Translate

Senin, 02 Januari 2017

Imam Ibnu Abi Dunya Rh

Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Sufyan bin Qais al-Baghdadi al-Umawi al-Qurasyi(bahasa Arab: الحافظ أبو بكر، عبد الله بن محمد بن عبيد بن سفيان بن قيس البغدادي الأموي القرشي) (lahir823 di Bagdad, meninggal 894 di Bagdad) atau lebih dikenal dengan Ibnu Abi ad-Dunya adalah seorang ulama dibidang ‎hadis dan fikih.

Dia lahir di Baghdad pada tahun 208 H, permulaan abad ke-3 H. Belajar dari ulama setingkat Abu Dawud, Imam Bukhari, Abu Hatim, Ahmad bin Ibrahim ad-Dauraqi ‎(pengarang "Musnad Abubakr"), dan ‎Ahmad bin Hanbal. Dikenal menghasilkan karya yang sangat banyak, sehingga dikenali bahwa dia membuat karya hingga 200 buku.

Beliau hidup pada masa kekhalifahan Abbasyiah dan mengajarkan etika kepada khalifah Al-Mutawakkil. Ibnu abi Ad-Dunya adalah salah satu ulama salaf yang mengumpulkan berbagai hadits yang terkait dengan ajaran islam mengenai moralitas, sehingga beliau menulis sebuah kitab yang bertitel Makarimal-Akhlak. Ibnu Abi Ad-Dunya dikenal sebagai pakar hadits pada zamannya, disamping sebagai pakar hadits ia juga dikenal sebagai seorang pemberi petuah ulung. Pada saaat memberikan petuahnya ia bisa membuat pendengarnya tertawa, tetapi sebaliknya juga membuat pendengarnya menangis tersedu-sedu. Intlektual kelahiran Baghdad yang satu ini, sungguh luar biasa produktivitasnya dalam menulis. Setidaknya ada sekitar 164 karya yang berhasil diselesaikan, diantaranya adalah kitab Makarimal Akhlak. Kitab Makarimal-Akhlak setebal 305 halaman yang ditulis Ibnu Abi A-Dunya memuat kurang lebih 487 petuah-petuah moral, baik yang dinukil dari Nabi maupun para sahabat, dan disertai dengan menyebutkan transmisinya (sanad). Semua petuah etis tersebut dibagi menjadi 10 bab, diantaranya adalah bab tentang akhlak atau etika yang baik, tentang malu, kejujuran, menyambung tali silaturrahmi, amanah dan dermawan. Uniknya lagi dalam kitab ini tidak ada satu pun pembahasan secara filosofis tentang etika,menurut hemat penulis inilah salah satu ciri-ciri mendasar  mengapa Ibnu Abi Ad-Dunya dikelompokkan dalam aliran etika islam tradisionalis, dimana kitab yang ia tulis tidak sama sekali membicarakan konsep etika secara filosofis atau menafsirkan dalil-dalil naqli (hadits) yang terdapat dalam kitabnya dengan menggunakan penalaran atau akal (rasional) sebagaimana aliran etika islam objektiv rasional yang dikembangkan oleh kaum muktazilah.

Kondisi social, politik dan pemikiran  pada masa Ibnu Abi Ad-Dunya hidup

Uraian pada sub bab ini penulis maksudkan untuk mengetahui kondisi social, politik dan corak pemikiran yang berkembang pada saat Ibnu Abi Ad-dunya hidup, dengan demikian sedikit tidak kita akan mengetahui dan melacak mengapa Ibnu Abi Ad-Dunya memilih aliran etika islam tradisionalis, sebab seorang tokoh akan banyak terpengaruh oleh kondisi social politik dan corak pemikiran yang sedang berkembang pada saat ia hidup.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Ibnu Abi Ad-Dunya lahir pada tahun 201 H/823 M dan meninggal pada tahun 281 H/894 M, hal ini berarti ia hidup, dari lahir sampai meninggal pada periode awal dan periode lanjutan Bani Abbasyiah. Dalam buku “Ensiklopedi Tematis Dunia Islam seri Khilafah” dijelaskan bahwa Bani Abbasyiah dibagi dalam tiga periode yaitu periode awal, periode lanjutan dan periode akhir, Bani Abbasyiah periode awal berakhir pada 847 M pada pemerintahan khalifah Al-wasik. Kalau dilihat tahun lahir Ibnu Abi Ad-Dunya yaitu tahun 823 M maka ia menghabiskan masa kecilnya sampai remaja pada masa khalifah Al-wasik.

Musrifah Sunanto dalam bukunya “Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam” menggambarkan kondisi social, politik dan corak pemikiran pada masa Bani Abbasyiah periode awal, ia menjelaskan bahwa :

Dari segi politik kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh khalifah yang mempertahankan keturunan Arab murni dibanti oleh wazir, menteri, gubernur, dan panglima beserta pegawai-pegawai yang berasal dari berbagai bangsa dan masa ini yang sedang banyak diangkat dari golongan golongan mawali keturunan Persia
Kota bagdad sebagai ibu kota Negara, menjadi pusat kegiatan politik, sosisal dan kebudayaan, dijadikan kota intenasional yang terbuka untuk segala bangsa dan keyakinan sehingga terkumpullah di sana bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Qibthi, Hindi, Barbari, Kurdi dan sebagainya.

Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia. Para khalifah dan pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah sendiri pada umumnya adalah ulama yang mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.

Kebebasan berfikir diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan fikiran dibebaskan benar-benar dari belunggu taklid, kondisi yang menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan pendapat dalam segala bidang aqidah, filsafat, ibadah, dan sebagainya.
Para menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahan sehingga mereka memegang peranan penting dalam membina tamadun islam. Mereka sangat mencintai ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk meningkatkan kecerdasan rakyat dan memajukan ilmu pengetahuan.

Kalau kita analisa dari gambaran kondisi social, politik dan corak pemikiran pada masa awal menjelang akhir Bani Abbasyiah satu, atau menjelang berakhirnya periode awal Bani Abbasyiah, maka pada masa-masa inilah Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecilnya sampai masa remaja dimana, kota Baghdad sebagai tempat kelahiran Ibnu Abi Ad-Dunya adalah kota pusat pemerintahan, pusat perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, masa Abbasyiah periode awal ini adalah masa keemasan islam. Kondisi inilah yang membentuk kepribadian Ibnu Abi Ad-Dunya, dimana ia sebagai salah seorang masyarakat penduduk Baghdad terpengaruh dengan kecintaan masyarakat dan dukungan khalifah akan ilmu pengetahuan. Jadi tidak mengherankan apabila Ibnu Abi-Adunya banyak belajar ilmu pengetahuan di kota ini, terutama ilmu-ilmu agama, seperti ilmu hadits, ilmu al-Quran dan ilmu-ilmu alat lainnya. Yang menarik adalah pada masa ini corak berfikir atau kebebasan berfikir sangat dibebaskan, artinya penggunaan akal rasio dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak terkecuali ilmu-ilmu agama dan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya dikembangkan dengan sentuhan akal. Dapat disimpulkan bahwa Ibnu Abi Ad-Dunya kecil, belum terpengaruh secara corak pemikiran yang mengedepankan akal. Lebih jauh lagi penulis dapat menyimpulkan bahwa menjelang akhir Bani Abbasyiah periode awal, umur Ibnu Abi Ad-Dunya genap berusia 24 tahun, jadi pada masa ini Ibnu Abi Ad-Dunya benar-benar hanya mengalami perkembangan intelektualnya saja (masa menimba ilmu), belum mempunyai “mazhab” aliran tertentu terutama mazhab etika islam tradisionalis.

Pada masa remaja Ibnu Abi Ad_Dunya atau  menjelang ia dewasa, ada dua periode kekhalifahan yaitu khalifah Al-ma’mun (813-833 M) dan Khalifah Al-Mu’tasim (833-842 M) kedua khalifah ini banyak terpengaruh oleh filosof muslim pertama yaitu A-Kindi, dalam hal ini Musyrifah Sunanto menjelaskan

“Setelah dewasa ia (Al-Kindi) pergi ke Baghdad dan mendapat lindungan dari khalifah Al-Ma’mun (813-833 M) dan khalifah Al-mu’tasim (833-842 M). Al-Kindi menganut aliran Muktazilah  dan kemudian belajar filsafat. Zaman itu adalah zaman penerjemahan buku-buku Yunani dan Al-Kindi kelihatannya turut juga aktif dalam gerakan penerjemahan ini tetapi usahanya lebih banyak dalam memberikan kesimpulan daripada menerjemahkan karena sebagai orang yang berada, ia dapat membayar orang untuk menerjemahkan buku-buku yang diinginkannya. A-Kindi mendapat kedudukan yang tinggi dari Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, dan anaknya yaitu Ahmad bahkan menjadi gurunya”

Sejarah mencatat bahwa aliran muktazilah yang telah terpengaruh oleh fikiran-fkiran Yunani selanjutnya mendapat tempat yang subur pada kekhalifan Al-Ma’mun (813-833 M) dan kesuburan aliran mu’tazilah berakhir pada kekhalifahan Al-mu’tasim (833-842 M), lebih tegas lagi A. Syilabi dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Islam 3” ia menjelaskan

“Khalifah Al-Ma’mun yang telah menjadikan muktazilah sebagai “mazhab” dalam menjalankan pemerintahannya telah campur tangan secara keras dan menggunakan kekuasaannya untuk memaksa rakyat (terutama ahlus-Sunnah dan dan ulama-ulama hadits) berpegang kepada pendapat muktazilah bahwa al-qur’an itu makhluk”

Senada dengan pernyataan A. Syilabi di atas, Harun Nasutian dalam bukunya “Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan” ia menjelaskan :

“Mulai tahun 100 H atau 718 M, kaum muktazilah dengan perlahan-lahan memperoleh pengaruh dalam masyarakat islam. Pengaruh itu mencapai puncaknya di zaman khalifah-khalifah bani abbasyiah Al-Ma’mun, Al-Muktasim dan A-Wasik (813-847), apalagi setelah Al-Ma’mun di tahun 827 M mengakui aliran muktazilah sebagai mazhab resmi yang dianut Negara”

Dari penjelasan di atas telah cukup jelas menggambarkan kondisi social politik dan corak perkembangan pemikiran yang berkembang pada saat itu, yang dimana Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa remajanya. Yang cukup menarik pada masa pemerintahan khalifah Al-Ma’mun adalah bagaimana ia menjadikan mazhab muktazilah yang telah tereduksi dengan pemikiran-pemikiran Yunani sebagai mazhab wajib dalam menjalankan roda pemerintahannya, ditambah lagi dengan pertemuan Al-Kindi dengan khalifah Al-Makmun dan mempengaruhi khalifah dengan ilmu filsafat Al-Kindi yang banyak mengambil kaidah-kaidah kefilsafatan Yunani.

Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati umat Islam, khususnya dikalangan masyarakat awam kerena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bersifat rasional dan filosofis itu. Alasan lain adalah kaum Mu’tazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunah Rasulullah SAW. dan para shahabatnya. Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan intelektual, pada masa pemerintahan khlalifah al-Ma’mun, penguasa Abbasyiah periode 198-218 H./813-833 M. kedudukan Mu’tazilah menjadi semakin kokoh setelah al- Ma’mun menyatakannya sebagai madzhab resmi negara. Hal ini desebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.

Dalam fase kejayaannya itu, Mu’tazilah sebagai golongan yang mendapat dukungan penguasa memaksakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihnah. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham Khalqu al-Qur’an. Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Qur’an itu makhuk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak qadim.  Jika al Qur an itu dikatakan qadim maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya musyrik. Khalifah Al-Ma’mun menginstruksikan supaya dilaksanakan pengujian—Fit and and Proper Test terhadap aparat pemerintahan tentang keyakinan mereka akan paham ini. Menurut al-Ma’mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah qadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting didalam pemerintahan, terutama dalam jabatan Qadli. Dalam pelaksanaannya, bukan hanya para aparat pemerintahan yang diperiksa, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat. Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemeritahan yang disiksa, diantaranya adalah Imam Hambali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mu’tazilah. Peristiwa ini sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al-Mutawakkil berkuasa pada masa 232-247 H./846-861 M. menggantikan al-Wasiq, Khalifah pada masa 228-232 H./843-846 M. Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah. Selama berabad-abad kemudian Mu’tazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini adalah buku-buku mereka tidak lagi dibaca dan dipelajari di perguruan-perguruan Islam. Sebaliknya, pengetahuan tentang paham-paham mereka hanya didapati pada buku-buku lawannya, seperti buku-buku yang ditulis oleh pemuka asy’ariyah.

Kalau dianalisa dari sisi sejarah, sebetulnya aliran etika obyektivitisme yang digawangi oleh kaum muktazilah dan aliran etika subyektivisme (etika islam tradisional) yang digawangai oleh asy’ariyah atau para ulama salaf berawal dari persoalan-persoalan teologi yang memazhabkan ummat islam sejak zamannya Ali Bin Abi tholib ra. Seiring perjalanan sejarah, ummat islam sampai ke bani Abbasyiah persoalan-persoalan teologi tersebut merembet ke berbagai persoalan lainnya termasuk diskursus tentang etika. Hal ini dapat kita lihat dari paham-paham muktazilah pada persoalan “adil”. Mustofa Muhammad Asy syak’Ah dalam bukunya “Islam Tidak Bermazhab”

“kaum muktazilah berpandangan bahwa, adil artinya Allah Maha adil, dan keadilanNya itu mengharuskan manusia memiliki kekuasaan untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri. Sedangkan Allah tidaklah menciptakan perbuatannya sendiri, sehingga karena manusia itu menciptakan perbuatannya sendiri, maka manusia bertanggung jawab atas perbuatannya, baik yang berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika manusia melakukan perbuatan baik, maka ia mendapat pahala, dan sebaliknya bila manusia melakukan perbuatan buruk, maka ia akan menerima siksa”.

Dari pandangan ini sudah jelas bahwa aliran muktazilah yang selanjutnya membuat aliran “etika obyektivisme”, mengukur perbuatan baik dan buruk dari kekuatan penalaran atau akal atau rasio. Dalil-dalil naqli yang terdapat pada Al-quran dan Sunnah haruslah membutuhkan akal untuk menafsirkan dalil-dalil tersebut, dan perbedaan mendasar antara mazhab etika islam tradisonal (etika subyektivisme) dengan aliran etika obyektivisme adalah intensitas penggunaan akal dalam menelaah norma-norma etika yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits. Sekarang marilah kita bandingkan dengan aliran Asy’ariyah. Ahmad Hanafi dalam bukunya “ Pengantar Theology Islam” menjelaskan pandangan kaum Asy’ariah tentang kekuasaan Tuhan dan perbuatan manusia :

“pendapat al-asy’ari dalam soal ini (kekuasaan Tuhan dan perbuatan manusia) juga tengah-tengah antara aliran jabariah dan aliran muktazilah. Menurut aliran muktazilah, manusia itulah yang melakukan perbuatannya dengan suatu kekuasaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Menurut aliran jabariah, manusia tidak berkuasa mengadakan/menciptakan sesuatu, tidak memperoleh (kasb) sesuatu, bahkan ia laksana bulu yang bergerak kian kemari menurut arah angin yang meniupnya. Datanglah asy’ari untuk mengatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa untuk memperoleh (kasb) sesuatu perbuatan”.

Senada dengan hal di atas artikel yang ditulis Zuli Qodir yang terangkum dalam buku “Sejarah, Teologi dan Etika Agama-Agama” ia menjelaskan

“dalam konteks perbuatan manusia, semakin “bebas” perbuatan manusia maka semakin tinggi tingkat pertanggungjawabannya terhadap orang lain, termasuk pada Tuhan. Sementara semakin “terpaksa”, maka semakin ringan tingkat pertanggungjawabannya atas perbuatan yang dilakukannya itu. Bagi penganut Jabariyah/Asy’ariyah, manusia ibarat anak kecil, atau wayang yang harus dituntun segala perbuatannya. Dia tidak bisa berbuat dan mengetahui sendiri mana yang baik dan mana yang buruk”.

Dari uraian diatas maka sudah terlihat dengan jelas letak perbedaan anatara aliran etika islam tradisionalis (etika islam subyektivisme) dengan aliran etika obyektivisme. Perbedaan yang paling mendasar adalah terletak pada intensitas penggunaan akal dalam “menafsirkan” norma-norma etika yang terdapat dalam nash al-qur’an dan al-hadits, aliran etika islam tradisionalis menempatkan akal setelah nash/teks dalam mengukur benar atau buruknya suatu perbuatan sedangkan aliran etika islam obyektif sebaliknya. Aliran etika islam yang pertama inilah yang dianut oleh Ibnu Abi Ad-Dunya. Untuk itu marilah kita sekali lagi menyelidikinya dari konteks sejarah.

Sebagaimana di sebutkan dalam pembahasan sebelumnya Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecil sampai remajanya pada masa khalifah Al-makmun dan khalifah al-Wasik. Mazhab Negara yang dipakai pada waktu kedua khalifah ini memerintah adalah mazhab muktazilah yang notabene adalah aliran yang menggunakan akal fikiran sebagai yang utama, dan selanjutnya merembet pada persoalan etika “bagaimana mengukur yang baik dan yang buruk”. Pada saat kedua khalifah tersebut memerintah secara otomatis aliran etika tradisionalis tidak mendapat tempat di pemerintahan. Masa inilah Ibnu Abi Ad-Dunya menghabiskan masa kecil sampai masa remajanya. Baru sampai ke pemerintahan khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) aliran muktazilah sudah tidak terpakai lagi, dan kembali ke mazhab sebelumnya, mazhab kebanyakan masyarakat Baghdad atau aliran yang sering disebut “ahlussunnah waljama’ah” yang lebih dekat dengan aliran Asy’ariyah.

Menurut asumsi sementara penulis, momentum inilah yang selanjutnya menjadi ruang beberapa tokoh muslim termasuk Ibnu Abi Ad-Dunya untuk lebih leluasa menekspresikan pemikiran mereka. Sampai kepada penulisan kitab Makarimal-Akhlak oleh Ibnu abi Ad-Dunya, bahkan menurut sebuah artikel Ibnu Abi ad-Dunya sempat mengajarkan ajaran-ajaran etika kepada anak khalifah Al-Mutawakkil. Asumsi lain yang penulis yakini bahwa kecendrungan di dalam suatu pemerintahan jika menganut suatu macam ideology maka rakyatnya atau masyarakat umum akan mengikuti ideology yang pemerintah itu akui, terlepas dari suka atau tidak sukanya masyarakat terhadap ideology tersebut. Asumsi ini, penulis perkuat dengan pernyataan Ahmad Hanafi dalam bukunya “Pengantar Teologi Islam” ia menjelaskan

“sejak masa Al-Mutawakkil (232 H), pemerintah (khalifah-khalifah) telah meninggalkan aliran muktazilah. Kebanyakan orang, dimanapun juga, selalu mengikuti sikap pemerintahnya dan takut memeluk sesuatu yang tidak disukai oleh pemerintah itu. Oleh karena itu aliran muktazilah mereka tinggalkan dan mereka lebih senang menggabungkan diri kepada orang-orang atau aliran yang menentangnya”

Maka kalau disimpulkan bahwa, bisa jadi para tokoh dan ulama termasuk Ibnu Abi Ad-Dunya pada masa khalifah Al-Mutawakkil menggunakan kesempatan tersebut untuk secara frontal mengekspresikan aliran dan pemahaman mereka, termasuk oleh Ibnu Abi Ad-Dunya membuat karyanya yaitu kitab Makarimal Akhlak.

Alasan lain mengapa penulisan kitab Makarimal Akhlak ditulis oleh Ibnu abi Ad-Dunya dan sempat diajarkan kepada anak khalifah al-Mutawakkil adalah bisa jadi Ibnu Abi Ad-Dunya melihat pada waktu benih-benih kemunduran dari segi moral telah mulai menggejala, anggapan ini penulis perkuat dengan pernyataan Dedi Supriyadi dalam bukunya “Sejarah Peradaban Islam” ia menjelaskan

“salah satu penyebab kemunduran bani abbasyiah diakhir periode awal dan menjelang periode lanjutan adalah hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung Negara selama ini. Penyebab lain adalah pola hidup bermewah-mewahan yang berlebihan yang menggejala dilingkungan pemerintahan khalifah”.

Demikianlah, beberapa gambaran, ulasan dan pemaparan tentang term etika islam tradisional(Islamic ethics traditional) mulai dari 

pertama, bagaimana mendudukkan term etika islam tradisional pada kedudukan yang tepat dan proporsional-objektif.

Kedua, bagaimana term etika islam tradisional dengan pergumulannya dalam pentas sejarah islam klasik. 

Ketiga, bagaimana posisi seorang tokoh muslim Ibnu Abi Ad-Dunya dengan karyanya kitab Makarimal Akhlak, sebagai bentuk  manifestasi dari aliran yang dia anut yaitu etika islam tradisional.

Guru

Berikut ini beberapa guru Ibnu Abi ad-Dunya:

Abu Dunya Muhammad bin Ubaid, ayahnya
Ahmad bin Ibrahim al-Maushuli
Ahmad bin Ibrahim ad-Durqi
Ali bin al-Ja'd
Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami
Khalaf bin Hisyam al-Bazzar
Zuhair bin Harb
Abdullah bin Aun al-Kharraz
Suraij bin Yunus
Sa'id bin Sulaiman al-Wasithi
Kanil bin Thalhah al-Jahdari
Manshur bin Abi Muzahim
Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam
Abu al-Ahwash Muhammad bin Hayyan al-Baghawi
Muhammad bin Sa'ad, Sekretaris al-Waqidi
Daud bin Rasyid
al-Hasan bin Hammad Sajjadah
Bukhari
Abu Dawud

Murid

Berikut ini beberapa murid Ibnu Abi ad-Dunya

Ibnu Majah
Ibrahim bin al-Junaid
Al-Harits bin Abi Usamah
Abdurrahman bin Abi Hatim
Abu Ali bin Khuzaimah
Abu al-Abbas bin 'Uqdah
Abdullah bin Ismail bin Buraih al-Hasyimi
Abu Basyar ad-Dulabi
Muhammad bin Khalaf Waki'
Abu Ja'far bin al-Bakhtari
Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Khunais
Abu Sahl bin Ziyad al-Qathan
Muhammad bin Yahya bin Sulaiman al-Marwazi
Abu Bakar Ahmad bin Marwan ad-Dainuri
Ali bin al-Faraj bin Abi Rauh al-'Akbari
Abu Bakar an-Najjad
Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim asy-Syafi'i

Karya tulis

Al-Mausu'ah
Al-Adab
Akhbar Dhaigham
Al-Anwar
Akhbar al-Muluk
Al-Alhan
Akhbar ats-Tsauri
Al-Alawiyyah
Akhbar Uwais
Akhbar Mu'awiyyah
Akhbar al-A'rab
Al-Adhhiyyah
Inzal al-Hajjah Billah
Akhbar Quraisy
A'lam an-Nubuwwah
I'tha` as-Sa`il
Inqilab az-Zaman
At-Tasyamus
A'qab as-Surur wa al-Ahzan wa al-Baka`
At-Ta'azi
Al-Jihad
Tarikh al-Khulafa`
Al-Jafa` `inda al-Maut
At-Tarikh
Al-Jiran
Taghayyur al-Ikhwan
Al-Hadzar wa asy-Syafaqah
Taghayyur az-Zaman
Hilmu al-Hukama`
Ar-Ru`ya
Huruf Halaf
Al-Khulafa`
Al-Khafiqin
Al-Khabaz
Al-Khatim
Ad-Din wa al-Wafa`
Dzammu al-Hasad
Dzammu adh-Dhahik
Dzammu al-Faqr
Dzammu ar-Riya`
Adz-Dzikr
Ar-Ruhban
Ar-Raha`in
Ar-Rahn
Ar-Ramy
Az-Zuhd
Az-Zafir
As-Sunnah
As-Sakha`
Ash-Shadaqah
Syaraf al-Faqr
Ash-Shalatu 'ala an-Nabi 
Ath-Thabaqat
Shifatu an-Nabi '
Al-'Azza
Al-'Abbad
Al-'Ilm
Al-'Audz
Asyura`
Al-'Idain
Al-'Afwu
Atha`u as-Sa`il
Fadhlu al-'Asyr
Fadhlu al-'Abbas
Al-Fatawa
Fadhlu Lailaahaillallah
Fadhlu 'Ali
Fadha`ilu al-Qur'an
Al-Fawa`id
Al-Qishash
Maqtal Utsman
Maqtal al-Husain
Maqtal Ibnu az-Zubair
Maqtal Thalhah
Al-Majus
Al-Mamlukin
Al-Muntazhim
Al-Maghazi
Al-Manasik
An-Nawadir
Al-Ma'isyah
Al-Hadaya
Al-Washaya
Al-Waqf wa al-Ibtida`


Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, dalam kitabnya yang berjudul " Qimatuz zamaan 'indal Ulamaa' ", Hal. 87. Menuturkan tentang jumlah kitab karya daripada Imam Ibnu Abi Dunya, Imam Ibnu Asakir, dan Imam Ibnu Syahin Al-Andalusy, sebagai berikut..

كثيرة تآليف ابن ابي دنيا وابن عساكر وابن شاهين.

وترك ابن ابي دنيا الف تأليف، وابن عساكر الف تاريخه في ثمانين مجلدا، وقال السيوطي ؛ منتهى التصانيف في الكثرة ابن شاهين، صنف ثلاث مئة وثلاثين مصنفا، منها التفسير في الف جزء، والمسند خمسة عشر مئة— اى الف خمس مئة جزء— قال السيوطي : وهذا من بركات طي الزمان والمكان، من ورثة الاسراء وليلة القدر. نقله في المنح البادية..

" Imam Ibnu Abi Dunya ketika wafat mewariskan 1000 karangan kitab. Imam Ibnu 'Asakir mengarang kitab At-Tarikh dalam jumlah 80 jilid. Imam As-Suyuthi berpendapat, bahwa Imam Ibnu Syahin Al Andalusy ( Spanyol ) adalah Ulama yang mempunyai karangan terbanyak, karangan beliau ( Ibnu Syahin ) tidak kurang dari 330 kitab yang diantaranya berupa Tafsir sebanyak 1000 juz dan Al Musnad sebanyak 1500 juz.

Imam As-Suyuthi menambahkan, bahwa " ini semua BAROKAH dari Isro' mi'roj dan lailatul Qodar ( yang disediakan Alloh bagi Ummat Rosululloh SAW ), sebagaimana jarak jauh yang dapat ditempuh dalam waktu sekejap, begitu pula pekerjaan yang seharusnya diselesaikan dalam waktu yang panjang bisa dituntaskan dalam waktu relatif singkat , sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Minahul Baadiyah ".

NB :  sekedar tambahan dari saya diluar konteks kitab " Qimatuz Zaman Indal Ulama ", bahwa didalam kitab "SHIFATUL AULIYA' "  Karya Imam Abi Bakr 'Abdulloh Muhammad ibn 'Ubaid ibn Sufyan Al-Qurosyi, atau yang mashur dijuluki dengan nama Imam Ibnu Abi Dunya, yang ditahqiq oleh Syaikh Abu Hajir Muhammad dan Syaikh As- Said bin Basyuni Zaghlul, pada Halaman 6, menukil pernyataan Imam Adz-Dzahabi pada kitabnya Tadzkirotul Huffadz, mengatakan ;

وقال الذهبي في تذكرة الحفاظ ؛ كان صدوقا اديبا اخباريا كثير العلم- حديثه في غاية العلو، لابن البخاري بينه وبينه اربعة انفس.

Berkata Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirotul Huffadz atas komentarnya terhadap sosok Imam Ibnu Abi Dunya, bahwa sesungguhnya beliau ( Ibnu Abi Dunya ) orang yang terpercaya kata-katanya, tulus, sopan, pengarang handal, dan sumber referensi. Perkataannya menunjukkan puncak dari ketinggian ilmunya, antara dia dan Ibnu Al Bukhori perbedaannya ( keilmuannya ) hanya 4 tarikan nafas.

Meninggal

Al-Qadhi Abu Hasan mendatangi Ishaq bin Ibrahim al-Qadhi tatkala meninggalnya Ibnu Abid-Dunya, seraya berkata, "Semoga Allah Memuliakan dia. [Tatkala dia meninggal,] telah turut pula terkubur perbendaharaan ilmu yang sangat banyak." Jenazahnya dishalati Yusuf bin Ya'qub di asy-Syauniziyyah. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dia meninggal di Baghdad pada tahun 281 H pada bulan Jumadil Ula. Dia dishalati oleh salah seorang muridnya, dan dikuburkan di Syauniziyyah, di sisi kota Baghdad.

Imam Al-Jazari Rh Sang Guru Tajwid

Imam al-Jazari al-Dimasyqi adalah ulama dari negeri Syam yang memiliki kelebihan dalam bidang ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Sanad bacaan al-Qur’an Imam al-Jazari diburu para pelajar dan ulama yang ingin mendapatkan sanad qira’at. Karena kepakaran dan kemasyhurannya dalam ilmu tajwid, ia diberi gelar “al-Mujawwid” (ahli tajwid). Hingga kini, kitab-kitabnya menjadi rujukan primer dalam ilmu tajwid.

Imam Ibnu al-Jazari  ialah  Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin `Ali bin Yusuf al-Jazari    al-Dimasyqi, ash-Shaafi'i (rahimahullaah). Beliau diberi gelar sebagai Abu al-Khair.
        
             شمس الدين محمد بن محمد بن محمد بن علي بن يوسف الجزري الدمشق الشَّافِعِيُّ


Beliau adalah Syaikh al-Qurraa’ dan al-Muhaditsiin, dan Imam Ahli al-Adaa' dan al-Mujawwidiin, Syaikh ad-Dunyaa biaya al-Qiraa'at wa al-Tajweed,
‎Beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama al-Khatt Qassaa'een di Dimasyqus, Syam yang sekarang dikenal dengan Negara Suriah , pada malam jum’at, 25 Ramadhan 751 H (30 bulan November 1350 M), setelah shalat Taraweh.
Dari kelahiran Imam Jazary terselip kisah tenteng ayahnya, ketika itu  Allah subhaanahu wa ta'aalaa belum  menganugrahi  anak pada ayah imam jazary  selama 40 tahun. Maka, ayahnya memutuskan untuk pergi dan melakukan Haji, di mana ketika haji itu ayahnya  minum  air Zam-Zam dan  berdoa kepada Allah untuk  dianugrahi  seorang anak yang kelak  menjadi  seorang yang 'Aalim. Dan Allah menerima doa ayahnya dan akhirnya dianugrahkan  kepadanya seorang  anak,  yang menjadi Imam besar yang Dia beri nama Ibnu al-Jazari.‎

Syaikh al-Jazari berhasil menghafal al-Qur’an pada usia 13 tahun. Dan pada setahun berikutnya, yakni pada usia 14 tahun, ia sudah ditunjuk untuk menjadi imam shalat. Guru utamanya dalam bidang al-Qur’an adalah Syaikh Hasan al-Saruji. Syaikh al-Saruji merupakan guru dari ayah al-Jazari. Ulama ahli qira’at terkenal di Damaskus. Setelah belajar kepada Syaikh al-Saruji, al-Jazari pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk bermulazamah dengan Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Khatib, seorang imam Masjid Nabawiy. Padanya Ibnu Al-Jazari belajar ilmu qiro’at.

Kemudian beliau berniat pergi lagi ke Andalusia untuk belajar, akan tetapi orang tuanya melarang sehingga Ibnu al-Jazari hanya berhenti sampai Kairo, Mesir, pada tahun 769 H. Terhitung al-Jazari pergi ke Mesir tiga kali untuk belajar. Disana beliau belajar qiro’at kepada ulama-ulama besar Mesir, diantaranya Abu Bakar al-Jundi, Muhammad bin al-Sha’igh dan `Abdurrahman bin Ahmad al-Baghdadi. Sesudah menamatkan pelajarannya, Ibnu al-Jazari kembali pulang ke Damaskus. Selang beberapa lama, beliau pergi ke Mesir pada kali kedua untuk belajar lagi kepada Ibnu al-Sha’igh dan Ibnu al-Baghdadi berdasarkan beberapa kitab qiro’at. Setelah itu beliau kembali pulang ke Damaskus untuk menyempurnakan pelajaran qira’at sab`ah kepada al-Qadhi Ahmad bin al-Husain.

Pada tahun 778 H, Ibnu al-Jazari pergi ke Mesir untuk yang ketiga kalinya dalam rangka belajar ilmu qira’at kepada `Abdul Wahhab al-Qarawi di Kota Iskandariah. Setelah mendapatkan ijazah dari para syaikh Mesir, beliau pulang ke Damaskus dengan membawa segudang ilmu.

Ketika beliau berada di Madinah, beliau mengarang Tahbir al-Taisir, beliau mengarang satu kitab lagi yang cukup bermakna dalam dunia ilmu al-Quran dan al-Qiraat yaitu al-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr. Kitab ini merupakan kitab yang paling sempurna di antara sekian banyak kitab-kitab beliau dalam membahaskan ilmu tajwid dan qiraat. Kitab inilah yang menjadi manhaj tertinggi pengajian ilmu qiraat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Setelah itu, beliau telah mengarang sebuah kitab untuk mentalkhis kitab an-Nasyr ke dalam bentuk matan dengan nama Toyyibah al-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr. Kitab inilah yang telah al-Azhar tetapkan dalam manhaj pengajian qiraat di marhalah Takhassus Qiraat di ma’ahad-ma’ahad qiraat di seluruh Mesir.

Beliau tidak hanya ahli ilmu qira’at, tapi juga pakar di bidang hadits, tafsir, sejarah, fikih, gramatika dan sastra. Ia diberi gelar-gelar keilmuan oleh para ulama’ karena kepakarannya dalam bidang ilmu-ilmu tertentu. Dia menyandang gelar al-muhaddits, al-hafidz, al-mu’arrikh, al-mufassir, al-faqih, al-nahwi, al-bayani dan lain-lain. Bahkan ia mendapatkan gelar al-huffadz al-Tsiqat al-Atsbat karena kedalaman dalam ilmu dirayah dan riwayah. Jadi, seperti kebanyakan ulama dahulu lainnya, al-Jazari tidak hanya mencukupkan ilmu pada ilmu qira’at, namun juga mendalami ilmu-ilmu pokok lainnya, terutama ilmu hadits.

Kedalaman ilmu fikihnya dapat dilihat dari pengakuan dan pemberian ijazah dari Syaikh Ibnu Katsir. Ibnu Katsir adalah guru al-Jazari. Pada umur 24 tahun, al-Jazari diberi ijazah khusus oleh Ibnu Katsir untuk memberi fatwa. Dalam tradisi para ulama dahulu, pemberian ijazah ini biasanya menjadi syarat seorang menjadi Qadhi (hakim Negara). Gurunya yang lain, Syaikh Diyauddin, juga memberi ijazah yang sama setelah Ibnu Katsir memberi ijazah.

Dengan pengakuan itu, maka beliau dilantik sebagai Masyaikhah Ash-Sholihiyyah di Baitul Maqdis selama beberapa waktu. Beliau juga pernah dilantik sebagai Qadhi negeri Syam. Ibnu al-Jazari termasuk ulama yang produktif dengan jumlah karya sekitar 83 judul. Karya-karya bidang tajwid dan qira’at adalah karya yang paling popular dan dipelajari oleh para pelajar hingga kini. Seperti kitab al-Muqaddimah al-Jazariyyah, al-Nasyr fi Qira’ati al-‘Asyr. Sedangkan karya bidang hadits yang populer adalah al-Hishn al-Hasyin. Kitab hadis ini disyarah oleh imam al-Syaukani dengan judul Tuhfat al-Dzakirin.

PEKERJAAN
Al-Jazari dikompilasi lebih dari 90 bekerja pada qira'at, hadits,sejarah dan murid-murid lainnya. Yang paling terkenal dari karya-karyanya adalah:
Taḥbīr al-taysīr fī qirāʼāt al-ʻashr (تحبير التيسير في قراءات العشر)
Taqrīb al-Nashr fī al-qirāʼāt al-ʻashr (تقريب النشر في القراءات العشر)
Al-Tamhīd fī ʻilm al-tajwīd (التمهيد في علم التجويد)
Ṭayyibat al-nashr fī al-qirāʼāt al-ʻashr (طيبة النشر في القراءات العشر)
Munjid al-Muqriʼīn wa-murshid al-ṭālibīn (منجد المقرئين ومرشد الطالبين)

Guru-guru Beliau

Di antara ulama-ulama Damasykus yang menjadi tempat beliau bertalaqqi ialah:
1.       Abu Muhammad Abdul Wahhab bin as-Salar,
2.      Syeikh Ahmad bin Ibrahim at-Thohhan,
3.      Syeikh Abu al-Ma`ali Muhammad bin Ahmad al-Labani
4.       al-Qodhi Abu Yusuf Ahmad bin al-Husain al-Kifri al-Hanafi
5.      Ahamad bin Rojab

Guru-guru beliau dari Mesir ialah:
1.       Abu Bakr Abdullah bin al-Jundi,
2.      Abu Abdillah Muhammad bin as-Sho`igh,
3.      Abu Muhammad Abdul Rahman bin al-Baghdadi
4.      Syeikh Abdul Wahhab al-Qorwi
5.      Dhiyaudin sa’adullah al-Qazwaini
6.      Sholahuddin muhammad bin ibrohim bin abdullahb al-maqdasii al-Hambali
7.     penafsir penafsiran diperbarui Hafiz Abu Fida Ismail Ibnu Kathir diketahui, yang pertama dari 774 tahun yang sah Balavta dan mengajar dia.
Albelkana tahun 785 h
المفسر المحدث الحافظ المؤرخ أبي الفداء إسماعيل بن كثير صاحب التفسير المعروف، وهو أول من أجاز له بالإفتاء والتدريس سنة 774هـ.
البلقيني سنة 785هـ.

Guru beliau dari Madinah :
1.      Abi abdillah muhammad bin sholih al-khothobi, 
أبي عبد الله محمد بن صالح الخطيب، الإمام بالمدينة المشرفة.

Ketika beliau bermusafir ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuju ke Madinah untuk menziarahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau telah bertalaqqi al-Quran dengan Imam Masjid al-Nabawi ketika itu yaitu Muhammad bin Soleh. Beliau juga telah bertalaqqi al-Quran hampir pada semua imam-imam qiraat dari Syam, Mesir, Hijaz baik secara ifrad dan jama` dengan berpandukan kitab-kitab qiraat yang muktabar seperti as-Syatibiah, at-Taisir, al-Kafi, al-`Unwan, al-I`lan, al-Mustanir, at-Tazkirah, at-Tajrid dan lain-lain kitab qiraat yang masyhur pada ketika itu yang menjadi rujukan utama umat Islam dalam bidang ini.

Beliau juga mengadakan majlis pengkajian qiraat selama beberapa tahun di Jami` Umawi, Dimasyqus dengan sambutan yang cukup hebat dari murid-murid beliau pada masa itu. Ada dikalangan mereka yang bertalaqqi pada beliau berdasarkan satu buah kitab qiraat saja. Ada juga yang lebih dari satu  kitab. Ada yang bertalaqqi pada beliau Qiraat Tujuh, Qiraat Sepuluh bahkan lebih daripada itu. Diantara anak murid beliau yang mengambil Qiraat Sepuluh ialah anak beliau sendiri Abu Bakr Ahmad bin Muhammad, Syeikh Mahmud bin al-Husain as-Syirazi, Syeikh Najibuddin Abdullah bin al-Husain al-Baihaqi, Syeikh Muhammad bin Ahmad bin al-Haim dan sebagian besar murid-murid beliau yang lain.
‎Kegigihan Beliau
Kesungguhan beliau untuk mendalami ilmu qiraat ini cukup dengan ketabahan beliau merantau keseluruh wilayah Islam untuk belajar ilmu Qiraat dan mengajarkannya. Beliau telah bermusafir ke Mesir, Madinah, Basrah, Samarqand, Khurasan, Isfahan dan Syiraz. Ketika beliau singgah di `Anizah, Najd beliau telah mengarang kitab ad-Durrah al-Mudhiah, kitab Qiraat Tiga untuk menyempurnakan Qiraat Tujuh oleh Imam Asy-Syatibi sehingga dikenali sebagai Qiraat Sepuluh Syughra.

Ketika beliau berada di Madinah, beliau mengarang Tahbir at-Taisir, beliau mengarang satu kitab lagi yang cukup bermakna dalam dunia ilmu al-Quran dan al-Qiraat yaitu An-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr.  Kitab ini merupakan kitab yang paling sempurna di antara sekian banyak kitab-kitab beliau dalam membahaskan ilmu tajwid dan qiraat. Kitab inilah yang menjadi manhaj tertinggi pengajian ilmu qiraat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Setelah itu, beliau telah mengarang sebuah kitab untuk mentalkhis kitab an-Nasyr ke dalam bentuk matan dengan nama Toyyibah an-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr. Kitab inilah yang telah al-Azhar tetapkan dalam manhaj pengajian qiraat di marhalah Takhassus Qiraat di maahad-maahad qiraat di seluruh Mesir. Di samping itu, semasa beliau berada di Madinah beliau telah mengarang beberapa kitab lain yang sama denganqiraat.

Kealiman Beliau Dalam Bidang-bidang Lain

Sebenarnya Imam Jazary tidaklah alim dalam bidang qiraat saja, bahkan beliau sangat alim dalam beberapa disiplin ilmu yang lain seperti tafsir, hadits, fiqh, usul fiqh, tauhid, tasawuf, nahwu, shorof, balaghoh dan lain-lain. Akan tetapi, di antara ilmu-ilmu yang dinyatakan tadi ternyata beliau lebih alim dalam bidang ilmu hadits.


Beliau telah mempelajari ‘ulum hadits ini dari guru-guru beliau seperti :
·         Asy-Syeikh Sholahuddin bin Ibrahim bin Abdullah al-Muqaddisi al-Hanbali,
·         al-Imam al-Mufassir al-Muhaddits al-Hafidz Abu Fida` Ismail bin Katsir,
·         al-Imam Ibnu `Asakir,
·         Zainuddin bin Abdul Rahim al-Isnawi
·         Dan beberapa guru beliau yang muktabar

Beliau mendalami ilmu ini baik dirayah maupun riwayah sehingga beliau diberi gelar al-Huffadz ath-Thiqat al-Athbat.
Beliau berguru pada Imam Isnawi dan Imam Ibnu Katsir sehingga beliau diberi izin oleh gurunya untuk memberi fatwa dan pengkajian pada tahun 774 Hijriah sedangkan pada ketika itu beliau baru berumur 24 tahun dan Imam Ibnu Katsir merupakan guru pertama yang memberi ijazahperizinan untuk memberi fatwa kepada beliau. Beliau juga diikhtiraf untuk memberi fatwa oleh as-Syeikh Dhiauddin pada tahun 778 Hijriah. Manakala pada tahun 785 Hijriah, Syaikhul Islam al-Balqini juga melakukan perkara yang sama.

Beliau telah dilantik sebagai Masyaikhah Ash-Sholihiyyah di Baitul Maqdis selama beberapa waktu. Beliau juga pernah dilantik sebagai qaadhi di Syam dan Syiraz. Ketika beliau di Syiraz, beliau telah membangun  sebuah madrasah untuk mengajar ilmu qiraat yang diberi nama "Darul Quran".

Wafatn Beliau
Pada Jumadil Akhir 829 H, seusai melakukan perjalanan ke Makkah, Madinah dan Mesir, al-Jazari dan putranya bermaksud pulang ke Damaskus. Tapi sang putera melanjutkan ke negeri Turki sedangkan al-Jazari menuju Syiraz untuk meneruskan pengajaran ke negeri tersebut. Beliau menetap di Syiraz dan tidak lagi melakukan perjalanan sampai akhirnya wafat di kota tersebut. 
Pada hari Jumaat bertepatan 5 Rabi`ul Awwal tahun 833 Hijriah di Shiiraz, Persia. Beliau telah pulang menghadap Robbnya. Beliau telah dimakamkan di Darul Quran. Jenazah beliau telah diiringi oleh seluruh umatnya tanpa melihat derajat dan pangkat.‎

Kitab Karangan Ibnu Juljul Yang Banyak Dikaji Ilmuwan Barat

Abū Dāwūd, Sulaymān ibn Ḥassān Ibn Juljul (Arabic: سليمان بن حسان ابن جلجل‎) (c. 944 Córdoba, Spain, – c. 994) was an influential Andalusian Muslim physician and pharmacologist who wrote an important book on the history of medicine. His works on pharmacology were frequently quoted by physicians in Muslim Spain during the 10th and 11th centuries. Some of his works were later studied by Albertus Magnus, like De secretis, but were attributed to a Latinized version of his name, Gilgil.
Life

Starting from the age of fourteen, Ibn Juljul studied medicine for ten years working under the physician Hasdai ibn Shaprut. He later became the personal physician of Caliph Hisham II, and continued working as a teacher of medicine. Ibn al-Baghunish of Toledo was one of his disciples.
Works
Ibn Juljul's major book is Ṭabaqāt al-aṭibbā’ w’al-hukamā’ (Generations of physicians and Wise Men, Arabic: طبقات الأطباء والحكماء‎) which is an important work on the history of medicine using both Eastern and Western sources. The book includes 57 biographies of famous Greek, Islamic, African, and Spanish physicians and philosophers, and contains interesting information on the earliest accounts of Syriac translations into Arabic. The included biographies of contemporary Spanish physicians are notable because they give a clear insight about life in Cordoba during the 10th century. One of the biographies is that of Mohammed ibn Abdun al-Jabali, Ibn Juljul's contemporary and colleague physician at the court of Cordoba. Composed in 377/987, the Ṭabaqāt is considered to be the second oldest collection of biographies of physicians written in Arabic, where the earliest being Taʾrīkh al-aṭibbāʾ by Ishaq ibn Hunayn. The Ṭabaqāt also records some of Ibn Juljul's thoughts on the decline of science in the Eastern Islamic provinces. Ibn Juljul states that:
The Abbasid empire was weakened by the power of the Daylamites and Turks, who were not concerned with science: scholars appear only in states whose kings seek knowledge.
Ibn Juljul also wrote a number of different treatises and letters concerning pharmacology, and wrote multiple translations and commentaries on the works of Dioscorides.
He is Sulayman b. Hassan, Abu Dawood. In spite of the ‘Bell’ Arabic meaning in Ibn Juljul’s name and the lack of information on his lineage, it appears to be a Spanish name of one of his great grand fathers giving credence to the idea that he was a native Iberian Muslim whose ancestors had embraced Islam after it spread in Andalusia. Sources detailing his life, studies and teachers are also scarce except for a report which mentioned that he was from Cordova where he learnt Hadith in its grand Mosque and in Al-Zahra mosque. However, later biographers mentioned his birth in Toledo in 332 H/943 CE and his later migration, studying and death in Cordova. It was in the scientifically vibrant city of Cordova where Ibn Juljul learnt Arabic Language syntax and morphology from renowned scholars. He began learning medicine at the age of 14 years with a group of Hellenists presided over by Hasday Ibn Shapur, the Jewish physician of the royal court and vizier of the Caliph `Abd al-Rahman III.

Though he lived during the reigns of `Abdul Rahman and Al-Mustansir, during which he contributed abundantly, he acquired fame and recognition after he became close to Al-Mu’ayad Hisham I (366-399H) who appointed him as his court physician. In addition to his competence in medical practice, he showed profound expertise in concocting medicaments. It was during Al-Mu’ayyad’s reign that he wrote most of his books. There occurred rapid expansion of pharmacology and Hispano-Arabic botany during that period and Ibn Juljul is credited with much of the extensive research that was carried out in the field. Nothing has been substantiated with regards to the reports that he toured botanizing in the Islamic world; available evidence supports the view that he never ventured out of Cordova except for his training under al-Bayhaqi in Seville.
It did not matter much whether one was a physician or a pharmacologist, in fact the two professions were so related that physicians then synthesized medicaments themselves and administered them to patients after diagnosing their diseases. It has been reported that Ibn Juljul evinced so deep an interest in pharmacology that he practiced the techniques of coating pills and tablets with rose-water or perfuming them to become more palatable for intake.

“God has created (the means of) healing and distributed them among the plants that grow on earth, among the animals that walk or crawl on earth or swim in the water and among the minerals that are hidden in the womb of the earth. In all of that there is healing, pity and kindness.” Ibn Juljul

However, his prominence followed his association with the group that worked for years tirelessly on a new translation of Dioscorides’ De Materia Medica, in spite of the availability of a translation done in Baghdad by Istifan b. Basil (Stephen, the son of Basilius). Though some opine that the effort aimed primarily at elaborating an Andalusian nomenclature, including Roman variations, of plant names and adapting Basil’s text to Iberian bio-geography, it is mentioned in Ibn Abi Usaybi`a’s book that Ibn Juljul had a different idea about the main motive behind the project. There he opined that in spite of the fact that Hunayn b. Ishaq crosschecked Istifan’s translation and licensed it, the latter had left many Greek terms and plant names un-translated in the hope that God would provide someone knowledgeable of their corresponding meanings in Arabic to translate the same. People, till then, devised conventional terms for such medicines or named them according to etymological bases. Istifan’s hope materialized in that project after his work was used for quite some time but only as far as it was intelligible. The effort was guided mainly by a Byzantine Monk, Nicolas, who was dispatched by the Byzantine Emperor upon the request of the Caliph in Cordova due to the dearth of Greek speakers in Andalusia. Whether the Monk took part in the actual translation of the book or just taught Greek to enthusiasts in Cordova, is not clear but it is certain that the famousJewish physician of the royal court, Ibn Shapur, headed the group in the project. The Andalusian version of Dioscorides as made by Nicolas exists in a Bodleian manuscript.

However, this acted like a stimulus for Ibn Juljul and he continued further after the project and authored a book which came as an explanation of the drugs and plants described by Dioscordes. The book Tafsir Asma’ al-Adwiya al-Mufrada min Kitab Diyusquridus (Explanation of the Names of the Simple Drugs from Dioscorides’ Book), written in 982 CE, from which only a fragment is preserved, contained the transcription of the Greek names of 317 simple medicines, their translation into Arabic and their identification. The book also included the corresponding Latin and Berber terminologies for the medicinal plants that came in the book. Scholars believe that the significance of this book lies in the fact that it remained for quite sometime as a primary reference book for those who worked in pharmacology in Andalusia and in the details it contained on the mode of arrival of Dioscorides’ book to Cordova.

His research and interest in the field continued further and became so profound and meticulous that he authored another book which described a number of medicinal plants found in Spain land peculiarly rich and varied in its flora that didn’t figure in Dioscorides’ work. This was the Maqala fi Dhikr al-Adwiya al-Mufrada lam Yadhkurha Diyusquridus (Treatise on the Samples not Mentioned by Dioscorides), It included 62 simple medicines not mentioned in Dioscorides’ Materia Medica.

He also wrote a book on anecdotes for many poisons known during his period. It described the types of anecdotes, their constituent drugs, their locations, and administration. It contained a beautiful description of the paralysis that arises from excessive ingestion of the seeds of Lathyrus Sativus known commonly as grass pea, widely grown and consumed in Spain and other parts of the world.

At the age of 45, Ibn Juljul authored a chronicle on the biographies of physicians, Kitab tabaqat al-atibba’ wa al-hukama’ (The Chronicle of Physicians and Wise Men). In spite of the chronological errors that came in the book, it yet provides interesting information about the oldest translations into Arabic, in the time of the Caliph `Umar b. Abdul Aziz. It is also recognized as the oldest extant summary in Arabic on the history of medicine after Ishaq b. Hunayn’s Ta`rikh al-Atibba’ wa al-Falasifah (History of the Physicians). He used earlier works as sources for the contents of the book including Albumaser’s Kitab al-Uluf and Paulus Orosius’ Against the Pagans in addition to anecdotes he narrated through his own sources. In spite of the presence of tall and improbable tales in the book that don’t relate much to any scientific validity, it still proved to be the single most important biographical book on Andalusian physicians of his period; it also recounted some interesting medical anecdotes. It categorized physicians according to ethno-creedal basis that he identified as nine categories under which he enumerated thirty one Asians and many African and Andalusians. The book presented the history of the medical profession from the time of Aesculapius to Ibn Juljul’s time. The work on the book started following a request of an Umayyad prince to whom it was gifted. It was published by Fu’ad Syed in 1955 among the publications of the French Institute in Cairo.

There are other works of Ibn Juljul which include Risalat al-Tabyin fi-ma Ghalata fihi ba`d al-Mutatabbibin (Treatise on the Explanation of the Errors of Some Physicians). The book discussed some medical practices commonly used by physicians and commented on their practicality.

His date of death is not definite but his work in the royal court, his writing the Physicians’ biographies book published in the year 377H and his being a teacher of Sa`eed b. Muhammad, who was born in the year 369H, indicates that he died after 384H/ 994CE.
Pedanius Dioscorides, a Greek physician and one of the first pharma-botanists is known mainly for his book De Materia Medica, a medical codex listing hundreds of medicinal substances. The Arabs admired Dioscorides’ legacy however they were very aware that their own inventory of drugs was much larger than his.

The Andalusian physician Ibn Juljul (944 – after 994) became famous on account of several medical treaties which he wrote. He devoted most of his time to identifying the drugs listed in Dioscorides’ monumental work, and thereafter wrote: “An article on the drugs not mentioned in Dioscorides’ book. . .”

This article analyzes and discusses the names of those drugs and presents an English translation of this work. The absence of these substances from Dioscorides’ codex, and from other classical sources of the pre-Islamic period (Theophrastus, Pliny, Galen, Paul of Aegina), is a prime reason for ascribing their distribution to the Arabs.
Ibn Juljul's list reflects the major change that took place in the inventory of Galeno-Arabic drugs after the Islamic conquests; about one hundred new substances. Some of these substances, such as the myrobalan, soon became among the most common and popular drugs in the practical pharmacology of the Middle Ages. The fact that about half of the substances not mentioned by Dioscorides are of “Indian” origin should be seen against the background of the influence of the Ayurvedic medical culture, to which the Arabs were exposed alongside the Greek.

Ibn Juljul, Sulaymān Ibn Hasan (944-994) course of studies is known through his autobiography, preserved by Ibn al-Abbar. He studied medicine from the age of fourteen to twentyfour with a group of Hellenists that had formed in Cordoba around the mink Nicolas and was presided over by the Jewish physician and vizier of ‘Abd al-Rahman III, Hasday ibn Shaprut. Later he was the personal physician of Caliph Hisham II (976-1009). The famous pharmacologist Ibn al-Baghunish was his disciple.

Among Ibn Juljul’s works is Tabaqāt al atibbāʾ wa’l-hukamả (“Generations of physicians and Wise Men”). It is the oldest and most complete extant summary in Arabic except for the work on the same subject written by Ishaq ibn Hunayn, which is inferior to that of Ibn Juljul—on the history of medicine. It is of particular interest because Ibn Juljul uses both Eastern sources (Hippocrates, Galen, Dioscorides, Abu Ma’shar) and Western ones. The latter had been translated into Arabic from Latin at Córdoba in the eighth and ninth centuries and include Orosius, St. Isidore, Christian physicians, and anonymous authors who served the first Andalusian emirs. The work has frequent chronological mistakes, especially when it deals with the earliest periods, but it never lacks interset.
The Tabagat contains fifty-seven biographiesà grouped in nine generations. Thirty-one are of oriental authors: Hermes I, Hermes II, and Hermes III, Asclepiades, Apollon, Hippocrates, Discorides, Plato, Aristoltle, Socrates, Democritus, Ptolemy, Cato, Euclid, Galen, Al-Hārith al-Thaqafi, Ibn Abi Rumtha, Ibn Abhar, Masarjawayhi, Bakhtīshūʿ, Jabril, Yuhanna ibn Māsawayhi, Yhannā ibn al-Bitriq, Hunaya ibn Ishāq, al-Kindi, Thābit ibn Qurra, Qusta ibn Lūqā, al-Rāzī, Thabit ibn Sinān, Ibn Wasif, and Nastās ibn Jurahy. The rest of the biographies are of African and Spanish scholars, who generally are less well-known than the Eastern ones. Since he knew many of the latter and possibly attended some of them, there is no reason to question the details given concerning their behavior or illnesses. The remarks on these topics are not real clinical histories but transmit details (allergic asthma, dysentery, and so on) that give a clear idea of life in Cordoba in the tenth century.
Ibn Juljul also provides interesting information about the oldest Eastern translations into Arabic, in the time of Caliph ‘Umar II (717-719), when he states that the latter ordered the translation from Syriac of the work of the Alexandrian physician Ahran ibn A’yan (fl. seventh century). One should not disdain his reflections on the causes hindering the development of science when, referring to the East, he justifies not mentioning more scholars from this region after al-Radi’s caliphate (d. 940), saying:
In later reigns there was no notable man known for his mastery or famous for his scientific contributions. The Abbasid empire was weakened by the power of the Daylamites and Turks, who were not concerned with science: scholars appear only in states whose kings seek knowledge [Tabaqāt, p. 116].
Tafsir asmāʾ al-adwiya al-mufrada min kitab Diyusquridus, written in 982, may concern a copy of Dioscorides’ Materia medica. In it is a text, quite often copied, on the vicissitudes of the Arabic translation of the famous Greek work. Maqāla fi dhikr al-adwiya al-mufrada lam yadhkurhā Diyusqūridūs is a complement to Dioscorides’ Materia medica. Maqala fi adwiyat al-tiryaq concerns therica. Risalat al-tabyin fi ma ghalata fihi baʿd al-mutatabbibin probably dealt with errors committed by quacks.
Ibn Juljul may be the author of the De secretis quoted by Albertus Magnus in hisDe sententiis antiquorum et de materia metallorum (De mineralibus III, 1. 4), which is attributed to a certain Gilgil.
The work of Ibn Juljul must have remained popular in Muslim Spain for a long time; otherwise we could not account for the frequent references given by a botanist such as the unnamed Spanish Muslim studied by Asin Palacios.‎

Ibnu Juljul Ilmuwan Muslim Cordoba

Ibnu Juljul adalah seorang dokter keturunan Arab yang lahir di Cordova Spanyol pada tahun 332 H / 994 M. Ia bernama lengkap Abu Dawud Sulayman Bin Hasan Bin  Juljul Al-Qurtubi Al-Andalusi. Ia dikenal menguasai betul ilmu yang digelutinya. ia Sudah menggeluti studi dibidang kedokteran dalam usia yang masih sangat muda yaitu 15 tahun.
        
Sebelum memperdalam ilmu di bidang kedokteran, pada tahun 343 H/ 954 M, ia belajar ilmu tata bahasa (Nahwu-Sharaf) dan tradisi (ilmu-ilmu agama islam) di tempat kelahirannya, Cordova. Setelah sepuluh tahun mendalami studi di bidang kedokteran, ia pun diakui mempunyai  otoritas yang dapat dipertanggung jawabkan untuk melakukan pengobatan. Kemudian ia menjadi dokter pribadi Al-Mu’ayyad Billah Hisyam (336-339 H /997-1009 M), dalam jangka waktu itu ia memanfaatkan untuk mengarang berbagai buku di bidang kedokteran. Diantaranya :

1.    Tafsir Anwa’ al-Adwiya’al-Mutrada min Kitab Diyuskuridus pada tahun 372 H / 982 M
2.   Tabaqat al-Atibba’wa al Hukamapada tahun 377 H / 987 M
3.   Maqalah fi dzikr al Adwiya’ allati lam Yazkurha Diyuskuridus
4.   Maqalah fi Adwiya’at Triyak
5.   Risalah ath Tabyin fi ma Ghalat fihi Ba’d al Mutathobbin

Diantara kelima karya tersebut maka Tabaqat al-Atibba’wa al Hukama ( Sejarah Para Ahli Kedokteran dan hukum) buku ini dianggap sebagai sebuah koleksi biografi para ahli kedokteran yang tertua di Jazirah Arab, setelah buku Tarikh al Atibba karangan Ishaq bin Hunayn. Bahkan buku karangan tersebut juga dianggap sebagai sample yang lebih dini  mengenai manfaat terjemahan-terjemahan bahasa Arab dan bahasa Latin.‎

Bergelut dengan ilmu, bukan hal yang asing bagi Abu Da'ud Sulayman bin Hassan, yang akrab dipanggil Ibnu Juljul. Sejak usia dini, ia telah akrab dengan beragam bacaan dan ilmu pengetahuan. Hingga kemudian, ia dikenal di bidang medis dan pengobatan herbal.

Bahkan, karya-karya Ibnu Juljul dalam pengobatan herbal, menjadi rujukan banyak ilmuwan lainnya. Ia memang tak hanya mumpuni dalam praktik pengobatan herbal. Namun, ia pun rajin menggerakkan penanya untuk menuangkan buah pemikirannya. Ibnu Juljul, lahir di Kordoba, Spanyol, pada 994. Sejak masa kanak-kanak, ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan telah tertanam dalam dirinya. Ia banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Saat berusia 10 tahun, ia telah belajar tata bahasa dan tradisi masyarakatnya.
Ketika usia Ibnu Juljul beranjak 15 tahun, ia mulai bersentuhan dengan ilmu kedokteran. Padahal, pada masa sekarang, ilmu kedokteran baru dipelajari secara mendalam di bangku kuliah. Tak heran, jika di usianya yang masih belia, ia menguasai ilmu kedokteran.

Di sisi lain, Ibnu Juljul juga terampil dalam pengobatan herbal. Dan rupanya, ia memang sejak semula juga sangat tertarik dengan obat-obatan, terutama yang berhubungan dengan herbal, obat alami yang banyak diekstrak dari tumbuh-tumbuhan. Ia juga mendalami farmasi.

Kemahirannya di bidang pengobatan mengantarnya memasuki gerbang istana. Menurut situs Muslimheritage, Ibnu Juljul pernah bekerja sebagai dokter pribadi Al-Mu'ayyad Billah Hisyam, seorang khalifah yang berkuasa pada 977 hingga 1009. 

Selain mempraktikkan keahlian medisnya, Ibnu Juljul juga banyak menuliskan karya-karya di bidang medis. Tak hanya itu, upaya mendalami ilmu pengobatan terus ia lakukan. Dalam hal ini, ia banyak berbagi pandangan dan berlatih dengan Albucasis.

Albucasis merupakan nama tenar Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Saat itu, Albucasis adalah dokter bedah ternama di Kordoba. Ia menemukan penyakit hemofilia, di mana penderitanya, jika luka darahnya akan terus mengalir dan sulit membeku. 

Dalam kariernya sebagai dokter, Albucasis menulis buku yang sangat terkenal berjudul At-Tasrif liman 'Ajiza 'an at-Ta'lif (Metode Pengobatan). Ibnu Juljul dan Abulcasis tak hanya berbagi pandangan, tetapi juga bersama-sama menuliskan pemikirannya di bidang medis. 

Mereka bersama-sama menulis saat masa-masa terakhir kekhalifahan di Andalusia, Spanyol. Di sisi lain, Ibnu Juljul juga menghasilkan karyanya sendiri. Sejarawan terkenal dari Baghdad, Irak, Bin Abi Usaybi'a, menyatakan, Ibnu Juljul menulis buku sejarah pengobatan. Buku itu berjudul Atibba'wa'l Tabaqat al-Hukama . Buku tersebut telah beberapa kali diedit.

Ibnu Juljul mengawali tulisan dalam bukunya itu dengan menguraikan tentang riwayat ayahnya yang juga ahli obat-obatan. Pada bab-bab selanjutnya, ia menuliskan para ahli obat-obatan yang sangat terkenal sebagai para pendahulunya di Andalusia.

Selain itu, Ibnu Juljul mengungkapkan soal hubungan dan komunikasi yang terjalin antara kekhalifahan di Timur dan Andalusia. Ia pun mengisahkan bagaimana banyaknya para mahasiswa menempuh perjalanan dari tempat yang jauh untuk mencari ilmu pengetahuan.

Ibnu Juljul mempelajari ilmu pengobatan herbal yang dilakukan oleh Pedanius Dioscorides, seorang dokter Yunani kuno, ahli farmasi, dan ahli botani. Dioscorides sering bepergian guna mencari bahan-bahan jamu dari seluruh wilayah Romawi dan Yunani.

Dia juga menulis lima jilid buku dalam bahasa Yunani asli. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul  De Materia Medica (Masalah-masalah yang berhubungan dengan medis). Berdasarkan ajaran dalam buku milik Dioscorides, Ibn Juljul membuat sebuah karya berjudul Maqalah . 

Dalam karyanya itu, Ibnu Juljul menuliskan berbagai macam tumbuhan yang penting bagi obat-obatan, termasuk sifat tumbuh-tumbuhan tersebut. Lalu, dia juga menuliskan efek dari penggunaan tumbuh-tumbuhan itu bagi organ tubuh tertentu. 

Tumbuh-tumbuhan untuk herbal yang ditulisnya sebanyak 28 jenis berasal dari India atau yang perjalanannya melalui rute perdagangan India, dua  dari Yaman, dua dari Mesir, satu dari Ceylan, satu dari Khwarizm, dan dua dari kota yang dekat dengan Kordoba. Dalam bukunya itu, Ibnu Juljul kadang-kadang menuliskan nama orang yang pertama kali menggunakan tumbuhan tersebut untuk pengobatan atau orang yang menceritakan fungsi dan efek penggunaan tumbuhan pada tubuh manusia.

Ibnu Juljul, juga membahas tentang batu Bezoar yang dapat digunakan untuk melawan semua racun. Batu tersebut memiliki warna yang kekuning-kuningan dengan garis-garis putih. Selain itu, dia juga pernah membahas soal Ribas. Mengutip pedagang kepercayaannya, Ibnu Juljul mengungkapkan, Ribas merupakan sejenis sayuran yang rasanya masam. Ribas bisa didapatkan di pegunungan yang tertutup salju. Apa yang diungkapkan dalam bukunya sarat dengan pengalaman dan pengetahuan Ibnu Juljul di bidang medis. 

Banyak dipelajari‎

Karya Ibnu Juljul tentang pengobatan herbal, dipelajari pula oleh banyak ilmuwan lainnya. Di antara ilmuwan yang mempelajari karya Ibnu Juljul, adalah ahli botani yang bernama Al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuhan dari Spanyol maupun Afrika. Selain itu, Al-Ghafiqi juga membuat catatan yang menggambarkan secara rinci tentang jenis-jenis tumbuhan yang dikoleksinya itu. Bahkan, seorang ahli sejarah dari Barat, George Sarton, mengatakan, Al-Ghafiqi merupakan ahli botani paling cerdas pada masanya.

Sejumlah kalangan mengatakan, deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Karya fenomenal Al-Ghafiqi berjudul Al-Adwiyah al-Mufradah. Buku milik Al-Ghafiqi, menginspirasi Abdullah Ibnu Ahmad Ibn Al-Baitar atau Ibnu Baitar, untuk meneliti tumbuh-tumbuhan. Ia juga dikenal sebagai salah satu ahli botani sekaligus obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan.

Selain terinsipirasi Al-Ghafiqi, Ibnu Baitar juga mengutip empat belas tulisan tentang obat-obatan herbal milik Ibn Juljul. Padahal, Al-Baitar merupakan ahli botani yang hebat. Terbukti, ia mengoleksi dan mencatat 1.400 jenis tanaman obat.

Catatan dan koleksi tersebut, Ibnu Baitar peroleh saat ia menjelajahi pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karya Al-Baitar yang paling termasyhur berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah. Dari banyaknya para ahli botani dan medis yang mengutip karya Ibnu Juljul, menunjukkan bahwa karyanya di bidang pengobatan herbal merupakan karya hebat dan teruji. Karya Ibnu Juljul dianggap sebagai karya yang memiliki nilai tinggi.

Bahkan, karya Ibnu Juljul tak hanya menjadi rujukan ilmuwan di wilayah Andalusia, namun juga oleh ilmuwan luar negeri seperti Maroko. Kontribusi Ibnu Juljul di dunia medis, sangat berharga bagi penggunaan tanaman untuk obat, bahkan di dunia modern.

Dunia Islam dan Tumbuhan

Ajaran agama untuk menggali ilmu pengetahuan telah mendorong Muslim untuk mengenal banyak ilmu. Segala upaya mereka kerahkan untuk menekuni sebuah, bahkan beragam ilmu. Termasuk, ilmu pengobatan yang menggunakan tumbuhan. 

Ketertarikan pada tumbuhan tak hanya melahirkan ahli pengobatan herbal. Namun, juga melahirkan perkembangan menakjubkan di bidang pertanian. Termasuk, teknik baru dalam mengembangkan tanaman, bahkan pembangunan bendungan dan irigasi. 

Dari berbagai penelitian yang dilakukan ilmuwan Muslim soal tanaman ini, kemudian lahirlah ilmu tentang pengobatan herbal. Dalam banyak literatur Islam di abad pertengahan, kehidupan tumbuh-tumbuhan erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan agronomi. 

Sejak Al-Asma'i yang hidup pada 740 hingga 828, seorang ilmuwan terkenal pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid menuliskan Kitab al-Nabat wa-'l-Shajar, ilmuwan Muslim tak lagi merasa ragu untuk menggunakan istilah botani. 

Bahkan kemudian, para filolog Muslim menggambarkan tanaman secara sistematis. Beragam jenis tumbuhan digolongkan menurut jenisnya. Ada tanaman masuk dalam golongan pohon, bunga, sayur-sayuran, dan semak-semak. Pohon juga dibagi menurut kualitas yang dapat dimakan dari kulit dan biji buah-buahan pohon tersebut.‎

Minggu, 01 Januari 2017

Ibnu Al-Baitar Ilmuwan Muslim Yang Menjadi Referensi Pengobatan Herbal

Syaikh Dhiyauddin‎ Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar  al-Malaqi al-Andalusi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Al-Baitar adalah ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada abad pertengahan. Ia juga dokter dan ilmuwan. Ibnu Al-Baitar juga telah mengungkapkan tentang potasium nitrat pada tahun 1240 M.‎

Biografi

Ibnu Al-Baitar lahir pada akhir abad 12 (1197) di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut. Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.

Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.

Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat. Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan.

Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi di sana.

Karya Beliau

Sebagian besar buku karya Ibnu al-Baitar berasal dari hasil penelitiannya selama beberapa tahun terhadap berbagai jenis tumbuhan. Tak hanya berisi hasil penelitian, buku tersebut juga di lengkapi penjelasan & komentar panjang. Di kemudian hari, karya-Karya Ibnu al-Baitar menjadi buku rujukan ilmu botani yang sangat penting. Kontribusi Ibnu al-Baitar tersebut sangat mempengaruhi perkembangan ilmu botani & kedokteran selanjutnya, baik di Eropa maupun Asia.‎

Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrad (kitab mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab)
Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada. Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad 16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758.‎

Kitab al-Mughni fi al-adwiya al-mufrada (ensiklopedia obat-obatan dan khasiat tanaman)

Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada yakni ensiklopedia obat-obatan. Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi.

Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan. Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.

“Catatan-catatan Al-Baytar adalah catatan terpenting dalam dunia tumbuhan dari seluruh periode kejayaan ahli botani, mulai dari masa Dioscorides sampai abadke-16,”ungkap Sarton. Catatan Al-Baytar, kata ahli sejarah ini, seperti kamus atau ensiklopedia lengkap tentang tumbuh-tumbuhan.

Penemu Ramuan Herbal Kanker (Hindiba)‎

Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic.


Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.

Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.

Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Prof Nil Sari menyimpulkan bahwa, Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan. Tapi domain yang paling spektakuler adalah kekuatannya yang dapat menyembuhkan tumor ungkapnya.

Untuk melacak khasiat dan ramuan Hindiba, Prof Nil Sari pun melakukan penelitian terhadap literatur pengobatan masa lalu. Ia melacak dua masterpiece ilmuwan Muslim, yakni Ibnu Sina lewat Canon of Medicine serta ensiklopedia tanaman yang ditulis al-Baitar.
Ketika kami melihat teks lama secara lebih dekat, kami melihat adanya kebenaran yang sedikit sekali kami ketahui tentang ramuan tanaman (herbal) di masa lalu,ungkapnya. Dalam teks peninggalan kejayaan Islam itu dijelaskan bahwa Hindiba dan berbagai jenis herbal lainnya dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni herbal yang diolah dan herbal yang tak diolah.

Menurut teks pengobatan kuno, keampuhan pengobatan kanker dengan menggunakan Hindiba didasarkan atas pertimbangan teoritis pengobatan, yakni efek obat-obatan medis beroperasi sesuai dengan sifat dari konstituen. Menurut Prof Nil, konstituen yang dihasilkan dari dekomposisi akan memiliki efek yang disebut energi. Potensi kualitas panas dan dingin dalam sifat obat akan keluar sebagai hasil dekomposisi dalam tubuh.

Komponen aktif komponen alami yang panas akan segera bereaksi. Akan tersebar melalui jaringan secara efektif. Konstituen panas bereaksi sebelum konstituen dingin dan membersihkan hambatan dalam saluransaluran kecil pada bagian tubuh dan memperlancar penyebaran konstituen dingin. Kemudian, unsur dingin itu datang dan mulai berfungsi menjalankan fungsinya.

Dalam risalah kedokteran berbahasa Arab, peninggalan era keemasan Islam, disebutkan bahwa semua jenis pembengkakan seperti kutil atau benjolan telah menyebabkan gangguan pada saluran. Sedangkan kanker digambarkan sebagai massa yang keras. Diidentifikasi sebagai pembengkakan yang keras, kanker berkembang dari kecil kemudian menjadi besar ditambah dengan rasa sakit.

Mengutip catatan Ibnu Sina dalam Canon of Medicine, Prof Nil Sari mengungkapkan, tumor atau kanker, bila di biarkan akan semakin bertambah ukur annya. Sehingga kanker itu akan menyebar dan merusak. Akarnya dapat menyusup di antara elemen jaringan tubuh. Prof Nil Sari menemukan gambaran serupa tentang kanker dalam manuskrip pengobatan di era Usmani.

Menurut Ibnu Sina, tumor digolongkan menjadi dua, yakni tumor panas dan dingin. Tumor yang berwarna dan terasa hangat saat disentuh biasanya disebut tumor panas, sementara tumor yang tidak berwarna dan terasa hangat disebut tumor dingin. Ibnu Sina menyebut kanker sebagai bentuk tumor yang berada di antara tumor dingin.

Khasiat Hindiba diteliti Prof Prof Nil Sari dengan menyajikan data yang mendalam mengenai latar belakang teori percobaan invivo dan invitro dengan sari herbal dari Turki. Ia memulai dari filsafat Turki Usmani, yang berakar dari pengobatan Islam. Dalam karyanya ini, disebutkan bahwa obat Cichorium intybus L dan Crocus sativus L diidentifikasi sebagai alternatif tanaman yang identik satu sama lain yang merupakan komponen aktif untuk pengobatan kanker.

Prof Nil Sari dan rekannya Dr Hanzade Dogan mencampurkan C intybus L dan kunyit (saffron) dari Safranbolu, seperti yang dijelaskan teks pengobatan lama. Yang lebih menarik adalah hasil penelitian laboratorium kami yang menunjuk kan bahwa dari ekstrak C intybus L yang ditemukan menjadi paling aktif pada kanker usus besar, ujar Prof Nil Sari.

Menurut dia, Hindiba terbukti sangat efektif mengobati kanker. Sayangnya, kata dia, pada zaman dahulu, Hindiba lebih banyak disarankan sebagai obat untuk perawatan tumor. Hal itu terungkap dalam kitab Ibnu al-Baitar. Menurut al-Baitar, jika ramuan Hindiba dipanaskan, dan busanya diambil dan disaring kemudian diminum akan bermanfaat untuk menyembuhkan tumor.

Pakar pengobatan di era Kesultanan Turki Usmani, Mehmed Mumin, mengung kapkan bahwa Hindiba bisa meng obati tumor dalam organ internal. Namun, lebih sering dianjurkan untuk perawatan tumor pada tenggorokan. Jika kayu ma nis di campurkan pada jus Hindiba (khu sus yang diolah dengan baik) dapat digunakan un tuk obat kumurkumur serta ber manfaat pula untuk perawatan tumor, sakit dan radang tenggorokan.

Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.

Karya lain
Mizan al-Tabib.
Risalah fi'l-aghdhiya wa-adwiya.
Maqāla fi'l-laymūn, Risalah tentang Lemon, juga telah dikaitkan dengan Ibn Jumac ; diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Andrea Alpago.
Tafsir Kitab Diyusqūrīdis, sebuah komentar pada empat buku pertama Dioscorides .

Wafat

Ibnu Al-Baitar meninggal di Damaskus pada tahun 1248. Dunia mengenangnya sebagai seorang yang paling berjasa dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan, dan berpengaruhpenting dalam perkembangan ilmu botani.

Sebagian besar buku karya Ibnu al-Baitar berasal dari hasil penelitiannya selama beberapa tahun terhadap berbagai jenis tumbuhan. Tak hanya berisi hasil penelitian, buku tersebut juga di lengkapi penjelasan & komentar panjang. Di kemudian hari, karya-Karya Ibnu al-Baitar menjadi buku rujukan ilmu botani yang sangat penting. Kontribusi Ibnu al-Baitar tersebut sangat mempengaruhi perkembangan ilmu botani & kedokteran selanjutnya, baik di Eropa maupun Asia.‎