Translate

Selasa, 17 Mei 2016

Penjelasan Kisah Turunnya Hidangan Dari Langit Zaman Nabi Isa

Dikisahkan pada suatu ketika pengikut setia Nabi Isa dari kalangan bani Israil yang dikenal dengan sebutan kaum Hawariyn memohon kepada nabi Isa agar Allah menurunkan makanan bagi mereka dari langit. Nabi Isa terkejut mendengar permintaan mereka dan mengingatkan agar mereka bertakwa pada Allah.  Mereka menjawab bahwa mereka menginginkan hidangan itu untuk menambah keyakinan mereka bahwa apa yang disampaikan Isa pada mereka adalah benar. Nabi Isa mengingatkan bahwa ia akan berdo’a pada Allah, namun jika hidangan itu telah turun dan mereka mengingkarinya niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah diberikan kepada siapapun.

Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;

 قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (112) قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ (113) قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (114) قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (115)

Ingatlah ketika pengikut-pengikut Isa berkata, "Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman." Mereka menjawab, "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu." Isa putra Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya)akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.” Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan itu),maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.”(QS Al-Maidah: 112-115)
Inilah kisah maidah atau hidangan yang nama surat ini dikaitkan dengannya, karena itu disebut "surat Al-Maidah". Hidangan ini merupakan salah satu dari anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isa a.s. ketika Dia memperkenankan doanya yang memohon agar diturunkan hidangan dari langit. Maka Allah Swt. menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata.
Sebagian para imam ada yang menyebutkan bahwa kisah hidangan ini tidak disebutkan di dalam kitab Injil, dan orang-orang Nasrani tidak mengetahuinya kecuali melalui kaum muslim.
Firman Allah Swt.:
{إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ}

(Ingatlah) ketika kaum Hawariyyin berkata. (Al-Maidah: 112) Hawariyyin adalah pengikut Nabi Isa a.s.‎
{يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ}

Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu. (Al-Maidah: 112)‎
Demikianlah menurut qiraah kebanyakan ulama, dan ulama lainnya ada yang membacanya seperti bacaan berikut:
"هَلْ تَسْتَطيع رَبَّك"

Dapatkah kamu memohon kepada Tuhanmu. 
Yakni sanggupkah kamu meminta kepada Tuhanmu.‎
{أَنْ يُنزلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ}

menurunkan hidangan dari langit kepada kami. (Al-Maidah: 112)‎
Hidangan ini merupakan piring-piring besar yang berisikan makanan. Sebagian ulama mengatakan, sesungguhnya mereka meminta hidangan ini karena mereka sangat memerlukannya dan karena kemiskinan mereka. Lalu mereka meminta kepada nabinya agar menurunkan hidangan dari langit setiap harinya untuk makanan mereka hingga mereka kuat menjalankan ibadahnya.

{اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

Isa menjawab, "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman.” (Al-Maidah: 112)
Al-Masih a.s. menjawab permintaan mereka dengan perkataan, "Bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian meminta yang ini, karena barangkali hal tersebut merupakan cobaan bagi kalian. Tetapi bertawakallah kalian kepada Allah dalam mencari rezeki, jika kalian memang orang-orang yang beriman."

{قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا}

Mereka berkata.”Kami ingin memakan hidangan itu.” (Al-Maidah: 113)
Yakni kami perlu memakan hidangan itu.

{وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا}

dan supaya tenteram kalbu kami. (Al-Maidah: 113)
Apabila kami menyaksikan turunnya hidangan itu sebagai rezeki buat kami dari langit.

{وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا}

dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami. (Al-Maidah: 113)‎
Yakni agar iman kami kepadamu makin bertambah, dan makin bertambah pula pengetahuan kami kepada kerasulanmu.

{وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ}

dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu. (Al-Maidah: 113)‎
Yakni kami akan menyaksikan bahwa hidangan itu merupakan tanda dari sisi Allah dan petunjuk serta hujjah yang menyatakan kenabianmu dan kebenaran apa yang kamu sampaikan.

{قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لأوَّلِنَا وَآخِرِنَا}

Isa putra Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami.”(Al-Maidah: 114)
Menurut As-Saddi makna ayat adalah, "Kami akan menjadikan hari turunnya hidangan itu sebagai hari raya yang kami hormati dan juga dihormati oleh orang-orang sesudah kami." Menurut As-Sauri, makna yang dimaksud ialah suatu hari yang kami akan melakukan salat padanya (sebagai rasa syukur kami atas nikmat itu).
Qatadah mengatakan bahwa mereka bermaksud hari raya itu akan dirayakan oleh keturunan mereka sesudah mereka. Dari Salman Al-Farisi disebutkan bahwa sebagai pelajaran buat kami dan buat orang-orang sesudah kami. Sedangkan menurut pendapat yang lain, sebagai kecukupan untuk orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian.

{وَآيَةً مِنْكَ}

dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. (Al-Maidah: 114)
Yakni sebagai bukti yang menunjukkan akan kekuasaan-Mu terhadap segala sesuatu, dan sebagai bukti yang menunjukkan terkabulnya doaku oleh-Mu, hingga mereka percaya kepadaku dalam semua apa yang kusampaikan kepada mereka dari-Mu.
{وَارْزُقْنَا}

beri rezekilah kami. (Al-Maidah: 114)‎
Yakni dari sisi-Mu. Yang dimaksud ialah rezeki yang mudah diperoleh tanpa susah payah.

{وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ. قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنزلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ}

Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.” Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan itu)."(Al-Maidah: 114-115)‎
Yakni barang siapa yang mendustakannya dari kalangan umatmu, hai Isa, dan ia mengingkarinya:

{فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ}

maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.  (Al-Maidah: 115)‎
Yakni umat manusia yang sezaman dengan kalian. Pengertiannya sama dengan apa yang terdapat di dalam ayat lain:

{وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ}

dan pada hari kiamat (dikatakan kepada malaikat),"Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (Al-Mu’min: 46)
Dan sama dengan firman-Nya:

{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ}

Sesungguhnya orang-orang munafik itu(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (An-Nisa: 145)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui jalur Auf Al-A'rabi, dari Abul Mugirah Al-Qawwas, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa manusia yang paling keras azabnya kelak di hari kiamat ada tiga macam, yaitu orang-orang munafik, orang-orang yang kafir dari kalangan mereka yang menerima hidangan dari langit, dan Fir'aun beserta para pendukungnya.


Kisah Khalifah Abubakar Shidiq dan hidangan yang tidak pernah habis

Dikisahkan pada suatu ketika Abu Bakar kedatangan tiga orang tamu, untuk menghormati tamunya Abu Bakar berniat memberi jamuan ala kadarnya. Ia kebelakang menemui istrinya, betapa kecewanya Abu bakar karena persediaan makanan dihari itu hanya sedikit. Ia yakin jamuan itu tidak akan cukup dimakan ketiga orang tamunya, apalagi jika ia ikut pula menyantap jamuan itu. Tiba tiba dihati Abu bakar timbul keyakinan bahwa Allah jualah yang member rezeki pada hamban-Nya, dengan mengucap Bismillah ia bertawakal pada Allah. Dia yakin Allah akan mencukupkan makanan itu.

Abu Bakar kemudian menjemput  ketiga tamunya untuk makan bersama dengan makanan yang sedikit itu. Namun  betapa herannya dia, makanan tersebut tidak juga kunjung habis , walaupun mereka sudah makan sekenyang kenyangnya. Abu bakar dan ketiga tamunya sudah makan dengan sekenyang kenyangnya namun makanan itu terlihat masih utuh. Abu Bakar dan ketiga temannya merasa heran.

Abu Bakar kemudian menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian yang luar biasa itu. Diceritakannya bahwa makanan yang sedikit itu cukup untuk makan mereka berempat, bahkan terlihat makanan itu masih utuh. Para sahabat kemudian beramai ramai kerumah Abu Bakar dan ikut menikmati makanan itu. Semua sahabat ikut makan kenyang, namun makannan itu tidak juga kunjung habis. Itulah kejadian aneh yang terjadi dirumah Abu Bakar, mereka mendapat hidangan dari sisi Allah.

Syeikh Ibrahim al-Khawwas dan hidangan dari langit

Syeikh Ibrahim al-Khawas menceritakan pengalamannya, pada suatu hari ia meninggalkan negerinya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah Haji.  Ia berjalan tanpa kendaraan dan perbekalan apapun. Ditengah perjalanan ia tersesat hingga tidak tahu arah mana yang harus dituju. Tiba tiba ia melihat seorang pendeta Nasrani yang bergegas menuju padanya, pendeta itu berkata:” Wahai pendeta Muslim, bolehkah aku  bersamamu diperjalanan ?”

“ Tentu saja boleh “ jawab Ibrahim al-Khawwas , ia merasa gembira karena sekarang ia tidak sendiri lagi dijalan, ada pendeta nasrani itu yang menemaninya. Mereka berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa merasakan makan dan minum. Mereka telah merasa haus dan lapar, namun demikian masing masing mereka terus berdiam diri antara satu dengan yang lainnya.

Sampai pada satu ketika pendeta Nasrani itu sudah tidak tahan lagi, ia berkata : “ Wahai pendeta Muslim, apakah engkau tidak membawa makanan untuk kita nikmati bersama ? “. Ibrahim al-Khawas terkejut mendengar pertanyaan pendeta Nasrani itu. Selama ini ia selalu bertanya dalam hati apakah pendeta nasrani ini tidak membawa perbekalan makanan atau minuman . Sudah tiga hari mereka tidak makan dan minum, sekarang ia baru tahu bahwa pendeta itupun tidak membawa apa apa. Ibrahim bimbang, apa yang harus ia katakan pada pendeta itu ?.

Tiba tiba terlompat ucapan yang berani dari mulutnya: “ Ya, ada “

“Kalau begitu marilah kita nikmati bersama“ Usul pendeta nasrani itu dengan wajah berseri.

Ibrahim terkesiap oleh ucapannya yang spontan itu, ia baru sadar bahwa ia telah berdusta. Mana mungkin ia mengajak pendita itu untuk makan bersama karena diapun tidak membawa makanan seperti yang diucapkannya  tadi. Wajahnya jadi pucat lesu, tidak ada jalan lain selain memohon pada Allah. 

Ibrahim al Khawwas menengadahkan tangannya kelangit, dan berdo’a :

“ Ya Tuhan hamba, wahai penguasa yang tiada terbatas, berilah hamba sesuatu untuk menghilangkan lapar dan dahaga kami berdua, dan janganlah sampai hamba dinhinakan dihadapan pendeta nasrani ini, ya Allah ! ya Tuhanku ! dengarlah permohonan hamba ini “

Tiba tiba turunlah dari angkasa sebuah talam yang berisi roti, daging dan secerek air. Merekapun memakan hidangan itu berdua hingga kenyang, dan merekapun  bersyukur kepada Allah yang maha pemurah yang telah menurunkan karunia-Nya yang luar biasa itu kepada mereka.  Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan tanpa membicarakan apa apa tentang kejadian menakjubkan yang barusan terjadi. Orang Nasrani itu kelihatannya tidak merasa heran, seolah olah hal itu perkara biasa saja walaupun sebenarnya Ibrahim al-Khawas dalam hatinya merasa takjub dengan kejadian itu, karena ia baru pertama kali ia mengalami hal seperti itu.

Kini sudah tiga hari pula berlalu, mereka berjalan tanpa makan dan minum. Pada hari keempat Ibrahim berkata kepada pendeta Nasrani itu :” Wahai pendeta Nasrani , sekarang giliranmu pulalah untuk mengeluarkan apa yang ada padamu untuk kita makan dan minum bersama “

“ Baiklah  “ jawab pendeta Nasrani itu dengan tenang.  Ibrahim merasa heran dengan ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh pendita Nasrani itu

Pendita Nasrani itu menengadahkan kedua tangannya kelangit dan berdo’a. Tiba tiba turunlah dari angkasa dua buah talam yang penuh berisi makanan dan minuman. Pendita Nasrani itu mempersilahkan Ibrahim untuk menikmati hidangan yang datang itu.  “ Ini ada dua buah talam, satu untuk aku dan yang lain untukmu “ Kata pendeta Nasrani itu.

Ibrahim tercengang , tidak tahu apa yang akan dikatakan. Beberapa waktu yang lalu ia meminta kepada Allah dan mendapat sebuah talam yang berisi makanan, sekarang pendita itu mendapatkan dua buah talam yang penuh berisi makanan.

Silahkan dimakan “ kata pendeta Nasrani itu.

“ Tidak !, demi Allah aku tidak akan memakannya sampai engkau menjelaskan terlebih dulu padaku tentang makanan dan minuman ini” kata Ibrahim dengan penuh penasaran.

Pendeta itu lalu menjawab dengan wajah yang berseri :

“ Selama saya menemani tuan, saya benar benar tertarik dengan amalanmu, dan saya yakin bahwa selama ini diriku dalam kesesatan yang nyata, dan jelas sekalai saya tidak akan mampu berbuat seperti yang tuan lakukan itu.  Karena itu saya memohon kepada Allah tuhanmu, dengan perantaran kesolehan dan kekeramatan tuan, semoga Allah berkenan memberi makan dan minum bagi kita berdua. Rupanya do’a itu dikabulkan, inilah dia makanan dan minuman yang diberikan-Nya, dan diberikan-Nya kita dua buah talam sebagai karunia nhidangan dari sisi-Nya. Maka sekarang saksikanlah bahwa saya telah memeluk Islam , Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar  Rasulullah “ .

Ibrahim terperanjat sekaligus gembira mendengar penjelasan  pendeta Nasrani itu, ia merangkul pendeta nasrani itu dengan perasaan haru. Selanjutnya mereka berdua menikmati hidangan itu , dengan perasan gembira dan penuh rasa syukur pada Allah yang telah menurunkan hidangan itu bagi mereka berdua.

Selesai makan dan minum pendeta itu bertanya pada Ibrahim :” Setelah ini kemana tujuanmu”

“Aku akan ke Mekah untuk menunaikan haji “ jawab Ibrahim.

“ Kalau demikian akupun akan mengikutimu untuk menunaikan ibadah haji pula “ kata pendeta itu. Selajutnya mereka berduapun melajutkan perjalanan bersama sama menuju Mekah untuk menunaikan haji.

Pelajaran yang dapat diambil:

1.      Hadirnya hidangan dari langit atau dari tempat yang tidak terduga adalah suatu yang mustahil menurut akal dan fikiran kita, namun jika Allah berkehendak, tidak ada hal yang mustahil bagi Allah. Dia bisa mendatangkan hidangan dari tempat yang tidak terduga kepada siapa saja.
2.      Munculnya keajaiban atau karomah pada seseorang bukanlah karena kesaktian atau kekuatan orang tersebut, bahkan yang bersangkutan juga heran dan takjub dengan kejadian istimewa itu. Semua itu ternjadi semata mata karena karunia Allah. Karena itu keajaiban karomah pada seseorang tidak  bisa untuk dipertontonkan atau dipertunjukan kepada orang banyak.

Allah tidak pernah dibatasi oleh aturan dan hukum alam dalam menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dia maha kuat dan dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Seperti pertolongan Allah pada Nabi Ibrahim sehingga api menjadi dingin terhadapnya. Pertolongan Allah pada Nabi Musa sehingga mampu membelah laut merah. Pertolongan Allah pada Nabi Sulaiman yang dengan bantuan  dari seorang yang mendapat ilmu dari sisi Allah dapat membawa singgasana Ratu Bulqis dari Yaman ke Palestina dalam sekejap mata.

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

1 komentar: