tidak merenungkan maksud dari riwayat yang ia bawa, sementara ia memandang dirinya telah menjaga manusia dengan hadits-hadits yang ia bawa; dan ia berharap dengan hal itu semua keselamatan (dari Allah). Ia memberikan keringanan bagi dirinya akan kesalahan-kesalahan dengan sangkaan bahwa jasa yang ia perbuat dalam syari’at dapat melindunginya.

Seorang yang faqiih yang dikenal sebagai ahli debat, kuat dalam perbantahan, serta menguasai berbagai permasalahan madzhab, sehingga fatwa yang diberikannya kepada manusia dapat mengangkat kedudukannya dan menghapus dosanya. Namun seringkali ia melakukan kesalahan dengan sangkaan bahwa apa yang ia lakukan selama ini dalam melindunginya. Seringkali orang seperti ini tidak menghapal Al-Qur’an ataupun mengetahui hadits dimana dua hal tersebut dapat mencegahnya dari berbagai macam kekejian dengan adanya faedah dan larangan. Ia pun – bersamaan dengan kebodohan terhadap Al-Qur’an dan hadits - condong kepada cinta kekuasaan dan kesenangan menang dalam berdebat. Maka, hatinya pun bertambah keras....

........

Mereka itu semua termasuk golongan orang yang tidak memahami makna ilmu. Ilmu itu bukanlah sekedar simbol-simbol lafadh saja. Akan tetapi ilmu itu hanyalah kepahaman akan maksud yang ada padanya dan mewariskan sikap tunduk dan takut, sehingga ia (ilmu) akan menjadi penolong dan hujjah baginya kelak di hadapan Allah ta’ala” [Shaidul-Khaathir, hal. 449-451; Daarul-Qalam, Cet. 1/1425 H].

حدثنا عبد الله بن عبد الرحمن، أنبأنا عبد الله بن صالح، حدثني معاوية بن صالح، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير، عن أبيه جبير بن نفير عن أبي الدرداء قال:  "كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم فشخص ببصره الى السماء، ثم قال: هذا أوان يختلس العلم من الناس حتى لا يقدروا منه على شيئ. فقال زياد بن لبيد الأنصاري: كيف يختلس منا، وقد قرأنا القرآن فوالله لنقرأنه، ولنقرئنه نساءنا وأبناءنا؟ قال: ثكلتك أمك يا زياد إن كنت لأعدك من فقهاء أهل المدينة، هذه التوراة والانجيل عند اليهود والنصارى فماذا تغني عنهم؟ قال جبير: فلقيت عبادة بن الصامت فقلت ألا تسمع ما يقول أخوك أبو الدرداء؟ فأخبرته بالذي قال أبو الدرداء، قال صدق أبو الدرداء إن شئت لأحدثنك بأول علم يرفع من الناس: الخشوع، يوشك أن تدخل مسجد الجامع فلا ترى فيه رجلا خاشعا". هذا حديث حسن غريب.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdulah bin Shaalih : Telah menceritakan kepadaku Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari ‘Abdurrahmaan bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, Jubair bin Jufair, dari Abud-Dardaa’, ia berkata : Kami pernah bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu tiba-tiba beliau mengangkat pandangannya ke langit dan bersabda : “Inilah waktu ketika ilmu dirampas dari manusia hingga mereka tidak mampu melakukan apapun”. Ziyaad bin Labiir Al-Anshaariy berkata : “Bagaimana ilmu itu dirampas dari kami. Sungguh, kami telah membaca Al-Qur’an. Dan demi Allah, kami benar-benar senantiasa akan membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami”. Beliau bersabda : “Celaka engkau wahai Ziyaad. Aku mengira engkau adalah salah satu fuqahaa’ penduduk Madiinah. Taurat dan Injil ini ada di sisi Yahudi dan Nashara. Lalu mengapa hal itu tidak mencukupi bagi mereka ?”. Jubair berkata : “Aku pernah menemui ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit, lalu aku berkata : “Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan saudaramu Abud-Dardaa’ ?. Lalu aku khabarkan apa yang dikatakan Abud-Dardaa’”. Ia (‘Ubaadah) berkata : “Abud-Dardaa’ benar. Apabila engkau ingin, akan aku katakan kepadamu awal ilmu yang akan diangkat dari manusia, yaitu :Khusyu’ (ketundukan). Boleh jadi engkau masuk masjid Jaami’, namun engkau tidak melihat satupun orang di dalamnya yang khusyu’” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2653, dan ia berkata : “Hadits hasan ghariib”].

