Translate

Kamis, 01 Desember 2016

Doa Kunuzul Khomsi

Dalam kitab Al-Jawahir Al-Khamsi dijelaskan bahwa barangsiapa yang mewiridkan doa yang disebut dengan kanzun najah atau Al-Kunuz Al-Khamsi ini maka Allah akan menganugerahi hati yang futuh terhadap berbagai hal ghaib, sebab di dalam doa ini terdapat berbagai macam rahasia baik rahasia dzahir maupun batin yang akan dapat diketahui bagi orang yang bersedia mewiridkannya dengan istiqamah. dan berikut ini doa al-Kunuz al-Khamsah.

Al-Kanzul Awwal:

اللهم مَنْ اَرَادَنَا بِسُوْءٍ فَرُدَّهُ وَمَنْ كَادَنَا بِكَيْدٍ فَكِدْهُ وَمَنْ بَغَي عَلَيْنَا بِهَلَكَةٍ فَاهْلِكْهُ رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي وَغَسِّلْ حَوْبَتِي وَاَجِبْ دَعْوَتِي يَا اَمَانَ الخَائِفِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allaahumma man araadanaa bisuuin faruddahu wa man kaadanaa bikaidin fakidhu wa man baghaa ‘alaina bihalakatin fahlikhu rabbi taqabbal taubatii wa ghassil haubatii wa ajib da’watii yaa amaanal khaaifiina birahmatika yaa arhamar raahimiin 

Al-Kanzuts Tsani:

اللهم وَاُفَوِّضُ اَمْرِي اِلَي اللهِ وَاَسْتَفْتِحُ بِا للهِ مَاشَاءَ اللهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ شَهِدَ اللهُ قَلْبِي اللهم احْرُسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ وَبِعِزِّكَ الَّتِي لَا تُرَامُ وَاحْمِنَا بِقُدْرَتِكَ عَلَيْنَا وَلَا تَهْلِكْنَا وَاَنْتَ رَجَاؤُنَا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allaahumma wa ufawwidh amrii ilallaah wa astaftihu billaahi maa syaa-allaahu wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah waman nashru illaa min ‘indilaahi syahidallaahu qalbii allaahummahrusnaa biainika allatii laa tanaamu wa bi ‘izzika allatii laa turaamu wahminaa bi qudratika ‘alainaa wa laa tahliknaa wa anta rajaaunaa yaa arhamar raahimiin

Al-Kanzuts Tsalis:

اللهم اهْدِنَا مِنْ عِنْدِكَ وَاَفِضْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِكَ وَانْشُرْ عَلَيْنَا مِنْ رَحْمَتِكَ وَاَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ مِنْ بَرَكَتِكَ وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ عَزَّ جَارُكَ وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَلَا اِلَهَ غَيْرُكَ يَا قَادِرُ يَا قَدِيْرُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allaahummahdinaa min ‘indika wa afidh ‘alainaa min fadhlika wansyur ‘alainaa min rahmatika wa anzil ‘alainaa maaidatan minas samaa-I min barakatika wa a’uudzubika minka ‘azza jaaruka wa jalla tsanaauka wa laa ilaaha ghairuka yaa qaadiru yaa qadiiru yaa arhamar raahimiin

Al-Kanzur Rabi’:

اللهم احْفَظْنَا مِنْ بَيْنِ اَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ اَيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَاجْعَلْهُمَا الوَارِثَ مِنَّا وَانْصُرْنَا رَبَّنَا عَلَي مَنْ ظَلَمَنَا وَلَا تَخْذُلْنَا وَاَنْتَ مَوْلَانَا بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allaahumahfadz min baini aidiinaa wa min khalfinaa wa ‘an aimaaninaa wa ‘an syamaailinaa wa matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa waj’alhumaa al-waaritsa minnaa wanshurnaa rabbanaa ‘alaa man dzalamanaa wa laa takhdzulnaa wa anta maulaanaa birahmatika yaa arhamar raahimiin

Al-Kanzul Khamis:

اللهم يا شَاهِدًا غَيْرَ غَائِبٍ وَيَا قَرِيْبًا غَيْرَ بَعِيْدٍ وَيَا غَالِبًا غَيْرَ مَغْلُوْبٍ وَيَا خَالِقًا غَيْرَ مَخْلُوْقٍ وَيَا رَازِقًا غَيْرَ مَرْزُوْقٍ وَمَعْبُوْدًا غَيْرَ عَابِدٍ اَسْأَلُكَ اَنْ تُصَلِّيَ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَنْ تَرْزُقَنِي يَا رَحِيْمَ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ يَا حَكِيْمُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allaahumma yaa syaahidan ghaira ghaaibin wa yaa qariiban ghaira ba’iidin wa yaa ghaaliban ghaira  maghluubin wa yaa khaaliqan ghaira makhluuqin wa yaa raaziqan ghaira marzuuqin wa ma’buudan ghaira ‘aabidin asaluka an tushalliya ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayidinaa Muhammadin wa an tarzuqanii yaa rahiimad dunyaa wal aakhirati yaa hakiimu birahmatika yaa arhamar raahimiin.‎

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Nasihat Imam Al-Habib Abdulloh Bin Alwi Al-Hadad

Seorang ulama besar dan wali agung di masanya yang bernama Maulana al-Habib Asy-Syariif Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini Radhiyallahu tabaaraka wa ta'aalaa 'anhu telah memberikan banyak pengajaran yang sangat berharga bagi kita, umat islam, dalam rangka meniti kehidupan fana ini agar senantiasa berada dalam jalan lurus yang sesuai dengan syariat islam atau sesuai dengan apa yang telah digariskan dan diajarkan oleh baginda agung Nabiyullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. 

Dari sekian banyak pengajaran dan nasihat berharga dari beliau, salah satu diantaranya yang sangat penting dan akan kami share pada kesempatan kali ini adalah perihal tips atau kiat-kiat agar kita bisa terhindar dari maksiat. Tips ini dalam rangka meningkatkan kewaspadaan diri dan kesadaran diri bahwasanya Allah senantiasa bersama kita dan Maha Mengetahui apa yang setiap detik kita lakukan, baik lahir maupun bathin. Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita untuk senantiasa menjaga diri baik dzahir maupun batin kita dari segala hal yang tidak diridhai atau bisa menjurus pada hal yang membuatNya tidak berkenan terhadap apa yang kita lakukan tersebut. Mengingat hal ini sangat penting bagi setiap muslim, maka Maulana al-Habib Asy-Syarif Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini membimbing dan memberikan petunjuk mulia dan berharga agar kita bisa terhindar dari dosa dan maksiat. Lalu bagaimanakah petunjuk beliau tentang hal ini ?

Nah, berikut ini petunjuk berharga beliau yang admin kutipkan dari salah satu kitab beliau yang sangat fenomenal dan menjadi rujukan bagi masyarakat muslim khususnya masyarakat pesanten dalam rangka meningkatkan kualitas akhlak kepada Allah dan kepada sesama makhluk. Kitab yang dimaksud adalah kitab Risalatul Mu'awanah, dan berikut nasihat selengkapnya dari kitab tersebut:

وَمَتَي رَاَيْتَ مِنْ نَفْسِكَ تَكَاسُلًا عَنْ طَاعَتِكَ اَوْ مَيْلًا اِلَي مَعْصِيَتِهِ فَذَكِّرْ َها بِأَنَّ اللهَ يَسْمَعُكَ وَيَرَاك َوَيَعْلَمُ سِرَّكَ وَنَجْوَاكَ. فَإِنْ لَمْ يُفِدْهَا هَذَا المَذْكُوْرُ لِقُصُوْرِ مَعْرِفَتِهَا بِجَلَالِ اللهِ تَعَالَي فَاذْكُرْ لَهَا مَكَانَ المَلَكَيْنِ الكَرِيْمَيْنِ الَّذيْنِ يَكْتُبَانِ الحَسَنَاتِ وَ السَّيِّئَاتِ وَاتْلُ عَلَيْهَا : اِذْ يَتَلَقَّي المُتَلَقِّيَانِ عَنِ اليَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَإِنْ لَمْ تَتَأَثَّرْ بِهَذَا التَّذْكِيْرِفَاذْكُرْلَهَا بِقُرْبِ المَوْتِ وَاِنَّهُ اَقْرَبُ غاَئِبٍ يُنْتَظَرُ وَخَوِّفْهَا بِهُجُوْمِهِ عَلَي غَيْرِكَ وَاِنَّهُ مَتَي نَزَلَ بِهَا تَنْقَلِبُ بِخُسْرَانٍ لَا اَخِرَ لَهُ فَإِنْ لَمْ يَنْفَعْهَا هَذَا التَّخْوِيْفُ فَاذْكُرْ لَهَا مَا وَعَدَ اللهُ بِهِ مَنْ اَطَاعَهُ مِنَ الثَّوَابِ وَتَوَعَّدَ بِهِ مَنْ عَصَاهُ مِنَ العَذَابِ الأَلِيْمِ وَقُلْ لَهَا يَا نَفْسُ مَا بَعْدَ المَوْتِ مِنْ مُسْتَعْتِبٍ وَمَا بَعْدَ الدُّنْيَا مِنْ دَارٍ اِلَّا الجَّنَّةُ اَوْ النَّاُر فَاخْتَارِي لِنَفْسِكَ اِنْ شِئْتَ طَاعَةً تَكُوْنُ عَاقِبَتُهَا الفَوْزَ وَ الرِّضْوَانَ وَ الخُلُوْدَ فِي فَسِيْحِ الجِنَانِ وَ النَّظْرَ اِلَي وَجْهِ الكَرِيْمِ المَنَّانِ وَ اِنْ شِئْتَ مَعْصِيَةََ يَكُوْنُ اَخِرُهَا الخِزْيَ وَ الهَوَانَ وَ السُّخْطَ وَ الحِرْمَانَ وَ الحُبْسَ بَيْنَ طَبَقَاتِ النِّيْرَانِ

Artinya: 

"Apabila engkau merasa malas untuk berbuat ketaatan kepada Allah dan merasa ingin melakukan kemaksiatan, maka ingatkanlah dirimu sendiri bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui Apa yang menjadi rahasia dan bisikan batinmu. Apabila cara ini tidak berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan dua malaikat yang amat mulia, yang senantiasa diperintah oleh Allah untuk mencatat amal kebaikan dan keburukan. Selanjutnya katakanlah kepada nafsumu, "Idz yatalaqal mutalaqiyaani 'anil yamiini wa 'anisy syimaali qa'iidun maa yalfadzu min qaulin illaa ladaihi raqiibun 'atiid ((yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir)". Apabila cara ini tidak juga berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan dekatnya maut. Sesungguhnya maut adalah sedekat-dekatnya perkara gaib yang setiap orang pasti menunggu datangnya waktu kematian. Apabila ia datang sedangkan engkau sedang melakukan perkara yang tidak diridhai oleh Allah, maka engkau akan mendapatkan kerugian yang tidak akan pernah putus. Apabila cara ini tidak juga berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan janji Allah bahwa Ia akan memberikan pahala kepada siapapun yang taat kepadaNya, dan memberikan ancaman berupa adzab yang sangat pedih bagi orang yang berbuat kemaksiatan dan dosa kepadaNya. Setelah itu, katakanlah kepada nafsumu, "Hai nafsu, tiadalah kesempatan untuk bertaubat setelah datangnya kematian, dan tiadalah tempat kembali setelah dunia kecuali kampung surga dan neraka. Maka pilihlah untuk dirimu. Jika engkau taat kepada Allah maka engkau akan mendapatkan keberuntungan, ridha Allah, kekal di dalam surga, dan dapat memandang wajahNya yang Maha Mulia. Sebaliknya, apabila engkau menginginkan maksiat, maka engkau akan mendapatkan kesedihan, kehinaan, kemarahan Allah, terhalang dari rahmat Allah, dan engkau akan terpenjara dalam derita di neraka."

Penjelasan:

Kalam berharga dari Maulana al-Habib Asy-Syarif Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini di atas merupakan sebuah peringatan bagi kita bahwa menaklukkan hawa nafsu bukanlah perkara yang mudah semudah membalikkan telapak tangan. Menaklukkan hawa nafsu ibarat menaklukkan musuh yang amat tangguh dan karenanya merupakan salah satu jihad akbar atau jihat yang paling besar dan pahala serta kemuliaan bagi yang mampu mengalahkan nafsunya juga amat besar di sisi Allah ta'ala. Karena itulah kita sebagai seorang muslim harus memiliki agenda yang nyata dalam kaitannya memerangi hawa nafsu ini.

Di antara sekian banyak hawa nafsu yang seringkali menyerang kita adalah rasa malas dan kecenderungan untuk melakukan kemaksiatan. Apabila hal ini menyerang diri kita, maka menurut wejangan dari Maulana Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad di atas harus dilawan dengan beberapa jurus. Yaitu:
Mengingatkan kepada nafsu kita bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui apa yang kita lakukan dan apa yang terbersit dalam relung hati terdalam sekalipun.
Mengingatkan kepada hawa nafsu kita bahwasanya kita senantiasa diawasi oleh dua hamba Allah yang mulia, yaitu malaikat Raqib dan Atit, yaitu dua malaikat yang memiliki tugas mencatat amal manusia, baik itu amal baik ataupun amal jelek. 
Mengingatkan nafsu kita untuk mengingat mati, sebab mati itu merupakan perkara gaib yang paling dekat dengan kehidupan kita dan setiap orang pasti akan merasakannya. Karena itu dibutuhkan persiapan matang dan bekal yang cukup agar kita tidak rugi di alam kehidupan setelah kematian.‎
Mengingatkan nafsu kita tentang pahala yang akan diterima oleh hamba yang bersedia taat kepada Allah dan tentang adzab pedih bagi yang melakukan kemaksiatan dan dosa kepadaNya.
Memerintahkan kepada nafsu kita untuk memilih antara melakukan ketaatan atau kemaksiatan. Apabila memilih untuk melakukan ketaatan maka kabarkanlah kepada nafsu kita akan janji Allah berupa keberuntungan, ridha, dan keabadian hidup di surga kelak. Selain itu kabarkanlah kepadanya akan nikmat terbesar yaitu dapat memandang wajah Allah yang Maha Mulia. Sebaliknya apabila nafsu kita cenderung memilih kemaksiatan, maka kabarkanlah bahwa ia akan mendapatkan kerugian, kesedihan, kehinaan, dan kehidupan yang amat menyesakkan di neraka kelak.

Demikianlah kalam nasihat Maulana al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad al-Husaini dalam kitab beliau yang berjudul Risalatul Mu'awanah. Semoga apa yang kami sajikan pada kesempatan malam ini dapat bermanfaat dan mendapatkan ridha dari Allah ta'ala. aamiin

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Sholawat Mukhotob Yang Masyhur

Shalawat Mukhatab merupakan salah satu shalawat yang sangat mujarab untuk mengurai kesusahan dengan cara bertawasul kepada Sayyiduna Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. 
Shalawat Mukhatab bukan berarti hanya meminta bantuan kepada Rasulullah dan melupakan Allah. Bukan. Sebaliknya, shalawat ini merupakan cara untuk menjadikan Rasulullah sebagai perantara kita mendapatkan rahmat serta karunia agung dari Allah. Dengan menggunkan Rasulullah sebagai perantara, maka berarti kita mengakui kebesaran Allah dan Kemahakuasaan Allah yang telah menjadikan perantara tersebut sebagai jembatan agung dalam menggapai karunia serta rahmatnya. Apabila kita meninggalkan Rasulullah sebagai wasilah, maka sama saja kita meninggalkan serta tidak mengakui adanya perantara itu. Dan bisa jadi kita menjadi hamba yang kufur nikmat. Dengan demikian, sudah dapat terjelaskan bahwasanya Shalawat Mukhatab ini merupakan shalawat yang agung, karena di dalamnya terdapat rangkaian doa yang menjadikan Rasulullah sebagai wasilah untuk memohon kepada Allah, dan karenanya bagi orang yang sedang dilanda kesusahan hidup agar memperbanyak diri membaca shalawat agung ini. 

Berikut ini teks selengkapnya dari Shalawat Khitob:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيلَتِي أَدْرِكْنِي يَا رَسُولَ الله

Allahumma Shalli wa Sallim 'Alaa Sayyidina Muhammad Qad Dhaaqat Hiilatii Adriknii Yaa Rasuulallah
 
Artinya:

"Ya Allah, bershalawatlah untuk junjungan kami Sayyiduna Muhammad, sungguh terasa sempit usahaku, maka rangkullah aku wahai Rasulullah."

Penjelasan 
Disebutkan dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Sadat karya Sayyidi Asy-Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani sebagai berikut:

نقل ابن عابدين في ثبته عن شيخه السيد محمد شاكر العقاد عن العبد الصالح الشيخ أحمد الحلبي القاطن في دمشق وكان رجلاً عليه سيما الصلاح عن مفتي دمشق العلامة حامد أفندي العمادي أنه مرة أراد بعض وزراء دمشق أن يبطش به فبات تلك الليلة مكروباً أشد الكرب فرأى سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في منامه فأمنه منه وعلمه صيغة صلاة وأنه إذا قرأها يفرج الله تعالى كربه فاستيقظ وقرأها ففرج الله تعالى كربه ببركته صلى الله تعالى عليه وسلم وهي هذه اللهم صل وسلم على سيدنا محمد إلى آخر الصلاة السابقة 

Artinya:

"Ibnu Abidin dalam catatannya menukil perkataan dari gurunya As-Sayyid Muhammad Syaakir Al-'Aqqad dari hamba yang shalih  sayyidi Asy-Syaikh Ahmad Al-Halabi yang bertempat tinggal di Damaskus, dan adalah ia merupakan seorang lelaki yang mendapat label sebagai seorang shalih dari mufti Damaskus Al-Allamah Hamid Afandi Al-'Imadi, bahwasanya pada suatu waktu sebagian pejabat Damaskus berniat untuk menyiksanya, maka tak ayal lagi bermimpi melihat sayyidina Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam tidurnya maka beliau menenangkannya dan mengajarinya sighat shalawat yang apabila diamalkannya maka Allah akan mengurai kesedihan dan kesulitannya. Ia kemudian terbangun dan segera mengamalkannya, maka Allah menghilangkan kesedihannya berkat Sayyidina Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Adapun shalawat yang dimaksud adalah shalawat berikut ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيلَتِي أَدْرِكْنِي يَا رَسُولَ الله


Allahumma shalli wa sallim 'alaa sayyidinaa Muhammad qad dhaaqat khiilatii adriknii yaa Rasuulallaah.
 
Artinya:

"Ya Allah, bershalawat dan bersalamlah kepada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam; sungguh terasa sempit usahaku, maka rangkullah aku, wahai Rasulullah."

قال وأخبرني سيدي يعني شيخه المذكور أنه حصل له كرب فكررها وهو يمشي فما مشى نحواً من مائة خطوة إلا فرج عنه وكذلك قرأها مرة ثانية في حادثة فما استمر قليلاً إلا فرج عنه
 
Artinya:

"Ibnu Abidin berkata, "Telah mengabarkan kepadaku Sayyidi yakni guru beliau yang telah disebutkan bahwasanya suatu kali ia mendapatkan kesusahan, maka ia mengamalkan shalawat di atas secara berulang-ulang sambil melangkahkan kakinya. Maka tidak lebih dari 100 langkah kesusahannya telah lengyap begitu saja. Demikian pula pada kesempatan yang lain beliau mendapatkan kesulitan, maka beliau membacanya dan tidak berama lama kemudian telah terbebas dari kesulitannya."

قال ابن عابدين قلت وقد قرأتها أنا أيضاً في فتنة عظيمة وقعت في دمشق فما كررتها نحواً من مائتي مرة إلا وجاءني رجل وأخبرني أن الفتنة انقضت والله على ما أقول شهيد

Artinya:

"Ibnu Abidin berkata, "Sungguh, aku telah mengamalkannya juga tatkala aku tertimpa fitnah yang besar di Damaskus. Maka belum selesai aku mengulanginya sebanyak 200 kali kecuali datang kepadaku seorang laki-laki memberi tahu bahwa kekacauan besar tersebut telah berakhir. Demi Allah, Dia Maha Mengetahui apa yang aku katakan ini."

ووجدت هذه الصلاة في ثبت الشيخ عبد الكريم ابن الشيخ أحمد الشراباتي الحلبي لكنها مقيدة بعدد مخصوص وفيها نوع تغيير قال في ثبته عند ذكر شيخه العارف الشيخ عبد القادر البغدادي الصديقي ومن جملة ما شرفني به الإجازة في صلوات شريفة يصلي بها على النبي صلى الله تعالى عليه وسلم في اليوم والليلة ثلاثمائة مرة وفي وقت الشدائد ألف مرة فإنها الترياق المجرب وهي الصلاة والسلام عليك يا سيدي يا رسول الله قلت حيلتي أدركني

Artinya:

"Aku mendapatkan shalawat ini dalam catatan Asy-Syaikh Abdul Karim bin Asy-Syaikh Ahmad Asy-Syarabati Al-Halabi, akan tetapi ia dibatasi dalam bilangan tertentu dan disitu ada sedikit perubahan lafaldz. Beliau berkata dalam catatannya ketika menyebutkan gurunya Al-Arif Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-baghdadi Ash-Shiddiqi sebagai berikut, "Di antara sejumlah ijazah yang penting dalam shalawat yang agung untuk kanjeng Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang dibaca 300 x dalam sehari semalam, dan pada saat-saat genting sebanyak 1000 x, maka sesungguhnya ia merupakan shalawat pembebas yang mujarab. Shalawat yang dimaksud adalah sebagai berikut ini:

الصلاة والسلام عليك يا سيدي يا رسول الله قلت حيلتي أدركني

Ash-Shalaatu was Salaamu 'Alaika Yaa Sayyidii Ya Rasuulallaah Qallat Khiilatii Adriknii
 
Artinya:

"Shalawat dan Salam untukmu ya Sayyidi Ya Rasulallah, sungguh usahaku tinggal sedikit, maka rangkullah aku."
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Sholawat Nurul Qiyamah Dan Selainnya

Dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat dijelaskan, bahwa salah satu sighat shalawat nabi yang paling komprehensif adalah sighat shalawat berikut ini:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عِبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ وَذُرِّيَّتِهِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ كَمَا يَلِيقُ بِعَظِيمِ شَرَفِهِ وَكَمَالِهِ وَرِضَاكَ عَنْهُ وَمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى لَهُ دَائِماً أَبَداً بِعَدَدِ مَعْلُومَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ وَرِضَا نَفْسِكَ وَزِنَةَ عَرْشِكَ أَفْضَلَ صَلاَةٍ وَأَكْمَلَهَا وَأَتَمَّهَا كُلَّمَا ذَكَرَكَ وَذَكَرَهُ الْذَّاكِرُونَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرَكَ وَذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ وَسَلِّمْ تَسْلَيماً كَذَلِكَ وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ

Artinya: "Ya Allah, bershalawatlah kepada kanjeng nabi Muhammad, hamba dan utusanMu, seorang nabi yang ummi, dan kepada keluarga kanjeng nabi Muhammad, istri-istrinya yang merupakan ummahatil mu'minin, dzuriyah beliau, dan juga ahli bait beliau. Sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada nabiyullah Ibrahim dan kepada keluarga nabiyullah Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Pemurah bagi seluruh Alam. Dan berkatilah kanjeng nabi Muhammad, hamba dan utusanMu, sang pembawa berita yang ummi, beserta keluarga Muhammad, istri-istrinya, yang merupakan ummahatil mu'minin, keturunannya, dan ahli bait nya, sebagaimana engkau memberkati nabiyullah Ibrahim beserta keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Pemurah bagi seluruh alam; sesuai dengan keagungan, kesempurnaan, kerelaan, kasih sayang dan kesenanganMu paanya untuk selama-lamanya sebanyak hitungan yang ada dalam pengetahuanMu, seluas firmanMu, sekehendak keagunganMu, dan seberat arsy Mu, dengan shalawat yang paling utama, paling holistik dan paling menyeluruh, setiap kali ada orang-orang yang mengingatMu dan melupakannya. Dan percikkanlah kedamaian yang sempurna untuk mereka semua sebagaimana kami juga mengharapkannya."

Penjelasan:

Dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat karya Sayyidi Asy-Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dijelaskan smengenai keutamaan shalawat di atas sebagai berikut:

 ذكر هذه الصلاة العلامة ابن حجر الهيثمي في كتابه الجوهر المنظم ثم قال جمعت فيها بين الكيفيات الواردة جميعها بل وبين كيفيات أخر استنبطها جماعة وزعم كل منهم أن كيفيته أفضل الكيفيات لجمعها الوارد وقد بينت في الدر المنضود أن تلك الكيفية جمعت ذلك كله وزادت عليه بزيادات كثيرة بليغة فعليك بالإكثار منها أمام الوجه الشريف بل ومطلقاً لأنك حينئذٍ تكون آتياً بجميع الكيفيات الواردة في صلاة التشهد وزيادات ا.ه

Artinya: "Al-'Allamah Ibnu Hajar al-Haitsami telah menjelaskan shalawat ini dalam kitab beliau berjudul al-Jauhar al-Munadzam, beliau berkata, "Dalam shalawat ini saya menyatukan keseluruhan bentuk shalawat yang datang dari kanjeng nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, bahkan di antara bentuk-bentuk shalawat yang digubah oleh para ulama. Masing-masing mereka mengakui bahwa cara atau bentuk shalawat ini adalah bentuk shalawat yang paling utama karena merangkum seluruhan riwayat yang ada. Dan saya telah menjelaskan daam kitab ad-Durr al-Mandhud bahwasanya shalawat ini adalah shalawat yang paling komprehensif karena mencakup keseluruhan bentuk shalawat yang ma'tsur dengan ditambah beberapa yang mendalam. Oleh karena itu seyogyanya anda memperbanyak diri mengamalkan shalawat untuk nabi Muhammad yang mulia, bahkan juga untuk segala tujuan, karena dengan membacanya berarti anda telah mengamalkan keseluruhan bentuk shalawat yang ma'tsur di dalam shalat, dengan ditambah beberapa point penting."

Sholawat Istiqomah

Berikut ini teks dari shalawat Istiqamah yang dimaksud yang tercantum dalam kitab Sullamul Futuhaat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَجْعَلُنَا بِهَا الإِسْتِقَامَةَ تَتْبَعُهَا الكَرَامَةُ وَ تَحْشُرُنَا بِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ بِالسَّعَادَةِ وَ الكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ وَ عَلَي اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ

Allaahuma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatan taj'alunaa bihal istiqaamata tatba'uhal karaamata wa tahsyurunaa bi'ibaadikash shaalihiina bis sa'aadati wal karaamati fiddunya wal aakhirati wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa baarik wa sallim.

Khasiat dan Cara Pengamalan:

Shalawat di atas dinamakan sebagai shalawat Istiqamah. Sesuai dengan namanya, shalawat ini memiliki fungsi sebagai doa permohonan kepada Allah agar mendapatkan istiqamah dan karamah. Selain itu, apabila diamalkan shalawat ini juga berkhasiat sebagai doa permohonan agar kita dapat dikumpulkan bersama orang-orang shalih di dunia dan di akhirat. Adapun cara pengamalan shalawat di atas adalah sebagai berikut:

Hadiah al-Fatihah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka semua sampai hari kiamat.
Hadiah al-Fatihah kepada para syaikh dan para ulama al-amilin, para wali, dan para guru kita semuanya.
Hadiah al-Fatihah ditujukan khusus kepada yang memberikan ijazah shalawat istiqamah di atas.
Hadiah al-fatihah khusus kepada kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal
Al-Fatihah khusus untuk hajat kita (disebutkan hajatnya).
Baca Shalawat Istiqamah di atas sebanyak 3x atau sesuai dengan petunjuk guru yang memberikan ijazah. 
Silakan diamalkan secara istiqamah dan rasakan khasiatnya atas izin Allah
Demikianlah sedikit ulasan mengenai shalawat istiqamah yang kami ulas pada kesempatan sore hari ini. Semoga bermanfaat bagi para sahabat dan khususnya kepada para pengamal. Segala amalan akan terasa khasiatnya apabila bisa diamalkan secara istiqamah dan niat ikhlas lillahi ta'ala. 

Sholawat Nurul Qiyamah

Bayak para ulama’ yang menjadikan sholawat sebagai senjata pamungkas dan tameng bagi mereka, salah satunya adalah sholawat nur qiyamah. Sholawat Nuril Qiyamah ini di karang oleh Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani RA. Menurut Sayyid Syaikh As-Showi menerangkan bahwa Sholawat ini diberi nama Nur Qiyamah karena si pembaca akan mendapatkan banyak nur (cahaya)  pada hari kiamat kelak. Menurut kebanyakan para Ulama’ dan para Auliya’, derajat Sholawat Nur Qiyamah ini menandingi 14.000 (empat belas ribu) jenis sholawat.
Berikut ini merupakan shalawat nurul qiyamah yang sangat agung fadhilah dan pahalanya
SHALAWAT NURUL QIYAMAH

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بَحْرِ أَنْوَارِكَ وَمَعْدِنِ أَسْرَارِكَ وَلِسَانِ حُجَّتِكَ وَعَرُوسِ مَمْلَكَتِكَ وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ وَطِرَازِ مُلْكِكَ وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ وَطَرِيقِ شَرِيعَتِكَ الْمُتَلَذِّذِ بِتَوْحِيدِكَ إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُودِ وَالسَّبَبِ فِي كُلِّ مَوْجُودٍ عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُورِ ضِيَائِكَ صَلاَةً تَدُومُ بِدَوَامِكَ وَتَبْقَى بِبَقَائِكَ لاَ مُنْتَهَى لَهَا دُونَ عِلْمِكَ صَلاَةً تُرِضِيكَ وَتُرْضِيهِ وَتَرْضَى بِهَا عَنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Artinya:
“Ya Allah, bershalawatlah atas junjungan kami Muhammad, lautan cahaya-Mu, tempat menambang rahasia-rahasia-Mu, lidah hujjah-Mu, pengantin kerajaan-Mu, imam manusia untuk menghadap-Mu, keelokan singgasana-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, jalan syariat-Mu, yang menikmati ketauhidan-Mu, manusia inti wujud, penyebab dari segala yang maujud, inti dari segala inti ciptaan-Mu, yang terdahulu dari cahaya sinar-Mu, dengan shalawat yang abadi bersama keabadian-Mu dan kekal bersama kekekalan-Mu, yang tiada akhir di luar pengetahuan-Mu, dengan shalawat yang Engkau ridhai dan membuatnya ridha serta membuat-Mu meridhai kami, wahai Tuhan semesta alam.”

