Translate

Minggu, 30 Juli 2017

Tradisi Unggahan Masyarakat Trah Kyai Bonokeling


Mentari hangat menyelimuti tubuh, jejak hujan masih nampak di jalanan dari Purwokerto menuju Jatilawang-Margasana, beberapa jalan berlobang menyisakan genangan air yang muncrat ketika terlindas roda kendaraan, daun-daun pepohonan nampak masih berselimut embun, berpacu dengan kendaraan lain, hari itu suara hati mengantarku menuju sebuah Desa di sebelah selatan wilayah Banyumas, Pekuncen nama sebuah Desa tersebut, ia terletak di kecamatan Jatilawang dengan jarak dua kilo dari jalan raya Margasana-Jatilawang. Bonokeling, sebuah nama dengan berbagai cerita seputar adat beserta mitologi yang menyelimutinya sesungguhnya beberapa tahun sayup telah kudengar,  Seorang perempuan setengah baya yang berdiri di depan sebuah pagar rumah memberikan arah petunjuk komplek makam Eyang Bonokeling, pelan saya arahkan kendaraan menuju sebuah pertigaan dan lurus ke arah kanan, kira-kira jarak dua ratus meter saya temui sebuah komplek dengan deretan rumah adat jawa dan beberapa pohon angsana keling yang sungguh besar, tepat diseberang jalan, nampak gapura gerbang makam Eyang Bonokeling berdiri dengan penuh kharisma.

Siapa sosok yang disebut Ki Bonokeling?

Biografi tentang sosok Eyang Bonokeling, Ki Bonokeling, Mbah Bonokeling atau juga akrab disebut Kyai Bonokeling menjadi bagian dari kerahasiaaan yang turun temurun dijaga secara ketat oleh para anggota komunitas adat bonokeling.

Ada dua pendapat seputar kerahasiaan identitas Ki Bonokeling,
Pertama, bahwa kerahasiaan identitas, asal-usul, adalah bagian dari wasiat dari Ki Bonokeling sendiri kepada anak turunnya.
Kedua,kerahasiaan itu sesungguhnya bersumber dari ketidaktahuan itu sendiri, yang kemudian dilegitimasi sebagai bagian dari “uger-uger” atau peraturan adat Bonokeling, ketidaktahuan ini juga diakibatkan, atau ditopang, oleh aturan adat dalam proses transmisi ajaran-ajaran Bonokeling, yang harus disampaikan secara lisan, bukan tulisan.

Namun demikian, dalam diskusi-diskusi para sejarawan lokal muncul beberapa pendapat, antara lain Ki Bonokeling merupakan seorang tokoh penyebar Islam yang berasal dari Pasir Luhur, sebuah kerajaan semi independen yang berada dalam pengaruh imperium Hindu Padjajaran yang kemudian di zaman Islam memasuki Pulau Jawa atau di Zaman Kesultanan Demak, Pasir Luhur turun drat-nya hanya menjadi Kadipaten di bawah Demak dengan Adipatinya Raden Banyak Blanak putera Adipati Banyak Kesumba. Bonokeling bukanlah sebuah nama asli namun julukan, ia terdiri dari dua kata, Bono yang berarti “wadah” (Tempat), dan “Keling” yang berarti “Ireng’ (Hitam), konon “Wadah Ireng” atau wadah yang hitam mengacu pada sikap kehambaan , kerendah hatian seorang manusia. Ki Bonokeling kemungkinan besar masa kehidupannya sezaman dan merupakan bagian dari jaringan penyebaran Islam pada wilayah Pasir Luhur dan sekitarnya yang berpusat di Pasir Luhur dengan koordinator wilayahnya, Syeikh Makdum Wali dari Demak.

