Translate

Rabu, 08 November 2017

Karomah Kyai Haji Abbas Buntet Dalam Pertempuran 10 November

Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

KYAI ABBAS bin ABDUL JAMIL merupakan salah seorang ulama legendaris Nahdatul Ulama (NU) yang terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya dalam pertempuran 10 November 1945 yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Putra sulung Kiai Abdul Jamil, putra Kiai Mutaad yang juga menantu Mbah Muqqayim, pendiri Pondok Pesantren Buntet dan salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon ini lahir pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H (1879 M) di Pekalangan, Cirebon.

Kiai Abbas pertama mengenal dan belajar ilmu agama Islam dari ayahnya KH Abdul Jamil, lalu di Pondok Pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah asuhan Kiai Nasuha. Kemudian, dia pindah ke Pesantren Salaf di Jatisari di bawah asuhan Kiai Hasan.

Merasa belum cukup menguasai ilmu agama Islam, Kiai Abbas pergi meninggalkan Jawa Barat yang menjadi tanah kelahirannya. Dia lalu menuju sebuah pesantren di Tegal, Jawa Tengah yang diasuh oleh Kiai Ubaidah.

Setelah menyerap ilmu agama di Tegal, dia melanjutkan studinya ke Pondok Pesantren Tebuireng, di Jombang. Di sana, dia langsung mendapat pelajaran ilmu agama Islam dari KH Hasyim Asyari, tokoh kharismatik yang menjadi pendiri NU.

Di Tebuireng, Kiai Abbas mulai berkenalan dengan santri dan kiai terpandang seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU yang menerima gelar Pahlawan Nasional 2014, dan KH Abdul Manaf yang turut mendirikan Pesantren Lirboyo, Kediri.

Pada tahun 1900, ketika Kiai Abbas datang ke Jombang bersama kakak kandungnya Kiai Soleh Zamzam Benda Kerep, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar, Pesantren Tebuireng banyak diganggu para penjahat.

Dengan keahlian bela diri dan kesaktian yang dimilikinya, para penjahat yang mendapat beking Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Pabrik Gula Cukir yang berada di kawasan dekat pesantren dipukul jatuh semuanya.

Petualangan Kiai Abbas dalam menimba ilmu agama Islam di Bumi Jawa berakhir di Pesantren Tebuireng. Namun, pengembaraannya masih belum berakhir. Dari Jombang, dia berangkat ke Makkah guna mempelajari pemikiran Islam di Timur Tengah.

Di Makkah, Kiai Abbas bertemu dan belajar agama Islam dengan Muhammad Mahfudh bin Al-Allamah Haji Abdullah bin Haji Abdul Manan bin Abdullah bin Ahmad At-Turmusi, seorang ulama besar asal Desa Termas, Pacitan, Jawa Timur.

Karya Muhammad Mahfudh At-Termasi yang paling tersohor dalam adalah I anathut Thalibin syarah kitab Fathul Muin yang selesai ditulisnya bulan Syawal 1300 H. Selain itu, masih banyak lagi kitab yang telah ditulis Mahfudh At-Termasi.

Selama berada di Makkah, Kiai Abbas juga bertemu dengan KH Bakir dari Yogyakarta, KH Abdillah dari Surabaya, dan KH Wahab Chasbullah dari Jombang. Mereka lalu bersama-sama pulang ke Tanah Air. Kiai Abbas kembali ke Jombang.

Setibanya di Jombang, Kiai Abbas diminta memimpin Pondok Pesantren Buntet dan mengajar kitab kuning kepada para santri. Di bawah pimpinan Kiai Abbas, Pondok Pesantren Buntet mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Dia mulai melakukan pembaharuan dengan mengajarkan karya para ulama Mesir, seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan, dan tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis kepada para santrinya.

Selain seorang pejuang revolusi, beliau juga merupakan sosok pemimpin pesantren yang perjuangannya banyak sekali dalam mengembangkan sistem madrasah dan bandongan di Pesantren Buntet. Pengakuan historis menyebutkan bahwa pada masa kepemimpinan Kiai Abbas, Pondok Pesantren Buntet berkembang pesat dalam bidang pendidikan umum dan keagamaan. Yang dikembangkan beliau adalah sistem dan metode pengajaran serta mata pelajarannya baik dalam khazanah tradisional maupun modern.

Dengan demikian yang membedakan dengan para pendahulunya adalah bahwa beliau mengembangkan dan mempraktikkan sistem pendidikan dengan metode halaqah (seminar) dan madrasi (kelasikal), di samping mempraktikkan metode klasik, sorogan, bandongan dan ngaji pasaran.

Beliau telah berhasil dalam mengembangkan sistem pembelajaran perpaduan antara sistem pendidikan tradisional  dan sistem modern. KH Abbas adalah seseorang yang mempunyai ilmu agama yang tinggi dan pejuang yang hebat. Beliau merupakan salah satu tokoh sentral NU. Dalam memimpin Pesantren Buntet Cirebon sangat mirip dengan gaya kepemimpinan ayahnya, KH. Abdul Jamil. Pada tahun 1928 bertepatan dengan terjadinya Sumpah Pemuda, KH Abbas membuat inovasi baru di dunia pesantren, yaitu dengan mendirikan Madrasah Abnaul Wathan Ibtidaiyah yang di dalamnya mengajarkan pendidikan umum.

Yang paling menarik dalam sistem pendidikan yang beliau bangun ini adalah mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, tetapi tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab karya ulama Mesir seperti tafsir Tantowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu maka pengajaran ushul fiqh mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju.

Bukan hanya itu saja, dalam mengajarkan ilmu fiqih, beliau juga memberi pandangan yang begitu luas mengenai perbandingan madzhab yang pada masa itu yang di pesantren lain masih dianggap tabu. Bukan hanya itu saja, namun kitab-kitab umum modern juga beliau ajarkan seperti ilmu hisab (Aritmatika), al Jughrafiyah (Geografi), al Lughah al Wathaniyah (Bahasa Indonesia), Ilmu at Thabi’iyyah (Ilmu Alam), dan Tarikh al Wathan (Sejarah Kebangsan).

Salah satu pemikiran Kiai Abbas yang sangat terkenal dan dapat mengubah paradigma pengelolaan pesantren adalah bahwa beliau menggambarkan pesantren itu seperti pasar. Menurut beliau, baik pesantren maupun pasar keduanya harus melayani siapa saja yang datang tanpa memandang jenis kelamin, domisili, usia, status sosial, latar belakang, dan lain-lain. Di samping itu jenis kebutuhannya tidak sama. Orang datang ke pasar karena butuh beras, daging, terigu, sayuran, cabai, garam, dan lain-lain. Begitu pula orang datang ke pesantren butuh ilmu qira’at, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu tafsir atau belajar baca.

Oleh karena itu beliau menganjurkan kepada semua kiai dan semua ustadz yang menguasai ilmu tersebut harus mampu melayani santri yang datang. Gambaran seperti itulah yang sering disampaikan Kiai Abbas kepada keluarganya. Hal tersebut dimaksudkan untuk merangsang mereka supaya sama-sama berperan aktif dalam berkiprah di Pesantren Buntet untuk meneruskan perjuangan leluhurnya.

Dengan strategi inilah Kiai Abbas berhasil menyamakan persepsi dengan keluarganya dalam mengembangkan pesantren. Langkah Kiai Abbas berikutnya adalah memobilisasi keluarga kemudian melaksanakan pembagian tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet).

Keberhasilan Kiai Abbas dalam memimpin pondok pesantren, dan kedalaman ilmu agama Islam yang dimilikinya cepat tersebar ke seluruh Indonesia. Banyak santrinya bukan hanya berasal dari Pulau Jawa, tetapi juga dari luar Jawa.

Saat itu, usia Kiai Abbas telah menginjak 60 tahun. Tetapi tubuhnya masih terlihat gagah, hanya rambutnya yang lurus terlihat memutih. Peci putih yang dilengkapi dengan serban membuat penampilan Kiai Abbas sangat berwibawa.

Saat perjuangan kemerdekaan Indonesia tengah hebat-hebatnya yang ditandai dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Kiai Abbas yang telah menjadi sepuh meninggalkan aktivitasnya mengajar kitab kuning.

Menurutnya, pada masa bersiap itu yang lebih diutamakan adalah keahlian bela diri dan ilmu kanuragan. Dia juga mulai meninggalkan pondok pesantren dan melakukan dakwah langsung di tengah masyarakat.

Sarana dakwah itu dimanfaatkannya sambil mengajarkan berbagai ilmu kesaktian dalam bela diri sebagai bekal melawan penjajah. Aktivitas Kiai Abbas ini cepat mendapatkan respon positif dari masyarakat yang ingin berjuang.

Dengan cepat, Pondok Pesantren Buntet yang selama ini dikenal sebagai laboratorium pendidikan agama Islam, berkembang menjadi benteng perlawanan melawan penjajah. Kiai Abbas lalu mendirikan laskar Hizbullah sebagai wadah perjuangan.

Selain mendirikan Hizbullah, Kiai Abbas dan para sesepuh Pesantren Buntet juga membentuk organisasi Asybal yang anggotanya terdiri dari anak-anak usia di bawah 17 tahun. Organisasi ini bertugas untuk memata-matai pergerakan musuh.

Sebelum tercapainya perundingan Renville yang mengakibatkan Pemerintah RI dan tentaranya hijrah ke Yogyakarta, pasukan Hizbullah pimpinan Kiai Abbas bertahan di wilayah Legok, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan.

Semasa perang kemerdekaan itu, banyak santri dan ulama Pesantren Buntet yang gugur dalam pertempuran. Di antara ulama dan kiai yang tewas dalam pertempuran adalah KH Mujahid, Kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, dan Nawawi.

Puncak perlawanan laskar Hizbullah pimpinan Kiai Abbas adalah saat meletusnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Sebelum terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia itu, di Surabaya telah terjadi berbagai pertempuran bersenjata.

Dalam pertempuran itu, rakyat Surabaya berjuang melawan tentara Inggris yang bertugas sebagai polisi keamanan, dan tentara Belanda. Namun saat itu rakyat Surabaya seperti tidak memiliki kekuatan melawan penjajah hingga berhasil dipukul mundur.

Saat situasi tengah terdesak itu, KH Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad dan meminta perlawanan bersenjata baru akan dimulai nanti setelah ulama sakti dari Cirebon datang ke Surabaya. Ulama yang dimaksud adalah Kiai Abbas.

Salah seorang pengawal Kiai Abbas yang masih hidup, Abdul Wachid menceritakan pengalamannya saat mengawal Kiai Abbas ke Surabaya. Bersama Detasemen Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat, Kiai Abbas berangkat pada 6 November 1945.

Pasukan Kiai Abbas meninggalkan Markas Detasemen menuju stasiun Prujakan Cirebon naik Kereta Api Express. Turut serta bersama rombongan Kiai H Achmad Tamin dari Losari yang berperan sebagai pendamping Kiai Abbas.

Pada waktu itu, Kiai Abbas tampak mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat bersorban, dan beralas kaki trumpah atau sandal japit dari kulit. Bawaan Kiai Abbas saat itu hanya sebuah kantong plastik berisinya sandal bakyak.

Setibanya di Stasiun Rembang, Jawa Tengah, sudah banyak orang yang menunggu. Rombongan Kiai Abbas lalu diantar ke Pondok Pesantren Raudhotuttholibin, di Rembang yang dipimpin Kyai Bisri. Malam harinya, dilakukan musyawarah untuk menentukan komando/pemimpin pertempuran.

Hasil musyawarah, komando pertempuran dipercayakan kepada Kiai Abbas. Usai salat subuh, pondok Pesantren Rembang sudah ramai oleh para santri yang siap mati berjuang melawan penjajah. Rombongan lalu berangkat ke Surabaya.

Sebelum berangkat ke Surabaya, Kiai Abbas sempat memanggil Abdul Wachid dan meminta sandal bakyak yang dititipkan telah kepadanya saat di Cirebon. Kiai Abbas lalu berangkat dengan menumpang mobil sedan kuno.

dalam mobil yang ditumpangi Kiai Abbas juga terdapat Kiai Bisri yang duduk di jok belakang, dan H Achmad Tamin di depan bersama sopir. Sementara para pengawal Kiai Abbas dari Cirebon diminta tetap tinggal berjaga di Pesantren Rembang.

Setibanya di Surabaya, rombongan Kiai Abbas disambut dengan gemuruh takbir dan pekik merdeka. Para kiai lalu masuk ke masjid dan melakukan salat sunnah. Kemudian, Kiai Abbas meminta Kiai H Achmad Tamin berdoa di tepi kolam masjid.

Sedangkan kepada Kiai Bisri dari Rembang, Kiai Abbas memohon agar dia memerintahkan para laskar dan pemuda-pemuda yang akan berjuang melawan penjajah untuk mengambil air wudu dan meminum air yang telah diberi doa.

Setelah meminum air yang telah diberi doa, para pemuda yang tergabung dalam Badan Perjuangan Arek-Arek Suroboyo tanpa mengenal takut langsung menyerang tentara Belanda dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, dan parang.

Melihat keberanian pemuda Indonesia, para tentara Belanda menghamburkan pelurunya ke segala arah. Korban dari kalangan pemuda sangat banyak sekali. Namun banyak juga serdadu Belanda yang tewas di ujung bambu runcing.

Dalam pertempuran itu, Kiai Abbas dan para kiai lainnya berada di tempat yang agak tinggi, hingga bisa memantau jalannya pertempuran. Dengan menggunakan sandal bakyak, Kiai Abbas berdiri tegak di halaman masjid sambil berdoa.

Dia mengadahkan kedua tangannya ke langit, dan keajaiban terjadi. Beribu-ribu talu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu–serdadu Belanda.

Suaranya tampak bergemuruh bagaikan air bah, sehingga Belanda kewalahan dan mereka pun mundur ke kapal induk mereka. Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba meledak di udara.

Beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi dengan maksud menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya. Tetapi sekali lagi, pesawat-pesawat itu mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum beraksi.

Pertempuran hari itu berlangsung sepanjang hari dan berlanjut hingga hari esoknya. Pihak musuh kembali datang dengan menggunakan kendaraan lapis baja tank dan truk-truk langsung menyerang pertahanan para pemuda.

Serangan kedua dari pihak Belanda lebih gencar dari hari pertama. Mereka memuntahkan senjata kanon dan mortir, serta rentetan tembakan dari pesawat udara ke arah rakyat Indonesia. Serangan ini menimbulkan banyak korban jiwa.

Menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu, para pemuda sempat terdesak dan mundur ke luar Kota Surabaya. Menjelang malam hari, pertempuran baru mulai mereda. Namun beberapa tembakan kecil masih sempat terdengar di sana sini.

Pada tanggal 13 November 1945, Kiai Abbas dan sejumlah rombongan kiai lainnya tiba dengan selamat di Pondok Pesantren Rembang. Saat itu, kondisinya tampak sangat lelah. Setelah subuh, mereka kembali pulang ke Cirebon.

Di tengah gigihnya perjuangan bersenjata rakyat, misi diplomasi juga dijalankan. Perjalanan sejarah perjuangan ini sangat mendapatkan perhatian utama dari para ulama. Hingga akhirnya tercapai Perjanjian Linggarjati, pada 1946.

Hasil perjanjian yang dinilai sangat merugikan bangsa Indonesia itu membuat banyak perjuang kecewa. Saat mendengar hasil perjanjian, Kiai Abbas merasa sangat terpukul dan akhirnya jatuh sakit lalu meninggal pada waktu subuh.

Kiai Abbas meninggal pada 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, dan dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren.

1 komentar: