Translate

Sabtu, 23 September 2017

Kaidah Imam Asy-syafi'i Dalam Masalah Beda Niat Antara Imam Dan Makmum

Bolehkah berbeda niat antara imam dan makmum? Misalkan, makmum telat dan baru bangun tidur, belum melaksanakan shalat Zhuhur, sedangkan imam sedang mengerjakan shalat ‘Ashar. Atau misalkan pula, seseorang sedang melaksanakan shalat sunnah lalu ada makmum yang datang dan berniat melaksanakan shalat wajib di belakangnya.

Lalu kemudian muncul pertanyaan dari beberapa teman, “itu kalau sholat sunnah dan imam sholat wajib. Dan juga sebaliknya. Lalu bagaimana kalau imam dan makmum sama-sama sholat wajib, tapi berbeda jenis kewajibannya. Contohnya Imam sholat zuhur sedangkan makmum sholat ashar. Bagaimana, apakah itu juga sah?”

Dan masalahnya memang sama saja, yaitu bertumpu pada “perbedaan niat” antara Imam dan makmum. Apakah niat itu disyaratkan harus sejalan atau boleh berbeda?

Dalam masalah ini Imam Malik dan Imam Hanafi tidak membolehkan adanya perbedaan niat antara Imam dan makmum dalam sholat. Karena sejatinya sholat berjamaah itu haruslah tidak boleh ada perbedaan antara Imam dan makmum. Hanya saja Imam hanafi membolehkan makmum sholat sunnah dibelakang sholat wajib, selain itu tidak boleh.

Sedangkan 2 imam mazhab lainnya; Mazhab Syafi’I dan Hambali membolehkan terjadinya perbedaan niat antara Imam dan makmum. Apapun jenis sholatnya, Imam sholat wajib dan makmum sunnah. Imam Sunnah dan makmum wajib. Atau juga Imam dan Makmum sama-sama sholat wajib tapi berbeda jenis wajibnya, seperti ashar dan zuhur.(Al-Majmu' 4/272)

Bahkan Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir mengatakan kalau pendapat Imam syafi’I yang membolehkan perbedaan niat itu adalah Ijma’ (Konsensus) para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. (Al-Hawi Al-Kabir 2/316)

Mengenai masalah ini akan terjawab dengan kaedah Imam Syafi’i rahimahullah yang dibahas dalam tulisan sederhana berikut.

Kaedah Imam Syafi’i Mengenai Beda Niat antara Imam dan Makmum

Kata Al Baidhowi sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar, niat adalah istilah untuk geraknya hati. Sehingga dari pengertian, namanya niat tentu di hati, bukan di lisan.

Ada kaedah yang disampaikan oleh Imam Asy Syafi’i mengenai masalah niat ini. Beliau rahimahullah berkata,

ونية كل مصل نية نفسه لا يفسدها عليه أن يخالفها نية غيره وإن أمه

“Niat setiap orang yang melaksanakan shalat adalah niat bagi dirinya sendiri. Niat orang lain yang mengimaminya jika berbeda tidak membuat cacat ibadahnya.” (Al Umm, 1: 201)

Kaedah Imam Syafi’i khusus membahas hukum seputar shalat jama’ah, yaitu bagaimana jika ada perbedaan niat antara imam dan makmum. Setiap yang shalat berniat untuk dirinya sendiri. Yang ia niatkan boleh jadi adaa’(kerjakan shalat di waktunya) atau qodho’ (mengganti shalat di luar waktu), seperti yang satu mengerjakan shalat Zhuhur dan lainnya shalat ‘Ashar. Boleh jadi niatannya adalah shalat wajib, yang lainnya shalat sunnah, seperti imamnya berniat shalat sunnah fajar, yang makmum berniat shalat Shubuh. Tidak mengapa ada beda niat semacam ini selama pengerjaan shalatnya sama.

Dalil Kaedah

Beberapa dalil yang mendukung kaedah Imam Syafi’i di atas adalah sebagai berikut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ يَأْتِى قَوْمَهُ فَيُصَلِّى بِهِمْ

Dari Jabir, ia berkata bahwa Mu’adz pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mendatangi kaumnya dan mengerjakan shalat bersama mereka. (HR. Bukhari no. 711 dan Muslim no. 465)

Pendalilan: Dalil di atas menunjukkan sahnya shalat orang yang mengerjakan shalat fardhu di belakang orang yang mengerjakan shalat sunnah. Karena Mu’adz di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengerjakan shalat wajib. Lantas ia kembali ke kaumnya untuk mengimami mereka dengan niatan shalat sunnah bagi Mu’adz, sedangkan kaumnya berniat shalat wajib.

عن عطاء قال وإن أدركت العصر بعد ذلك ولم تصل الظهر فاجعل التى أدركت مع الامام الظهر وصل العصر بعد ذلك

Dari ‘Atho’, ia berkata, “Jika engkau mendapati waktu ‘Ashar dan belum melaksanakan shalat Zhuhur, maka niatkan bersama imam dengan shalat Zhuhur, setelah itu barulah engkau melaksanakan shalat ‘Ashar.” (Diriwayatkan oleh Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm, 1: 200).

Imam Syafi’i berkata,

وإذا لم تفسد صلاة المأموم بفساد صلاة الامام كانت نية الامام إذا خالفت نيه المأموم أولى أن لا تفسد عليه

“Jika shalat imam batal, shalat ma’mum tidaklah batal. Maka demikian pula jika niat imam berbeda dengan niat ma’mum, itu tidak masalah.” (Al Umm, 1: 201)

Di halaman yang sama dalam Al Umm, Imam Syafi’i rahimahullah juga berkata,

وإذا صلى الامام نافلة فائتم به رجل في وقت يجوز له فيه أن يصلى على الانفراد فريضة ونوى الفريضة فهى له فريضة كما إذا صلى الامام فريضة ونوى المأموم نافلة كانت للمأموم نافلة لا يختلف ذلك وهكذا إن أدرك الامام في العصر وقد فاتته الظهر فنوى بصلاته الظهر كانت له ظهرا ويصلى بعدها العصر

“Jika imam melaksanakan shalat sunnah, lalu datang seseorang bermakmum di belakangnya pada saat itu, maka boleh ia berniat dengan niatan ia sendiri yaitu niatan shalat fardhu. Makmum tersebut mendapatkan niat shalat fardhu. Sebagaimana juga ketika imam melaksanakan shalat fardhu, lalu makmum berniat shalat sunnah, maka makmum diperbolehkan seperti itu. Tidaklah bermasalah adanya perbedaan niat kala itu. Begitu pula ketika seseorang mendapati imam melaksanakan shalat ‘Ashar, namun ia ada udzur luput dari shalat Zhuhur, maka ia boleh berniat shalat Zhuhur di belakang imam yang melaksanakan shalat ‘Ashar kemudian setelah itu ia melaksanakan shalat ‘Ashar. ” (Al Umm, 1: 201)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

في مذاهب العلماء في اختلاف نية الامام والمأموم: قد ذكرنا أن مذهبنا جواز صلاة المتنفل والمفترض خلف متنفل ومفترض

“Menurut pendapat para ulama dalam hal perbedaan antara niatan imam dan makmum, sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa menurut madzhab kami, madzhab Syafi’i, boleh adanya beda niat antara imam dan makmum di mana imam melaksanakan shalat sunnah atau shalat wajib dan makmum melaksankan shalat sunnah dan shalat wajib.” (Al Majmu’, 4: 271)

Sedangkan mengenai hadits,

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

“Imam itu diangkat untuk diikuti” (Muttafaqun ‘alaih). Yang dimaksud adalah mengikuti imam dalam hal gerekan dan bukan dalam niat. Karena jika seperti itu dibebani, ini adalah pembebanan yang tidak mungkin dilakukan. Dan di dalam hadits juga disebutkan mengenai gerakan,

فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا

“Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah.”

Contoh Lain dalam Penerapan Kaedah

Contoh lain dalam penerapan kaedah Imam Syafi’i di atas:

1- Imam Syafi’i dalam Al Umm (1: 185) berkata,

وإذا افتتح الرجل الصلاة لنفسه لا ينوى أن يؤم احدا فجاءت جماعة أو واحدا فصلوا بصلاته فصلاته مجزئة عنهم وهو لهم إمام ولا فرق بينه وبين الرجل ينوي أن يصلى لهم ولو لم يجز هذا لرجل لم يجز أن ينوي إمامة رجل أو نفر قليل بأعيانهم لا ينوى إمامة غيرهم ويأتى قوم كثيرون فيصلون معهم ولكن كل هذا جائز إن شاء الله تعالى وأسأل الله تعالى التوفيق.

“Jika seseorang memulai shalat untuk dirinya sendiri tanpa berniat menjadi imam bagi yang lain, lalu ada jama’ah atau satu orang shalat di belakangnya, maka shalat orang yang shalat lebih dulu tadi sah untuk mereka. Ia ketika itu menjadi imam untuk mereka. Tidak ada bedanya antara dia dengan orang yang sejak awal sudah berniat menjadi imam. Seandainya hal ini tidak dibolehkan maka jika ada yang berniat imam untuk seseorang atau sekelompok orang lalu datang lagi jama’ah lainnya kala itu, tentu ia tidak boleh jadi imam untuk yang datang terlambat. Intinya semuanya itu boleh -insya Allah Ta’ala-. Aku memohon pada Allah taufik.”

2- Juga Imam Syafi’i menyebutkan dalam Al Umm (1: 209),

ولو صلى مسافر بمسافرين ومقيمين ونوى أن يصلى ركعتين فلم يكمل الصلاة حتى نوى أن يتم الصلاة بغير مقام أو ترك الرخصة في القصر كان على المسافرين والمقيمين التمام ولم تفسد على واحد من الفريقين صلاته

“Seandainya ada musafir yang mengimami para musafir dan orang mukim, di awal imam tersebut berniat dengan shalat dua raka’at (qoshor). Namun ternyata ia meniatkan menyempurnakan shalat (menjadi empat raka’at) setelah itu dengan meninggalkan rukhsoh shalat dua raka’at. Ketika itu shalat makmum musafir dan mukim di belakangnya yang sempurna (dengan empat raka’at) tidaklah batal karena shalat mereka masing-masing tidak merusak shalat yang lain.”

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar