Translate

Kamis, 24 Februari 2022

Nasehat Imam Syafi'i Tentang Keajaiban Seseorang

 Sebagian besar masyarakat kita masih suka dan gandrung terhadap klenik, magis, dan tak jarang mereka tertipu karena yang bersangkutan secara fisik berpenampilan dengan bersorban, dan tak jarang dilakukan oleh seorang ustaz katanya.

Ahlus Sunnah wal Jamaah juga mengimani adanya karamah (keistimewaan) bagi wali-wali Allah, namun tidak setiap hal yang luar biasa dikatakan karamah, bisa saja sebagai istidraj (sebagai penangguhan azab baginya). Cara membedakan antara karamah dan istidraj adalah dengan melihat keadaan orang tersebut apakah dia di atas Akidah yang benar, di atas ibadah yang sesuai Sunnah, akhlak yang mulia atau tidak ?

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ أَوْ يَطِيْرُ فِي الْهَوَاءِ فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ وَلاَ تَغْتَرُّوْا بِهِ حَتَّى تَعْلَمُوْا مُتَابَعَتَهُ لِلرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Apabila kamu melihat ada seseorang yang berjalan di atas air atau terbang di udara, maka janganlah kamu membenarkannya dan jangan pula tertipu olehnya sampai kamu mengetahui bahwa ia mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”
(Tafsiir Al-Qur’an al-‘Adziim 1/326. Perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dengan sanadnya dalam kitabnya Aadaab Asy-Syaafi’i wa Manaaqibuhu hal 184)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani juga menasehati:

" "Sesungguhnya yang terpatri di kalangan orang awam bahwasanya keajaiban/kesaktian menunjukkan barang siapa yang melakukannya adalah termasuk wali-wali Allah. Dan ini merupakan kesalahan dari orang yang mengatakannya. Karena sesungguhnya keajaiban/kesaktian terkadang muncul melalui tangan orang yang berada di atas kebatilan seperti tukang sihir, dukun, dan pendeta. Karenanya orang yang hendak menjadikan kesaktian sebagi bukti kewalian membutuhkan pembeda. Dan pembeda yang paling utama yang mereka sebutkan adalah dengan menguji kondisi/keadaan pemilik kesaktian/keajaiban tersebut. Jika orang tersebut berpegang teguh dengan perintah-perintah syari'at dan menjauhi larangan-larangan syari'at maka keajaiban tersebut merupakan tanda kewaliannya, dan barang siapa yang tidak demikian maka keajaiban tersebut bukanlah tanda kewalian"
(Fathul Baari 7/383)

Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah (wafat 792 H) mengatakan:

في الحقيقة إنما الكرامة لزوم الاستقامة ، وأن الله تعالى لم يكرم عبدا بكرامة أعظم من موافقته فيما يحبه ويرضاه وهو طاعته وطاعة رسوله

“Karomah yang sebenar-benarnya adalah seseorang tetap bisa istiqomah. Allah Ta’ala tidak memuliakan seorang hamba dengan suatu karomah yang paling besar kecuali dengan memberinya taufiq untuk tetap melaksanakan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai, yaitu taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2/ 748).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وانما غاية الكرامة لزوم الاستقامة، فلم يكرم الله عبدا بمثل أن يعينه على ما يحبه ويرضاه، ويزيده مما يقربه اليه ويرفع به درجته

“Sesungguhnya karomah yang paling ‘sakti’ adalah seseorang tetap bisa istiqomah. Allah tidak memuliakan seorang hamba dengan kemuliaan yang lebih besar ketimbang ia diberi pertolongan untuk tetap bisa melakukan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai, dan menambah apa-apa yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan mengangkat derajatnya di hadapan Allah” (Al Furqan baina Auliya-ir Rahman wa Auliya-isy Syaithan, 1/187).

Maka karomah yang paling sakti bukanlah hal-hal ajaib seperti bisa terbang, bisa jalan di atas air, bisa mengubah daun jadi uang, dan semisalnya. Karomah paling sakti adalah seseorang menghabiskan hari-harinya dalam keadaan bisa istiqamah di atas ketaatan dan tidak bermaksiat. Sungguh ini sangat sulit kita dapati pada diri-diri kita, dan andai ada orang yang bisa demikian, dialah wali Allah yang sejati.
Wallohu A'lam

Rabu, 23 Februari 2022

Penjelasan Tentang Adanya Wali Majdzub

 Meyakini adanya manusia pilihan yang menjadi kekasih Allah adalah salah satu ajaran dalam agama Islam. Kekasih Allah atau yang biasa dikenal dengan waliyullah adalah orang-orang terpilih yang memiliki kedekatan secara khusus dengan Allah subhanahu wata’ala. Mengenai waliyullah ini, Al-Qur’an menjelaskan:

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Yunus: 62).

Waliyullah secara umum terdiri dari berbagai macam kategori. Mulai dari wali abdalwali autadwali nuqaba’wali nujaba’, sampai wali qutb al-aqthab. Para waliyullah ini mengemban berbagai macam tugas masing-masing serta diberi keistimewaan oleh Allah dengan memiliki karamah yang berbeda-beda (Syekh Dliya’uddin Ahmad bin Mushthafa, Jami’ al-Ushul fi al-Auliya, hal. 168).

Jalan yang ditempuh mereka tak lain adalah menggapai marifatullah. Dalam ilmu tasawwuf, terdapat dua jalan untuk menggapai makrifat ini. 
Pertama, suluk. Jalan ini adalah pilihan jalan yang ditempuh secara normal. Seseorang yang mengamalkan laku tasawuf secara tidak langsung juga disebut sebagai salik
Kedua, jadzab. Jalan ini adalah jalan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuh jalan ini.

Dua jalan menuju ma‘rifatullah di atas, secara sederhana diilustrasikan dalam kitab Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid berikut:

اعلم أن الجذب والسلوك مثلهما كالأشجار، شجرة الجذب لها عروق وفروع، وكذلك شجرة السلوك لها عروق وفروع وكلّ عرق وفرع منهما له أثمار. عروق الجذب هي العلوم اللدنية الغيبية، وأثمار فروع الجذب هي أن يكون صاحبها بأمر الله تعالى يقول للشيء كن فيكون والكلّ مواهب وكذلك عروق شجر السلوك تثمر بالعلم الظاهر، وفروعه تثمر بالعمل الظاهري، وإن تفاوت أهل السلوك مع أهل الجذب إلّا أنَّ أهل السلوك عبادتهم من وراء حجاب، وأهل الجذب ما بينهم وبين الله حجاب منه إليهم، ومنهم إليه

“Ketahuilah bahwa jadzab dan suluk itu seperti pepohonan. Pohon jadzab memiliki akar dan tangkai, begitu pula pohon suluk juga memiliki akar dan tangkai. Setiap akar dan tangkai dari kedua pohon tersebut memiliki buah. Akar dari pohon jadzab adalah ilmu laduni yang bersifat ghaib, dan buah dari tangkai pohon jadzab adalah saat orang yang jadzab mendapat perintah Allah agar mengatakan pada sesuatu kun fa yakun, segalanya murni pemberian dari Allah. Sedangkan akar dari pohon suluk dapat membuat pohon berbuah dengan Ilmu yang dzahir (tampak) dan tangkainya berbuah dengan amal yang bersifat dzahir, meski orang yang mengamalkan laku suluk dan orang jadzab berbeda, orang yang mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, sedangkan orang jadzab tidak ada di antara mereka dan Allah penghalang apa pun. (Pesan) dari Allah langsung pada mereka, dan (ibadah) dari mereka langsung tertuju pada Allah” (Syekh ‘Ali bin Abdurrahman bin Muhammad al-Imrani, Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid, Hal. 17)

Berdasarkan referensi di atas, orang yang mengamalkan laku suluk masih berada di bawah orang yang sudah sampai pada fase jadzab. Jadzab sendiri oleh para ulama didefinisikan dengan pengertian berikut:

الجذبة هي التجلي الإلهي، وفيها يحصل التحقيق بالأسماء الإلهية، والاستشعار بالاسم الصمد

“Jadzab adalah tampaknya sifat-sifat ilahi. Ketika dalam kondisi jadzab, akan betul-betul tampak secara nyata sifat-sifat Allah dan (seseorang) mampu merasakannya” (Syekh Mahmud Abdur Rauf al-Qasim, al-Kasyf an Haqiqah as-Shufiyyah, juz 1, hal. 244)

Orang yang dalam kondisi jadzab seringkali melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa. Sebab apa yang dilakukan oleh mereka dalam keadaan jadzab sudah di luar kapasitasnya sebagai manusia.

Meski demikian, patut dibedakan antara orang yang melakukan hal-hal aneh (khâriq al-âdah) karena memang betul-betul jadzab dengan orang yang hanya pura-pura jadzab. Untuk menandai perbedaan dua orang ini cukup sederhana, yakni dengan cara melihat tingkah laku orang tersebut setelah kondisi terjaga. Jika saat kondisi normal, ia senantiasa berdzikir dan  beribadah serta menjauhi hal-hal duniawi yang bersifat profan, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan adalah berangkat dari maqam jadzab.

Sebaliknya, jika seseorang setelah dalam kondisi normal justru lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang-orang yang memiliki ambisi duniawi, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan bukanlah bermula dari keadaan jadzab, tapi hanya sebatas tipu daya yang dilakukannya untuk menarik perhatian orang lain. Perbedaan dua karakteristik ini seperti yang digambarkan dalam pembahasan menari saat berdzikir yang dijelaskan dalam kitab Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa ‘alaihi al-Bukhari wa Muslim:

واعلم أن الرقص فى حال الذكر ليس من الشرع ولا من المروءة ولم يعذر فيه الّا الفرد النادر من أهل الأحوال والجذب وله عند القوم علامة يميزون بها بين ما كان منه عن جذب حقيقي وبين ما كان عن تلاعب وتلبيس على الناس فقد قالوا إنّ المجذوب إذا كان بعد الصحو يوجد معرضا عن الدنيا وأهلها مقبلا على ذكر الله وعبادته فهذا جذبه حقيقي ويعذر فى رقصه وإذا كان بعد الصحو من تجاذبه ورقصه يوجد مقبلا على الدنيا متأنسا بأهلها لا فرق بينه وبينهم فى الأحوال واللهو فهو متلاعب كاذب فى دعوى جذبه صاحب رقص ولعب فهو ممن اتّخذ دينه هزوا ولعبا

“Ketahuilah bahwa menari pada saat berdzikir bukan bagian dari ajaran syariat dan bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Tindakan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk dibenarkan oleh siapa pun kecuali bagi orang khusus dari kalangan orang jadzab. Menurut sebagian kalangan (ulama sufi) jadzab memiliki tanda-tanda tertentu yang membedakan antara tindakan jadzab yang hakiki dan tindakan yang berangkat dari main-main dan tipu daya di hadapan manusia.

Mereka berkata bahwa orang yang jadzab ketika setelah sadar ia berpaling dari dunia dan menghadap untuk berdzikir pada Allah dan beribadah kepada-Nya, maka sikap jadzabnya adalah sikap jadzab yang sungguhan, tindakannya menari saat berdzikir dianggap udzur. Sedangkan ketika setelah sadar dari jadzab dan selesai menari saat dzikir, seseorang lantas menghadap pada dunia dan merasa senang berjumpa dengan orang yang tergiur dengan dunia, hingga tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang yang tergiur dengan dunia dalam perbuatan dan sikap main-mainnya, maka ia adalah orang yang main-main dan bohong atas klaim kejadzabannya saat menari dan bersenda gurau, ia adalah bagian dari orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau” (Syekh Muhammad Habibullah bin Abdullah as-Syinqithi, Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa ‘alaihi al-Bukhari wa Muslim, juz 3, hal. 155)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jadzab adalah sebuah keadaan saat seseorang sudah lepas dalam kapasitasnya sebagai manusia karena tampak secara jelas padanya sifat-sifat Allah (tajalli), segala keanehan perbuatan yang dilakukan dalam kondisi jadzab bermula dari petunjuk Allah. Orang yang sudah sampai pada maqam jadzab ini biasa dikenal dengan sebutan majdzub. Sedangkan masyarakat mengenal orang yang sudah sampai pada maqam ini dengan sebutan wali jadzab atau wali majdzub. 
Wallohu A'lam

Kamis, 17 Februari 2022

Anjuran Rosululloh Agar Kaum Muslimin Punya Skill Memanah

 Dalam sejumlah hadits disebutkan, bahwa di antara olahraga yang disunnahkan adalah memanah, berkuda dan berenang. Apa saja keutamaan memanah, kita simak hadits-hadits berikut.

Akhir-akhir ini, olahraga memanah mulai digalakkan oleh sejumlah pihak. Klub-klub memanah pun juga muncul di mana-mana. Kelas-kelasnya pun beragam. Ada yang tradisional, ada yang modern. Ada horse bow (memanah untuk berkuda), jemparingan (memanah sambil duduk), standar bow (panahan standar dengan pegangannya terbuat dari kayu), ada juga recurve (panahan yang pegangannya terbuat dari besi.

Bagi sebagian kalangan, memanah barangkali hanya untuk sekadar olahraga atau untuk bersenang-senang (fun). Namun, bagi kaum muslimin, tujuan memanah lebih dari itu, yakni menghidupkan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dicatat oleh Al Bazzar dalam Musnad-nya (1048), Al ‘Athar dalam Juz-nya (52), Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath (2093), dari jalan Hatim bin Laits,

حَاتِمُ بْنُ اللَّيْثِ الْجَوْهَرِيُّ , قَالَ : نا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ , قَالَ : نا أَبُو عَوَانَةَ ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ أَبِيهِ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” عَلَيْكُمْ بِالرَّمْيِ ، فَإِنَّهُ خَيْرٌ لَعِبِكُمْ

“dari Hatim bin Laits Al Jauhari, ia berkata: Yahya bin Hammad menuturkan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Awwanah menuturkan kepada kami, dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu) ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘hendaknya kalian latihan menembak karena itu permainan yang paling bagus bagi kalian‘”

Derajat Hadits

Hadits ini gharib, tidak ada jalan lain selain jalan ini.

Hatim bin Laits Al Baghdadi Al Jauhari. Al Khathib berkata: “ia tsiqah tsabat mutqin hafidz“, sebuah pernyataan ta’dil yang tinggi derajatnya. Ad Dzahabi berkata: “ia al hafidz al muktsir ats tsiqah

Yahya bin Hammad. Abu Hatim Ar Razi berkata: “ia tsiqah”. Ibnu Hajar berkata: “ia tsiqah, ahli ibadah”.

Abu ‘Awwanah Al Wadhah bin Abdillah. Abu Hatim Ar Razi berkata: “kitabnya shahih, namun jika ia menyampaikan hadits dari hafalannya, sering salah. ia statusnya shaduq dan tsiqah. ia lebih bagus hafalannya dari Hammad bin Salamah”. Ibnu Hajar berkata: “ia tsiqah tsabat“.

Abdul Malik bin ‘Umair Al Farsi. Abu Hatim Ar Razi berkata: “shalihul hadits namun hafalannya berubah sebelum wafatnya”. An Nasa-i berkata: “laysa bihi ba’san“. Ibnu Hajar berkata: “ia tsiqah, fasih, alim, namun hafalannya berubah dan terkadang melakukan tadlis“.

Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Ibnu Hajar berkata: “ia tsiqah, sering memursalkan hadits dari Ikrimah”. Adz Dzahabi berkata: “ia tsiqah“.

Dari data di atas, nampaknya permasalahan ada pada Abdul Malik bin ‘Umair Al Farsi. Al Albani menyatakan: “Abdul Malik bin ‘Umair hafalannya berubah sebelum wafatnya sehingga aku men-jazm-kan keshahihan sanad ini.

Adapun tentang ia disifati dengan tadlis, ini masih bisa ditoleransi karena hanya sedikit saja tadlis yang ia lakukan. Sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Hajar dengan perkataan beliau ‘terkadang melakukan tadlis‘”.

Pernyataan beliau juga sejalan dengan yang diisyaratkan dalam komentar Al Mundziri tentang hadits ini: “diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabrani dalam Al Ausath, dan sanadnya jayyid qawiy” (At Targhib, 2/170). Sehingga tidak ada masalah yang tersisa pada Abdul Malik bin ‘Umair Al Farsi, dengan demikian ia tsiqah.

Kesimpulannya, derajat hadits ini shahih (diringkas dari Silsilah Ash Shahihah, 2/204-205).

Faidah Hadits

Al Munawi rahimahullah menjelaskan:
hendaknya kalian latihan menembak‘, yaitu dengan panah
karena itu permainan yang paling bagus bagi kalian‘, maksudnya ia adalah lahwun yang paling baik bagi kalian. Asalnya, maknanya lahwun adalah relaksasi jiwa dengan melakukan sesuatu yang tidak ada tujuan khususnya. dan (dalam bahasa arab) alhaaniy asy syai-i dengan alif, artinya ‘hal itu telah menyibukkanku‘ (Faidhul Qadir, 4/340). Dari penjelasan Al Munawi ini, lahwun artinya sesuatu yang bisa merelaksasi jiwa dan menyibukkan.

Makna ar ramyu secara bahasa:

رَمَى الشيءَ  : ألقاهُ وقَذَفه

ramaa asy syai-a artinya ‘melempar sesuatu’

ويقال : رمَى عن القوس وعليها رَميًا : أطلق سَهْمَهَا

jika dikatakan ramaa ‘anil quusi (busur panah) wa’alaiha ramyan artinya ‘ia menembakkan anak panah’.
(lihat Mu’jam Al Washith)
Sehingga yang dimaksud hadits ini adalah melempar atau menembakkan sesuatu yang bisa menjadi senjata melawan musuh, termasuk disini memanah, melempar tombak, termasuk juga menembak dengan pistol atau senapan dan semacamnya. Andai dianggap menembak dengan pistol (atau alat penembak modern lain) tidak termasuk ar ramyu maka tetap dapat di-qiyas-kan dengannya karena memiliki illah yang sama. Wallahu’alam.

Keutamaan skill menembak atau melempar dan anjuran untuk memiliki skill tersebut secara umum. Dalil-dalil lain tentang hal ini sangat banyak, diantaranya:
Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir:

سمعتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، وهو على المنبرِ ، يقول  وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ . ألا إنَّ القوةَ الرميُ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al quwwah (kekuatan) yang kalian mampu‘ (QS. Al Anfal: 60) Rasulullah bersabda: ‘ketahuilah bahwa al quwwah itu adalah skill menembak (sampai 3 kali)’” (HR. Muslim 1917)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من تعلَّم الرميَ ثم نسِيَه ؛ فهي نعمةٌ جحَدها

Barangsiapa yang belajar menembak lalu ia melupakannya, maka itu termasuk nikmat yang ia durhakai” (HR Ath Thabrani dalam Mu’jam Ash Shaghir no.4309, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib 1294)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اللهْوُ في ثلاثٍ : تأديبُ فرَسِكَ ، و رمْيُكَ بِقوسِكِ ، و مُلاعَبَتُكَ أهلَكَ

Lahwun (yang bermanfaat) itu ada tiga: engkau menjinakkan kudamu, engkau menembak panahmu, engkau bermain-main dengan keluargamu” (HR. Ishaq bin Ibrahim Al Qurrab [wafat 429H] dalam Fadhail Ar Ramyi no.13 dari sahabat Abud Darda’, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 5498 )

Keutamaan skill menembak atau melempar dalam jihad fii sabiilillah. Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak juga, diantaranya sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إذا أَكثَبوكم – يعني أكثروكم – فارموهُم ، واستبْقوا نَبْلَكم

Jika mereka (musuh) mendekat (maksudnya jumlah mereka lebih banyak dari kalian), maka panahlah mereka terus-menerus” (HR. Bukhari 3985)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ستفتح عليكم أرضون ويكفيكهم الله فلا تعجز أحدكم أن يلهو بسهمه

Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian, dan Allah mencukupkan itu semua atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas untuk memainkan panahnya” (HR. Muslim 1918)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن بلغَ بسَهْمٍ في سبيلِ اللَّهِ ، فَهوَ لَهُ درجةٌ في الجنَّة فبلَّغتُ يومئذٍ ستَّةَ عشرَ سَهْمًا قالَ : وسَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ يقولُ : مَن رمى بسَهْمٍ في سبيلِ اللَّهِ فَهوَ عدلُ محرَّرٍ

Barangsiapa yang menembak satu panah yang mengenai musuh dalam jihad fii sabilillah, baginya satu derajat di surga. (Abu Najih As Sulami -perawi hadits- berkata) Dan panahku hari ini mengenai musuh sebanyak 16x. Aku juga mendengar Rasulullah bersabda: ‘Barangsiapa yang menembak satu panah dalam jihad fii sabiilillah setara dengan memerdekakan budak‘” (HR. An Nasa-i 3143, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن رمى العدُوَّ بسَهمٍ فبلغَ سَهمُه العدوَّ أصابَ أو أخطأَ فعدلُ رَقَبةٍ

“Barangsiapa yang menembak satu panah kepada musuh baik kena atau tidak kena, pahalanya setara dengan memerdekakan budak“” (HR. Ibnu Majah 2286, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن رَمَى بسهْمٍ في سبيلِ اللهِ ؛ كان له نورًا يومَ القيامةِ

Barangsiapa yang menembak satu panah dalam jihad fii sabilillah ia mendapat satu cahaya di hari kiamat kelak” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra no.17035, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib 1292)

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits

ألا إنَّ القوةَ الرميُ

ketahuilah bahwa al quwwah itu adalah skill menembak
beliau menjelaskan: “Dalam hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna ada keutamaan skill menembak serta keutamaan skill militer, juga anjuran untuk memberi perhatian pada hal tersebut dengan niat untuk jihad fii sabiilillah. Termasuk juga latihan keberanian dan latihan penggunaan segala jenis senjata. Juga perlombaan kuda, serta hal-hal lain yang sudah dijelaskan sebelumnya. Maksud dari semua ini adalah untuk latihan perang, mengasah skill dan mengolah-ragakan badan” (Syarh Shahih Muslim, 4/57).

Ali Al Qari ketika menjelaskan hadits

ستفتح عليكم أرضون ويكفيكهم الله فلا تعجز أحدكم أن يلهو بسهمه

Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian, dan Allah mencukupkan itu semua atas kalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian merasa malas untuk memainkan panahnya
beliau menjelaskan:
“Al Muzhahir berkata, ‘maksudnya orang Romawi sebagian besar dalam perang mereka menggunakan panah. Maka hendaknya kalian belajar memanah sehingga bisa menandingi orang Romawi lalu Allah akan membuka negeri Romawi untuk kalian dan mencegah keburukan orang Romawi atas kalian. Dan jika Romawi sudah ditaklukkan, janganlah tinggalkan latihan memanah dengan berkata, kita sudah tidak butuh lagi skill memanah untuk memerangi mereka. Jangan begitu, bahkan pelajarilah terus-menerus skill memanah karena itu akan kalian butuhkan selamanya’.
Al Asyraf berkata, ‘Tidak selayaknya kalian malas belajar memanah sampai tiba waktunya untuk menaklukan negeri Romawi, maka Allah pasti menolong kalian untuk menaklukannya. Ini adalah dorongan dari Rasulullah Shalawatullah ‘alaihi untuk berlatih memanah. Artinya, bermain-main dengan panahan itu tidak terlarang’.
Ath Thibi berkata, ‘Nampaknya pandangan yang kedua lebih tepat karena huruf fa dalam kalimat فلا يعجز adalah fa sababiyyah. Seolah-olah beliau berkata, Allah Ta’ala sebentar lagi akan membukan negeri Romawi untuk kalian dan mereka itu ahli memanah. Dan Allah akan mencegah makar mereka atas kalian dengan sebab skill memanah kalian. Oleh karena itu janganlah kalian malas untuk menyibukkan diri dengan panah kalian. Artinya, hendaknya kalian bersemangat dalam perkara panah-memanah, berlatihlah dan pegang skill tersebut dengan gigi geraham. Sampai ketika tiba waktunya untuk memerangi Romawi, kalian sudah hebat dalam hal itu’. Sebab dianjurkan menjadikan panahan sebagai lahwun karena adanya kecenderungan untuk menyukai latihan memanah juga menyukai pertandingan dan perlombaan memanah. Karena jiwa manusia itu punya kecenderungan besar kepada perkara-perkara lahwun” (Mirqatul Mafatih, 6/2499).

Islam sangat menganjutkan umatnya untuk memiliki skill yang dapat digunakan untuk melawan musuh.

Bermain itu perkara mubah, namun hendaknya memilih permainan yang bermanfaat dalam pandangan syar’i.

Setiap hari Uqbah bin Amir Al Juhani keluar dan berlatih memanah, kemudian ia meminta Abdullah bin Zaid agar mengikutinya namun sepertinya ia nyaris bosan. Maka Uqbah berkata, “Maukah kamu aku kabarkan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Mau.” Uqbah berkata, “Saya telah mendengar beliau bersabda:

يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَاحِبَهُ الَّذِي يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالَّذِي يُجَهِّزُ بِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِي يَرْمِي بِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالَ ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah; orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang menyiapkannya di jalan Allah serta orang yang memanahkannya di jalan Allah.” Beliau bersabda: “Berlatihlah memanah dan berkuda. Dan jika kalian memilih memanah maka hal itu lebih baik daripada berkuda.” (AHMAD – 16699)

Hadits di atas menggambarkan betapa Rasulullah saw sangat menganjurkan agar seorang muslim peduli dengan persiapan untuk berjihad di jalan Allah. Memanah dan berkuda merupakan dua kegiatan yang terkait dengan hal itu. Dan seorang muslim perlu memiliki semangat untuk berjihad di jalan Allah. Mengapa? Karena Nabi saw memperingatkan bahwa raibnya semangat berjihad mengindikasikan hadirnya kemunafikan dalam diri.

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِمَاتَ عَلَى شُعْبَةِ من نِفَاقٍ

“Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” (Abu Dawud 2141)

Seorang muslim diharapkan memiliki kecintaan kepada agamanya sehingga ia rela mengorbankan jiwanya demi kemuliaan Islam jika tuntutannya demikian. Dan berjihad di jalan Allah merupakan bukti tertinggi komitmen seorang muslim. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan muslim yang bersedia mengorbankan jiwa dan hartanya demi menegakkan agama Allah adalah seperti orang yang terlibat dalam perniagaan terbaik dengan Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS Ash-Shoff 10-13)

Tradisi jihad sebagai sebuah perniagaan atau jual-beli antara orang beriman dengan Allah SWT bukan merupakan tradisi yang baru diperkenalkan oleh Nabi Akhir Zaman, yaitu Nabi Muhammad saw. Namun tradisi ini sudah Allah tetapkan semenjak diwahyukannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as dan Kitab Injil kepada Nabi Isa as.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. (QS At-Taubah 111)

Allah SWT menawarkan kepada orang beriman agar menjual diri dan harta mereka kepada Allah SWT dengan bayarannya berupa surga untuk mereka. Wujud jual-belinya ialah berupa kesediaan seorang mukmin untuk berperang di jalan Allah, lalu ia membunuh atau terbunuh di medan perang. Perkara ini sudah Allah janjikan semenjak turunnya  Kitab Taurat dan Injil kemudian Al-Qur’an. Ironisnya dewasa ini, masyarakat yahudi-nasrani yang mendominasi dunia diizinkan dan dimudahkan untuk membangun kekuatan militer mereka. Bahkan mereka dapat dengan seenaknya mengerahkan armada perangnya ke negeri mana saja yang mereka sukai. Termasuk ke negeri-negeri kaum muslimin sebagaimana yang kita saksikan di Palestina, Irak dan Afghanistan. Kehadiran pasukan mereka di bumi Islam tidak dipandang sebagai sebuah tindak kriminal atau pelanggaran hukum internasional. Sementara bila kaum muslimin berusaha mempersenjatai diri, maka mereka segera dilabel sebagai kelompok teroris.

Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk memperhatikan kewajiban syariat yang satu ini. Tidak pantas bila ummat Islam menghindar untuk mempersiapkan diri membangun armada perang sedangkan Barat kafir yang diwakili oleh kekuatan militer yahudi-nasrani dibiarkan bebas menyusun bahkan memobilisasi kekuatan militer mereka sesuka hati. Oleh karenanya, sudah sewajarnya bila kaum muslimin berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapakn berbagai kekuatan –termasuk armada perang- dalam rangka memenuhi perintah mulia Allah SWT.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal 60)

Untuk itu marilah kita memulai upaya persiapan tersebut dengan melakukan apa yang jelas-jelas telah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya ialah memanah.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ } أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!”  (ABUDAUD – 2153)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَيْسَ اللَّهْوُ إِلَّا فِي ثَلَاثَةٍ تَأْدِيبِ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتِهِ امْرَأَتَهُ وَرَمْيِهِ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ كَفَرَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَ بِهَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri.” (NASAI – 3522)

Wallohu A'lam Bish-Showaf

Senin, 14 Februari 2022

Kisah Waliyulloh Yang Ahli Neraka

 Beriman kepada hari akhir merupakan sebuah bentuk ketakwaan umat Islam kepada Allah SWT.


Di dalam keimanan, umat Islam meyakini jika di hari akhir ada dua tempat yang menjadi tujuan umat manusia sesuai dengan amal ibadahnya selama di dunia.


Kedua tempat itu adalah surga dan neraka. Manusia tidak bisa memilih salah satu diantara tempat itu. Karena hanya Allah SWT yang memiliki kuasa untuk menetapkannya.


Namun ternyata, bukan hanya orang-orang zalim yang akan ditempatkan Allah di neraka. Bahkan, seorang yang ahli ibadah pun bisa dijadikan penghuni neraka oleh Allah.


Ada seorang sufi dari kalangan tokoh tasawuf yang bernama Syarif Quthub al-‘Arifin Abdul Aziz bin Mas’ud ad-Dabbagh al-Idrisi al-Hasani al-Fasi. 

 Beliau dalam kalangan tokoh tasawuf termasuk ulama kelas atas, wali min auliyaillah, ahli ibadah.


Suatu ketika malaikat melihat namanya di lembaran kitab Lauhul Mahfudz ada dalam deretan penghuni neraka. Melihat hal tersebut malaikat merasa kasihan dan mendatangi Abdul Aziz Ad-dabagh.


Malaikat berkata: wahai Abdul Aziz untuk apa engkau ibadah sampai segitunya sedangkan aku lihat namamu di lembaran Lauhul Mahfudz engkau adalah penghuni neraka. Mau ibadah gimana pun engkau tetap akan masuk neraka.


Kemudian Abdul Aziz menjawab: wahai malaikat, surga dan neraka bukan urusanku, aku diciptakan oleh Allah swt hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagaimana Allah swt berfirman,


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ


 tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu. 

Mau aku masuk surga atau neraka itu hakNya Allah swt.


Subhanallah, benar-benar ikhlas dalam beribadah.

Kemudian malaikat kembali ke Lauhul Mahfudz dan dilihat namanya dirubah oleh Allah swt menjadi penghuni surga. Sebab Allah berhak menetapkan kitabullah.


Lantas malaikat kembali menemui Abdul Aziz dan berkata: wahai Abdul Aziz ada kabar gembira, baru saja aku melihat namamu oleh Allah dirubah menjadi penghuni surga.


Abdul Aziz menjawab: Alhamdulillah, tapi sekali lagi malaikat, surga dan neraka bukan urusanku, aku beribadah hanya untuk menggapai ridhoNya Allah swt, kalau Allah swt ridho aku di neraka, ya itulah tujuanku.


Malaikat pun takjub dengan keikhlasan Abdul Aziz dalam beribadah dan berkata: wahai Abdul Aziz, ikhlasmu inilah yang membuat Allah ridho dan merubah namamu menjadi penghuni surga.


Lantas Abdul Aziz bertanya kepada malaikat: kalau ikhlasku tadi yang membuat Allah ridho kepadaku, lalu kira-kira dosa apa yang membuat Allah swt murka kepadaku sehingga aku menjadi penghuni neraka?


Kemudian malaikat bercerita: engkau ingat ketika engkau masih kecil ketika umurmu sekitar 15 tahunan, engkau ingat ketika engkau tidur di kamar tidurmu, kemudian engkau mendengar suara langkah kaki ibumu menuju tempat tidurmu untuk menyuruhmu membeli sesuatu di pasar? Karena engkau mendengar suara langkah kaki ibumu menuju kamarmu, lalu engkau pura-pura tidur padahal engkau sudah bangun agar engkau tidak disuruh pergi ke pasar. Ketika ibumu membuka pintu kamarmu dan melihatmu masih tidur, ibumu merasa kasihan dan tidak jadi menyuruhmu ke pasar. Sebab engkau bohongi ibumu Allah swt murka dan menjadikan namamu sebagai penghuni neraka.


Mendengar cerita dari malaikat, Abdul Aziz pun beristighfar memohon ampun kepada Allah swt.


Semenjak kejadian tersebut Abdul Aziz Ad-dabagh disisa umurnya tidak pernah berceramah kecuali tentang berbakti kepada orang tua. Setiap orang yang datang kepada beliau selalu diwasiatkan untuk berbakti kepada orang tuanya.


Mari kita renungkan sejenak!

Padahal beliau hanya pura-pura tidur, lalu bagaimana yang sampai membentak ibunya?

Bagaimana yang sampai memasamkan wajahnya kepada ibunya?

Yang mengeraskan suaranya di depan ibunya?

Yang sampai tidak memberi nafkah?

Dan bahkan yang sampai membuat menangis ibunya, bagaimana kira-kira nasibnya?

Mari kita belajar bersama-sama untuk lebih berbakti kepada orang tua kita baik yang masih hidup ataupun yang telah wafat.

Jangan meremehkan dosa kecil dikhawatirkan disitu ada murkaNya Allah swt.

Jika tangan kita masih sulit untuk berbuat baik padanya, maka ringankanlah lisan kita untuk senantiasa mendoakan kedua orang tua kita.


Semoga Allah swt mengampuni semua dosa-dosa orang tua kita. Aamin.

Sabtu, 12 Februari 2022

Sholat Rosululloh saw Sebelum Isro' Mi"roj

 Lazim diketahui bahwa shalat diwajibkan bagi umat Nabi Muhammmad setelah isra’ dan mi’raj. Artinya, kewajiban shalat baru ada setelah peristiwa isra’ mi’raj. Ini disekapati oleh mayoritas ulama, meskipun mereka berbeda pendapat kapan waktu terjadi isra’ mi’raj.

Perlu diketahui, kewajiban shalat lima waktu memang baru muncul setelah isra’ mi’raj, tapi bukan berarti sebelum itu Nabi Muhammad tidak pernah mengerjakan shalat. Sebetulnya kewajiban shalat sudah ada sebelum peristiwa isra’ mi’raj. Shalat diwajibkan kepada Nabi Muhammad sejak awal ia diangkat sebagai nabi dan menerima wahyu pertama.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Ahmad dan Ad-Daraquthni bahwa:

أن جبريل أتاه في أول ما أوحي إليه فعلمه الوضوء والصلاة

Artinya, “Jibril datang kepada Rasul ketika menyampaikan wahyu pertama dan mengajarkan Rasul wudhu’ dan shalat,” (HR Ahmad dan Ad-Daraquthni).

Menurut Ibnu Ishaq, kewajiban shalat dimulai sejak Rasulullah menerima wahyu pertama. Bahkan, Rasul dan Khadijah sudah shalat sebelum shalat lima waktu diwajibkan.

Pernah ada seseorang yang bertanya kepada A’isyah tentang shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab

أَلَيْسَ تَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ؟ يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ، إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ قِيَامَ اللَّيْلِ فِي أَوَّلِ هَذِهِ السُّورَةِ، فَقَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ حَوْلًا حَتَّى انْتَفَخَتْ أَقْدَامُهُمْ، وَأَمْسَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَاتِمَتَهَا اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا، ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التَّخْفِيفَ فِي آخِرِ هَذِهِ السُّورَةِ فَصَارَ قِيَامُ اللَّيْلِ تَطَوُّعًا بَعْدَ أَنْ كَانَ فَرِيضَةً

Pernahkah anda membaca surat ini (surat Al-Muzammil)? Sesungguhnya Allah mewajibkan shalat malam seperti di awal surat ini. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melaksanakan shalat malam selama setahun, sampai kaki mereka bengkak, dan Allah tidak turunkan ayat-ayat akhir surat ini selama 12 bulan. Kemudian Allah menurunkan keringanan untuk shalat malam seperti disebutkan pada akhir surat ini, sehingga shalat malam hukumnya anjuran, setelah sebelumnya kewajiban. (HR. Nasai 1601, Ibnu Khuzaimah 1127).

Kemudian keterangan lainnya juga terdapat dalam hadis panjang yang menceritakan dialog antara Heraklius dengan Abu Sufyan, ketika dia mendapat surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan,

“Apa yang diperintahkan nabi itu kepada kalian?”

Jawab Abu Sufyan, yang saat itu sedang berdagang di Syam,

يَقُولُ : اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ؛ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ

Nabi itu mengajarkan, “Beribadahlah kepada Allah semata dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, tinggalkan apa yang menjadi ajaran nenek moyang kalian. Dia memerintahkan kami untuk shalat, zakat, bersikap jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari 7 dan Muslim 1773)

Ketika menjelaskan hadis ini, Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

وهو يدل على أن النبي كان أهم ما يأمر به أمته الصلاة ، كما يأمرهم بالصدق والعفاف ، ، واشتُهر ذلك حتى شاع بين الملل المخالفين له في دينه ، فإن أبا سفيان كان حين قال ذلك مشركا ، وكان هرقل نصرانيا . ولم يزل منذ بُعث يأمر بالصدق والعفاف ، ولم يزل يصلي أيضا قبل أن تفرض الصلاة

Kisah ini menunjukkan bahwa perintah terpenting yang diserukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah shalat, sebagaimana beliau memerintahkan mereka untuk bersikap jujur, menjaga kehormatan… Ajaran ini menjadi terkenal hingga tersebar ke berbagai pengikut agama selain islam. Karena Abu Sufyan ketika dialog itu masih musyrik, dan Heraklius beragama Nasrani. Dan sejak diutus beliau senantiasa memerintahkan untuk bersikap jujur dan menjaga kehormatan, beliau juga senantiasa shalat, sebelum shalat diwajibkan (shalat 5 waktu). (Fathul Bari Ibn Rajab, 2/303).

Sebagian ulama mengatakan, kewajiban shalat pertama kali adalah 2 rakaat di waktu subuh dan 2 rakaat sore hari. Berdasarkan keterangan Qatadah – seorang tabiin, muridnya Anas bin Malik –,

كان بدءُ الصيام أمِروا بثلاثة أيام من كل شهر ، وركعتين غدوة ، وركعتين عشية

Puasa pertama kali yang diperintahkan adalah puasa 3 hari setiap bulan, dan shalat 2 rakaat di waktu pagi dan 2 rakaat di waktu sore. (Tafsir At-Thabari, 3/501).

Meskipun ada ulama yang menolak keterangan Qatadah ini. Apapun itu, intinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah mengenal shalat sebelum peristiwa isra mi’raj.

Wallohu A'lam

Sabtu, 05 Februari 2022

Kidung Rumekso Ing Wengi

 SERAT KIDUNGAN KAWEDAR

KIDUNG KAWEDAR

SAKING AKSARA JAWI KASALIN,

KABABAR AKSARA LATIN

KIDUNGAN PUNIKA SERAT KINA PRALAMBANG

NGELMI ISLAM INGKANG SEJATI, TUWIN

MINONGKO WEWARAH TUWIN PAMUJINING

KAWULO DHATENG GUSTI, IKETANIPUN

KANJENG SUNAN KALIJAGA

WALIYULLAH NUSA JAWI


Sekar Dhandhanggula Tinggalanipun para leluhur Yasa dalem kanjeng sunan Kalijaga mugi saget dados tambahing seserepan.


Pupuh Kaping 01 :


Ano kidung rumekso ing wengi,

Teguh ayu luputa ing lara,

Luputa bilahi kabeh,

Jim setan datan purun,

Paneluhan tan ana wani,

Miwah penggawe ala,

Gunane wong luput,

Geni tinemahan tirto,

Maling adoh datan ana ngarah ing mami,

Guna duduk pan sirno.


Kawedaraken suraosipun makaten :

Wonten puji ingkang kanggenipun manawi ing wanci dalu. Inggih punika : mugi-mugi pinaringan teguh, rahayu, linepatna ing sesakit,  uwin linepatno sakathahing bilahi. Puji makaten punika, katindakna ing saben wanci dalu.

Anggadhahi daya : Jim setan, paneluhan sedaya mboten wonten ingkang angrencana :

Tiyang ingkang sumedya mendamel piawon tuwin ingkang anggunani sacara dhesti utawi japa mantra, sedaya mboten saget tumomo. Tiyang ingkang sengit dados tresno, bangsanipun pandung sami nebih mboten wonten ingkang sumedyo ngarah dateng kita, tuwin tuju duduk sami cabar.

Menggah ingkang katembangaken ana kidung rumeksa ing wengi punika miturut wewatoning ngelmi namung kangge sanepa. Dene sejatosipun inggih punika SANG SABDA KUN (sang guru jati)  panjenenganipun wau inggih ingkang rumeksa ing dalu. Tegesipun : SANG GURU JATI wau manawi wanci dalu andum sandang tedha tuwin ingkang mundhi papesthen sadaya lelampahaning manungsa, sarta ingkang anggadhahi daya panguaos ingkang semanten agengipun. Pramila cundhukipun kalian tiyang ingkang sampun anggadhahi ngelmi.

Menawi ing wanci dalu punika namung perlu anjejeraken cumadhong dhawuh kados pundhi ingkang badhe kita lampahi saben dintenipun. Kenging damel ancer-ancer tekad. Dados ing wancinipun siang punika kantun tumindak ngupaya boga punapa ingkang sampun dados tanggel jawabipun, kanti awas tuwin enget wau.

Manawi pangestinipun wau saget gambuh kalian GURU JATI, kita inggih kadunungan daya panguaos kados inggih ingkang kapretalaken ing nginggil.


Pupuh Kaping 02 :


Sakehing lara pan samya bali,

Sakehing ama pan samya miruna,

Welas asih pandulune,

Sakehing braja luput,

Kadi kapuk tiba ing wesi,

Sakehing wisa tawa,

Sata galak tutut,

Kayu aeng lemah sangar songing landhak,

Guwaning wong lemah miring,

Myang pakiponing merak.


Kawedaraken suraosipun makaten :

Tuwin saking dayanipun kidung wau, sakathahing penyakit ingkang badhe dhateng lajeng sami wangsul. Sak kathahing ama ingkang andadosaken karibetan ing lelampahan sami sumingkir tebih. Sedaya wau namung anggadhahi raos welas lan asih. Saupami wonten ingkang badhe sumedya anamani dedamel, inggih sampun ndilalah mesti lepatipun, saupami kengingo inggih mboten kraos punapa-punapa.


Pepindhanipun kados dene kapuk dumawah wonten tosan. Saupami kenging wisa saget tawar. Saupami kepethuk sato kewan ingkang galak inggih nboten purun mangsa, kewang wau dados tutut.

Punapa dene manawi ngambah ing wit-witan ingkang angker, tuwin siti ingkang sangar inggih lajeng dados cabar.

Samanten agengipun daya panguosipun kidung sak lampah-lampah kita tansah jinangkung ingkang wilujeng ing kawilujengan sarta kaleresan. Wondene inkang katembungaken songing landhak, guwaning wong lemah miring myang pakiponing merak, punika namung pralambang, miturut wewaton ngelmi.

Tegesipun : anedhahaken wiwitanipun dumadosanipun manungsa, lantaran saking kakung tuwin wanita (bapa tuwin biyung).


Katranganipun : Bapa anggenipun anitisaken wiji dhateng biyung korud dening kama wonten salebeting mani, madi, wadi tuwin maningkem. Ingriku punika anggenipun sang Hyang Maha Suci amardeng titah. Nanging wiji wau taksih dumunung ing nukat Gaib awujud cahya wening.


Pupuh Kaping 03 :


Pagupakaning warak sakalir,

Yen winaca ing segara asat,

Temahan rahayu kabeh,

Apan sari rahayu,

Ingideran kang widodari,

Rineksa malaekat,

Sakathahing rasul,

Pan dadi sariro tunggal,

Ati Adam utegku bagenda Esis,

Pangucapku ya Musa.


Kawedaraken suraosipun makaten :

Pagupakaning warak sakalir,

Inkang makaten punika namung pralambang, katranganipun :

Wijining manungsa wau sagetipun dados wujut asalipun saking daya warni-warni kadosto.

- Titipanipun bapa biyung.

- Tuwin anasir ALLAH wolung prakawis inggih punika : ingkang sekawan prakawis dados prakawis anasiring badan kang alus. 1. Surya, 2 Candra, 3 Kartika, 4 Swasana. Dene ingkang sekawan Prakawis dados anasiring badan kuwadhagan, 1 Geni, 2 Angin, 3 Banyu, 4 Bumi.

Yen winaca ing segara asat,

Ingkang makaten punika namung paribasan, katranganipun : Sedaya anasir wau namung kapendhet sarinipun, saking daya panguaosipun SANG SABDO KUN, utawi namung kasabdaaken kemawon sampun saget dados.

Temahan rahayu kabeh,

Katranganipun : Satunggal-satunggaling anasir wau, dumadosipun dados praboting manungsa kalayan sampurna.

Apan sari rahayu,

Katranganipun : Lajeng saget wujud janggerenganing sariro.

Ingideran kang widodari,

Katranganipun : Sasampuning wujud Janggerenging sariro, lajeng kapanjingan 5 prakawis inggih punika, 1. NUR, 

2 RAHSA,

 3 ROH,

4 NAPSU, 

5 BUDI.


Rineksa malaekat,

Tegesipun : manungsa punika ugi rineksa ing malaekat.

Katranganipun : Malaekat ingkang rumeksa salebeting badan punika miturut wewaton ngelmi cacahipun wonte 4, dene lenggahipun wonten.

1. Jabarail lenggahiun wonte ing kulit.

2. Mikail lenggahiun wonte ing balung.

3. Isrofil lenggahipun wonten ing otot.

4. Ngijroil lenggahipun wonten ing daging.

Sakathahing rasul,

Tegesipun : Tuwin rineksa sakathahing utusanipun Gusti Allah.

Dene ingkang ingaken utusan punika, katranganipun RASUL, menggah raos ingkang dumunung ing manungsa, punika peranganipun wonten 3 golongan.

1. RAOS SEJATI, dumunung satelenging manah kawastanan : Rahsaning Sukma. Inggih punika ingkang dados pangretosan tumpraping GAIB.

2. RAOS KADIM, Dumunung ing MANAH, dados raos pangraos, inggih punika ingkang saget ambedaaken LERES tuwin LEPAT.

3. RAOS NJAWI,  Dumunung wonten PANCA DRIYO. Inggih punika pucuking driji saget anedhaakena barang kasar tuwin alus. TUTUK saget ngraosaken legi gurih GRONO saget angraosaken wangi tuwin bacin, NETRO saget angraosaken padhang tuwin peteng, KARNO saget angraosaken suwanten sora tuwin lirih.

Pan dadi sariro tunggal,

Tegesipun : sadoyo wau dumunung dados satunggal wonten ing badaning manungsa. Wondene ingkang katembungaken : ATI ADAM UTEGKU BAGENDHO ESIS punika kateranganipun anerangaken gelaran mumukaning prabot kita.

Ati Adam utegku bagenda Esis,

Kadosta : ATI ADAM Tegesipun : Ati punika asilipun saking titipanipun biyung. Saget dados ratuning badan , manawi kurang satiti saget dumawah sangsara lelampahanipun.

Dene ati punika peranganipun wonten 3 prakawis, inggih punika:

1. ATI SANUBARI. Pakartinipun kangge angrimati kawruh pancadriya utawi kangge angraos-raosaken.

2. ATI SIRI. Pakartinipun anuwuhaken karep ingkang dereng kawedal krentek utai niat.

3. ATI MAKNAWI. Pakartinipun anuwuhaken raosing pangertosan dhateng GAIB (karsa ingkang wiwitan).Ingkang makaten wau dipun sanepaaken NABI ADAM inggih dados manungsa ingkang wiwitan.

Wondene UTEGKU BAGENDHO ESIS tegesipun : uteg punika asalipun saking titipanipun biyung kenging kangge mikir-mikir utawi imbang-imbang sedaya lelampahan ingkang badhe kita lampahi sageta katetepan iman eling. Dados makaten punika dipun sanepaaken BAGENDHO ESIS inggih katetepaken iman eling, saget dados panutanipun para nabi.

Pangucapku ya Musa,

Tegesipun : Pangandika asalipun saking jantung, ewodene manawi saget sampurna, inggih dumugi ing insan kamil (dumununging pagesangan ingkang leres) ingkang makaten punika dipun sanepaaken NABI MUSA, inggih tansah mundhi dhawuh pangandikaning ALLAH, lajeng saget dados panutanipun tiyang golongan bani Israel saking tanah mesir dateng tanah kenangan. Namung saking dayaning pangandikanipun kemawon, lajeng saget dipun pitados ing tetiyang kathah.


Pupuh Kaping 04 :


Napasku nabi Ngisa linuwih,

Nabi Yakub pamiarso ningwang,

Yusuf ing rupaku mangke,

Nabi Dhawud swaraku,

Jeng Soleman kasekten mami,

Nabi Ibrahim nyawa,

Idris ing rambutku,

Bagendho Li kulit ingwang,

Getih daging Abubakar Ngumar Singgih,

Balung bagendho Ngusman.


Kawedharaken suraosipun makaten:

Napasku nabi Ngisa linuwih,

Tegesipun : napas menika dados tetangsuling badan , asalipun saking anasir angina mahanani 4 perkawis inggih punika : 

1. NAPAS

 2. ANPAS 

3. TAN NAPAS 

4. NUPUS.

Menawi kita saget anggumelengaken lampahing napas ingkang saking lebet utawi njawi, saestunipun saget anuwuhaken kanyataning karsa ingkang linagkung. Ingkang makaten wau kaupameaken kados dene NABI NGISA inggih dados tetangsuling agami.

Nabi Yakub pamiarso ningwang,

Tegesipun : Nabi Yakup punika satunggaling nabi ingkang tetep pangabektinipun dating Gusti Alla sarta tansah remen niling-nilingaken sasmita dhawuhing pangeran. Amila dipun sanepaaken pamiarsa kita, ing sasaget-saget kita ugi kepareng aniling-nilingaken dhateng piwulang ingkang sae utawi samitaning pangeran.

Yusuf ing rupaku mangke,

Tegesipun : Nabi Yusup punika lelampahanipun wiwit alit nandang papa sangsara jalaran kenging panganiaya, namung sangsaranipun wau namung dados sarananing kaleresan. Inggih punika lajeng saget jumeneng adipati wonten negari Mesir.

Pramila dipun sanepaaken rupi kita, amargi rupi punika, dados warananing warna. Dene warna punika dados warananing GAIB.

Dados rupi kita kita punika sadaya dados warananing gaib ingkang linangkung utawi titipaning Allah.

Nabi Dhawud swaraku,

Tegesipun : Nabi Dhawud punika wiwit alit namung dados juru pangen mendha. Katarik saking kamursidanipun tuwin swaranipun sae, lajeng saget jumeneng Nabi utawi ugi jumeneng nata. Pramila dipun sanepaaken swara kita, amargi swara kita punika inggih dados kanyataning gaib.

Jeng Soleman kasekten mami,

Tegesipun : Kanjeng Nabi Soleman punika inggih jumeneng nabi inggih jumeneng nata. Kagungan kasekten ingkang linangkung inggih punika : Dipun luluti para nata ing sakiwa tengenipun, sarta para wadya balanipun sadaya sami setya tuhu sumungkem ing gusti. Namung katarik saking pangaribawanipun sarta kawicaksananipun pramila dipun sanepaaken kasekten kita. Amargi kita menika sejatosipun inggih gadhah kasekten kadosdene kanjeng Nabi Soleman wau. Inggih punika bilih kita saget gambuh kalian GAIB.

Nabi Ibrahim nyawa,

Tegesipun : Nabi Ibrahim punika satunggaling nabi ingkang santosa kapitadosanipun dumateng gusti Allah . salampah-lampahipun namung mituhu dhateng dhawuh pangandikaning Allah . Pramila dipun sanepaaken nyawa kita. Amargi nyawa wahananing SUKSMA dene SUKSMA punika dados kanyataningsun, dados inggih kedah gegandengan loroning atunggal supados saget gesang ingkang kaleresan.

Idris ing rambutku,

Katranganipun : namung anedahaken bilih rambut punika asalipun saking titipanipun Bapa.

Bagendho Li kulit ingwang,

Katranganipun : namung anedahaken bilih kulit punika asalipun saking titipanipun Bapa.

Getih daging Abubakar Ngumar Singgih,

Katranganipun : namung anedahaken bilih getih tuwin daging punika asalipun saking titipanipun BIYUNG.

Balung bagendho Ngusman,

Katranganipun : namung anedahaken bilih balung punika asalipun saking titipanipun Bapa.


Pupuh Kaping 05 :


Sungsumingsun Patimah linuwih,

Kang minangka rahayuning angga,

Ayub minangka ususe,

Nabi nuh ing jejantung,

Nabi yunus ing otot mami,

Netraku ya Mukammad,

Panduluku rasul,

Pinayungan Adam sarak,

Sampun pepak sakathahing para nabi,

Dadyo sariro tunggal.


Kawedarakensuraosipun makaten :

Sungsumingsun Patimah linuwih,

Katranganipun : namung anedahaken bilih sungsum punika asalipun saking titipanipun BIYUNG.

Kang minangka rahayuning angga,

Tegesipun : sungsum punika ingkang andadosaken kesegeraning badan.

Ayub minangka ususe,

Katranganipun : namung anedahaken bilih usus punika asalipun saking titipanipun BIYUNG.

Nabi nuh ing jejantung,

Tegesipun : Nabi Nuh punika dados plawanganing Allah nalika andhawuhaken jagad badhe dipun kelem. Pramila dipun sanepaaken jantung amargi jantung punika ugi dados plawanganing dhawuhipun sang Guru Jati utawi anedhahaken bilih asalipun saking titipanipun biyung.

Nabi yunus ing otot mami,

Katranganipun : namung anedahaken bilih otot punika asalipun saking titipanipun BAPA.

Netraku ya Mukammad,

Tegesipun : Namung anedhahaken bilih salebeting netro ingkang pethak punika wonten gaibipun awujud CAHYA. Kawastanan : NUR MUKAMMAD, inggih punika ingkang minangka awasing paningal.

Panduluku rasul,

Tegesipun : naming anedhahaken bilih raos punika lenggahipun wonten ing netra ingkang cemeng. Katitik saking emating raos lajeng kiyer-kiyer. Katranganipun : Rasul punika utusan. Menggahing ngelmi ingkang ingaken utusan punika raos.

Pinayungan Adam sarak,

Tegesipun : Jabang bayi punika bilih badhe lair anampeni prajanjian dening Allah.utawi kinucungan ing wewaler. Katranganipun : Benjing tumindakipun wonten ing alam donya manawi purun angestoaken dhawuhipun Gusti Allah inggih badhe manggih wilujeng sak lami-laminipun. Nangin manawi namung miturut pambujuking sadherek sekawan gangsal pancer inggih badhe nandhang papa sangsara sak lami-laminipun.

Sampun pepak sakathahing para nabi,

Dadyo sariro tunggal.

Tegesipun : Sedaya ingkang dipun gelaraken ing nginggil wau, sampun jangkep praboting manungsa, ngalempak dados satunggal, awujud jenggerenging Jabang bayi.


Pupuh Kaping 06 :


Wiji-sawiji mulane dadi,

Apan pencar saisine jagad,

Kasamadan dening date,

Kang maca kang angrungu,

Kang anurut miwah nyimpeni,

Dadi ayuning badan,

Kinarya sesembur,

Yen winacakna neng toya,

Kinarya dus rara tuwa angles rabi,

Wong edan nuli waras.


Kawedaraken suraosipun makaten :

Wiji-sawiji mulane dadi,

Tegesipun : Manungsa punika asalipun saking wiji satunggal, inggih punika gesang ingkang jumeneng pribadi.

Apan pencar saisine jagad,

Tegesipun : Lajeng saget pencar (tumangkar) dados pinten-pinten ewu angebaki jagad. Punika asalipun naming peranganing satunggal.

Kasamadan dening date,

Tegesipun : Gesanging titah punika sedaya kasamadan dening dating pangeran.

Kang maca kang angrungu,

Kang anurut miwah nyimpeni,

Dadi ayuning badan,

Tegesipun : tiyang ingkang maos, ingkang mirengaken, ingkang nyerat tuwin ingkang ngrimati serat kidungan punika, sedaya sami angsal sawab wilujeng sak lampah-lampahipun.

Katranganipun : sedaya wau bakunipun kita kedah pitados ingkang saestu, bebasanipun sapatemon-tinemenan, amargi ing atasipun gusti Allah manawi sumedya mitulungi dhateng kawulanipun punika sanadyan mawi sarana wujud punapa kemawon, saestunipun inggih anggadhahi daya utawi sebab.

Nanging manawi tiyang ingkang pitados kados makaten punika, namanipun tiyang ingkang ngelminipun saweg setengah.Dene menawi tumprap tiyang ingkang sampun pana dateng gaib, kapitadosanipun punika boten kandeg namung wonten ing warono, nanging perlu macung piyambak, sageta sapatemon.


Kinarya sesembur,

Yen winacakna neng toya,

Kinarya dus rara tuwa angles rabi,

Wong edan nuli waras.

Tegesipun : serat kidungan wau, manawi kawategaken ing toya, lajeng kasemburaken idunipun, toya wau anggadhahi sawab manawi kaangge siram ing prawan ingkang sampun kasep, lajeng tumunten saget angsal jodho. Manawi kangge siram tiyang ingkang sakit ewah, nggih tumunten saras.

Katranganipun : tumprapipun tiyang ngelmi ingkang katembungaken kidung puika sanepanipun SANG GURU JATI.


Amila daya wau inggih kapendhetaken saking panguaosing sang guru jati. Dados langkung perlu punika sageda gambuh kaliyan sang GURU JATI supados saged ngampil panguaosipun.


Pupuh Kaping 07 :


Lamun ana wong kadhendho kaki,

Wong kabonda lan kabotan utang,

Yogya wacanen den age,

Ing wanci tengah dalu ping selawe,

Wacanen ririh,

Luar ingkang kabanda,

Kang kadendha wurung,

Anglis nuli sinauran mring Yang Suksma,

Kang utang puniku singgih,

Kang agring dadi waras.


Kawedharaken suraosipun makaten :

Lamun ana wong kadhendho kaki,

Tegesipun : paring pangertosan dhateng tiyang anem, mbok menawi wonten tiyang ingkang kadhendho ing nagari. Kateranganipun : tiyang ingkang ukum dhendha .

Wong kabonda lan kabotan utang,

Tegesipun : sarta tiyang ingkang kabonda prakawis pulisi, tuwin tiyang ingkang kekathahen sambutan nanging ngrekaos panyauripun.

Yogya wacanen den age,

Tegesipun : tiyang ingkang kataman wau tumuntena maos serat kidungan wau .

Katranganipun : ingkang kawaos naming pujian ingkang angka 1, nanging manawi tiyang ngelmi langkung perlu Sang Guru Jati.

Ing wanci tengah dalu ping selawe,

Wacanen ririh,

Tegesipun : anggenipun maos wau ing wanci tengah dalu kalayan ririh-ririh kemawon, rambah kaping selawe. Katranganipun : manawi lampahipun tiyang mangesti Sang Guru Jati menika mboten perlu mawi sarana ucap-ucapan, nanging sampun kacekap wonten ing niyate mawon. Sarana angulataken lebet wedaling napas ingkang ngantos angler utawi kasupen.

Luar ingkang kabanda,

Tegesipun : Manawi katrimah ing pamujinipun tiyang ingkang kabanda wau saget luar. Katranganipun : saget dipun luar wau inggih saking saran reko daya , nanging reka daya punika wau sampun kaparingan berkah ing Allah. Dados inggih saget antrenyuhaken penggalihanipun nagari.

Kang kadendha wurung,

Tegesipun : sata upami tiyang ingkang kadhendha inggih saget wurung.

Anglis nuli sinauran mring Yang Suksma,

Kang utang puniku singgih,

Tegesipun : Tuwin upami tiyang ingkang kekathahen sambutan wau, inggih lajeng dipun sauri dening Allah. Katranganipun : Gutsti Allah anggening nyauri sambutaning tiyang punika saestunipun inggih mawi warono ing tiyang sanes ingkang gadhah arta katrenyuhaken manahipun lajeng amelasi lajeng paring arta dhateng ingkang nyambut wau, lajeng kenging kangge nyauri.

Kang agring dadi waras.

Katranganipun : upami tiyang ingkang ketaman sakit, inggih lajeng dados saras. Katranganipun : sagetipun saras wau saestunipun inggih mawi sarono jampi nanging jampinipun sampun angsal berkah.


Pupuh Kaping 08 :


Sapa reke bisa anglakoni,

Amutiha lawan anawa a,

Patangpuluh dina wae,

Lan tangi wektu subuh,

Lan den sabar sukuri ing widhi,

Insya Allah tinekan sakarsanireku,

Tumrap sanak rayatira,

Awit saking sawab pangiketing ngelmi,

Duk aneng kali jaga.


Kawedharaken suraosipun makaten : milanipun sinten ingkang saget anglampahi dhateng wigatosing ngelmi, keparenga methak kawan dasa dinten, menawi kirang sedinten sedalu lajeng ngeblenga. Salebeting nglampahi wau, manawi wungu sare kaangkaho wanci jam 4.30 enjing.

Ing saben dintenipun kadamel ajeg. Punapa malih sak tindak-tanduk kita, katingalo ingkang narimo kanti sabar penggalih, naming sumarah ing sak keparengipun.

Sarana tumindak ingkang makaten punika, manawi temen-temen inggih saget tinarimah dening Allah, saget kadumugen punapa ing pangestinipun sarta kenging kagem mitulungi dhateng karibetaning sanak sederek, putra wayah tuwin sane-sanesipun. Ingkang makaten wau katarik saking sawabing ngelmi ingkang sampun dipun lampahi sarta sampun dipun anggit kanjeng Sunan nalika wonten dhusun KALIJAGA. Menggah ngelmi ingkang saget wiyar tebanipun kenging kaagem mitulungi ing karibetan warni-warni wau. Dene golonganing ngelmi ingkang kados makaten punika, sagetipun manjing anggadhahi daya kedah anglampahi SISIRIH.


Pupuh Kaping 09 :


Lamun arsa tulus nandur pari,

Puasa a sawengi sadina,

Iderana galengane,

Wacanen kidung iki,

Kabeh ama pan samya wedi,

Yen sira lunga aprang,

Wateken ing sekul,

Antuk a tigang pulukan,

Mungsuhira sirep datan nedya wani,

Rahayu ing payudan.


Kawedharaken suraosipun makaten :

Lamun arsa tulus nandur pari,

Tegesipun : wondene manawi badhe nenanem pantun sagetipun lestari wilujeng mboten katrajang ama.

Puasa a sawengi sadina,

Tegesipun : Nglampahana siam sadinten sadalu boten dhahar punapa-punapa.

Iderana galengane,

Tegesipun : ing saderengipun pantun katanem sasampunipun sadinten mboten dhahar, dalunipun lajeng ngiderana galengan sabin.

Katranganipun : raosing penggalih ingkang meleng panyuwunipun.

Wacanen kidung iki,

Tegesipun : kanthi amujia, dene pamujinipun , mirsanana sekar nomer : 1.

Kabeh ama pan samya wedi,

Tegesipun : kadadosan sak kathahing ama lajeng mboten purun angrisak taneman pantun.

Yen sira lunga aprang,

Tegesipun : saupami kita badhe mengsah perang.

Wateken ing sekul,

Antuka tigang pulukan,

Tegesipun : puji wau kawatekna ing sekul kadamela tigang pulukan lajeng kadhahar .

Mungsuhira sirep datan nedya wani,

Tegesipun : anggadhahi sawab mengsah kita wau lajeng rumaos giris sami sirep mboten wanton / mboten wonten ingkang sumedya anglawan.

Rahayu ing payudan.

Tegesipun : boten saestu peperangan ing wasana wilujeng sedaya.


Pupuh Kaping 10 :


Ana kidung rekeki aryati,

Sapa weruh reke araningwang,

Duk ingsun ana ing ngare,

Miwah duk aneng gunung,

Kisamurta lan ki Samarti,

Ngalih aran ping tiga,

Arta daya tengsun,

Araningsun duk jejaka,

Ki artati mengko araningsun,

Ngalih sapa wruh araningwang.

Kawedaraken suraosipun makaten :

Ana kidung rekeki aryati,

Tegesipun : wonten kidung punika sejatosipun inggih Ki ARTATI.

Katranganipun : ingkang dipun wastani kidung punika sang sabda, inggih karsa ingkang linangkung utawi dhawuh pangandikaning Pangeran.

Sapa weruh reke araningwang,

Duk ingsun ana ing ngare,

Tegesipun : sinten ingkang mangertos nama kita, (kidung) nalika kita taksih jumeneng ing ngare.

Katranganipun : ingkang dipun sanepaaken ngare punika miturut wewaton ing ngelmi wonten ing BETAL MUKARAM.

Miwah duk aneng gunung,

Tegesipun : tuwin nalika taksih jumeneng wonten ing redi.

Katranganipun : ingkang dipun sanepaaken redi menika miturut wewatoning ngelmi BETAL MAKMUR.

Kisamurta lan ki Samarti,

Tegesipun : inggih punika sampun awujud kempalipun ki Samarta, kaliyan ki Samarti.

Katranganipun : ingkang dipun sanepaaken ki Samarta punika ingsun. Dene ki Samarti punika TRI MURTI. Kadadosan saking sarining tirta Kamandanu, sarining Surya, tuwin sarining Candra. Kempal dados satunggal mahanani CAHYA kawastanan ROH ILAPI, inggih punika wujuding ANASIR SEJATI. Warananipun ingsun.

Ngalih aran ping tiga,

Tegesipun : Saben pindah panggenan santun nama, ngantos rambah kaping tiga.

Katranganipun: inggih punika jumenenganipun wonten TRILOKA. Tegesipun : panggenan tetiga ingkan manunggal, kadosta : wonten ing BETAL MAKMUR anggadhahi praban piyambak, wonten ing BETAL MUKARAM santun paraban,tuwin wonten ing BETAL MUKADAS ugi santun paraban malih.

BETAL MAKMUR jumeneng ana sirahing Adam. Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun, dat kang nglimputi ing kahanan jati.

BETAL MUKARAM jumeneng ana ing dhadha ning adam. Kang ana sajroning dhadha iku ati, kang ana antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem , yaiku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati.

BETAL MUKADAS jumeneng ana ing kemaluaning adam. Kang ana sajroning kemaluan iku pringsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutpah, yaiku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun. Ora ana pangeran anging Ingsun dat kang anglimputi ing kaanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam akadiyat, wahdat, wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajatining sipatIngsun.

Arta daya tengsun,

Tegesipun : wonten ing Bental Mukaram parabanipun ARTA ingkang dipun sanepaaken arta punika pangretosaning kawicaksanan.

Daya tengsun tegesipun jumenengipun wonten ing BETAL MUKADAS dipun parabi daya ingkang dipun sanepaaken daya punika ingsun ingkang kuwasa utawi WISESA. Dene kanyatanipun anggadhahi daya kuwasa damel gesanging manungsa.

Araningsun duk jejaka,

Tegesipun : paraban kita (kidung) nalika taksih jaka.

Katranganipun : ingkang dipun sanepaaken Jaka punika , nalika wiji taksih dumunung ing bapa, dereng katetesaken ing biyung.


Ki artati mengko araningsunngalih,

Tegesipun : inggih punika KI ARTATI (karsa ingkang linangkung) nanging sareng sampun katitisaken, lajeng santun asma/paraban.

Sapa wruh araningwang,

Tegesipun : sinten ingkang mangertos sejatosing nami kita (kidung) wau.

Katranganipun : inking dipun parapi Arta Daya, Artati, punika wujudipun namung satunggal mboten sanes : inggih namung ingsun.

Pepindhanipun kados dene sesebutan sang NATA, inggih punika ratu ingkang saweg jumeneng wonten ing sitinggil”SANG PRABU” punika ratu ingkang saweg jumeneng ing pandhapi “SRI NARENDRA” punika ratu ingkang saweg jumeneng wonten ing kedhaton. Sesebutan tiga wau inggih ingkang dipun sebut inggih namung satunggal utawi anggadhahi teges ANERANGAKEN KUWAJIBANIPUN.


Pupuh Kaping 11 :


Sapa weruh kembang tepus kaki,

Sasat weruh rek ke artadaya,

Tunggal pancer ing uripe,

Sapa wruh ing panuju,

Sasat sugih pagere wesi,

Rineksa wong sak jagad,

Kang angidung iku,

Lamun dipun apalna,

Kidung iku den tutug sedasa wengi,

Adoh panggawe ala.


Kawedharakensuraosipun makaten :

Sapa weruh kembang tepus kaki,

Tegesipun: sinten ingkang saget mangertos dhateng tepa sariro.

Katranganipun : tumindak ingkang kanti ukuran raosing kamanungsan.

Sasat weruh rek ke artadaya,

Tegesipun : prasasat saget sapatemon kaliyan sang guru jati piyambak.

Katranganipun : tumindak ingkang mawi tepo sariro punika asalipun saking daya pakartining sang guru Jati (ingsun).


Tunggal pancer ing uripe,

Tegesipun: manungsa sak jagad punika panceripun namung satunggal, inggih punika ingsun kang nglimputi kahanan jati.

Katranganipun : raosing manungsa punika sageta rik-tinarik satunggal kaliyan satunggalipun dados sami.

Sapa wruh ing panuju,

Tegesipun : sinten ingkang saget nuju kareping sanes.

Katranganipun : upami tiyang ungkang nami A katamuan tiyang nama B pun B wau anggenipun mara tamu namung lugu katarik saking sayahipun tuwin kalaib (kaluwen), amargi mentas saking kekesahan, ewodene mboten purun nembung punapa-punapa. Ingkang gadhah griya pun A mangertas dhateng pasemoning tamunipun, lajeng gita-gita anggenipun anyugata wedang, panganan tuwin sekul.

Pun B inggih lajeng ngrahapi lajeng katingal binger, rumaos nikmat sanget anggenipun dhahar, dados pasugatan wau katrimah sanget. B lajeng pamitan wangsul. Menggah pakartinipu A anggenipun anyugata mboten sarana ditembungi, sarta mboten amengku pamrih. Punika ingkang dipun wastani nuju kareping sanes, tuwin tumindak sanes-sanesipun ingkang sairib makaten wau.

Sasat sugih pagere wesi,

Ingkang makaten punika namung paribasan.

Dene katranganipun : tiyang ingkang sampun lebet luangipun, inggih punika tiyang ingkang tumindakipun kerep anyaeni dhateng ing sanes ingkang mboten amengku pamrih (tumindak kautaman) sak lampah-lampahipun mesti tansah jinangkung ing kaleresan. Dados penggalihipun tansah teteg kemawon.

Rineksa wong sak jagad,

Kang angidung iku,

Tegesipun : tiyang ingkang pangangen-angenipun wiji sae, sarta karsa tumindak kautaman punika uwohing pandamel sae wau, ing sakenggen-enggen tansah dipun tresnani ing sanes.

Lamun dipun apalna,

Tegesipun : manawi dipun apalaken.

Katranganipun : ingkang dipun apalaken punika pujian ingkang kawrat ing sekar angka 1.

Kidung iku den tutug sedasa wengi,

Tegesipun ing saben dalu angapalaken pujian wau.

Adoh panggawe ala.

Tegesipun : tebih saking /dhateng pandamel awon.

Katranganipun : saklampah-lampahipun saget sumingkir saking pandamel awon.


Pupuh Kaping 12 :

Lawan rineksa dening hyang widi,
Sasedyane tineka dening hyang,
Kinedhep mring janwo akeh,
Kang maca kang angrungu,
Kang anurat miwah nyimpeni,
Yen ora bisa maca,
Simpenana iki,
Temah ayu kang sariro,
Yen linakon dinulur sasedyoneki,
Lan rineksa dene hyang.

Kawedaraken suraosipun makaten : Punapa malih sak lamapah-lampahipuntansanh jinangkung dening pangeran. Sarta saget dumugen punapa sedyanipun, tuwin linulutan ing sasami. Tumprap ingkang maos, ingkang mirengaken, ingkang nyerat tuwin ingkang ngrimati serat kidungan wau.
Anggadhahi sawab, saget amilujengaken badanipun, wondene menawi mboten saget maos, inggih karimata kemawon inggih sampun anggadhahi sawab wilujeng. Langkung-langkung bilih kersa anglampahi TARAK BROTO. Sawabipun saget sempulur anggening ngupajiwa, sarta tansah jinangkung dening pangeran.

Pupuh Kaping 13 :

Kang sinedya tinekan hyang Widi,
Kang kinarsan dumadakan kena,
Tursinihan pangerane,
Najan tan weruh iku,
Lamun nedya muja semedi,
Sasaji ing sagara,
Dadya ngumbareku,
Dumadi sariro tunggal,
Tunggal jati swara awor ing artati,
Aran sekar jempina.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Kang sinedya tinekan hyang Widi,
Tegesipun : puapa ingkang dipun gayuh saget kadumugen.
Katranganipun : Ingkang dipun wastani penggayuh punika betahan ingkang kanggenipun ing kala mangsa.
Kang kinarsan dumadakan kena,
Tegesipun : inggih sampun dilalah kersanipun ing saben dinten kerep kalegan.
Tursinihan pangerane,
Tegesipun : Punapa malih ugi jinangkung ing pangeranipun.
Katranganipun : ingkang dipun wastani penggayuh punika kabetahan ingkang kanggenipun ing kala mangsa. Tumindak ingkang tansah kaleresan punika tegesipun saking berkahing pangeran.
Najan tan weruh iku,
Katranganipun : tiyang punika sanajan dereng mangertos gelaring ngelmi ( asal wijining manungsa).
Lamun nedya muja semedi,
Tegesipun : lamun niyat nindaaken muja semedi.
Katranganipun : seserepanipun wau namung mligi seserepan tumindak muja semedi.
Sasaji ing sagara,
Ingkang mekaten punika naming pasemon, dene katranganipun, jumenengipun hyang Pramana wonten ing betal makmur. Saget amikani alam Panca Maya.
Dadya ngumbareku,
Katranganipun : ingkang dipun wastani ngumbara punika lenggahing hyang pramana wonten ing Bental Mukaram. Ing wusana lajeng jumeneng ing Betal Makmur. Kadosanipun oncat saking palenggahan.
Dumadi sariro tunggal,
Katranganipun : melenging pramana kajumbuhaken kaliyan weninging karsa, gumeleng dados satunggal. Saget mahanani kabikaing raos lajeng katingalipun sang GURU JATI .
Tunggal jati swara awor ing artati,
Katranganipun : Sang Guru Jati wau inggih punika sang sabda sarta inggih karsa ingkang linangkung.
Aran sekar jempina.
Katranganipun : anedhahaken bilih sang guru jati punika kenging kawastanan sesekaring jampi ingkang mesti saget anyarasaken.

Pupuh Kaping 14 :

Semahira ingaran senjari,
Melu urip lawan melu pejah,
Tan pisah ing saparane,
Pari purna satuhu,
Anirmala waluya jati,
Kena ing kene kana,
Ing wasananipun,
Ajejuluk adi suksma,
Cahya ening jumeneng ing artati,
Anom tan kena tuwa.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Semahira ingaran senjari,
Tegesipun : ingkang minangka kancuhanipun dipun wastani rahsa.. inggih punika rahsaning suksma.
Melu urip lawan melu pejah,
Tegesipun : rahsa punika inggih kangge nalika gesang utawi ugi kangge benjing nalika pejah.
Katranganipun : nalika gesang rahsa punika dados angertosan ingkang gaib-gaib. Wondene benjing manawi pejah, rahsa punika dados katetepanipun kayektosan. Dumunung ing rasa jati.
Tan pisah ing saparane,
Tegesipun : dados dhateng ing pundi kemawon rahsa wau ugi tumut boten pisah.
Pari purna satuhu,
Tegesipun : gesang ingkang tanpa sangsaya.
Katranganipun : tiyang ingkang tumindakipun kanthi landhesan raosing kamanungsan, punapa ngakunipun saget wilujeng.
Anirmala waluya jati,
Tegesipun : ing wusana saget suci utawi saras lair batosipun.
Kena ing kene kana,
Tegesipun : kapitadosan ingkang makaten wau kenging kangge gesang donya tuwin ing akir.
Ing wasananipun,
Ajejuluk adi suksma,
Tegesipun : dene kedadosanipun boten sanes inggih namung jumenengipun pribadi (sejatining ingsun).
Cahya ening jumeneng ing artati,
Tegesipun : ing alam ngriki ugi wonten cahyo wening kang katingal.
Anom tan kena tuwa.
Tegesipun : boten anem tuwin boten saget sepuh, namung langgeng kawontenanipun.

Pupuh Kaping 15 :

Panunggale kawula lan gusti,
Nila ening arane duk gesang,
Duk mati nila arane,
Lan suksma ngumbareku,
Ing asmara mung raga yekti,
During darbe paparab,
Duk rarene iku,
Awayah bisa dedolanan,
Aran sang hyang jati Iya sang artati,
Yeku sang arta daya.

Kawedaraken suraosipun makaten :
Panunggale kawula lan gusti,
Tegesipun : inggih mekaten menika ingkang dipun wastani ngempale kawula-gusti.
Nila ening arane duk gesang,
Tegesipun : wekdal gesang wonten ing ndonya, tumprap kabikaing raos kaweningan punika mesthi saking pitulunganing cahya.
Duk mati nila arane,
Tegesipun : nanging manawi wonten ing jamane pejah mboten perlu dipun pitulungi dening cahya.
Lan suksma ngumbareku,
Katranganipun : ingkang katembungaken suksma ngumbara punika konosipun ingsun, inggih punika wujudipun satunggal saget angebaki jagad, ing pundi dunung kita ing griku wonten.
Ing asmara mung raga yekti,
Tegesipun : sejatosipun tumprap kaalusan, inggih punika ingkang mengkoni raga.
Katranganipun : ingsun punika ingkang dados guruning raga, tuwin pangeraning raga.
During darbe paparab,
Duk rarene iku,
Tegesipun, ingsun wau nalika wijining manungsa dereng katitisaken, ugi dereng anggadhahi paraban, amargi taksih nunggil kaliyan GUSTI ALLAH, dados ingkang wonten namung gesang pribadi.
Awayah bisa dedolanan,
Tegesipun : manawi sampun dumugi ing titi mangsanipun , ingsung wau katinggal dados lantaraning wiji. Bapa saweg anggadhahi karsa nitisaken wiji dhateng biyung.
Aran sang hyang jati Iya sang artati,
Yeku sang arta daya.
Tegesipun : saksampunipun wiji wau dumados ing guwa garbaning biyung ingsun wau kenging dipun wastani SANG YHANG JATI, sang ARTATI, arta tuwin daya, inggih punika wuninga karsa; daya.

Pupuh Kaping 16 :

Dadya wisa mangkya amartani,
Lamun marta atemahan wisa,
Marma arta daya rane,
Duk lagya aneng gunung,
Ngalih aran asmara jati,
Wayah tumeking tuwa emut ibunipun,
Nyi Pancari lunga ngetan,
Ki Artati nurut gigiring Merapi,
Anulya mring sundara.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Dadya wisa mangkya amartani,
Lamun marta atemahan wisa,
Mara arta daya rane,
Tegesipun : milanipun asma karya utawi daya , punika tumprapipun gesang ing akir dados wisa.
Katranganipun : tujuawing tiyang pejah punika menawi mangerandhateng wujudipun ingsun, naminipun kesasar (dados wisa).
Mangkya amartani,
Tegesipun : tumprapipun gesang ing donya manawi mangeran dhateng daya punika gesangipun dados utami (dados marta). Kosok wangsulipun ingkang utami dados kesasar. Ingkang makaten punika sageto nata tumindakipun, sampun ngantos salah penampi utawi kerem.
Duk lagya aneng gunung,
Ngalih aran asmara jati,
Wayah tumeking tuwa emut ibunipun,
Tegesipun : Nalika wijining jabang bayi saweg dumados ing Betal Makmur asmanipun santun sang Hyang Jati, amargi bapa dereng anitisaken dhateng biyung.
Nyi Pancari lunga ngetan,
Katranganipun : rahsanipun lajeng jumeneng wonten ing BETAL MAKADAS inggih punika campuhing kakung tuwin wanita (bapa tuwin biyung) wijinipun lajeng dumunung ing maningkem.
Ki Artati nurut gigiring Merapi,
Ingkang dipun sanepaaken gigiring merapi punika ula-ula.
Katranganipun : redi Merapi punika redi latu miturut hakekating ngelmi latu punika erah.Dene lampahing erah ingkang punika medal ing ula-ula.
Pramila saksampunipun wiji tumitis ing biyung wonten saklebeting mani, madi, maningkem, rahsa ingsun lajeng lumampah minggah nurut ula-ula.
Anulya mring sundara.
Ingkang dipun sanepaaken sundara punika guwa garbaning biyung (wadah bebayi) dunungipun wonten ing tengah-tengah antawisipun Betal Mukadas kaliyan Betal Makmur. Mila wiji wau lajeng wadhag bayi.

Pupuh Kaping 17 :

Ana pandhita akarya wangsit,
Mindha kumbang ngajab ing tawang,
Susuh angina ngendi nggone,
Lawan galihing kangkung,
Wekasane langit jaladri,
Isine wuluh wung wang,
Lan gigire panglu,
Tapaking kuntul anglayang,
Manuk miber uluke ngungkuli langit,
Kusuma jrah ing tawang.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Ana pandhita akarya wangsit,
Mindha kumbang ngajab ing tawang,
Ingkang makaten punika SU ALAN tegesipun cipta utawi budi.
Susuh angina ngendi nggone,
Pitakenan punika katranganipun jantung.
Lawan galihing kangkung,
Katranganipun Suksma.
Wekasane langit jaladri,
Katranganipun : soroting cahya sumrambah ing njawi tuwin ing lebeting sipat kita, dene wekasane jaladri katranganipun segara jinem (panca maya).
Isine wuluh wung wang,
Katranganipun Angen-angen.
Lan gigire panglu,
Katranganipun : dat ing pundi-pundi wonten.
Tapaking kuntul anglayang,
Katranganipun angen-angen.
Manuk miber uluke ngungkuli langit,
Katranganipun angen-angen.
Kusuma jrah ing tawang.
Katranganipun angen-angen.

Pupuh Kaping 18 :

Ngambil banyu apikulan warih,
Kodhok ngemuli lenge,
Miwah kang banyu den kum,
Myang dahana murub kabesmi,
Bumi pinetak ingkang,
Wawono katiyub,
Tanggal pisan kapurnaman,
Yen anenun sentek pisan anigasi,
Kuda ngrap ing pandengan.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Ngambil banyu apikulan warih,
Katranganipun : raos inggih punika tiyang ingkang marsudi dhateng kaleresan kedah sampun pawitan sageta wening penggalihe.
Kodhok ngemuli lenge,
Katranganipun nyawa; inggih punika gesange raga saestunipun saking nyawa.
Miwah kang banyu den kum,
Katranganipun : katentreman inggih punika tiyang ingkang anggayuh dhateng katentreman kedah angempali guru-guru ingkang sampun sampurna ngelminipun.
Myang dahana murub kabesmi,
Katranganipun : kanepson inggih punika tiyang ingkang saget duka lajeng dipun aduli supados saya sanget.
Bumi pinetak ingkang,
Katranganipun : jisim kapendhem ing siti inggih punika dumadose anasir bumi mahanani raga.
Wawono katiyub,
Katranganipun : lebet wedaling napas punika katarik dening swasana.
Tanggal pisan kapurnaman,
Katranganipun : roh ilapi inggih punika kaweninganing manah punika manawi angsal pitulunganing roh ilapi. Lajeng sami sanalika, saget gadhah pangertosan ingkang linangkung.
Yen anenun sentek pisan anigasi,
Katranganipun : wenganing raos inggih punika suraosing raos ingkang wening punika saget ameca ingkang mesthi cocog tumrap badhe kedadosanipun.
Kuda ngrap ing pandengan,
Katranganipun : angen-angen.

Pupuh Kaping 19 :

Ana kayu apurwa sawiji,
Wit buwana epang keblat papat,
Agodhong mego rumembe,
Aprada paku kuwung,
Kembang lintang salaga langit,
Semi andaru kilat,
Woh surya lan tengsu,
Asirat bun lawan udan,
Apapucak angkasa bungkah pratiwi,
Oyote bayu bajra.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Ana kayu apurwa sawiji,
Katranganipun : kayu sajaratul yakin.
Wit buwana epang keblat papat,
Katranganipun : jumenegipun suksma kaliyan raga, kanthi prabotipun sekawan inggih punika : kandha, warna, ambu, rasa.
Agodhong mego rumembe,
Katranganipun : dumununging napsu wonten ing badan sakojur.
Aprada paku kuwung,
Katranganipun : hyang Pramono.
Kembang lintang salaga langit,
Katranganipun : cahya ingkang alit-alit.
Semi andaru kilat,
Katranganipun : panunggilanipun cahya.
Woh surya lan tengsu,
Katranganipun : cahya ingkang ageng (roh ilapi tuwin lintang johar).
Asirat bun lawan udan,
Katranganipun : toya gesang, saget anggesangi raosing panca driya.
Apapucak angkasa bungkah pratiwi,
Katranganipun : kempaling jiwa tuwin raga saestunipun daya dinaya.
Oyote bayu bajra.
Katranganipun : napas punika dados tetangsuling raga.

Pupuh Kaping 20 :

Wiwitane duk anemu candi,
Gegedhongan miwah mawarangkan,
Sih ing hyang kabesmi kabeh,
Tan ana jalma kang wruh,
Yen weruh apurwane dadi,
Candi sagara wetan,
Ing ngobar karuhun,
Kayangane sang tunggal,
Sapareke kang jumeneng mung artati,
Katon tengahing tawang.

Kawedharaken suraosipun makaten :
Wiwitane duk anemu candi,
Ingkang dipun sanepaaken candhi punika sipat.
Katranganipun : anedhahaken purwaning dumadosipun manungsa punika wiwitanipun saweg awujud cahya wening kawastanan NUKAD GAIB; Tegesipun : wiji ingkang taksih samar.
Gegedhongan miwah mawarangkan,
Tegesipun : kadadosaning sipat punika asalipun saking golong-golongan, inggih punika : sipating kaalusan saking anasir sejati, dene sipating kuwadhagan saking anasir.
Sih ing hyang kabesmi kabeh,
Katranganipun : sedaya anasir wau sareng kataman soroting cahya nukad gaib, lajeng sami katarik urun daya mahanani sipat.
Tan ana jalma kang wruh,
Tegesipun : kedadosan ingkang makaten wau mboten wonten manungsa ingkang sumerep.
Yen weruh apurwane dadi,
Katranganipun : namung wonten seserepan dhateng purwaning dumados, punika dudununganipun namung pangertosan.
Candi sagara wetan,
Ingkang dipun upameaken makaten wau katranganipun surya.
Ing ngobar karuhun,
Kayangane sang tunggal,
Katranganipun : wiwitanipun wonten sipat inggih punika : anasir sejati wau kataman soroting cahyo nukad gaib, lajeng mahanani sipating kaalusan awujud cahya, kawastanan roh ilapi.
Sapareke kang jumeneng mung artati,
Tegesipun :sinten ingkang jumeneng ing cahya wau, sejatosipun mboten sanes inggih namung ingsun.
Katon tengahing tawang.
Tegesipun : saget katingal sarana netra kaalusan dumunung satengahing tawang.