Translate

Minggu, 14 November 2021

Makam Purwo Suci Kedinding

 Kabupaten Blora pada masa lampau merupakan salah satu daerah kekusasaan Kesultanan Pajang yang terletak di bagian timur dari monarki tersebut. Di sudut paling timur dari Kabupaten Blora terdapat salah satu kadipaten paling dinamis di Kaesultanan Pajang kala itu, Kadipaten Jipang Panolan.

Kadipaten Jipang Panolan dikatakan dinamis karena situasi perdagangan dan pemerintahan di Kadipaten Jipang Panolan sendiri dipengaruhi oleh mengalirnya Sungai Bengawan Solo di sebelah timur kadipaten tersebut.

Selain itu, aroma perlawanan juga kuat mengingat karena Adipati Jipang Panolan adalah Arya Penangsang, Putra Pangeran Sekar. Pangeran Sekar sendiri adalah Putra Kesultanan Demak yang dibunuh oleh penerus Sultan Trenggana (Sultan Demak) yang bernama Sunan Prawoto. Peristiwa pembunuhan Pangeran Sekar inilah yang membuat hubungan Pajang sebagai penerus Kesultanan Demak dengan Jipang Panolan penuh dengan ketegangan. Mengahadapi potensi pemberontakan Kadipaten Jipang Panolan yang dapat meletus sewaktu – waktu,

Kesultanan Pajang melakukan kunjungan langsung ke wilayah Kadipaten Jipang Panolan untuk meredam situasi tersebut. Dalam kunjungan “ tidak resmi “ tersebut delegasi Pajang yang dipimpin oleh Sultan Pajang sendiri memilih daerah Kedinding – Kedungtuban sebagai tempat singgah.

Makam Pirwo Suci

Makam Purwo Suci Kedungtuban terletak di dukuh Kedinding Desa Ngarho kecamatan Kedungtuban + 43 Km kearah tenggara dari kota Blora, mudah dijangkau kendaraan roda dua ataupun roda empat sampai kejalan desa, serta jalan kaki sambil menikmati pemandangan alam untuk mencapai ke makam + 500 m karena letaknya berada di puncak perbukitan dengan luas areal + 49 m2.

Menurut informasi atau cerita dari masyarakat setempat, makam Purwo Suci adalah makam seorang Adipati Panolan sesudah Ario Penangsang bernama Pangeran Adipati Noto Wijoyo. Didalam halaman tersebut juga terdapat makam Nyai Tumenggung Noto Wijoyo.

Karena jasa-jasanya yang sampai saat ini masih dikunjungi masyarakat untuk tujuan tertentu bahkan pernah dipugar oleh Bupati Blora RT Tjakranegara II yang berkuasa pada 1857-1886, pada tahun 1864 dengan memakai sandi sengkolo, Karenya Guna Saliro Aji (1864) menurut cerita yang panjang makam ini cocok dikunjungi wisatawan yang senang olah roso dan olah kebatinan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Rabu, 10 November 2021

Kisah Karomah Wali Musyafa' Kaliwungu

 Kyai Musyafa' bin H. Bahram dimakamkan di bukit Protomulyo, tepatnya dekat makam KH Mustofa, sebelah timur Kampung Gadukan Kutoharjo Kaliwungu. Kyai Musyafa' (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama Kaliwungu yang memiliki karomah dan kesaktian tertentu. Karena beliau dikenal sebagai waliyullah (red. kekasih Allah), maka tidak heran jika beliau memiliki banyak kelebihan berupa karomah. Kyai Musyafa' hidup antara tahun 1920 s.d. 1969.

Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, ini pun  kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riyadhah.

Selama hidup, Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Bahkan ada orang yang menganggap Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan manusia pada umumnya. Persangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya.

Rahasia Mbah Syafa’ sebagai wali akhirnya terbongkar. Ceritanya pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ dibuat gempar. Saat itu setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke desa Mbah Syafa. Dia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ mengetahui sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.

Tetangga –tetangga menganggap tak mungkin Mbah Syafa’ akan menunaikan ibadah haji. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih kekurangan,

Sejak peristiwa menakjubkan itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya.

1.) Kewalian Kyai Musyaffa’ diketahui Waliyullah Hadi Kendal

Banyak cerita menarik seputar kewalian Kyai Musyafa'. Konon di Kendal dahulu pernah ada seorang waliyullah Abdul Hadi namanya. Ketika beliau akan wafat, beliau menyampaikan pesan kepada Habib Umar, penjaga beliau dikala sakit, yang tak jelas maknanya. Beliau mengatakan, "Nyonya dengklek kidul mesjid Kaliwungu nyambut gawe kulak jaritan" (Artinya :Nyonya Dengklek sebelah selatan masjid Kaliwungu bekerja sebagai tengkulak kain). Pada saat waliyullah Abdul Hadi itu meninggal dunia, maka terlihat cahaya (nur) yang bersinar ke arah Kiai Musyafa'. itulah barangkali tanda awal kewalian Kyai Musyafa'.

2.) Air Satu Ceret Berbeda-beda Rasanya

Selain itu, ada beberapa cerita orang tua yang merupakan saksi ahli tentang keanehan-keanehan yang dianggap merupakan ciri karomah atau kewalian Mbah Kyai Musyafa'. Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.

3.) Memotong Pohon Kelapa

Kisah unik lain ketika Mbah Wali Syafa' memotong pohon kelapa. Ceritanya berawal dari seorang tetangga yang resah dan khawatir karena pohon kelapanya condong di atas rumahnya. Mendengar keresahan itu, maka Mbah Syafa' bertandang. Beliau langsung yang naik pohon kelapa untuk memotong pohon yang condong di atas atap rumah tetangganya itu. Setelah selesai di potong, ternyata pohon kelapa itu jatuhnya justru berlawanan dengan rumah warga itu. Logikanya pohon itu seharusnya jatuh persis di atas rumah tetangganya itu. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Di sinilah orang makin yakin akan kelebihan karomah Mbah Syafa’.

4.) Isyarat Untuk Tentara

Sekitar tahun 1960-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’ dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara. Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu. “Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’. Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat.

Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur. Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.

6.) Terhindar Dari Serangan Mortir

Ketika terjadi serangan tentara Jepang, masyarakat sudah panik dan lari kesana kemari mencari perlindungan. Namun Mbah Wali Syafa' justru tenang-tenang aja di teras rumahnya membaca surat Yasin. Beberapa kali Mbah Wali membacanya, akhirnya tiba-tiba berhentilah serangan mortir tentara Jepang tadi. “Inilah Barokahnya bacaan surat Yasin yang dibaca Kyai Musyafa',” Allahu A’lam

7.) Uang Seribu Tak Pernah Habis

Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika Rasyid saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Kaliwungu. Rasyid, tukang sapu kantor tersebut ditemui  Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah. Dia tidak mengetahui pada saat itu Mbah Syafa’ ia telah meninggal dunia. Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke makam Kyai Syafa’.

8.) Mengetahui Isi Hati Orang

Meski telah terbukti karomahnya, masih terdapat pula orang yang tidak mempercayai bahwa Mbah Syafa’ adalah wali. Maka suatu saat Kyai Muchid dari Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu, bergumam serasa meragukan berita kewalian Mbah Wali Syafa'. Akhirnya dia mempunyai rencana untuk menguji kewalian Mbah Syafa’. "Apa benar Mbah Kyai Musyafa'itu seorang waliyullah? Coba aku mencoba karomahnya akan pura-pura meminjam uangnya Kyai Syafa’ ", niat Kyai Muchid pada dirinya sendiri. Kyai Muchid kemudian sampai di halaman rumah Kyai Musyafa', tiba-tiba Kyai Musyafa' berkata dengan nada perintah, "Muchid, ke pasar saja memakai bathok kelapa kalau akan mengemis". Padahal saat itu Kyai Muchid belum mengatakakan apapun. Begitu mendengar ucapan Kyai Musyafa, maka Kyai Muchid terdiam, tak berani berkata sepatah kata pun. Dia tidak jadi mengutarakan niatnya akan meminjam uang.

9.) Mengetahui Masa Depan Seseorang

Dikisahkan, semasa menjadi santri di Kaliwungu, KH. Mahrus Lathif (Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, Tawangrejosari, Semarang) datang bersama dengan rekan santri lainnya dengan maksud bertanya, siapa calon istri dan jodohnya. Mereka datang silaturahmi di kediaman Kyai Musyafa’ dan diterima dengan baik oleh sang Kyai. Oleh Kyai Musyafa’,santri-santri lain diberi minuman air teh, setiap santri mendapatkan satu gelas. Akan tetapi, KH. Mahrus diberi tiga gelas teh. Ini teh untukmu, ayo diminum, kata Kyai Musyafa’ menyodorkan tiga gelas teh kepada KH. Mahrus. Para santri yang datang saling berpandangan, namun mereka terdiam tidak berani menanyakan. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1966, dan peristiwa itu pun terlupakan sudah. Belakangan, isyarat yang diberikan Kyai Musyafa’ kepada KH. Mahrus baru diketahuinya. Yakni, ternyata KH. Mahrus kini telah beristri tiga kali. Persis sebagaimana isyarat yang dikemukakan oleh Kyai Musyafa’ dengan tiga buah gelas teh yang dihidangkannya ketika dia datang bersama rekan-rekan santri untuk bertanya tentang jodohnya.

Senin, 11 Oktober 2021

Sejarah Imam Kholid Al-Baghdadi Al-Nasabandi

صلاة الشيخ مجدد خالد البغدادي قدس الله سره

Shalawat Syaikh Khalid al-Baghdadi Qodasallohu sirroh

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ دَاءٍ وَدَوَاءٍ . وَبَارِكْ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ كَثِيْرًا .