Fadhilah:

Dalam Afdhal al-Shalawat ‘alaa Sayyid al-Sadat diterangkan, Sayyid Ahmad al-Shawi dan para ulama lainnya berkata, “Shalawat ini saya temukan dalam keadaan tertulis di atas sebongkah batu dengan tulisan qudrah (pena takdir). Shalawat ini adalah shalawat cahaya kiamat. Dinamai demikian karena banyaknya cahaya atau pelita yang diperoleh ketika menceritakan hari kiamat tersebut.
Cara pengamalan:
Dibaca 1 x setiap hari secara istiqamah, insa Allah akan mendapatkan pahala sebanding dengan 10.000 x shalawat. Demikian dijelaskan dalam Afdhal al-Shalawat ‘alaa Sayyid al-Sadat 
 Dibaca sebanyak 3 x, insa Allah akan mendapatkan pahala yang Allah sendiri yang mengetahuinya.

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Sholawat Agung Sayyid Achmad Bin Idris Alhasany

Setiap muslim bahkan berlomba-lomba memberikan shalawat yang terbaik dan memperbanyak bacaan shalawat. Majelis-majelis shalawat pun dibentuk di adakan secara rutin di mana-mana. Sayangnya, ada saja sekelompok kecil yang sangat sedikit jumlahnya terkesan menghalangi dan tidak menyukai shalawat. Bahkan tidak jarang dikatakan orang bershalawat dianggap bid’ah, sesat, syirik, dan sebagainya dan pelakunya divonis masuk neraka.

Dengan dalih Qur’an dan Sunnah ala pemikiran “kelompok kecil” tersebut, shalawat-shalawat yang hebat dan penuh manfaat dari para ulama, waliyullah dan orang-orang shalih dikatakan bid’ah dan sesat. Na’udzubillah. Untuk itulah, kita harus kembali kepada ulama ahlussunnah wal jamaah karena dengan kembali kepada ulama ahlussunnah berarti kembali kepada Qur’an dan Sunnah yang sebenarnya.

Tidak perlu mengikuti pemahaman sekte-sekte baru yang bermunculan yang menganggap bid’ah shalawat dan sesat shalawat. Ibarat pepatah, anjing menggonggong, ahlussunnah tetap berlalu. Apapun yang dikatakan tidak perlu dipikirkan, shalawatan akan terus berjalan dengan dibuktikan semakin berkembangnya majelis-majelis shalawat karena shalawat adalah jalan selamat. Jangan sampai mengikuti sekte-sekte baru yang suka menuduh sesat, syirik, dan kafir kepada sesama umat Islam.

Berikut kami sajikan beberapa shalawat hebat lissayid Achmad Bin Idris Alhasany yang dianggap bid’ah dan sesat oleh sekelompok kecil yang sedikit sekali jumlahnya. Menurut data lembaga penelitian dunia Pew Research Center, kelompok kecil itu yang suka menuduh sesat, bid’ah bershalawat hanya berjumlah kurang dari 1% dari total jumlah umat Islam seluruh dunia. Artinya hanya sedikit sekali bahkan boleh dianggap tidak ada. Silahkan amalkan shalawat dan teruslah diamalkan secara rutin baik sendiri maupun berjama’ah. Dirikan berbagai majelis shalawat di manapun berada, tak perlu dihiraukan kelompok kecil tersebut. Tunjukan bahwa anda pecinta shalawat sejati. Kalau ada yang bilang itu shalawat bid’ah dan sesat, cukup jawab “YO BEN”. Kalau ada yang bilang redaksi shalawat itu syirik, tidak diajarkan nabi. Cukup jawab “YO BEN”.

Enam kumpulan shalawat yang akan saya bagikan ini merupakan kumpulan shalawat milik Sayyidis Syaikh Al-Arif billah, wali yang terkenal, samudera syariat, thariqah dan hakikat, al-Imam Ahmad bin Idris Alhasany, pendiri thariqah Al-Idrisiyah yang merupakan cabang dari thariqah as-Syadziliyah. Beliau merupakan mursyid yang sempurna dan guru dari seorang guru yang sempurna pula, Syaikh Ibrahim ar-Rasyid, khalifah dan orang yang paling berjasa dalam menyebarkan thariqah Syaikh Ahmad bin Idris. 

Berikut ini kumpulan shalawat milik Sayyidis Syaikh Ahmad bin Idris yang akan saya bagikan pada kesempatan Ini kamis sore tanggal 1 robi'ul awal 1438H di kompleks Makam Hadzrotu-As-Syaikh Achmad Masruri Ridho Kebumen Purwokerto:‎

Shalawat Pertama

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِنُورِ وَجْهِ الله الْعَظِيمِ الَّذِي مَلأَ أَرْكَانَ عَرْشِ الله الْعَظِيمِ وَقَامَتْ بِهِ عَوَالِمُ الله الْعَظِيمِ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَدْرِ الْعَظِيمِ وَعَلَى آلِ نَبِيِّ الله الْعَظِيمِ بِقَدْرِ ذَاتِ الله الْعَظِيمِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَد مَا فِي عِلْمِ الله الْعَظِيمِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ الله الْعَظِيمِ تَعْظِيماً لِحَقِّكَ يَا مَوْلاَنَا يَا مُحَمَّدُ يَا ذَا الْخُلُقِ الْعَظِيمِ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَاجْمَعْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ كَمَا جَمَعْتَ بَيْنَ الرُّوحِ وَالنَّفْسِ ظَاهِراً وَبَاطِناً يَقَظَةً وَمَنَاماً وَاجْعَلْهُ يَا رَبِّ رُوحاً لِذَاتِي مِنْ جَمِيعِ الْوُجُوهِ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الآخِرَةِ يَا عَظِيمُ

Shalawat Kedua

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى طَامَّةِ الْحَقَائِقِ الْكُبْرَى. سِرِّ الْخَلْوَةِ الإِلَهِيَّةِ لَيْلَةَ الإِسْرَاء. تَاجِ الْمَمْلَكَةِ الإِلَهِيَّةِ. يَنْبُوعِ الْحَقَائقِ الْوُجُودِيَّةِ. بَصَرِ الْوُجُودِ. وَسِرِّ بَصِيرَةِ الشُّهُودِ. حَقِّ الْحَقِيقَةِ الْعَيْنِيَّةِ. وَهُوِيَّةِ الْمَشَاهِدِ الْغَيْبِيَّةِ. تَفْصِيلِ الإِجْمَالِ الْكُلِّيِّ. الآيَةِ الْكُبْرَى فِي التَّجَلِّي وَالتَّدَلِّي. نَفَسِ الأَنْفَاسِ الرُّوحِيَّةِ. كُلِّيَّةِ الأَجْسَامِ الصُّورِيَّةِ. عَرْشِ الْعُرُوشِ الذَّاتِيَّةِ. صُورَةِ الْكَمَالاَتِ الرَّحْمَانِيَّةِ. لَوْحِ مَحْفُوظِ عِلْمِكَ الْمَخْزُونِ. وَسِرِّ كِتَابِكَ الْمَكْنُونِ. الَّذِي لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ. يَا فَاتِحَةَ الْمَوْجُودَاتِ. يَا جَامِعَ بَحْرَيِ الْحَقَائِقِ الأَزَلِيَّاتِ وَالأَبَدِيَّاتِ. يَا عَيْنَ جَمَالِ الاِخْتِرَاعَاتِ وَالاِنْفِعَالاَتِ. يَا نُقْطَةَ مَرْكَزِ جَمِيعِ التَّجَلِّيَاتِ. يَا عَيْنَ حَيَاةِ الْحُسْنِ الَّذِي طَارَتْ مِنْهُ رَشَاشَاتٌ. فَاقْتَسَمَتْهَا بِحُكْمِ الْمَشِيئَةِ الإِلَهِيَّةِ جَمِيعُ الْمُبْدِعَاتِ. يَا مَعْنَى كِتَابِ الْحُسْنِ الْمُطْلَقِ الَّذِي اعْتَكَفَتْ فِي حَضْرَتِهِ جَمِيعُ الْمَحَاسِنِ لِتَقْرَأَ حُرُوفَ حُسْنِهِ الْمُقَيَّدَاتِ. يَا مَنْ أَرْخَتْ حَقَائِقُ الْكَمَالِ كُلُّهَا بُرْقُعَ الْحِجَابِ دُونَ الْخَلْقِ وَأَجْمَعَتْ أَنْ لاَ تَنْظُرَ لِغَيْرِهِ إِلاَّ بِهِ مِنْ جَمِيعِ الْمُكَوَّنَاتِ. يَا مَصَبَّ يَنَابِيعِ ثَجَّاجِ الأَنْوَارِ السُّبْحَانِيَّاتِ الشَّعْشَعَانِيَّاتِ. يَا مَنْ تَعَشَّقَتْ بِكَمَالِهِ جَمِيعُ الْمَحَاسِنِ الإِلَهِيَّاتِ. يَا يَاقُوتَةَ الأَزَلِ يَا مَغْنَاطِيسَ الْكَمَالاَتِ. قَدْ أَيِسَتِ الْعُقُولُ وَالْفُهُومُ وَالأَلْسُنُ وَجَمِيعُ الإِدْرَاكَاتِ. أَنْ تَقْرَأَ رُقُومَ مَسْطُورِ كُنْهِيَّاتِكَ الْمُحَمَّدِيَّةِ أَوْ تَصِلَ إِلَى حَقِيقَةِ مَكْنُونَاتِ عُلُومِكَ اللَّدُنِّيَّاتِ. وَكَيْفَ لاَ يَا رَسُولَ الله وَمِنَ لَوْحِ مَحْفُوظِ كُنْهِكَ قَرَأَ الْمُقَرَّبُونَ كُلُّهُمْ حَقِيقَةَ التَّجَلِّيَاتِ. صَلَّى الله وَسَلَّمَ عَلَيْكَ يَا زَيْنَ الْبَرَايَا يَا مَنْ لَوْلاَ هُوَ لَمْ تَظْهَرْ لِلْعَالَمِ عَيْنٌ مِنَ الْخَفِيَّاتِ

Shalawat Ketiga

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ نُورِكَ اللاَّمِعِ. وَمَظْهَرِ سِرِّكَ الْهَامِعِ. الَّذِي طَرَّزْتَ بِجَمَالِهِ الأَكْوَانَ. وَزَيَّنْتَ بِبَهْجَةِ جَلاَلِهِ الأَوَانَ. الَّذِي فَتَحْتَ ظُهُورَ عَالَمِ مِنْ نُورِ حَقِيقَتِهِ. وَخَتَمْتَ كَمَالَهُ بِأَسْرَارِ نُبُوَّتِهِ. فَظَهَرَتْ صُوَرُ الْحُسْنِِ مِنْ فَيْضِهِ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ. وَلَوْلاَ هُوَ مَا ظَهَرَتْ لِصُورَةٍ عَيْنٌ مِنَ الْعَدَمِ الرَّمِيمِ. الَّذِي مَا اسْتَغَاثَكَ بِهِ جَائِعٌ إِلاَّ شَبِعَ وَلاَ ظَمْآنٌ إِلاَّ رَوِيَ وَلاَ خَائِفٌ إِلاَّ أَمِنَ وَلاَ لَهْفَانٌ إِلاَّ أُغِيثَ وَإِنِّي لَهْفَانٌ مُسْتَغِيثُكَ أَسْتَمْطِرُ رَحْمَتَكَ الْوَاسِعَةَ مِنْ خَزَائِنِ جُودِكَ فَأَغِثْنِي يَا رَحْمَنُ يَا مَنْ إِذَا نَظَرَ بِعَيْنِ حِلْمِهِ وَعَفْوِهِ لَمْ يَظْهَرْ فِي جَنْبِ كِبْرِيَاءِ حِلْمِهِ وَعَظَمَةِ عَفْوِهِ ذَنْبٌ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ وَتَجَاوَزْ عَنِّي يَا كَرِيمُ

Shalawat Keempat 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَيْنِ بَحْرِ الْحَقَائِقِ الْوُجُودِيَّةِ الْمُطْلَقَةِ اللاَّهُوتِيَّةِ. وَمَنْبَعِ الرَّقَائِقِ اللَّطِيفَةِ الْمُقَيَّدَةِ النَّاسُوتِيَّةِ. صُورَةِ الْجَمَالِ. وَمَطْلَعِ الْجَلاَلِ. مَجْلَى الأُلُوهِيَّةِ. وَسِرِّ إِطْلاَقِ الأَحَدِيَّةِ. عَرْشِ اسْتِوَاءِ الذَّاتِ. وَجْهِ مَحَاسِنِ الصِّفَاتِ. مُزِيلِ بُرْقُعِ حِجَابِ ظُلُمَاتِ اللَّبْسِ بِطَلْعَةِ شَمْسِ حَقَائِقِ كُنْهِ ذَاتِهِ الأَنْفَسِ. عَنْ وَجْهِ تَجَلِّيَاتِ الْكَمَالِ الإِلَهِيِّ الأَقْدَسِ. كِتَابِ مَسطُورِ جَمْعِ أَحَدِيَّةِ الذَّاتِ الْحَقّ. فِي رَقِّ مَنْشُورِ تَجَلِّيَاتِ الشُّؤُونِ الإِلَهِيَّةِ الْمُسَمَّى كَثْرَةُ صُوَرِهَا بِالْخَلْقِ. جَانِبِ طُورِ الْحَقَائِقِ الرُّوحِيَّةِ الأَيْمَنِ الْمُكَلَّمِ مِنْهُ مُوسَى النَّفْسِ. بِأَنَا الله لاَ إِلَهِ إِلاَّ أَنَا فِي حَضْرَةِ الْقُدْس. يَا كَامِلَ الذَّاتِ يَا جَمِيلَ الصِّفَاتِ يَا مُنْتَهَى الْغَايَاتِ يَا نُورَ الْحَقِّ يَا سِرَاجَ الْعَوَالِمِ يَا مُحَمَّدُ يَا أَحْمَدُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ جَلَّ كَمَالُكَ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْهُ لِسَانٌ وَعَزَّ جَمَالُكَ أَنْ يَكُونَ مُدْرَكاً لإِنْسَانٍ. وَتَعَاظَمَ جَلاَلُكَ أَنْ يَخْطُرَ فِي جَنَانٍ. صَلَّى الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْكَ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ الله يَا مَجْلَى الْكَمَالاَتِ الإِلَهِيَّةِ الأَعْظَمِ

Shalawat Kelima

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سُلْطَانِ حَضَرَاتِ الذَّاتِ. مَالِكِ أَزِمَّةِ تَجَلِّيَاتِ الصِّفَاتِ. قُطْبِ رَحَى عَوَالِمِ الأُلُوِهِيَّةِ. كَثِيبِ الرُّؤْيَةِ يَوْمَ الزَّوْرِ الأَعْظَمِ فِي مَشَاهِدِكَ الْجِنَانِيَّةِ. جِبَالِ مَوْجِ بِحَارِ أَحَدِيَّةِ الذَّاتِ. طِلَّسْمِ كُنُوزِ الْمَعَارِفِ الإِلَهِيَّاتِ. سِدْرَةِ مُنْتَهَى الإِحَاطِيَّاتِ الْخَلْقِيَّاتِ الصِّفَاتِيَّاتِ. بَيْتِ مَعْمُورِ التجليات الْكُنْهِيَّاتِ الْذَّاتِيَّاتِ. سَقْفِ مَرْفُوعِ الْكَمَالاَتِ الأَسْمَائِيَّةِ بَحْرِ مَسْجُورِ الْعُلُومِ اللَّدُنِّيَّاتِ. حَوْضِ الأُلُوهِيَّةِ الأَعْظَمِ الْمُمِدِّ لِبِحَارِ أَمْوَاجِ صُوَرِ الْكَوْنِ الظَّاهِرَةِ مِنْ فُيُوضِ حَقَائِقِ أَنْفَاسِهِ قَلَمِ الْقُدْرَةِ الإِلَهِيَّةِ الْعُظْمَوِيَّةِ الْكَاتِبِ فِي لَوْحِ نَفْسِهِ مَا كَانَ وَمَا يَكُونُ مِنْ مَحَاسِنِ مُبْدَعَاتِ الْعَالَمِ وَتَقَلُّبَاتِهِ وَجَمَالِ كُلِّ صُورَةٍ إِلَهِيَّةِ وَسِرِّ حَقِيقَتِهَا غَيْباً وَشَهَادَةً. وَجَلاَلِ كُلِّ مَعْنًى كَمَالِيِّ بَدْأً وَإِعَادَةً. لِسَانِ الْعِلْمِ الإِلَهِيِّ الْمُطْلَقِ التَّالِي لِقُرْآنِ حَقَائِقِ حُسْنِ ذَاتِهِ. مِنْ كِتَابِ مَكْنُونِ غَيْبِ كُنْهِ صِفَاتِهِ. جَمْعِ الْجَمْعِ وَفَرْقِ الْفَرْقِ مِنْ حَيْثُ لاَ جَمْعَ وَلاَ فَرْقَ لاَ لِسَانَ لِمَخْلُوقٍ يَبْلُغُ الثَّنَاءَ عَلَيْكَ صَلَّى الله وَسَلَّمَ يَا سَيِّدَنَا يَا مَوْلاَنَا يَا مُحَمَّدٍ عَلَيْكَ

Shalawat Keenam

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ عَدَدَ الأَعْدَاءِ كُلِّهَا مِنْ حَيْثُ انْتِهَاؤُهَا فِي عِلْمِكَ وَمِنْ حَيْثُ لاَ أَعْدَادَ مِنْا حَيْثُ إِحَاطَتُكَ بِمَا تَعْلَمُ لِنَفْسِكَ مِنْ غَيْرِ انْتِهَاءٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Penjelasan:

Dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat karya ulama besar, Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani, dijelaskan mengenai shalawat-shalawat di atas sebagai berikut:

Shalawat yang pertama:

أما الصلاة الأولى وهي اللهم إني أسألك بنور وجه الله العظيم إلى آخرها فقد تلقنها سيدي أحمد بن إدريس من النبي صلى الله عليه وسلم بلا واسطة مرة وبواسطة سيدنا الخضر عليه السلام مرة أخرى

Artinya:

"Adapun shalawat yang pertama, yaitu Allaahumma innii asaluka binuuri wajhillaahil 'adziim dan seterusnya, telah diterima oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Idris dari kanjeng Rasul Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan talqin secara langsung tanpa perantara sebanyak 1 kali, dan dengan perantara Sayyidina Khidir 'Alaihis Salaam juga sebanyak 1 kali pada kesempata lain."

فقد حدثني الشيخ الكامل العالم العامل سيدي الشيخ إسماعيل النواب المقيم في مكة المشرفة عن شيخه بركة الوجود سيدي الشيخ إبراهيم الرشيد عن شيخه الأستاذ الأعظم سيدنا أحمد ابن إدريس أنه لقنه صلى الله عليه وسلم بنفسه أوراد الطريقة الشاذلية وأعطاه أوراداً جليلة وطريقة تسليكية خاصة وقال له من انتمى إليك فلا أكله إلى ولاية غيري ولا إلى كفالته بل أنا وليه وكفيله 

Artinya:

"Telah berbicara kepada saya, Asy-Syaikh Al-Kamil Al-Alim Al-Amil Sayyidis Syaikh Ismail An-Nuwab yang bertempat tinggal di Makkah Al-Musyarrafah, dari Syaikh-nya Barkatul Wujud, Sayyidi Asy-Syaikh Ibrahim ar-Rasyid, dari Syaikh-nya al-Ustadz al-A'dzam Sayyidina Ahmad bin Idris bahwasanya kanjeng Rasul Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menalqin sendiri wirid-wirid thariqah asy-Syadziliyah dan beliau memberikan wirid-wirid yang agung dan thariqah untuk menuju Allah yang khusus. Dan kanjeng Rasul Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada beliau, "Barangsiapa yang bergabung denganmu, maka aku tidak akan menyerahkannya kepada kekuasaan orang lain; tidak pula akan jadi jaminannya, bahkan akulah wali dan penjaminnya."

وأما الصلوات الخمس الأخرى فإني اخترتها من أربع عشرة صلاة له. وقد قال قدس الله سره أن هذه الصلوات قد استوت على عرش الأنوار. وأرجلهن متدليات على كرسي الأسرار. تصلين في كتاب الكمالات المحمدية. بقرآن الحقائق الأحمدية. قد طلعت في سموات العلا شمسها. وارتفع عن وجه الكمال المحمدي نقابها. وبحرها في الحقائق الإلهية زاخر. ولهن في القسمة من المعارف المحمدية حظ وافر. خذهن إليك يا من أراد أن يسبح في كوثر النور المحمدي. وجل في عجائب معانيها يا من يبتغي الاغتراف من البحر الأحمدي. تتلو عليك من كتاب الحقائق المحمدية محكم الآيات. وتفسر لك بعض نقش حروف آياته البينات. والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم ا.ه

Artinya:

"Adapun mengenai lima shalawat yang terakhir maka aku memilihkannya dari 14 shalawat beliau, dan beliau telah berkata bahwasanya shalawat-shalawat ini telah bersemayam dalam arys cahaya; kaki-kakinya menjulu ke atas kursi rahasia-rahasia, membaca shalawat dalam kitab kesempurnaan muhammadiyah dengan quran hakikat ahmadiyah. Mataharinya telah menyembul di langit-langit yang tinggi, yang cadarnya naik ke atas kesempurnaan Muhammadi, air lautnya mengisi kendi-kendi hakikat wujud. Mereka memiliki lagi pengetahuan-pengetahuan dari Muhammad yang penuh dan melimpah. Ambillah semua itu untukmu, wahai orang yang ingin berenang dalam telaga kautsar cahaya Muhammad, dan masuklah dalam keajaiban-keajaiban maknanya, wahai orang yang ingin tenggelam dalam lautan Muhammad. Mereka akan membacakan kepadamu ayat-ayat yang muhkam dari kitab hakikat-hakkat Muhammad, mereka akan menjelaskan kepadamu sebagian lukisan huruf-huruf yang jelas; Allah akan memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakinya kepada jalan yang lurus."

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Sholawat Bakriyah

Ada berbagai macam shalawat dengan bermacam-macam redaksi atau lafadz shalawat. Bahkan bisa mencapai ribuan macam lafadz shalawat baik yang berasal dari Nabi sendiri, maupun para sahabat, dan wali-wali Allah, orang-orang shaleh pilihan.

Setiap muslim bahkan berlomba-lomba memberikan shalawat yang terbaik dan memperbanyak bacaan shalawat. Majelis-majelis shalawat pun dibentuk di adakan secara rutin di mana-mana. Sayangnya, ada saja sekelompok kecil yang sangat sedikit jumlahnya terkesan menghalangi dan tidak menyukai shalawat. Bahkan tidak jarang dikatakan orang bershalawat dianggap bid’ah, sesat, syirik, dan sebagainya dan pelakunya divonis masuk neraka.

Dengan dalih Qur’an dan Sunnah ala pemikiran “kelompok kecil” tersebut, shalawat-shalawat yang hebat dan penuh manfaat dari para ulama, waliyullah dan orang-orang shalih dikatakan bid’ah dan sesat. Na’udzubillah. Untuk itulah, kita harus kembali kepada ulama ahlussunnah wal jamaah karena dengan kembali kepada ulama ahlussunnah berarti kembali kepada Qur’an dan Sunnah yang sebenarnya.

Tidak perlu mengikuti pemahaman sekte-sekte baru yang bermunculan yang menganggap bid’ah shalawat dan sesat shalawat. Ibarat pepatah, anjing menggonggong, ahlussunnah tetap berlalu. Apapun yang dikatakan tidak perlu dipikirkan, shalawatan akan terus berjalan dengan dibuktikan semakin berkembangnya majelis-majelis shalawat karena shalawat adalah jalan selamat. Jangan sampai mengikuti sekte-sekte baru yang suka menuduh sesat, syirik, dan kafir kepada sesama umat Islam.

Berikut kami sajikan beberapa shalawat hebat yang dianggap bid’ah dan sesat oleh sekelompok kecil yang sedikit sekali jumlahnya. Menurut data lembaga penelitian dunia Pew Research Center, kelompok kecil itu yang suka menuduh sesat, bid’ah bershalawat hanya berjumlah kurang dari 1% dari total jumlah umat Islam seluruh dunia. Artinya hanya sedikit sekali bahkan boleh dianggap tidak ada. Silahkan amalkan shalawat dan teruslah diamalkan secara rutin baik sendiri maupun berjama’ah. Dirikan berbagai majelis shalawat di manapun berada, tak perlu dihiraukan kelompok kecil tersebut. Tunjukan bahwa anda pecinta shalawat sejati. Kalau ada yang bilang itu shalawat bid’ah dan sesat, cukup jawab “YO BEN”. Kalau ada yang bilang redaksi shalawat itu syirik, tidak diajarkan nabi. Cukup jawab “YO BEN”.

Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy-Syadzily berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ ؟

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad S.a.w, aku bertanya “Ada hadist yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

Kemudian Nabi S.a.w menjawab: “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat, meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”.

Shalawat Fatih

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad, pembuka segala yang terkunci, penutup perkara-perkara yang sudah berlalu, penolong kebenaran dengan kebenaran, dan penunjuk jalan kepada jalanMu yang lurus. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepada beliau, juga kepada keluarga beliau dan para sahabatnya, sesuai dengan derajat dan kedudukan beliau yang tinggi.”

Shalawat tersebut di atas disusun oleh Sayyid Abu al-Mukarim Syaikh Muhammad Syamsuddin bin Abi al-Hasan al-Bakri ra, keturunan Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq ra. Adapun Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menyatakan bahwa shalawat ini disusun oleh Sultan al-Auliya Syeikh Abdul Qodil al-Jilani ra.

Di antara keutamaan shalawat ini adalah, bahwa bagi siapa saja yang membacanya, walaupun hanya satu kali seumur hidupnya, ia tidak akan masuk neraka. Ada pula yang mengatakan bahwa, satu kali shalawat ini menyamai sepuluh ribu (bahkan ada yang menyatakan pula enam ratus ribu) shalawat lainnya.

Barangsiapa membaca shalawat Fatih di atas secara istiqomah selama 40 hari, maka Allah SWT akan membuatnya mampu bertobat dari segala jenis kemaksiatan. Agar keberkahan shalawat ini tidak terluputkan dari kita, maka hendaknya shalawat ini kita baca setiap hari, meskipun hanya sekali.

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh bagi siapa pun yang rutin membaca shalawat Fatih ini.

Sholawat Bakriyah

Shalawat al-Bakriyah yang akan kami bagikan pada kesempatan kali ini kami kutip dari kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat karya Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani. Sholawat ini merupakan di antara karya Syaikh Muhammad Bakri, disamping bebera sholawat lainnya seperti sholawat Nurikal Asna juga merupakan karya agung beliau yang kapabila diamalkan juga memilik khasiat luar biasa agungnya. 

Berikut ini teks selengkapnya dari Shalawat Al-Bakriyah yang agung tersebut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أسْألُكَ بِنَيِّرِ هِدَايَتِكَ الأَعْظَمِ وَسِرِّ إِرَادَتِكَ الْمَكْنُونِ مِنْ نُورِكَ الْمُطَلْسَمِ. مُخْتَارِكَ مِنْكَ لَكَ قَبْلَ كُلِّ شَيْء. وَنُورِكَ الْمُجَرَّدِ بَيْنَ مَسَالِكِ اللُّقَيْ. كَنْزِكَ الَّذِي لَمْ يُحِطْ بِهِ سِوَاكَ. وَأشْرَفِ خَلْقِكَ الَّذِي بِحُكْمِ إِرَادَتِكَ كَوَّنْتَ مِنْ نُورِهِ أجْرَامَ الأَفْلاَكِ وَهَيَاكِلَ الأَمْلاَكِ. فَطَافَتْ بِهِ الصَّافُّونَ حَوْلَ عَرْشِكَ تَعْظِيماً وَتَكْرِيماً. وَأمَرْتَنَا بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلِيْهِ بِقَوْلِكَ إِنَّ الله وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. وَنَشَرْتَ فَوْقَ هَامَتِهِ فِي تَخْتِ مُلْكِكَ لِوَاءِ حَمْدِكَ. وَقَدَّمْتَهُ عَلَى صَنَادِيدِ جُيُوشِ سُلْطَانِكَ بِقُوَّةِ عَزْمِكَ. وَأَخَذْتَ لَهُ عَلَى أصْفِيَائِكَ بِالْحَقِّ مِيثَاقَكَ الأَوَّلَ. وَقَرَّبْتَهُ بِكَ وَمِنْكَ وَلَكَ وَجَعَلْتَ عَلَيْهِ الْمُعَوَّلَ. وَمَتَّعْتَهُ بِجَمَالِكَ فِي مَظْهَرِ التَّجَلِّي وَخَصَصْتَهُ بِقَابِ قَوْسَيْنِ قُرْبِ الدُّنُوِّ وَالتَّدَلِّي وَزَجَّيْتَ بِهِ فِي نُورِ أُلُوهِيَّتِكَ الْعُظْمَى. وَعَرَّفْتَ بِهِ آدَمَ حَقَائِقَ الْحُرُوفِ وَالأَسْمَاء. فَمَا عَرَفَكَ مَنْ عَرَفَكَ إِلاَّ بِهِ. وَمَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَيْكَ إِلاَّ مَنِ اتَّصَلَ بِسَبَبِهِ. خَلِيفَتِكَ بِمَحْضِ الْكَرَمِ عَلَى سَائِرِ مَخْلُوقَاتِكَ. سَيِّدِ أَهْلِ أرْضِكَ وَسَمَوَاتِكَ. خَصِيصِ حَضْرَتِكَ بِخَصَائِصِ نَعْمَائِكَ. وَفُيُوضَاتِ آلاَئِكَ. أعْظَمِ مَنْعُوتٍ أقْسَمْتَ بِعَمْرِهِ فِي كِتَابِكَ. وَفَضَّلْتَهُ بِمَا فَصَّلْتَ بِهِ مِنْ أسْرَارِ خِطَابِكَ. وَفَتَحْتَ بِهِ أقْفَالَ أبْوَابِ سَابِقِ النُّبُوَّةِ وَالْجَلاَلَةِ. وَخَتَمْتَ بِهِ دَوْرَ دَوَائِرِ مَظَاهِرِ الرِّسَالَةِ. وَرَفَعْتَ ذِكْرَهُ مَعَ ذِكْرِكَ. وَسَيَّدْتَهُ بِنِسْبَةِ الْعُبُودِيَّةِ إِلَيْكَ فَخَضَعَ لأَِمْرِكَ. وَشَيَّدْتَ بِهِ قَوَائِمَ عَرْشِكَ الْمَحُوطِ بِحِيطَتِكَ الْكُبْرَى. وَمَنْطَقْتَهُ بِمِنْطَقَةِ الْعِزِّ فَمَنْطَقَ بِعُزِّهِ أهْلَ الدُّنْيَا وَالأُخْرَى. وَألْبَسْتَهُ مِنْ سُرَادِقَاتِ جَلاَلِكَ أشْرَفَ حُلَّةٍ. وَتَوَّجْتَهُ بِتَاجِ الْكَرَامَةِ وَالْمَحَبَّةِ وَالْخُلَّةِ. نَبِيِّ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ. وَالْمُبْعُوثِ بِأمْرِكَ إِلَى الْخَلْقِ أجْمَعِينَ. بَحْرِ فَيْضِكَ الْمُتَلاَطِمِ بِأمْوَاجِ الأَسْرَارِ. وَسَيْفِ عَزْمِكَ الْقَاهِرِ الْحَاسِمِ لِحِزْبِ الْكُفْرِ وَالْبَغْيِ وَالإِنْكَارِ. أحْمَدِكَ الْمَحْمُودِ بِلِسَانِ التَّكْرِيمِ. مُحَمَّدِكَ الْحَاشِرِ الْعَاقِبِ الْمُسَمَّى بِالرَّؤُوفِ الرَّحِيمِ. أسْألُكَ بِهِ وَبِالأَقْسَامِ الأُوَلِ. وَأتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِكَ وَأنْتَ الْمُجِيبُ لِمَنْ سَألَ. أنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلَيْهِ صَلاَةً تَلِيقُ بِذَاتِكَ وَذَاتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لأَِنَّكَ أدْرَى بِمَنْزِلَتِهِ وَأعْلَمُ بِصِفَاتِهِ عَدَداً لاَ تُدْرِكُهُ الظُّنُونُ. زِيَادَةً عَلَى مَا كَانَ وَمَا يَكُونُ. يَا مَنْ أمْرُهُ بَيْنِ الْكَافِ وَالنُّونِ. وَيَقُولُ للشَّيْءِ كُنْ فَيَكُونُ. وَأنْ تُمِدَّنِي بِمَدَدِهِ الْمُحَمَّدِيِّ مَدَداً أُدْرِكُ بِهِ قَبُولَ تَوَجُّهَاتِي. وَأسْتَأْنِسُ بِهِ فِي جَمِيعِ جِهَاتِي. فَأكُونَ مَحْفُوظاً بِهِ مِنْ شَرِّ الأَعْدَاء. وَيَعْمُرَ بِسَوَابِغِ نِعَمِهِ الأُولَى وَالأُخْرَى. وَيَنْطَلِقَ لِسَانِي مُتَرْجِماً عَنْ أسْرَارِ كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ. وَأتَعَلَّمَ مِنْ عِلْمِكَ الأَقْدَسِ الْوَهْبِيِّ مَا أسْتَغْنِي بِهِ عَنِ الْمُعَلِّمِ وَأنْتَ الْحَمِيدُ الْمَجِيدُ. وَتَصْفُوَ مِرْآةُ سَرِيرَتِي بِنَظْرَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّة. وَأُبْصِرَ بِبَصَرِ بَصِيرَتِي حَقَائِقَ الأَشْيَاءِ الثَّابِتَةِ الْعَلِيَّةِ. لأَِرْقَى بِهِمَّتِهِ عَلَى مَعَارِجِ مَدَارِجِ رُتَبِ الْكِرَام. وَأظْفَرَ بِسِرِّهِ الْمَخْصُوصِ بِبُلُوغِ الْمَرَامِ. فِي الْمَبْدَأ وَالْخِتَامِ. فَإِنَّكَ أنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلاَمُ. رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ. وَاجْعَلْنَا اللَّهُمَّ مَعَ الَّذِينَ أنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ. وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. وَانْصُرْنَا بِنَصْرِكَ فِي الْحَرَكَةِ وَالْسُّكُونِ. وَاجْعَلْنَا مِنْ حِزْبِكَ الَّذِينَ وَفَّقْتَهُمْ لِفَهْمِ كِتَابِكَ الْمَكْنُونِ. لِنَدْخُلَ فِي حِرْزِ قَوْلِكَ ألاَ إِنً حِزْبَ الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ. ألاَ إِنَّ أوْلِيَاءِ الله لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيماً وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِينَ. 

Penjelasan dari Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani

Dalam karyanya, Afdhalush Shalawat, Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani memberikan penjelasan terkait shalawat di atas sebagai berikut:

وأما الصلاة الثانية وهي اللهم إني أسألك بنيّر هدايتك الأعظم وسر إرادتك المكنون من نورك المطلسم إلى آخرها. فإني نقلتها أيضاً من شرحها المسمى بالنفحات الربية على الصلوات البكرية للعارف الكبير سيدي مصطفى البكري المتقدم ذكره ومكتوب في آخر هذا الشرح بخط أحمد العروسي ما صوته بلغ قراءة وتصحيحاً واستفادة بين يدي المؤلف رضي الله عنه ونفع ببركاته الكاتب أحمد العروسي تابعه وخادمه سنة ألف ومائة وستين وقد ذهبت الورقة الأولى من هذا الشرح وفيما بعدها لم يقع التصريح باسم مؤلف هذه الصلاة وإنما قال المؤلف سميته أي الشرح النفحات الربية على الصلوات البكرية فلأجل ذلك ولكونها في المحل الأعلى من فصاحة اللفظ وجزالة المعنى كالصلاة التي قبلها وكلا شرحيهما لمؤلف واحد في مجموعة واحدة وقد تحقق أنت لك لسيدي محمد البكري فقد وقع في نفسي أن هذه أيضاً هي له رضى الله عنه. 

Artinya:

"Adapun shalawat yang kedua yaitu allaahumma inii as aluka bi nayyiri hidaayatika al-a'dzam wa sirri iraadatikal maknuun min nuurikal muthalsam dan seterusnya, maka sungguh aku telah mengutipnya juga dari syarahnya yang berjudul An-Nafahatur Rabbiyyah 'alash Shalawat al-Bakriyah oleh junjungan saya sayyidi asy-Syaikh Al-Arif Al-Kabir Sayyidi Mushtafa Al-Bakri yang telah disebutkan di akhir kitab syarah ini yang ditulis oleh Ahmad Al-Arusi, pengikut setianya pada tahun 1160 hijriyah.

Bagian pertama dari manuskirp shalawat ini hilang dari kitab syarah ini. dan sisanya, tidak da penjelasan tentang nama penulis atau penggubah shalawat ini. Hanya saja pengarang mengatakan bahwa "Aku beri nama kitab ini An nafahat ar-rabbiyyah 'alash shalawat al-bakriyyah, maka atas nama alasan ini, juga karena shalawat tersebut di atas begitu bagus, memiliki nilai sastra yang tinggi dan mengandung makna yang padat, sebagaimana shalawat yang sebelumnya, jga karena dua syarahnya ditulis oleh satu orang penulis dalam satu buku, dan disitu dinyatakan bahwa shalawat ini adalah milik sayyidi Asy-Syaikh Muhammad Al-bakri, maka menurut hemat saya shalawat ini memang adalah milik beliau radhiyallahu 'anhu juga."

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Sholawat Saqofiyah

Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy-Syadzily berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ ؟
Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad S.a.w, aku bertanya “Ada hadist yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

Kemudian Nabi S.a.w menjawab: “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat, meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”.

Dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat dijelaskan bahwa shalawat As-Saqafiyah merupakan shalawat milik Sayyid Abdullah bin Ali Bahusein As-Segaf. Shalawat As-Saqafiyah memiliki nama lain yaitu Shalawat Al-Khitam 'Alaa an-Nabi al-Khitam (Shalawat Penutup untuk Nabi Penutup). Berikut ini teks shalawat As-Saqafiyah selengkapnya:‎

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سُلَّمِ الأَسْرَارِ الإِلَهِيَّةِ الْمُنْطَوِيَةِ فِي الْحُرُوفِ الْقُرْآنِيَّةِ مَهْبَطِ الرَّقَائِقِ الرَّبَّانِيَّةِ النَّازِلَةِ فِي الْحَضْرَةِ الْعَلِيَّةِ الْمُفَصَّلَةِ فِي الأَنْوَارِ بِالْنُّورِ الْمُتَجَلِّيَّةِ فِي لُبَابِ بَوَاطِنِ الْحُرُوفِ الْقُرْآنِيَّةِ الصِّفَاتِيَّةِ فَهُوَ النَّبِيُّ الْعَظِيمُ مَرَكْزُ حَقَائِقِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ مُفِيضُ الأَنْوَارِ إِلَى حَضَرَاتِهِمْ مِنْ حَضْرَتِهِ الْمَخْصُوصَةِ الْخَتْمِيَّةِ شَارِبُ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ مِنْ بَاطِنِ بَاطِنِ الْكِبْرِيَاءِ مُوصِلُ الْخُصُوصِيَّاتِ الإِلِهِيَّاتِ إِلَى أَهْلِ الاصْطِفَاءِ مَرْكَزُ دَائِرَةِ الأنْبِيَاءِ وَالأَوْلِيَاءِ مُنَزِّلُ النُّورِ بِالنُّورِ الْمُشَاهِدُ بِالذَّاتِ الْمُكَاشِفُ بِالصِّفَاتِ الْعَارِفُ بِظُهُورِ تَجَلِّي الذَّاتِ فِي الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ الْعَارِفُ بِظُهُورِ الْقُرْآنِ الذَّاتِي فِي الْفُرْقَانِ الصِّفَاتِيِّ فَمِنْ هَهُنَا ظَهَرَتْ الْوَحْدَتَانِ الْمُتَعَاكِسَتَانِ الْحَاوِيَتَانِ عَلَى الطَّرَفَيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ اللَّطِيفَةِ الْقُدْسِيَّةِ الْمَكْسُوَّةِ بِالأَكْسِيَةِ النُّورَانِيَّةِ السَّارِيَةِ فِي الْمَرَاتِبِ الإِلَهِيَّةِ الْمُتَكَمِّلَةِ بِالأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ الأَزَلِيَّةِ وَالْمُفِيضَةِ أَنْوَارَهَا عَلَى الأَرْوَاحِ الْمَلَكُوتِيَّةِ الْمُتَوَجِّهَةِ فِي الْحَقَائِقِ الْحَقِيَّة النَّافِيَةِ لِظُلُمَاتِ الأَكْوَانِ الَعَدَمِيَّةِ الْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمِّدً الْكَاشِفِ عَنِ الْمُسَمَّى بِالْوَحْدَةِ الذَّاتِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ جَامِعِ الإِجْمَالِ الذَّاتِيِّ الْقُرْآنِيِّ حَاوِي التَّفْصِيلِ الصِّفَاتِيِّ الْفُرْقَانِيِّ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الصُّورَةِ الْمُقَدَّسَةِ الْمُنَزَّلَةِ مِنْ سَمَاءِ قُدْسِ غَيْبِ الْهُوَيَّةِ الْبَاطِنَةِ الْفَاتِحَةِ بِمِفْتَاحِهَا الإِلَهِي لأَِبْوَابِ الْوُجُودِ الْقَائِمِ بِهَا مِنْ مَطْلَعِ ظُهُورِهَا الْقَدِيمِ إِلَى اسْتِوَاءِ إِظْهَارِهَا لِلْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَقِيقَةِ الصَّلَوَاتِ وَرُوحِ الْكَلِمَاتِ قِوَامِ الْمَعَانِي الذَّاتِيَّاتِ وَحَقِيقَةِ الْحُرُوفِ الْقُدْسِيَّاتِ وَصُوَرِ الْحَقَائِقِ الْفُرْقَانِيَّةِ التَّفْصِيلِيَّاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْجَمْعِيَّةِ الْبَرْزَخِيَّةِ الْكَاشِفَةِ عَنِ الْعَالَمَيْنِ الْهَادِيَةِ بِهَا إِلَيْهَا هِدَايَةً قُدْسِيَّةً لِكُلِّ قَلْبِ مُنِيبٍ إِلَى صِرَاطِهَا الرَّبَّانِيِّ الْمُسْتَقِيمِ فِي الْحَضْرَةِ الإِلَهِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُوَصِّلِ الأَرْوَاحِ بَعْدَ عَدَمِهَا إِلَى نِهَايَاتِ غَايَاتِ الْوُجُودِ وَالنُّورِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاسِطَةِ الأَرْوَاحِ الأَزَلِيَّةِ فِي الْمَدَارِجِ الْجَاذِبَةِ لِلأَرْوَاحِ الْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْحَسَنَاتِ الْوُجُودِيَّةِ الذَاهِبَةِ بِظُلُمَاتِ الطَّبَائِعِ الْحِسِيَّةِ وَالْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُسْتَقَرِّ بُرُوزِ الْمَعَانِي الرَّحْمَانِيَّةِ مِنْهَا خَرَجَتِ الْخُلَّةُ الإِبْرَاهِيمِيَّةُ وَمِنْهَا حَصَلَ النِّدَاءُ بِالْمَعَانِي الْقُدْسِيَّةِ لِلْحَقِيقَةِ الْمُوسَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي جَعَلْتَ وُجُودَكَ الْبَاقِي عِوَضاً عَنْ وُجُودِهِ الْفَانِي صَلَّى الله تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. هكذا في الأصل بتقديم أَصحابه على آله.

Khasiat Shalawat As-Saqafiyah

Shalawat As-Saqafiyah memiliki berbagai khasiat atau fadhilah bagi yang bersedia mengamalkannya. Diantara sekian banyak fadhilahnya yaitu bahwa barangsiapa yang bersedia mengamalkan shalawat as-Saqafiyah secara istiqamah setiap hari minimal 1 kali, maka insya Allah ia akan mendapatkan mati dalam keadaan husnul khatimah. Dan di akhirat nanti ia akan mendapatkan syafaat agung dari kanjeng rasul Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Dalam kitab Afdhalush Shalawat 'Alaa Sayyidis Saadaat karya Sayyidis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani Qaddasallahu Sirrahul 'Aziiz dijelaskan mengenai shalawat As-Saqafiyah ini sebagai berikut:

ذكر العلامة ابن عابدين في ثبته حزب السيد عبد الله السقاف وعنونه بقوله حزب سيدي الولي الشهير والقطب الكبير عمدة المطلعين ورأس المكاشفين السيد عبد الله ابن السيد علي باحسين السقاف ثم ذكر الحزب وذكر بعده الصلاة المشيشية. وقال في آخرها أقول قرأها سيدي وهو شيخه السيد محمد شاكر العقاد على الإمام العارف الغارف الولي الكبير والعالي القدر الشهير الحسيب النسيب بهجة النفوس وتاج الرؤوس سيدي عبد الرحمن بن مصطفى العيدروس وإجازة بقراءتها وكذلك قرأ سيدي على الأستاذ المذكور والصلاة المنسوبة لسيدي عبد الله السقاف صاحب الحزب المتقدم وإجازة بقراءتها ثم ذكر ابن عابدين الصلاة السابقة. وقال في آخرها رأيت في بعض المجاميع أنها تسمى بصلوات الختام على النبي الختام وأن مؤلفها رحمه الله تعالى. قال ضمن النبي صلى الله عليه وسلم لمن يقرؤها أو ينظر إليها حسن الخاتمة والشفاعة الكبرى وقال صلى الله تعالى عليه وسلم هذا جزاء لك يا عبد الله ولما ألفته ا.ه. والله تعالى أعلم

Artinya: "Al-Alim Al-Allamah Ibn Abidin dalam catatannya menyebutkan hizib Sayyid Abdullah As-Segaf bahwa para ulama mengatakan, "Ini adalah hizib al-Wali yang termasyhur, al-Quthb al-Kabir, sandaran para cerdik-pandai, pemimpin kaum yang mencapai derajat kasyaf, as-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Ali Bahusain as-Saqqaf." Kemudian ia menyebutkan hizib yang dimaksud dan setelahnya ia menyebutkan shalawat al-Masyisiyah dan di akhir pernyataannya ia mengungkapkan, "Guru saya, Muhammad Syakir al-Aqqad membacakannya pada imam al-Arif yang tenggelam dalam Allah, wali besar, yang agung pribadinya, yang terkenal, yang baik nasabnya, kebanggaan jiwa-jiwa, mahkota bagi kepala-kepala, junjungan saya Abdurrahman Ibn Musthafa Alaydrus, dengan mengijazahkan untuk mengamalkan shalawat tersebut. Demikian pula Sayyidi membacakan shalawat tersebut yang dinisbatkan kepada Sayyidi Abdullah as-Saqqaf, sang pemilik Hizib tersebut, dan beliau memberikan ijazah pengamalannya. Kemudian Ibn Abidin menyebutkan shalawat di atas dan beliau berkata pada bagian akhirnya, "Aku melihat pada sebagian kelompok bahwasanya shalawat ini diberi nama dengan shalawat a-Khitam 'alaa an-Nabi al-Khitam dan bahwa penyusunnya rahimahullahu ta'ala berkata, "Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjamin bagi orang yang mengamalkannya atau memperhatikannya mendapatkan husnul khatimah dan syafaat kubra. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Ini merupakan balasan bagimu wahai hamba Allah, dan juga atas jerih payah gubahanmu."
Wallo Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