Translate

Selasa, 12 Mei 2015

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti “bercahaya” dan wijaya berarti “kemenangan”. 

Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa dari Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Cholamandala , selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya dibawah kendali kerajaan Dharmasraya.

Sejarah

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis ‎George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan ‎Indonesia. ‎Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah perahu kuno yang diperkirakan ada sejak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sa‎yang, kepala perahu kuno itu sudah hilang dan sebagian papan perahu itu digunakan justru buat jembatan. Tercatat ada 17 keping perahu yang terdiri dari bagian lunas, 14 papanperahu yang terdiri dari bagian badan dan bagian buritan untuk menempatkan kemudi. P‎erahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang menggunakan tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang berhubungan dengan temuan perahu, seperti tembikar, keramik, dan alat kayu.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selainMajapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj ‎dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. S‎ementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya bisa ditelusuri lewat beberapa hal, antara lain melalui prasasti maupun berita Cina (Tiongkok), Arab, dan Persia. Nama Sriwijaya sendiri dijumpai pertama kali dalam Prasasti Kota Kapur dari Pulau Bangka. Pada 1913, H. Kern mengidentifikasikan kata Sriwijaya sebagai nama seorang raja.

George Coedes melengkapi hasil penelitian dari H Kern. Pada 1918 Coedes menggunakan sumber-sumber berupa prasasti dan berita Tiongkok untuk mengungkap sejarah Sriwijaya. Hasilnya, Coedes menyimpulkan bahwa nama Sriwijaya yang disebutkan dalam Prasasti Kota Kapur adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan dengan pusatnya di Palembang. Dalam berita Tiongkok, kerajaan ini disebut dengan She-li-fo-she. Pendapat ini sebenarnya pernah pula dikemukakan oleh Samuel Beal pada 1884. Beal mengemukakan bahwa She-li-fo-she adalah sebuah kerajaan yang terletak di pantai timur Sumatera Selatan, di tepi Sungai Musi, dekat Palembang.

Muncul pula pendapat lain yang menyatakan bahwa letak Sriwijaya tidak berada diPalembang. Seperti dikutip dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II (1993), pendapat ini antara lain berasal dari F.D.K. Bosch pada 1904 yang menyatakan hanya terdapat sedikit bukti arkeologis untuk menguatkan bahwa Palembang sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya. Pendapat lainnya datang dari R.C. Majumdar yang menyatakan bahwa letak Sriwijaya harus dicari di Pulau Jawa. Drs. Sukmono serta Prof. Slamet Muljana meyakini bahwa letak Sriwijaya berada di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jambi.

Terlepas dari munculnya beberapa perbedaan pendapat tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa pendapat umum yang diyakini sampai sekarang tetap menempatkan Palembang sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya. Di luar perbedaan tersebut tampaknya ada satu kesamaan dari para ahli yang menyatakan bahwa Sriwijaya mulai berdiri sekitar abad ke-7. Pengambilan abad ke-7 sebagai masa awal berdirinya Sriwijaya didasarkan pada penemuan prasasti tertua peninggalan Sriwijaya, yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti berangka tahun 604 Masehi ini ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang.

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

Teks Prasasti Alih Aksara Prasasti Kedukan Bukit 

svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha dapunta hiya<m> maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yamvala dualakşa dangan ko-(sa)
duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātamdi mata jap
sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula<n>...
laghu mudita dātam marvuat vanua...
śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa...

Alih Bahasa

Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
lega gembira datang membuat wanua....
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....

Berdasarkan Prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau Bangka, pada akhir abad ke-7 kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer utk menghukum Bhumi Jawa yang tak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanegara di Jawa Barat dan Ho-ling (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka Selat Sunda Laut China Selatan Laut Jawa dan Selat Karimata. 

Prasasti Kota Kapur adalah temuan arkeologi prasasti Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama "Kotakapur". Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892.
Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, yaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaysia, dan Thailand bagian selatan.

Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan ditejemahkan oleh Coedes:

Naskah Asli 

Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.
paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.
Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana
Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.

Terjemahan

Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng­ganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.


Sedikitnya ada 7 prasasti yang ditemukan sebagai bukti peninggalan dari Sriwijaya. Ketujuh prasasti tersebut adalah Prasasti Kedukan Bukit (682 M), ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang; Prasasti Talang Tuo (24 Maret 684) yang ditemukan oleh Residen Wetenenk di daerah Talang Tuo, sebelah barat Kota Palembang sekarang pada 1920; Telaga Batu  yang ditemukan di Telaga Batu, dekat Palembang; Prasasti Kota Kapur (28 April 686), ditemukan di dekat Sungai Menduk di Pulau Bangka bagian barat; Prasasti Karang Brahi, ditemukan di oleh L.M. Berkhout pada 1904 di daerah Karang Brahi, di tepi Sungai Merangin, cabang Sungai Batanghari di Jambi Hulu; Prasasti Palas Pasemah, ditemukan pada 1958 di tepi Sungai Pisang, anak Sungai Sekapung, Lampung Selatan‎. Sedangkan satu prasasti lainnya dinamakan dengan Prasasti Ligor (774 M) yang ditemukan di pantai timur Muangthai (Thailand) Selatan.

Selain prasasti, sumber tertulis tentang Sriwijaja juga didapatkan melalui berita Arab maupun Persia. Menurut Marwati & Nugroho (1993), berita Arab yang pertama berasal dari Ibn Hordadzbeh dari tahun 844-848 M yang mengatakan bahwa Raja Zabag (Sriwijaya) disebut maharaja yang kekuasaannya meliputi pulau-pulau di lautan timur. Hasil negerinya berupa kapur barus dan gajah banyak terdapat di sana. Ibn Roteh (903 M) mengatakan bahwa Maharaja Zabag merupakan raja terkaya dibandingkan dengan raja-raja di India. Ibn Zayd (916 M) menyatakan bahwa Raja Zabag setiap hari melemparkan segumpal emas ke dalam danau di dekat istana. Danau ini berhubungan dengan laut sehingga airnya payau. Raja Zabag menguasai banyak pulau antar lain Sribuza, Kalah, dan Rami. Hasil bumi dari Zabag meliputi kayu gaharu, kapur barus, kayu cendana, gading, timah, kayu hitam, kayu sapan, dan rempah-rempah. Mas`udi, seorang  ahli geografi pada 955 M menyatakan bahwa Zabag memiliki rakyat yang banyak, tentaranya tak terhitung jumlahnya, meskipun dengan perahu tercepat orang tidak akan dapat mengelilingi pulau taklukan Zabag dalam tempo 2 tahun. Maharaja Zabag memiliki banyak minyak wangi dan bahan–bahan yang berbau harum lebih banyak daripada raja lainnya. Pelayaran dari Siraf dan Oman dikuasai raja ini, di Kalah dan Sribuza ada tambang emas dan timah.

Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa mulai abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan penaklukan untuk berperan sebagai negara maritim. Penguasaan jalur perdagangan dan melimpahnya komoditas perdagangan di daerah yang dikuasai Sriwijaya, membuat kerajaan ini menjadi sebuah emporium (pusat perdagangan) selama berabad-abad. Pedagang dari berbagai negara singgah di pelabuhan Sriwijaya untuk melakukan transaksi dagang. Sriwijaya juga memungut bea cukai bagi setiap kapal yang singgah di pelabuhannya. Hal inilah yang menjadi tambang uang bagi Sriwijaya, di samping transaksi barang dagangan.

Sebagai negara induk, setiap tahun Sriwijaya menerima upeti dari negara-negara bawahan berupa hasil bumi, perak, dan emas atau barang lainnya dengan jumlah yang telah ditentukan. Dikatakan oleh I-Tsing, seorang pendeta Buddha yang 2 kali menetap di Sriwijaya, bahwa pada akhir abad ke-7 negara Sriwijaya sangat makmur. Dikatakan bahwa rakyat memberikan sesaji bunga teratai emas kepada arca Buddha; dalam upacara agama tampak perabotan dan arca-arca serba emas. Rakyat dari segala lapisan berlomba memberikan sedekah kepada para pendeta.

Selain berfungsi sebagai emporium, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat agama Buddha di tanah Melayu. Raja-raja Sriwijaya dikenal sebagai pelindung agama Buddha dan penganut yang taat, seperti dapat dilihat dalam Prasasti Nalanda dan berita Tiongkok.

Menurut Marwati & Nugroho (1993) , sampai abad ke-11, Kerajaan Sriwijaya masih merupakan pusat pengajaran agama Buddha yang bertaraf internasional. Pada masa pemerintahan Raja Sri Cudamaniwarmadewa (abad ke-11), seorang pendeta Buddha bernama Dharmakrti menyusun kritik tentang sebuah kitab ajaran agama Buddha bernama Abhisamayalandara. Kemudian pada 1011-1023 M, seorang biksu dari Tibet bernama Atisa, datang ke Sriwijaya untuk belajar agama kepada Dharmakrti. Sedangkan dari berita Tiongkok, diperoleh keterangan bahwa pada 1003 M, Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan dua utusan ke Tiongkok untuk membawa upeti. Mereka mengatakan bahwa di negaranya didirikan sebuah bangunan suci agama Buddha untuk memuja agar kaisar panjang umur. Mereka memohon agar kaisar memberikan nama dan genta. Bangunan suci itu kemudian diberi nama Cheng-thien-wa-shou.

Kejayaan Sriwijaya akhirnya mulai surut karena terjadi beberapa kali penyerangan (perang) yang dilakukan oleh Kerajaan Cola dan pasukan dari Jawa. Kerajaan Cola melakukan 3 kali penyerangan terhadap Sriwijaya, yaitu pada 1017 M yang dipimpin oleh Rajendracoladewa, 1025 M, dan 1068 M yang dipimpin oleh Wirajayendra. Penyerangan yag dilakukan oleh Kerajaan Cola pada abad ke-11 ternyata menggoyahkan Sriwijaya sebagai kerajaan terbesar di tanah Melayu saat itu. Hal ini terbukti pada serangan kedua (1025 M), raja Sriwijaya yang memerintah saat itu, yaitu Sri Sangramawijayottunggawarman dapat ditawan oleh tentara dari Kerajaan Cola.

Penyebab penyerangan Kerajaan Cola terhadap Sriwijaya, sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Padahal sebelumnya telah terjadi hubungan yang erat antara Sriwijaya dengan Kerajaan Cola, sebagaimana hubungan segitiga antara Sriwijaya-Tiongkok-India. Tersurat sebuah prasasti raja Dewapaladewa dari Benggala yang dibuat pada akhir abad ke-9 yang menyebutkan sebuah biara yang dibuat atas perintah Balaputradewa, maharaja dari Suwarnadwipa. Prasasti ini dikenal sebagai Prasasti Nalanda. Sebuah prasasti Raja Cola lainnya, yaitu prasasti dari Rajaraja I di India Selatan menyebutkan bahwa Marawijayotunggawarman, raja dari Kataha dan Sriwisaya telah memberikan hadiah sebuah desa untuk diabdikan kepada sang Buddha yang dihormati di dalam Cudamanivarmavihara, yang telah didirikan oleh ayahnya di kota Nagipattana (Negapatam sekarang.

Menurut Paul Michel Munoz (2006), antara tahun 1079–1088 M, orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar dari Jambi dan Palembang. Tahun 1082 M dan 1088 M, Jambi mengirimkan lebih dari dua duta besar ke Tiongkok. Pada periode inilah pusat Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke Jambi. Ekspedisi Cola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat kerajaan.

Meskipun sempat bangkit kembali menjadi kerajaan yang kuat pada abad ke-13, akan tetapi menurut sejarah Dinasti Ming, dikatakan bahwa Sriwijaya pada 1376 M telah ditaklukkan oleh Jawa. Penaklukkan dari Jawa diwakili oleh Kerajaan Kediri melalui Ekspedisi Pamalayu pada 1275M. Ekspedisi Pamalayu merupakan sebuah ekspedisi untuk menaklukkan Melayu dengan pusat Kerajaan Darmasraya di Jambi, Swarnnabhumi (Sumatera).  

Setelah Sriwijaya yang telah bergeser dari Palembang ke Jambi dapat ditaklukkan, kerajaan dari Jawa tersebut justru mengalami masa keruntuhan dan tidak dapat mengawasi daerah taklukannya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sejumlah gerombolan bajak laut untuk menguasai perairan di daerah taklukan Sriwijaya di bawah pimpinan Liang-tau-ming, sedangkan daerah Palembang dikuasai oleh bajak laut Ch`en-Tsu-yi. Dengan dikuasainya perairan oleh bajak laut, maka mulai saat itulah Kerajaan Sriwijaya dikatakan telah runtuh.  

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya ternyata berdampak sangat luas karena selama berabad-abad fungsi emporium telah diperankan oleh Sriwijaya. Fungsi ini mulai hilang seiring dengan merosotnya pengaruh kekuasaan Sriwijaya pada awal abad ke-13. Hilangnya Sriwijaya sebagai emporium di nusantara berakibat pada mulai terpencarnya pusat-pusat perdagangan di nusantara, antara lain berpusat di Pidie dan Samudera Pasai.

Silsilah

Silsilah raja-raja di Kerajaan Sriwijaya sampai saat ini belum ditemukan secara utuh. Beberapa data yang dihimpun merupakan fragmen yang dirangkai menurut alur waktu dari abad ke-7 sampai menjelang runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Beberapa sumber yang dipakai dalam penulisan ini diambil dari Paul Michel Munoz (2006:175); Marwati Djoenoed Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (1993); dan Slamet Muljana (1981). Silsilah raja-raja di Sriwijaya sebagai berikut:

Dapunta Hyang Sri Jayanaga (683 M). Selama masa pemerintahannya, Raja Dapunta Hyang Sri Jayanaga telah menuliskan Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), dan Kota Kapur. Selain itu, Dapunta Hyang Sri Jayanagajuga menaklukkan Kerajaan Melayu dan Tarumanegara.
Indravarman (702 M). Selama masa kepemimpinan Indravarman, dikirim utusan ke Tiongkok pada 702-716 M,dan 724 M.
Rudra Vikraman atau Lieou-t`eng-wei-kong (728 M). Selama masa kepemimpinan Rudra Vikraman, dikirim utusan ke Tiongkok pada 728-748 M.
Dharmasetu (790 M).
Wisnu (795 M) dengan gelar Sarwarimadawimathana yang artinya  “pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa “ (775 M). Selama kepemimpinannya, Raja Wisnu memulai pembangunan Candi Borobudur pada 770 M dan menaklukkan Kamboja Selatan.
Samaratungga (792 M). Selama kepemimpinan Raja Samaratungga, Sriwijaya kehilangan daerah taklukannya di Kamboja Selatan pada 802 M.
Balaputra Sri Kaluhunan (Balaputradewa) (835 M). Raja ini memerintahkan pembuatan biara untuk Kerajaan Cola di India dengan meninggalkan Prasasti Nalanda.
Sri Udayadityawarman (960 M). Selama kepemimpinannya,  Raja Sri Udayadityawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 960 M.
Sri Wuja atau Sri Udayadityan (961 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Udayadityan mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 961-962 M.
Hsiae-she (980 M). Selama kepemimpinannya, Raja Hsiae-she mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 980-983 M.
Sri Cudamaniwarmadewa (988 M). Saat beliau memerintah, terjadi penyerangan dari Jawa.
Sri Marawijayottunggawarman (1008 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Marawijayottunggawarman mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1008 M.
Sumatrabhumi (1017 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sumatrabhumi mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1017 M.
Sri Sanggramawijayottunggawarman (1025). Selama kepemimpinan Raja Sri Sanggramawijayottunggawarman, Sriwijaya dapat dikalahkan oleh Kerajaan Cola dan sang raja sempat ditawan.
Sri Deva (1028 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Deva mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1028 M.
Dharmavira (1064 M).
Sri Maharaja (1156 M). Selama kepemimpinannya, Raja Sri Maharaja mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1156 M.
Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva (1178 M). Selama kepemimpinannya, RajaTrailokaraja Maulibhusana Varmadeva mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 1178 M.
Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia.
Sistem Pemerintahan

Sebagai kerajaan maritim, wilayah Sriwijaya ternyata membutuhkan pengawasan yang ekstra karena luasnya kekuasaan kerajaan ini. Untuk menjaga eksistensi kekuasaan, Raja Sriwijaya menerapkan beberapa kebijakan, misalnya saja dalam beberapa prasasti dituliskan tentang kutukan bagi siapa saja yang tidak taat pada raja, seperti dalam Prasasti Telaga Batu dan Kota Kapur. Fungsi ancaman (kutukan) ini semata-mata untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja terhadap daerah taklukannya. Selain kutukan, terdapat pula prasasti yang menjanjikan hadiah berupa kebahagiaan terhadap siapa saja yang tunduk terhadap Sriwijaya, seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur.

Selain berisi kutukan, Prasasti Telaga Batu juga memuat tentang penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya, seperti misalnya yuvaraja (putra mahkota), pratiyuvaraja(putra raja kedua), rajakumara (putra raja ketiga), rajaputra (putra raja keempat),bhupati (bupati), senapati (pemimpin pasukan), nayaka, pratyaya, haji pratyaya(orang kepercayaan raja?), dandanayaka (hakim), tuha an vatak vuruh (pengawas kelompok pekerja), addhyaksi nijavarna, vasikarana (pembuat pisau), kayastha (juru tulis), sthapaka (pemahat), puhavam (nakhoda kapal), vaniyaga, pratisara, marsi haji, hulunhaji (saudagar, pemimpin, tukang cuci, budak raja), datu, dan kadatuan.

Secara struktural, Raja Sriwijaya memerintah secara langsung terhadap seluruh wilayah kekuasaan (taklukan). Di beberapa daerah taklukan ditempatkan pula wakil raja sebagai penguasa daerah. Wakil raja ini biasanya masih keturunan dari raja yang memimpin. Maka masuk akal jika dijumpai pula prasasti yang berisi kutukan untuk anggota keluarga kerajaan. Maksud dari kutukan ini adalah untuk menunjukkan sikap keras dari raja yang berkuasa, sekaligus suatu sikap dari raja yang tidak menghendaki kebebasan bertindak yang terlalu besar pada penguasa daerah. Sikap semacam ini sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja sebagai penguasa tertinggi di Sriwijaya. Sikap ini juga sekaligus dilakukan untuk meredam upaya kudeta yang mungkin terjadi pada penguasa daerah, meskipun para penguasa tersebut masih keluarga ataupun keturunan raja.

Kontrol kekuasaan juga dilakukan melalui kekuatan militer. Sebagimana disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang Sri Jayanaga memimpin pasukan sebanyak 20.000 tentara untuk menaklukkan daerah Ma-ta-dja (?), yaitu sebuah daerah yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli, di antaranya Coedes dan N.J. Krom.  Jumlah 20.000 tentara pada abad ke-7 tentu saja akan bertambah berkali lipat ketika Sriwijaya sanggup meluaskan daerah taklukkan sampai ke Asia Tenggara. Kontrol wilayah juga bisa dilakukan dengan pengerahan pasukan apabila diketahui ada penguasa wilayah yang tidak tunduk terhadap Raja Sriwijaya.

Di sisi lain, Sriwijaya juga mengadakan hubungan diplomasi dengan Tiongkok, India, dan Cola. Seperti dikutip dalam buku Sriwijaya (1996), hubungan diplomasi dengan jalan pengutusan antara Sriwijaya dengan Tiongkok pertama kali terjadi pada 713 M dan 714 M. Pengiriman utusan selanjutnya dilakukan pada 960 M, 962 M, 980 M, dan 983 M. Pada 992 M datang kabar dari Kanton bahwa Sriwijaya sedang diserang tentara dari Jawa. Utusan yang telah terlanjur berada di Tiongkok kemudian berangkat ke Campa akan tetapi keberangkatan ke Sriwijaya dari Campa terpaksa dibatalkan karena peperangan kembali berkobar di Sriwijaya. Atas terjadinya peperangan ini, utusan Sriwijaya akhirnya kembali ke Tiongkok dan meminta kepada Kaisar Tiongkok untuk menyatakan bahwa Sriwijaya berada dibawah perlindungan Tiongkok. Utusan kembali dikirimkan oleh Sriwijaya pada 1003.

Pada 1008 Raja Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yaitu Marawijaya) mengirimkan tiga utusan untuk mempersembahkan upeti kepada kaisar Tiongkok . Beberapa uraian di atas menjelaskan bahwa telah terjadi hubungan segitiga antara Sriwijaya-Tiongkok-India  (yang diwakili oleh Marawijaya). Hubungan ini semata-mata dilakukan oleh Sriwijaya karena usaha penggalangan kekuatan dalam menghadapi serangan dari luar, misalnya saja ketika Sriwijaya mendapat serangan dari Jawa pada 992 M.

Wilayah Kekuasaan

Menurut Slamet Muljana, alasan perluasan wilayah bagi Sriwijaya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat (Slamet, 1981:68). Maka berdasarkan alasan ini, dimulailah politik perluasan wilayah oleh Sriwijaya yang mula-mula menaklukkanBangka kemudian Kerajaan Melayu di Jambi untuk mengambil alih peran sebagai penguasa lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Selat Malaka. Penguasaan atasBangka dan Kerajaan Melayu terjadi antara tahun 672-682 M atau akhir abad ke-7.

Pada 682 M Sriwijaya meluaskan kekuasaan dengan menaklukkan daerah Minanga Tamwan, yaitu sebuah daerah di sebelah barat laut Melayu. Penaklukkan terhadap Minanga Tamwan ini ditulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Setelah menundukkan Minanga Tamwan, perluasan kekuasaan selanjutnya mengarah ke utara menuju pantai barat Semenanjung untuk menaklukkan Kedah yang dilakukan kira-kira antara tahun 685-688 M. Setelah berhasil menaklukkan Kedah, Sriwijaya kemudian berhasil menaklukkan Kerajaan Tulang Bawang yang terletak di Muara Sungai Tulang Bawang, Lampung. Penaklukkan ini tertulis dalam Prasasti Palas Pasemah. Pada 686 M kekuatan militer Sriwijaya melakukan ekspedisi penaklukan ke Jawa. Ekspedisi ini sukses menaklukkan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Penaklukan terhadap Tarumanegara tertulis dalam Prasasti Kota Kapur. Pada abad ke-8, Sriwijaya menaklukkan daerah Ligor yang terletak di pantai timur Semenanjung.

Dimulai dari abad ke-7 sampai 12, wilayah kekuasaan Sriwijaya telah membentang dari Sumatera sampai ke Asia Tenggara. Menurut Jainal D. Rasul (2003), disebutkan bahwa pada abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya telah meliputi Sumatera, Sri Lanka, Semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Kekuasaan yang sangat besar ini menempatkan Sriwijaya sebagai sebuah imperium yang hebat sampai abad ke-13.

Sedangkan dalam berita Tiongkok yang ditulis oleh Chau Ju-Kua, disebutkan bahwa pada permulaan abad ke-13, Sriwijaya telah memiliki sedikitnya 15 daerah taklukan. Daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya tersebut adalah: Pang-fang (Pahang), Teng-ya-nung (Trengganu), Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Ki-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (Kuala Berang), Ji-lo-ting (?), Cheng-mai (?), Pa-t`a (?), Tan-ma-ling (Tambralingga), Kia-lo-hi (Grahi), Pa-lin-fong (Palembang), Sun-to (Sunda), Kien-pi (Kampe), Lan-wu-li (Lamuri), dan Si-lan (Ceylon).‎ 

Kehidupan Sosial-Budaya

Selama beberapa abad, Kerajaan Sriwijaya menempatkan diri sebagai pusat perdagangan dengan mendirikan pelabuhan, menjadi pusat kekuasaan di pantai Sumatera Timur, dan menguasai jalur pelayaran. Masa keemasan kekuasaan Sriwijaya di bidang kemaritiman, khususnya perdagangan bahkan sampai meliputi sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera Utara, dan Selat Sunda. Komoditas perdagangan kala itu adalah tekstil, kapur barus, mutiara, kayu berharga (misalnya kayu gaharu), rempah-rempah, gading, kain katun, perak, emas, sutera, gula, dan sebagainya. Ramainya pelabuhan yang ada di wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, bisa dilihat dari datangnya banyak pedagang yang berasal dari mancanegara, seperti Persia, Arab, India, dan Tiongkok.

Selain pusat perdagangan, Kerajaan Sriwijaya juga berfungsi sebagai pusat pengembangan agama Buddha di nusantara. Beberapa pendeta Buddha sengaja datang ke kerajaan ini untuk menggali ajaran Buddha. Mereka antara lain, I-Tsing dan Sakyakirti dengan kitab suci karangannya, Hastadandasastra yang kemudian pada 717 M diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa oleh I-Tsing.

I-Tsing, seorang pendeta Buddha, sekitar tahun 672 M melakukan perjalanan dari Kanton menuju India dan singgah di She-li-fo-she (Sriwijaya) selama 6 bulan untuk belajar sabdavidya atau tata bahasa Sanskerta. Dalam pengamatan I-Tsing yang kemudian ditulis dalam berita Tiongkok, saat itu di Sriwijaya terdapat sekitar 1.000 orang pendeta yang menguasai pengetahuan agama seperti halnya di Madhyadesa (India). Ditambahkan pula oleh I-Tsing, bagi para pendeta Tiongkok yang akan belajar kitab Buddha yang asli di Nalanda (India), sebaiknya belajar terlebih dahulu di Sriwijaya selama 2 tahun, setelah itu baru pergi ke India.

Untuk kedua kalinya I-Tsing datang ke Sriwijaya pada 689 M. Selama 7 tahun, I-Tsing menetap di Sriwijaya dan menulis dua karya, yaitu T`ang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan dan Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan. Pada 1894, T`ang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Adouard Chavannes dengan judul Voyages des pelerins bouddistes, les religieux eminents qui allerent chercher la loi dans les pay d`occident, Memoire compose a l`epoque de la grande dynastie T`ang par I-tsing. ‎Sedangkan karya I-Tsing yang berjudul Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan, diterjemahkan oleh oleh J. Takakusu pada 1896 dengan judul A Record of the Buddisht religion as practised in India and the Malay Archipelago

Masa akhir Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti Kerajaan Pala (Nalanda) di Benggala dan Kerajaan Cholamandala di pantai timur India Selatan.

Sekitar abad ke-8 M hingga abad ke-11 M daerah Benggala diperintah oleh raja-raja dari Dinasti Pala. Seorang rajanya yang terbesar bernama Raja Dewa Paladewa (abad ke-9 M). Hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Kera¬jaan Pala amat baik, terutama dalam bidang kebudayaan dan agama. Kedua kerajaan ini menganut agama Buddha. Hubungan baik ini dibuktikan dengan Prasasti Nalanda (860 M). Di samping pembebasan lima desa dari pajak, prasasti itu juga berisi pernyataan bahwa Raja Balaputra Dewa terusir dari Kerajaan Syailendra akibat kalah perang melawan kakaknya Pramo-dhawardani dan kemudian diangkat menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, hubungan dengan Kerajaan Pala adalah untuk mendapat-kan dukungan dalam memperkuat kedudukannya menjadi raja di Sriwijaya.

Kemudian hubungan Sriwijaya dengan kerajaan Cholamandala pada awalnya hubungan kedua kerajaan itu amat baik. Raja Sriwijaya yang bernama Sanggrama Wijayattunggawarman mendirikan satu biara (1006 M) di Kerajaan Chola untuk tempat tinggal para bhiksu dari Kerajaan Sriwijaya.

Persahabatan kedua kerajaan berubah menjadi permusuhan akibat persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan. Raja Rajendra Chola yang berkuasa di Kerajaan Cholamandala melakukan dua kali serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Serangan pertama tahun 1007 M mengalami kegagalan. Namun, serangan kedua (1023/1024 M) berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya/ bahkan Raja Sanggrama Wijayattunggawarman berhasil ditawan.

Serangan itu tidak mengakibatkan terjadinya penjajahan, karena tujuannya hanya membinasakan armada Kerajaan Sriwijaya. Jika kekuatan Kerajaan Sriwijaya berhasil ditaklukkan, maka jaringan pelayaran perdagangan di wilayah Asia Tenggara hingga India dapat dikuasai oleh Kerajaan Chola.

Walaupun serangan Kerajaan Chola tidak mematikan Kerajaan Sriwijaya, tetapi untuk sementara kekuatan Sriwijaya lumpuh. Kelumpuhan Kerajaan Sriwijaya merupakan peluang baik bagi Airlangga di Jawa Timur yang dengan cepat menyusun kekuatan angkatan perangnya, baik di darat maupun di laut. Dalam waktu singkat keruntuhan Kerajaan Dharmawangsa dapat ditegakkan kembali, sehingga ketika kekuatan Kerajaan Sriwijaya pulih kembali, di Jawa Timur telah berdiri negara besar dan kuat, sebagai saingannya.

Pada akhir abad ke-13 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh faktor politik dan ekonomi.

Faktor Politik Kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga memiliki kepentingan dalam dunia perdagangan, seperti Kerajaan Siam di sebelah utara. Kerajaan Siam memperluas kekuasaannya ke arah selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaka termasuk Tanah Genting Kra. Jatuhnya Tanah Genting Kra ke dalam kekuasaan Kerajaan Siam mengakibatkan kegiatan pelayaran perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang.

Dari daerah timur, Kerajaan Sriwijaya terdesak oleh perkembangan Kerajaan Singosari, yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Kertanegara. Kerajaan Singasari yang bercita-cita menguasai seluruh wilayah Nusantara mulai mengirim ekspedisi ke arah barat yang dikenal dengan istilah Ekspedisi Pamalayu, dipimpin oleh Adityawarman. Dalam ekspedisi ini, Kerajaan Singosari mengadakan pendudukan terhadap Kerajaan Melayu, Pahang, dan Kalimantan, sehingga mengakibatkan kedudukan Kerajaan Sriwijaya makin terdesak.
Faktor Ekonomi Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di Kerajaan Sriwijaya semakin berkurang, karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya telah jatuh ke kekuasaan raja-raja sekitarnya. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyeberangan ke Tanah Genting Kra atau yang melakukan kegiatan ke daerah Melayu (sudah dikuasai Kerajaan Singosari) tidak lagi melewati wilayah kekuasaan Sriwijaya. Keadaan seperti ini tentu mengurangi sumber pendapatan kerajaan.
Dengan alasan faktor politik dan ekonomi, maka sejak akhir abad ke-13 M Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas pada daerah Palembang. Kerajaan Sriwijaya yang kecil dan lemah akhirnya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit tahun 1377 M.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar