Translate

Selasa, 30 November 2021

Makna Filosofi Keris Jalak Sangu Tumpeng

 Philosofi Dhapur JALAK  SANGU TUMPENG

Jalak adalah burung yang pandai dan rajin mencari makan, berkelakuan baik, mudah diberi pelajaran dan setia. Sedangkan Sangutumpeng adalah suatu istilah tentang suatu pesan “bekal Selamat”. Tumpeng dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai sarana mengucap syukur kepada Tuhan YME dalam acara selamatan. Dhapur ini membawa pesan bahwa seseorang harus pandai bersyukur dan menyikapi apa yang terjadi dengan penuh kearifan sehingga nantinya “bekal selamat” akan diperoleh di masa kini dan masa yang akan datang.

Makna keris Jalak Sangu Tumpeng

Dalam pakem perkerisan, sangat banyak dapur jalak yang kita kenal, antara lain : Jalak, Jalak Ngore, Jalak Dinding, Jalak Sinom, dan Jalak Sangu Tumpeng. Dapur Jalak hampir semuanya merupakan dapur yang populer. Bahkan kerap ditemui dapur Jalak Sangu Tumpeng disimpan sebagai pusaka keluarga. Keris dapur ini kadang diberikan orang tua kepada anaknya ketika hendak pergi merantau mencari nafkah (bekerja).

Dapur Keris Jalak merupakan dapur keris yang telah ada sejak jaman kuno. Bagi sebagian penggemar keris, dapur Jalak Sangu Tumpeng dipercaya sebagai pusaka yang mempunyai tuah ke-rejeki-an atau memudahkan mencari nafkah. Bagi sebagian orang hal semacam ini dianggap kepercayaan yang mistik dan sirik. 

Meski dalam kenyataannya, nuansa cultural leluhur (khususnya orang jawa) akan sulit ditinggalkan sampai kapan pun dalam memandang suatu pusaka. Karena itu tuduhan syirik jelas ditolak mentah-mentah, sebab budaya leluhur mengajarkan demikian dan sama sekali tidak memper-tuhan-kan sebilah keris. Meski demikian benturan anatar budaya dan agama masih saja sering terjadi.

Tidak ada salahnya jika kita sedikit memperluas cakrawala pemikiran. Kita mencoba untuk mencari, mempelajari dan memahami segala sesuatu dibalik nilai-nilai budaya, bukan sebaliknya justru meninggalkan dan membuang suatu karya budaya karena takut dituduh syirik atau dianggap kuno ketinggalan jaman.

Minimnya budaya baca-tulis bangsa ini di jaman dahulu menyebabkan banyak pengajaran hidup dilakukan secara lisan (tutur). Dan agar lebih mudah mengingatnya, banyak hal “dicatat” dalam bentuk simbol-simbol dari suatu produk budaya, misalkan dalam bentuk tarian, gambar, ukiran, cerita, upacara-upacara tradisi, dan tak terkecuali keris.

Tidak ada ukuran / standar bagaimana suatu dapur atau pamor keris harus diinterpretasikan maknanya. Makna yang direfleksikan pada sebuah dapur keris akan sangat tergantung pada keleluasaan cakrawala masing-masing individu. Ajaran filsafat jawa yang dibungkus dalam suatu karya seni keris, tentunya mempunyai suatu perlambang tentang ajaran mengenai hidup dan kehidupan. Dalam hal ini budaya jawa membuka lebar-lebar setiap interpretasi, dengan tetap berpijak pula kepada ajaran budi luhur para leluhur.

Penamaan dapur keris tidak lepas dari maksud dan tujuan yang hendak disampaikan dalam dapur keris itu sendiri. Hal ini tidak lepas dari makna setiap ricikan yang ada dalam sebilah keris. 

Mungkin dengan latar belakang demikianlah, seorang empu menciptakan dapur dan memberinya nama. Empu, dalam memberi nama dapur keris tidaklah sembarangan. Sebuah nama dapat merupakan doa, harapan, simbol dari suatu ajaran atau pun pandangan hidup. 

Para empu pinilih tersebut tidak hanya ahli dalam hal teknis olah tempa dan laras(“ilmu”), namun juga memiliki keleluasaan pengetahuan olah batin (“ngelmu”) yang dimanifestasikan dalam karyanya, baik secara estetika teknis fisik maupun aspek spiritual. Sehingga, dalam perkembangannya keris bukan hanya sebagai senjata, namun juga sebagai karya seni tempa logam yang memuat nilai-nilai budaya luhur.

Seseorang yang memberikan keris kepada orang lain atau keturunananya, seolah memberikan pesan dan harapan, agar penerima dapat menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalam dapur keris tersebut. Sedangkan empu keris seolah memberikan dorongan moril dan doa agar siapa pun yang menyimpan hasil karyanya, diberikan petunjuk oleh Tuhan, sesuai dengan nilai-nilai simbolik dalam keris karyanya tersebut.

Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diartikan Burung Jalak Berbekal Tumpeng. Tumpeng adalah nasi (dibentuk seperti gunung) dengan segala lauk pauknya dalam sebuah nampan. Hal tersebut nampaknya aneh dan tak masuk akal. 

Bagaimana burung jalak yang kecil dapat membawa bekal tumpeng yang sedemikian besar dan berat? Supaya tidak kekurangan makan? Padahal burung jalak tidak doyan nasi tumpeng. Jika keliru menafsirkan, bisa jadi Jalak Sangu Tumpeng diartikan sebagai symbol keserakahan dan orang yang memaksakan diri.

Philosofi dalam Burung Jalak dan Nasi Tumpeng

Jalak merupakan species burung yang di jawa terdapat beberapa jenis, anatar lain: Jalak Kebo (hitam), Jalak Pita (putih), dan alak Suren (hitam putih). Dari beberapa jenis ini, yang paling menarik tingkah lakunya adalah jalak suren (Sturnus Contra Jalla). 

Di Jawa, sejak dahulu burung ini dikenal sebagai burung peliharaan yang bisa membantu pemiliknya menjaga rumah. Burung tersebut mempunyai naluri yang peka (waspada) terhadap kedatangan tamu asing baik siang maupun malam. Dia akan berbunyi keras dan serak (bukan berkicau) jika ada orang datang dan belum dikenal seolah mengingatkan (ng-eling-ake) pemilik rumah. 

Selain itu, Jalak merupakan burung yang dalam mencari makan tidak merugikan orang lain. Sampai di sekitar tahun 70-an masih sering kita lihat burung ini di atas punggung kerbau di sawah. Relasi simbiosis mutualisme dengan kerbau. Jalak memperoleh makanan dan kerbau jadi sehat. Di sisi lain, jalak juga dikenal sebagai burung yang setia kepada pasangannya.

Kukilo tumraping tiyang jawi, mujudaken simbul panglipur, saget andayani renaming penggalih, satemah saget ngicalaken raos bebeg, sengkeling penggalih. Condro pasemonanipun: pindho keblaking swiwi kukila, ingkang tansah ngawe-ngawe ngupoyo bogo, kinaryo anyekapi ing bab kabetahanipun. Dene kukilo ingkang sampun pikanthuk ing bab kabetahanipun, kukilo kolo wau lajeng wangsul dhumateng tuk sumberipun, asalusulipun, inggih puniko wangsul dhateng susuhipun, ambekto kabetahaning gesangipun.

(terjemahan bebas: bagi orang Jawa, burung merupakan symbol pelipur duka, memberikan rasa senang di hati,menghilangkan rasa dongkol kejengkelan di hati. Sedangkan gambaran sosoknya, dimana kepakan sayapnya melambai-lambai merupakan usaha dalam mencari pangan (nafkah), untuk memenuhi kebutuhan. Urung yang telah mendapatkan pangan, kemudian pulang kembali ke sarangnya (rumah dan keluarganya).

Tumpeng merupakan sajian nasi kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditempatkan dalam tampah (nampan besar, bulat, dari anyaman bambu). Tumpeng merupakan tradisi sajian yang digunakan dalam upacara, baik yang sifatnya kesedihan maupun gembira.

Tumpeng dalam ritual Jawa jenisnya ada bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Tumpeng sarat dengan symbol mengenai ajaran makna hidup. Tumpeng robyong disering dipakai sebagai sarana upacara Slametan (Tasyakuran). 

Tumpeng Robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai Gunung menggambarkan kemakmuran sejati. Air yang mengalir dari gunung akan menghidupi tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang dibentuk ribyong disebut semi atau semen, yang berarti hidup dan tumbuh berkembang. Pada jaman dahulu, tumpeng selalu disajikan dari nasi putih. Nasi putih dan lauk-pauk dalam tumpeng juga mempunyai arti simbolik, yaitu:

Nasi putih: berbentuk gunungan atau kerucut yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Juga, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.

Ayam: ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan symbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). 

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk (yang dilambangkan oleh, red) ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele bukan banding atau gurami atau lainnya. Ikan lele tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. Hal tersebut merupakan symbol ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun.

Ikan Teri / Gereh Pethek: Ikan teri/gereh pethek dapat digoreng dengan tepung atau tanpa tepung. Ikan Teri dan Ikan Pethek hidup di laut dan selalu bergerombol yang menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan.

Telur: telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong – sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. 

Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan urab-uraban: Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung symbol-simbol antara lain: kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. 

Bayam (bayem) berarti ayem tentrem,taoge/cambah yang berarti tumbuh, kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/innovative, brambang(bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga.

Pada jaman dahulu, sesepuh yang memimpin doa selamatan biasanya akan menguraikan terlebih dahulu makna yang terkandung dalam sajian tumpeng. Dengan demikian para hadirin yang datang tahu akan makna tumpeng dan memperoleh wedaran yang berupa ajaran hidup serta nasehat. 

Dalam selamatan, nasi tumpeng kemudian dipotong dan diserahkan untuk orang tua atau yang “dituakan” sebagai penghormatan. Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan.

Ada sesanti jawi yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekuarang yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. 

Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang barada, meski harus merantau, harus lah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya. 

Ricikan pada Keris Dapur Jalak Sangu Tumpeng

Jalak Sangu Tumpeng adalah keris lurus yang mempunyai makna selalu menempuh “jalan lurus” menuju keutamaan hidup. Jalan lurus yang ditempuh yaitu dengan menjalani perbuatan yang baik (Dadya laku utama), yang antara lain: tidak sombong, dan tidak mencela orang lain serta introspeksi terhadap diri sendiri. 

Apalagi orang yang dianggap cerdik pandai atau berkeuasa, perlu dihindari menjadi Prawata Bramantara yaitu orang yang tutur katanya membuat gusar oang lain atau membuat suasana menjadi semakin keruh. Kata-katanya tidak menentramkan, ibarat gunung yang tampaknya indah namun menghasilkan hawa panas yang berbahaya. Lebih dari itu, “laku utama” juga meliputi tindakan selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhandan hubungan kepada keluarga, masyarakat dan lingkungannya (eling lan waspada).

Gandik Polos, merupakan symbol kekuatan, ketabahan hati, ketekunan dan rajin bekerja. Dalam budaya Jawa ada sesanti yang mengatakan : sapa sing temen bakal tinemu, sapa sing tatag lan teteg bakal tutug (siapa yang tekun akan menemukan jalan, siapa yang ulet dan tabah akan tercapai cita-citanya)

Tikel Alis, merupakan symbol baik-buruk dalam diri manusia, yang keduanya harus selalu dikendalikan. Pengendalian dua sifat tersebut akan terpancar pada watak seseorang.

Sogokan rangkap (dua) dan Ada-ada, merupakan symbol dorongan/motivasi untuk selalu mempunyai ide/gagasan/inovasi kreatif untuk maju. Motivasi yang murni harus mulai dari niat lahir dan batin.

Tingil merupakan symbol bekal pengetahuan dan ketrampilan yang pinunjul. Dalam berkarya tentunya seseorang harus berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang memadai.

Sraweyan merupakan symbol keluwesan. Dalam lehidupan hendaknya menjaga keselarasan terhadap sesame, masyarakat dan lingkungan, dan dapat beradaptasi dengan kebiasaan setempat dan menghargai pendapat serta sikap orang lain.

Pijetan/blumbangan, merupakan symbol keikhlasan hati dan kesabaran. Hidup dan bekerja harus dilandasi dengan hati yang senang, mencintai akan pekerjaannya dan ikhtiar serta tawakal. Tidak ada yang disebut takdir sebelum diawali dengan ikhtiar.

Jalak Sangu Tumpeng Merupakan Ajaran Hidup Dalam Mencari Nafkah

Dapur Jalak Sangu Tumpeng secara keseluruhan sebagaimana ditunjukan dalam simbolisasi Jalak, Tumpeng, bentuk keris lurus dan ricikan bilah merupakan ajaran hidup dalam mencari nafkah. Jalak merupakan symbol atau gambaran seseorang yang berkewajiban mencari nafkah – dan tentunya untuk keperluan tersebut dia perlu mempersiapkan diri baik mental maupun spiritual. 

Sesorang dalam mencari nafkah dan menjalani hidup diharapkan lebih mengutamakan perbuatan yang baik (dadya laku utama) selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan dan hubungan dengan keluarga, masyarakat serta lingungannya (eling lan waspada). 

Dalam mencari nafkah hendaknya berlaku jujur dan tidak merugikan orang lain, Mencari nafkah memang tidak mudah, namun jika diberi kemudahan hendaknya selalu juga waspada. Sebab uang sebanyak apapun jika tidak halal sumbernya jangan diambil. Lebih baik uang sedikit namun halal dan sah. Sebagaimana diajarkan dalam tembang dandanggula serat sana sunu (Yasadipura II):

“..yang suksma, angupaya sandang pangan teka gampil, yen gampang den waspada. Sangkaning arta yen tanprayogi, haywa arsa sanajan akathah, yen during sah hywa pinet, sathitik yen panuju, den pakolih amburu kasil, liring pakolih ingkang, sah tentrem ing kukum….”

Hal-hal yang tersirat dalam dapur Jalak Sangu Tumpeng merupakan pandangan dan pegangan hidup untuk mencapai sukses dalam bekerja dan berusaha. Sehingga, nilai-nilai yang terkandung dalam dapur ini, menjadikannya sebagai symbol pusaka dalam mencari nafkah. Sesorang yang menyimpan keris dapur ini, seolah menyimpan nilai-nilai ajaran yang dapat digunakan sebagai pandangan hidup.

Senin, 29 November 2021

Sejarah Perjuangan Pangeran Purbaya Banten

 Sedikit sekali sejarah Sunda yang mengisahkan Pangeran Arya Purbaya dari Kesultanan Banten dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. 

Pangeran Arya Purbaya Adalah Putera  Sultan Abul Fathi Abdul Fatah / Sultan Ageng Tirtayasa Yang Menjadi Sultan Banten VI (1651-1682) Yang Ikut Mendukung Perjuangan Ayahnya Dalam Perang Melawan VOC Tahun 1682-1684 Bekerjasama Dengan Putra-Putra Lainnya Seperti Pangeran Sake (Citeureup-Bogor), Pangeran Sogiri (Jatinegara Kaum-Jakarta), Pangeran Rum Cakung-Jakarta), Raden Mesir, Tubagus Muhammad Athif (Serpong-Tangerang), Tubagus Husein Cisauk, Tubagus Muhsin Leuwisadeng, Syekh Maulana Manshuruddin (Cikadueun-Banten) dll.

Juga Di Bantu Oleh Al Mursyid Syekh Yusuf Taj Al Khalwati Al Makassari Yang Menjadi Mufti Kesultanan Banten di Era Sultan Ageng Tirtayasa.

Pangeran Arya Purbaya berusaha mempertahankan kebesaran Kesultanan Banten dari pihak pedagang VOC yang berusaha ingin memonopoli perdagangan bahkan berlanjut pada penjajahan.

Pangeran Arya Purbaya adalah salah satu putra dari istri-istri Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), yang menjadi penerus mahkota kesultanan yaitu Pangeran Gusti atau Sultan Abu Nasr Abdul Kahar (1672-1687) yang kelak disebut Sultan Haji. 

Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai beberapa istri diantaranya Ratu Adi Kasum sebagai permaisuri yang melahirkan Abdul Kahar (Sultan Abdul Nasr Abdul Kahar), dari Ratu Ayu Gede, Sultan Ageng dikaruniai 3 orang anak, yaitu P. Arya Abdul Alim, P. Ingayujapura (ingayudipura) dan Pangeran Arya Purbaya. Sedangkan dari istri-istri lainnya mempunyai beberapa anak yaitu P. Sugiri, TB. Raja Suta, TB. Husen, TB. Kulon, dan lain-lain.

Putra mahkota Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dikenal dengan Sultan Haji diangkat menjadi pembantu ayahnya (Sultan Ageng) untuk mengurus urusan dalam negeri Kesultanan Banten. 

Sedangkan Pangeran Arya Purbaya membantu ayahnya untuk mengurus urusan luar negeri dan berkedudukan di Keraton kecil di Tirtayasa. 

Pemisahan pengurusan tata pemerintahan itu tercium oleh wakil VOC W. Chaeff yang menghasut Sultan Haji untuk mencurigai posisi adiknya yaitu P. Arya Purbaya, karena dapat mendominasi pemerintahan dan Sultan Haji tidak bisa naik tahta, atas hasutan Itulah terjadi persekongkolan antara Sultan Haji dan VOC.

Pada Bulan Mei 1680 Sultan Haji mengutus perwakilan untuk bertemu dengan Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk mengukuhkan dirinya sebagai Sultan.

Pada tanggal 25 November 1680 Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah kepada putra mahkota Sultan Haji karena ia memberi ucapan selamat kepada Gubernur baru Speelman yang menggantikan Rijkolf Van Goens padahal Kompeni baru saja menghancurkan gerilya Banten dan Cirebon. 

Dengan bantuan VOC, Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan menguasai Keraton Surosowan pada tahun 1681.

Pada tanggal 27 Februari 1682, pecah perang antara Ayah-Anak. Dalam waktu singkat, Sultan Ageng berhasil menguasai Keraton Surosowan. 

Pasukan Sultan Ageng berkoalisi dengan pasukan gabungan pelarian dari Makassar, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Melayu. Karena daerah asal mereka dikuasai VOC dan menggabungkan diri dengan Banten, atas kekecewaan mereka terhadap raja-rajanya.

Sultan Haji berlindung di loji Belanda dan dilindungi oleh Jacob de Roy dan dipertahankan oleh Kapten Sloot dan W. Cheaff. Tanggal 7 April 1682 pauskan Kompeni dari Armada Laut mendesak Keraton Tirtayasa dan Keraton Surosowan, pasukan tersebut dipimpin Francois Tack, De Sain Martin dan Jongker.

Sultan Ageng gigih berjuang dibantu Syekh Yusuf dari Makassar dan Pangeran Purbaya, serta Pasukan Makassar, Bali dan Melayu yang bermarkas di Margasana.

Tanggal 8 Desember 1682 Kacarabuan, Angke dan Tangerang dikuasai VOC, Sultan Ageng bertahan di Kademangan, tetapi pertahanan akhirnya jatuh juga setelah terjadi pertempuran sengit, pasukan Kademangan yang dipimpin P. Arya Wangsadiraja akhirnya mengungsi ke Pedalaman Banten yaitu Ciapus, Pagutan dan Jasinga.

Pada tanggal 28 Desember 1682, Pasukan Jongker, Michele dan Tack mendesak Keraton Tirtayasa, Sultan Ageng berhasil menyelamatkan diri dengan terlebih dahulu Pangeran Purbaya membakar Keraton Tirtayasa untuk menyelamatkan Ayahnya, Sultan Ageng, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf Makassar mengungsi ke Sajira dan Muncang. 

Sementara Pangeran Arya Purbaya dan pasukannya bergerak ke Parijan pedalaman Banten hingga ke Jasinga karena Pasukan Arya Wangsadireja berlebih dahulu mengungsi ke Jasinga.

Sultan Haji mengirimkan utusan ke Sajira untuk berdamai dan akhirnya pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Arya Purbaya mendatangi Surosowan. Akibat akal licik VOC dan Sultan Haji, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dibawa ke Batavia untuk diadili. Pangeran Purbaya berhasil meloloskan diri.

Pangeran Perbaya, Pangeran Kulon dan Syekh Yusuf Makassar meneruskan perjuangan melawan Kompeni. 

Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukan yang berjumlah 5000 orang, 1000 diantaranya Melayu, Bugis, Makassar yang siap mati bersama gurunya bergerak menuju Muncang terus ke Lawang Taji (Jasinga) menyusuri Sungai Cidurian kemudian ke Cikaniki terus ke Ciaruteun melalui Cisarua dan Jampang kemudian meneruskan ke Sukapura dan Mandala dengan tujuan Cirebon. 

Pangeran Purbaya kemudian menyusul bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake beserta pasukannya hingga ke Galunggung dan Singaparna (Tasikmalaya).

Pada tanggal 25 September 1683 pasukan Pangeran Kidul dan Pasukan Banten dan Makassar gugur di Citanduy (Padalarang). Syekh Yusuf Makassar ditangkap oleh Van Happel yang menyamar sebagai orang muslim, dibuagn ke Cape Town (Afrika Selatan). 

Pangeran Purbaya sempat mempertahankan pedalaman Banten dna membuat garis batas di Cikeas (antara Banten dan Batavia), Pangeran Purbaya mempertahankan Banten Selatan. Ia meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Makassar dan akhirnya Pangeran Purbaya bersama Pangeran Kulon dan Pangeran Sake gugur dalam pemberontakan di Galunggung (Tasikmalaya).

Sekelumit tentang Pangeran Purbaya dalam sejarah autentik sangat berjasa dalam mempertahankan Banten dan dipercaya oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Makassar bahkan pasukan koalisi Makassar, Bugis dan Melayu.

Kisah Pangeran Purbaya dalam “Riwayat Jasinga Baheula” dengan menggunakan jenis huruf Pegon dengan dua bahasa yaitu bahasa Sunda dan Jawa Serang (Banten) secara singkat diceritakan bahwa Pangeran Purbaya adalah Patih atau Wakil Sultan Ageung Tirtayasa dan dalam perjalan ke pedalaman hutan Banten, Pangeran Purbaya beradu tanding dengan Gajah Putih, Patih dari Sriwijaya di Palembang, Sumatera. 

Mereka bertarung selama 40 hari 40 malam dan berakhir di Kadu Picung yang sekarang bernama Kadu Urug, Kadu Bungbang-Banten. Dalam pertarungannya keduanya sama kuat, namun pada akhirnya Gajah Putih kalah dan tenggelam kemudian berubah menjadi Gunung Krakatau.

Pangeran Purbaya terus berkelana dan berubah menjadi Singa jelmaan, hingga akhirnya singgah di Dukuh Buaran dekat Sungai dan Hutan. Kemudian ia berlindung di bawah rumah panggung yang tinggi sampai malam hari. Rumah itu milik Aki dan Nini, Aki tersebut bernama Buyut Apong atau Syekh Mustofa penduduk asli Buaran. 

Pangeran Purbaya dengan kondisi yang lelah dan pakaian compang-camping akibat bertarung dengan Gajah Putih dan bersembunyi menjelma menjadi Singa. 

Ketika sang Aki hendak keluar dan membawa Obor Baralak (Obor dari daun Kelapa kering), ia pun terkejut melihat seekor Singa bersembunyi di bawah rumahnya, sang Aki pun terkejut, dan berkata “ee…., Ja… Singa et amah….” Maka lokasi rumah itu dijadikan daerah dengan nama Jasinga (Sekarang Kp. Jasinga).

Kemudian dikisahkan lagi bahwa Pangeran Purbaya yang berubah menjadi Singa yang bertempur dan mencakar cadas hingga berdarah (sekarang menjadi desa Singabraja, di Daerah Kec. Tenjo, Bogor). 

Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Bali (Singa raja) dalam syiar Islam. Tapi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jasinga, tapi ditengah perjalanan Pangeran Purbaya mengalami sakit (parna) hingga daerah tersebut diberi nama Singaparna, hingga akhirnya wafat di Gunung Galunggung.

Kisah diatas menggambarkan peran Purbaya yang sangat berharga dalam kepahlawanan Banten. ada benarnya jika Pangeran Purbaya digambarkan seekor Singa dan Belanda digambarkan Seekor Gajah Putih. Dan kaitannya dengan Jasinga sebagai tempat berlindung Pangeran Purbaya ketika terjadi kudeta Sultan Haji.

Pangeran Purbaya sangat berjasa alam mempertahankan Banten terutama Banten Selatan. Pangeran Purbaya berkoalisi dengan Untung Suropati (Jawa Timur) ia pun membatasi untuk melawan Belanda dengan garis antara orang-orang Mataram, Batavia dan Sunda yang ada di Cikeas. 

Hingga kini nama Purbaya dijadikan nama suatu daerah di Sukabumi. Nama Jasinga pun dikaitkan dengan tokoh Purbaya (Ee…, Ja… Singa, eta mah…). Karena kata “Ja’ adalah kata identik Jasinga untuk mempertegas kata yang dimaksud. Sama halnya dengan kata “Da” yang ada di daerah Priangan.

Dalam kisah atau riwayat Sunda lainnya Pangeran Arya Purbaya disebut juga Pangeran Perbaya atau Pangeran Purabaya.

Itulah jasa Pangeran Arya Purbaya yang tidak bisa kita lupakan dalam menentang penjajahan Belanda.

Kamis, 18 November 2021

Kisah Shohabat Abu Mahdzuroh RA

 Kelakuan aneh orang-orang zaman now itu tidak ori, dulu pada zaman rasul masih hidup banyak orang-orang yang menjadi musuh islam dan musuh dalam selimut orang-orang islam itu sendiri. Masih menyoal ribut-ribut dimedsos soal Azan yang kemarin menyeret nama Mbah Yai Musthofa Bisri Rembang, ternyata dulu di zaman rasul ada salah satu kisah seorang tokoh yang menistakan azan.

Kisahnya bermula saat rombongan Kanjeng Nabi Muhammad dalam perjalanan pulang dari Hunain dan berpapasan dengan kabilah quraisy waktu itu. Saat rombongan Kanjeng Nabi berhenti untuk salat, rombongan kabilah quraisy itupun lewat. Apa yang mereka lakukan? mereka meniru-niru dan mengejek azan yang dikumandangkan salah satu anggota kabilah kanjeng nabi.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ السَّائِبِ مَوْلَاهُمْ عَنْ أَبِيهِ السَّائِبِ مَوْلَى أَبِي مَحْذُورَةَ وَعَنْ أُمِّ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَاهُ مِنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ أَبُو مَحْذُورَةَ خَرَجْتُ فِي عَشَرَةِ فِتْيَانٍ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيْنَا فَأَذَّنُوا فَقُمْنَا نُؤَذِّنُ نَسْتَهْزِئُ بِهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتُونِي بِهَؤُلَاءِ الْفِتْيَانِ فَقَالَ أَذِّنُوا فَأَذَّنُوا فَكُنْتُ أَحَدَهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَذَا الَّذِي سَمِعْتُ صَوْتَهُ اذْهَبْ فَأَذِّنْ لِأَهْلِ مَكَّةَ فَمَسَحَ عَلَى نَاصِيَتِهِ وَقَالَ قُلْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مَرَّتَيْنِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ ارْجِعْ فَاشْهَدْ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مَرَّتَيْنِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ مَرَّتَيْنِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْحِ فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ وَإِذَا أَقَمْتَ فَقُلْهَا مَرَّتَيْنِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ أَسَمِعْتَ قَالَ وَكَانَ أَبُو مَحْذُورَةَ لَا يَجُزُّ نَاصِيَتَهُ وَلَا يُفَرِّقُهَا لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَيْهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُثْمَانُ بْنُ السَّائِبِ عَنْ أُمِّ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حُنَيْنٍ خَرَجْتُ عَاشِرَ عَشَرَةٍ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ وَقَالَ رَوْحٌ أَيْضًا مَرَّتَيْنِ

مسند أحمد 14951

Telah menceritakan kepada kami [Abdurrozaq] telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Juraij] telah menceritakan kepadaku [‘Utsman bin As-Sa’ib] budak mereka, dari Bapaknya [As-Sa’ib], budak Bani Mahdzurah dan dari [Ummu Abdul Malik bin Abu Mahdzurah] keduanya mendengarnya dari [Abu Mahdzurah] Abu Mahdzurah berkata; “Saya keluar dengan sepuluh pemuda bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yang saat itu beliau adalah orang yang paling kami benci. Lalu mereka mengumandangkan adzan pada kami. Kami berdiri dan mengumandangkan adzan seraya menghinanya. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Datangkan para pemuda itu kepadaku” Lalu beliau bersabda: “Adzanlah kalian” lalu mereka mengkumandangkan adzan, saya adalah salah satu di antara mereka. Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ya. Inilah dia suara yang saya dengar. Pergilah dan kumandangkanlah adzan kepada penduduk Makkah”, lalu beliau mengusap ubun-ubunnya (Abu Mahdzurah) dan bersabda: “Ucapkanlah: ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAH dua kali, dan ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH dua kali, kemudian ulangilah (dengan suara pelan) ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAH dua kali, dan ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH dua kali, HAYYA ‘ALAS SHOLAAH, HAYYA ‘ALAS SHOLAAH, HAYYA ‘ALAL FALAAH HAYYA ‘ALAL FALAAH dua kali, ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLA ALLAH, dan jika kamu adzan pada awal subuh maka ucapkanlah: ASSOLAATU KHOIRUN MINAN NAUM, ASSHALATU KHOIRUN MINAN NAUM, Jika mengiqomatinya maka ucapkan dua kali: QOD QOOMATIS SHOLAAAH QOD QOOMATIS SHOLAAH, apakah kamu mendengar? (Ibnu Abi Mahdzurah Radliyallahu’anhu) berkata; maka Abu Mahdzurah tidak pernah mencukur rambut ubun-ubunnya serta memotongnya karena Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah mengusapnya. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bakar] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata; telah mengabarkan kepadaku [Utsman bin As-Sa’ib] dari [Ummu Abdul Malik bin Abi Mahdzurah] dari [Abu Mahdzurah] dia berkata; tatkala Nabi Shallallahu’alaihiwasallam kembali ke Hunain, kami keluar bersepuluh, lalu dia menyebutkan Hadits yang sama, hanya saja dia menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengucapkan ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR dua kali saja, dan Rauh juga berkata dua kali.

Hadits Ahmad Nomor 14833

Akhlaq Kanjeng Nabi Terhadap Penista Azan

Kanjeng Nabi yang mendengar ejekan-ejekan kabilah Quraisy yang akan menuju kota Hunain itu pun menghentikan dan memanggil mereka dengan lembut. Dipanggilah siapa saja diantara kabilah tersebut yang suaranya paling keras, lalu kemudian diajari azan dengan lembut oleh kanjeng Nabi.

Bahkan awal mula kisah para penista azan ini kemudian malah menjadi Muazin termasyur dan termerdu di Masjidil Haram pada masanya, namanya Abu Mahdzuroh atau Aus bin Rabiah. Bahkan begitu spesialnya pertemuan dan akhlaq yang ditunjukkan Kanjeng Nabi kepada Abu Mahdzuroh, berkembanglah jadi kisah Muazin Gondrong

Nama beliau adalah Aus bin Rabiah bin Mi’yar bin Uraij bin Sa’ad bin Jumah. Ada yang mengatakan nama beliau adalah Salman bin Samurah, atau Salamah bin Samurah. Ada juga yang mengatakan nama beliau adalah Mi’yar bin Muhayriz Berkata Abu Umar : Zubair dan pamannya serta Ibnu Ishaq Al Musayyabi bersepakat bahwa nama asli Abu Mahdzuroh adalah Aus. Mereka adalah orang yang paling mengerti dalam hal ansabu quraisy. Pendapat yang mengatakan beliau bernama Salamah adalah keliru

Adz-Dzhabi, semoga Allah merahmatinya berkata : Abu Mahdzuroh adalah mu’adzdzin masjidil haram, dan termasuk sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia termasuk orang yang suaranya merdu.

Dari semua orang di kabilah menuju Hunain penista azan yang kemudian diajari azan oleh Kanjeng Nabi, ternyata yang paling spesial adalah Abu Mahdzuroh. Suaranya keras namun merdu. Setelah Aus (Abu Mahdzuroh) ini selesai mengumandangkan azan, Kanjeng Nabi menghadiahinya perak, kemudian melepas sorban Abu Mahdzuroh dan mengusap ubun-ubunnya tiga kali seraya mendoakannya 

اللهم بارك فيه، وأهده إلى الإسلام

“Ya Allah, berkahilah dia dan tunjukkan dia ke jalan Islam”

Beliau memberkahiku hingga tiga kali kemudian bersabda :

اذهب فأذن عند البيت الحرام

“Pergilah, kumandangkan adzan di Baitullah!”

Aku bertanya, “Bagaimana caranya Ya Rasulallah?”

Beliau mengajariku adzan sebagaimana para sahabat. Di waktu shubuh ada kalimat

الصلاة خير من النوم

Dan beliau mengajarkan iqomah dua kali tiap-tiap kalimat

Setelah Nabi mengusap ubun-ubunnya, Abu Mahdzuroh berkata, “Demi Allah, tak akan kupotong rambut ini sampai aku mati.

Benar! Abu Mahdzuroh membiarkan rambut ubun-ubunnya memanjang hingga separo tinggi badannya hingga beliau kembali ke rahmatullah karena usapan tangan mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Beliau—semoga Allah meridhoinya—mengumandangkan adzan hingga wafat tahun 54 H. putranya maju menggantikan beliau, kemudian cucunya, turun temurun hingga masa Imam Asy Syafi’i

Tentang panjangnya rambut sahabat Abu Mahdzuroh ini, disebutkan dalam Al Mustadrak ala ash shohihain, juz 4 hal 658 :

أن أبا محذورة ، كانت له قصة في مقدم رأسه إذا قعد أرسلها فتبلغ الأرض ، فقالوا له : ألا تحلقها ؟ فقال : إن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم مسح عليها بيده ، فلم أكن لأحلقها حتى أموت . لم يحلقها حتى مات

Sesungguhnya Abu Mahdzuroh, mempunyai kisah tentang rambut bagian depannya yang panjang. Apabila beliau duduk dan menguraikannya, maka rambutnya menjuntai ke tanah

Teman-temannya berkata, “Mengapa tidak kau potong saja rambutmu?”

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengusapnya dengan tangan beliau. Aku tak akan memotongnya hingga mati”

Duh gusti, paringono pituduh kagem kula lan sedherek-sedherek kula, saget nunut akhlaq kanjeng Nabi kados niku…

Minggu, 14 November 2021

Sekilas Sejarah Mudalrejo Loano

 Desa Loano merupakan desa yang memiliki sejarah panjang sejak masa kerajaan. Loano merupakan tanah yang penuh kisah, sejarahnya tertulis sejak zaman dahulu kala. Berawal dari nama Singgelopuro hingga menjadi desa yang dikenal dengan sebutan Loano saat ini memiliki kisah yang telah ditulis dan diceritakan dari masa ke masa.

Pada sekitar abad ke-13 Masehi telah berdiri kadipaten Loano. Nama Loano ini bermula dari kisah perjalanan Ki Betoro Loano yang mengembara hingga sampai ke pinggir Kali Bogowonto.

Alkisah "Babad Tanah Loano" menjadi sering membumi bagi masyarakat Loano. Kisah yang paling menarik dari cerita Babad Tanah Loano adalah ketika Pangeran Anden Loano putra betoro Lowano menikah dengan Retno Marlangen yang berasal dari Majapahit, ternyata tidak mendapat tempat di hati Pangeran Joyokusumo. Kehidupan puteri yang telah menikah ini singkat cerita diganggu oleh pangeran ini. Hingga pada akhirnya antara Pangeran Anden Loano dengan Pangeran Jaya Kusuma menjadi panas sampai pada perang tanding, hingga Pangeran Anden Loano mengalami kekalahan. Pertarungan ini berlanjut sampai pada turun tangan dari Ki Betoro Loano. dan akibat dari perselisihan itu istilah loano menjadi dikenal, karena perdamaian hati antara keduanya terjadi di bawah pohon lo, loano sendiri dari kata kata di bawah pohon lo mereka bersapa dlm bahasa jawa sapa adalah wanoh, lo wanoh.

Adipati Loano adalah:
Kyai Ageng Bethoro Loano
Anden Loano I,
Anden Loano II,
Kanjeng Gusti Lowano,
Tumenggung Gagak Pranolo I,
Tumenggung Gagak Pranolo II,
Tumenggung Gagak Pranolo III,
Tumenggung Gagak Kumitir I,
Tumenggung Gagak Kumitir II
R.Ngabehi Gagak Handoko.

Sejarah Mudal Rejo

Salah satu wilayah Kadipaten Singgelo (Loano) adalah desa Mudalrejo. Desa Mudalrejo adalah sebuah desa yang aman dan tentram karena mempunyai sesepuh atau penasehat desa yang bijak bernama Ki Hanggabaya.

Ki Hanggabaya mempunyai saudara yang dikenal sakti yang bernama Ki Simbarjoyo. Ki Simbarjoyo, emmpunyai beberapa pusaka yaitu keris, tombak, dan tongkat. Namun, dari ke tiga pusaka milik Ki Simbarjoyo yang paling sering digunakan untuk perang adalah sebuah tombak yang bernama Tombak Kyai Tundung Mungsuh. Ki Simbarjoyo mempunyai sebuah padepokan yang berada di wilayah Geger Menjangan.

Ontran-ontran dari gunung Tidar

Kita tinggalkan sejenak tentang kondisi wilayah Singgelo. Nun Jauh di sana, tepatnya di hutan gunung Tidar ( belum ada nama Magelang ), hiduplah gerombolan penyamun yang dipimpin oleh Ki Simalodra. Ki Simalodra adalah seorang kepala pramp0k yang dikenal sakti mandraguna pilih tanding. Namun, dia mempunyai watak yang kejam dan gemar menghabisi korban rampokan.

Mendengar tentang kekayaan Kadipaten Singgelo, Ki Simalodra berniat untuk mengadakan rampasan di sebuah desa pinggiran wilayah Kadipaten Singgelo. Dengan perencanaan yang matang, akhirnya gerombolan p3ramp0k dari Tidar ini berhasil menjarah harta kekayaan desa tersebut. Warga desa yang melawan, semuanya dib*nuh tanpa sisa. Para wanita warga desa, diculik dan dijadikan pemuas hawa nafsu apra p3ramp0k Tidar. Sedangkan para pemuda, dipaksa dan dijadikan pengikut Ki Simalodra. Pemuda yang menolak, dihabisi tanpa syarat.

Perang tanding antara Tumenggung Handakara dan Simalodra.

Berita tentang Simalodra didengar oleh Adipati Singgelo sehingga membuat suasan Kadipaten Singgelo menjadi resah dan tak aman. Lalu, Adipati Singgelo sowan ke Kerajaan Majapahit dan melaporkan kejadian tersebut. Saat itu, kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya . Atas mandat Brawijaya , diutus seorang mantan senopati dan juga merangkap sebagai Tumenggung, bernama Tumenggung Handakara.

Sebagai wujud darma bakti kepada kerajaan, Tumenggung Handakara menyatakan kesiapannya untuk membasmi semua berandal-berandal Tidar yang telah mengacaukan Kadipaten Singgelo. Lalu, Tumenggung Handakara segera mempersiapkan semua prajuritnya untuk segera menuju gunung Tidar.

Namun, berita tentang rencana penyerangan prajurit Majapahit ke Tidar telah didengar oleh Simalodra. Dengan taktik cerdas, Simalodra pun menyongsong kedatangan para prajurit Majapahit dengan mengadakan pengepungan di hutan Margoyoso dan terjadilah perang antara prajurit Majapahit dengan gerombolan berandal Tidar.

Namun, prajurit Majapahit ternyata tidak menandingi kekuatan pasukan berandal Tidar sehingga mengalami kekalahan. Saat itu pula, terjadi perang tanding antara Tumenggung Handakara dengan Simalodra. Pada awal mula, perang tanding antara kedua orang sakti tersebut seimbang kekuatan.

Akan tetapi, karena faktor usia dimana Simalodra adalah lebih muda, otomatis jiwa, semangat dan kekuatan pun lebih dibanding Tumenggung Handakara. Pedang Simalodra berhasil merobek perut Handakara sehingga t3waslah tumenggung yang setia pada kerajaan Majapait tersebut.

Yel-yel dan teriak kemenangan begitu riuh dari mulut-mulut gerombolan p3ramp0k TIdar sehingga semakin kacau barisan prajurit Majapahit, apalagi pimpinan perang sudah t3was. Akhirnya, para prajurit majapahit saling melarikan diri, dan jenasah Tumenggung Handakara dibawa ke Kadipaten Singgelo. Untuk mengenang jasa, Tumenggung Handakara dimakam di pekuburan Danyangan, letaknya berada di dekat PDAM Mudalrejo.

Ki Hanggabaya melawan Simalodra.

Berita t3wasnya Tumenggung Handakara membuat Kadipaten Singgelo merasa kehilangan seorang prajurit setia dari Kerajaan Majapahit sehingga membuat Ki Hanggabaya merasa ingin menunjukkan darma bakti terhadap kerajaan dan kadipaten yang selama ini memberikan kebaikan terhadap dirinya. Timbul niat dalam hati Ki Hanggabaya untuk menumpas gerombolan p3ramp0k Tidar.

Betapa senang hati Adipati Singgelo mendengar niat Ki Hanggabaya untuk menumpas komplotan penyamun TIdar. Maka, diberikan beberapa prajurit Kadipaten Singgelo untuk membantu Ki Hanggabaya. Dengan bantuan 40 prajurit pilih tanding, pasukan Hanggabaya segera menuju Tidar.

Saat itu, Simalodra sedang menikmati hasil rampokan dan beristirahat di sebuah pohon Lo. Tiba-tiba, datang seorang anak buah yang memberitakan adanya pasukan dari Kadipaten Singgelo menuju Tidar. Lalu, dikumpulkan anak buah Simalodra dan menentukan taktik perang dengan mengepung barisan prajurit Kadipaten Singgelo di hutan Margayasa.

Ketika pasukan Hanggabaya sampai ditujuan, suasana sepi. Tiba-tiba, muncul gerombolan Simalodra yang datang dari semak-semak hutan segala arah, mengepung pasukan Hanggabaya, terjadilah perang tanding antara prajurit Singgelo dengan gerombolan Tidar. Namun, lagi-lagi kekuatan gerombolan Tidar berada di atas kekuatan prajurit Singgelo dan menyebabkan beberapa prajurit t3was di tempat. Begitu juga di pihak Simalodra, banyak anak buah yang t3was oleh sepak terjang Ki Hanggabaya.

Dengan sekali loncat, Simalodra langsung berhadapan dengan Hanggabaya dan terjadilah perang tanding antara keduanya. Kondisi fisik Simalodra memang sangat kuat dan tangkas dalam perang sehingga dalam beberapa waktu perang, Hanggabaya terdesak mundur. Ayunan pedang dari Simalodra berhasil melukai tangan Hanggabaya. Disaat lengah karena kekuatan tubuh tak imbang, pedang Simalodra berhasil menusuk dada Hanggabaya, t3waslah seorang sesepuh desa Mudalrejo dan sosok prajurit Singgelo yang setia.

Lalu, dibawa jenasah Ki Hanggabaya kembali ke Singgelo dan dimakamkan di desa Mudalrejo di dukuh Onggopaten yang letaknya tak jauh dari makam Ki Hanggabaya. Dukuh Onggopaten, posisinya berada di sebelah selatan PDAM Mudalrejo, atau pemandian Simbarjoyo.

Ki Simbarjoyo Mengamuk, Menantang Tanding Perang Untuk Simalodra.

Berita kematian Ki Hanggabaya sampai ke wilayah Geger Menjangan dan membuat marah saudaranya, yaitu Ki Simbarjoyo. Sifat buruk Ki Simbarjoyo adalah mudah marah, dan sedikit agak sombong. Dengan memegang tombak Kyai Tundung Mungsuh, Ki Simbarjoyo sesumbar, bahwa dia sangat optimis dapat menghabisi dan tak akan mundur sebelum tombaknya menembus dada Simalodra.

Nyali Ki Simbarjoyo bisa dikatakan tinggi, dia mendatangi gerombolan p3ramp0k Tidar seorang diri, tanpa mau dibantu oleh murid-muridnya. Tentu saja ini tanpa rencana sehingga pihak lawan tidak mengerti kedatangan Ki Simbarjoyo. Ini adalah sebuah taktik tersendiri bagi Simbarjoyo. Selain itu, Ki Simbarjoyo merasa sangat sakti dan mampu membasmi gerombolan p3ramp0k Tidar dengan tangan sendiri dan tombak Kyai Tundung Mungsuh.

Singkat cerita, sampailah Simbarjoyo di tempat persembunyian gerombolan Simalodra, yaitu di hutan Margoyoso, sebuah hutan perbatasan antara Kadipaten Singgelo dan Tidar ( Magelang ). Saat itu, anak buah Simalodra sedang bersenang-senang menikmati jarahan, hasil m3ramp0k desa lain. Tanpa banyak dialog, Ki Simbarjoyo langsung mengamuk dan mengayunkan tombak Tundung Mungsuh ke anak buah Simalodra.

Meskipun dikeroyok, Simbarjoyo tidak mundur bahkan berada di atas angin. Banyak anak buah Simalodra yang t3was ditusuk tombak Simbarjoyo. Saat itu, Simalodra berada di tempat lain. Sambil mengamuk dan mengayunkan tombak, Simbarjoyo berteriak " Mana Simalodra !!".

Salah satu anak buah p3ramp0k berhasil melarikan diri berusaha menemui Simalodra. Dengan luka parah, anak buah p3ramp0k melaporkan keadaan hutan Margoyoso. Segera Simalodra cancut taliwondo, menuju tempat peperangan dan sekali lompat, Simalodra langsung berhadapan dengan Simbarjoyo.

Suara deru antara pedang Simalodra dan tombak Simbarjoyo sangat membisingkan telinga. Dari kedua pihak, tampaknya sama-sama sakti dan sama kuat. Namun, tombak Tundung Mungsuh menjadi patah terkena sabetan pedang Simalodra. Dengan keadaan lengah, tendangan Simalodra mendarat ke dada sehingga Simbarjoyo terpelanting jauh masuk jurang, dan akhirnya jatuh ke sebuah air terjun di hutan Margoyoso, di aliran sungai Bogowonto.

Akhir sebuah perjalanan Simalodra.

Salah satu saudara Ki Simbarjoyo, adalah Ki Honggopati. Beda orang, beda sifat. Ki Honggopati adalah seorang yang ramah dan sabar. Mendengar berita kekalahan dari Simbarjoyo, Honggopati merasa sudah saatnya untuk turun gunung dan menumpas p3ramp0k Tidar. Niatnya bukan untuk bela saudara, tetapi Ki Honggopati mempunyai niat bela negara dan ingin melindungi warga desa dari ganasnya berandal Tidar.

Kemudian, Ki Honggopati memanggil para cantrik dan murid-muridnya untuk menemani saat perang melawan Simalodra. Para murid dan cantrik sangat setuju dan mendukung perjuangan Ki Honggopati, dan bersiap-siap menuju lembah gunung Tidar.

Singkat cerita, belum sampai ke Margoyoso, para p3ramp0k ternyata sudah berada di loano. dan bertemulah pasukan Honggopaten dan gerombolan Simalodra di sebelah utara Loano sehingga terjadi perang. Tombak trisula Honggopaten yang dipegang Ki Honggopati berhasil membuat luka dan menghabisi banyak kawanan p3ramp0k. Melihat kejadian itu, Simalodra segera melompat dan menghadang sepak terjang Honggopati, terjadilan perang tanding.

Antara Honggopati dan Simalodra sama-sama kuat dan seimbang. Keduanya sama-sama lincah dan saling menangkis serangan. Namun, kelincahan Simalodra berada di bawah ketrampilan perang Honggopati. Sebuah tusukan trisula honggopaten berhasil menusuk perut Simalodra, sehingga terburai dan keluar usus Simalodra. T3waslah sudah kepala p3ramp0k yang sakti itu. Tak hanya Simalodra, semua anak buah p3ramp0k Tidar yang berjumlah 40 dibunuh semua, tanpa sisa.

Sorak-sorai prajurit Honggopaten menyerukan suara kemenangan. Lalu, 40 orang p3ramp0k Tidar di kuburkan dalam satu lobang, atau di kalong sehingga tempat tersebut sekarang bernama dukuh Kalongan. Dukuh Kalongan berada di sebelah timur PDAM Mudalrejo, di pinggir kali Kodil.

Asal mula PDAM Mudalrejo dan pemandian Simbarjoyo

Setelah mengalami kekalahan dan dengan keadaan terluka dalam, Simbarjoyo berusaha pulang ke desa Mudalrejo dan merenungi kesombongannya selama ini. Lalu, beliau pergi ke kaki gunung Sumbing untuk bertapa. Selang beberapa tahun berlalu, Simbarjoyo pulang ke Mudalrejo. Saat pulang, beliau menemukan sumber mata air yang memancar sangat jernih. Kemudian, dia berkata pada murid-muridnya bahwa mata air tersebut diberi nama mata air Mudal. Sedangkan dukuhnya diberi nama dukuh Simbarjoyo. Setelah wafat, Ki Simbarjoyo dimakamkan dekat mata air, tepatnya sebelah utara.

Oleh pemerintah Hindia Belanda, mata air Simbarjoyo dirubah menjadi pemandian Simbarjoyo. Maka, semakin gemah ripah loh jinawi keadaan dukuh Simbarjoyo dengan adanya mata air dan pemandian Simbarjoyo. Namun, pada sekitar tahun 1980, pemandian Simbarjoyo dirubah oleh Pemerintah Indonesia menjadi PDAM yang bisa menyediakan air ke beberapa desa di Purworejo, bahkan hingga ke kota Purworejo.

Makam Purwo Suci Kedinding

 Kabupaten Blora pada masa lampau merupakan salah satu daerah kekusasaan Kesultanan Pajang yang terletak di bagian timur dari monarki tersebut. Di sudut paling timur dari Kabupaten Blora terdapat salah satu kadipaten paling dinamis di Kaesultanan Pajang kala itu, Kadipaten Jipang Panolan.

Kadipaten Jipang Panolan dikatakan dinamis karena situasi perdagangan dan pemerintahan di Kadipaten Jipang Panolan sendiri dipengaruhi oleh mengalirnya Sungai Bengawan Solo di sebelah timur kadipaten tersebut.

Selain itu, aroma perlawanan juga kuat mengingat karena Adipati Jipang Panolan adalah Arya Penangsang, Putra Pangeran Sekar. Pangeran Sekar sendiri adalah Putra Kesultanan Demak yang dibunuh oleh penerus Sultan Trenggana (Sultan Demak) yang bernama Sunan Prawoto. Peristiwa pembunuhan Pangeran Sekar inilah yang membuat hubungan Pajang sebagai penerus Kesultanan Demak dengan Jipang Panolan penuh dengan ketegangan. Mengahadapi potensi pemberontakan Kadipaten Jipang Panolan yang dapat meletus sewaktu – waktu,

Kesultanan Pajang melakukan kunjungan langsung ke wilayah Kadipaten Jipang Panolan untuk meredam situasi tersebut. Dalam kunjungan “ tidak resmi “ tersebut delegasi Pajang yang dipimpin oleh Sultan Pajang sendiri memilih daerah Kedinding – Kedungtuban sebagai tempat singgah.

Makam Pirwo Suci

Makam Purwo Suci Kedungtuban terletak di dukuh Kedinding Desa Ngarho kecamatan Kedungtuban + 43 Km kearah tenggara dari kota Blora, mudah dijangkau kendaraan roda dua ataupun roda empat sampai kejalan desa, serta jalan kaki sambil menikmati pemandangan alam untuk mencapai ke makam + 500 m karena letaknya berada di puncak perbukitan dengan luas areal + 49 m2.

Menurut informasi atau cerita dari masyarakat setempat, makam Purwo Suci adalah makam seorang Adipati Panolan sesudah Ario Penangsang bernama Pangeran Adipati Noto Wijoyo. Didalam halaman tersebut juga terdapat makam Nyai Tumenggung Noto Wijoyo.

Karena jasa-jasanya yang sampai saat ini masih dikunjungi masyarakat untuk tujuan tertentu bahkan pernah dipugar oleh Bupati Blora RT Tjakranegara II yang berkuasa pada 1857-1886, pada tahun 1864 dengan memakai sandi sengkolo, Karenya Guna Saliro Aji (1864) menurut cerita yang panjang makam ini cocok dikunjungi wisatawan yang senang olah roso dan olah kebatinan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Rabu, 10 November 2021

Kisah Karomah Wali Musyafa' Kaliwungu

 Kyai Musyafa' bin H. Bahram dimakamkan di bukit Protomulyo, tepatnya dekat makam KH Mustofa, sebelah timur Kampung Gadukan Kutoharjo Kaliwungu. Kyai Musyafa' (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama Kaliwungu yang memiliki karomah dan kesaktian tertentu. Karena beliau dikenal sebagai waliyullah (red. kekasih Allah), maka tidak heran jika beliau memiliki banyak kelebihan berupa karomah. Kyai Musyafa' hidup antara tahun 1920 s.d. 1969.

Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, ini pun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riyadhah.

Selama hidup, Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Bahkan ada orang yang menganggap Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan manusia pada umumnya. Persangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya.

Rahasia Mbah Syafa’ sebagai wali akhirnya terbongkar. Ceritanya pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ dibuat gempar. Saat itu setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke desa Mbah Syafa. Dia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ mengetahui sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.

Tetangga –tetangga menganggap tak mungkin Mbah Syafa’ akan menunaikan ibadah haji. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih kekurangan,

Sejak peristiwa menakjubkan itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya.

1.) Kewalian Kyai Musyaffa’ diketahui Waliyullah Hadi Kendal

Banyak cerita menarik seputar kewalian Kyai Musyafa'. Konon di Kendal dahulu pernah ada seorang waliyullah Abdul Hadi namanya. Ketika beliau akan wafat, beliau menyampaikan pesan kepada Habib Umar, penjaga beliau dikala sakit, yang tak jelas maknanya. Beliau mengatakan, "Nyonya dengklek kidul mesjid Kaliwungu nyambut gawe kulak jaritan" (Artinya :Nyonya Dengklek sebelah selatan masjid Kaliwungu bekerja sebagai tengkulak kain). Pada saat waliyullah Abdul Hadi itu meninggal dunia, maka terlihat cahaya (nur) yang bersinar ke arah Kiai Musyafa'. itulah barangkali tanda awal kewalian Kyai Musyafa'.

2.) Air Satu Ceret Berbeda-beda Rasanya

Selain itu, ada beberapa cerita orang tua yang merupakan saksi ahli tentang keanehan-keanehan yang dianggap merupakan ciri karomah atau kewalian Mbah Kyai Musyafa'. Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.

3.) Memotong Pohon Kelapa

Kisah unik lain ketika Mbah Wali Syafa' memotong pohon kelapa. Ceritanya berawal dari seorang tetangga yang resah dan khawatir karena pohon kelapanya condong di atas rumahnya. Mendengar keresahan itu, maka Mbah Syafa' bertandang. Beliau langsung yang naik pohon kelapa untuk memotong pohon yang condong di atas atap rumah tetangganya itu. Setelah selesai di potong, ternyata pohon kelapa itu jatuhnya justru berlawanan dengan rumah warga itu. Logikanya pohon itu seharusnya jatuh persis di atas rumah tetangganya itu. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Di sinilah orang makin yakin akan kelebihan karomah Mbah Syafa’.

4.) Isyarat Untuk Tentara

Sekitar tahun 1960-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’ dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara. Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. “Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’. Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.

Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur. Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.

6.) Terhindar Dari Serangan Mortir

Ketika terjadi serangan tentara Jepang, masyarakat sudah panik dan lari kesana kemari mencari perlindungan. Namun Mbah Wali Syafa' justru tenang-tenang aja di teras rumahnya membaca surat Yasin. Beberapa kali Mbah Wali membacanya, akhirnya tiba-tiba berhentilah serangan mortir tentara Jepang tadi. “Inilah Barokahnya bacaan surat Yasin yang dibaca Kyai Musyafa',” Allahu A’lam

7.) Uang Seribu Tak Pernah Habis

Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika Rasyid saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Kaliwungu. Rasyid, tukang sapu kantor tersebut ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah. Dia tidak mengetahui pada saat itu Mbah Syafa’ ia telah meninggal dunia. Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke makam Kyai Syafa’.

8.) Mengetahui Isi Hati Orang

Meski telah terbukti karomahnya, masih terdapat pula orang yang tidak mempercayai bahwa Mbah Syafa’ adalah wali. Maka suatu saat Kyai Muchid dari Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu, bergumam serasa meragukan berita kewalian Mbah Wali Syafa'. Akhirnya dia mempunyai rencana untuk menguji kewalian Mbah Syafa’. "Apa benar Mbah Kyai Musyafa'itu seorang waliyullah? Coba aku mencoba karomahnya akan pura-pura meminjam uangnya Kyai Syafa’ ", niat Kyai Muchid pada dirinya sendiri. Kyai Muchid kemudian sampai di halaman rumah Kyai Musyafa', tiba-tiba Kyai Musyafa' berkata dengan nada perintah, "Muchid, ke pasar saja memakai bathok kelapa kalau akan mengemis". Padahal saat itu Kyai Muchid belum mengatakakan apapun. Begitu mendengar ucapan Kyai Musyafa, maka Kyai Muchid terdiam, tak berani berkata sepatah kata pun. Dia tidak jadi mengutarakan niatnya akan meminjam uang.

9.) Mengetahui Masa Depan Seseorang

Dikisahkan, semasa menjadi santri di Kaliwungu, KH. Mahrus Lathif (Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, Tawangrejosari, Semarang) datang bersama dengan rekan santri lainnya dengan maksud bertanya, siapa calon istri dan jodohnya. Mereka datang silaturahmi di kediaman Kyai Musyafa’ dan diterima dengan baik oleh sang Kyai. Oleh Kyai Musyafa’,santri-santri lain diberi minuman air teh, setiap santri mendapatkan satu gelas. Akan tetapi, KH. Mahrus diberi tiga gelas teh. Ini teh untukmu, ayo diminum, kata Kyai Musyafa’ menyodorkan tiga gelas teh kepada KH. Mahrus. Para santri yang datang saling berpandangan, namun mereka terdiam tidak berani menanyakan. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1966, dan peristiwa itu pun terlupakan sudah. Belakangan, isyarat yang diberikan Kyai Musyafa’ kepada KH. Mahrus baru diketahuinya. Yakni, ternyata KH. Mahrus kini telah beristri tiga kali. Persis sebagaimana isyarat yang dikemukakan oleh Kyai Musyafa’ dengan tiga buah gelas teh yang dihidangkannya ketika dia datang bersama rekan-rekan santri untuk bertanya tentang jodohnya.