Allah ta’ala berfirman :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid : 16].

حدثني يونس بن عبد الأعلى الصدفي. أخبرنا عبدالله بن وهب. أخبرني عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال، عن عون بن عبدالله، عن أبيه؛ أن ابن مسعود قال: ما كان بين إسلامنا وبين أن عاتبنا الله بهذه الآية: {ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله} إلا أربع سنين.

Telah menceritakan kepadaku Yuunus bin ‘Abdil-A’laa Ash-Shadafiy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Al-Haarits, dari Sa’iid bin Abi Hilaal, dari ‘Aun bin ‘Abdillah, dari ayahnya : Bahwasannya Ibnu Mas’uud pernah berkata : “Jarak antara keislaman kami dengan celaan Allah kepada kami dengan ayat ini : ‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah’ (QS. Al-Hadiid : 16) adalah empat tahun” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3027].

حدثنا أبو أسامة عن عثمان بن واقد عن نافع قال : كان عبد الله بن عمر إذا قرأ هذه الآية ( ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله ) بكى حتى يغلبه البكاء

Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari ‘Utsmaan bin Waaqid, dari Naafi’, ia berkata : “’Abdullah bin ‘Umar apabila membaca ayat ini : ‘Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah’ (QS. Al-Hadiid : 16) menangis tersedu-sedu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 13/237; hasan].

Al-Haafidh Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :

وقال الجنيد "الخشوع تذلل القلوب لعلام الغيوب".
وأجمع العارفون على أن (الخشوع) محله القلب وثمرته على الجوارح وهي تظهره و"رأى النبي صلى الله عليه وسلم رجلا يعبث بلحيته في الصلاة فقال: لو خشع قلب هذا لخشعت جوارحه"

وقال النبي صلى الله عليه وسلم "التقوى ههنا وأشار إلى صدره ثلاث مرات"

وقال بعض العارفين: حسن أدب الظاهر عنوان أدب الباطن ورأى بعضهم رجلا خاشع المنكبين والبدن فقال: يا فلان الخشوع ههنا وأشار إلى صدره لا ههنا وأشار إلى منكبيه.
وكان بعض الصحابة رضى الله عنهم وهو حذيفة يقول: "إياكم وخشوع النفاق فقيل له: وما خشوع النفاق؟ قال: أن ترى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع" ورأى عمر بن الخطاب رضي الله عنه رجلا طأطأ رقبته في الصلاة فقال: "يا صاحب الرقبة ارفع رقبتك ليس الخشوع في الرقاب إنما الخشوع في القلوب"

“Al-Junaid berkata : ‘Khusyuu’ adalah tunduk/merendahkan hati kepada Allah ta’ala. Orang-orang ahli ma’rifat bersepakat bahwasanya khusyuu’ tempatnya di dalam hati, buahnya ada di (amalan) anggota badan yang menampakkannya. Nabi shalalaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki bermain-main dengan jenggotnya ketika shalat. Lalu beliau bersabda : ‘Seandainya hati ini khusyu’, niscaya akan khusyu’ pula angota badan’.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : ‘Taqwa itu ada di sini’ – dan beliau berisyarat pada dadanya -. Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.

Sebagian ahli ma’rifat berkata : ‘Baiknya adab dari seseorang yang nampak merupakan alamat baiknya adab yang ada dalam dada (batin). Sebagian dari mereka pernah melihat seorang laki-laki yang merendahkan kedua pundak dan badannya. Maka ia berkata : ‘Wahai Fulaan, khusyuu’ itu ada di sini’ – dan ia berisyarat pada dadanya – ‘bukan di sini’ – dan ia berisyarat pada dua pundaknya.

Dulu sebagian shahabat radliyallaahu ‘anhum, di antaranya Hudzaifah, berkata : “Berhati-hatilah kalian akan khusyuu’ nifaaq”. Dikatakan kepadanya : ‘Apa itukhusyu’ nifaaq ?’. Ia menjawab : ‘Engkau melihat jasadnyakhusyu’ (tunduk), namun hatinya tidak khusyu’ (tunduk)’.

‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu pernah melihat seorang laki-laki menundukkan leher/kepalanya amat sangat ketika shalat, lalu ia berkata : ‘Wahai orang yang memiliki leher, angkatlah leher/kepalamu. Ke-khusyu’-an itu tidak terletak di leher, akan tetapi ke-khusyu’-an ada di dalam hati” [Madaarijus-Saalikiin, 1/521; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 2/1393 H].

عَن سعيد بن عبد الرحمن الجمحي أنا ابن ابن عمر: مر برجل من أهل العراق ساقطًا فقال: ما بال هذا؟ قالوا: إنه إذا قرئ عليه القرآن أو سمع ذكر الله سقط، قال ابن عمر: إنا لنخشى الله وما نسقط! وقال ابن عمر: إن الشيطان ليدخل في جوف أحدهم، ما كان هذا صنيع أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم

Dari Sa’iid bin ‘Abdirrahmaan Al-Jumahiy : Telah memberitakan kepada kami Ibnu ‘Umar, ia berjalan melewati seorang laki-laki dari kalangan penduduk ‘Iraaq yang terjatuh. Maka ia berkata : “Ada apa gerangan dengan orang ini ?”. Orang-orang menjawab : “Sesungguhnya ia apabila dibacakan kepada Al-Qur’an atau mendengar dzikrullah  terjatuh”. Ibnu ‘Umar berkata : “Sesungguhnya kami (para shahabat) sangat takut kepada Allah, namun kami tidak sampai terjatuh”. Ibnu ‘Umar melanjutkan : “Sesungguhnya setan masuk ke dalam hati salah seorang di antara kalian. Hal ini bukan termasuk yang dilakukan para shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Baghawiy dalam Tafsir-nya, 7/116].


أخبرنا أحمد بن سعيد بن بشر قال حدثنا ابن أبي دليم قال حدثنا ابن وضاح قال حدثنا أبو الفضل صالح بن عبيد قال حدثنا سعيد بن عامر الضبعي سيد أهل البصرة غير مدافع عن صالح بن رستم أبي عامر الخزاز عن أيوب السختياني قال قال لي أبو قلابة إذا أحدث الله لك علما فأحدث له عبادة ولا يكن همك أن تحدث به

Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Sa’iid bin Bisyr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dulaim, ia bekata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wadldlaah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Shaalih bin ‘Ubaid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Aamir Adl-Dlab’iy, pembesar penduduk Bashrah, dari Shaalih bin Rustum Abu ‘Aamir Al-Khazzaaz, dari Ayyuub As-Sukhtiyaaniy, ia berkata : Telah berkata kepadaku Abu Qilaabah : “Apabila Allah menciptakan ilmu untukmu, maka balaslah Ia dengan beribadah kepada-Nya, dan jangan sampai tujuanmu adalah membicarakan (Dzat)-Nya” [Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Jaami’ Bayaanil-‘Ilmi wa Fadhlih, hal. 708 no. 1279].

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم ومحمد بن عبدالله بن نمير - واللفظ لابن نمير - (قال إسحاق: أخبرنا. وقال الآخران: حدثنا) أبو معاوية عن عاصم، عن عبدالله بن الحارث؛ وعن أبي عثمان النهدي، عن زيد بن أرقم. قال:
لا أقول لكم إلا كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: كان يقول ".....اللهم! إني أعوذ بك من علم لا ينفع، ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع، ومن دعوة لا يستجاب لها".

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair – dan lafadh ini milik Ibnu Numair – (Ishaaq berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami, sedangkan yang lain berkata : Telah menceritakan kepada kami) Abu Mu’aawiyyah, dari ‘Aashim, dari ‘Abdullah bin Al-Haarits; dan dari Abu ‘Utsmaan An-Nahdiy, dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Aku tidak akan berkata kepada kalian kecuali sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : “....Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ (tunduk), dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabulkan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2722].

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar