Translate

Selasa, 25 April 2017

JIN DAN SETAN MAMPU MENYAMAR MENYERUPAI DAN MENIRU, WASPADALAH

Di antara kemampuan yang diberikan pada jin  adalah dapat berubah bentuk menjadi manusia. Berikut di antara buktinya.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

وكلني رسول الله صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، فأتاني آت، فجعل يحثو من الطعام، فأخذته وقلت: والله لأرفعنك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: إني محتاج وعلي عيال ولي حاجة شديدة، قال: فخليت عنه، فأصبحت فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (يا أبا هريرة ما فعل أسيرك البارحة). قال: قلت: يا رسول الله، شكا حاجة شديدة، وعيالا فرحمته فخليت سبيله، قال: (أما إنه قد كذبك، وسيعود). فعرفت أنه سيعود، لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إنه سيعود). فرصدته، فجاء يحثو من الطعام، فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: دعني فإني محتاج وعلي عيال، لا أعود، فرحمته فخليت سبيله، فأصبحت فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا أباهريرة ما فعل أسيرك). قلت: يا رسول الله شكا حاجة شديدة وعيالا، فرحمته فخليت سبيله، قال: (أما إنه كذبك، وسيعود). فرصدته الثالثة، فجاء يحثو من الطعام، فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رسول الله، وهذا آخر ثلاث مرات تزعم لا تعود، ثم تعود، قال: دعني أعلمك كلمات ينفعك الله بها، قلت ما هو؟ قال: إذا أويت إلى فراشك، فاقرأ آية الكرسي: {الله لا إله إلا هو الحي القيوم}. حتى تختم الآية، فإنك لن يزال عليك من الله حافظ، ولا يقربنك شيطان حتى تصبح، فخليت سبيله فأصبحت، فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما فعل أسيرك البارحة). قلت: يا رسول الله، زعم أنه يعلمني كلمات ينفعني الله بها فخليت سبيله، قال: (ما هي). قلت: قال لي: إذا أويت إلى فراشك، فاقرأ آية الكرسي من أولها حتى تختم: {الله لا إله إلا هو الحي القيوم}. وقال لي: لن يزال عليك من الله حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح - وكانوا أحرص شيء على الخير - فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (أما إنه قد صدقك وهو كذوب، تعلم من تخاطب منذ ثلاث ليال يا أبا هريرة). قال: لا، قال: (ذاك شيطان).

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menugaskan aku untuk menjaga harta zakat di bulan Ramadlan. Lalu seorang pendatang mendekatiku dan mengais-ngais makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata kepadanya : “Demi Allah, sungguh aku akan hadapkan kamu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Ia berkata : “Sesungguhnya aku adalah orang yang membutuhkan. Aku mempunyai keluarga yang mempunyai kebutuhan mendesak”. Akupun melepaskan orang itu. Pada pagi harinya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamberkata : “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu tadi malam ?”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, ia mengeluh bahwa ia mempunyai kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga. Aku merasa kasihan padanya dan kemudian kulepaskan”. Beliau bersabda :“Sesungguhnya ia telah mendustaimu dan ia akan kembali lagi. Ketahuilah, ia akan kembali lagi”. Berdasarkan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia akan kembali lagi, maka akupun mengintainya. (Ternyata benar), orang itu kembali lagi dan mengais-ngais makanan. Akupun menangkapnya. Aku berkata : “Akan aku hadapkan engkau kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Ia berkata : “Lepaskan aku, sesunguhnya aku orang yang membutuhkan dan mempunyai tanggungan keluarga. Aku berjanji untuk tidak kembali lagi”. Aku pun merasa kasihan kepadanya dan kulepaskanlah ia. Pada pagi harinya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan oleh tawananmu ?”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, ia mengeluh bahwa ia mempunyai kebutuhan yang mendesak dan mempunyai tanggungan keluarga. Akupun merasa kasihan kepadanya dan kemudian kulepaskan”. Beliau bersabda :“Sesungguhnya ia telah mendustaimu, dan ia akan kembali lagi”. Aku pun kembali mengintainya untuk yang ketiga kalinya,(dan ternyata benar) ia datang mengais-ngais makanan. Aku pun menangkapnya. Aku berkata : “Sungguh aku akan menghadapkanmu kepada Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tiga kali, dan ini yang terakhir. Kamu telah berjanji untuk tidak kembali, namun ternyata kamu masih kembali”. Ia berkata : “Lepaskanlah aku ! Aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengannya”. Aku berkata : “Apa itu ?”. Ia berkata : “Apabila engkau beranjak menuju tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursiy Allaahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum, hingga akhir ayat. Sesungguhnya dengan membaca itu, kamu senantiasa dalam perlindungan Allah. Syaithan tidak akan mendekatimu hingga waktu shubuh”. Maka kulepaskan dia.

Pada pagi harinya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Apa yang dilakukan tawananmu semalam ?”. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, ia mengaku telah mengajari yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengannya”. Maka akupun melepaskannya. Beliau bertanya : “Apa itu ?”. Aku berkata : “Ia berkata kepada kepadaku bahwa apabila aku beranjak menuju tempat tidurku, hendaknya aku membaca ayat Kursiy dari awal hingga akhir : Allaahu laa ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyuum. Ia berkata kepadaku : ‘Kamu akan senantiasa berada dalam lindungan Allah dan syaithan tidak akan mendekatimu hingga waktu shubuh – mereka (para shahabat) paling menginginkan kebaikan - . Maka Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ia telah jujur kepadamu kali ini, padahal ia seorang pendusta. Tahukah siapa yang telah engkau ajak bicara semenjak tiga hari ini wahai Abu Hurairah ?”. Abu Hurairah menjawab : “Tidak”. Beliau bersabda : “Ia adalah syaithan”.[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4/487), (6/335), (9/55 –Fath) secara mu’allaq dengan lafadh jazm.]

Al-Haafidh berkata :

وفي الحديث أبي بن كعب عند النسائي : إنه كان له جرن تمر وإنه كان يتعاهده فوجده ينقص فإذا هو بدابة شبه الغلام المحتلم فقلت له : أجني أم إنسي ؟. قال : بل جني. وفيه أنه قال له : بلغنا أنك تحب الصدقة وأحببنا أن نصيب من طعامك، قال : فما الذي يجيرنا منكم ؟ قال : هذه الآية آية الكرسي فذكر ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فقال : ((صدق الخبيث)). هــ.

“Pada hadits Ubay bin Ka’b pada riwayat An-Nasa’iy : ‘Bahwasannya ia mempunyai tempat pengeringan kurma yang di dalamnya berisi kurma yang sedang dijaganya. Ia kemudian mendapati kurma tersebut berkurang. Tiba-tiba ada seekor binatang sebesar anak yang baru baligh. Kukatakan padanya : “Apakah engkau jin atau manusia ?”. Ia menjawab : “Aku adalah jin”. Dalam riwayat ini jin tersebut mengatakan padanya : “Telah sampai khabar kepada kami bahwasanya engkau ingin bershadaqah, dan aku ingin mendapat bagian dari makanan yang hendak engkau shadaqahkan itu”. Ia (shahabat itu) berkata : “Apakah yang dapat melindungi kami dari gangguanmu ?”. Jin itu berkata : “Ayat ini, yaitu ayat kursi”. Disampaikanlah apa yang dikatakan jin tersebut kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda : “Jin itu benar”.

Kemudian Al-Haafidh berdalil dengan hadits Abu Sa’iid yang terdahulu bahwasannya syaithan bisa menyerupai bentuk, menyamar, dan dilihat. Adapun firman Allahta’aalaa :

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ (الأعراف : ٢٨)

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”[QS. Al-A’raaf : 27].

Di bagian lain Al-Haafidh berkata :

وروى البيهقي في ((مناقب الشافعي)) بإسناده عن الربيع سمعت الشافعي يقول : من زعم أنه يرى الجن أبطلنا شهادته إلا أن يكون نبيّاً.

“Al-Baihaqiy meriwayatkan dalam Manaaqibusy-Syaafi’iydengan sanadnya dari Ar-Rabii’ : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Barangsiapa yang mengaku bahwa ia telah melihat jin, maka kami batalkan persaksiannya, kecuali jika ia seorang Nabi”.

Al-Haafidh juga berkata :

وهذا محمول على من يدعي رؤيتهم على صورهم التي خلقوا عليها، وأما من ادعى أنه يرى شيئًا منهم بعد أن يتصور على صور شتى من الحيوانات فلا يقدح فيه، وقد تواردت الأخبار بتطورهم في الصور.هــ.

“(Perkataan Asy-Syaafi’iy) ini berlaku pada orang yang mendakwakan dirinya pernah melihat jin pada bentuk aslinya. Adapun orang yang mendakwakan bahwa ia pernah melihat sesuatu dari jin/syaithan setelah menyerupai bentuk binatang, maka tidak ada celaan di dalamnya. Hal itu disebabkan telah banyak khabar (hadits) yang menjelaskan penyerupaan mereka dalam beberapa bentuk”.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tekah bersabda :

الحيات مسخ الجن كما مسخت القردة والخنازير من بني إسرائيل

“Ular adalah jejadian jin sebagaimana kera-kera dan babi-babi adalah jejadian Bani Israaiil”.[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir, dan Ibnu Abi Haatim dalam Al-‘Ilal; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahiihah (4/439 no. 1824)].

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ;anhu : Bahwasannya Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

على ذروة كل بعير شيطان فامتهنوهن بالركوب فإنما يحمل الله تعالى

“Di atas punggung (punuk) setiap onta terdapat syaithan, maka hinakanlah menungganginya. Allah ta’ala menciptakannya hanyalah untuk membawa beban”.[Diriwayatkan oleh Al-Haakim, dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ (4/38)].

Dari Abu Qilaabah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

لولا أن الكلاب أمة لأمرت بقتلها، ولكن خفت أن أبيد أمة، فاقتلوا منها كل أسود بهيم فإنه جنّها أو من جنّها.

“Apabila anjing itu bukan termasuk satu umat, niscaya akan aku perintahkan untuk membunuhnya. Namun aku takut jika aku melakukannya akan memusnahkan satu umat. Maka, bunuhlah di antara anjing-anjing itu yang berwarna hitam. Karena ia termasuk jinnya atau dari jinnya”.[Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitaabul-Musaaqaah, hadits no. 47].

Dalam Shahih Muslim dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

إذا قام أحدكم يصلي فإنه يستره إذا كان بين يديه مثل آخرة الرحل فإذا لم يكن بين يديه مثل آخرة الرحل فإنه يقطع صلاته : الحمار والمرأة والكلب الأسود. قلت : يا أبا ذر ما بال الكلب الأسود من الكلب الأحمر من الكلب الأصفر ؟. قال : يا بن أخي سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم كما سألتني فقال : الكلب الأسود شيطان.

“Apabila salah seorang di antara kalian berdiri melakukan shalat, hendaknya ia membuat batas (sutrah) di depannya dengan sesuatu seukuran pelana kuda. Jika di depannya tidak ada pembatas seukuran pelana kuda, maka batal shalatnya (apabila dilewati) oleh : keledai, wanita, dan anjing hitam”. Aku (perawi) berkata : “Wahai Abu Dzarr, apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing merah atau anjing kuning ?”. Abu Dzarr berkata : “Wahai anak saudaraku, aku telah bertanya kepada Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang engkau tanyakan kepadaku tadi. Beliau menjawab : ‘Anjing hitam adalah syaithan”.[Diriwayatkan oleh Muslim (4/226 dengan Syarh An-Nawawi), An-Nasaa’iy (2/64), Ibnu Maajah (1/306) dan Ad-Daarimiy (1/329)].

Yang menjadi syaahid dari hadits di atas adalah perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Anjing hitam adalah syaithan”.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

الكلب الأسود شيطان الكلاب، والجن تنصور بصورته كثيرًا، وكذلك بصورة القط الأسود، لأن السواد أجمع للقوى الشيطانية من غيره وفيه قوة الحرارة.هــ.

“Anjing hitam adalah syaithannya anjing. Jin yang menyerupai bentuk anjing adalah banyak. Begitu pula dengan kucing yang berwarna hitam, sebab warna hitam dapat menghimpun kekuatan syaithaniyyah dibanding warna lain. Dan juga karena warna hitam menyimpan daya panas”.

Iblis pernah menyamar dalam wujud Suraqah bin Maalik, pembesar Bani Mudlij, pada waktu perang Badr. Ia datang bersama kaum musyrikin sebagai pasukannya. Ia berkata kepada kaum musyrikin pada waktu itu : “Kalian tidak akan dikalahkan oleh mereka pada hari ini karena aku adalah pelindung kalian”. Ketika pasukan telah berbaris, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah yang beliau lemparkan ke ajah-wajah kaummusyrikin sehingga mereka mundur ke belakang. Maka Jibril ‘alaihis-salaam pun datang kepada Iblis. Ketika Iblis melihat Jibril, maka ia pun melepaskan tangannya yang saat itu sedang memegang tangan seorang laki-laki kalangan musyrikin, dan kemudian ia dan pasukannya lari meninggalkan pertempuran. Seorang laki-laki berkata : “Wahai Suraqah, engkau telah mengatakan bahwasannya engkau adalah pelindung bagi kami”. Ia berkata : “Sesungguhnya aku telah melihat apa yang tidak engkau lihat. Dan sesungguhnya aku takut kepada Allah yang mempunyai siksa yang sangat pedih”. Demikianlah ketika Iblis melihat malaikat – selesai - . Riwayat ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

والجن يتصورون في صور الإنس والبهائم فيتصورون في صور الحيات والعقارب وغيرها وفي صور الإبل والبقر والغنم والخيل والبغال والحمير وفي صور الطير وفي صور بني آدم. هــ.

“Jin bisa menyerupai wujud manusia dan binatang seperti ular, kalajengking, onta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung, ataupun anak Adam (manusia)”.

Bagaimana Jin Dapat Melakukan Penyerupaan/Penyamaran ?

Al-Qaadliy Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Al-Farraa’ berkata :

ولا قدرة للشيطان على تغيير خلقهم والانتقال في الصور، وإنما يجوز أن يعلمهم الله تعالى كلمات وضروبًا من ضروب الأفعال إذا فعله وتكلم به نقله الله تعالى من صورة إلى صورة، فيقال : إنه قادر على التصوير والتخييل على معنى إنه قادر على قول إذا قاله وفعله نقله الله تعالى عن صورته إلى صورة أخرى بجري العادة وأما إنه يصور نفسه فذلك محال، لأن انتقالها عن صورة إلى صورة إنما يكون بنقض البنية وتفريق الأجزاء وإذا انتقضت  بَطَلَت الحياة. هــ.

“Tidak ada kemampuan bagi syaithan untuk mengubah penciptaan mereka dan berubah bentuk. Namun Allah bisa saja mengajarkan kepada mereka beberapa kalimat dan perbuatan dimana jika ia mengucapkan kalimat tersebut atau melakukan perbuatan-perbuatan tersebut Allah ta’alaakan mengubahnya dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dikatakan : Syaithan mampu untuk mengubah bentuk dan membuat khayalan dengan pengertian bahwa ia mampu untuk satu perkataan yang jika ia mengatakannya atau melakukannya maka Allah akan mengubahnya dari satu bentuk ke bentuk yang lain sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Adapun jika ia mengubah dirinya sendiri, maka hal itu mustahil, karena berubahnya dirinya dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya akan menguraikan struktur dan merombak bagian-bagiannya. Apabila hal itu terjadi, maka musnahlah kehidupan”.

Aku katakan : Ini adalah perkataan yang bagus, namun memerlukan landasan dalil. Dan kemungkinan yang dapat digunakan sebagai dalil adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah :

إن الغيلان ذكروا عند عمر بن الخطاب، فقال : إن أحدًا لا يستطيع أن يتحول عن صورته التي خلقه الله عليها ولكن لهم سحرة كسحرتكم، فإذا رأيتم ذلك فأذِّنوا

“Sesungguhnya hantu pernah mereka sebutkan di sisi ‘Umar bin Al-Khaththaab. Maka ia berkata : ‘Bahwasannya tidak ada yang mampu untuk merubah bentuk aslinya sebagaimana diciptakan Allah ta’ala mula-mula. Namun mereka mempunyai tukang sihir sebagaimana tukang sihir yang ada di antara kalian. Apabila kalian melihat hal itu, maka ucapkanlah adzan pada mereka”.

Al-Haafidh berkata : “Isnadnya shahih”.

Aku katakan : “Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abid-Dun-yaa dengan sanad hasan”.

Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dun-yaa dari Jaabir, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hantu, maka beliau bersabda :

هم سحرة الجن

“Mereka adalah tukang sihir dari kalangan jin”.

Sanad riwayat ini adalah sangat lemah (dla’if jiddan), di dalamnya terdapat tiga buah cacat yang di sini bukan tempat yang tepat untuk menjelaskannya.

Hal ini tidaklah menafikkan apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Jaabir : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لا عدوى ولا طيرة ولا غول

“Tidak ada wabah penyakit, kesialan, dan hantu”.

Hadits di atas tidaklah menafikkan wujud/keberadaan hantu, karena yang dinafikkan hanyalah anggapan sebagian masyarakat ‘Arab bahwa hantu mampu menyesatkan manusia.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

قال جمهور العلماء كانت العرب تزعم أن الغيلان في الفلوات، وهي جنس من الشياطين فتتراءى للناس وتتغول تغولًا أي تتلون تلونًا، فتضلهم عن الطريق فتهلكهم فأبطل النبي صلى الله عليه وسلم ذلك.

وقال آخرون : ليس المراد بالحديث نفي وجود الغيلان , وإنما معناه إبطال ما تزعمه العرب من تلون الغول بالصور المختلفة , واغتيالها . قالوا : ومعنى ( لَا غُول ) أي لا تستطيع أن تضل أحدا , ويشهد له حديث آخر ( لَا غُول وَلَكِنَّ السَّعَالِي ) , قال العلماء : السعالي بالسين المفتوحة والعين المهملتين , وهم سحرة الجن , أي ولكن في الجن سحرة لهم تلبيس وتخيل .

“Jumhur ulama berkata bahwa orang-orang ‘Arab meyakini hantu berada pada anak-anak keledai. Ia merupakan salah jenis syaithan yang menampakkan diri kepada manusia untuk menakut-nakuti dengan mewarnai diri mereka dengan aneka macam warna, sehingga mereka menyesatkan dan mencelakakan mereka (manusia) dari jalan. Oleh karena itu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membatalkan anggapan mereka tersebut.

Dan yang lain berkata : Maksud hadits tersebut bukan untuk menafikkan wujud hantu, karena makna membatalkan hanyalah pada anggapan/keyakinan orang-orang ‘Arab berubahnya rupa hantu pada bentuk yang lain. Mereka berkata : “Tidak ada hantu” (laa ghuula), yaitu tidak dapat menyesatkan seseorang. Dan hal itu dikuatkan oleh hadits yang lain : “Tidak ada hantu, namun ia adalah as-sa’aaliy (tukang-tukang sihir jin)”. Para ulama berkata : as-sa’aaliy adalah tukang sihir dari kalangan jin, yaitu kalangan jin mempunyai tukang sihir yang dapat mengelabuhi dan membuat khayalan/halusinasi”.

Peringatan : Tidak ada hujjah bagi orang yang men-dla’if-kan hadits Jaabir dengan alasan ia diriwayatkan dari jalan Abuz-Zubair, dari Jaabir; dimana Abuz-Zubair ini seorang mudallis.

Benar bahwasannya Abuz-Zubair seorang mudallis, namun ia telah menjelaskan penyimakannya pada jalan Ar-Raabi’ah dalam riwayat Muslim. Maka hal itu telah menafikkan kemungkinan tadliis-nya, sehingga hadits tersebut adalah shahih, alhamdulillah.

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya : Dari Abus-Saaib maula Hisyaam bin Zahrah :

دخلت على أبي سعيد الخدري. فوجدته يصلي. فجلست أنتظره حتى يقضي صلاته. فسمعت تحريكا في عراجين في ناحية البيت. فالتفت فإذا حية. فوثبت لأقتلها. فأشار إلى: أن اجلس. فجلست. فلما انصرف أشار إلى بيت في الدار. فقال أترى هذا البيت؟ فقلت: نعم. فقال: كان فيه فتى منا حديث عهد بعرس. قال فخرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الخندق. فكان ذلك الفتى يستأذن رسول الله صلى الله عليه وسلم بأنصاف النهار فيرجع إلى أهله. فاستأذنه يوما. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم "خذ عليك سلاحك. فإني أخشى عليك قريظة" فأخذ الرجل سلاحه. ثم رجع فإذا امرأته بين البابين قائمة. فأهوى إليها الرمح ليطعنها به. وأصابته غيرة. فقالت له: اكفف عليك رمحك، وادخل البيت حتى تنظر ما الذي أخرجني. فدخل فإذا بحية عظيمة منطوية على الفراش. فأهوى إليها بالرمح فانتظمها به. ثم خرج فركزه في الدار. فَضطربت الحية في رأس الرمح. وخر الفتى ميتًا. فما يدري أيهما كان أسرع موتا. الحية أم الفتى؟ قال فجئنا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرنا له. وقلنا: ادع الله يحييه لنا. فقال "استغفروا لصاحبكم" ثم قال "إن بالمدينة جنا قد أسلموا. فإذا رأيتم منهم شيئا فآذنوه ثلاثة أيام. فإن بدا لكم بعد ذلك فاقتلوه. فإنما هو شيطان".

“Aku pernah masuk menemui Abu Sa’id Al-Khudriy di rumahnya yang ketika itu ia sedang melaksanakan shalat. Akupun duduk menunggu hingga ia menyelesaikan shalatnya. Lalu aku mendengar bunyi gerakan di di pelepah kurma di sudut rumah, kemudian aku menoleh. Ternyata ada seekor ular, maka aku melompat untuk membunuhnya. Akan tetapi, Abu Sa’id Al-Khudriy memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Maka akupun duduk kembali. Setelah Abu Sa’id selesai shalat, ia menunjuk ke sebuah rumah di perkampungan itu, lalu ia bertanya : “Kamu lihat rumah itu ?”. Aku menjawab : “Ya”. Abu Sa’id berkata : “Di rumah itu ada seorang pemuda dari keluarga kami yang baru saja menjadi pengantin baru”. Abu Sa’id melanjutkan : “Kami berangkat bersama Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam menuju peperangan Khandaq. Ketika itu pemuda tersebut memohon ijin kepada Rasulullah di tengah hari untuk pulang menemui istrinya. Maka ia pun meminta ijin di hari itu. Beliau bersabda kepadanya : “Bawalah senjatamu, karena aku khawatir orang-orang Yahudi Quraidhah menyerangmu”. Laki-laki itu mengambil senjatanya, lalu ia pulang. Tiba-tiba didapatinya istrinya sedang berdiri di tengah pintu, lalu ia arahkan tombaknya untuk menikam istrinya (karena cemburu). Namun istrinya mengatakan kepadanya : “Tahanlah tombakmu dan masuklah ke rumah agar kau tahu mengapa aku keluar”. Laki-laki itu masuk. Ternyata ada seekor ular besar melingkar di atas tempat tidur, maka ia menikam ular tersebut dengan tombak. Kemudian ia bergembira dengannya dan menancapkannya di pekarangan. Kemudian ular itu menggeliat di ujung tombak dan mematuk si pemuda hingga ia mati. Tidak diketahui mana yang lebih dahulu mati, ular itu atau si pemuda. Maka kejadian itupun dilaporkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda :“Sesungguhnya di Madinah ini ada jin yang telahmasuk Islam. Apabila kalian melihat sebagian dari mereka, maka berilah ia ijin untuk tinggal selama tiga hari (untuk menjauh/keluar). Jika ia masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaithan”.[Diriwayatkan oleh Muslim (14/235 – dengan Syarh An-Nawawi)].

Umumnya jin ketika diminta manusia, akan mengajukan berbagai syarat. Yang lebih parah, biasanya syarat yang diajukan melanggar syariat islam. Ketika manusia memenuhi persyaratan itu, dia mencari ridha kepada jin dengan bermaksiat kepada Allah. Sehingga manusia melakukan pengabdian dan penghambaan kepada jin, kemudian jin membantunya untuk mewujudkan keinginan manusia. Jadilah jin bertambah sombong dan manusia bertambah hina dan bergelimang dosa karena melakukan berbagai kesyirikan atas permintaan si jin. Inilah yang diakui oleh jin, sebagaimana yang Allah ceritakan di surat Al-Jin:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6).

Dan ketika di hari kiamat, mereka dikumpulkan dan saling menyalahkan. Allah memasukkan mereka semua ke dalam neraka, karena melakukan kerja sama yang diawali dengan kesyirikan,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Ingatlah hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya sebahagian daripada Kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan Kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka Itulah tempat tinggal kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. (QS. A-An’am: 128).

Kegiatan semacam ini sama sekali tidak ada manfaatnya. Anda bisa renungkan, apa manfaat bisa melihat jin? Apakah semakin menambah ketaqwaan kita kepada Allah? Dari sisi mana bisa menambah ketaqwaan, sementara jin juga makhluk seperti manusia? Dan jin yang kita lihat, tidak kita ketahui kesalehannya. Bisa jadi dia jin urakan, jin nakal, kemudian berpura-pura soleh di hadapan manusia.

Untuk itulah, para ulama melarang meriwayatkan hadis dari jin. Karena kita tidak bisa menilai kejujurannya dan keabsahan beritanya. As-Suyuthi mengatakan,

وأما رواية الإنس عنهم، فالظاهر: منعها، لعدم حصول الثقة بعدالتهم

”Adapun manusia meriwayatkan berita dari jin, yang zahir: dilarang, karena tidak bisa dibuktikan kejujurannya dan tingkat keadilan mereka.” (al-Asybah wa an-Nadzair, 1/435)

Sedangkan Qorin adalah termasuk makhluk jin juga, tapi kehidupannya menempel dengan manusia yang menjadi tuannya. Seperti yang difirmankan dalam Al-Qur’an: “Min syaril was wasil khonas. aladziyu was wisufis sudurinas” (Dari kejahatan bisikan syatian yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia). Nah itu Jin Qorin.

Apakah Jin Qorin menyertai manusia setelah manusia meninggal dunia?
Lantas kemanakah perginya Jin Qorin setelah manusia meninggal dunia?

Tahukah anta tentang adanya reinkarnasi? Jika ini benar, bisa jadi Jin Qorin ini bereinkarnasi kepada jasad orang hidup. Atau bisa jadi Jin Qorin ini bergentayangan menjadi hantu, atau bisa jadi juga jin qorin ini bergabung dan menetap dengan gerombolan jin-jin di ‘alam ghoib (‘alam jin). Dan tentang hal ini Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu tentang perkara ghoib.

Jin Qarin akan berpisah dengan “Manusia” hanya apabila manusia meninggal dunia. Roh manusia akan ditempatkan di alam Barzakh, sedangkan Qarin terus hidup karena lazimnya umur jin adalah panjang. Walau bagaimana pun, apabila tiba hari akhirat nanti maka kedua-duanya akan dihadapkan kepada Allah Swt untuk di adili.

Tetapi Qarin akan lepas tangan dan tidak bertanggung-jawab atas kesesatan atau kedurhakaan manusia.

Masalah tentang fenomena gaib/ manusia bisa melihat jin, ALLAH SWT berfirman :

إِنَّهُۥ يَرَٮٰكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ

“Sesungguhnya ia (Iblis) dan pengikut-pengikutnya (para jin) melihat kamu (manusia) dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. (QS Al-’Araf: 27).

Jika ada diantara manusia bisa melihat arwah/sosok seorang ibu/bapaknya bahkan sahabat keluarga yang telah meninggal dunia, melainkan itu adalah sosok jin yang menyerupai’nya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin”. (Hadits Riwayat Muslim).

Di antara kemampuan jin atau setan yang lainnya adalah ia dapat menyusup melalui aliran darah.

Dalil yang menyatakan bahwa setan itu mengalir di saluran darah manusia adalah kisah Shofiyah berikut.

عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُعْتَكِفًا ، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِى لِيَقْلِبَنِى . وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَسْرَعَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku. Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Tapi enggak usah khawatir karena, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ, إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18).

WALLOHUL WALIYYUT TAUFIQ ILA SABILUL HUDA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar