Translate

Minggu, 06 Desember 2015

Penjelasan Tentang Penciptaan Manusia

MAHA suci Allah yang telah mempercayakan kesempurnaan fisik dan mental kepada kita setelah melewati proses penciptaan yang panjang dalam kehidupan ini. Tujuan Allah SWT memberikan kesempurnaan kepada kita adalah agar kita dapat melihat, mendengar, dan merasakan betapa besar dan luar biasa semua ciptaan-Nya. Maka dengan kesempurnaan yang didapat dari proses yang panjang itu, saudaraku, apa lagikah yang menyebabkan kita harus mengingkari kekuasaan-Nya sehingga kita tidak bersyukur atas apa-apa yang telah Dia berikan kepada kita?

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

“Katakanlah, ‘Dialah yang menciptakan kalian dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kalian. (Tatapi) sedikit sekali kalian bersyukur’,”(QS. Al-Mulk: 23).

Surah al-Mulk ayat 23 ini merupakan salah satu dari sekian banyak ayat yang berbicara tentang penciptaan manusia. Pada ayat ini, proses penciptaan manusia hanya disinggung sekilas lewat kata ansya ‘akum. Sementara di beberapa ayat lain, proses penciptaan dijelaskan dengan cukup rinci.

Salah satu kisah yang dituturkan al-Qur`an adalah kisah Nabi Adam Alayhi al-Salām . Kisah nabi Adam ‎Alayhi al-Salām dituturkan dalam fragmen-fragmen yang tersebar di berbagai surat. Masing-masing fragmen dituturkan dalam konteks wacana, style bahasa, dan sifat keluasan cerita yang berbeda. Jadi, kisah nabi Adam Alayhi al-Salām  disebutkan lebih dari sekali di tempat yang berbeda tetapi dengan style bahasa, sifat keluasan dan dalam konteks wacana yang berbeda.

Hal itu dapat dipahami, sebab al-Qur`an bukanlah teks sejarah, meskipun di dalamnya terdapat kisah-kisah yang menceritakan tokoh dan kehidupan di masa lampau. Tujuan utama penuturan kisah masa lalu dalam al-Qur`an bukanlah untuk memenuhi hasrat keingin-tahuan manusia akan cerita sejarah, tetapi lebih merupakan upaya untuk menjadikan sejarah sebagai pelajaran. Karena itu, al-Qur`an hanya mengmabil bagian-bagian terpenting dari suatu sejarah yang dapat dijadikan pelajaran bagi kehidupan umat manusia.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ …

Dengan demikian kisah-kisah dalam al-Qur`an bukanlah suatu cerita yang lengkap yang meliput berbagai aspek peristiwa. Seringkali tidak terdapat penyebutan tempat atau waktu kejadian, apalagi urutan ruang dan waktu.
Nabi Adam as proses penciptaannya benar-benar detail. Bahkan, di beberapa ayat, Allah ta’ala mengurai mengenai kejadian Nabi Adam as. Di mana secara khusus di surat al-baqarah dibahas mengenai penciptaan manusia pada ayat ke 30-39. Jelas sekali, bahwa penciptaan Nabi Adam, terlepas dari proses penciptaannya, benar-benar memegang amanah sebagai seorang khalifah Allah ta’ala di muka bumi. Yang tugas mulianya adalah menciptakan kehidupan yang serba seimbang. Yang sebelumnya banyak diwarnai dengan peperangan, pertumpahan darah, dan dis-harmoni. ‎

Manusia yang kemudian mendapat amanah menjadi khalifah Allah di muka bumi. Yang disebut Adam. Karena memang diciptakan dari tanah. Ada tanah liat. Tanah tembikar. Tanah lumpur hitam. Yang kesemuanya secara proses yang sangat revolusioner, ditiupkan ruh Allah kepada Adam tersebut. Jadi, proses kejadian Adam secara personal benar-benar dari tanah. Baru setelah hidup berdampingan dengan Ibunda Hawa as. Regenasi Adam mengalami proses bilogis seperti lazimnya kejadian manusia dalam sejarahnya. 8)

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8)

Artinya : “yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (Q.s. As-Sajdah [32] : 7-8)

Di dalam Al Qur’an tersebut merupakan Teori Penciptaan Manusia yang menjelaskan 2 kategori :
Menjelaskan tentang penciptaan Nabi Adam yang oleh Allah diciptakan dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya.
Menjelaskan bahwa dari penciptaan adam akan menjadikan keturunannya (cucu adam) yang berasal dari air yang hina ( air mani ).

Maka dapat kita ambil kesimpulan berarti hakekatnya kita diciptakan berasal dari tanah, yang menjadi persoalan adalah apa hubungannya tanah dengan air mani. Untuk itu itu dijelaskan dalam hadits dari Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Abu Musa, dari Nabi Muhmmad saw, beliau bersabda :

"إِنَّ اللهَ خَلََقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جمَِيْعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُوْ آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ، جَاءَ مِنْهُمُ اْلأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ ، وَبَيْنَ ذَلِكَ،وَالسَّهْلُ وَ الحَزْنُ وَالْخَبِيْثُ وَالطِّيْبُ، وَبَيْنَ ذَلِكَ".

“sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggaman tanah yang digenggam-Nya dari seluruh permukaan bumi. Kemudian anak-anak adam datang sesuai dengan kadar warna tanah. Diantara merekaada yang merah, putih, hitam, dan perpaduan antara warna-warni tersebut, ada yang lembut dan ada yang kasar (keras), ada yang jahat dan ada juga yang baik, atau diantara keduanya”.

Ini menunjukan bahwa antara tanah dengan air mani (saripati tanah) ada kaitannya, karena didalam hadits tersebut dijelaskan bahwa karakter serta warna kulit itu tergantung tanah. Yang menjadi perosalan bagaimana tanah itu bisa menjadikan karakter serta warna kulit. Tentu ini perlu penjelasan yang lebih mendalam karena yang dimaksud طِينٍ (tanah) pada surat As-Sajdah :7 adalah saripati tanah. Karena telah dijelaskan dalam surat al-mu’minun ayat 12

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

“dan sungguh, kami telah menciptakaan manusia dari saripati (berasal) dari tanah”.

Didalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa Alah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan mengenai penciptaan manusia dari saripati (berasal) dari tanah yang dimaksud adalah nabi Adam.

Maka dari itu sudah jelas bahwa air mani itu lahir dari darah yang terjadi dari makanan, baik yang bersifat hewani maupun yang bersifat nabati. Makanan yang bersifat hewani akan berakhir pada makanan yang bersifat nabati. Dan tumbuh – tumbuhan lahir dari saripati tanah dan air. Jadi, pada hakekatnya manusia lahir dari saripati tanah, kemudian saripati itu mengalami perkembangan kejadian hingga menjadi air mani.

Hadis tentang penciptaan Manusia pertama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم، قَالَ : إِنَّ اللَّهَ خُلِقَ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ، ثُمَّ جَعَلَهُ طِينًا، ثُمَّ تَرَكَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ حَمَأً مَسْنُونًا خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، ثُمَّ تَرَكَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ صَلْصَالاً كَالْفَخَّارِ، قَالَ : فَكَانَ إِبْلِيسُ يَمُرُّ بِهِ، يَقُولُ : لَقَدْ خُلِقْتَ لأَمْرٍ عَظِيمٍ، ثُمَّ نَفَخَ اللَّهُ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ، وَكَانَ أَوَّلَ شَيءٍ جَرَى فِيهِ الرُّوحُ بَصَرَهُ وَخَشاَ شِيمَهُ فَعَطَسَ ، فَقال الحمدلله ، فَقَالَ الله : يَرْحَمُكَ رَبُّكَ (رواه الترمذى)


Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Saw berkata: sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menjadikannya sebagai tanah liat lalu meninggalkannya. Hingga ketika telah menjadi lumpur yang busuk, dia menciptakannya dan membentuknya kemudian meninggalkannya, hingga ketika telah menjadi shalshal (tanah liat bercampur pasir) maka iblis lewat padanya seraya berkata, sunggunh engkau telah diciptakan untuk urusan yang besar. Kemudian Allah meniupkan padanya dari ruh-Nya. Adapun bagian yang pertama kali ruh berjalan padanya adalah pandangannya serta lubang hidungnya. Maka ia bersin dan berkata alhamdulillah (segala puji bagi Allah) Allah berfirman, Tuhanmu merahmatimu. HR Tirmidzi
Hadis di atas menceritakan bagaimana proses penciptaan Nabi Adam as. Nabi Adam pertama kali diciptakan dari tanah, yang dimaksud tanah di sini adalah unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah yang dinamai zat-zat anorganis. Kemudian Allah menjadikan turab ituthin dan yang dimaksud thin adalah atom zat air atau hidrogenium.

Shalshal adalah tanah kering yang belum disentuh api. Apabila engkau menggerakkannya maka engkau akan mendengar bunyi, jika telah dibakar dengan api dinamakan fakhkar.

Dari semua unsur yang disebutkan di atas jika dilihat dari ilmu pengetahuan maka proses penciptaan Nabi Adam adalah dengan adanya persenyawaan. Lebih jelasnya persenyawaan antara fakhkhar, shalshal, hamaain dan thinkemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan mangaan. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut "Turab" (zat-zat anorganis). Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah "Zat Kalium", yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya "Proteinisasi", menjelmakan "proses penggantian" yang disebut "Substitusi". Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga "sebab ujud" atau Causa Formatis.

Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika.

Begitulah proses penciptaan Adam menurut hadis di atas yang mana jika dilihat dari ilmu penegetahuan maka proses penciptaannya melalui proses persenyawaan seperti penjelasan di atas.

Dalam hadis Bukhori juga disebutkan bahwa Nabi Adam diciptakan dengan tinggi badan enam puluh hasta, hadis tersebut berbunyi sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم، قَالَ : خُلِقَ اللَّه آدمَ، وَطُوْلُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا ثم قال: اِذْهَبْ فَسَلِّمْ على أُوْلَئِكَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ، تَحِيَّتَكَ وَ تَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ، فقال السلام عليكم فقلوا السلام عليك ورحمة الله، فزَادُوْهُ (ورحمة الله) فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّة على صورة آدمَ، فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حتى الآن (رواه البخارى)

“dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw bersabda, Allah menciptakan Adam dan panjangnya 60 hasta kemudian Allah berfirman, pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat itu lalu dengarkan penghormatan yang mereka ucapkan, beliau berkata, assalamu’alaikum. Mereka menjawab assalamu’alaika warahmatullah. Mereka menambah kalimat warahmatullah. Setiap orang yang masuk surga sama seperti postur Adam. Ciptaan terus berkurang hingga saat ini.HR Bukhori.

Riwayat ini menguatkan pandangan bahwa maksud kata ganti pada hadis itu adalah Adam. Dengan demikian maknanya adalah Allah menjadikan adam sebagaimana adanya tanpa mengalami pertumbuhan setahap demi setahap dan tidak berada di dalam rahim dalam fase-fase tertentu sebagaimana keturunannya, bahkan Allah menciptakannya langsung menjadi seorang laki-laki yang sempurna sejak awal ruh ditiupkan. Kemudian beliau menyebutkan sesudahnya dan panjangnya enam puluh hasta maka maksud dari kata ganti nya di sini adalah Adam.

Secara zahir, adam sangatlah tinggi pada awal mula penciptaannya. Sementara makna zahir hadis menyatakan bahwa tinggi adam sejak awal adalah 60 hasta, dan inilah yang dijadikan pegangan.

            (semua yang masuk surga sebagaimana bentuk adam). Maksudnya sebagaimana sifatnya. Hal ini menunjukkan bahwa sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan, misalnya hitam dan lain sebagainya maka akan hilang ketika masuk surga. (ciptaan terus berkurang hingga saat ini)maksudnya bahwa setiap abad perkembangan ketinggian mereka semakin berkurang dibandingkan dengan abad sebelumnya. Pengurangan ini berakhir hingga umat ini, dan setelah itu keadaan menjadi stabil.

Proses Tahapan Penciptaan Manusia

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14) ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ (15) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ (16(

Artinya : “dan sungguh, kami telah menciptakaan manusia dari saripati (berasal) dari tanah(12). Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)(13). Kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik (14). Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati (15). Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat(16)”. (Q.s Al-Mu’minun [23]: 12-16)

Didalam ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa bahwa tahapan – tahapan penciptaan manusia berawal dari :

1. Fase Nuthfah

Kami telah menjadikan manusia dari saripati tanah. Segolongan ahli tafisr menyatakan bahwa yang dimaksud dengan manusia disini adalah anak adam. Mereka berkata:“Nuthfah-nuthfah itu adalah darah yang berasal dari makanan, baik daging maupun tumbuhan. Tumbuhan itu berasal dari zat-zat yang terdapat dalam tanah dan air. Karena itu, manusia itu sebenarnya berasal dari saripati tanah, yang kemudian berproses melalui air mani (sperma).

Ada yang berkata bahwa yang dimaksud manusia disini adalah adam dan anak-anak keturunannya, bukan adam saja dan bukan anak keturunannya saja. Adam diciptakan oleh Allah dari tanah liat. Anak keturunan adam dijadikan dari air mani, air mani dari darah, dan darah berasal dari makanan, baik makanan dari bahan baku tumbuhan ataupun daging, dan keduanya berasal dari tanah (bumi). Jika demikian halnya, maka manusia mutlak dijadikan dari tanah sebagaimana yang telah dinashkan dalam surat di atas.

Kemudian nuthfah yang ditempatkan dalam shulbi (tulang sumsum) ayah, yangkemudian dimasukan ke dalam rahim si ibu. Setelah bertemu dengan sel telur ibu, maka terpeliharalah dalam rahim menjadi bayi sampai hari kelahirannya. Sebagaimna dijelaskan juga didalam surat Ath-Thariq (86) : 5-7 :

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7)

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apadiciptakan(5). Manusia diciptakan dari air yang terpancar(6) yang keluar dari antara tulang shulbi dan tara’ib“.

Yang dimaksud dengan (air yang terpancar) adalah sperma yang dicurahkan ke rahim seorang perempuan yang berasal dari tulang punggung lelaki (Shulb). Sementara Tara’ib merupakan organ khusus perempuan, yaitu bagian tubuh tempat mengeuarkan cairan yang membawa sel telur ketika seorang perempuan melakukan hubungan seksual dengan lelaki. Sperma yang memancar itu akan bertemu dengan sel telur sehingga mengakibatkan terjadinya kehamilan. Berpuluh-puluh abad setelah turunnya ayat ini, secara ilmiah ditemukan bahwa kehamilan hanya dapat terjadi dari pertemuan dua cairan, sperma lelaki yang keluar dari shulbi dan perempuan yang keluar dari tara’ib.

Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur'an :

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (39)

“Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)(37). Kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya (38). Lalu dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan (39).(al-Qiyamah [75] : 37 – 39)

Seperti yang telah kita amati, Al-Qur'an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.

Pada ayat diatas, kita saksikan air mani yang dipancarkan ke rahim. Dari keseluruhan sperma berjumlah sekitar 250 juta yang dipancarkan dari tubuh pria, hanya sedikit sekali yang berhasil mencapai sel telur. Sperma yang akan membuahi sel telur hanyalah satu dari seribu sperma yang mampu bertahan hidup. Fakta bahwa manusia tidak diciptakan dengan menggunakan keseluruhan air mani, tapi hanya sebagian kecil darinya, dinyatakan dalam Al Qur'an dengan ungkapan, "setetes mani yang ditumpahkan".

Sperma terbentuk di dalam testis (biji pelir) yang menurut penegasan disiplin embriologi terdiri dari sel-sel yang bertempar di bawah dua ginjal di pinggang, kemudian turun ke bawah perut pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Sperma laki-laki mengandung unsur–unsur pokok sebagai berikut :
Spermatozoa, yang musti memancar kuat dan bergerak aktif jika ingin menghasilkan pembuahan.
Bahan postagladin yang bisa menyebabkan pengerutan pada rahim, sehingga membantu perpindahan spermatozoa ke tempat pembuahan.
Campuran Dalam Air Mani

Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur'an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2)

Artinya : “sungguh, kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kamihendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat”(Q.s. Al-Insan [76] : 2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari "bahan campuran" ini:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8)

"Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina." (Al Qur'an, 32:7-8)

Kata Arab " سُلَالَةٍ", yang diterjemahkan sebagai "sari", berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti "bagian dari suatu kesatuan". Ini menunjukkan bahwa Al Qur'an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

Desain pada sperma

Sperma adalah sel yang bertugas membawa informasi genetis laki-laki ke sel telur dalam tubuh wanita. Bila diamati lebih dekat, sperma terlihat persis seperti sebuah mesin yang khusus didesain untuk mengangkut muatan ini. Bagian depan sperma tertutup oleh perisai. Terdapat sebuah lapisan perisai lain di bawah lapisan pertama tersebut, dan di bawah lapisan kedua ini terdapat kargo muatan yang dibawa oleh sperma tersebut. Dalam muatan ini terdapat 23 kromosom yang dimiliki oleh lelaki tersebut. Segala informasi mengenai tubuh manusia, bahkan sampai yang paling detail, tersimpan dalam kromosom ini. Agar seorang anak manusia terbentuk, 23 kromosom dalam sperma harus bersatu dengan 23 kromosom dalam sel telur Ibu. Dengan cara demikian, bahan dasar pertama manusia berupa 46 kromosom akan terbentuk. Sistem perisai pada kepala sperma tersebut akan melindungi muatan berharga ini dari segala mara bahaya selama perjalanannya. Tapi, desain pada sperma tidak terbatas sampai di sini. Terdapat mesin bertenaga sangat kuat di bagian tengah sperma. Bagian belakang mesin tersebut terhubungkan dengan ekor sperma. Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan kipas angin dan memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Karena terdapat mesin di bagian tengah, ia membutuhkan bahan bakar yang memungkinkannya bekerja. Kebutuhan ini telah diperhitungkan, dan bahan bakar paling produktif untuk mesin tersebut, yaitu fruktosa, telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma. Dengan cara demikian, bahan bakar untuk mesin tersebut telah tersedia di sepanjang perjalanan yang akan ia tempuh.

Dengan desain yang sempurna ini, sang sperma bergerak cepat dan langsung mengarah ke sel telur. Ketika ukuran panjang sperma dan jarak perjalan yang ia tempuh tersebut kita cermati, akan terlihat bahwa sperma layaknya sebuah mesin berkecepatan tinggi.

Pembuatan mesin-mesin ajaib ini dilakukan dengan cara yang sangat ahli. Di dalam tiap testis, yang merupakan pusat produksi sperma, terdapat tabung mikroskopis dengan panjang total mencapai 500 meter. Proses produksi di dalam tabung-tabung mungil ini persis layaknya sistem perakitan menggunakan ban berjalan pada pabrik modern. Bagian perisai, mesin, dan ekor sperma dipasang satu per satu secara bergantian. Yang muncul sebagai hasilnya adalah sebuah keajaiban teknik yang luar biasa.

Kita hendaknya berpikir sejenak menghadapi kenyataan ini. Bagaimana sel-sel yang tidak memiliki kemampuan berpikir ini mengetahui bagaimana mempersiapkan sperma dalam bentuk yang tepat, padahal mereka sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk tubuh wanita? Bagaimana mereka belajar membuat perisai, mesin dan ekor yang akan dibutuhkan oleh sperma ketika berada dalam tubuh sang ibu? Dengan kecerdasan apa mereka dapat merakit komponen-komponen ini dalam urutan yang benar ? Bagaimana mereka tahu bahwa sperma akan membutuhkan fruktosa ? Bagaimana mereka belajar membuat sebuah mesin yang bergerak dengan bahan bakar fruktosa? Hanya ada satu jawaban atas semua pertanyaan ini. Sperma dan air mani yang mereka tempati diciptakan secara khusus oleh Allah demi kelestarian umat manusia.

2. Fase ’Alaqoh (segumpal darah)

Ibnu Abbas menganggap bahwa ’Alaqoh adalah sejenis lintah hitam. Dinamakan ’alaqoh karena jika diletakkan di bagian tubuh manapun dari manusia, ia akan menghisap darah yang rusak. Ketika ilmu pengetahuan kian maju, mikroskop makin canggih, dan para ilmuwan berhasil mengetahui bentuk dan proses pembentukan spermatozoa, menjadi jelaslah bahwa spermatozoa sangat mirip dengan seekor lintah yang disebutkan Ibnu Abbas. Spermatozoa memiliki kepala dan ekor sama dengan lintah.
’alaqoh menurut ahli bahasa memiliki pengertian yang bermacam-macam diantaranya :
Lintah yang hidup dalam kolam yang menghisap darah makhluk lain.
Sesuatau yang bergantung dengan makhluk lain.
Arah yang membeku / mengeras.
Namun keseluruhan makna ’alaqoh ini memang sesuai dan cocok dengan realitas janin manusia setelah tertanam di dinding rahim yang tampakseperti lintah (leech) selain itu juga menempel pada dinding rahim melalui tali pusar dan didalamnya terdapat pembuluh-pembuluh darah yang membentuk jaringan pulau-pulau tertutup sehingga memberi kesan bahwa darah tersebut beku.

Awalnya Hanya Bersel Satu Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi. Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri.

Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal. Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah. Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya. Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Alquran: 

Perjalan sperma menuju rahim

Pertama-tama sel telur yang sudah matang dalam arti yang sudah siap dibuahi memulai perjalananya dari organ yang disebut tuba fallopi menuju rahim dengan bantuan rambut halus yang disebut syilia yang membantu sel telur menuju tempat yang benar.

Jika sel telur bertemu dengan sel sperma maka berlangsunglah proses fertilisasi didalam saluran telur sehingga terbentuklah zigot yang terdiri atas satu sel (banyak sel tapi hanya satu sel). Zigot yang terbentuk terus bergerak menuju ke rahim untuk untuk kemudian menempel pada dinding rahim itu disebut Implantasi.

Pada tahap awal perkembangannya, bayi dalam rahim ibu berbentuk zigot, yang menempel pada rahim agar dapat menghisap sari-sari makanan dari darah ibu. Informasi ini, yang ditemukan oleh embriologi modern, secara ajaib telah dinyatakan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu dengan menggunakan kata "'alaq", yang bermakna "sesuatu yang menempel pada suatu tempat" dan digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai "zigot" dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi "segumpal daging". Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.

Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur'an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur'an and Sunnah)

3. Fase Mudghah (segumpah daging)

Menurut pengertian etimologis (bahasa),mudhghah berarti benda yang dikunyah dan dimamah oleh igi. Istilah mudhghah menunjukkan gambaran detail tentang realistis fase perkembangan janin in, dimana janin sudah berbentuk seperti benda kunyahan yang selalu berubah bentuknya. Munculnya kepingan-kepingan somites di dalam janin dan keragamannya mirip dengan bentuk karakter gigi ketika mengunyah. Aktifitas janin yang berputar-putar dan membolak-balik di dalam rahim juga mirip dengan pembolak-balikan potongan benda yang dikunyah di dalam mulut. Dan salah satu sifat dan karakter benda mamahan adalah ia bisa memanjang dan berubah bentuk ketika dikunyah. Dan inilah yang terjadi paa janin dalam fase ini.

Urutan kemunculan fase mudhghah stelaha fase ’alaqoh sama persis dengan apa yang dimaktub dalam al-Qur’an :
فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
“dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang”(Q.s. Al-Mi’minun [23]: 14 ).

Adanya dua tahapan pembentukan dalam fase mudhghah ini, yaitu tahap pra-pembentukan dan tahap pembentukan (fashioning)juga persis seperi penjelasan Al-Qur’an :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى…

“Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah)sesungguhya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.” (Q.s AlHajj [22] : 5).

Bisa dilihat di sini bahwa mudhghah memiliki dua tahap : sempurna dan belum sempurna.

Lebih lanjut, fase mudhghah dengan kedua tahapan perkembangannya berakhir pada minggu ke-6 atau setelah 40 hari paska pembuahan. Jangka waktu ini pun sesuai dengan apa yang dinyatakan Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah. Ia berkata : Rasulullah saw berbicara pada kami, dan beliau adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya :

"إِنَّ أَحَدَكُمْ لِيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلًُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، فَوَالَّذِيْ لاَ إِلهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذَرِاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ اَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا"

“Sesungguhnya setiap kalian dihimpun penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian dalam jangka waktu sama ia menjadi segumpal darah, kemudian dalam jangka waktu yang sama ia menjadi segumpal daging, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan nyawa di dalamnya sembari memberikan empat titah berupa ketetapan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya apakah celaka atau bahagia. Demi dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian bisa mengerjakan amalan penghuni surga sampai jarak antara ia dan surga hanya tinggal sehasta, namun karena relah ditakdirkan celaka, maka ia pun lantas mengerjakan amalan penghuni neraka, sehingga akhirnya masuk neraka.(sebaliknya) setiap kalian bisa jadi mengerjakan amalan penghuni neraka sampai jarak antara ia dan neraka hanya tinggal sehasta, namu karena telah ditakdirkan bahagia, maka ia pun lantas mengerjakan amalan penghuni surga, sehingga ia akhirnya masuk surga“.

4. Fase Idzam (tulang)

Istilah idzam (tulang) yang digunakan al-Qur’an untuk menyebut fase ini merupakan istilah yang mampu mengekspresikan tahapan perkembangan janin ini dengan gambaran akurat, mencakup perfoma eksternal yang merupakan perubahan yang terpenting dalam konstrulsi internal, beserta hal-hal yang terkait berupa pola hubungan baru antara bagian-bagian tubuh dan kesempurnaan postur janin. Fase ini memiliki perbedaan yang mencolok dengan fase sebelumnya. Sebagaimana telah di terangkan Oleh Allah swt :

فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

“dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik (14).”

Pembentukan tulang dalam fase ini adalah aspek penciptaan yang paling menonjol, sebab di sini terjadi perubahan signifikan dari bentukMudhghah yang tidak menampakkan cirri-ciri bentuk manusia menjadi kerangka sempurna dalam masa waktu yang relative singkat, yaitu pada detik-detik terakhir minggu ke-6. Oleh karena itu digunakan kata sambung (huruf athaf)"ف" yang memiliki arti peralihan secara cepat tanpa jeda waktu yang lama. Kerangka inilah yang memberikan postur manusia dalam janin setelah dibungkus dengan daging (otot – otot) dan menunjukkan bagian-bagian mata, bibir, dan hidung. Bentuk kepala dalam fase ini juga sudah berbeda dengan batang tubuh dan bagian-bagian ujung tubuh (tangan dan kaki).

Fakta ini membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw :
"Jika sperma telah melewati masa 42 malam( hari) , maka diutuslah malaikat kepadanya yang langsung membentuknya (dengan postur manusia), membuat telinga, mata, kulit, daging dan tulang-tulangnya. Kemudian malaikat akan bertanya (pada tuhannya) Ya Tuhan, laki-laki atau perempuan"(Shahih Muslim).

Pertumbuhan dan Perkembangan Embrio

Awalnya Hanya Bersel Satu Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi. Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri.

Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan. Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia.

Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak. Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia.

Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali. Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.

Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup. Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan. Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli.

Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi. Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal. Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri? Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting. Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan. Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.

Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah. Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio. Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio.

Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata. Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat. Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat. Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim.

5. Fase Otot ( Pembungkusan dengan Daging )

فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا

"dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging." (Q.s. Al-Mu'minun [23] : 14).

Fase ini mencirikan penyebaran otot-otot di seputar tulang secara merata, seperti laiknya pakaian yang membalut tubuh. Dan dengan selesainya pembungkusan tulang dengan otot, bentuk manusia mulai tampak secara utuh. Bagian-bagian tubuh juga terkait satu sama lain dengan pola hubungan yang lebih harmonis, dan setelah selesainya pembentukan tulang, janin pun mulai bisa gerak.'

Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur'an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut: 
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

6. Fase Tumbuhnya Makhluk Baru

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

" Kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik" (Q.s. Al-Mu'minu [23] : 14)

Setelah melewati masa 9 bulan pertumbuhan janin dalam rahim sempurna dan telah tibalah masa kelahirannya. Allah Swt Berfirman :

"dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan."(Q.s Al-Hajj [22] : 5).

"Kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu kami tentukan (bentuknya), maka kami-lah sebaik-baik yang menentukkan".(Q.s. Al-Mursalat [77]: 23)

Sebelum menceritakan fase kelahiran, perlu kita jelaskan terlebih dahulu penjelasan Al-Qur'an seputar faedah kurma bagi wanita yang melahirkan, yakni ketika Al-Qur'an menuturkan kisah persalinan Maryam sebagai berikut :

"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata : "aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan". Maka jibril menyerunya dari tempat yang rendah:"Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (Q.s Maryam [19] : 23-26).

Riset membuktikan, kurma memiliki beragam khasiat bagi kesehatan, dan manfaat yang terpenting bagi wanita melahirkan antara lain :
1) Kurma memiliki serat-serat yang bisa membantu mengatasi sembelit, sehingga secara alami ia bisa membantu melancarkan proses persalinan.
2) Kurma mengandung kadar gula sedang tidak lebih dari 70%, sehingga mempermudah penyerepan dan melipatgandakan kemampuan ketika melahirkan.
3) Kurma diperkaya dengan zat-zat asam terutama magnesium yang dibutuhkan oleh fisiologi sel, dan protosium yang dibutuhkan oleh urat-urat serta zat besi yang dibutuhkan untuk menanggulangi kekurangan darah sewaktu melahirkan.
4) Kurma mengandung zat tertentu yang membantu pemberian sinyal penyusutan otot rahim pada saat melahirkan, dan zat ini mirip dengan hormone oxyfocin yang dikeluarkan kelenjar lender. Ditambah lagi dengan beragam manfaat kurma lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu disini dan akan kami jelaskan secara elaboratif pada pembahasan tentang kemukjizatan medis insya Allah.
Fase persalinan yang berakhir dengan kelahiran ini memuat empat atau tahapan :
1) Tahap pelebaran mulut rahim dan pengerutan otot-otot rahim. Hal ini terjadi akibat beragam pengaruh, di antaranya: pengaruh mekanik dan hormonal. Pada tahap ini tubuh mengeluarkan sejumlah hormon yang membantu awal persalinan, antara lain: hormon prostaglandin, corticopropin, releasing hormon, adreno cartico tropin, cortical, oxytoxin dan estrogen.
Tahap ini menghabiskan waktu sekitar 7-12 Jam, di mana leher rahim mulai melebar dan memanjang untuk jalur keluar janin
2) Tahap keluarnya janin. Tahap ini menghabiskan waktu 30-50 menit, dimulai setelah pelebaran leher rahim secara sempurna.Akibat kontraksi dan kontriksi rahim secara berkesinambungan, maka yang pertama kali keluar adalah kepala janin. Anehnya, saat keluar diameter kepala janin telah mencapai 12 cm, dan ini melampui 3 kali lipat diameter lubang vagina dalam kondisi normal! Jika kita perhatikan hal ini, sembari melihat beragam peran faktor-faktor otonom hormon dalam membantu keluarnya janin, ditambah lagi dengan meragangnya simpul-simpul dan otot panggul guna mempermudah dan memperlancar keluarnya janin, maka kita akan mengetahui hikmah firman Alla swt :
"Kemudian Dia mudahkan jalannya"(Q.s. 'Abasa [80] : 20)
3) Tahap keluarnya plasenta/ari-ari, berbentuk gumpalan darah. Tahap ini berlangsung sekitar 15 menit.
4) Tahap penyusutan rahim, guna mengurangi pendarahan setelah selesai proses kelahiran. Tahap ini berlangsung sekitar 2 jam.
Setelah kelahiran dan pemotongan tali plasenta yang menjadi sandaran bayi untuk memperoleh makanan dari ibunya selama masa kehamilan, maka jabang bayi memulai fase lain dalam kehidupan.

Hadis tentang tahapan penciptaan manusia

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ  فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَ يُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَ أَجَلِهِ وَ عَمَلِهِ وَ شَقِيٌّ وَ سَعِيْدٌ. فَوَاللهِ الَّذِي لَا اِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا. وَ إِنَّ اَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (رواه البخارى و مسلم)‎

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. Berkata, Rasulullah Saw. yang jujur dan terpercaya bersabda kepada kami, “sesungguhnya penciptaan kalian dikumpulkan dalam rahim ibu, selama empat puluh hari berupa nuthfah (sperma), lalu menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan mencatat 4 (empat) perkara yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya.  Demi Allah, Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada diantara kalian yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ujung jari), namun suratan takdirnya sudah diterapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni neraka, maka ia pun masuk neraka. Ada juga yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Namun suratan takdirnya sudah ditetapkan, lalu ia melakukan perbuatan penghuni surga. (HR. Bukhori dan Muslim)

Penjelasan hadis

            Pernyataan وَهُوَ الصَّادِقُ الْمِصْدُوْقُ yakni Allah bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang benar dan dibenarkan. Sedangkan Imam Ibnu Daqiq berpendapat bahwa makna dari pernyataan tersebut adaalh benar dalam ucapannya lagi dibenarkan dalam apa yang dibawanya berupa wahyu yang mulia.

1.      Tahapan perkembangan janin

Menurut sebagian ulama, makna sabdanya 
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ

 (sesungguhnya seorang dari kalian dihimpun penciptaannya dalam perut ibunya), bahwa air mani jatuh dalam rahim dengan tercerai berai lalu Allah menghimpunnya di tempat kelahiran dari rahim tersebut di masa ini.
Kemudian selama seratus dua puluh hari, janin mengalami tiga kali perkembangan. Perkembangan tersebut terjadi setiap empat puluh hari. Empat puluh hari pertama, janin masih berbentuk nuthfah. Empat puluh hari berikutnya, berbentuk gumpalan darah. Empat puluh hari berikutnya, menjadi segumpal daging. Setelah seratus dua puluh hari, malaikat meniupkan ruh ke dalamnya, dan ditetapkan bagi janin tersebut empat ketentuan di atas.
‎ Proses perkembangan manusia sejak lahir, menjadi dewasa dan menjadi tua ini dilukiskan dalam firman Allah s.w.t.:
 اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

 “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu, menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Q.S. Ar Rum: 54)


Surah Al-Mu’minun ayat 14
 ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

 Pada ayat ini Allah s.w.t menjelaskan bahwaair mani itu Dia kembangkan dalam beberapa minggu sehingga menjadi segumpal darah. Dari darah dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu ada bagian dalamnya yang Allah jadikan tulang belulang, dan ada bagian lain unsur daging yang dijadikan daging. Kemudian tulang belulang itu Allah bungkus dengan daging, laksana pakaian penutup tubuh, kemudian Allah jadikan makhluk yang (berbentuk) lain. Setelah ditiupkan ruh‎ kedalamnya, maka jadilah manusia yang sempurna, dapat berbicara, melihat, mendengar, berpikir yang tadinya hanya merupakan benda mati saja. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.


Surah Az-Zumar ayat 6:
 خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الأنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan, yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”

 Pada ayat ini Allah s.w.t menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia pada mulanya seorang saja. Allah menciptakan manusia yang beraneka ragam warna dan bahasanya dari diri Adam. Kemudian Allah menciptakan pasangannya Hawa. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Dia pula yang menciptakan delapan ekor binatang ternak yang berpasang-pasangan. Kambing sepasang, biri-biri sepasang, unta sepasang dan sapi sepasang.
Sesudah itu Allah menjelaskan lebih jauh tentang kejadian manusia selanjutnya. Manusia diciptakan dengan melalui proses kejadian demi kejadian. Proses kejadiannya yang pertama ialah sebagai nutfah, sesudah itu ditempuhnya proses demi proses sebagaimana darah kental kemudian sebagai janin. Pada saat sempurna menjadi janin itulah Allah menciptakan ruh di dalamnya sehingga menjadilah makhluk hidup. Tanda-tanda kehidupannya dapat diketahui dari detak jantungnya dengan menempelkan telinga ke perut sang ibu.
Di samping itu Allah s.w.t menjelaskan bahwa ketika bayi berada dalam kandungan ia berada dalam tiga kegelapan, yaitu: 1) kegelapan rahim, 2) kegelapan plasenta (ari-ari), 3) kegelapan takdir (bayi lahir menangis karna lupa akan janji)‎

Surah Al-Ghafir ayat 67

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”

 Pada ayat ini Allah menjelaskan, bahwa Dia telah menjadikan manusia dari tanah, kemudian menjadi setetes mani, dari setetes mani menjadi sesuatu yang melekat, dan segumpal darah menjadi segumpal daging, kemudian dilahirkan ke dunia dalam bentuk manusia.


Para ahli tafsir menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan Allah s.w.t menjadikan manusia dari tanah, maksudnya ialah Allah s.w.t menjadikan manusia dari saripati yang berasal dari tanah. Seorang bapak dan seorang ibu memakan makanan yang berasal dari tanah, dari binatang ternak dan dari tumbuh-tumbuhan. Binatang ternak memakan tumbuh-tumbuhan dan berkembang dengan menggunakan zat-zat yang berasal dari tanah. Sebagaimana makanan yang dimakan ibu atau bapak itu menjadi mani. Telur mani ibu bertemu dengan mani bapak dalam rahim ibu, sehingga menjadi segumpal darah dan seterusnya. Sebagian ahli tafsir yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Allah menciptakan manusia dari tanah, ialah bapak manusia Adam diciptakan Allah s.w.t dari tanah.

Kemudian Allah s.w.t menerangkan bahwa manusia yang diciptakan-Nya dari tanah itu mengalami hidup dalam tiga masa, yaitu:

1. Masa kanak-kanak.

2. Masa dewasa.

3. Masa tua.

Di antara manusia ada yang diwafatkan-Nya pada masa kanak-kanak, ada pula pada masa dewasa dan ada yang diwafatkan setelah berusia lanjut. Ketentuan kapan seorang manusia meninggal itu berada di tangan Allah semata.


Wallohul Muwaffiq Ila Aqwamith Thoriq‎

1 komentar:


  1. Segenap Manajemen Bolavita Mengucapkan Selamat Merayakan Tahun Baru Imlek 2570

    Kongzili Semoga Di Tahun Babi Tanah Diberikan Rejeki Lebih Banyak
    Dibandingkan Tahun Sebelumnya

    WA : +62812-2222-995

    BalasHapus