Translate

Rabu, 16 Oktober 2019

Perjuangan HOS Tjokroaminoto

R Tjokroaminoto dilahirkan pada 16 Agustus 1882. Nama kecilnya adalah Oemar Said. Ia lahir di sebuah kampung di Madiun bertepatan dengan meletusnya gunung Krakatau di Selat Sunda, dari keluarga Raden Mas Tjokromiseno. Dalam diri Tjokroaminoto mengalir sekaligus darah santri dan priyayi. Bakat kepemimpinan Tjokroaminoto merupakan turunan dari kakeknya Raden Mas Adipati Tjokronegoro yang menjadi bupati Ponorogo dan ayahnya sendiri sebagai Wedana di Kepatihan Pleco. Kakek dari nasab ibunya yaitu Kyai Bagoes Salim Kasan Besari, adalah seorang ulama terkenal dari Ponorogo, Jawa Timur yang memiliki sebuah pondok pesantren di desa Tegalsari.

Silsilahnya: HOS Tjokroaminoto bin Tjokroamiseno bin Tjokronegoro bin Kyai Hasan Besari bin Kyai Ilyas bin Kyai Muhammad Besari Tegalsari. Gelar Raden Mas didapat HOS Tjokro karena Kyai Hasan Besari menikahi RA Moertosiyah, cucu dari Sunan Paku Buwono III dari Kraton Solo.

Kakeknya tersebut merupakan seorang ulama kenamaan pada penghujung abad kesembilan belas, yang menyemarakkan kegiatan keagamaan di wilayah karesidenan Madiun. Sebagai pemimpin agama yang berkiblat pada kepentingan umat, Kasan Besari menjalani kehidupan bersahaja, sesuai dengan keadaan masyarakat yang miskin dan terbelakang. Pengaruhnya semakin luas sampai menjangkau daerah-daerah lain di luar kawasan Ponorogo dan Jawa Timur.

Kemashuran dan kebagusan pondoknya yang tiada tandingnya dewasa itu, menyebabkan nama beliau itu di sekeliling Tegalsari menjadi buah bibir banyak orang, hingga lama-kelamaan seiring berjalannya waktu mashurlah nama beliau di seluruh tanah Kerajaan Jawa (Surakarta) dan akhirnya nama besar dan kealimannya pun menembus tembok Keraton Surakarta. Keluarga keraton dan Susuhunan akhirnya tertarik pada kealiman dan nama besarnya, kemudian beliaupun dikawinkan dengan seorang puteri dari Susuhunan ke-II. Maka beliaupun menjadi keluarga ningrat Keraton Surakarta, oleh karena itu beliau sebagai keluarga Keraton dan bahkan sebagai menantu Susuhunan berhak menyandang gelar kehormatan sebagai keluarga ningrat Keraton Surakarta, namun berbeda dengan yang lainnya, Kyai Bagus Kasan Basari sangat rendah hati dan tidak mau menggunakan gelar kebangsawanan yang diberikan kepadanya, beliau tetap menggunakan nama biasa, yaitu: Kyai Bagus Kasan Basari.

Dari pernikahannya dengan seorang puteri Keraton Surakarta itu, Kyai Bagus Kasan Basari dianugrahi seorang putera yaitu: Raden Mas Adipati
Cokronegoro, yang mana dikemudian hari diangkat menjadi Bupati Ponorogo.

Oleh karena jasanya kepada negeri, Raden Mas Adipati Cokronegoro dianugerahi bintang Riddeer der Nederlandsche Leeuw oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Berbeda dengan ayahnya Kyai Bagus Kasan Basari, beliau Raden Mas Adipati Cokronegoro tidak menjadi seorang ulama besar dan tidak pula memimpin Pondok Pesantren, melainkan beliau terjun ke dunia politik menjadi pegawai pemerintah. Selama menjalani karirnya menjadi pegawai pemerintah, beliaupun tercatat pernah menduduki jabatan penting yakni menjadi seorang Bupati yang memimpin rakyat Ponorogo dengan sangat baik dan dihormati oleh seluruh rakyatnya, sehingga beliau mendapat sebuah gelar kehormatan dari pemerintah pada masa itu. Hal ini pulalah yang pada akhirnya mengalir pada anak keturunannya yang sangat mashur dan disegani oleh semua orang pada masanya, yakni H.O.S Tjokroaminoto yang mashur bukan hanya di tanah Jawa melainkan di seluruh Indonesia berkat kepemimpinannya dalam organisasi Sarekat Islam.

Dalam perjalanan hidup keluarganya, Raden Mas Adipati Cokronegoro dianugerahi seorang putra yang bernama Raden Mas Cokroamiseno.
Cokroamiseno mengikuti jejak sebagaimana ayahnya, yakni sebagai pegawai pemerintah, karena selama hidupnya diapun menerjuni pekerjaan sebagai pegawai Pamongpraja pula. Raden Mas Cokroamiseno pernah menduduki jabatan-jabatan penting pemerintah, di antaranya adalah sebagai Wedana di Kawedanan Kleco.

Raden Mas Cokroamiseno inilah yang merupakan ayah dari H.O.S Tjokroaminoto. Jika kita lihat dari silsilah keluarganya ini, maka jelas bahwa H.O.S Tjokroaminoto berasal dari keturunan ningrat Keraton Surakarta dan juga keturunan seorang ulama besar, maka tak heran jika beliau mampu menjadi seorang pemimpin yang terkenal dan sangat berpengaruh melalui organisasi yang
ia pimpin sekaligus juga menjadi seorang ulama yang alim dan bijaksana.

H.O.S Tjokroaminoto merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara.
Mereka adalah (secara beruntun dari yang tertua):

1. R. M. Oemar Djaman Tjokroprawiro, pensiunan Wedana.
2. R. M. H. Oemar Said Tjokroaminoto.
3. R. Aju Tjokroadisoerjo, isteri almarhum pensiunan Bupati Purwokerto.
4. R. M. Poerwadi Tjokrosoedirdjo, Bupati yang diperbantukan kepada Residen Bodjonegoro.
5. R. M. Oemar Sabib Tjokrosoeprodjo, pensiunan Wedana, kemudian masuk PSII dan Masjumi, serta tewas di Madiun dijaman yang terkenal dengan nama
“Madiun Affaire”.
6. R. Adjeng Adiati.
7. R. Aju Martowinoto, isteri pensiunan pegawai tinggi PTT.
8. R. M. Abikoesno Tjokrosoejoso, ahli bangunan (arsitek).
9. R. Adjeng Istingatin
10. R. M. Poerwoto.
11. R. A. Istidjah Tjokrosoedarmo, pegawai tinggi kehutanan.
12. R. A. Istirah Mohamad Soebari, pegawai tinggi kementerian perhubungan.

Di antara mereka yang mengikuti jejak Tjokroaminoto malang-melintang di dunia pergerakan adalah R. M. Oemar Sabib dan R. M. Abikoesno Tjokrosoejoso. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain mengikuti jejak ayahnya
sebagai Bupati, Wedana, pegawai tinggi maupun yang lainnya.

Agaknya, latar belakang keluarganya itulah yang menyebabkan Oemar Said dapat menjalani kehidupan masa kecilnya tanpa melalui guncangan yang berarti, sebagaimana terjadi pada lazimnya anak-anak pribumi. Ayahnya memberinya pendidikan agama ketat sejak dini, disamping pendidikan Barat sesuai lazimnya para pejabat pemerintah kala itu.

Pada usia dua puluh tahun, Oemar Said telah menyelesaikan pendidikannya di OSVIA Magelang, sebuah sekolah gubermen yang mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pegawai pamong praja. Tiga tahun berikutnya, ia bekerja sebagai juru tulis di Kepatihan Ngawi. Ia bahkan sempat berhasil menjadi patih, tetapi tidak lama kemudian meninggalkan pekerjaan ini untuk pindah ke Surabaya dan bekerja pada sebuah perusahaan Belanda. Di kota ini juga ia mengikuti kursus-kursus pada malam hari dalam menekuni soal teknik mesin di Sekolah Teknik Mesin.

Pada tahun 1907, ia mulai menekuni dunia jurnalistik. Tulisan-tulisannya di berbagai media cetak dikenal sangat tajam. Dunia jurnalistik inilah yang membuatnya meninggalkan tugasnya dari pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi kemudian ia melamar menjadi masinis, lalu bekerja sebagai ahli kimia di sebuah pabrik gula, di daerah dekat Surabaya.

Sementara itu, semangat kebangsaannya mulai tumbuh. Ia kemudian mewujudkan semangat kebangsaannya itu dengan masuk ke kancah politik dan mulai mengorganisasikan para pemuda pribumi untuk lebih aktif meningkatkan kesadaran dan kemampuan di segala bidang.

Sesudah ia menunaikan ibadah haji, ia meninggalkan gelar keningratannya, dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, atau lebih dikenal dengan panggilan akrab HOS. Tjokroaminoto.

Pada tahun 1905 berdiri organisasi Sarekat Dagang Islam, di bawah pimpinan seorang kiai pengusaha, H. Samanhudi. Organisasi ini merupakan organisasai pergerakan kumpulan para pengusaha batik di Solo, yang didirikan sebagai respon terhadap “kebijakan” pemerintah Hindia Belanda yang sangat menganaktirikan penduduk bumi putra yang beragama Islam, dan menempatkan warga kelas putih yang beragama Kristen sebagai warga Negara kelas satu. Terkenal sekali pada saat itu pernyataan Ratu Belanda yang disampaikan dalam pidatonya, “sebagai Negara Kristen, Pemerintah Belanda berkewajiban mengatur dengan lebih baik kedudukan hukum rakyat Kristen yang berada di Kepulauan Hindia Belanda….”

Perlakuan diskriminatif tersebut memberikan semangat bagi SDI untuk memberikan kesadaran politik terhadap pedagang-pedagang Muslim pribumi tentang hak-hak mereka yang diperkosa oleh pemerintah Kolonial, dan meningkatkan persatuan segenap umat Islam. Dalam waktu singkat, wadah para pedagang Muslim ini menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Sambutan hangat dan meriah datang dari daerah-daerah di pelosok Nusantara. Mereka mendirikan cabang-cabang SDI di daerahnya. Di Surabaya, Tjokroaminoto menyambut SDI dan segera tampil menjadi pemimpin muda yang sangat berbakat. Ia menjadi  ketua Cabang SDI Jawa Timur.

Pada waktu itu, Tjokroaminoto telah cukup dikenal dengan sikap-sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia dikenal sebagai seorang yang menganggap dirinya sama derajatnya dengan pihak manapun, baik orang Belanda maupun pejabat pemerintah. Harapannya begitu besar untuk dapat melihat sikap yang dimilikinya itu juha menjadi sikap kawan-kawan sebangsanya, terutama dalam berhubungan dengan orang-orang Belanda  dan bangsa asing pada umumnya. Pada zaman ketika orang pribumi harus menunduk dan duduk bersila saat berhadapan dengan pejabat pemerintah kolonial Belanda, Tjokroaminoto dengan dramatis sekali berani melanggar kebiasaan itu. Ia memiliki keberanian untuk duduk di kursi ketika menemuo seorang pejabat pemerintah. Ia bicara dengan tenang tanpa menundukkan kepala, bahkan pandangan matanya disorotkan dengan tajam. Ia duduk dengan santai sambil meletakkan sebelah kakinya pada kakinya yang lain. Ia kemudian dikenal sebagai Gatotkaca Sarekat Dagang Islam.

Surabaya pada tahun 1912 adalah merupakan salah satu keputusan yang sangat bersejarah, karena dalam kongres itu nama Sarekat Dagang Islam (SDI) berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Dan mengubah konsep pergerakan di bidang ekonomi menjadi organisasi pergerakan yang beroritentasi pada sosial-politik.  Lewat kongres itu pula H. Samanhudi menyerahkan kursi kepemimpinan SI kepada Tjokroaminoto.

Di bawah kepemimpinannya, organisasi pergerakan ini kemudian dapat tampil menjadi gerakan nasional secara total. Ia mampu mengembangkan missi gerakan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Jika pada awal-awal kelahiran organisasi pergerakan ini menggunakan istilah “kongres” dalam musyawarah kerjanya, maka pada periode-periode berikutnya organisasi ini menggunakan istilah “kongres nasional” yang sekaligus mencerminkan organisasi ini sebagai pergerakan nasional secara menyeluruh. Gerakan SI yang menyebar ke segenap penjuru Nusantara itu bukan saja mencerminkan bahwa organisasi tersebut telah tersebar ke seluruh daerah di Nusantara, tetapi juga mencerminkan suatu usaha yang sadar dari pemimpin-pemimpinnya untuk menyebarkan dan menegakkan cita-cita nasionalisme.

Bagi Tjokroaminoto istilah “nasionalisme” itu merupakan suatu usaha untuk meningkatkan seseorang pada tingkat natie (bangsa), untuk berjuang menentukan pemerintahannya sendiri, atau setidak-tidaknya agar rakyat Indonesia diberikan hak untuk mengemukakan pendapatnya dalam masalah-masalah politik. Dalam kongres nasional di Bandung pada tahun 1916 itu ia berkata”

“tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat dimana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri…….Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa pastisipasi kita”

Tjokroaminoto mengambil sikap yang pasti dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang semakin terbuka. Di bidang kebudayaan, ia sangat ketat menjaga kelestarian adat istiadat yang ada sebagai milik bangsa Indonesia, dan karena itu ia sangat selektif terhadap kebudayaan Barat yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial. Dengan bangga ia mempertahankan bentuk-bentuk kesenian Jawa dan berbagai tradisi lainnya. Akan tetapi, ia menentang simbol-simbol pemujaan yang masih dilaksanakan sebagian besar rakyat Indonesia, seperti gelar keningratan, sembah sujud, dan sesajen-sesajen. Oleh karena itu, ia mengikuti gerakan “Jawa Dwipa” yang bertujuan mengubur sikap mental dan lambang-lambang feodalisme. Ia menerapkan metode dan sistem Barat dalam menjalankan roda organisasi, dalam bekerja, berdiskusi, dan berfikir, tapi menentang sikap dan gaya hidup kebarat-baratan yang menimbulkan akbiat-akibat negatif dalam masyarakat.

Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto terus dikembangkan lewat Sarekat Islam ini. Titik tolak pemikiran dan cita-cita perjuangannya didasarkan atas tiga dimensi, yakni situasi dan kondisi kemasyarakatan yang menjadi tantangan dan harus dihadapinya;  aktifitas-aktifitas yang dilakukannya dalam dunia pergerakan nasional sebagai jawaban terhadap tantangan yang dihadapinya; dan gagasan-gagasan yang ditawarkan, baik secara langsung melalui ceramah-ceramahnya maupun berupa tulisan dalam berbagai media massa.

Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto dituangkan dalam berbagai tulisan karangan di media massa maupun dalam bentuk buku. Beberapa buku hasil tulisan karangannya sangat dikenal dan menjadi bagian terpenting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Ia menulis sejarah Nabi Muhammad Saw, agar masyarakat mau meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam dan menjalankan ajaran Islam sesuai dengan ajaran nabi. Ia juga menulis buku berjudul Reglement Umum Umat Islam, sebagai pedoman hidup umat Islam dalam bidang akhlak, akidah, ibadah, perkawinan dan amar makruf nahi munkar. Tentang pendidikan ia menulis buku berjudul Muslim National Onderwijs, yaitu membentuk manusia berpribadi Muslim, melalui pelatihan otak, menanamkan semangat kemerdekaan dan keberanian yang patriotik, membiasakan berbuat baik, dan hidup sederhana. Sedangkan untuk menanggulangi faham sosialisme yang disusung oleh kaum atheis dan komunis di Indonesia ia menulis buku Islam dan Sosialisme. Buku ini sangat terkenal dan monumental, bahkan menjadi salah satu karya terbesar Tjokroaminoto. Di dalamnya memuat sistem kemasyarakatan yang social-religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan demokrasi, dan musyawarah untuk mufakat.

Salah satu wasiat Tjokroaminoto yang sangat terkenal adalah ungkapan “lerena mangan sadurunge wareg” yang berarti “berhentilah makan sebelum kenyang”. Pesan ini memang bersumber dari hadis Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi dengan mewariskannya secara turun menurun, menunjukan bahwa Tjokroaminoto ingin menyampaikan kepada generasi bangsa, agar menghindari sikap rakus dan serakah serta menggunakan aji mumpung, dengan menggunakan jabatan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.

Pada tahun 1926, dalam perjalanan ibadah haji, Tjokroaminoto melakukan kunjungan ke Muktamar Alam Islami di Makkah. Saat-saat yang berharga itu tidak disia-siakannya untuk menggalang kerjasama umat islam internasional dan mewujudkannya di Indonesia dengan mengadakan kongres-kongres Al-Islami yang dihadiri oleh organisasi-organisasi nasional berasaskan Islam.

Pada kongres PSII ke-20 di Banjar Negara, 20-26 Maret 1934, Tjokroaminoto menyodorkan sebuah wasiat  tertulis yang disahkan oleh forum sebagai “Pedoman Umat Islam”. Isinya memberikan wasiat dan pesan kepada umat Islam supaya menjadi pelopor dalam upaya membawa masyarakat menuju tatanan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Ia merasa bahwa kondisi kesehatannya semakin memburuk. Beberapa kali ia jatuh sakit dan harus menjalani perawatan.

Masa-masa berakhirnya perjuangan tokoh ini mulai terlihat tanda-tandanya. Di bulan Ramadhan 1553 H, Tjokroaminoto menderita sakit yang cukup parah di Yogyakarta. Konon di saat-saat terakhir itu, sekonyong-konyong Tjokroaminoto bangkit dan duduk, kemudian ia mengatakan bahwa ia sedang bertemu Rasulullah. Kemudian ia tidur kembali. Peristiwa itu berulang-ulang hingga Tjokroaminoto berpulang ke rahmatullah pada hari Senin Keliwon, 17 Desember 1934, bertepatan dengan 10 Ramadhan 1553 H.

2 komentar:

  1. Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
    mampir di website ternama I O N Q Q
    paling diminati di Indonesia,
    di sini kami menyediakan 5 permainan dalam 1 aplikasi
    ~bandar poker
    ~bandar-q
    ~domino99
    ~poker
    ~bandar66
    segera daftar dan bergabung bersama kami.Smile
    Whatshapp : +85515373217

    BalasHapus
  2. Numpang promo ya Admin^^
    ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat
    ayo segera bergabung dengan kami di ionpk.club ^_$
    add Whatshapp : +85515373217 || ditunggu ya^^

    BalasHapus