Translate

Rabu, 04 Februari 2015

Ujian Sang Pangeran Dari Sang Guru

Tiga Materi Ujian dari Sunan Kalijogo.

Di kisahkan saat Sang Pangeran menimba ilmu Pada Sunan Kalijogo. Beliau menguji Sang Pangeran dengan tiga hal. Ringkas cerita pada waktu dan tempat yang telah ditentukan, Sang Pangeran  bersiap menjalani pendadaran atau ujian. Ada tiga macam ujian yang diberikan Sunan Kalijaga kepada Sang Pangeran  yang kesemuanya mengandung makna filosofis yang sangat mendalam.

Ujian pertama, tentang Pengendalian Diri. 

Sunan Kalijaga menciptakan api yang berkobar-kobar, Pangeran  diminta supaya bisa nyirep atau memadamkan api tadi sebelum merusak (membakar) sekeliling dan merugikan penduduk. Pangeran  mohon izin kepada Kanjeng Sunan Kalijaga untuk menjawab ujian yang pertama. Kanjeng Sunan mengijinkan, kemudian dengan bemodalkan izin dari Guru, Pangeran berdoa memohon pertolongan dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Seketika terjadi keanehan alam. Langit tiba-tiba mendung tebal, petir menyambar di angkasa, kemudian disusul turunnya hujan deras mengguyur api yang berkobar-kobar tadi. Api akhirnya padam, dan Pangeran  dinyatakan lulus pada ujian yang pertama. 

Ujian yang pertama ini mengandung pelajaran hikmah yang menggambarkan, bahwa orang yang akan meraih keutamaan itu terlebih dahulu harus bisa mengendalikan hawa nafsu angkara murka. Nafsu angkara murka digambarkan api besar yang berkobar-kobar. Jika tidak disirep atau dikendalikan, salah-salah api tadi bisa membakar segala sesuatu, termasuk merusak diri sendiri.

Untuk dapat mengendalikan nafsu maka seseorang harus membersihkan hati, merasa kosong, lemah tak berdaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan ketika seorang hamba sudah bisa mencapai keadaan kosong, maka datanglah keadaan isi berupa rahmat serta pertolongan dari Allah Tuhan Yang Maha Agung. Rahmat dan pertolonqan Allah digambarkan dengan turunya hujan deras mengguyur dan Memadamkan api yang menyala-nyala.

Ujian Kedua, tentang Kepemimpinan. 

Sunan Kalijaga mendatangkan lebah yang beribu-ribu ekor jumlanya. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian meminta kepada Sang Pangeran supaya merekayasa, dengan cara bagaimana agar ribuan ekor lebah tadi tidak membuat rusak dan menimbulkan kerugian, bahkan syukur-syukur lebah itu bermanfaat bagi sekalian umat. 

Sebelum menjawab ujian kedua, Pangeran  tidak lupa memohon izin kepada Kanjeng Guru Sunan Kalijaga. Setelah memperoleh restu, selanjutnya, Pangeran berdoa memohon pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Berkat pertolongan Allah. tiba-tiba di tempat tersebut bermunculan rumah lebah yang disebut tala sampai ratusan lempeng jumlahnya, Lempeng-lempeng tala tadi menempel di sela-sela pelepah pohon nyiur yang terdapat disekitar sekeliling arena pendadaran tersebut. Seketika ribuan lebah tadi terbang berduyun-duyun saling berebut tempat memasuki tala yang memang sudah selayaknya menjadi rumah lebah. Melihat kenyataan itu, puaslah hati Sunan Kalijaga. Pangeran dinyatakan lulus pada ujian yang kedua. 

Ujian yang kedua ini mengandung hikmah pelajaran bahwa utama-utamanya manusia itu adalah orang yang dapat menggunakan daya akal atau pikirannya agar menghasilkan karya yang membawa manfaat kepada umat. Menggunakan daya akal dan pikirnya untuk menata, memimpin, dan mengarahkan semua warga dengan baik, serta bisa menempatkan derajat kemanusiaan di tempat yang layak. Jika semua warga sudah bisa diopeni dengan baik, tentu mereka tidak akan membuat kerusakan, apalagi berbuat keonaran. Malah sebaliknya, warga akan bisa menghasilkan karya besar yang bermanfaat besar bagi kehidupan. Digambarkan seperti lebah yang istiqomah mendiami rumah tala, lama-lama akan menghasilkan madu yang suci, halal, dan banyak sekali manfaatnya.

Ujian ketiga, ujian yang terakhir tentang Keyakinan dan Kebersihan hati. 

Kanjeng Sunan Kalijaga melakukan besut sukma. Sukma Kanjeng Sunan Kalijaga naik ke angkasa bersembunyi di balik mega. Pangeran disuruh mencari dan menemukan sukma Kanjeng Sunan Kalijaga. Jika berhasil pada Ujian ini, Kanjeng Sunan Kalijaga berjanji akan menerima Pangeran sebagai murid yang paling dikasihi lahir dan batin, sejak di dunia sampai di akhirat.

Mendengar janji Kanjeng Guru seperti itu, Pangeran merasa bergembira. Jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan keyakinan, bahwa dengan berbekal restu Bapa Guru, pastilah Gusti ALLOH Yang Maha Pengasih akan memberi pertolongan. Pangeran pun segera mengheningkan cipta, membayangkan dirinya terbang ke angkasa selalu mengikuti kemana Kanjeng Sunan Kalijaga pergi. Setelah berhasil menciptakan bayangan seperti itu, lantas beliau pasrah bersandar pada kekuasaan Allah, sambil berdoa memohon pertolongan-Nya agar bisa melakukan besut sukma seperti halnya yang tadi dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. 

Doanya terkabul, sukma Sang Pangeran meninggalkan raga naik ke angkasa, menerobos awan dan mega-mega, di dalam karsa ingin menemukan di mana sukma Sang Guru Sejati berada. Berkat petunjuk dan pertongan dari Gusti Allah, akhirnya sukma Pangeran  berhasil menemukan sukma Sunan Kalijaga. 

Selanjutnya, dengan bertempat di angkasa, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan wejangan kepada Pangeran tentang kemuliaan dan keutamaan ajaran agama lslam juga dengan bertempat di angkasa, 

Kanjeng Sunan Kalijaga menuntun Pangeran untuk memasuki gerbang agama Islam, yaitu dengan cara mengucapkan kalimat syahadatain. “ Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu annaa Muhammadan rasulullah.” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). 

Ujian ketiga ini mengandung dua macam pelajaran hikmah. 

Pertama, bahwa hubungan murid dengan guru harus tembus lahiriyah dan bathiniyahnya. Si murid harus mau dan berani bersusah payah demi memperoleh berkah ilmu dari guru, Sebaliknya si Guru harus suci lahir batinnya, memberikan ilmu kepada si murid hanya yang benar-benar haq dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. 

Kedua menggambarkan sakralnya kalimah syahadatain sebagai gerbang rnemasuki agama Islam, agama Yang paling mulia dan utama di hadapan Allah SWT. sehingga harus dilakukan ditempat yang tinggi (awang-awang).

Selesailah sudah ujian yang diberikan kepada Pangeran

Kanjeng Sunan Kalijaga bergembira di dalam hati karena calon muridnya lulus, dengan mulus tak ada kekurangan suatu apa. Selanjutnya Sunan Kalijaga berkenan memberikan anugerah nama kepada Sang Pangeran dengan tambahan Nama  Natas Angin

Julukan ini diberikan oleh Sunan Kalijaga untuk menggambarkan tingginya tingkat keyakinan, ketaatan, dan kesetiaan Pangeran Natas Angin terhadap ajaran sang Guru sehingga akhirnya berhasil  menguasai  ilmu-ilmu tingkat tinggi. dan diperintah Kanjeng Sunan Kalijaga supaya mengabdikan dirinya di Kasultanan Demak Bintoro dengan dasar rajin,dermawan dan ikhlas.

Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan kepada Pangeran Natas Angin, bahwa ada kewajiban tiga perkara yang harus dijalankan supaya manusia berhasil menemukan kemuliaan hidup di dunia hingga di akherat. 

Pertama harus selalu taat kepada Gusti Allah, 
Kedua harus taat kepada Rasulullah, dan 
Ketiga harus taat kepada para pemimpin. 

Termasuk taat kepada pemimpin adalah taat kepada Guru. Taat ketiga-tiganya penerapannya harus berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kitab Al-Qur’an dan Al-Hadist itu merupakan sumber peraturan hidup yang harus dimengerti. Setelah dimengerti harus dijalani. Sebab tanpa guna orang yang ngalim kitab tanpa disertai ngalim laku. 

Kunci mabrurnya ngalim laku itu terletak pada dua sifat, yaitu Rajin dan dermawan (jawa : dhokoh lan loma). 

Siapa saja yang bisa menjalani dua sifat tadi dalam laku hidupnya, ya disitulah akan ditemukan jalan terdekat untuk bisa menjadi kekasih Allah (waliyullah), sebab sebenarnya para kekasih Allah itu memperoleh keluasan Rahmat dan Ridla dari Allah, bukan karena banyaknya ibadah yang dijalankan, tetapi karena keikhlasan hati dalam menjalani sifat dhokoh (rajin) dan loma (dermawan/pengasih) terhadap sesama manusia.

Menjadi orang dhokoh dan loma itu sangat berat cobaannya, sebab biasanya orang dhokoh (rajin) itu akan dijadikan kongkonan (suruhan) dan orang yang loma (dermawan/pengasih), biasanya akan dijadikan langganan. Dhokoh dan loma saja masih belum sempurna, jika belum disertai rasa Ikhlash, semata-mata karena merindukan keridlaan Allah. 

Demikianlah wejangan dasar yang diterima Pangeran Natas Angin dari Sunan Kalijaga. Selanjutnya Pangeran Natas Angin diperintahkan Sunan Kalijaga supaya mengabdi di Kerajaan Islam Demak serta menunjukkan darma baktinya bagi kejayaan Kesultanan Demak dengan dasar Dhokoh, loma dan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar