Translate

Jumat, 26 Februari 2021

Filosofi Pamor Tejo Kinurung

 Pamor Tejo Kinurung adalah perpaduan dari pamor Sodo Sakler dan pamor Wengkon. Seluruh tepi bilah Keris dilingkari pamor berbentuk garis menyerupai bingkai dan ditengah bilah terdapat pamor yang menyerupai garis lurus dari pangkal sampai ujung bilah.


Pamor Tejo Kinurung dipercaya memiliki tuah yang berkaitan dengan kepemimpinan, derajat dan juga untuk perlindungan fisik maupun non fisik. Pamor ini tergolong pemilih, artinya tidak semua orang bisa cocok memilikinya.


Bentuknya memang tampak sederhana, tapi dari segi garap pamor Tejo Kinurung memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena untuk mempertahankan garis bingkai dengan spasi dan jarak yang sama pada sisi tepi bilah Keris tanpa terputus yang dipadukan dengan garis tengah yang tegak lurus tidak terputus tidaklah mudah, dan hanya Empu berpengalaman saja yang bisa membuatnya karena pamor Tejo Kinurung termasuk jenis pamor rekan yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam pembuatannya.


Pamor yang berbentuk garis lurus ditengah bilah Keris melambangkan pertumbuhan karier, pangkat, jabatan dan agar pemiliknya bisa meraih cita-citanya. Pamor adeg juga memiliki makna agar pemiliknya dapat menempuh jalan yang lurus serta memiliki keteguhan hati dalam menempuh kehidupan.


Sedangkan pamor berbentuk bingkai pada tepi bilah Keris melambangkan perlindungan. Jadi diharapkan pemilik Keris berpamor Tejo Kinurung senantiasa mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.


Keris dengan pamor Tejo Kinurung juga dipercaya memiliki tuah untuk melanggengkan jabatan atau kekuasaan. Garis adeg ditengah bilah melambangkan jabatan atau pangkat yang semakin tinggi, sedangkan pamor wengkon ditepi bilah melambangkan perlindungan. Jadi, jabatan atau pangkat pemilik Keris pamor Tejo Kinurung akan semakin meningkat dan terlindungi.


Pamor Tejo Kinurung juga dipercaya dapat melindungi pemiliknya dari marabahaya, baik yang bersifat fisik/nyata maupun yang bersifat non fisik/ghaib.


Keris dan Isoteri (tuah) ibarat dua sisi mata uang. Keris dan pamor adalah dua hal yang nyaris tak berjarak. Guratan pamor pada bilah keris adalah lambang-lambang yang penuh makna, pun demikian dengan garis Adeg Tiga (Tejo Kinurung) mempunyai kedalaman makna yang luar biasa. Garis pertama (kanan) menggambarkan Laki-laki yang bertangung jawab kepada dirinya sendiri, istrinya dan anak-anaknya berkewajiban menafkahi dan membimbing jalan hidup dengan benar. Garis kedua (kiri) adalah melambangkan tanggung jawab yang lebih besar lagi karena ia harus mengayomi orang-orang sekitarnya, saudara-saudara mereka dan orang-orang terdekat sedangkan Garis ketiga (tengah) adalah bagi mereka yang ditakdirkan menjadi “orang besar”, harus bisa mengayomi lebih banyak orang , masyarakat dan negara, yang kadang akan menjadi dilema ditengah antara keluarga atau tugasnya, karena dia bukan lagi hanya menjadi milik keluarga tapi sudah menjadi milik masyarakat, bangsa dan negara. Demikian dengan penamaan pamor Teja Kinurung (artinya Cahaya Yang Terkurung), tentu saja ada harapan dan doa. Di dalam diri kita ada yang namanya nurani, yaitu hati yang mengandung nur/teja, mengandung cahaya. Cahaya berfilsafat dengan keberadaannnya yang terang-benderang. Menjadi lambang kesadaran, cahaya berjalan lurus menyibakkan kegelapan. Dalam limpahan cahaya, kita bisa memilih kebaikan, ketaatan, kesetiaan, kebenaran, keadilan, kejujuran, ketulusan hati. Cahaya yang terkurung berarti tak akan pernah padam menyinari kegelapan dan menjadi terang (manfaat) bagi banyak orang. Bukankah semulia-mulianya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain?


"Tejo" artinya cahaya dan "Kinurung" artinya dikurung/terkurung. Jadi arti dari "Tejo Kinurung" adalah cahaya yang terkurung atau terlindungi.


Tapi jika dikaji lebih dalam, Pamor Tejo Kinurung sebetulnya memiliki makna filosofi yang sangat dalam sebagai tuntunan hidup.


Pada dasarnya setiap Manusia memiliki "Nurani" yaitu Tejo/Nur/Cahaya hati yang bisa menuntunnya menuju jalan kebenaran atau jalan hidup yang lurus. Nurani atau cahaya hati harus senantiasa dijaga atau dilindungi agar tidak padam, agar Manusia tidak tersesat dalam kegelapan.


Dalam bahasa semiotika, garis tengah melambangkan pertumbuhan padi (filosofi padi) semakin tinggi semakin merunduk. Simbol kepemimpinan yang demokratis dan dapat diterima semua kalangan. Juga mewakili harapan sang Empu agar sang pemilik menempuh jalan hidup yang lebih lurus serta memiliki keteguhan hati. Sedangkan garis yang membingkai (tepen/wengkon) sebagai simbol cyrcle of protection, perlindungan secara kasat mata maupun yang tak kasat mata (gaib). Sebagian pecinta keris berpendapat bahwa pamor Teja Kinurung ini memiliki tuah yang baik, terutama bagi mereka yang bekerja untuk negara. Itulah sebabnya banyak pejabat, polisi, tentara, hingga wakil rakyat diam-diam memburu dan mengkoleksi keris dengan pamor Tejo Kinurung sebagai piandel. Bahkan banyak dipercaya bisa menjadi keris tindih (memberikan tuah untuk meredam gangguan dan pengaruh negatif dari benda-benda gaib lain). Tapi banyak pitutur dari orang sepuh, keris dengan pamor ini tidak bisa dimiliki oleh sembarang oang, seperti halnya keris-keris yang berwibawa jika tidak kuat maka si pemilik akan selalu terbawa bermusuhan dengan orang lain (panasan)… 


Demikian sedikit informasi tentang filosofi dan tuah pamor Keris Tejo Kinurung yang dapat kami sampaikan pada kali ini.

Makna Filosofi Pamor Pancuran Mas

 

Filosofi pamor Pancuran Mas:

“Pancuran” adalah sumber air yang terus mengalir, sedangkan “Mas” artinya Emas yang merupakan logam mulia bernilai tinggi. Jadi, “Pancuran Mas” bisa di artikan sebagai “Sumber Emas” yang terus mengalir. Jika pancuran pada umumnya mengeluarkan air maka Pancuran Emas berarti pancuran yang terus mengeluarkan emas (sumber emas). Jadi, pamor Pancuran Mas adalah simbolisasi harapan dan do’a agar pemilik Keris dapat memiliki kehidupan yang makmur dan bergelimang harta bagaikan memiliki sumber emas yang terus mengalir.

Pancuran Mas juga memiliki makna lain yang merupakan pesan agar pemiliki Keris senantiasa bisa berlaku seperti pancuran/sumber air yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Manusia harus memiliki kepekaan dan kepedulian sosial serta harus bisa bermanfaat bagi sesama agar bisa mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya.

Pamor Pancuran Mas mengandung ajaran untuk selalu bersedekah untuk membantu sesama karena sedekah bagaikan sumber air, sebanyak apapun dikeluarkan tidak akan pernah habis.

Air adalah sumber kehidupan bagi semua mahluk hidup didunia ini, dengan adanya air maka semua bisa hidup, tumbuh, berkembang dan berbuah. Air juga memiliki sifat mendinginkan, demikian juga dengan sedekah, karena dengan sedekah akan mampu mendinginkan dan melembutkan hati orang yang memberikan sedekah maupun orang yang menerima sedekah.

Bagi sipenerima, sedekah yang diterimanya akan dirasakan sebagai sesuatu yang sangat bernilai dan sangat bermanfaat bagi kehidupannya, dan bagi pemberi sedekah, apa yang disedekahkannya akan menjadi berkah bagi dirinya dan justru akan kembali lagi kepdanya dalam jumlah yang berlipat ganda. Melalui sedekah, hubungan sosial antara pemberi sedekah dan penerima sedekah juga akan semakin lembut dan harmonis.

Tuah pamor Pancuran Mas:

Jika kita bicara soal tuah kerejekian pamor Pancuran Mas pada prinsipnya hal itu sejalan dengan pesan pada pamor ini, yaitu anjuran untuk bersedekah. Karena semakin banyak kita bersedekah, maka akan semakin banyak pula berkah yang akan kita terima, termasuk rejeki dan kekayaan.

Jadi intinya, jika kita ingin merasakan tuah dari Keris yang kita miliki maka kita harus bisa selaras dengan energinya yaitu dengan cara menerapkan filosofi Keris atau pamor Keris dalam kehidupan kita, sebab jika kita tidak bisa selaras dengan Keris yang kita miliki maka kita tidak akan bisa merasakan tuahnya.

Orang yang memiliki Keris berpamor Pancuran Mas tapi tidak memahami filosofinya dan tidak mau melaksanakan pesan atau ajaran yang terkandung didalamnya untuk bersedekah dan memberi manfaat bagi sesama, maka tuah kerejekian pada pamor tersebut tidak akan berfungsi dengan maksimal. Itu artinya pemiliki Keris tidak bisa selaras dengan energi dari Kerisnya.

Demikian sedikit informasi tentang filosofi dan tuah pamor Keris Pancuran Mas yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini.

Rabu, 24 Februari 2021

Rahasia Numerik Dalam Huruf Hijaiyah

 

Hampir setiap muslim telah hafal huruf-huruf Arab (huruf hijaiyah), tetapi mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui urutan abjad yang benar. Kalau selama ini kita mengenal abjad Arab dari alif sampai ya’. Urutan huruf tersebut adalah abjad Arab yang disusun dan dikelompokkan menurut kemiripan bentuknya. Sedangkan urutan abjad Arab yang sebenarnya adalah dari alif sampai ghain.

Adapun urutan huruf Arab sekaligus nilai numeriknya adalah sebagai berikut:

1. ALIF = 1
2. BA = 2
3. JIM = 3
4. DAL = 4
5. HA = 5 (untuk kata Arab Huwa)
6. WAU = 6
7. ZA = 7
8. CHA' = 8 (untuk kata Arab Hayyun)
9. THA = 9
10. YA’ = 10
11. KAF = 20
12. LAM = 30
13. MIM = 40
14. NUN = 50
15. SIN = 60
16. ‘AIN = 70
17. FA’ = 80
18. SHOD = 90
19. QIF = 100
20. RO’ = 200
21. SYIN = 300
22. TA’ = 400
23. TSA’ = 500 (untuk kata Arab Tsa-laa-stah)
24. KHO’ = 600
25. DZAL = 700
26. DHOD = 800
27. DHLO= 900 (untuk kata Arab Dhluhur)
28. GHAIN = 1.000

Nilai Numerik merupakan simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan. Dalam sistem Romawi kita telah mengenal angka 1 yang disimbolkan dengan huruf I. Dan juga simbol-simbol Romawi untuk angka-angka lainnya, seperti huruf V = 5, X = 10, L = 50, C = 100, D = 500, dan M = 1.000.

Melalui perhitungan dengan nilai numerik, dapat menjadi alat bagi kita untuk menemukan kemukzijatan di dalam ayat-ayat Al Qur’an.

HomeHeadlineTerpopulerKanalFokus

Kopi TIMES

Ngaji Matematika (7): Huruf Arab dan Nilai Numerik

Selasa, 05 Mei 2020 - 15:52 | Views: 640.61k



Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – KITA semua sebagai umat Muslim, tentu sudah sangat akrab dengan istilah huruf Arab, lebih-lebih kaum santri. Bahkan, bisa jadi orang-orang non muslim pun mengetahui tentang huruf Arab ini. Huruf Arab merupakan huruf yang digunakan dalam al-Qur’an al-Karim. Huruf Arab ini dikenal dengan huruf hijaiyyah. Istilah hijaiyah berasal dari istilah asal bahasa Arab yang berasal dari kata ‘haja’ yang bermakna mengeja atau ejaan. 

Dengan ikhtiar kita memahami cara membaca huruf hijaiyah, maka akan mempermudah kita dalam membaca kitab suci Al-Qur’an dan memahami isi kandungannya. Dan, dengan itu, insyaallah al-Qur’an akan memberikan syafaat di hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasululullah SAW: “Bacalah oleh kalian Al-Quran. Karena ia (Al-Quran) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim).

Terdapat tiga macam perhitungan berbeda terkait dengan jumlah huruf hijaiyah yaitu 28, 29, dan 30. Mengapa bisa berbeda? Perbedaan ini didasarkan pada pada menghitung ‘huruf tertentu’ sebagai satu huruf yang berdiri sendri atau menganggapnya sebagai bagian huruf yang lain. Jika mengambil huruf terbanyak, maka jumlah keseluruhan adalah 30 huruf, dengan rincian sebagai berikut:

ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه لا ء ي

Untuk perhitungan yang menyebutkan jumlah huruf hijaiyah sebanyak 29 (dua puluh Sembilan) huruf adalah dengan ‘mengeluarkan’ huruf  ‘Lam Alif’ sebagai sebuah huruf yang berdiri sendiri. Huruf tersebut dianggap sebagai gabungan antara huruf ‘Lam’ dengan huruf ‘Alif’. Sedangkan perhitungan 28 (dua puluh delapan) huruf, disebabkan dengan menganulir satu huruf lagi, yaitu dengan menghitung huruf ‘Alif’ dan ‘Hamzah’ sebagai satu huruf yang sama.

Dalam kajian struktur kode bilangan 19 dalam al-Qur’an, kita perlu memahami satu bahasan pokok, yaitu cara menghitung nilai numerik suatu huruf hijaiyyah tersebut. Yang dimaksud huruf hijaiyyah di sini –sebagaimana yang diuraikan di muka- adalah huruf Arab. Sebagaimana firman Allah swt dalam Surat Yusuf ayat 2: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Nilai numerik yang dimaksud adalah bilangan yang dipasangkan pada masing-masing huruf hijaiyyah tersebut.  Nilai numerik ini menjadi salah satu modal dasar untuk mengkaji struktur bilangan 19 pada lafadz-lafadz lain dalam al-Qur’an, yang berkaitan dengan keajaiban Al-Qur’an bersifat matematis.

Konsep “nilai numerik” itu tidak sama dengan “numerologi”. Jika numerologi sering dihubungkan dengan angka-angka tertentu yang digunakan, misalnya untuk meramal seseorang atau meramal kejadian yang akan datang. Sedangkan “nilai numerik” merupakan “nilai yang melekat pada simbol atau huruf-huruf” yang tidak ada kaitannya dengan ramal meramal.

Dalam tulisan ini mengacu pada pendapat yang mengatakan jumlah huruf hijaiyah sebanyak 28 (dua puluh delapan) huruf. Nilai numerik huruf hijaiyah ini di kalangan masyarakat Indonesia dikenal dengan sebutan ”Abajadun”. Untuk mengetahui nilai numerik pada setiap huruf-huruf al-Qur’an (hijaiyah) perhatikan uraian berikut ini:

ا = 1, ب = 2, ج = 3, د = 4, ه = 5, و = 6, ز = 7,ح = 8, ط = 9, ي = 10,

ك = 20, ل = 30, م = 40, ن = 50, س = 60, ع = 70, ف = 80, ص = 90, ق = 100,

ر = 200, ش = 300, ت = 400, ث = 500, خ = 600, ذ = 700, ض = 800, ظ = 900, غ = 1000

Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah swt dalam al-Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban al-Qur’an.

Sekarang, marilah kita coba terapkan untuk menghitung nilai numerik pada Lafadz “Bismillahirrahmannirrahiim”. Perhatikan penjabaran nilai numerik 19 (Sembilan belas) huruf arab dalam lafadz ‘Bismillahirrahmannirrahiim’ di bawah ini.

ب = 2,

س = 60,

م = 40,

ا = 1,

ل = 30,

ل = 30,

ه = 5,

ا = 1,

ل = 30,

ر = 200,

ح = 8,

م = 40,

ن = 50,

ا = 1,

ل = 30,

ر = 200,

ح = 8,

ي = 10,

م = 40,

Selanjutnya, mari kita jumlahkan, sehingga menjadi: 2 + 60 + 40 + 1 + 30 + 30 + 5 + 1 + 30 + 200 + 8 + 40 + 50 + 1 + 30 + 200 + 8 + 10 + 40 = 786.

Jadi, pada lafadz ‘Bismillahirrahmannirrahiim’ mempunyai nilai numerik sebesar 786. Ini salah satu contoh cara menghitung nilai numerik dalam lafadz yang ada di dalam al-Qur’an. [

Riwayat Sejarah Mbah Kyai Haji Abdullah Faqih Cemoro

 

Yayasan Pondok Pesantren KH Abdullah Faqih didirikan Oleh Almarhum Almagfurlah Romo KH Abdullah faqih pada tahun 1917 M atau yang lebih dikenal dengan “ pesantren Cemoro “ berkedudukan di Dusun Cemoro Desa Balak Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi .

KH. Abdullah Faqih atau lebih dikenal kiai Faqih Cemoro sudah tidak asing adalah Ulama besar, dan waliyullah. Kiai Faqih yang lahir pada tahun 1870 Masehi. Beliau dikenal bukan hanya penyebar Islam,saja, tapi juga pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda.

KH abdullah Faqih  dari kerturunan pejuang Balambangan.

KH ABDULLAH FAQIH dilahirkan di dusun Pakis desa balak ( waktu Itu ) tepatnya pada Tahun 1878 M atau 1332 H dari pasangan KH Umar Mangunrono (R.Markidin) R. Markidin atau bisa di sebut KH Umar Mangun rono adalah anak dari sunan Murobah Banten dangan Ibu Raden Ayu Adawilah putri dari keturunan Raden Mas tholib atau (REMPEG JOGOPATI) yang adik dari Mas Alit dari selir mas bagus puri wiroguno, yang berada di dusun pakis hidup bersama rakyat yang tertindas oleh kekejaman VOC waktu itu,  Besarnya R MAS REMPEG JOGOPATI ini Beliau Banyak Belajar Islam dari Kiay Rupo.

R.SAYU ADAWILLAH yang nota bene adalah putri RM Rempeg Jogopati  yang pada waktu itu tahun 1771-1772 bersama dengan R SAYU WIWIT Anak Wong Agung Wilis berperang melawan VOC di bawah bendera laskar bayu, perang tersebut di sebut dengan perang puputan bayu.

Menurut Beberapa Sejarah menerangkan bahwa perang panjang rakyat belambangan di bawah kepemimpinan RM Rempeg Jogopati dan R.SAYU WIWIT melawan VOC menghabiskan 8 ton emas, ini diakui oleh belanda bahwa perang yang paling berat adalah perang di belambangan.

Pada tahun tahun setelah peperangan puputan bayu tersebut R. Sayu Adawillah mengalami sakit dan berobatlah pada Tabib yang kebetulan saat itu berada di wilayah belambangan yakni Sunan Murobah yang berasal dari banten. Dan akhirnya Raden  Sayu Adawillah menikah dengan Sunan Murobah dan di boyong untuk hidup di banten.

Dari pernikahan dengan Sunan murobbah banten dan hidup di daerah batu quran banten Raden Sayu Adawillah Di karuniai 3 Orang Anak diantaranya

1.   RM MARTIDIN
2.   RM Markidin Atau (Kyai Hadji Umar Mangunrono)
3.   R.Sayu Martinah

Jadi RM Martidin ini merupakan putra dari pasangan Ki Sunan Murobah Banten dengan RM Sayu Adawillah. Dari sinilah jiwa kepemimpinan dan perjuangan RM MARKIDIN itu muncul dan akhirnya RM sayu Adawillah memerintahkan kepada RM Markidin dan RM martinah Untuk ke banyuwangi Menemui Saudara saudaranya yan berjuang memlawan VOC di daerah bayu. Dan Perjuangan Kemerdekaan melawan Penjajah di teruskan oleh RM Martidin. Beliau RM Martidin Di perintahkan untuk menjadi Lurah Pertama di desa BALAK oleh saudara Misanya yang Kebetulan menjadi bupati Banyuwangi waktu Itu RM pringgokusumo.

 RM Markidin atau Kiyai Umar akhirnya Menjadi lurah Pertama di Desa balak yang mempunyai Julukan Ki mangunrono. Yang artinya orang yang memangku wilayah. Dan nama RM Markidin berubah menjadi Kyai Hadji Umar Mangunrono.

Kyai Hajdi Umar mangunrono yang pada waktu itu berusia 38 tahun malalui prkawinanya dengan anak tuan tanah atau putri dari sukarejo singojuruh atau adik dari Raden Rokso Sukorejo Singojuruh., ini KH umar memiliki 7 orang anak di antaranya adalah KH Abdullah Faqih. KH abdullah Faqih memiliki nama Kecil yakni RM Mudasir.

Kelahiran Dan Masa Kecil Mbah Kyai

Nama Kecil kyai hadji Abdullah Faqih adalah RM Mudasir. Sejak kecil RM mudasir merupakan seorang yang giat mengaji dan senang akan pengembaraan untuk mencari ilmu pengetahuan,kratif, dan penuh inisiatif. di dalam keseharianya RM Mudasir seorang yang tawadu’ dan memiliki Kecerdasaan. Di bawah bimbingan Mbah putri adik Dari raden Rokso itu maka KH Abdullah Faqih yang kala itu bernama RM Mudasir mengaji dan terus giat aktif di dalam pencarian ilmu.

Pada tahun 1887 yang usia KH abdullah faqih pada waktu itu usia 9 tahun Sudah mengembara untuk mencari ilmu, karena di rumah beliau yakni Ki Umar Mangun rono yang jabatan pada waktu itu sebagai kepala Desa (mangun) sibuk untuk berjuang melawan penjajah belanda. Kyai umar mangun rono yang waktu itu bergabung dan berjuang dengan membentuk pasukan yang bernama laskar bayu.

Kiyai Umar mangun rono yang kala itu menetap dan membabat alas pertama di daerah Balak kecamatan singojuruh ( waktu itu) di kenal sebagai orang yang memiliki kesaktian dan ilmu kanuragan yang mumpuni.

Adapun anak anak dari Mbah Hadji Umar Mangun rono ( RM Markidin ) antara lain :

H Rutinah
Mbah Dahum
Hadji Irsad
KH Rofii
RM Mudasir (KH Abdullah Faqih)
H Abdurahman
H Sarbini

Di besarkan di lingkungan keluarga yang berada dan pemangku daerah tidak lantas membuat RM mudasir terlena dengan kenyamanan dan kemapanan. Diantara saudara saudarnya KH abdullah Faqih terkenal sebagi anak yang Giat untuk mencari ilmu, dan karena kebesaraan Allah pada usia 9 tahun RM mudasir (KH ABDULLAH FAQIH) sudah di karuniai ilmu laduni. Dan sejak umur 9 tahun RM Mudasir sudah terbiasa untuk tirakat dan berpuasa, beliau sering malakukan puasa Senin kamis, puasa daud dan puasa hari putih yakni puasa di tanggal 13-14-15 di pertengahan Bulan.

Demikianlah allah memberikan hidayah kepada hambanya yang di kehendaki.

Pada tahun 1887, kala itu Mudasir masih berusia sembilan tahun. Dia sudah memutuskan untuk berkelana mencari ilmu.  Mudasir muda telah berkelana ke berbagai tempat. Diantaranya ke Kiai Purwosono di Lumajang. Kurang lebih dua tahun, ia menuntut ilmu sekaligus mengabdi disana.

Pendidikan

Mbah KH. Abdullah Faqih merupakan sosok anak muda yang giat belajar. Sejak belia ia rajin menuntut ilmu serta tirakat. Melalui bimbingan ayahnya yang terkenal memiliki ilmu agama dan kanuragan yang pilih tanding, beliau kecil rajin berpuasa sunnah.

Pada tahun 1887, kala itu Kiai Faqih masih berusia sembilan tahun. Dia sudah memutuskan untuk berkelana mencari ilmu. Faqih muda telah berkelana ke berbagai tempat. Diantaranya ke Kiai Purwosono di Lumajang. Kurang lebih dua tahun, ia menuntut ilmu sekaligus mengabdi disana.

Selain ke Lumajang, Faqih muda juga pergi ke Lirboyo. Di tempat itu, ia berkeinginan untuk menuntut ilmu disebuah pesantren yang diasuh oleh KH. Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo.

Setelah itu, Kiai Faqih muda melanjutkan pengembaraannya ke Pasuruan. Ia berguru kepada KH. Siddiq ulama besar asal Lasem yang bermukim di Pasuruan lalu menetap di Jember. Dari Kiai Siddiq ini, banyak terlahir ulama besar. Baik secara biologis maupun ideologis. Diantara putranya, ialah KH. Ahmad Siddiq, Rois Syuriah PBNU periode 1984 – 1989.

Usai nyantri di Pasuruan, Kiai Faqih menyebrang ke Madura. Ia menuntut ilmu ke soko guru para ulama Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan. Tak kurang dari sembilan tahun, ia menyerap ilmu dari waliyullah tersebut.

Kiai Faqih merupakan santri ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar di Bangkalan, beliau satu angkatan dengan KH. Hasyim Asyari dan KH. Wahab Chasbullah, dua kiai besar asal Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.

Kiai Faqih juga satu angkatan dengan KH. M. Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta,  KH. Ma’shum pendiri Pondok Pesantren Lasem Rembang,  dan KH. Syamsul Arifinpendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah  Asembagus Situbondo.

Puas menuntut ilmu syariah, Kiai Faqih berkelana lagi menuntut ilmu hikmah. Tercatat ia singgah selama dua tahun di Pesantren Kaliwungu yang diasuh oleh KH. Sholeh, Semarang. Lalu, setahun ke Kiai Syamsuri di Cirebon. Setahun kemudian ia berguru ke tanah kelahiran kakeknya, Banten. Tak tercatat kepada siapa ia berguru di bumi para jawara itu.

Pada 1904, Kiai Faqih menyempurnakan ilmu dan juga rukun Islam ke tanah suci Mekkah. Di tempat kelahiran Islam ini, Kiai Faqih belajar lagi kepada KH. Mahfud Termas dan ulama lain sejamannya. Enam tahun lebih, ia tuntaskan dahaga ilmunya di tanah haram tersebut.

Mendirikan Pesantren

Berbekal ilmu, spiritualitas, mentalitas, pengalaman dan jaringan ulama nusantara yang telah dirangkai, mendorong Kiai Faqih untuk merintis pesantren di kampungnya. Ia memulainya sejak tahun 1911, namun baru mendapatkan legalitas dari Pemerintah Hindia Belanda pada 17 Agustus 1917. Pemberlakuan Ordonasi Guru menjadi rintangan administratif yang kerap mengkungkung pertumbuhan pesantren saat itu.

Awalnya hanya dua tiga orang santri yang mengaji ke Kiai Faqih. Namun karena kealimannya, lambat laun Pesantren Cemoro mulai menarik minat masyarakat luas untuk belajar disana. Ratusan santri dari berbagai daerah, tidak hanya dari dalam Banyuwangi, juga turut berdatangan.

Santri-Santri

Diantara santri Pesantren Cemoro adalah KH. Harun, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi, KH. Abdul Manan, Mberasan, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar; dan KH. Ahmad Qusairi.

Penjuang Melawan Penjajah

Mbah KH. Abdullah Faqih dikenal bukan hanya penyebar Islam, tapi juga pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda.

Melalui bendera Hizbullah, beliau pernah memimpin sejumlah peperangan di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di wilayah Banyuwangi. Ia pernah ikut perang Parangharjo, perang Hizbullah Lemahbang, dan beberapa perang lain.

Wafat

Mbah KH. Abdullah Faqih wafat pada malam Jumat Kliwon tahun 1953 di usia 83 tahun. Kiai karismatik itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat istrinya, almarhumah Suryati, yang meninggal lebih dulu di usia 60 tahun.

Senin, 22 Februari 2021

Rahasia Huruf Hijaiyah

 Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah adalah motode spiritual membuka serat tubuh manusia dengan tehnik penempatan lafal huruf hijaiyah yang ada pada tubuh kita. Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah suatu ilmu inti dari induk ilmu islami secara spiritual baik ilmu hikmah maupun kharomah.


 Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah jika terbuka khasafnya maka banyak manfaat yang akan diperoleh secara laduniyah bab ilmu johir maupun bathin.


Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah dasar meraih pencerahan spiritual para jawara muslim dan para waliyullah. Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah banyak dipakai perguruan silat, yayasan supranatural dengan diajarkan guna muridnya mencapai tingkat spiritual tinggi, dengan mahar atau biaya yang beragam dari mahar seikhlasnya sampai puluhan juta rupiah. Walau disini disampaikan secara free bin gratis, saran kami harap di gurukan agar mendapat bimbingan dari seorang guru agar terhindar dari tipu daya jin dan syaiton.


 Rahasia Huruf Hijaiyah


 بسم الله الرحمن الرحم مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً “

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.


 Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29),


Ada dua puluh delapan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba, kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini.


Renungkanlah perlahan sekali… Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom. Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom adalah sebesar sebutir debu di pusatnya. Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang jarak satu kilometer itu! Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda. Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr al-Qudrah)


Mengenal baik secara pembacaan maupun secara pengertian terhadap setiap hurup hijaiyah bagi setiap muslim adalah sebuah nilai kehambaan yang begitu besar perannya. Mengingat dengan memahami dan mengenal lebih jauh terhadap hurup hijaiyyah itu merupakan landasan pokok untuk memahami pembacaan Al quran secara benar.


Yang tentunya didasari dengan kaidah-kaidah ilmu yang menjadi patokan dasar pembacaannya seperti ilmu tajwid dan qiroat. Sebab selain bisa membacakan setiap hurup hijaiyyah sesuai dengan makhrojnya(tempat keluarnya hurup), cara seperti inipun merupakan dasar dari pengenalan pembacaan terhadap Alquran.


Untuk itulah sebagai lanjutan dari adanya pengenalan itu, maka rahasia yang terdapat pada setiap hurup hijaiyyah itu berdasarkan kajian yang didasari dengan ilmunya itu bisa diketahui dengan jelas dan pasti. Dalam hal ini para Ulama pun berpendapat tentang hakikat dari rahasia dan arti setiap hurup hijaiyyah, Berikut landasan dari adanya pemaknaan tersebut.


معاني الحروف الهجائية على لسان الإمام علي عليه الصلاه السلام جاء يهودي إلى النبي صلى الله عليه و آله سلم وعنده أمير المؤمنين فقال له : ما الفائدة في حروف الهجاء؟فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم لعلي : أجبه , وقال اللهم وفقه وسددهفقال علي : مامن حرف إلا وهو اسم من أسماء الله عز وجلثم قال :أما الألف : الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوموأما الباء : باق بعد فناء خلقهوأما التاء : تواب يقبل التوبة عن عبادهوأما الثاء : الثابت الكائن يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابتوأما الجيم : جل ثناؤه وتقدست أسماؤهوأما الحاء : حق حي حليموأما الخاء : خبير بما يعمل العبادوأما الدال : ديان يوم الدينوأما الذال : ذو الجلال والإكراموأما الراء : رؤوف بعبادهوأما الزاي : زين المعبودينوأما السين : سميع البصيروأما الشين : شاكر لعباده المؤمنينوأما الصاد : صادق في وعده ووعيدهوأما الضاد : الضار النافعوأما الطاء : الطاهر المطهروأما الظاء : الظاهر المظهر لآياتهوأما العين : عالم بعبادهوأما الغين :غياث المستغيثينوأما الفاء : فالق الحب والنوىوأما القاف : قادر على جميع خلقهوأما الكاف : الكافي الذي لم يكن له كفوا احد ولم يلد ولم يولدوأما اللام : لطيف بعبادهوأما الميم : مالك الملكوأما النون : نور السماوات والأرض من نور عرشهوأما الهاء : هادي لخلقهوأما الواو : واحد صمد لم يلد ولم يولدوأما اللام : لا إله إلا الله وحده لا شريك لهوأما الياء : يد الله باسطة على خلقهفقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : هذا هو القول الذي رضي الله عز وجل لنفسه من جميع خلقه,فاسلم اليهودي


Penjelasannya:

Sebagaimana yang diterangkan dan di terima dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as berkata :

Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.

Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf hijaiyah ?”

Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam orang Yahudi itu”.Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber pada nama-nama Allah swt”.Kemudian Ali berkata :


1. Adapun huruf alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Kokoh,

2. Huruf ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.

3. Huruf ta, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari semua hamba-Nya,

4. Huruf tsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia”

5. Huruf jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya serta suci seluruh nama-nama-Nya.

6. Huruf ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.

7. Huruf Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya.

8. Huruf Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,

9. Huruf dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

10. Huruf Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.

11. Huruf Zay artinya hiasan penghambaan.

12. Huruf Sin artinya Maha mendengar dan melihat. Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.

13. Huruf Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.

14. Huruf Dhad artinya adalah yang memberikan madharat dan manfaat.

15. Huruf Tha artinya Yang suci dan mensucikan,

16. Huruf dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.

17. Huruf Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.

18. Huruf Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua ciptaan-Nya.

19. Huruf Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.

20. Huruf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya

21. Huruf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.

22. Huruf lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.

23. Huruf Mim artinya pemilik semua kerajaan.

24. Huruf Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada cahaya arasynya.

25. Huruf waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.

26. Huruf Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.

27. Huruf Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta tidak ada sekutu bagi-Nya.

28. Huruf ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh makhluk-Nya”. Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai Allah dari semua makhluk-Nya”. Dan setelah mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.


Dari adanya landasan pemaknaan setiap huruf hijaiyah tersebut, maka para ulama masyhur seperti Imam As-suyuthi, Imam Ibnu Katsir turut berpendapat terhadap apa yang di maksud dengan rahasia dari setiap huruf hijaiyyah itu, berikut fatwa dan pendapat yang di maksud.


1. Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa huruf hijaiyah termasuk rahasia yang hanya diketahui Allah SWT. Sekalipun demikian ada beberapa ulama yang mencoba mengungkapnya.


2. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat-ayat pembuka surat pun tentu saja memiliki makna. Seandainya kita terpelihara dari berbuat kesalahan niscaya kita akan dapat mengungkapkan maknanya.[ Diantaranya maknanya :


Setiap huruf hijaiyyah Merupakan nama-nama Allah SWT. Ini berdasarkan dari riwayat Yang dikeluarkan Ibnu Jurair dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Ia (huruf hijaiyah) adalah nama Allah yang terbesar.” Juga riwayat lainnya dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Alif lam mim, tha sin mim, min nun dan yang serupa adalah sumpah yang dengannya Allah bersumpah, yaitu termasuk nama-nama Allah.”


Setiap huruf hijaiyyah merupakan nama-nama Al-Qur’an.


Setiap huruf hijaiyyah merupakan nama-nama Surat. Abdurrahman Al-Bagdadi[, mengatakan bahwa huruf mu’jam diawal surah merupakan nama surah. Karena dalam istilah ulama ilmu nahwu ia adalah apa yang menunjukkan makna terhadap yang lainnya dan jika tidak bergandengan dengan yang lain maka tidak ada maknanya. Dan dalam huruf-huruf mu’jam yang terdapat diawal surat sungguh bergandengan dengan huruf yang lain.


Setiap huruf hijaiyyah merupakan peringatan sebagaimana didalam panggilan, tetapi ia tidak memakai kata-kata biasa. Karena Al-Qur’an adalah kalam yang berbeda dengan kalam yang lainnya.


Setiap huruf hijaiyyah menunjukkan bahwa Al-Qur’an disusun dari huruf-huruf yang diketahui & dikenal orang Arab, sebagai penggugah & bukti ketidakmampuan mereka menirunya walaupun huruf yang dipakai Al-Qur’an telah mereka ketahui & kenali.


Dan berikut referensi dasar serta ibaroh dari pemaknaan setiap huruf hijaiyyah menurut Imam Al qurtubi yang di ambil dari perkataan Rasululloah S.A.W.


فصل قال القرطبي لما قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم. أن لله تسعة وتسعين اسما من أحصاها دخل الجنة. أردت أن يكون لي في هذا الإحصاء نصيب. وذكر بعضهم أنه من أراد الإحصاء فليقرأ القرآن من أوله إلى آخره فيستوفي الأسماء كلها في إضعاف التلاوة. قال الخطابي وذكر أبو عبد الله الزبيدي أنه أخرج الأسماء كلها من القرآن وذكر أنها ثلاثمائة وثلاثة عشر اسما وهي هذه مرتبة على حروف المعجم. “حرف الألف” الله-اللهم-إله-أحد-أول-آخر-ال في أحد وجوه -آيل-أعز-أعظم-أحكم-آجل-أقدر-أوسع-أكثر-أكبر-أكرم–أعلم-أقرب-أحسن-أصدق-أعلى-أهل التقوى-المغفرة-آمر-أبد-أمين.”حرف الباء الموحدة” باق-باطن-بصير-بديع-باري-بريء-بر-بار-باسط-باعث-بالغ أمره-بادي-بدى-برهان “حرف التاء الفوقية” تواب-تام “حرف الثاء المثلثة” قال الأقليشي ولم يرد اسم مفتح بالثاء ولم يجيء ثابت في القرآن ولا في الأثر وأن كان يوصف الله تعالى به في معرض المدح فيقال الله ثابت سلطانه وثابت علمه وثابت قدمه إلى غير ذلك مما يستحق.


Artinya : Imam Al qurtubi berkata,,Rasululloh S.A.W bersabda: “Sesungguhnya Alloh S.W.T memiliki 99 nama indah, maka barang siapa yang diberikan keitimewaannya maka akan masuk surga.” Aku bermaksud untuk menjadi bagian dari keitimewaan tersebut. Ulama lain berpendapat. “Barang siapa yang bermaksud mendapatkan keistimewaan itu, maka bacalah A; quran dari mulai awal sampai dengan akhirnya dan ketahuilah dari setiap nama berlipatgandanya bacaan Alquran. Dalam hal ini Imam Khutobi berkata yang diterima dari Abu Abdulloh Azzubaidi mengatakan :”Sesunguhnya Alloh S.W.t mengeluarkan(mempunyai) nama-nama indah semuanya ada dalam Al quran, beliapun berkata sesunnguhnya nama yang di maksud tersebut itu jumlahnya 313 nama, Inilah martabat ataupun kedudukan dari pemaknaan huruf secara menyeluruh.


 Adapun huruf Alif bermakna


 الله-اللهم-إله-أحد-أول-آخر-ال في أحد وجوه -آيل-أعز-أعظم-أحكم-آجل-أقدر-أوسع-أكثر-أكبر-أكرم–أعلم-أقرب-أحسن-أصدق-أعلى-أهل التقوى-المغفرة-آمر-أبد-أمين 


huruf “Ba” bermakna

 باق-باطن-بصير-بديع-باري-بريء-بر-بار-باسط-باعث-بالغ أمره-بادي-بدى-برهان 


huruf “Ta” bermakna تواب-تام 

huruf “Tsa” pada huruf ini Imam Aqlaisi berpendapat “Tidak ada nama Alloh yang di ambil dari huruf tsa dan tidak ada ketetapannya dalam Alquran begitu juga dari atsar, dan jikalau ada nama Alloh di sifati dengan pemaknaan huruf “tsa” itu adalah bagian dari

 “معرض المدح” 

ataupun fujian baru datangnya bagi Alloh seperti yang ada dari ucapan:


” الله ثابت سلطانه وثابت علمه وثابت قدمه إلى غير ذلك مما يستحق.”

Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah yakni 30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia antara lain yaitu:


1. alif = hidung

 2. ba' = mata

 3. ta' = tempat mata(lubang tempat mata)

 4. tsa' = bahu kanan

5. jim = bahu kiri

6. ha = tangan kanan

 7. kha = tangan kiri

8. dal = telapak tangan kanan dan kiri

 9. dzal = kepala dan rambut

10. ro' = rusuk kanan

11. zai = rusuk kiri

 12. sin = dada kanan

13. syin = dada kiri

 14. shod = pantat kanan

 15. dhod = pantat kiri

16. tho' = hati

17. zho'= gigi

18. ain = paha kanan

 19. ghoin = paha kiri

20. fa' = betis kanan

 21. kof = betis kiri

 22. kaf = kulit

 23. lam = daging

 24. mim = otak

25. nun = nur/cahaya

 26. wau = telapak kaki kanan dan kiri

 27. ha' = sungsum tulam

28. lam alif = manusia utuh

29. hamzah = memenuhi segala

 30. ya' = mulut/manusia


 Affirmasi: Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……(di isi dengan salah satu yang mau di bangkitkan penempatannya yakni huruf Alif samapi Ya')…………. 


Contoh: Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF 30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..


 Catatan: Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian. Dan sebenarnya masih banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai ilmu huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar.


 Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding samudera rahasia huruf itu sendiri. Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita membatasi diri terhadap rahasia dan karunia ilmu dari Allah SWT.


 Prinsip Dasar Al Hikmah: 

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57) 

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82) 

“Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44) 

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21) 


Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:


 أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ “


Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220).


 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)

Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan sobat sekalian.

Minggu, 21 Februari 2021

Mengapa Kalimah Basmallah Diawali Huruf Ba'

 

Banyak artikel dan kajian telah berusaha mengurai makna basmalah (bismillâhirrahmânirrahîm) dan rahasianya, namun rasanya tidak mungkin akan habis hingga hari kiamat. Ini membuktikan betapa luasnya ilmu Allah yang tertuang dalam lafal basmalah.

Basmalah merupakan ayat pertama surah al-Fatihah yang terdiri dari 19 huruf dan diawali huruf “ba”. Mengapa harus huruf ba, tidak huruf yang lain? Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati menjawab pertanyaan ini dalam kitabnya Kifayah al-Atqiya wa Minhaj al-Asyfiya,

Ilmu Allah Terkandung dalam Huruf “Ba”

وَقَالُوْا اَوْدَعَ اللهُ جَمِيْعَ الْعُلُوْمِ فِي الْبَاءِ أَيْ بِيْ كَانَ مَا كَانَ وَبِيْ يَكُوْنُ مَايَكُوْنُ فَوُجُوْدُ الْعَوَالِمِ بِيْ 

“Ulama ahli tasawuf mengatakan, ‘Allah menitipkan seluruh ilmunya pada huruf ba, yaitu karena kekuasaan-Ku (bî) wujudlah segala sesuatu yang telah ada, karena kekuasaan-Ku pula terwujud sesuatu yang akan ada, dan adanya alam semesta adalah atas kekuasaan-Ku.”

Pernyataan ini merupakan makna dari perkataan para ulama “Saya tidak melihat segala sesuatu kecuali di situ ada Allah.” Segala bentuk ciptaan yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah, adanya karena diadakan oleh Allah, dan tiadannya karena ditiadakan oleh Allah. Dengan demikian mustahil Allah tidak mengetahui apa-apa yang telah Ia ciptakan. Sehingga para ulama memahami bahwa apa saja yang mereka lihat di situ pula ada pengawasan Allah yang telah mencipta.

Huruf Ba Pertama Diucapkan oleh Manusia

Syekh Sayid Bakari al-Makki menambahkan bahwa ba merupakan huruf bibir. Melafalkannya menjadi sebab terbukanya mulut. Awal terbukanya mulut manusia adalah ketika mengucapkan kesaksian bahwa Allah adalah tuhannya. 

والحكمة في ان الله جعل افتتاح البسملة بالباء دون غيرها من الحروف لانها حرف شفوي تنفتح به الشفة ولذلك كان اول انفتاح فم الذرة الانسانية في عهد ألست بربكم بالباء في جواب بلى

“Hikmah Allah menjadikan huruf ba sebagai awal basmalah, bukan huruf yang lain adalah karena huruf ba adalah huruf bibir yang mengucapkannya menyebabkan terbukanya bibir. Dengan demikian pertamakali terbukanya mulut manusia adalah ketika menjawab pertanyaan Allah ألست بربكم (bukankah kami adalah tuhanmu?), بلى (ya kami bersaksi) (diawali huruf ba).”

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS. Al-A’raf[7]: 172).

Penjelasan selanjutnya bahwa huruf ba pada lafal basmalah selamanya dibaca kasrah. Dalam bahasa Arab disebut dengan huruf jar.

والاسم قد حصص بالجر كما قد حصص الفعل بأن ينجزم

“I’rab jar adalah khusus bertempat pada isim (kata benda), sebagaimana i’rab jazam bertempat pada fi’il (kata kerja).”

Menurutnya, isim atau dalam arti harfiah adalah derajat yang tinggi, sedangkan derajat yang tinggi dapat diperoleh dengan rendah hati (الجر)

Senada dengan penjelasan tersebut, Syekh Sayid Bakari al-Makki membedakan makna sifat huruf ba dan alif dengan dua sifat yang saling berlawanan. 

فإن فيها ترفعا تكثرا وتطولا فلذلك اسقطت

“Sesungguhnya pada huruf alif terkandung makna merasa paling tinggi derajatnya, merasa paling banyak memilikinya dan berfungsi untuk memanjangkan bacaan, karena sebab inilah huruf alif dibuang” (Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati, Kifayah al-Atqiya wa Minhaj al-Asyfiya, Indonesia: Dar Al-Ihya, hal. 4).

Lafal بسم terdiri dari kata yaitu huruf ba, dan ismi yang biasa diartikan dengan “menyebut nama”. Pada lafal basmalah (dalam Rasm Utsmanired) tidak ditulis bi ismillah (باسم الله), namun alif-nya dibuang menjadi bismillah (بسم الله) karena alif mengandung makna yang berlawanan dengan huruf ba pada awal basmalah. 

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa huruf huruf badipilih oleh Allah menjadi awal basmalah oleh sebagaian ulama ditafsirkan karena beberapa sebab, di antanya;

Pertama, ba adalah huruf yang di dalamnya terkandung ilmu Allah, dengan memaknai ba sebagai kekuasaan (dengan kukuasaan-Ku…).

Kedua, huruf ba adalah huruf yang diucapkan hamba di hadapan Allah pertama kali yaitu pada kata بلى sebagai bentuk kesaksian bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, pencipta dan penguasa alam semesta.

Ketiga, secara harfiah huruf ba memiliki makna yang lebih baik dibandingkan huruf-huruf lainnya termasuk alif. Sehingga basmalah diawali dengan huruf ba bukan huruf yang lain.

Pastinya masih banyak penafsiran-penafsiran lain terkait basmalah, baik secara makna per kata (huruf BaIsmAllahar-Rahman, dan ar-Rahim) maupun secara keseluruhan. 

Jika satu huruf dari Al-Qur’an sedemikian luas makna dan manfaatnya, bagaimana dengan seluruh huruf dalam al-Qur’an?

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam memahami ayat-ayat Allah, dan dimudahkan pula untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk hidup agar dapat meraih keselamatan dunia dan akhirat. 

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Jumat, 19 Februari 2021

Rahasia Huruf Dalam Hitungan Wirid

 

Pernah terjadi anak muda mengamalkan ilmu metafisika dari buku dan akhirnya dirawat. Tragedi itu jika diruntut alurnya, dari keinginan yang kuat untuk belajar, dan ketika ada isi buku yang tak dipahami, banyak pertanyaan tak terjawab, dan tak ada tempat bertanya, akhirnya jiwanya terguncang.

Belajar metafisika bagi pemula perlu pembimbing. Bahkan pada ilmu hikmah ada rahasia amalan yang berkaitan dengan sirri atau rahasia huruf hijaiyah berdasarkan petunjuk hitungan “Bi ‘adadi huruufihaa” yaitu sesuai jumlah hurufnya. Misalnya basmalah 19 kali atau ayat kursi 170 kali. Bi’adadi kalimaatihaa, sesuai jumlah kalimatnya.

Misalnya, membaca ayat Kursi 50 kali. Bi’adadi abjadi huruufiha, sesuai jumlah “abajadun”, atau  membaca Ya Latiif 129 kali. Tafaul dan tabaruk mengikuti labet atau atsar ngalap berkah dari khususiyah jumlah hitungan, misalnya 313 sesuai jumlah ashabul badr, dan jumlah Nabi dan Rasul.

Hal itu buah dari tersingkapnya hijab rahasia hitungan suatu amalan atau aurad bagi penggagas dan pengamalnya. Sedangkan untuk hitungan ganjil mengikuti hadits, Allah yuhibbul witr (menyukai yang ganjil).

Ada juga pendapat wirid itu seperti gigi kunci, jika tidak pas, pintunya sulit dibuka, seperti resep obat, kurang dan lebihnya menjadikan kurang bermanfaat.  Ulama berijtihad, jumlah hitungan dan aturan wirid mana yang lebih cepat terkabul, hingga disebut wirid tajribiah (sudah teruji).

Jadi, masalahnya bukan pada hitungan, melainkan kecocokan. Maka, ada ustad dapat ijazah hizib. Ketika akan mengamalkan, oleh Guru  dipesan jika nanti mendapati sesuatu yang berbeda pada tubuhmu, jangan dilanjut.

Karena ketika tubuh merasa ada yang kurang nyaman, sebaiknya dihentikan. Sebab, walau caranya benar,  jika wadahnya tidak kuat, bisamengganggu fisik dan psikis. Karena itu, orang zaman dulu, mau mengamalkan hizib, wadahnya dipersiapkan dulu, ada khidmah dan riyadhah dulu agar mampu menerima.

Bacaan zikir dan wirid pun memiliki makna, bahkan biji tasbih 99 pun dibagi tiga, masing-masing berjumlah 33. Hitungan 33 itu mewakili setiap ruas tulang belakang manusia. Jika diulang tiga kali, totalnya 99, sejumlah asmaul husna.

Termasuk rahasia angka tujuh, itu ada pada penciptaan langit dan bumi yang memiliki tujuh lapisan dan mewakili jumlah hari. Sedangkan hitungan 313 digunakan wirid untuk power (kesaktian) ini berkaitan jumlah pasukan pada perang badar dan jumlah Rasul. Angka tujuh bisa dikaitan  3 + 1 + 3 = 7.

Namun, ada wirid yang tidak sesuai “hisab jumal”. Yang ini kembali kepada gurunya. Karena bisa jadi dari sumber lain. Misalnya, wirid sembilan kali dikaitkan Wali Sanga. Angka sembilan memiliki arti “keabadian” atau 11 “Sewelas” bermakna welas (kasih sayang) dan angka  40 diyakini “keramat” karena  sejumlah pasukan pada perang badar, dan  jumlah Rasul.

Kenapa Dihitung?

Ada pertanyaan, kenapa wirid harus dihitung? Bukankah Tuhan tidak mewajibkan dan ada kesan tidak ikhlas. Ada perbedakan antara wirid dan zikir. Zikir adalah aktivitas ibadah kepada-Nya, sedangkan wirid berkaitan permohonan kepada-Nya.

Karena zikir untuk memuji dan mendekatkan diri kepada-Nya, tidak harus dihitung, sesuai perintah Alquran, mengingat Allah sebanyak-banyaknya, sedangkan wirid punya tujuan khusus. Diumpamakan, Tuhan memiliki perbendaharaan rezeki dan segala yang diperlukan manusia itu tersimpan didalamnya. Untuk membukanya perlu kunci yang sasuai gemboknya.

Hitungan itu ibarat jumlah gerigi kunci, harus sesuai gemboknya.  Karena itu para ahli hikmah mengajarkan wirid sesuai jumlah tertentu  agar dapat membuka gudang perbendaharaan itu.

Dalam ilmu huruf, angka adalah batinnya huruf, jadi huruf laksana batang tubuh. Karena itu, peran angka sangat penting seperti mengonversi huruf kedalam angka-angka yang harmonis. Dalam wifiq tujuannya agar dunia batin yang terkait alam empiris mengambil alih dunia lahir yang terbatas.

Begitu juga wirid, jumlahnya berasal dari numerik lafal yang dibaca itu diharapkan pelaku dapat mengakses aspek batin secara maksimal. Hal itu dapat dilihat pada alam raya yang hakikatnya ruang dan waktu adalah angka, bahkan sistem komputerisasi pun basicnya angka.

Penerapan angka yang tepat itu bukan asal pilih. Seperti PIN yang jika harusnya enam digit, lalu ditambah sembilan digit maka tidak akan terbuka, bahkan bisa terkunci, dan jika dibaca lebih, tetap dapat pahala zikir, namun tujuannya belum tentu tercapai.

Versi Tradisi

Meyakini angka dan waktu ada yang dikemas secara tradisional. Di Jawa, lazimnya menggunakan rumus jumlah hari pasaran yang dapat dikembangkan menjadi cabang ilmu yang dapat membangkitkan spirit, namun juga bisa menumbuhkan rasa “takut” (hati-hati) bagi yang meyakininya.

Misalnya, murid belajar ilmu yang sama, tirakat dan maharnya  berdasarkan weton atau hari kelahirannya. Misalnya, weton Jumat Wage, puasa 10 hari,  yang Sabtu Pahing 18 hari. Ini berpedoman pada : Ahad (5) Senin (4) Selasa (3) Rabu (7) Kamis (8) Jumat (6) Sabtu (9) dan pasaran : Kliwon (8) Legi (5) Pahing (9) Pon (7) Wage (4).

Begitu juga soal mahar. Misalnya, yang lahir Selasa Wage ( 3+4) maharnya Rp.340.000,- tirakat 7 hari. Yang lahir Sabtu Pahing (9+9) maharnya Rp.990.000,- tirakat 18 hari. Kesimpulannya?

Tradisi dalam konsep metafisik bersifat “lokal domestik” dan tidak berlaku secara umum. Kesimpulannya? Asal mantab, insya Allah suskses! Karena Tuhan mengikuti apa yang menjadi persangkaan hamba-Nya

Rahasia Ilmu Huruf

 

Ilmu Huruf merupakan salah satu ilmu yang semakin dilupakan dan sukar mencari guru yang dapat mengijazahkan ilmu ini, kerana tidak ramai yang mempelajari atau tidak diwariskan walaupun dari kalangan para Waliyulloh dan Sufi muhaqiqin sekalipun. Kitab-kitab berkenaan ilmu huruf ini juga tidak banyak ditulis, antara kitab yang terkenal tentang ilmu huruf ini adalah kitab Shamsul Maarif Kubra (Shams al-Ma’arif wa Lata’if al-‘Awarif) oleh Imam Abul 'Abbas Ahmad bin Ali Al-buni rah

Ketika huruf hijaiyah terbagi menjadi 28 makhraj (pengucapan huruf) dan setiap makhraj merupakan manzilah dari manzilah-manzilah bulan yang jumlahnya juga 28, maka tersusunlah huruf-huruf itu ke dalam susunan Abjad. Dan huruf-huruf itu terbagi menjadi:

Pertama: Bertitik dan tidak bertitik, menggambarkan nathiq (bicara) dan shamit (diam).
Kedua: Mengandung empat unsur, yaitu:
Unsur api: alif, ha’ (ه), tha’, shad, mim, fa’, syin.
Unsur udara: ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
Unsur air: jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
Unsur tanah: ha’ (ح), lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.

Ketiga: Dari segi kesendirian dan tidaknya, terbagi menjadi: mufradah, matsani dan matsalis. Mufradah adalah huruf-huruf Muqaththa’ah (yang terdapat di awal surat Al-Qur’an) seperti huruf alif, kaf, dan lam. Matsani seperti dal, dzal, sampai fa’ dan qaf. Matsalis seperti ba’ sampai kha’ dalam susunan Abatatsa. Dari sisi nuqthah (titik): ada yang satu, dua, dan yang tiga.

Keempat: Malfuzhi, masruri, dan malbubi. Malfuzhi adalah huruf yang dalam pelafazhan atau pengucapannya tidak sama antara huruf pertama dan huruf terakhir, misalnya alif dan jim.Masruri adalah huruf yang dalam pengucapannya sama antara huruf pertama dan huruf terakhir, misalnya mim, nun, dan wawu. Malbubi adalah huruf yang pengucapannya terdiri dari dua huruf, misalnya ba, ta; huruf ini juga disebut huruf ‘illiyyah.

Kelima: Mufashshalah dan Muwashshalah. Mufashshalah adalah huruf yang hanya bisa disambung dengan huruf sebelumnya, yaitu alif, wawu, dzal, ra’, za’, dan dal. Muwashshalah adalah huruf yang bisa disambung dengan huruf sebelum dan sesudahnya.

Keenam: Huruf cahaya dan huruf kegelapan. Huruf cahaya adalah: shat, ra’, alif, tha’, ‘ain, lam, ya’, ha’, qaf, nun, mim, sin, kaf, ha’. Yang semuanya terhimpun dalam kalimat:

صِرَاطُ عَلِيٍّ حَقٌّ نُمْسِكُهُ

Jalan Ali benar kita pegang teguh

Dan selain huruf-huruf tersebut adalah huruf kegelapan. Coba kita perhatikan nama-nama semuanya didominasi oleh huruf-huruf cahaya kecuali “Al-Wadûd”.

Ketujuh: Huruf mudghamah (tersembunyi) dan muzhharah (nampak). Masing-masing berjumlah 14 sama dengan pembagian jumlah manzilah bulan. Yang nampak selalu berada di atas bumi, dan yang tersembunyi selalu berada di bawah bumi.
Huruf Mudghamah adalah huruf yang bila diawali (Al) bunyi Al-nya tidak nampak, misalnya Ra’ dan Dal. Huruf Muzhharah adalah huruf yang bila diawali (Al) bunyi Al-nya nampak, misalnya ba’, jim.

Hukum huruf-huruf tersebut memiliki rahasia yang menakjubkan. Misalnya, dalam susunan Abatatsa, “alif” merupakan huruf zat Yang Maha Suci, yakni Al-Awwalu wal Akhiru. Adapun khalifah huruf “alif” adalah “ya’” dan “wawu”, keduanya termasuk huruf layyinah dalam menjelaskan semua huruf, sebagaimana wujud Yang Maha Suci adalah sumber dari semua wujud, dan hal ini terkandung dalam doa, misalnya:

يا من كل شيئ قائم بك

Wahai Zat yang segala sesuatu terwujud karena keberadaan-Mu

Tak ubahnya kwalitas suara dan perbedaannya terjadi di udara karena ketergantungan gelombang pada sumber gelombang.

Karena itu kita tidak akan menemukan dua bentuk yang sama dalam semua wujud berdasarkan hukum penampakan Ahadiyah (hukum Alif dan ba’) dan penampakan nama “Man laysa kamitslihi syay-un ” (Dia yang tidak diserupai oleh segala sesuatu). Demikian juga kita tidak akan mendapatkan dua suara dalam wujud yang sama, sebagaimana hal ini digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَ مِنْ ءَايَتِهِ خَلْقُ السمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ وَ اخْتِلاََف أَلْسِنَتِكمْ وَ أَلْوَانِكمْ إِنَّ فى ذَلِك لاَيَاتٍ لِّلْعَلِمِينَ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu, sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi semesta alam.” (Ar-Rum: 22).

Allah Maha Mendengar suara ini dan semua suara yang kwalitasnya telah terjadi dan akan terjadi di udara, dengan satu pendengaran yang sifatnya hudhuri dan isyraqi (pengenalan tingkat rasa).

Selasa, 16 Februari 2021

Legenda Kyai Kebo Landoh

 

Kebo Landoh merupakan salah satu legenda ternama di Kabupaten Pati. Warga di daerah ini sudah tak asing dengan cerita kebo ini yang berkait erat dengan Syekh Jangkung atau Saridin.

Apalagi, sampai saat ini, kulit Kebo Landoh dipercaya mempunyai kekuatan magis. Dalam sejarahnya, kebo landoh merupakan hewan yang kuat.

Bahkan, siapa yang memilikinya, kekuatannya tidak tertandingi. Sehingga, Kebo Landoh ini pun banyak menjadi perhatian. Sampai saat ini banyak yang berburu kulit atau lulang yang diyakini bagian dari kebo ini.

Apa itu Kebo Landoh? Belum banyak orang yang tahu khasiat jimat Lulang Kebo Landoh. Bahkan mendengar namanya saja mungkin masih terasa asing. Jimat ini sangat langkah, tidak gampang orang dapat memilikinya. Pasalnya, jimat Lulang Kebo Lando konon tidak bisa dijual belikan. Sedang mereka memiliki jimat ini dipercayai kebal terhadap berbagai jenis senjata.

Bagaimana jimat ini bisa ada?

Menurut cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut jimat memiliki daya tangkal ampuh ini disebut Lulang Kebo Landoh karena tempat asal-usulnya dari Desa Landoh, Desa Landoh, Kayen, Pati. Dulu ajimat ini tidak langsung ada atau berasal dari alam secara gaib, melainkan ada kisah cukup unik yang tanpa sengaja tahu kalau lulang kebo asal Landoh ternyata jimat kekebalan.

Dituturkan dalam cerita, semasa kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung mempunyai seorang kawulo yang bernama Saridin yang lantas dikenal dengan julukan Syech Jangkung. Ketika usia Syech Jangkung mendekati senja ia memilih hidup sebagai petani dengan membuka perkampungan baru di kawasan Pati, Jawa Tengah.

Dalam perjalanan mencari perkampungan sampailah ia di Desa Lose. Di sini, ia bertemu dengan 7 orang yang sedang memperbaiki atap sebuah rumah. Dari sinilah Syech Jangkung ingin membuktikan kebaikan perilaku ketujuh orang tersebut. Lantas, dia mengalihkan perhatian mereka dengan bertanya apakah ada warga sekitar yang akan menjual kerbau. Maksud Syech jika ada maka dia ingin membeli 2 ekor dengan alasan untuk keperluan membajak sawah.

Ke-7 orang melihat pakaian Syech Jangkung yang compang-camping tidak mengindahkan pertanyaan tersebut. Malah menghinanya dengan jawabannya yang menyakitkan. Mereka mengatakan di desanya tidak akan ada orang menjual kerbau padanya. Namun, bila mau ia akan diberi kerbau yang sudah mati. Di luar perkiraan ke-7 orang itu, Syech Jangkung menerima tawaran mereka.

Lalu berangkatlah mereka bersama menuju tempat kerbau mati. Syech Jangkung lantas menatap seonggok kerbau yang sudah tidak bergerak-gerak itu. Badannya sangat besar dengan tanduk yang sudah melengkung. Melihat kerbau itu, Syech Jangkung lantas sholat dan meminta kepada Allah agar kerbau itu dihidupkan kembali. “ Sekarang bangunlah, ” ujar Syech Jangkung sambil mengelus-elus tanduk kerbau itu. Aneh bin ajaib, tiba-tiba kerbau itu mengibaskan ekornya menandakan dia hidup kembali.

Tahu kejadian ajaib itu serta merta ke-7 orang yang semula meremehkan diri Syech Jangkung langsung bersujud untuk menyampaikan permintaan maafnya. Sejak itu Syech Jangkung membuka perkampungan di tempat ke-7 orang tersebut. Yang lantas dikenal dengan nama Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Pati. Apalagi setelah kabar Syech Jangkung menghidupkan kerbau yang telah mati sampai akhirnya ke telinga Sultan Agung. Yang lantas mengirimnya dua ekor kebau. Dari sini tekad Syech Jangkung mendiami desa Landoh yang mantap. Akhirnya, dia memilih menjadi seorang petani di desa tersebut.
Sebelum meninggal dunia, Syech Jangkung berpesan agar kelak kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada seluruh penduduk. Tapi, ketika ia meninggal dunia, kerbau itu menghilang dan baru muncul pada hari ke 40. Oleh anaknya, kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada penduduk Landoh. Sementara itu, kulitnya ( lulang) disimpan dengan rapi.

Suatu ketika ada seorang pedagang yang kehilangan sabuk pengikat barang dagangan. Ia mengadu kepada Tirtokusumo, anak Syech Jangkung yang akhirnya memberikan lulang kerbau peninggalan ayahnya. Namun, di pinggir kampung sapi yang mengenakan lulang kerbau itu mengamuk. Tak seorang pun yang berhasil pembunuhnya. Anehnya, sapi itu tiba-tiba menjadi kebal terhadap senjata.

Ketika sapi itu kelelahan, Tirokusumo mengambil lulang kerbau. Dan, sapi itupun dengan mudah bisa dibunuh dengan tombak. Dari kejadian tersebut, akhirnya masyarakat yakin jika Lulang Kebo Landoh adalah jimat sakti untuk kekebalan. Tirtokusumo kemudian membagikan lulang-lulang itu ( dalam ukuran kecil, red) kepada penduduk Desa Landoh, termasuk kepada pihak Kasultanan Mataram..

Kisah Sebagian Perjalanan Syaikh Jangkung

Syech Jangkung juga dikenal di wilayah Semarang, yakni di daerah Wiyono, sebab di sana ia pernah bertapa dan mendirikan tempat pengajian untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Dalam perjalanannya, Syech Jangkung juga sempat bertemu dengan seorang Kyai dari Krendetan (Kabupaten Purworejo) bernama Kiai Projaguna.

Dalam pertemuan itu, Syech Jangkung minta kepada Kiai Projaguna dua buah kelapa yang sebuah untuk bibit dan yang satu lagi akan digunakan untuk perahu. Bermodal perahu itu Syech Jangkung mengembara menuju daerah seberang (Palembang).

Sampai di Palembang, bersamaan timbulnya malapetaka wabah penyakit yang sangat ganas dengan memakan banyak korban sebagian besar penduduk setempat. Syech Jangkung kembali bersemedi yang secara kebetulan diketahui oleh penduduk di daerah setempat.

“Sempat dituduh sebagai penyebar wabah yang menimbulkan malapetaka, Syech Jangkung ditantang membuktikan bahwa dirinya bukan penyebar wabah, dengan syarat bisa memberantas wabah yang terjadi. Syech Jangkung berhasil meredakan wabah yang menyerang penduduk Palembang, kemudian menikah dengan Putri Palembang. Sebagai hasil dari perkawinan itu lahirlah seorang putra yang diberi nama Raden Mukmin,”.

Setelah beberapa lama tinggal di Palembang, Syech Jangkung melanjutkan syiar Islam di pesisir utara (Cirebon). Sampai di Kota Udang itu juga tengah terjadi peperangan antara Cirebon dengan Banten. Sultan Cirebon memanggil Syech Jangkung dan diangkat sebagai Senopati sekaligus dijadikan menantu Sultan Cirebon karena berhasil membantu mengalahkan Banten.

“Hasil perkawinan dengan Putri Cirebon lahir seorang putra bernama Raden Wilopo. Seperti halnya di Palembang, setelah meninggalkan anak istrinya dengan tujuannya menyebarkan agama Islam, Syech Jangkung sampai di Tlaga Krapyak Mataram. Mataram pada waktu itu diperintah oleh Sultan Agung,”.

Di Telaga Krapyak, kesaktian Syech Jangkung didengar oleh Sultan Agung yang kemudian mengangkatnya sebagai saudara tua. Mempererat tali persaudaraan, Syech Jangkung kemudian dinikahkan dengan kakak perempuannya yang bernama RA Retno Jumali/Jinoli.

Dalam penggalan jejak Syech Jangkung, ia sempat diharapkan tinggal di Keraton oleh Sultan Agung, setelah mampu membantu menggagalkan rencana serangan dari Mesir. Namun permintaan tinggal di Keraton ditolak, dengan alasan ingin lebih leluasa mengamalkan ajaran Agama Islam di luar keraton. Syech Jangkung kemudian meminta Sultan Agung agar diberi tanah di daerah sebelah barat Sungai Progo. Permohonan dikabulkan, Syech Jangung kembali bertapa dan oleh murid-muridnya mendapat nama baru, Kiai Landoh. Asal mula nama Landoh berawal dari Syech Jangkung mempunyai seekor kerbau kesayangannya, Kebo Landoh (kerbau yang tanduknya ke bawah) yang digunakan sebagai kendaraannya.

“Hingga pada akhirnya Syech Jangkung mengatakan kepada murid-muridnya kelak di kemudian hari daerah ini akan saya beri nama Landoh. Dari kata Landoh inilah kini dikenal dengan nama Lendah,”

Bagi sebagian besar masyarakat mungkin masih bertanya-tanya tentang asal-usul nama Lendah yang sekarang dipakai untuk nama Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. Seperti daerah-daerah lainnya, ternyata nama Lendah berasal dari legenda cerita masa lalu yang panjang. Artinya Lendah merupakan daerah yang dibangun oleh sejarah masa lalu dan memiliki akar budaya yang kuat.

Bagi masyarakat sekitar Lendah, cerita Kyai Landoh tentu tak asing lagi khususnya di Desa Jatirejo. Di desa ini, terdapat sebuah makam kuno dimana Kyai Landoh di makamkan. Siapakah Kyai Landoh? Kyai Landoh adalah nama lain dari Syech Jangkung, beliau adalah karib Sultan Agung yang bertugas untuk menyebarkan agama Islam di wilayah  selatan. Banyak versi cerita tentang Syech Jangkung, antara lain di Kudus, Palembang, Cirebon, Mesir dan wilayah yang lain, tetapi akhir hidup Syekh Jangkung ada di Desa Jatirejo, di sanalah beliau dimakamkan. Selama menyebarkan agama Islam di daerah tersebut Syech Jangkung sangat dihormati dan disegani karena kesaktiannya dan sifat-sifat baik beliau,  yang paling menonjol adalah suka menolong dan menyembuhkan orang sakit.

Adapun Makam Syaikh Jangkung diyakini berada di beberapa tempat baik di wilayah Kabupaten Pati, Semarang, Batang, Kulon Progo,  Cirebon, Palembang dll.

Itulah sedikit Sejarah Tentang Kyai Kebo Landoh

Pamor Pemilih Dan Pamor Tidak Pemilih

 

Di dunia perkerisan  ada dikenal istilah keris-keris dengan pamor pemilih. Maksudnya, keris-keris dengan bentuk pamor tertentu bersifat pemilih, akan memilih-milih orang yang cocok untuk menjadi pemiliknya, tidak bisa sembarang orang cocok untuk memiliki keris-keris itu. Ada kriteria tertentu yang orang akan cocok dengan keris tersebut. Selebihnya, orang lain tidak cocok memiliki keris-keris itu.

Didalam budaya keris, pengelompokan pamor keris dibagi menjadi beberapa macam, yaitu diantaranya Keris Pemilih dan Tidak Pemilih.

Kelompok pemilihan itu khusus bagi mereka yang mencari keris dengan mempercayai tuah atau isoterinya, namun tidak bagi mereka yang mencintai keris karena seni dan keindahannya.

Diantara semua keris yang tidak cocok sekalipun akan menjadi selaras dengan adanya memiliki “keris pusaka tindih”

Semua tentu saja kembali kepada pribadi masing-masing, apakah memilih keris karena tuah ataupun hanya karena keindahan belaka.

” Ada banyak sekali jenis dari keris yang berpamor pemilih dan berpamor yang kurang baik, hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor”

Sering kita mendengar cerita di masyarakat tentang orang yang tidak cocok pada keris pusakanya, baik keris dari warisan, pemberian orang, mas kawin atau yang mendapatkan dengan cara-cara lainnya. Ada banyak sekali jenis dari keris yang berpamor pemilih dan berpamor yang kurang baik, hal ini dikarenakan oleh berbagai macam faktor diantaranya :

1. Saat Empu membabar / membuat pusaka konsentrasinya terganggu oleh sesuatu hal sehingga mantra yang seharusnya baik menjadi salah ucap atau tidak sesuai maka mengakibatkan keris tersebut mempunyai tuah yang kurang baik. Contohnya : Pusaka Empu Gandring, sebelum keris selesai dibuat sang Empu dibunuh oleh Ken Arok dan mengucapkan kata – kata kutukan yang masuk ke keris tersebut, dan terbukti keris tersebut mempunyai tuah seperti maksud dari kutukan empu Gandring.

2. Pamor adalah sebuah bentuk ilustrasi atau gambar yang muncul di permukaan bilah keris. Nama-nama pamor sangat banyak dan beragam sesuai bentuk dan kemiripannya dengan alam, sebagai contoh pamor Beras Wutah, pamor Sasa Sakler, pamor Blarak Ngirid, pamor Udan Mas, dsb. 

Ada beberapa jenis pamor yang mempunyai tuah yang kurang baik antara lain :
 - Pamor Satria Wirang : membawa kesengsaraan pemiliknya.
 - Pamor Sujen Nyawa : pusaka ini menginginkan pemiliknya untuk segera meninggal.
 - Pamor Dengkiling : mempunyai angsar cengkiliing / jahil pada pemiliknya.
 - Pamor Yoga Pati : angsarnya anak pemilik pusaka sering sakit sakitan.
 - Pamor Tundung : membuat pemiliknya sering pindah-pindah tempat / usaha.

 - Ada beberapa pusaka yang pemilih, maksudnya pusaka ini hanya cocok pada orang–orang tertentu saja, sehingga kalau tidak cocok dengan seseorang yang memilikinya maka akan menjadikan pemiliknya tidak nyaman atau tidak tentram dalam berbagai kehidupan. Pusaka ini biasa tersirat pada pamor atau juga dapur pusakanya. Sebagai contoh sebuah keris dapur Kebo Lajer adalah keris untuk para petani dan peternak, tidak akan cocok atau tidak sesuai jika dimiliki oleh seorang pejabat. Keris Dapur Sangkelat adalah keris untuk para petinggi tidak akan cocok untuk petani. 

 - Pusaka yang sudah cacat atau tidak WUTUH juga mempunyai pengaruh kurang baik pada pemiliknya, seperti pegat waja, pugut / putus, Nyangkem kodok, Randa beser dan yang sudah terlalu aus sehingga sudah tidak terbentuk lagi sebagai pusaka.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, semua hasil karya manusia yang gagal atau salah dalam perhitungan, pengerjaan atau perencanaan akibatnya akan dapat membahayakan manusia. Tidak hanya keris, jembatan, rumah, toko, gedung, juga memiliki pengaruh yang tidak baik bagi yang menempati / memilikinya jika terdapat kegagalan dalam proses pembuatannya. intinya jika sesuatu hal itu dirancang dan dikerjakan dengan perencanaan yang matang, hati yang baik dan iklas maka hasilnya juga akan baik.

Pamor pemilih :

 - Garis seperti singkir, adeg, adeg iras, jumlah tiga buah terletak sepanjang tengah bilah. Memiliki angsar 
   menangkal musibah termasuk makhluk halus. 
 - Menyerupai udan mas, namun garis bulatannya lebih banyak, diameter 1 cm. Letaknya di tengah sor-soran. 
   Memiliki angsar untuk mencari rejeki. 
 - Mirip pamor ujung gunung, tetapi terbalik dengan ujungnya di bawah. Dianggap memiliki angsar menjadi 
   kuat wibawanya. 
 - Berupa garis lurus dari ujung bilah hingga pangkal bawah, dan pada ganja terpecah (bercabang) menjadi dua. 
   Sebagian masyarakat percaya memiliki angsar pencari rejeki.
 - Menyerupai gambar rantai yang berderet dihubungkan garis pamor. Masyarakat percaya keris ini mempunyai 
   angsar pemiliknya tidak boros. 
 - Menyerupai bulatan lingkaran bersusun berderet dari pangkal hingga ujung bilah. Dianggap memiliki angsar 
   mendatangkan rejeki kepada pemiliknya. 
 - Berupa garis-garis lurus mirip goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Tuahnya biasanya 
   menambah kewibawaan dan menunjang karier seseorang. Menurut istilah Jawa bisa menjunjung derajat. 
 - Buntel Mayit, kalau cocok akan cepat menanjak karirnya, kalau tidak cocok akan mendapat malapetaka.

Pamor tidak pemilih :

 - Menyerupai garis-garis membujur dari pangkal ke ujung bilah, ada yang utuh ada yang putus-putus, serta 
   bercabang bagai percikan air yang mengalir. Memiliki angsar memperlancar rejeki dan memperluas 
   pergaulan. 
 - Gambar semacam serabut-serabut kasar yang saling menyilang arahnya, namun tidak saling tindih. 
   Dianggap memiliki angsar pemilik lebih teguh hati dan lebih besar tekad.
 - Menyerupai segitiga anak panah terletak di bagian pucukan, dengan sudutnya menghadap bagian luar (atas). 
   Dianggap memiliki angsar terhindar dari perbuatan jahat orang lain. 
 - Wos Wutah, berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk 
   mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, 
 - Ngulit Semangka, sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan 
   mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun.
 - Pulo Tirto, seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya terpisah agak berjauhan, seperti bentuk 
   pulau pada peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah. 
 - Sumsum Buron, pamor ini juga mirip Wos Wutah, gumpalan juga terpisah agak berjauhan seperti Pulo 
   Tirto hanya agak lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya baik, tahan godaan dan murah rejeki.
 - Melati Rinonce, bentuknya mirip pamor Rante tetapi umumnya bulatannya lebih kecil dan tidak 
   berlubang. Bulatan itu berupa pusaran-pusaran mirip dengan pamor Udan Mas tapi agak lebih besar sedikit. 
   Tuahnya mencari jalan rejeki dan menumpuk kekayaan. Untuk pergaulan juga baik.

Penulis sendiri lebih suka mempelajari sisi kegaiban keris dengan melihat satu per satu kerisnya untuk diperiksa isi dan kegaibannya, bukan hanya dengan melihat bentuk fisik / pamor keris atau bentuk casing-nya saja, karena sisi kegaiban keris ditentukan oleh kegaibannya itu sendiri yang itu tidak selalu sejalan dengan penerjemahan kita atas bentuk fisik dan simbol pada keris.

Memang ada keris-keris tertentu yang bersifat pemilih, yang hanya cocok untuk dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, misalnya keris-keris keningratan. Juga ada banyak kejadian dan kondisi yang menyebabkan sebuah keris tidak cocok dan tidak mau menyatukan dirinya dengan pemiliknya. Ada banyak tulisan Penulis yang mengulas tentang itu.

Para empu keris memang ada mengikuti pakem tertentu dalam pembuatan keris-kerisnya, sehingga bentuk pamor dan dapur keris yang sama, biasanya tuahnya juga sama dan sejenis. Tetapi ada sisi kegaiban lain yang tidak semuanya tergambar pada bentuk fisik keris, dan bentuk fisik keris tidak semuanya secara sederhana bisa diterjemahkan artinya. Bila ada suatu bentuk dapur dan pamor keris atau simbol lain pada fisik keris yang tidak sejalan dengan makna sisi gaibnya, bukan berarti bentukan para empu keris itu salah, tetapi manusianya saja yang salah dalam mengartikan bentuk fisik dan simbol pada keris, karena menyama-ratakan arti dan maknanya.Jika anda memiliki salah satu jenis keris dengan pamor seperti disebutkan di atas, untuk mencaritahu apakah benar keris anda itu termasuk berpamor pemilih atau tidak pemilih, apakah pengaruhnya / tuahnya sama dengan pandangan-pandangan di atas, dan apakah ada yang bentuk tuahnya negatif seperti pandangan atas beberapa jenis pamor di atas, silakan dicoba keris-keris anda itu ditayuh seperti pernah saya tulis mengenai cara menayuh pusaka.

Minggu, 14 Februari 2021

Al-Qur'an Bicarakan Tentang Usia 40

 Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam atas hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam , keluarga dan para sahabatnya.


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)


Ketika Al-Qur’an menyebut sesuatu di dalam ayat-ayat-Nya, tentu ada yang sangat penting atau perlu diperhatikan terhadap sesuatu tersebut. 


Demikian juga ketika Al-Qur’an memberikan apresiasi tersendiri terhadap tahapan manusia kala mencapai usia 40 tahun yang disebutkan di dalam ayatnya secara eksplisit. Allah swt. berfirman,


حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ


Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)


Ayat di atas mengisyaratkan, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-Nya, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan kesyukuran ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-Nya, sehingga ia meminta hal itu kepada-Nya. Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu 'Anhu, "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat:


اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك ، وَشُكْرِك وَحُسْنِ عِبَادَتِك


"Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir, beryukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat)


Karena sesungguhnya seorang hamba pasti sangat butuh kepada pertolongan Tuhannya  dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-Nya. (Dinukil dari Subulus Salam, Imam al-Shan'ani)


Anda sudah berusia 40 tahun atau lebih? Jika “ya” maka anda pasti tidak muda lagi.Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan masa mudanya. Apa yang dialami pada usia 40 seringkali sifatnya stabil, mapan, dan kokoh. Karenanya, perilaku, karya, dan kontribusi hidup di usia ini akan menjadi tolok ukur manusia pada perjalanan hidup berikutnya.


Ada banyak keistimewaan yang ditunjukkan dalam sejarah Islam tentang usia 40 tahun ini. Dalam al-Qashash 14 disebutkan, “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.”


Al-Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini, “Sudah tiba waktunya bagi Musa untuk memiliki kekuatan dan keperkasaan yang paling prima. Itulah puncak keadaan dirinya yang dia tidak mungkin lagi untuk mengulanginya ataupun memilikinya lagi setelah itu berlalu. Itulah penghabisan masa muda, masa sempurnanya badan dan kejernihan pemahaman.”


Apa keistimewaan usia 40 tahun?


Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,


العَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد


Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. (H.R. Ahmad)


Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, dimana isinya bermakna bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun dan ia tetap memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus memiliki konsistensi terhadap Islam sebagai pilihan keberagamaannya, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Perhitungan amalnya akan dimudahkan oleh Allah swt. Ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri, karena dihisab, diteliti secara detail, diinterogasi secara berbelit-belit, merupakan suatu tahapan di akhirat yang sangat sulit, pahit, lama, dan mencekam tak ubahnya disiksa, betapa pun siksa yang sebenarnya belum dilaksanakan.


Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Boleh jadi ini karena untuk mencapai usia 40 tahun dengan tingkat penghambaan dan keberagamaan yang konsisten tentulah membutuhkan proses perjuangan yang melelahkan.


Tetapi, umur 40 tahun merupakan saat harus waspada juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk ashar. Senja. Sebentar lagi maghrib. Sahabat Qotadah, tokoh generasi tabiin, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia mengambil kehati-hatian dari Allah ‘azza wa jalla.”


Bahkan, sahabat Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”


Nasihat yang diungkap oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada, hati-hati, dan mawas diri dalam aktivitas pengabdiannya kepada Allah swt. manakala usianya telah mencapai 40 tahun. Ia ditekankan untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan amal kebajikan yang telah dibiasakannya pada usia-usia sebelumnya. Tidak justru “tua-tua keladi”, makin tua dosanya makin menjadi-jadi. Secara keras, Ibnu Abbas ra. mengingatkan manusia yang berumur 40 tahun dan amal kebajikannya masih kalah dibanding dengan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.


Para pakar, misalnya Ibnu al-Qayim al-Jauziyah, usia manusia diklasifikasikan menjadi empat periode. Yaitu periode kanak-kanak (thufuliyah) yang dimulai sejak lahir hingga baligh; Periode muda (syabab) dari usia baligh hingga 40 tahun; Periode dewasa (kuhulah) yakni usia 40-60 tahun; dan periode tua (syaikhukhah) dari 60-70 tahun.


Cermatilah Al-Qur’an surah al-Ahkaf 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).


Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:


“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.


Ayat tersebut mengajarkan kepada kita apa saja yang semestinya dilakukan bagi manusia yang menginjakkan kaki di usia 40 tahun.


1) sering-seringlah membaca doa ini. Sebagaimana riwayat Imam Atha’ dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Abu Bakar berusia 40 tahun dia sering berdoa dengan doa yang terdapat pada Al-Ahqaf 15 ini.”


Di antara para sahabat sampai ada yang mengatakan, “Maka Allah mengabulkan semua yang diminta Abu Bakar, sehingga kedua orangtuanya dan anak keturunannya masuk Islam. Tidak ada seorangpun dari sahabat yang diberi keistimewaan seperti itu.”


Imam Ar-Razi menuturkan, “Umar bin Abdul Aziz ketika memasuki usia 40 tahun selalu berdoa dengan ayat ini.”


2) mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dalam ayat tersebut, Allah mengajarkan hamba-Nya untuk lebih banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kita.


Karena usia 40 tahun sudah tidaklah muda lagi maka, permohonan pertama yang diajarkan kepada kita adalah agar Allah memberikan ilham (inspirasi) untuk bisa terus bersyukur kepada Allah.


3) mengingatkan kedua orangtua dan anak sebagai orang yang—mau tidak mau— dewasa dan menuju usia tua. Ini bisa membuat kita senantiasa berbuat baik. Juga mendoakan kedua orangtua yang telah bersusah payah: mengandung, melahirkan, serta menyusui dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.


4) hendaklah kita mulai memperbanyak amal kebaikan yang diridhai oleh Allah. Usia 40 tahun adalah masa awal seseorang memperbaiki diri. Sebab ada yang mengatakan, jika di usia 40 tahun ini seseorang sudah tidak bisa lagi memperbaiki diri maka pada gilirannya di usia berikutnya ia akan gagal menjadi orang yang baik-baik. Maka, usia 40 tahun adalah tonggak awal perbaikan diri seseorang.


5) seseorang yang mencapai usia 40 tahun diingatkan oleh Allah agar ia kembali dan banyak meluangkan waktu untuk keluarga.


Dalam ilmu psikologi, usia 40 ini adalah masa puberitas kedua. Pada usia ini pula seseorang biasanya mencapai puncak kesuksesannya. Dalam capaian duniawi inilah, biasanya seseorang digoda untuk “melirik” lawan jenisnya.


Bisa nikah lagi bagi seorang laki-laki atau muncul letupan bermain api cinta. Karenanya, Allah mengingatkan agar berhati-hati, lebih baik dan lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan anak-anaknya.


6) ketika Allah mengajarkan doa dan pengakuan “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau”, maka sesungguhnya Dia sedang mengingatkan kepada hamba-Nya agar ia banyak bertaubat di usia 40 tahun.


Sebagaimana telah diungkapkan di atas, karena usia mulai memasuki gerbang ketuaan maka hendaklah ia lebih banyak merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Dimulai bertaubat dan menghentikan segala keburukan hidupnya menuju memperbanyak amal kebaikan.


7) sebagaimana doa yang hampir sama diajarkan Nabi Sulaiman kepada kita (baca an-Naml 19), bahwa seseorang yang sudah berumur 40 tahun hendaklah lebih banyak bergaul dan bergumul dengan orang-orang saleh. “Wa adkhilniy birahmatika min ‘ibadika ash-shalihin. dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”


Jangan lagi merasa masih muda, lalu bergaulnya dengan anak-anak muda. Mulai mencari teman yang mengajak dan berkecenderungan untuk berbuat kebaikan. Perlu ada kesadaran untuk mengubah perilaku diri.


8) seseorang yang telah berusia 40 tahun harus lebih banyak berserah diri kepada Allah. Berusaha dan bekerja harus dengan sungguh-sungguh. Tetapi, dalam banyak kesempatan, kepasrahan dan kedekatan diri kepada Allah harus lebih direkatkan.


Berpasrah diri kepada Allah itu sebagai tanda dan sekaligus upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, keyakinan dan keimanannya akan semakin kuat dengan keberadaan dan kemahakuasaan Allah.


Tentu saja, hal ini berebda dengan mereka yang masih muda, di mana rasa percaya dirinya seakan melebihi ketentuan Allah. Ia masih sangat percaya dengan kemampuannya menyelesaikan segala persoalan yang ia hadapi.


Yaah, saat mulai usia 40 tahun seseorang mulai disadarkan dengan ketentuan dan kemahakuasaan Allah seiring berkurangnya kemampuan diri seseorang, baik secara fisik maupun psikis.


Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas'ud ra. Bahwa Rasulullah SAW mengajari doa tasyahhud, yaitu:



"اللَّهُمَّ، أَلِّفْ بَيْنِ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سبُل السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجَعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْنَا"



selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.


Saudaraku! Hidup baru dimulai setelah usia mencapai 40 tahun (Life begins at forty?) Belum terlambat…. Dan hidup yang sesungguhnya adalah yang diprioritaskan untuk mencari dan mencapai ridha Allah. Carilah mahabbah, makrifat, dan hikmah! Karena hanya  sekali hidup, maka hiduplah yang berkualitas!


Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Sabtu, 13 Februari 2021

Jika Saat Puasa Sunah Harus Hormati Orang Lain Dalam Makan Minum

 Dalam agama Islam, banyak puasa sunah yang bisa kita kerjakan untuk menambah pahala. Sebut saja seperti puasa Senin Kamis, puasa Syawal, puasa Daud dan masih banyak lagi.


Saat melakukan puasa sunah, ada kalanya kita sedang bertamu kemudian diberi hidangan oleh tuan rumah. Dalam situasi semacam ini, apakah sebaiknya kita membatalkan puasa sunah tersebut atau melanjutkannya?


Perlu kita tekankan bahwa puasa sunah jika ditinggalkan maka tidak mendatangkan dosa, namun jika dikerjakan lebih baik karena pahala akan berlimpah.


Mengamalkan puasa sunnah dianjurkan dalam ajaran Islam guna menambah ketakwaan kepada Allah SWT serta mendidik umat Islam supaya dapat mengontrol seluruh hawa nafsu dan mendidik diri agar dapat menguasai diri, sehingga mudah membiasakan amal kebaikan dan meninggalkan larangan ajaran Islam.


Lalu bagaimana dengan permasalahan di atas? Orang yang puasa Sunnah diperbolehkan untuk tetap melaksanakan puasanya dan membatalkannya. Keterangan tersebut sesuai dengan hadis Nabi shallahu ‘alaihi wasallama dalam kitab sunan at Turmudzi sebagai berikut;


 حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود حدثنا شعبة : قال كنت أسمع سماك بن حرب يقول أحد ابني أم هانئ حدثني فلقيت أنا أفضلهما وكان إسمه جعدة وكانت أم هانئ جدته فحدثني عن جدته أن رسول الله صلى الله عليه و سلم دخل عليها فدعى بشراب فشرب ثم ناولها فشربت فقالت يا رسول الله أما إني كنت صائمة فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم الصائم المتطوع أمين نفسه إن شاء صام وإن شاء فطر.


Hadis tersebut menerangkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallama masuk ke rumah Umu Hani’ kemudian beliau (Rasul) diundang untuk jamuan minuman, maka Nabi meminumnya. Kemudian Nabi menawarkan minuman kepadanya (Umu Hani’) dan ia berkenan untuk meminumnya. Selanjutnya, ia berkata kepada Nabi, “Yaa Rasulullah sesungguhnya saya orang yang berpuasa”. Maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Orang yang puasa sunah itu mempercayakan dirinya. Dalam artian jika berkehendak puasa maka berpuasalah dan jika berkehendak membatalkan maka batalkanlah.


Selain itu menurut madzhab Syafi’i yang menjadi rujukan kebanyakan orang Indonesia, bahwa diperbolehkan menikmati hidangan untuk menghormati pemilik makanan dan termasuk di antara udzur yang masyru’ bagi orang yang berpuasa sunah. Pendapat ini berdasarkan keterangan kitab fathul mu’in berikut.


فروع) يندب الأكل في صوم نفل ولو موءكدا لإرضاء ذي الطعام بأن شق عليه إمساكه ولو آخر النهار للأمر بالفطر ويثاب على ما مضى وقضى ندبا يوما مكانه فإن لم يشق عليه إمساكه لم يندب الإفطار بل الإمساك أولى .  قال الغزالي يندب أن ينوي بفطره إدخال السرور عليه ويجوز للضيف أن يأكل مما قدم له بلا لفظ من المضيف


Disunnahkan untuk menikmati hidangan dalam puasa sunah meskipun dianjurkan demi keridhoan pemilik makanan. Jika dikhawatirkan tidak menikmati hidangan tersebut (menahan puasanya) dapat menyinggung perasaan pemilik tersebut, meskipun di akhir siang hari karena ada perintah untuk membatalkan puasa dan dia akan mendapatkan pahala puasa yang sudah lewat dan dianjurkan mengqodho pada hari lain sebagai gantinya. Jika tidak menyebabkan tersinggung pemilik makanan maka disunnahkan tidak membatalkannya (lebih utama tetap berpuasa). Imam Ghazali telah berkata: disunnahkan berniat untuk untuk menyenangkan perasaan pemilik hidangan pada saat membatalkan puasa. Bagi tamu diperbolehkan menikmati makanan yang telah dihidangkan meskipun belum dipersilahkan dengan ucapan dari tuan rumah.


Puasa sunnah tidak ada paksaan di dalamnya. Jadi membatalkan juga tidak apa-apa, meneruskan juga tidak apa-apa. Kultur masyarakat kita memang sangat sopan dan ramah terhadap tamu. Sehingga memunculkan dilematis seperti yang anda rasakan, ketika puasa sunnah sedangkan tamu datang dan tidak berpuasa, atau kita yang sedang bertamu. Dalam Madzhab Syafi’i memperbolehkan memakan hidangannya, tetapi dapat mengganti puasa tersebut di hari lain. Walau batal, shaim mendapatkan pahala puasa sunnah tersebut.


Namun, hukum ini hanya berlaku bagi puasa sunnah, seperti puasa senin kamis, puasa 6 hari di bulan syawal, puasa tarwiyah arafah, dll. Adapun dalam puasa wajib, tidak ada pengecualian, bagi orang yang puasa, makan dan minum hidangan jamuan untuk menghormati tamu. Ketika makan atau minum maka apabila sengaja, bukan karena lupa, maka puasanya batal.


Wallohu a'lam