 Ya Allah, berikan rahmat yang disertai Ta’zhim kepada Junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebanyak segala macam penyakit dan seluruh obat. Dan limpahkanlah keberkahan dan kesejahteraan kepada Beliau dan kepada mereka (keluarga Nabi). Sebanyak banyaknya”

Penjelasan:

Shalawat ini bersumber dari Maulana Syaikh Khalid al-Naqsyabandiy, pembaharu Thariqah Naqsyabandiyah. Para ulama menyebutkan bahwa shalawat ini merupakan perisai yang sangat ampuh untuk mencegah datangnya Tha’un (wabah). Syaikh Khalid al-Naqsyabandiy memerintahkan, apabila tha’un mewabah, maka bacalah shalawat ini setiap selesai mengerjakan shalat fardhu sebanyak 3 kali. Dan pada bacaan yang ke-3 ulangi lafaz (كثيرا) sebanyak 2 kali dan ditutup dengan tambahan shalawat:

وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى جَمِيْعِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَ آلِ كُلٍّ وَصَحْبِ كُلٍّ أَجْمَعِيْنَ . وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

Biografi Imam Khalid al-Naqsyabandiy

Syaikh Khalid al-Baghdadi adalah Mursyid tariqat Naqsyabandi ke-31, penerus rahasia tariqat Naqsyabandi dari Syaikh Abdullah ad-Dahlawi. Beliau menyebarkan ilmu-ilmu Syariat dan Tashawuf. Beliau adalah seorang mujtahid (penguasa) dalam Hukum Ilahi (syari`at) dan Realitas Ilahi (Haqiqat). Beliau merupakan cendikiawan dari para cendikiawan dan Wali dari para Wali dan yang orang paling banyak pengetahuannya, pada masanya beliau adalah cahaya bulan purnama dalam aliran thariqat Naqsyabandi. Beliau adalah pusat dari lingkaran Quthub di masanya.

Beliau lahir pada tahun 1193 H/1779 M di desa Karada, kota Sulaymaniyyah, Iraq. Beliau mempunyai gelar Utsmaniy karena beliau adalah keturunan Sayyidina Utsman bin Affan, khalifah ketiga dari Rasulullah. Beliau tumbuh dan belajar di sekolah dan masjid yang tersebar di kota itu. Pada saat itu kota Sulaymaniyyah dianggap sebagai kota pendidikan utama. Beliau juga terkenal di bidang puisi. Ketika berumur 15 tahun beliau menetapkan asceticism (doktrin keagamaan yang menyatakan bahwa seseorang bisa mencapai posisi spiritual yang tinggi melalui disiplin diri dan penyangkalan diri yang ketat) sebagai falsafah hidupnya, kelaparan sebagai kudanya, tetap terjaga (tidak tidur) sebagai jalannya, khalwat sebagai sahabatnya, dan energi sebagai cahayanya.

Beliau berkelana di dunia Allah dan menguasai segala macam pengetahuan yang tersedia di jamannya. Belajar berguru pada dua cendikiawan besar di masanya, yaitu Syaikh `Abdul Karam al-Barzinjiy dan Syaikh Abdur Rahim al-Barzinjiy, beliau juga membaca bersama Mullah Muhammad `Ali. Kemudian beliau kembali ke Sulaymaniyyah dan di sana mempelajari ilmu matematika, filsafat, dan logika. Lalu beliau kembali ke Baghdad dan mempelajari Mukhtasar al-Muntaha fil-Usul, sebuah ensiklopedia tentang jurisprudensi. Selanjutnya beliau mempelajari karya-karya Imam Ibnu Hajar, Imam Suyuthiy, dan Imam Haytamiy. Beliau dapat menghafal tafsir Al-Qur'an dari tafsir al-Baydawi. Beliau juga mampu menemukan pemecahan atas segala pertanyaan pelik mengenai jurisprudensi. Beliau juga hafal Al-Qur'an dengan 14 cara membaca yang berbeda, dan menjadi sangat terkenal karena hal ini. Pangeran Ihsan Ibrahim Pasya, gubernur daerah Baban, berusaha membujuknya untuk mengasuh sekolah di kerajaannya. Namun beliau menolak dan malah pergi ke kota Sanandaj, untuk mempelajari ilmu matematika, teknik, astronomi dan kimia. Guru beliau di bidang ini adalah Muhammad al-Qasim as-Sanandajiy. Setelah menyelesaikan pelajaran ilmu-ilmu sekuler, beliau kembali ke kota Sulaymaniyyah. Menyusul wabah penyakit di kota itu pada tahun 1213 H/1798 M, beliau mengambil alih sekolah Syaikh-nya `Abdul Karam Barzinjiy. Beliau mengajar ilmu-ilmu modern, meneliti dan menelaah persamaan-persamaan yang sulit di bidang astronomi dan kimia.

Kemudian beliau berkhalwat, meninggalkan segala yang telah dipelajarinya, dan datang ke pintu Allah dengan segala perbuatan yang soleh dan memperbanyak dzikir baik keras maupun dalam hati. Beliau tidak lagi mengunjungi Sultan, tetapi tetap menjalin hubungan dengan murid-muridnya hingga tahun 1220 H/1806 M, ketika beliau memutuskan untuk naik haji dan berziarah kepada Rasulullah. Beliau meninggalkan segalanya dan pergi ke Hijaz melewati kota-kota Mosul, Yarbikir, ar-Raha, Aleppo dan Damaskus, di sana beliau menemui para cendikiawan dan mengikuti Syaikhnya, yang merupakan ahli ilmu-ilmu kuno dan modern dan juga pengajar hadits, Syaikh Muhammad al-Kuzbary. Beliau menerima otorisasi terhadap Tariqat Qadiriah dari Syaikh al-Kuzbariy dan deputinya, Syaikh Mustafa al-Kurdiy, yang kemudian melanjutkan perjalanan bersamanya sampai tiba di kota Rasulullah.

Beliau memberi penghormatan kepada Rasulullah dengan puisi Persia yang dibaca dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang menjadi terpesona akan keelokannya. Beliau menghabiskan cukup banyak waktu di sana. Beliau menceritakan pengalamannya, "Aku sedang mencari orang shaleh yang sangat langka untuk dimintai nasihat ketika Aku melihat seorang Syaikh di sebelah kanan Makam yang Diberkati (Rawdah al-Syarifah). Aku lalu meminta nasihat kepadanya, dan berkonsultasi dengannya. Beliau menasihatiku agar tidak berkeluh-kesah terhadap segala masalah yang mungkin bertentangan dengan Syari’at ketika memasuki kota Makkah, Aku dianjurkan agar tetap tenang dan diam. Akhirnya Aku pun tiba di Makkah, dan nasihat tadi benar-benar kupegang dalam hati. Aku pergi ke Masjid Suci pada pagi hari di hari Jumat. Aku duduk dekat Ka’bah dan membaca Dala'il al-Khairat, ketika Aku melihat seseorang dengan janggut hitam bersandar pada sebuah pilar dan matanya menatapku. Terlintas dalam hatiku bahwa orang ini tidak memberikan penghormatan yang layak kepada Ka’bah, tetapi aku tidak berbicara apa pun mengenai hal itu.”

"Dia melihatku dan menegurku dengan berkata, 'Hai orang bodoh, apakah kamu tidak tahu bahwa kemuliaan hati seorang mukmin jauh lebih berarti dari pada keistimewaan Ka`bah? Mengapa kamu mengkritik Aku dalam hatimu mengenai cara berbaringku ini, dengan membelakangi Ka’bah dan mengarahkan wajahku padamu. Apakah kamu tidak mendengar nasihat Syaikhku di Madinah yang berkata kepadamu agar tidak mengkritik sesuatu?' Aku berlari kepadanya dan memohon maaf, mencium tangan dan kakinya dan meminta bimbingannya kepada Allah. Dia lalu berkata, ‘Wahai anakku, harta kekayaanmu dan kunci hatimu tidak berada di sini, melainkan di India. Syaikhmu berada di sana. Pergilah ke sana dan beliau akan menunjukkan apa yang harus kamu lakukan.’ Aku tidak menemukan orang lain yang lebih baik darinya di semua sudut Masjidil Haram. Namun, dia juga tidak mengatakan kepadaku ke mana aku harus pergi di India, jadi aku pulang kembali ke Syam dan berasosiasi dengan cendikiawan di sana.”

Beliau lalu kembali ke Sulaymaniyyah dan kembali mengajar tentang penyangkalan terhadap diri. Beliau selalu mencari orang yang dapat menunjukkan jalan baginya. Akhirnya, seseorang datang ke Sulaymaniyyah, dia adalah Syaikh Maulana Mirza Rahimullah Bik al-M`aruf yang dikenal juga dengan nama Muhammad al-Darwish `Abdul `Azim al-Abadiy, salah seorang khalifah dari kutub spiritual, Quthb al-A`zam, `Abdullah al-Dahlawi. beliau bertemu dengannya, memberinya hormat dan meminta petunjuk yang benar yang dapat menerangi jalannya. Dia berkata kepadanya, “Ada seorang Syaikh yang sempurna, seorang cendikiawan dan orang yang mengetahui banyak hal, yang menunjukkan para pencari jalan kepada Raja dari Raja, ahli dalam segala hal, menganut tariqat Naqsyabandi, dan mempunyai karakter Rasulullah, seorang pembimbing dalam ilmu tentang spiritualitas. Ikutlah bersamaku ke Jehanabad. Beliau telah berpesan kepadaku sebelum aku pergi, ‘kamu akan bertemu seseorang, bawa dia bersamamu.’”

Syaikh Khalid pindah ke India pada tahun 1224 H/1809 M melalui kota Ray, lalu Teheran, dan beberapa propinsi di Iran di mana beliau bertemu dengan cendikiawan besar Isma`il al-Kashi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Kharqan, Samnan, dan Nisapar. Beliau juga mengunjungi Guru dari induk segala tariqat di Bistham, Syaikh Abu Yazid al-Busthamiy, dan beliau memberikan penghormatan di makamnya dengan puisi Persia yang sangat elok. Kemudian beliau bergerak ke Tus, mengunjungi Sayyid al-Jalal al-Ma'nas al-Imam `Ali Rida, dan beliau memujinya dengan puisi Persia yang lain yang membuat semua penyair di Tus menerimanya. Kemudian beliau memasuki kota Jam dan mengunjungi Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami dan memberikan penghormatan dengan puisi Persia yang lain lagi. Beliau lalu memasuki kota Herat di Afghanistan, lalu Kandahar, Kabul, dan Peshawar. Di semua kota ini cendikiawan besar yang ditemuinya selalu menguji pengetahuannya tentang hukum syariat dan kesadaran Ilahi (ma`rifat), ilmu-ilmu logika, matematika, dan astronomi. Mereka menyebutnya seperti sungai yang luas, mengalir dengan ilmu, atau seperti samudra tanpa pantai.

Kemudian beliau pindah lagi ke Lahore, di mana beliau bertemu dengan Syaikh Thana'ullah al-Naqsyabandiy dan meminta do’a darinya. Beliau mengatakan, “Malam itu Aku bermalam di Lahore dan Aku bermimpi bahwa Syaikh Thana'ullah al-Naqshbandi menarikku dengan giginya. Ketika Aku terbangun Aku ingin mengatakan mimpiku itu kepadanya, tetapi dia mengatakan, ‘Jangan ceritakan mimpi itu kepadaku, Kami telah mengetahuinya. Itu adalah tanda untuk bergerak dan segera menemui saudara dan Syaikhku, Sayyidina `Abdullah al-Dahlawi. Hatimu akan dibuka olehnya. Kamu akan melakukan bai’at dalam thariqat Naqsyabandi. Lalu Aku mulai merasakan daya tarik spiritual dari Syaikh. Aku meninggalkan Lahore, menyebrangi pegunungan dan lembah, hutan dan padang pasir sampai tiba di Kesultanan Delhi yang dikenal dengan Jehanabad. Perjalanan itu memakan waktu 1 tahun. 40 hari sebelum Aku tiba, dia berkata kepada para pengikutnya, ‘Penerusku akan datang”

Malam saat beliau memasuki kota Jehanabad beliau menuliskan puisi dalam bahasa Arab, merenungkan kembali perjalanannya dan memuji Syaikhnya. Lalu beliau memberi penghormatan kepadanya dengan puisi Persia yang mengejutkan semua orang karena keelokannya. Beliau menyerahkan semua barang yang dibawanya dan segala yang ada di kantongnya kepada fakir miskin. Kemudian beliau melakukan bay’at dengan Syaikhnya, `Abdullah al-Dahlawi. Beliau menjadi pelayan di zawiyah (korner) Syaikhnya dan mencapai perkembangan yang pesat dalam berperang melawan egonya. 5 bulan belum lewat ketika beliau menjadi salah seorang dalam Kehadirat Ilahi dan mempunyai Visi Ilahi.

Beliau diizinkan oleh Syaikh `Abdullah untuk kembali ke Iraq. Syaikh memberinya otoritas tertulis dalam lima tariqat: Yang pertama adalah Thariqat Naqsyabandi, atau Rantai Emas. Yang kedua adalah thariqat Qadiri melalui Sayyidina Ahmad al-Faruqi' Syaikh Syah al-Sakandariy, dari sana kepada Sayyidina `Abdul Qadir Jilani, al-Junaid, Sirri al-Saqatiy, Musa al-Kazim, Ja`far al-Sadiq, Imam al-Baqir, Zain al-`Abidin, al-Husayn, al-Hasan, `Ali ibn Abi Talib, dan Sayyidina Muhammad. Tariqat ketiga adalah al-Suhrawardiyyah, yang mempunyai silsilah (rantai) serupa dengan tariqat Qadiriyyah sampai al-Junaid, yang mengembalikan kembali ke Imam Hasan al-Basriy dari sana ke Sayyidina Ali dan Rasulullah.

Syaikh ‘Abdullah juga memberinya otoritas untuk thariqat Kubrawiyyah, yang mempunyai jalur sama dengan thariqat Qadiriyyah tetapi melalui Syaikh Najmuddin al-Kubra. Akhirnya, beliau diberi otoritas untuk thariqat Chishti melalui garis yang dapat ditelusuri kembali dari `Abdullah al-Dahlawi dan Jan Janan kepada Sayyidina Ahmad al-Faruqi lalu melalui banyak Syaikh kepada Syaikh Mawrad Chishti, Nasir Chishti, Muhammad Chishti, dan Ahmad Chishti kepada Ibrahim ibn Adham, Fudayl ibn al-`Iyad, Hasan al-Basri, Sayyidina `Ali, dan Rasulullah.

Syaikh juga memberi otoritas untuk mengajarkan semua ilmu-ilmu Hadis, Tafsir, Sufisme, dan Amalan Harian (awrad). Beliau hafal isi buku Itsna `Asyar (Dua Belas Imam), buku pegangan tentang ilmu pengetahuan dari para penerus Sayyidina `Ali.

Beliau pindah ke Baghdad pada tahun 1228 H/1813 M untuk kedua kalinya dan tinggal di sana di sekolah Ahsa'iyyah Isfahaniyyah. Beliau mengisinya dengan pengetahuan tentang Allah dan Jalan untuk Mengingat-Nya. Tetapi sekelompok orang yang iri menulis sebuah surat tentang hal yang bertentangan mengenai beliau dan dikirimkan kepada Sultan Sa`ad Pasya, gubernur Baghdad. Mereka mengkritiknya, mengecapnya sebagai orang yang sesat dan banyak lagi hal lain yang tidak bisa diulangi. Ketika gubernur membaca surat itu, dia berkata, “Jika Syaikh Khalid al-Baghdadi bukan seorang mukmin, lalu siapa yang mukmin?” Gubernur lalu mengusir mereka dan memenjarakannya.

Syaikh meninggalkan Baghdad selama beberapa waktu lalu kembali lagi untuk ketiga kalinya. Beliau kembali ke sekolah yang sama yang telah dipugar untuk menyambut kedatangannya. Beliau mulai menyebarkan segala macam ilmu spiritual dan ilmu surgawi. Beliau membuka rahasia kehadirat Ilahi, menerangi hati orang-orang dengan cahaya Allah yang diberikan ke dalam hatinya, hingga gubernur, para cendikiawan, guru-guru, pekerja, dan orang-orang dari segala bidang pekerjaan menjadi pengikutnya. Pada masanya Bagdad sangat terkenal dengan pengetahuannya, sehingga kota itu dinamakan, “Tempat dari Dua Ilmu Pengetahuan” dan “Tempat dari Dua Matahari.” Serupa dengan itu, beliau juga dikenal dengan sebutan, “Orang dengan Dua Sayap” (dzu al-janahain), sebuah perumpamaan karena penguasaannya di bidang ilmu eksternal dan internal. Beliau mengirimkan khalifahnya ke mana saja, mulai dari Hijaz ke Iraq, dari Syam (Syria) ke Turki, dari Iran ke India dan Transoxania, untuk menyebarkan jalan leluhurnya dalam tariqat Naqsyabandiy.

Kemana pun beliau pergi, orang akan mengundang ke rumahnya, dan rumah seperti apa pun yang dia kunjungi, akan mendapat berkah dan menjadi makmur. Suatu hari beliau mengunjungi Kubah Batu di Jerusalem dengan para pengikutnya. Beliau sampai di tempat itu dan khalifahnya, `Abdullah al-Fardi, datang menemuinya dengan kerumunan orang. Beberapa orang Kristen memintanya untuk masuk ke Gereja Kumama agar mendapat berkah dengan kehadirannya. Lalu beliau melanjutkan perjalanannya ke al-Khalil (Hebron), kota Nabi Ibrahim, Ayah dari semua Nabi dan Rasul, di sana disambut oleh semua orang. Beliau memasuki Masjid Ibrahim al-Khalil dan mengambil berkah dari temboknya.

Beliau pergi lagi ke Hijaz untuk mengunjungi Baitullah (Ka`bah yang Suci) pada tahun 1241 H/1826 M. Banyak sekali murid dan khalifahnya yang menemani. Warga kota dengan para cendikiawan dan wali juga mendatangi beliau dan semuanya melakukan bai’at dengannya. Mereka memberinya kunci untuk memasuki dua Kota Suci dan mereka mengangkatnya sebagai syaikh spiritual untuk kedua kota tersebut. Beliau lalu mengitari Ka’bah, tetapi yang sesungguhnya Ka’bah yang mengitari beliau.  

Setelah haji dan kunjungannya kepada Rasulullah, beliau kembali ke Syam al-Syarif (Syria yang diberkati). Beliau sangat dihormati oleh Sultan Ottoman, Mahmud Khan, ketika beliau memasuki Syam, penyambutan yang meriah diadakan dan sebanyak 250.000 orang menyambutnya di pintu masuk kota. Semua cendikiawan, Menteri, Syaikh, fakir miskin dan orang-orang kaya datang untuk mendapatkan berkah dan meminta do’a darinya. Benar-benar merupakan suatu perayaan. Para penyair melantunkan syair mereka, sementara itu orang kaya memberi makan yang miskin. Semua orang adalah sama di hadapan beliau. Beliau membangkitkan pengetahuan spiritual dan pengetahuan eksternal dan menyebarkan cahaya kepada semua orang, baik Arab maupun non-Arab yang datang dan menerima thariqat Naqsyabandiy dari tangannya.

Dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan 1242 H/1827 M beliau memutuskan untuk mengunjungi Quds (Yerusalem) dari Damaskus. Para pengikutnya sangat bergembira dan berkata, “Alhamdulillah, kami akan melakukannya bila Allah memanjangkan umur kami, setelah Ramadhan, awal bulan Syawwal.” Mungkin itu adalah suatu tanda bahwa beliau akan meninggalkan dunia ini. Pada hari pertama di bulan Syawwal, wabah penyakit mulai menyebar dengan cepat di kota Syam (Damaskus). Salah satu pengikutnya meminta beliau untuk mendo’akan dia agar diselamatkan dari wabah tersebut, dan menambahkan, “dan untukmu juga, Syaikh.” Beliau berkata, “Aku merasa malu kepada Allah, karena niatku memasuki Syam adalah untuk meninggal di Tanah Suci ini.”

Orang pertama yang meninggal karena wabah ini adalah putra beliau, Bahauddin, pada Jumat malam dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ini adalah jalan kita,” lalu beliau menguburkannya di Gunung Qasiyun. Dia baru berusia lima tahun lewat beberapa hari. Anak itu sangat fasih dalam 3 bahasa, Persia, Arab, dan Kurdi, dan dia juga pandai membaca Al-Qur’an.

Lalu pada tanggal 9 Dzul-Qa`dah, anak lainnya, Abdur Rahman, meninggal dunia. Dia lebih tua dari saudaranya satu tahun. Maulana Khalid memerintahkan murid-muridnya untuk menggali makam kembali untuk menguburkan anak keduanya. Beliau berkata, Dari pengikutku akan banyak yang meninggal dunia.”

Beliau memerintahkan untuk menggali banyak lubang untuk para pengikutnya yang jumlahnya banyak, termasuk istri dan anak perempuannya, dan beliau memerintahkan untuk menyirami daerah itu dengan air. Lalu beliau berkata, “Aku memberi otoritas kepada Syaikh Isma`il al-Syirwaniy untuk menggantikan Aku di Thariqat Naqsyabandi.

”Beliau mengucapkan hal ini pada tahun terakhirnya, 1242 H/1827 M. Suatu hari beliau berkata, “Aku mendapat sebuah visi yang luar biasa kemarin, Aku melihat Sayyidina `Utsman Zhun-Nurain seolah-olah dia telah meninggal dan aku melakukan shalat untuknya. Dia lalu membuka matanya dan berkata, Ini dari anak-anakku.‘ Dia menarikku dengan tangannya, membawaku kepada Rasulullah, dan mengatakan kepadaku untuk membawa seluruh pengikut Naqsyabandiy di masa sekarang dan yang akan datang sampai masa Imam Mahdi, lalu dia memberi berkah untuk mereka semua. Setelah keluar dari visi itu, aku melakukan shalat Maghrib dengan para pengikut dan anak-anakku.

“Apa pun rahasia yang kumiliki, telah kuberikan kepada deputiku Isma`il al-Syirwaniy. Siapa saja yang tidak menerimanya berarti bukan golonganku. Jangan berargumen tetapi satukanlah pikiranmu dan ikuti pendapat Syaikh Isma`il al-Syirwaniy. Aku menjamin siapa pun yang mengikutinya akan bersamaku dan bersama Rasulullah.

Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menangisinya, dan meminta mereka untuk mengorbankan hewan dan memberi makan orang miskin demi kecintaan Allah dan kemuliaan Syaikh. Beliau juga meminta mereka untuk mengirimkan hadiah berupa pembacaan al-Qur’an dan bacaan dalam shalat. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak menuliskan apapun di makamnya kecuali, Ini adalah makam orang asing, Khalid.” Setelah shalat ‘Isya Syaikh Khalid memasuki rumahnya, memanggil seluruh anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “Aku akan meninggal dunia pada hari Jumat.” Mereka tinggal bersamanya sepanjang malam. Sebelum Subuh beliau bangun, berwudhu dan melakukan shalat. Lalu beliau memasuki kamarnya dan berkata, Tidak ada yang boleh memasuki kamarku kecuali orang yang telah kuperintahkan.” Beliau berbaring di sisi kanannya, menghadap kiblat dan berkata, “Aku telah terkena wabah penyakit. Aku membawa semua wabah yang menyerang Damaskus.” Beliau mengangkat tangannya dan berdo’a, “Siapa pun yang terkena wabah itu, biarkan wabah itu mengenaiku dan bebaskan orang-orang di Syam.”

Kamis tiba dan seluruh khalifahnya memasuki kamarnya. Sayyidina Isma`il al-Syirwani bertanya kepadanya, Bagaimana keadaanmu?" Beliau berkata, "Allah telah menjawab doaku. Aku akan membawa semua wabah yang melanda orang-orang di Syam dan Aku sendiri akan meninggal dunia pada hari Jumat.” Mereka menawarkan air, namun beliau menolak dan berkata, Aku meninggalkan dunia ini untuk bertemu Allah. Aku telah bersedia menanggung wabah dan membebaskan orang-orang di Syam yang telah terkena wabah itu. Aku akan meninggal dunia pada hari Jumat.” Beliau membuka matanya dan berkata, "Allahu haqq, Allahu haqq, Allahu haqq," yang merupakan sumpah dalam bai’at thariqat Naqsyabandiy, lalu beliau membaca ayat 27-30 dari al-Qur’an surat al-Fajr: "Wahai jiwa yang tenang dan tentram. Kembalilah kepada Tuhanmu merasa senang dan disenangi. Masuklah dalam hamba-hamba-Ku! Masuklah ke dalam Surga-Ku!" Kemudian beliau menyerahkan nyawanya kepada Allah dan meninggal dunia, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, pada hari Jumat 13 Dzul Qa’dah 1242 H/1827 M.

Mereka membawanya ke zawiyah dan membasuhnya dengan air penuh cahaya. Mereka mengkafaninya sementara yang lain berdzikir, khususnya Syaikh Isma`il al-Syirwaniy, Syaikh Muhammad, dan Syaikh Aman. Mereka membaca al-Qur’an dan pagi harinya mereka membawa jenazahnya ke masjid di Yulbagha. Syaikh Isma`il al-Syirwaniy meminta Syaikh Aman `Abdin untuk melakukan shalat jenazah baginya. Masjid itu tidak cukup untuk menampung seluruh orang yang hadir. Lebih dari 30.000 orang shalat di belakangnya. Syaikh Isma`il al-Syirwaniy berjanji kepada mereka yang tidak dapat melakukan shalat jenazah di masjid itu, bahwa dia akan melakukan shalat jenazah yang kedua kalinya di makam. Mereka yang memandikannya ikut pula mengantarkan ke makamnya. Hari berikutnya, Sabtu, seakan-akan terjadi keajaiban di Syam, wabah penyakit tiba-tiba menghilang dan tidak ada lagi orang yang meninggal dunia. Mawlana Khalid menyerahkan Rahasianya kepada penerusnya, Syaikh Isma’il al-Syirwani.

Adapun sanad muttashil kepada Imam Khalid al-baghdadi al-Naqsyabandiy Radhiyallahu Anhu:

احمد الحسني عن الشيخ العلامة ماجد بن حامد الحسيني العراقي عن الشيخ الدكتور خليل جدوع عطية الشيحاوي وهو عن شيخه عبد الكريم حمادي الدبان وهو عن شيخه العلامة السيد داود التكريتي وهو عن شيخه عبد السلام الشواف البغدادي وهو عن شيخه العلامة عيسى صفاء الدين البندنيجي وهو عن الولي الصالح سيدي ومولانا خالد النقشبندي رحمه الله تعالى .


Jumat, 08 Oktober 2021

Kriteria Hamba Alloh

 Banyak orang mengaku sebagai hamba Allah tetapi hatinya tidak seperti hati Allah.

Kata "hamba" dalam bahasa Yunani 'DOULOS', adalah budak = slave, artinya adalah hamba yang terikat. Dahulu kala hamba itu diperjualbelikan, maka hidup seorang hamba ditentukan oleh tuannya. Bahkan, ketika seseorang  mendaftarakan kekayaannya, seperti lembu, domba juga didaftarakan jumlah budak yang dia miliki. Hamba, adalah orang yang sepenuhnya taat kepada tuannya, karena hidupnya sudah dibeli dan dirinya sepenuhnya bukan lagi haknya. Maka, jika ingin lepas dari perhambaan harus ada penebusan.

Menurut Perjanjian Lama, seorang hamba yang telah bebas dari perbudakan, bisa menjadi hamba bagi tuannya seumur hidupnya atas keinginan dirinya sendiri oleh karena kasih (Ulangan 15:16-17).

Menjadi hamba Tuhan itu tidaklah mudah. Apa itu ciri-ciri seorang hamba? Dalam Filipi 2, Yesus menjadi contoh kerendahan hati yang harus dimiliki oleh seorang hamba. Yesus, yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu menjadi milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Atribut-atribut apakah yang kita miliki yang harus kita lepaskan untuk bisa menjadi hamba Allah yang taat?

Manusia yang hakikatnya adalah manusia paling mulya di hadapan Alloh S.W.T karena derajat ketaqawaanya itu mempunyai nilai dan tugas-tugas tertentu dalam memaknai hidup dan kehdiupannya. Sehingga status sebagai seorang hamba Alloh memang layak dan pantas untuk diraih oleh seorang manusia.

Untuk itu mengetahui dan memaknai siapa sesungguhnya yang di maksud dengan hamba Alloh tersebut? Apakah tertuju pada seorang manusia pilihan saja seperti para rasul, nabi, aulia dan yang lainnya, ataukah bisa diterjemahkan dan dikategorikan pada siapa saja yang berhak meraih predikat seorang hamba alloh.

Nah, mungkin untuk lebih memberikan penjelasan secara detail sesuai dengan pemaknaan dari maksud hamba alloh sebagaimana yang tersiratkan dalam ayat-ayat alquran, itu kiranya sangat dibutuhkan pengertian yang jelas sebagaimana yang diterangkan dalam ayat-ayat tersebut.

Demikian halnya dengan pencapaian seorang hamba ketika ingin meraih dari yang namanya hakikat hidup ini perlu sekali mengetahui secara umum diantara sifat-sifat manusia yang tergolongkan pada seorang hamba Alloh S.W.T. Dalam hal ini kita kembali pada penjelasan ayat yang ada dalam surat alfurqon mulai ayat 63 dan ayat2 berikutnya.

(63). وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

(64). وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

(65). وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖإِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.

(66). إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

(67). وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

(68). وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚوَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),

Pengertian dari penafsiran ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa yang di maksud dengan hamba Alloh itu adalah salah satunya dari mereka yang memiliki sifat-sifat dan kepribadian sesuai yang dijelaskan pada ayat tadi, dan tidak pula tertuju pada seorang manusia saja.

Karena yang di namakan dengan ‘Ibad itu adalah bersifat umum tidak bersifat khusus, jadi siapa saja bisa meraih titel seorang hamba Alloh tersebut. Tidak hanya di tentukan pada satu manusia saja, akan tetapi siapapun saja itu bisa masuk pada kategori seorang hamba Alloh.

Diantara penjelasan lain yang menerangkan arti daripada ‘Ibaadurohman” atau hamba-hamba Alloh yang tidak hanya tertuju pada Nabi Muhammad saja seperti berikut keterangan dari ayat-ayatnya, dalam surat maryam ayat 30 disebutkan bahwa Nabi Isa alaihis salam juga hamba Allah :

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا

Artinya: ” berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”

Bahkan dalam tafsir al jalalain ketika menyebutkan suratnya Nabi Sulaiman bin dawud alaihimas salam, dalam surat tersebut Nabi Sulaiman juga menamakan dirinya sbg hamba Allah :

ثُمَّ كَتَبَ سُلَيْمَان كِتَابًا صُورَته {مِنْ عَبْد اللَّه سُلَيْمَان بْن دَاوُد إلَى بِلْقِيس مَلِكَة سَبَأ بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم السَّلَام عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْد فَلَا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ} ثُمَّ طَبَعَهُ بِالْمِسْكِ وَخَتَمَهُ بِخَاتَمِهِ

Artinya: “kemudian Nabi sulaiman menulis surat yg isinya :” Dari Hamba Allah sulaiman bin dawud kepada bilqis ratu saba’.bismillahirrohmanirrohiim keselamatan bagi orang yg mengikuti petunjuk, amma ba’du.janganlah kalian mengungguliku dan datanglah kepadaku sebagai orang2 yg muslim, kemudian Nabi Sulaiman memberikan cap dengan minyak misik dan mensetempelnya dengan cincinya.

Dalam surat al isro’ ayat 1, yg di maksud dengan kalimat “hamba-Nya ” disitu memang Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam.

Imam Qurtuby dalam kitab tafsirnya berkata :” barang siapa ta’at kepada Allah, menyembah-Nya, menyibukkan pendengaran, penglihatan, lisan dan hatinya dengan apa yg diperintah Allah maka dialah yg berhak menyandang gelar kehambaan. Dan barang siapa bersifat sebaliknya maka dia termasuk dalam firman Allah surat al a’rof ayat 179 :

أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

Artinya: “Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.”

Walhasil yang di maksud dengan I’baadurroham atau hamba-hamba Alloh itu adalah mereka manusia yang senantiasa takut kepada alloh s.w.t dalam setiap langkahnya. Ssalah satunya dengan memiliki sifat-sifat dan kepribadian yang tercerminkan sebagai yang dijelaskan pada surat al furqon dari ayat 63 sampai 68 tadi.

Semua manusia adalah hamba Allah. Harus menghamba, menyembah, mengabdi, beribadah, atau tunduk pada aturan Allah SWT (Syariat Islam).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ


"Wahai manusia ! Sembahlah olehmu akan Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu ter­pelihara (bertakwa)" (QS Al-Baqarah:21).

Penghambaan diri kepada Allah SWT (‘Ubudiyyah) adalah kedudukan manusia yang paling tinggi di sisi Allah SWT. Dalam kedudukan ini, seorang manusia benar-benar menempatkan dirinya sebagai hamba Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Islam mengajarkan agar jika kita bersedekah atau berbuat baik, hendaknya ikhlas karena Allah semata, tidak muncul hasrat ingin dipuji atau disanjung manusia dengan memamerkannya. 

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Sabtu, 25 September 2021

Seorang Wali Murid Harus Berada Pada Seorang Guru

 Perlu kerja sama yang baik antara orang tua dan guru saat mendidik seorang anak. Ketika menyekolahkan anak, maka orang tua harus mempercayai sekolah dan guru yang diamanahi. Sedangkan guru harus bisa menerimanya dan berusaha memberikan ilmu sebaik-baiknya kepada anak tersebut agar orang tua murid bangga.

Namun, dewasa ini tak jarang kita jumpai kasus perseteruan antara orang tua murid dan guru. Hal ini jelas tidak dibenarkan karena bagaimana pun keduanya harus berjalan beriringan.

Sebuah kisah antara guru dan orang tua murid pernah dialami Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kala itu, beliau memiliki seorang murid yang dididik dengan penuh kesabaran. Bahkan, mereka kerap makan bersama layaknya sebuah keluarga.

Suatu ketika, ada seseorang yang tidak suka dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani dan berniat untuk memfitnahnya. Pada suatu malam, seorang yang tidak baik itu membuat sebuah lubang di dinding rumah Syekh Abdul Qadir Jaelani. Lubang itu digunakannya untuk mengintip aktivitas Syekh Abdul Qadir dengan muridnya di dalam rumah.

Ketika mengintip, didapatilah Syekh Abdul Qadir bersama muridnya sedang makan bersama. Syekh Abdul Qadir Jaelani yang senang dengan lauk ayam kemudian menyisihkan separuh ayamnya untuk dibagikan kepada muridnya.

Namun, apa yang dilakukannya itu justru menjadi celah bagi orang yang berniat jahat itu untuk bisa memfitnahnya. Orang itu kemudian menemui ayah dari si murid dan mengadu dengan penyampaian yang keliru.

Benarkah engkau yang memiliki anak yang sedang berguru kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani? tanya orang jahat itu.

Iya benar, jawab singkat sang ayah.

Tahukah engkau, Syekh Abdul Qadir Jaelani memperlakukan anakmu seperti seekor kucing, kata si orang jahat.

Ayah murid yang terpancing emosi lantas bergegas menuju Syekh Abdul Qadir Jaelani untuk meminta kembali anaknya. Dalam perjalanan pulang, sang ayah mencoba menanyakan ilmu apa saja yang telah didapatkan dari Syekh Abdul Qadir. Tak disangka, sang anak justru menjawab pertanyaan ayahnya dengan cermat dan tepat.

Atas hal itu, sang ayah lalu menyesal dan mencoba menyerahkannya kembali kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani. Namun sayang, Syekh Abdul Qadir enggan menerima kembali muridnya tersebut.

Bukannya aku tak mau menerimanya lagi, tetapi Allah telah menutup pintu hatinya untuk menerima ilmu. Allah sudah menutup futuhnya untuk mendapat ilmu karena ayahnya tak memiliki adab kepada guru. Oleh sebab itu, anak lah yang menjadi korban, jawab Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Para ulama dalam hal mencari ilmu bersepakat bahwa orang tua juga harus menghormati guru karena merekalah sumur suatu ilmu pengetahuan.

Banyak ulama berwasiat, Satu prasangka buruk saja kepada gurumu, maka Allah haramkan seluruh keberkatan yang ada pada gurumu kepadamu.

Wallohu a'lam 

Kisah Syaikh Shon'ani Yang Membangkang Pada Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany

 Pada waktu Syekh Abdul Qodir menerima sabda Rosululloh saw, bahwa telapak kaki beliau bakal memijak pundak-pundak para waliyulloh, sabda Rosululloh itu diumumkan dan disebarkan kepada seluru para wali, baik yang hadir maupun yang tidak hadir/raib.

Mendengar pengumuman itu, mereka para waliyulloh menghadap syekh, dan mereka meletakkan kaki beliau di atas pundaknya masing-masing karena menghormati dan mengagungkannya, kecuali sorang wali namanya Syekh Son'ani, ia berkata: "Saya juga cinta mahabbah kepada Syekh, tetapi untuk diinjak pundakku nanti dahulu, dan rasanya tidak perlu." Ucapan Syekh Son'ani itu terdengar oleh Syekh, dan beliau berkata: "Telapak kakiku akan menginjak pundaknya si penggembala babi".

Tidak berapa lama kemudian, Syekh Son'ani berangkat berziarah menuju kota Mekkah diiringi sampai ratusan santri-santrinya. Takdir tidak bisa ditolak, demikianlah ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa berlaku bagi hambanya. Pada waktu Syekh Son'ani berjalan melewati sebuah kampung yang penduduknya mayoritas menganut agama nasroni, kebetulan ia melihat sebuah kedai, penjual warung itu seorang perempuan beragama nasroni penjual minuman keras.

Keistimewaan perempuan itu pandai menarik para pembeli karena wajahnya cantik tiada bandingnya, badannya mulus dan mantap, mendebarkan hati para pemuda. Konon tiada seorang lelakipun yang tidak terpikat olehnya. Demikian pula Syekh Son'ani, melihat kecantikan perempuan itu terpesona sehingga luluh hatinya, hilang rasa malu pada dirinya, wibawanya jatuh di hadapan santri-santri pengiringnya, sehingga dengan senang hati ia rela menyerahkan dirinya untuk menjadi pelayan perempuan itu.

Dengan suka rela serta sungguh-sungguh ia mau bekerja, dan pekerjaan apapun ia kerjakan demi untuk menyenangkan perempuan cantik itu.

Pada suatu hari perempuan itu menyuruh Syekh Son'ani menggembalakan babi piaraannya, memangku anak babi yang masih kecil agar jangan sampai terinjak induknya. Ia tidak merasa hina disuruh menggembala babi itu, malah merasa bangga dan gembira diperintah kekasihnya itu.

Melihat kejadian itu, seluruh santri-santri pengiringnya itu mereka pulang meninggalkan gurunya, karena secara menyolok Syekh Son'ani gurunya itu telah mencemarkan dan menodai agama. Yang masih tinggal dua orang, yaitu Syekh Fariduddin dan Syekh Mahmud Maghribi. Kedua santri itu berunding mencari jalan pemecahan musibah yang menimpa pada gurunya. Hasil perumusannya mereka berpendapat bahwa: "Musibah ini harus diperbaiki dari sumbernya dan ditelusuri sebab akibatnya, kemungkinan karena tidak adanya loyalitas murid terhadap gurunya dan kata bertuah yang dikatakan Syekh Abdul Qodir kepada Syekh Son'ani, maka untuk hal ini saya akan menghadap yang mulia Syekh". Kata Syekh Fariduddn: "Kamu Syekh Mahmud tinggal di sini." Kemudian Syekh Fariduddin berangkat menuju kota Baghdad, setibanya di kota itu lalu ia mencari pekerjaan berat dan hina, akhirnya terpaksa pekerjaan itu diterima dan dikerjakan, yaitu membuang kotoran dari kakus.

Pada suatu hari Syekh mengetahui dan menyaksikan Syekh Fariduddin sedang bekerja berat yaitu sedang menjunjung wadah yang penuh dengan kotoran dan pada saat itu turunlah hujan dengan derasnya sehingga wadah kotoran itu penuh dengan air hujan melimpah dan membasahi badan Syekh Fariduddin. Memperhatikan beban berat yang dipikul Syekh Fariduddin, Syekh merasa iba hatinya, lalu beliau memanggil Syekh Fariduddin dan menanyakan namanya.

Setelah Syekh Fariduddin memperkenalkan diri, dan ia juga teman Syekh Son'ani, Syekh bertanya lagi: "Kamu sebenarnya mau apa? Dan silahkan mau minta apa?". Dijawab oleh Syekh Fariduddin: "Kiranya yang bertanya lebih arif bijaksana, lebih mengetahui maksud saya sebenarnya". Syekh berkata: "Kamu mendapat maqom, yakni kedudukan yang lebih tinggi, dan juga gurumu kuampuni". Kata Syekh Fariduddin: "Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi selain diampuni dosa guruku". Kata Syekh: "Memang benar, gurumu telah kuampuni karena kedudukanmu itu".

Bertepatan dengan saat memberi ampun, detik itu pula Syekh Son'ani siuman sadar kembali dari kelalaiannya, lalu ia membaca istighfar, dan ketika itu juga hatinya menjadi berubah tertanam dan berkembang perasaan cinta, rindu mahabbah pada Syekh, dan segera ia berangkat menuju kota Baghdad dengan kebulatan tekad yang kuat akan bertobat kepada Syekh.

Demikian pula tidak kurang pentingnya perempuan cantik yang beragama nasroni itu dan juga kekasih Syekh Son'ani ikut terbawa bersama Syekh Son'ani berziarah dengan keyakinan yang kuat akan masuk agama islam berikrar di hadapan Syekh.

 اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان

 alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridlwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.

Wallohu a'lam

Jumat, 03 September 2021

201 Nama Nama Kanjeng Nabi Muhammad saw

 Imam Nawawi dalam kitab Tadzhibul Asma berkata:

واعلم أن كثرة الأسماء تدل على عظم المسمى كما في أسماء الله تعالى وأسماء رسوله صلى الله عليه وسلم

Artinya:
“Ketahuilah bahwa banyaknya nama menunjukkan agungnya pemilik nama-nama tersebut. Sebagaimana Allah SWT memiliki banyak nama dan Rasulullah SAW juga memiliki banyak nama."

Sebagaimana maklum, bahwa Allah SWT memiliki banyak nama. Di antaranya adalah nama-nama Allah yang baik yang kita kenal dengan Asmaul Husna, yang jumlahnya ada 99.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki banyak julukan. Yakni nama-nama yang disandarkan kepada baginda Nabi dari kalangan arab di masa itu, maupun nama-nama yang Allah serukan untuk memanggil Nabi Muhammad SAW.

Imam al-Jazuli al-Hasani dalam kitabnya Dalailul Khairat wa Syawariqul Anwar menyebut ada 201 nama baginda Nabi Muhammad SAW.

Berikut ini adalah 201 nama baginda Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam Kitab Dalailul Khairat karangan Imam al-Jazuli al-Hasani lengkap tulisan arab dan artinya:

اَسْمَاءُ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِائَتَانِ وَ وَاحِدٌ وَّهِىَ هَذِه

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مَنْ أَشْرَفُ أَسْمَائِهِ:

Ya Allah, curahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada yang bernama paling mulia:

1- Sayyiduna Muhammadun (محمد) -shollalloohu alayhi wa sallama

2- Sayyiduna Ahmadun (أحمد) - shollallahu alayhi sallama

3- Sayyiduna Haamidun (حامد) - shollalloohu alayhi wa sallama

4- Sayyiduna Mahmuudun (مَحْمُوْدٌ) - Yang Terpuji Sekali

5- Sayyiduna Ahiidun (اَحِيْدٌ) - Nama Nabi dalam Taurat

6- Sayyiduna Wahiidun (وَحِيْدٌ) - Khas

7- Sayyiduna Maahin (مَاحٍ) - Penghapus

8- Sayyiduna Haasyirun (حَاشِرٌ) - Penghimpun

9- Sayyiduna Aaqibun (عَاقِبٌ) - Yang Terakhir dari Semua Ciptaan

10- Sayyiduna Thoohaa (طه) - Thooha

11- Sayyiduna Yaa Siin (يس) - Yaa siin

12- Sayyiduna Thoohirun (طَاهِرٌ) - Yang Murni

13- Sayyiduna Muthohharun (مُطَهَّرٌ) - Pemurni

14- Sayyiduna Thoyyibun (طَيِّبٌ) - Yang Baik

15- Sayyiduna Sayyidun (سَيِّدٌ) - Tuan Guru

16- Sayyiduna Rosuulun (رَسُوْلٌ) - Sang Utusan

17- Sayyiduna Nabiiyyun (نَبِىٌّ) - Sang Nabi

18- Sayyiduna Rosuulur Rohmahti (رَسُوْلُ الرَّحْمَةِ) -Rasul yg Penuh Rahmat

19- Sayyiduna Qoyyimun (قَيِّمٌ) - Yang Lurus

20- Sayyiduna Jaami‘un (جَامِعٌ) - Pengumpul

21- Sayyiduna Muqtafin (مُقْتَفٍ) - Yang Terpilih

22- Sayyiduna Muqoffi (مُقَفِّىْ ) - Teladan Terbaik

23- Sayyiduna Rosuulul Malaahimi (رَسُوْلُ الْمَلاَحِمِ) - Rasul dari Pertempuran yang Hebat

24- Sayyiduna Rosuulur Rohati (رَسُوْلُ الرَّاحَةِ) -Rasul Pembawa Ketenangan

25- Sayyiduna Kaamilun (كَامِلٌ) - Yang Sempurna

26- Sayyiduna Ikliilun (اِكْلِيْلٌ) - Mahkota

27- Sayyiduna Muddatsyirun (مُدَثِّرٌ) - Orang Yang Terselubung

28- Sayyiduna Muzzammilun (مُزَّمِّلٌ) - Orang Yang Berselimut

29- Sayyiduna Abdulloohi (عَبْدُ اللهِ) - Hamba Allah

30- Sayyiduna Habibulloohi (حَبِيْبُ اللهِ) - Kekasih Allah

31- Sayyiduna Shofiyulloohi (صَفِىُّ اللهِ) - Sahabat Karib Allah

32- Sayyiduna Najiyyulloohi (نَجِىُّ اللهِ) - Kepercayaan Allah

33- Sayyiduna Kalimulloohi (كَلِيْمُ اللهِ) - Juru Bicara Allah

34- Sayyiduna Khootimul Anbiyai (خَاتِمُ الْاَنْبِيَاءِ) - Penutup Para Nabi

35- Sayyiduna Khootimur Rusuuli (خَاتِمُ الرُّسُلِ) - Penutup Para Rasul

36- Sayyiduna Muhyin (مُحْيِىْ) - Hidup Kembali

37- Sayyiduna Munjin (مُنْجٍ) - Sang Penyelamat

38- Sayyiduna Muzakkirun (مُذَكِّرٌ) - Yang Mengingatkan

39- Sayyiduna Naashirun (نَاصِرٌ) - Penolong

40- Sayyiduna Manshuurun (مَنْصُوْرٌ) - Yang Berjaya

41- Sayyiduna Nabiyyur Rohmati (نَبِىُّ الرَّحْمَةِ)- Nabi Sumber Rahmat

42- Sayyiduna Nabiyyut Tobati (نَبِىُّ التَّوْبَةِ) - Nabi Pemohon Ampunan

43- Sayyiduna Hariishun ‘Alaykum (حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ) - Yang Mengawasimu

44- Sayyiduna Ma’luumun (مَعْلُوْمٌ) - Yang Dikenal

45- Sayyiduna Syahiirun (شَهِيْرٌ) - Yang Terkenal

46- Sayyiduna Syaahidun (شَاهِدٌ) - Kesaksian

47- Sayyiduna Syahiidun (شَهِيْدٌ) - Saksi

48- Sayyiduna Masyhuudun (مَشْهُوْدٌ) - Yang Terbukti Kebenarannya

49- Sayyiduna Basyiirun (بَشِيْرٌ) - Sang Pembawa Pesan

50- Sayyiduna Mubasyirun (مُبَشِّرٌ) - Menyebarkan Kabar Gembira

51- Sayyiduna Nadziirun (نَذِيْرٌ) - Yang Memberi Peringatan

52- Sayyiduna Mundziirun (مُنْذِرٌ) - Penegur

53- Sayyiduna Nuurun (نُوْرٌ) - Cahaya

54- Sayyiduna Siroojun (هُدًى ) - Lampu Penerang

55- Sayyiduna Mishbaahun (مِصْبَاحٌ) - Lentera

56- Sayyiduna Hudan (هُدًى) - Pembimbing

57- Sayyiduna Mahdiyyun (مَهْدِىٌّ) - Pembimbing Terbaik

58- Sayyiduna Muniirun (مُنِيْرٌ) - Pemberi Cahaya

59- Sayyiduna Daa’in (دَاعٍ) - Penyeru

60- Sayyiduna Mad’uwwun (مَدْعُوٌّ) - Yang Dipanggil

61- Sayyiduna Mujiibun (مُجِيْبٌ) - Perespons Yang Baik

62- Sayyiduna Mujaabun (مُجَابٌ) - Yang Memberi Respons dan Tanggapan

63- Sayyiduna Hafiyyun (حَفِىٌّ) - Penyambut

64- Sayyiduna Aafuwwun (عَفُوٌّ) - Pemaaf Dosa-Dosa

65- Sayyiduna Waaliyyun (وَلِىٌّ) - Sahabat

66- Sayyiduna Haqqun (حَقٌّ) - Kebenaran

67- Sayyiduna Qowiyyun (قَوِىٌّ) - Yang Kuat

68- Sayyiduna Amiinun (اَمِيْنٌ) - Yang Terpercaya

69- Sayyiduna Ma'muunun (مَاْمُوْنٌ) - Yang Dipercaya

70- Sayyiduna Kariimun (كَرِيْمٌ) - Yang Mulia

71- Sayyiduna Mukarromun (مُكَرَّمٌ) - Yang Terhormat

72- Sayyiduna Makiinun (مَكِيْنٌ) - Yang Teguh

73- Sayyiduna Matiinun (مَتِيْنٌ) - Yang Kukuh

74- Sayyiduna Mubiinun (مُبِيْنٌ) - Bukti Yang Jelas

75- Sayyiduna Mu'ammilun (مُؤَمِّلٌ) - Yang Diharapkan

76- Sayyiduna Washuulun (وَصُوْلٌ) - Penghubung

77- Sayyiduna Dzuu Quwwatin (ذُوْقُوَّةٍ) - Pemilik Kekuatan

78- Sayyiduna Dzuu Hurmatin (ذُوْحُرْمَةٍ) - Pemilik Kehormatan

79- Sayyiduna Dzuu Makaanatin (ذُوْمَكَانَةٍ) - Pemilik Keteguhan

80- Sayyiduna Dzuu Izzin (ذُوْعِزٍّ) - Pemilik Kemegahan

81- Sayyiduna Dzuu Fadlin (ذُوْفَضْلٍ) - Sumber Kebaikan

82- Sayyiduna Muthoo’un (مُطَاعٌ) - Yang Dipatuhi

83- Sayyiduna Muthii-’un (مُطِيْعٌ) - Penurut

84- Sayyiduna Qodamu Sidqin (قَدَمُ صِدْقٍ) - Pondasi Ketulusan

85- Sayyiduna Rohmatun (رَحْمَةٌ) - Rahmat, Kasih Sayang

86- Sayyiduna Busyroo (بُشْرى) - Kabar Gembira

87- Sayyiduna Ghawtsun (غَوْثٌ) - Penebus

88- Sayyiduna Ghaytsun (غَيْثٌ) - Bantuan

89- Sayyiduna Ghiyyaatsun (غِيَاثٌ) - Pertolongan

90- Sayyiduna Ni'matulloohi (نِعْمَةُ اللهِ) - Nikmat Allah

91- Sayyiduna Hadiyatulloohi (هَدِيَّةُ اللهِ) - Pemberian Allah

92- Sayyiduna Urwatuw Wusqoo(عُرْوَةٌ وُّثْقى)-Tambatan Yang Terpercaya

93- Sayyiduna Shirootulloohi (صِرَاطُ الله) - Jalan Allah

94- Sayyiduna Shirootum Mustaqiimun (صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ) - Jalan Yang Lurus

95- Sayyiduna Dzikrulloohi (ذِكْرُ اللهِ) - Ingat akan Allah

96- Sayyiduna Sayfulloohi (سَيْفُ اللهِ) - Pedang Allah

97- Sayyiduna Hizbulloohi (حِزْبُ اللهِ) - Pasukan Allah

98- Sayyiduna Najmus Saaqibu (النَّجْمُ الثَّاقِبُ) - Bintang yang Cemerlang

99- Sayyiduna Musthofaa (مُصْطَفًى) - Yang Terpilih

100- Sayyiduna Mujtabaa (مُجْتَبًى) - Pemilih

101- Sayyiduna Muntaqoo (مُنْتَقًى) - Yang Fasih Berbicara

102- Sayyiduna Ummiyyun (اُمِّىٌّ) - Buta Huruf

103- Sayyiduna Muhtaarun (مُخْتَارٌ) - Yang Terpilih

104- Sayyiduna Ajiirun (اَجِيْرٌ) - Pekerja Allah

105- Sayyiduna Jabbaarun (جَبَّارٌ) - Yang Perkasa

106- Sayyiduna Abul Qoosimi (اَبُو الْقَاسِمِ) - Ayahnya Qosim

107- Sayyiduna Abut Thoohiri (اَبُو الطَّاهِرِ) - Ayah Yang Murni

108- Sayyiduna Abut Thoyyibi (اَبُو الطَّيِّبِ) - Ayah Yang Baik

109- Sayyiduna Abuu Ibroohiima (اَبُوْ اِبْرَاهِيْمَ) - Ayahnya Ibrohim

110- Sayyiduna Musyaffaun (مُشَفَّعٌ) - Perantara Yang Diterima

111- Sayyiduna Syafii’un (شَفِيْعٌ) - Pemberi Syafaat

112- Sayyiduna Shoolihun (صَالِحٌ) - Saleh

113- Sayyiduna Musliihun (مُصْلِحٌ) - Pendamai

114- Sayyiduna Muhayminun (مُهَيْمِنٌ) - Pelindung

115- Sayyiduna Shoodiqun (صَادِقٌ) - Yang Jujur

116- Sayyiduna Mushoddiqun (مُصَدِّقٌ) - Penegas

117- Sayyiduna Sidqun (صِدْقٌ) - Ketulusan

118- Sayyiduna Sayyidul Mursaliina (سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ) - Guru Para Rasul

119- Sayyiduna Imamul Muttaqiina (اِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ) - Pemimpin Orang Yang Bertaqwa

120- Sayyiduna Qo‘idul Gurril Muhajjalina (قَائِدُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ) - Pembimbing Kharismatik Yang ersinar

121- Sayyiduna Kholiilur Rohmaani (خَلِيْلُ الرَّحْمنِ) - Sahabat dari yang Maha Penyayang

122- Sayyiduna Barrun (بَرٌّ) - Yang Saleh

123- Sayyiduna Mabarrun (مُبَرٌّ) - Yang Terhomat

124- Sayyiduna Wajiihun (وَجِيْهٌ) - Terkemuka

125- Sayyiduna Nasiihun (نَصِيْحٌ) - Sang Penasihat

126- Sayyiduna Naasihun (نَاصِحٌ) - Penasihat

127- Sayyiduna Waqiilun (وَكِيْلٌ) - Pemelihara

128- Sayyiduna Mutawakkilun (مُتَوَكِّلٌ) - Yang Berserah Diri pada Allah

129- Sayyiduna Kafiilun (كَفِيْلٌ) - Sang Penjamin

130- Sayyiduna Syafiiqun (شَفِيْقٌ) - Yang Lembut

131- Sayyiduna Muqiimus Sunnati (مُقِيْمُ السُّنَّةِ)- Penegak Sunnah

132- Sayyiduna Muqoddasun (مُقَدَّسٌ) - Yang Suci

133- Sayyiduna Ruuhul Qudusi (رُوْحُ الْقُدُسِ) - Ruh Yang Suci

134- Sayyiduna Ruuhul Haqqi (رُوْحُ الْحَقِّ) - Ruh Kebenaran

135- Sayyiduna Ruuhul Qisti (رُوْحُ الْقِسْطِ) - Ruh Keadilan

136- Sayyiduna Kaafin (كَافٍ) - Yang Layak

137- Sayyiduna Muktafin (مُكْتَفٍ) - Yang Berdada Bidang

138- Sayyiduna Baalighun (بَالِغٌ) - Proklamator

139- Sayyiduna Muballighun (مُبَلِّغٌ) - Pemberi Kabar

140- Sayyiduna Syaafiin (شَافٍ) - Penyembuh

141- Sayyiduna Waasilun (وَاصِلٌ) - Sahabat yang Tak Terpisahkan

142- Sayyiduna Mawsuulun (مَوْصُوْلٌ)- Selalu Terhubung dengan Allah

143- Sayyiduna Saabiqun (سَابِقٌ) - Terkemuka

144- Sayyiduna Saa'iqun (سَائِقٌ) - Pengarah

145- Sayyiduna Haadin (هَادٍ) - Petunjuk

146- Sayyiduna Muhdin (مُهْدٍ) - Yang Terbimbing

147- Sayyiduna Muqoddamun (مُقَدَّمٌ) - Pengawas

148- Sayyiduna Aziizun (عَزِيْزٌ) - Yang Mulia

149- Sayyiduna Faadilun (فَاضِلٌ) - Yang Hebat

150- Sayyiduna Mufaddolun (مُفَضَّلٌ) - Pemurah Hati

151- Sayyiduna Faatihun (فَاتِحٌ) - Pembuka

152- Sayyiduna Miftaahun (مِفْتَاحٌ) - Kunci

153- Sayyiduna Miftaahur Rohmati (مِفْتَاحُ الرَّحْمَةِ) -Kuncinya Rahmat

154- Sayyiduna Miftaahul Jannati (مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ) - Kunci Surga

155- Sayyiduna Alamul Iimaani (عَلَمُ الْاِيْمَانِ) - Pengajar Keimanan

156- Sayyiduna Alamul Yakiini (عَلَمُ الْيَقِيْنِ) - Pengajar Keyakinan

157- Sayyiduna Daliilul Khoyrooti (دَلِيْلُ الْخَيْرَاتِ)- Petunjuk kepada yg Baik

158- Sayyiduna Musahihul Hasanaati (مُصَحِّحُ الْحَسَنَاتِ)- Pemeriksa Amal Baik

159- Sayyiduna Mukiilul Asarooti (مُقِيْلُ الْعَثَرَاتِ) - Pemberi Peringatan Dini terhadap Jalan Yang Salah

160- Sayyiduna Sufuhun Anizzallati (صَفُوْحٌ عَنِالزَّلاَّتِ) - Pemaaf Para Penindas

161- Sayyiduna Shoohibus Syafaa'ati (صَاحِبُ الشَّفَاعَةِ) - Pemilik Syafaat

162- Sayyiduna Shoohibul Maqoomi (صَاحِبُ الْمَقَامِ)- Pemilik Maqam yg Mulia

163- Sayyiduna Shoohibul Qodami (صَاحِبُ الْقَدَمِ) - Pemilik Pijakan Kaki

164- Sayyiduna Mahsusum Bil Izzi (مَخْصُوْصٌ بِالْعِزِّ) - Masyhur dengan Kebesaran

165- Sayyiduna Mahsusum Bil Majid (مَخْصُوْصٌ بِالْمَجْدِ) - Yang Masyhur dengan Kejayaan

166- Sayyiduna Mahsusum Bisyarofi (مَخْصُوْصٌ بِالشَّرَفِ) - Masyhur dengan Kemuliaan

167- Sayyiduna Shoohibul Wasiilati (صَاحِبُ الْوَسِيْلَةِ) - Pemilik Jalan Masuk yang Terdekat

168- Sayyiduna Shoohibus Sayfi (صَاحِبُ السَّيْفِ) - Pemilik Pedang

169- Sayyiduna Shoohibul Fadiilati(صَاحِبُ الفَضِيْلَةِ)-Pemilik Awal Kemuliaan

170- Sayyiduna Shoohibul Izaari (صَاحِبُ الْاِزَارِ) - Pemilik Kain

171- Sayyiduna Shoohibul Hujjati (صَاحِبُ الْحُجَّةِ) - Pemilik Bukti

172- Sayyiduna Shoohibus Sultooni (صَاحِبُ السُّلْطَانِ) - Pemilik Kesultanan

173- Sayyiduna Shoohibur Ridhooi (صَاحِبُ الرِّدَاءِ) - Pemilik Jubah

174- Sayyiduna Shoohibud Darojatir Rofii'ati (صَاحِبُ الدَّرَجَةِ الرَّفِيْعَةِ) - Pemilik Derajat Yang Agung

175- Sayyiduna Shoohibut Taaji (صَاحِبُ التَّاجِ) - Pemilik Mahkota

176- Sayyiduna Shoohibul Migfari (صَاحِبُ الْمِغْفَرِ) - Pemilik Pengampunan

177- Sayyiduna Shoohibul Liwaa'i (صَاحِبُ اللِّوَاءِ) - Pemilik Bendera

178- Sayyiduna Shoohibul Mi'rooji (صَاحِبُ الْمِعْرَاجِ) Pemilik Perjalanan Malam

179- Sayyiduna Shoohibul Qodiibi (صَاحِبُ الْقَضِيْبِ) - Pemilik Pengikut

180- Sayyiduna Shoohibul Burooqi (صَاحِبُ الْبُرَاقِ) - Pemilik Buraq

181- Sayyiduna Shoohibul Khootami (صَاحِبُ الْخَاتَمِ) - Pemilik Cincin

182- Sayyiduna Shoohibul Alaamati (صَاحِبُ الْعَلاَمَةِ) - Pemilik Tanda

183- Sayyiduna Shoohibul Burhaani (صَاحِبُ الْبُرْهَانِ) - Pemilik Bukti

184- Sayyiduna Shoohibul Bayaani (صَاحِبُ الْبَيَانِ)- Pemilik Bukti Yang Jelas

185- Sayyiduna Fashiihul Lisaani (فَصِيْحُ اللِّسَانِ) - Penyampai Yang Fasih

186- Sayyiduna Muthohharul Janaani (مُطَهَّرُ الْجَنَانِ) - Pemurni Jiwa

187- Sayyiduna Ro-uufun (رَءُوْفٌ) - Ramah

188- Sayyiduna Rohiimun (رَحِيْمٌ) - Penyayang

189- Sayyiduna Udzunu Khoyrin (اُذُنُ خَيْرٍ) - Pendengar Yang Baik

190- Sayyiduna Shohiihul Islaami (صَحِيْحُ الْاِسْلاَمِ) - Penyempurna Islam

191- Sayyiduna Sayyidul Kawnayni (سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ) - Pemimpin Dua Alam

192- Sayyiduna Aynun Na‘iimi (عَيْنُ النَّعِيْمِ) - Sumber Kebahagiaan

193- Sayyiduna Aynul Ghurri (عَيْنُ الْغُرِّ) - Sumber Keindahan

194- Sayyiduna Sa’dulloohi (سَعْدُ اللهِ) - Kegembiraan atas Allah

195- Sayyiduna Sa’dul Kholqi (سَعْدُالْخَلْقِ) - Kegembiraan atas Sang Pencipta

196- Sayyiduna Khotiibul Umaami (خَطِيْبُ الْاُمَمِ) - Penceramah Ummat Manusia

197- Sayyiduna Alamul Hudaa (عَلَمُ الْهُدى) - Guru dari Para Pembimbing

198- Sayyiduna Kaasyiful Kurobi (كَاشِفُ الْكُرَبِ) - Penghilang Keresahan

199- Sayyiduna Roofi‘ur Rutabi (رَافِعُ الرُّتَبِ) - Pengangkat Derajat

200- Sayyiduna Izzul ‘Arobi (عِزُّالْعَرَبِ) - Kebanggaan Bangsa Arab

201- Sayyiduna Shoohibul Faroji (صَاحِبُ الْفَرَجِ) - Pemilik Kegembiraan

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ. اللهُمَّ يَا رَبّ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفَى وَ رَسُوْلِكَ الْمُرْتَضَى. طَهِّرْ قُلُوْبَنَا عَنْ كُلِّ وَصْفٍ يُبَاعِدُنَا عَنْ مُشَاهَدَتِكَ وَ مَحَبَّتِكَ وَ أَمِتْنَا عَلَى السُّنَّةِ وَ الْجَمَاعَةِ وَ الشَّوْقِ إِلَى لِقَائِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الْإِكْرَامِ. وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ النَّبِيِّيْنَ وَ إِمَامِ الْمُرْسَلِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَ سَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Semoga Allah mencurahkan rahmat kepadanya beserta keluarganya. Ya Allah, ya Tuhanku, dengan keagungan nabi-Mu yang terpilih dan berkat rasūl-Mu yang Engkau ridhai, sucikanlah hati kami dari segala sifat yang dapat menjauhkan kami dari menyaksikan dan mencintai-Mu. Wafatkanlah kami sebagai ahli sunnah wal-jamā‘ah dan dalam keadaan rindu berjumpa dengan-Mu, wahai Dzāt yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada tuan kami Muḥammad, penutup para nabi dan pemimpin para rasūl, beserta keluarganya. Salam sejahtera semoga tetap dicurahkan kepada para rasūl. Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.

Demikianlah 201 Nama Nabi Muhammad dalam kitab Dalailul Khoirat karangan Imam al-Jazuli al-Hasani.

Wallohu a'lam