Sementara itu, ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa apa yang sekarang ada di Pekuncen yang kemudian teridentifikasi secara cultural dengan komunitas adat bonokeling tidak lain merupakan sisa-sisa pengikut Adipati Banyak Thole yang menyingkir dari Pasir Luhur karena kegagalannya membendung penyerbuan militer Demak dan kelompok internal yang tidak menghendaki Banyak Thole menduduki tahta pasir menggantikan ayahandanya Raden Banyak Blanak (Senopati Mangkubumi I), demi untuk menghindari spionase intelejen Demak, maka kelompok loyalis Adipati Banyak Thole mengembangkan sebuah strategi tutup mulut, menyembunyikan identitas aslinya, sehingga sampai sekarang perahasian identitas Bonokeling bagi komunitasnya merupakan sebuah“wewadi lan wewaler” yang sungguh-sungguh dijaga secara run temurun. Pendapat lain menyatakan bahwa Bonokeling merupakan santri atau murid daripada Sunan Kalijaga yang dikenal dengan gaya dakwah kulturalnya, seperti diketahui dalam catatan sejarah yang ada, Sunan Kalijaga merupakan seorang tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa yang berhasil mengislamkan manusia jawa tanpa kehilangan “sepenuhnya” ke-jawaannya, dalam racikan Islam Jawa gaya Sunan Kalijaga, dengan memeluk Islam, manusia jawa tetap berada dalam posisi kejawaannya, dengan tanpa banyak beranjak dari pusaran budayanya.

Sekilas tentang konsepsi tuhan Manusia Jawa

Sedikit menengok ke belakang, Jauh sebelum Hindu dan Budha hadir, manusia Jawa telah memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang disebutnya dengan “Sang Hyang Sangkan Paran”atau ‘Pangeran” atau “Gusti Alloh”, sedang wujud-Nya tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu menjangkau-Nya, dan kata-kata tak cukup untuk menerangkan-Nya, oleh karena itu manusia Jawa mengidentifikasi Tuhannya dengan sebuah konsepsi,“Tan Kena Kinaya Ngapa” (Tuhan yang tak dapat diserupakan) atau dalam bahasa Islam, “Mukholafadu Lil Hawaditsi” (Berbeda dengan mahluk). Manusia Jawa tidak melihat ajarannya sebagai agama monotheisme seperti halnya, Islam, dan Kristen, namun lebih menganggapnya sebagai pandangan hidup, seperangkat nilai-nilai yang di iringi dengan sejumlah lelaku atau ibadah versi Jawa. Prinsip mencapai keseimbangan (Equilibrium) adalah hal yang penting bagi manusia Jawa dalam menjalani kehidupan fana ini. Semua mahluk ciptaan-Nya tak terkecuali jin, setan, dedemit mrekayangan. dipahami sebagai bagian dari tata keseimbangan kosmis, masing-masing daripadanya memiliki tugas peranan yang musti dijalaninya. Manusia sebagai bagian dari kehidupan ini berkewajiban menyadari bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan manusia saja, namun juga mahluk lain termasuk yang tidak kasat mata, sesama mahluk ciptaan telah seharusnya untuk saling hormat menghormati, menghargai tugas masing-masingnya sebagai titah-Nya. Beberapa ritual dan lelaku kejawen mewujudkan kesadaran tentang kebersamaan dan sikap saling menghargai dengan alam, sedekah bumi misalnya, secara kebudayaan merupakan wujud terimakasih terhadap bumi, tanah, yang sehari-hari dipijak, demikian juga sedekah laut, dengan demikian juga wujud syukur terhadap anugerah Tuhan YME. Dalam pemahaman dan pengertian Jawa, bentuk-bentuk sesaji, tumpengan,yang disajikan dalam beberapa ritual tertentu  dipahami dalam kerangka dua hal,

Pertama, sebagai visualisasi dari permohonan do’a yang dipanjatkan kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi, Tuhan YME, masing-masing elemen dan racikannya memiliki makna simboliknya masing-masing,, yang mewakili lisan dalam memanjatkan pengharapan do’a, tentu jika terdapat kemauan untuk memahami secara lebih mendalam terhadap tradisi Jawa berupa sesaji dan slametan dengan berbagai ubo rampenya, stigmatiasai negative seperti syirik, dapat dihindarkan, bahkan sebaliknya muncul kekaguman betapa manusia Jawa memiliki kebudayaan yang tinggi.

Kedua, sebagai wujud penghormatan, penyambung silaturahim dengan sesama mahluk ciptaan-Nya yang secara kodrati tercipta tidak dilengkapi dengan jasad/wadag. Manusia memang diciptakan sebagai yang paling sempurna (Ahsanul Khuluq), dan diberi kekuasaan atas bumi seisinya, namun, bukan berarti manusia boleh berbuat sewenang-wenang, serakah, dan menafikan mahluk lainnya sesama penghuni bumi Tuhan ini.

Pemahaman dan penghayatan keislaman komunitas adat Bonokeling atau juga disebut anak putu Ki/Kyai Bonokeling diakui sebagai ajaran warisan run temurun dari Kyai Bonokeling dan terjaga dengan baik sampai sekarang, mereka menyatakan kesakisanya bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Muhammad utusan Alloh (Syahadat), fasih membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW, menjalankan puasa ramadhan dan bersedekah. Salah satu ritual yang dilaksanakan secara besar-besaran adalah ritual/upacara unggah-unggahan, yang dilaksanakan menjelang pelaksanaan puasa ramadhan, secara tekhnis, dalam unggah-unggahan ini setiap wilayah memiliki jatah kuota yang telah ditentukan untuk mengikuti jalannya upacara, kemudian dari masing-masing wilayah mereka diharuskan berjalan kaki (dihimbau untuk tidak memakai alas kaki) dengan membawa berbagai hasil bumi dan ternak menuju lokasi upacara yaitu di komplek makam Kyai Bonokeling, ternak dan hasil bumi tersebut kemudian akan dijadikan santapan bersama-sama dilokasi upacara. Dengan memakai pakaian adat kemudian mereka menuju makam pepunden mereka yaitu Kyai Bonokeling untuk melakukan ritual/do’a, setelah semuanya cukup dilanjutkan dengan makam bersama. Terkait dengan sholat lima waktu, yang konon (menurut kabar mutawatir) komunitas adat Bonokeling tidak melaksanakannya, menurut penulis hal tersebut selain jelas merupakan pemahaman dan kebiasaan turun temurun yang memang diakui, juga dilatarbelakangi pemahaman seputar sholat wajib yang berbeda dengan umat Islam pada umumnya,  dugaan penulis, pemahaman terhadap sholat mendasarkan pada makna sholat yaitu dzikir atau ingat, “eling marang sing gawe urip” (Ingat, memiliki kesadaran terhadap yang Maha mencipta yaitu Tuhan YME) yang memang menjadi tujuan (Ghoyyah) dari pelaksanaan sholat itu sendiri, dari tahapan kesadaran atau eling tersebut diharapkan manusia akan menjalani tahap selanjutnya yaitu berbuat baik, atau “lelaku sae marang sepada-pada”, (berbuat baik terhadap sesama/alam seluruhnya), dalam kaitan ini sholat dipahami sebagai cara (Wasilah), pemahaman atau tafsir atas perintah sholat wajib semacam ini merupakan hasil pemaknaan terhadap makna sholat yang secara etimologi berarti ingat, pemhaman semacam ini berarti juga sebuah pemahaman yang langsung menanjak pada inti atau hakekat sebuah titah Tuhan.

Beberapa pendapat seputar agama trah Ki Bonokeling

Komunitas anak putu/trah Ki Bonokeling menarik berbagai pihak oleh karena keyakinan serta adat istiadatnya yang masih sedemikian kuat dipegang dan dijalankan oleh penganutnya.

Terdapat beberapa pendapat terkait penilaian terhadap keberagamaan trah Ki Bonokeling ini,

1). Bahwa seperti yang diakui sendiri oleh ketua adat Ki Bonokeling, mereka menganut agama Islam, namun dengan beberapa perbedaan. Perbedaannya, sebagai contoh dalam pemahaman rukun Islam, komunitas Ki Bonokeling berbeda dalam memahami perintah mendirikan sholat lima waktu, sehingga mereka tidak melaksanakan sholat lima waktu seperti halnya muslim kebanyakan. Mereka juga melaksanakan zakat, namun dengan takaran/jumlah, serta sasaran zakat yang berbeda, zakat mereka seperti system borongan, misalnya untuk 10 orang wajib zakat hanya memberikan 20 ribu rupiah, yang diberikan kepada kayim setempat.

Dalam hal cara penguburan mayatpun terdapat perbedaan, kain kafan yang mereka pergunakan adalah kain kafan khusus berwarna kecoklatan yang dibuat sendiri, disholatkan hanya oleh kayim, dalam penyampaian do’a mereka menggunakan sesaji dan lafal-lafal jawa. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas, ada pendapat yang menyatakan bahwa corak keislaman pada komunitas adat Bonokeling jelas sebuah hasil dari proses yang belum selesai, atau sebuah proses adaptasi antara wahyu (Islam) dengan kejawen yang tidak tuntas.

2). Sesungguhnya komunitas adat Ki Bonokeling memiliki agama tersendiri, semacam agama lokal yang disebut agama Bonokeling (Mengacu sang pendirinya), pengidentifikasian sebagai Islam dengan cara mengambil beberapa elemen ajaran dari Islam merupakan bagian dari strategi untuk tetap survive dalam kepungan tekanan Islamisasi yang ditopang oleh kekuatan kekuasaan (dalam hal ini ialah kekuasaan Pasir Luhur sebagai bagian dari Imperium Islam Demak), dan atas tekanan negara (state), pada zaman ketika Nusantara ini bermetamorfosis menjadi Indonesia yang hanya mengakui agama-agama impor.

Jika pemahaman serta praktek keislaman komunitas Ki Bonokeling diperhadapkan dengan mainstream umat Islam dalam memahami prinsip-prinsip Islam (Rukun Islam), tentu dapat dikatakan bahwa komunitas Ki Bonokeling merupakan sebentuk keislaman yang berbeda. Berbeda dengan kelompok-kelompok semacam Ahmadiyah yang di cap sesat, komunitas Ki Bonokeling relatif aman dari stigmatisasi sesat, salah satu faktornya ialah peraturan adat untuk tabu mengkomunikasikan beberapa bagian dan ajarannya kepada pihak diluar komunitas mereka (Taqiyyah-Meminjam istilah Syi’ah). Dalam alam demokrasi sekarang ini, komunitas semacam Ki Bonokeling masih mengalami tekanan dan ketidakadilan dalam konteks kebebasan beragama, karena sampai saat ini agama yang diakui negara hanya 6, dan kesemuanya kebetulan ialah agama yang hadir (dihadirkan) dari luar negeri (Impor).

Tradisi Unggahan

Ritual Unggahan bagi masyarakat penganut kepercayaan Bonokeling sejatinya memiliki makna nyaris serupa dengan tradisi nyadran atau berziarah mengunjungi makam leluhur yang biasa dilakukan umat muslim menjelang bulan Ramadan tiba. Perbedaannya adalah wujud pengemasan ritus adat itu sendiri yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal sebagai sebuah upaya melestarikan tradisi turun temurun warisan leluhur mereka. Tradisi atau
perlon Unggahan tersebut digelar di Desa Cagar Budaya Pekuncen, Kabupaten Banyumas, sekitar satu jam perjalanan darat dari Kota Purwokerto, Jawa Tengah.

Sebagai warisan budaya adiluhung ratusan tahun silam dari tanah Banyumas yang agraris dan wujud kearifan lokal masyarakat Jawa kuno, ritual Unggahan selalu dilaksanakan oleh para anak putu atau sebutan bagi mereka para pengikut ajaran Kyai Bonokeling setiap tahunnya di hari Jumat terakhir sebelum bulan Ramadan tiba. Layaknya seperti sebuah momen epic dan kolosal, ritual ini melibatkan sekitar seribu lebih manusia penganut kepercayaan Bonokeling dari sejumlah desa di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas.

Ritual atau tradisi Unggahan ini dimulai dari Desa Adiraja, sebuah desa kecil di Kabupaten Cilacap tempat bermukim mayoritas wangsa penganut aliran kepercayaan Bonokeling. Saat pagi hari dimana matahari belum bersinar terlalu menyengat, mereka memulai ritual Unggahan dengan melakukan caos bekti atau semacam salam penghormatan pada para bedogol atau tokoh-tokoh pemangku yang dituakan di dalam rumah adat pasemuan. Seusai prosesi caos bekti, mereka kemudian berjalan kaki puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen yang berada di Kabupaten Banyumas. Tak pandang usia maupun kasta, semua sama rata, berjalan kaki sebagai simbol napak tilas perjalanan leluhur mereka Kyai Bonokeling dalam menyebarkan ajarannya. Beberapa diantaranya sambil memanggul ongkek berisi sesaji dan uba rampe berisi hasil ladang dan ternak mereka sebagai persembahan.

Sesampainya di Desa Pekuncen, mereka para pengikut kepercayaan Bonokeling dari Desa Adiraja, Kabupaten Cilacap langsung disambut oleh para warga Desa Pekuncen, Banyumas selaku tuan rumah selayaknya saudara sendiri. Pintu rumah warga di seantero desa tak ada yang tertutup, atau bahkan terkunci. Semua warga membuka lebar-lebar pintu rumahnya untuk dapat menjadi tempat beristirahat saudara jauh mereka sebelum melanjutkan ritual. Tak terkecuali dengan saya, Sumitro sang Ketua Kelompok Pelestari Adat Bonokeling Desa Pekuncen, Banyumas, pun dengan hangat dan penuh keramahan mempersilahkan saya tinggal dirumahnya untuk bermalam, lengkap dengan jamuan makan malam yang teramat nikmat dan bergelas-gelas kopi sebagai teman ngobrol malam hari.

Dalam beberapa hari, Desa Pekuncen tempat pusara makam keramat Kyai Bonokeling berada mendadak sibuk oleh hiruk pikuk ribuan manusia. Seluruh sudut desa riuh ramai selayaknya menggelar sebuah hajatan agung nan sakral. Di pertengahan hingga sepertiga malam sebelum fajar tiba di ufuk timur, para warga penganut kepercayaan Bonokeling berkumpul menyuarakan semacam tembang-tembang dalam bahasa Jawa setempat. Alunan tembang tersebut berisi puji-puji bagi sang Kyai Keramat, yakni Kyai Bonokeling.

Keesokan harinya, kaum pria bergotong royong menyembelih hewan ternak hasil persembahan dari para anak pututrah Bonokeling yang dibawa dari Desa Adiraja, Kabupaten Cilacap. Daging hewan ternak dan hasil bumi persembahan para warga penganut Bonokeling itu kemudian dimasak dalam tungku dan wajan besar untuk dimakan bersama-sama secara massal di seputaran area pusara makam keramat sang Kyai Bonokeling.

Menginjak siang hari, ratusan perempuan berbalut kemban dengan selendang putih berbahan kain lawon melingkari pundak berbaris mengular panjang. Satu per satu dari mereka kemudian masuk secara perlahan menuju pintu gerbang pusara makam keramat sang Kyai Bonokeling. Dalam keheningan, mereka membasuh tangan, kaki, dan wajah sambil komat kamit mengucap mantra dan doa. Kemudian mereka duduk bersimpuh sambil mengatupkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya setinggi kening di kepala untuk menhaturkan hormat di depan makam keramat.

Kaum wanita sengaja didahulukan memasuki kompleks makam karena dalam kepercayaan Bonokeling. Bagi para penganut kepercayaan Bonokeling, wanita merupakan perwujudan ibu bumi yang menghasilkan keturunan anak cucu pengikut Bonokeling hingga saat ini. Oleh sebab itu, kedudukan wanita dalam kepercayaan  kejawen kuno ini sangat lah dihormati. Sedangkan kaum pria baru menyusul saat sore hari sambil membawa makanan yang telah dimasak pagi harinya menuju kedalam pusara makam.

Semoga Ada Manfaatnya
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar