Translate

Minggu, 01 Februari 2015

Ulama Spanyol

Kota Granada menjadi terkenal ketika kaum Arab (disebut bangsa Moor oleh orang Barat) memilih daerah itu untuk menjadi lokasi perdagangan di awal abad ke-13. Se­gera setelah itu, sebuah kompleks ben­teng, dengan nama Qalat Al-Hamra (Ben­teng Merah), dibangun di atas plato tinggi untuk memberikan pemandangan kota yang indah bagi emir Moor, serta lokasi yang tepat untuk mempertahan­kan diri dari para penyerang.
 

Awalnya, sebagai sebuah tempat perlindungan ketika Granada dikepung, tembok-tembok tinggi Al-Hamra pada akhirnya menjadi sebuah benteng, me­magari pasar kecil dan beberapa istana indah. Perkembangan selanjutnya, “is­tana” ini kemudian dirancang untuk men­cerminkan keindahan surga. Al-Hamra pun akhirnya menjadi kompleks yang ter­diri atas taman-taman, air mancur, su­ngai kecil, istana, dan sebuah masjid, se­muanya di dalam tembok yang dikelilingi 13 menara raksasa di titik-titik strategis.

Kiblat Pelajar Dunia

Sejarah mencatat, Granada adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam. Granada menjadi tempat paling diburu oleh para pelajar di seluruh dunia.

Granada terletak di selatan kota Mad­rid, ibu kota Spanyol sekarang. Gra­nada memiliki keindahan yang amat mengagumkan. Itu sebabnya, nama “Granada” diambil dari nama keindahan (granada artinya “kecantikan” dan “ke­indahan”).

Kawasan ini terbentang di sekitar Laut Mediterranian dari selatan dan ber­ada di sekitar Sungai Syanil. Tempat yang enak dipandang mata, karena ber­ada di ketinggian 669 meter dari atas laut. Konon, inilah rahasia keindahan dan kecantikan Granada.

Setelah Islam memasuki Spanyol le­wat Andalusia, tempat ini menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang agung dan tergolong dalam kawasan lain­nya yang tak kalah menarik dan ber­sejarah setelah Andalusia, Cordova, Ba­lansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah, dan yang lainnya. Granada juga termasyhur sebagai kiblat yang menjadi tumpuan harapan para pelajar yang datang dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum muslimin maupun non-muslim. Pusat pengkajian yang termasyhur di Granada adalah Al-Yusufiah dan An-Nashriyyah.

Di sini juga telah terahir banyak ilmu­wan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu Al-Qasim Al-Majrithi, sebagai pen­cetus kebangkitan astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriyyah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Ia telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika.

Selain Abu Al-Qasim, juga masih ada sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya Al-Imam Asy-Syathibi, Lisa­nuddin Al-Khatib, As-Sarqasti, Ibnu Zamrak, Muhammad Ibnu Ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah Al-Fahham, Ibnu As-Sarah, Yahya Ibnu Al-Huzail At-Tajibi, As-Shaqurmi, Ibnu Zuh­ri. Di kalangan wanita, tercatat nama-nama seperti Hafsah binti Al-Haj, Ham­dunah binti Ziad, dan saudaranya, Zainab.

Setelah kekuasaan keturunan Bani Ahmar menetap di Granada dan sekitar­nya di Timur Laut, dekat dengan ke­dudukan Al-Hamra, pada tempat yang begitu strategis, mereka membangun salah satu istana yang terkenal dengan nama “Istana Al-Hamra”.

Al-Hamra juga menjadi nama salah satu kota yang sederhana saat berada dalam kekuasaan Badis bin Habus, lalu dia menjadikan kota Al-Hamra sebagai pusat pemerintahannya. Ia membangun sebuah benteng yang besar di sekitar bukit yang tinggi, yang kemudian ter­kenal dengan nama “Benteng Granada”.

Dalam waktu yang cukup lama, Gra­nada menjadi sebuah kota yang tidak da­pat dikalahkan. Karena dimakan umur, bangunan benteng kemudian berubah warna menjadi merah, dan di kawasan inilah Istana Al-Hamra dibangun (Al-Hamra artinya “Istana Merah”).

April Mop

Dalam budaya masyarakat Barat, ada satu hari yang dikenal dengan istilah “April Mop”. Sebenarnya, April Mop ter­kait dengan tragedi dalam sejarah Islam di Granada. Hari itu merupakan pera­ya­an hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, April Mop “di­rayakan” dengan cara melegalkan pe­nipuan dan kebohongan walau dibung­kus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan.

Biasanya orang akan menjawab bah­wa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu te­man, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, akan tertawa, atau mengumpat se­bal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Walaupun belum sepopuler peraya­an tahun baru atau Valentine’s Day, bu­daya April Mop dalam dua dekade ter­akhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat per­kotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang ting­gal di pedesaan. Ironisnya, masya­rakat dengan mudah meniru kebuda­ya­an Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau ti­dak, bermanfaat atau sebaliknya.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menye­dihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh men­jadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, na­mun terus melakukan pembebasan di ne­geri-negeri sekitar menuju Prancis. Pran­cis Selatan dengan mudah dibebas­kan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi ke­pada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.

Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktek­kan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka se­lalu berkata “tidak” untuk musik, bir, per­gaulan bebas, dan segala hal yang di­larang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lama­nya.

Selama itu pula kaum kafir yang ma­sih ada di sekeliling Spanyol terus berupaya membersihkan Spanyol dari Islam, namun selalu gagal. Maka dikirim­lah sejumlah mata-mata un­tuk mem­pelajari kelemahan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan cara un­tuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman me­reka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Musik diperdengarkan un­tuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada mem­­baca Al-Qur’an. Mereka juga me­ngirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-ke­lamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa di­kuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan de­ngan kejam tanpa mengenal perike­ma­nusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu per satu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam ru­mah untuk menyelamatkan diri, namun tentara-tentara salib terus mengejar me­reka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, ting­gal menyisakan ribuan mayat yang ber­gelimpangan bermandikan genangan da­rah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman bahwa para muslim Gra­nada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-ba­rang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga de­ngan tawaran ini. Namun beberapa di antara orang muslim diperbolehkan me­lihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun se­gera bersiap untuk meninggalkan Gra­nada dan berlayar meninggalkan Spa­nyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk mus­lim Granada keluar dari rumah-ru­mah mereka dengan membawa seluruh barang keperluan, beriringan berjalan me­nuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib memilih bertahan dan terus ber­sem­bunyi di rumah-rumah mereka.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang pergi menuju pelabuhan pun tertahan di sana, karena tentara salib juga memba­kar kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spa­nyol. Kapal-kapal itu dengan cepat teng­gelam. Ribuan umat Islam itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena sama sekali ti­dak bersenjata. Mereka juga kebanyak­an terdiri dari para wanita dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung me­reka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemim­pin­nya, ribuan tentara salib segera mem­ban­tai umat Islam Spanyol, tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir mem­bahana. Seluruh muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan ke­jam. Darah menggenang di mana-mana, di darat dan di lautan. Laut yang biru ber­ubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dengan tang­gal 1 April. Inilah yang kemudian diperi­ngati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop, The April’s Fool Day. Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbo­hong kepada orang lain.

Dalam sejarahnya, bagi umat Kris­tiani, April Mop merupakan hari keme­nangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, me­reka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka. Namun dalam perkembangannya kini, unsur historis mungkin tidak lagi dominan, yang lebih kuat adalah hiburan atau keisengan dengan cara penipuan atau kebohongan, tentu tidak sungguh-sung­guh.

Sedang bagi umat Islam, dengan melihat sejarahnya, April Mop tentu merupakan perayaan akan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari ketika ribuan saudara-saudara kita dibantai oleh ten­tara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, sangatlah tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sekali lagi dengan melihat sejarah­nya, siapa pun orang Islam yang turut me­rayakan April Mop sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembu­nuhan massal ribuan saudara-sau­daranya di Granada, Spanyol, lima abad silam.

Istana Al-Hamra

Al-Hamra adalah warisan yang membanggakan bagi kebudayaan Arab di Spanyol serta keahlian pembangun muslim, Yahudi, dan Kristen.

Nama “Al-Hamra” berasal dari warna merah tanah liat yang digali untuk mem­buat tembok-temboknya. Sebuah penje­lasan yang lebih puitis datang dari para cendekiawan muslim yang mengatakan bahwa pembangunan benteng Al-Hamra dilakukan dengan cahaya obor, yang kemudian memberikan warna merah pada tembok-tembok itu.

Dimulai pada tahun 1238 oleh penguasa muslim, Muhammad Al-Ahmar, pembangunan kompleks Al-Hamra diselesaikan oleh anak laki-lakinya, Muhammad II. Generasi pene­rus para pemimpin muslim terus mem­per­luas bangunan yang telah ada dan menambahkan beberapa bangunan baru.

Selesai dibangun menjelang akhir kekuasaan muslim oleh Yusuf I (1333-1353) dan Muhammad Sultan (1353-1391), beberapa bangunan terakhir yang dibangun di Al-Hamra mencerminkan kebudayaan Emirat Nasrid.

Lingkungan itu juga menjadi tempat mengungsi para seniman dan intelektual ketika Kristen Spanyol bergerak masuk ke kawasan tersebut.

Pada tahun 1527, ketika Andalusia jatuh ke tangan penjajah, kaum muslim akhirnya terpaksa meninggalkan lahan seluas 142.000 meter persegi itu.

Setelah invasi kaum Kristen, Al-Hamra mengalami penelantaran dan hampir menjadi puing-puing tak berbe­kas jika tak dikunjungi oleh seorang penulis terkenal Amerika.

Pada tahun 1829, saat mengelilingi Eropa, novelis Washington Irving – paling dikenal dengan horor klasiknya, The Legend of Sleepy Hollow – mengun­jungi Al-Hamra dan terinspirasi untuk menulis satu koleksi kisah petualangan romantis yang berjudul Tales of the Al-Hamra. Dalam suratnya yang dikirim ke seorang teman, Irving menuliskan bah­wa Al-Hamra adalah kota yang paling indah, berlokasi di lanskap yang paling cantik yang pernah ia lihat.

Pujian Irving terhadap Al-Hamra dan sukses besar bukunya mengubah Gra­nada dan sekitarnya menjadi kota yang paling sering dikunjungi di Eropa. Aliran uang dari wisatawan juga memfasilitasi perbaikan bangunan-bangunan, me­nara, lapangan, kolam ikan, dan taman-taman Al-Hamra.

Sekarang, Al-Hamra menjadi pa­meran arsitektur, desain lanskap, dan desain interior Islam, dan merupakan salah satu daya tarik wisatawan yang terkenal.


Tokoh Ulama Andalusia

Selama ini kita mengenal Eropa sebagai kawasan minoritas Islam dan mayoritas Nasrani. Akan tetapi kita wajib mengetahui bahwa pada masa dinasti Umayah Andalusia (Spanyol) banyak tokoh ilmuwan Islam yang uraian keilmuan beliau-beliau masih dipergunakan hingga saat ini dalam berbagai disiplin ilmu di berbagai Negara.
Berikut kami paparkan sebagian para ilmuwan (Ulama) Andalusia (Spanyol) yang masyhur dan ilmu beliau di gunakan hingga saat ini.

AL-ZAHRAWI

Peletak dasar-dasar ilmu bedah modern itu bernama Al-Zahrawi (936 M-1013 M). Orang barat mengenalnya sebagai Abulcasis. Al-Zahrawi adalah seorang dokter bedah yang amat fenomenal. Karya dan hasil pemikirannya banyak diadopsi para dokter di dunia barat. “Prinsip-prinsip ilmu kedokteran yang diajarkan Al-Zahrawi menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di Eropa sampai saat ini.

Ahli bedah yang termasyhur hingga ke abad 21 itu bernama lengkap Sayidina Syaikh Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi Al Anshori 
Beliau terlahir pada tahun 936 M di kota Al-Zahra, sebuah kota berjarak 9,6 km dari Cordoba, Spanyol. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab Ansar yang menetap di Spanyol. Di kota Cordoba inilah dia menimba ilmu, mengajarkan ilmu kedokteran, mengobati masyarakat, serta mengembangkan ilmu bedah bahkan hingga wafat.

Kisah masa kecilnya tak banyak terungkap. Sebab, tanah kelahirannya Al-Zahra dijarah dan dihancurkan. Sosok dan kiprah Al-Zahrawi baru terungkap ke permukaan, setelah ilmuwan Andalusia Abu Muhammad bin Hazm (993M-1064M) menempatkannya sebagai salah seorang dokter bedah terkemuka di Spanyol. Sejarah hidup alias biografinya baru muncul dalam Al-Humaydi’s Jadhwat al Muqtabis yang baru rampung setelah enam dasa warsa kematiannya.

Al-Zahrawi mendedikasikan separuh abad masa hidupnya untuk praktik dan mengajarkan ilmu kedokteran. Sebagai seorang dokter termasyhur, Al-Zahrawi pun diangkat menjadi dokter istana pada era kekhalifahan Al-Hakam II di Andalusia. Berbeda dengan ilmuwan muslim kebanyakan, Al-Zahrawi tak terlalu banyak melakukan perjalanan. Ia lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk merawat korban kecelakaan serta korban perang.

Para dokter di zamannya mengakui bahwa Al-Zahrawi adalah seorang dokter yang jenius terutama di bidang bedah. Jasanya dalam mengembangkan ilmu kedokteran sungguh sangat besar. Al-Zahrawi meninggalkan sebuah ‘harta karun’ yang tak ternilai harganya bagi ilmu kedokteran yakni berupa kitab Al-Tasrif li man ajaz an-il-talil—sebuah ensiklopedia kedokteran. Kitab yang dijadikan materi sekolah kedokteran di Eropa itu terdiri dari 30 volume.

Dalam kitab yang diwariskannya bagi peradaban dunia itu, Al-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedic, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodorant, hand lotion, pewarna rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil pengembangan dari karya Al-Zahrawi.

Popularitas Al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak heran, bila kemudian pasien dan anak muda yang ingin belajar ilmu kedokteran dari Abulcasis berdatangan dari berbagai penjuru Eropa. Menurut Will Durant, pada masa itu Cordoba menjadi tempat favorit bagi orang-orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah. Di puncak kejayaannya, Cordoba memiliki tak kurang dari 50 rumah sakit yang memberikan pelayanan prima.

Sebagai seorang guru ilmu kedokteran, Al-Zahrawi begitu mencintai murid-muridnya. Dalam Al-Tasrif, dia mengungkapkan kepedulian terhadap kesejahteraan siswanya. Al-Zahrawi pun mengingatkan kepada para muridnya tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dengan pasien. Menurut Al-Zahrawi, seorang dokter yang baik haruslah melayani pasiennya sebaik mungkin tanpa membedakan status sosialnya.

Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Al-Zahrawi menanamkan pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan untuk tercapainya diagnosis yang akurat serta kemungkinan pelayanan yang terbaik. Al-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter berpegang pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya untuk meraup keuntungan materi.

Menurut Al-Zahrawi profesi dokter bedah tak bisa dilakukan sembarang orang. Pada masa itu, dia kerap mengingatkan agar masyarakat tak melakukan operasi bedah kepada dokter atau dukun yang mengaku-ngaku memiliki keahlian operasi bedah. Hanya dokter yang memiliki keahlian dan bersertifikat saja yang boleh melakukan operasi bedah. Mungkin karena itulah di era modern ini muncul istilah dokter spesialis bedah (surgeon).

Kehebatan dan profesionalitas Al-Zahrawi sebagai seorang ahli bedah diakui para dokter di Eropa. “Tak diragukan lagi, Al-Zahrawi adalah kepala dari seluruh ahli bedah.” 
Kitab Al-Tasrif yang ditulisnya lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard of Cremona pada abad ke-12 M. Kitab itu juga dilengkapi dengan ilustrasi. Kitab itu menjadi rujukan dan buku resmi sekolah kedokteran dan para dokter serta ahli bedah Eropa selama lima abad lamanya pada periode abad pertengahan.

Sosok dan pemikiran Al-Zahrawi begitu dikagumi para dokter serta mahasiswa kedokteran di Eropa. Pada abad ke-14, seorang ahli bedah Perancis bernama Guy de Chauliac mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter di Eropa hingga terciptanya era Renaissance. Hingga abad ke-16, ahli bedah berkebangsaan Prancis, Jaques Delechamps (1513M-1588M) masih menjadikan Al-Tasrif sebagai rujukan.

Al-Zahrawi tutup usia di kota Cordoba pada tahun 1013M—dua tahun setelah tanah kelahirannya dijarah dan dihancurkan. Meski Cordoba kini bukan lagi menjadi kota bagi umat Islam, namun namanya masih diabadikan menjadi nama jalan kehormatan yakni ‘Calle Albucasis’. Di jalan itu terdapat rumah nomor 6 –yakni rumah tempat Al-Zahrawi pernah tinggal . Kini rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol.

Sang penemu puluhan alat bedah modern

Selama separuh abad mendedikasikan dirinya untuk pengembangan ilmu kedokteran khususnya bedah, Al-Zahrawi telah menemukan puluhan alat bedah modern. Dalam kitab Al-Tasrif, ‘bapak ilmu bedah’ itu memperkenalkan lebih dari 200 alat bedah yang dimilikinya. Di antara ratusan koleksi alat bedah yang dipunyainya, ternyata banyak peralatan yang tak pernah digunakan ahli bedah sebelumnya.

Menurut catatan, selama karirnya Al-Zahrawi telah menemukan 26 peralatan bedah. Salah satu alat bedah yang ditemukan dan digunakan Al-Zahrawi adalah catgut. Alat yang digunakan untuk menjahit bagian dalam itu hingga kini masih digunakan ilmu bedah modern. Selain itu, juga menemukan forceps untuk mengangkat janin yang meninggal. Alat itu digambarkan dalam kitab Al-tasrif.

Dalam Al-Tasrif, Al-Zahrawi juga memperkenalkan penggunaan ligature (benang pengikat luka) untuk mengontrol pendarahan arteri. Jarum bedah ternyata juga ditemukan dan dipaparkan secara jelas dalam Al-Tasrif. Selain itu, Al-Zahrawi juga memperkenalkan sederet alat bedah lain hasil penemuannya.

Peralatan penting untuk bedah yang ditemukannya itu antara lain, pisau bedah (scalpel), curette, retractor, sendok bedah (surgical spoon), sound, pengait bedah (surgical hook), surgical rod, dan specula. Tak cuma itu, Al-Zahrawi juga menemukan peralatan bedah yang digunakan untuk memeriksa dalam uretra, alat untuk memindahkan benda asing dari tenggorokan serta alat untuk memeriksa telinga. Kontribusi Al-Zahrawi bagi dunia kedokteran khususnya bedah hingga kini tetap dikenang dunia dan di jadikan rujukan dalam ilmu kedokteran. Di berbagai Negara. Termasuk Indonesia 

Syaikh Ibnu Hazm

Nama lengkapnya adalah sayidina Syaikh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm bin Ghalib bin Sholeh bin Khalaf bin Ma’dan bin Sufyan bin Yazid bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams al-Umawiyah. atau lebih dikenal dengan nama Ibn Hazm diakui sebagai seorang ulama yang memiliki kontribusi luar biasa dalam dunia Islam. Ia dikenal sebagai ahli fikih dan hadits sekaligus teolog, sejarawan, penyair, negarawan, akademisi dan politisi yang handal. Tak kurang dari 400 judul kitab telah ditulisnya.

Ibn Hazm lahir di kota Cordoba, Spanyol pada akhir Ramadhan 384 H atau bertepatan dengan 7 November 994 M. Ia tumbuh dan besar di kalangan para pembesar dan pejabat. Ayahnya, Sayidina Ahmad, adalah seorang menteri pada masa pemerintahan Khalifah al-Mansur dan putranya, al-Muzaffar. Kendati demikian, kemewahan hidup yang dijalaninya itu tidak menjadikannya lupa diri dan sombong. Sebaliknya, ia dikenal sebagai seorang yang baik budi pekertinya, pemaaf dan penuh kasih sayang.

Sebagai seorang anak pembesar, Ibn Hazm mendapat pendidikan dan pengajaran yang baik. Pada masa kecilnya, ia dibimbing dan diasuh oleh guru-guru yang mengajarkan Alquran, syair, dan tulisan indah Arab (khatt). Ketika meningkat remaja, ia mulai mempelajari fikih dan hadits dari gurunya yang bernama Husain bin Ali al-Farisi dan Ahmad bin Muhammad bin Jasur. Ketika dewasa, ia mempelajari bidang ilmu lainnya, seperti filsafat, bahasa, teologi, etika, mantik, dan ilmu jiwa disamping memperdalam lagi ilmu fikih dan hadits.

Penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu tersebut pada akhirnya menjadikan Ibn Hazm seorang yang pakar dalam bidang agama. Kepakarannya ini bukan hanya diakui oleh kaum muslimin, namun juga diakui oleh kalangan sarjana Barat. Ada sebuah nasehat yang terkenal dari Ibn Hazm yang ditujukan kepada para pencari ilmu yaitu, "Jika Anda menghadiri majelis ilmu, maka janganlah hadir kecuali kehadiranmu itu untuk menambah ilmu dan memperoleh pahala, dan bukannya kehadiranmu itu dengan merasa cukup akan ilmu yang ada padamu, mencari-cari kesalahan dari pengajar untuk menjelekkannya. Karena ini adalah perilaku orang-orang yang tercela, yang mana orang-orang tersebut tidak akan mendapatkan kesuksesan dalam ilmu selamanya.''

Terjun ke politik

Sebagai anak seorang menteri dan hidup di lingkungan istana, Ibn Hazm mulai berkenalan dengan dunia politik ketika berusia lima tahun. Pada waktu itu terjadi kerusuhan politik dalam masa pemerintahan Khalifah Hisyam II al-Mu'ayyad (1010-1013 M) yang mengakibatkan Hisyam beserta ayah Ibn Hazm diusir dari lingkungan istana.

Keterlibatan Ibn Hazm di bidang politik secara langsung terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman V al-Mustahdir (1023 M) dan Khalifah Hisyam III al-Mu'tamid (1027-1031 M). Pada masa kedua khalifah ini Ibn Hazm menduduki jabatan menteri.

Pada masa pemerintahan Abdurrahman V al-Mustahdir, Ibn Hazm bersama-sama dengan khalifah berusaha memadamkan berbagai kerusuhan dan mencoba merebut wilayah Granada dari tangan musuh. Akan tetapi dalam usaha merebut wilayah itu khalifah terbunuh dan Ibn Hazm tertangkap. Ia kemudian dipenjarakan.

Hal serupa juga dialaminya pada masa pemerintahan Hisyam III al-Mu'tamid. Ibn Hazm pernah dipenjarakan setelah sebelumnya ia ikut mengatasi berbagai keributan di istana. Selepas keluar dari tahanan, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia politik dan keluar dari istana.

Sejak keluar dari istana, Ibn Hazm tidak menetap di satu tempat tertentu, tetapi berpindah-pindah. Selain mencari ilmu, motivasinya hidup berpindah-pindah tempat karena ingin mencari ketenangan dan keamanan hidupnya. Sejak saat itu ia juga mencurahkan perhatiannya kepada penulisan kitab-kitabnya.

Kitab-kitab karangan Ibn Hazm seperti yang dikatakan oleh anaknya, Abu Rafi'i al-Fadl, berjumlah 400 buah. Tetapi karyanya yang paling monumental adalah kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (Ilmu Ushul Fikih; terdiri dari delapan jilid) dan kitab al-Muhalla (Ilmu Fikih; terdiri dari tiga belas jilid). Kedua kitab ini menjadi rujukan utama para pakar fikih kontemporer.  

Karya-karyanya yang lain di antaranya adalah:

Risalah fi Fada'il Ahl al-Andalus (Risalah tentang Keistimewaan Orang Andalus), 

al-Isal Ila Fahm al-Khisal al-Jami'ah li Jumal Syarai' al-Islam(Pengantar untuk Memahami Alternatif yang mencakup Keseluruhan Syariat Islam), 

al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa' wa an-Nihal (Garis Pemisah antara Agama, Paham dan Mazhab), 

al-Ijma' (Ijmak),Maratib al-'Ulum wa Kaifiyah Talabuha (Tingkatan-Tingkatan Ilmu dan Cara Menuntutnya), 

Izhar Tabdil al-Yahud wa an-Nasara (Penjelasan tentang Perbedaan Yahudi dan Nasrani), dan 

at-Taqrib lihadd al-Mantiq (Ilmu Logika).

Selain menulis kitab mengenai ilmu-ilmu agama, Ibn Hazm juga menulis kitab sastra. Salah satu karyanya dalam bidang sastra yang sangat terkenal adalah yang berjudul Tauq al-Hamamah (Di Bawah Naungan Cinta). Kitab ini menjadi karya sastra terlaris sepanjang abad pertengahan. Kitab yang berisikan kumpulan anekdot, observasi, dan puisi tentang cinta ini tidak hanya dibaca oleh kalangan umat Islam, tetapi juga kaum Nasrani di Eropa.    

Ibn Hazm wafat di Manta Lisham pada 28 Sya'ban 456 H bertepatan pada tanggal 15 Agustus 1064 M. Wafatnya Ibn Hazm cukup membuat masyarakat kala itu merasa kehilangan dan terharu. Bahkan, Khalifah Mansur al-Muwahidi, khalifah ketiga dari Bani Muwahid termenung menatap kepergian Ibn Hazm, seraya berucap: "Setiap manusia adalah keluarga Ibn Hazm”. 



Imam Al Qurthubi

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang ahli tafsir dari Cordova (sekarang bernama Spanyol). Ia berkelana ke negeri timur dan menetap di kediaman Abu Khusaib (di selatan Asyut, Mesir). Dia salah seorang hamba Allah yang soleh dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan menulis.

Karya-Karya Beliau
Dia menulis mengenai tafsir al-Qur’an, sebuah kitab besar yang terdiri dari 20 jilid, yang diberinya judul: “Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan”. Kitab ini merupakan salah satu tafsir terbesar dan terbanyak manfaatnya. Penulis tidak mencantumkan kisah-kisah atau sejarah, dan sebagai gantinya, penulis menetapkan hukum-hukum al-Qur’an, melakukan istimbath atas dalil-dalil, menyebutkan berbagai macam qira’at, I’rab, nasikh, dan mansukh.
- Al-Asna fi Syarh Asma’illaj al-Husna
- At-Tidzkar fi Afdhal al-Adzkar
- Syar at-Taqashshi
- Qam’ al-Hirsh bi az-Zuhd wa al-Qana’ah
- At-Taqrib likitab at-Tamhid
- Al-I’lam biima fi Din an-Nashara min al-Mafasid wa al-Auham wa Izhharm Mahasin Din al-Islam
- At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah (edisi Indonesia: Buku Pintar Alam Akhirat)

Guru-Guru Beliau
Beliau mendengar pelajaran dari Syeikh Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafsh dan sebagainya.
Beliau tinggal di kediaman Abu al-Hushaib.

Wafat Beliau
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi meninggal dunia dan dimakamkan di Mesir iaitu dikediaman Abu al-Hushaib, pada malam isnin, tanggal 09 Syawal tahun 671 H. semoga Allah merahmati dan meredhai beliau.amiin

Ibnu Rusyd

Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Rusyd yang lebih di kenal dengan panggilan Ibnu Rusyd al-hafidh di lahirkan di kota cordoba pada tahun 520 H. Pada saat itu kota Cordoba adalah salah satu dari pusat budaya, seni dan sastra. Ayah Ibnu Rusyd adalah seorang hakim, dan kakeknya adalah ketua hakim di Andalus (Spanyol) Dia berkeinginan agar keluarganya menjadi orang-orang yang berilmu dan menjadi para hakim.

Kehidupan beliau rahimahullah

Ibnu Rusyd tumbuh besar di cordoba, di sana dia belajar fiqih, matematika, dan kedokteran kepada ulama-ulama yang terkenal pada zamannya. Diapun menjabat sebagai hakim dikota Cordoba. Namun propesinya sebagai hakim tersebut tidak melalaikannya dari membaca, sampai di ceritakan tentangnya bahwa ia tidak pernah meninggalkan satu malampun dari kehidupannya tanpa belajar dan menulis kitab, kecuali pada saat malam pernikahanya dan ketika wafat ayahandanya.

Adapun kebahagiaan Ibnu Rusyd yang hakiki adalah ketika ia di dampingi oleh kitab-kitabnya, dan dia juga menyukai buku-buku filsafat yang mana sebagian orang pada zamannya menganggapnya sebagai kekufuran dan kesesatan!! Akan tetapi dia tidak menghiraukan ucapan tersebut, karena dia yakin dengan aqidah dan agamanya. Maka ia pun mulai mambaca kisah pejalanan para filosof yang terkenal semisal Aristoteles dan selainnya, sehingga iapun menjadi pandai dalam ilmu filsafat, ilmu fiqih, dan semua bidang ilmu yang ada pada zamannya.

Melihat keilmuan yang di miliki Ibnu Rusyd rahimahullah maka al-Mansyur Abu Ya’qub penguasa negara muwahidin mengundangnya untuk datang ke kediamannya di (Marrakech). Maka al-Mansyur pun menjamunya dan memuliakannya, namun Ibnu Rusyd tidak menghadiri pertunjukan musiknya, bahkan dia menjaga diri dari menghadiri acara seperti itu. Dari kesungguhan Ibnu Rusyd dalam menjaga dirinya dari yang di haramkan, ia menjauhi rayuan-rayuan semu pada masa mudanya.

Ibnu Rusyd juga seorang dokter, dia berkata: “ Barangsiapa yang memperdalam ilmu pembedahan, maka hal tersebut akan menambah keyakinannya kepada Allah Ta’ala. ” Dia berpendapat bahwa orang yang beprofesi sebagai dokter akan menyaksikan kekuasaan Allah Ta’ala pada ciptaanNya. Itu semua dikarenakan ia menyaksikan anggota-anggota tubuh bekerja sesuai dengan kerjanya yang sempurna. Oleh karena, hal tersebut menjadikan keimanannya menjadi kuat dan kokoh.

Ibnu Rusyd mempunyai banyak karya tulis dalam bidang kedokteran, di antara kitabnya yang paling penting adalah kitab ‘ilal (nama-nama penyakit) yang mana kitab ini memaparkan tentang pengobatan penyakit tersebut.

Ibnu Rusyd adalah seorang ahli fiqih dan berilmu, Ibnul anbar berkata tentangnya: Bahwsanya dia di minta untuk memberikan fatwa dalam bidang kedokteran seperti dia di minta berfatwa di dalam bidang fiqih. Dia mempunyai kitab fiqih yang dia beri nama Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, dan juga kitab-kitabnya yang lain, yang mana jumlahnya mencapai puluhan.

Wafatnya rahimahullah

Setelah perjalanan ilmiah yang di berkahi, Ibnu Rusyd sakit parah dan meninggal pada malam Kamis, 9 Safar 595 H. Jenazahnya di pindahkan dari Marrakech ke Cordoba, sesuai dengan wasiatnya, karena Cordoba adalah tempat asalnya dan tempat nenek moyangnya.


Imam Assathibi

IMAM al-Syatibi adalah seorang ulama besar dari Spanyol yang menguasai berbagai cabang ilmu keislaman. Dilahirkan di Granada, Spanyol pada tahun 720 H dan wafat pada tahun 790 H, semasa hidupnya dikenal sebagai seorang ulama yang ahli dalam bidang hukum Islam , sehingga ia berpropesi sebagai mufti, imam, guru dan penulis produktif. Selain itu beliau juga seoarang yang ahli dalam bahasa Arab dan pejuang akidah.

Al-Imam al-Hafizh bin Marzuq menjuluki beliau sebagai, “Seorang Syeikh, Profesor, ahli Ilmu Fikih, Imam, Muhaqqiq, dan ulama besar yang shalih

Karena keluasan ilmu dalam berbagai disiplin, maka beliau menjadi tempat rujukan masyarakat dan penguasa dalam menyelesaikan berbagai problem keagamaan di Spanyol kala itu.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, Imam al-Syatibi bukanlah produk pendidikan formal, melainkan belajar secara otodidak dan mengembara dari satu guru ke guru yang lain. Berawal dari pendidikan rumah yakni dibawah asuhan orang tua tuanya sendiri, maka kemudian beliau melanjutkan pengembaraan mencari melalui halaqah-halaqah yang tersebar di berbagai masjid di Spanyol.

Dalam bidang pemikiran hukum Islam, beliau telah melahirkan karya agung, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariʿah. Kitab ini terdiri dari empat bab dan memuat tentang metodologi dan teori hukum Islam yang bercorak filosofis.

Karya ini mendapat pujian dari berbagai tokoh, baik masa setelah beliau maupun zaman kontempoer. Imam aI-Hafiz bin Marzuq menyebut al-Muwafaqat ini sebagai kitab yang paling hebat dalam pemikiran Hukum Islam: “Sesungguhnya kitab al-Muwafaqat termasuk kitab yang paling hebat.” 

Rasyid Ridha mengatakan, “Akan tetapi penulis kitab ini (maksudnya kitab al-Iʿtisham karya al-Syatibi) – yang juga penulis kitab al-Muwafaqat – termasuk dalam pembaharu-pembaharu yang luar biasa dalam Islam. Tidak ada yang menandingi kecermatannya dalam menuangkan buah pikiran. Ia seperti si bijak dalam ilmu sosial kemasyarakatan, yakni Abdurrahman Ibnu Khaldun. Keduanya membawa karya yang tidak dapat diungguli oleh seorang pun sebelumnya. Namun sayang sekali, umat tidak banyak memanfaatkan ilmu mereka sebagaimana mestinya.”

Sementara Fazlur Rahman di dalam Islamic Methodology in History – ia menyebut Imam al-Syatibi sebagai the Brilliant Jurist – meskipun Rahman sendiri tampak seperti dualisme terhadap Imam al-Syatibi. Satu sisi ia memuji al-Syatibi dan menjadikan konsep al-Istiqraʿ al-Maʿnawi dan Ushul al-Kulliyah yang dirumuskan al-Syatibi sebagai dasar analisis pada tema-tema pemikiran hukum yang dikembangkannya. Namun pada tempat lain, ia menolak unsur-unsur sunnah yang justeru ditekankan oleh al-Syatibi tersebut Dan sikap dualisme semacam ini – baik dalam bentuk yang sama dengan Rahman maupun berbeda – juga menular kepada beberapa tokoh yang berada dalam gerakan pemikiran Islam Liberal Indonesia.

Selain itu, seruan yang mengajak kepada para peneliti hukum Islam untuk mengkaji secara serius pemikiran hukum Imam al-Syatibi yang terdapat di dalam al-Muwafaqat juga pernah di serukan oleh Muhammad Abduh, kemudian disusul oleh Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal dan Abdul Aʿla al-Maududi yang mengingatkan betapa arti penting untuk menelaah kitab ini.

Dalam bidang fikih, Imam al-Syatibi merupakan penganut Mazhab Maliki. Dan sumbangannya beliau dalam fikih dapat kita jumpai di dalam karyanya Fatwa al-Imam al-Syaṭibi yang menjadi bukti bahwa beliau itu ahli dalam berfatwa (mufti). Kitab ini diedit oleh Muhammad Abu al-Ajfan dan diterbitkan di Tunisia pada tahun 1985. Selain itu dalam bidang yang sama juga dijumpai karya beliau yang berjudul Kitab al-Majalis yang merupakan syarahan beliau atas Shahih Bukhari-Muslim tentang jual beli.

Selain itu beliau juga seorang pejuang akidah dan Sunnah, yang dibuktikan melalui karyanya, al-Iʿtisham. Kitab ini diedit dan diberi kata pengantar langsung oleh Rasyid Ridha. Pada dasarnya karya beliau yang satu ini lebih kepada membahas tentang bidʿah dan sunnah, yang tentu ia tidaklah lahir begitu saja dalam ruang kosong, melainkan atas dasar keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam pada waktu itu yang mempraktekkan berbagai bidʿah serta menganggapnya sebagai sunnah. Hal ini terekam dari ungkapan beliau dalam pengantar kitabnya ini, “Aku berharap, dengan meneliti tema ini, akan kita ketahui orang-orang yang menghidupkan Sunnah dan orang-orang yang mematikan Sunnah. Dalam kurun waktu yang cukup lama dan dalam penelitian panjang, aku telah menyimpulkan dasar-dasar bidʿah dan Sunnah sesuai dengan ketentuan hukum syariat, cabang-cabangnya atau pecahan pembahasannya yang panjang….. Oleh karena itu, ada baiknya jika hal tersebut diungkap secara tertib dengan berbentuk tulisan, guna memenuhi tuntutan serta mengangkat dan menghilangkan hal-hal samar yang sering muncul, sehingga tidak sulit membedakan antara yang Sunnah dengan yang bid’ah.”

Adapun karya beliau dalam bidang bahasa Arab dapat dijumpai dalam al-Maqashid al-Syafiyah fī Syarh al-Khulashah al-Kafiyah. Diedit oleh ʿAbd al-Rahman ibn Sulaiman al-ʿUs Yamin dan Diterbitkan oleh Universitas Umm al-Qura, Saudi ʿArabiya pada tahun 2007 yang terdiri dari 10 jilid. Selain itu ada juga karya beliau dalam bidang yang sama yakni Syarh Rajaz ibn Malik fi al-Nahwi (al-fiyah). Berdasarkan karya beliau ini, maka nyatalah beliau itu seorang yang pakar dalam Bahasa Arab.

Pengetahuan dan keilmuan Imam al-Syatibi yang multi disiplin tersebut bukanlah barang asing dalam sejarah khazanah keilmuan kita. Sebut saja Imam Fakhruddin al-Razi, Imam al-Ghazali, Ibn Sina, al-Farabi atau juga sekelompok ilmuan yang berada dibawah payung Ihkwan al-Shafa dan sederet tokoh-tokoh lainnya yang menguasai berbagai bidang ilmu, baik itu – meminjam istilah Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ʿUlum al-Din – ilmu fardu ʿain maupun ilmu fardu kifayah.

Apa yang terjadi pada Imam al-Syatibi tentulah tidak terlepas dari kehausan dan kecintaan beliau kepada ilmu serta sikap beliau yang tidak mendikotomikan dan mendualismekan ilmu. Hal ini terekam dalam ungkapan beliau sendiri di dalam pengantar al-Iʿtisham, “… Sejak otakku terbuka dalam pemahaman dan jiwaku selalu terarah untuk menelaah semua ilmu, baik logika, syariah, ushul (pokok-pokok dalam agama) maupun furuʿ (cabang-cabang dalam agama). 

Aku tidak pernah membatasi suatu ilmu tanpa ilmu yang lain dan tidak mengasingkan satu jenis ilmu dari jenis yang lain, sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemampuan. Aku kerahkan segala kekuatan yang ada pada diriku, bahkan aku menenggelamkan diri dalam lautannya, sebagaimana menyelamnya orang yang pandai berenang. Aku maju ke medan peperangan sebagaimana seorang ksatria maju untuk berperang, hingga hampir saja aku binasa di tengah-tengah kedalaman ilmu, atau aku patah dalam kelembutanku, sebab hal itu terlalu besar bagi orang sepertiku.” 


Ibnu Malik, 

Nama lengkapnya adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karang-mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H).

Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).

Di kawasan dua kota ini nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam Al-Nawawi, Ibn al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia menyajikan teks Al-Hadits. Kalau tidak didapatkan lagi, ia mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran yang diproses melalui paradigma ini dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazhom (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Pada umumnya, karangan tokoh ini lebih baik dan lebih indah dari pada tokoh-tokoh pendahulunya.

Di antara ulama, ada yang menghimpun semua tulisannya, ternyata tulisan itu lebih banyak berbentuk nazham. Demikian tulisan Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Di antara karangannya adalah Nazhom al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Shorof yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini diringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah (ringkasan) karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah (ribuan) karena bait syairnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait.

Bab yang terpendek diisi oleh dua bait seperti Bab al-Ikhtishash dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir karena diisi empat puluh dua bait. Dalam muqaddimahnya, kitab puisi yang memakai Bahar Rojaz ini disusun dengan maksud 
(1) menghimpun semua permasalahan nahwiyah dan shorof yang dianggap penting. 
(2) menerangkan hal-hal yang rumit dengan bahasa yang singkat , tetapi sanggup menghimpun kaidah yang berbeda-beda, atau dengan sebuah contoh yang bisa menggambarkan satu persyaratan yang diperlukan oleh kaidah itu.
(3) membangkitkan perasaan senang bagi orang yang ingin mempelajari isinya. 
Semua itu terbukti, sehingga kitab ini lebih baik dari pada Kitab Alfiyah karya Ibn Mu’thi. Meskipun begitu, penulisnya tetap menghargai Ibnu Mu’thi karena tokoh ini membuka kreativitas dan lebih senior. Dalam Islam, semua junior harus menghargai seniornya, paling tidak karena dia lebih sepuh, dan menampilkan kreativitas.

Kitab Khulashoh yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan Ilmu Nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibn Malik menjadi popular, dan pendapatnya banyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu di Timur. Al-Radli, seorang cendekiawan besar ketika menyusun Syarah Al-Kafiyah karya Ibn Hajib, banyaklah mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa akademisi Abbasiyah di Baghdad, dan merosotnya para ilmuan Daulat Fathimiyah di Mesir, maka para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibnu Malik. Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran nahwu pada awalnya, tidak banyak diminati oleh masyarakat.

Tetapi setelah lama, pelajaran ini menjadi kebutuhan dan dinamislah gerakan karang-mengarang kitab tentang ilmu yang menarik bagi kaum santri ini. Di sana beredarlah banyak karangan yang beda-beda, dari karangan yang paling singkat sampai karangan yang terurai lebar. Maksud penulisnya ingin menyebarkan ilmu ini, kepada masyarakat, dan dapat diambil manfaat oleh kaum pelajar. Dari sekian banyak itu, muncullah Ibn Malik, Ibn Hisyam, dan al-Sayuthi. Karangan mereka tentang kitab-kitab nahwu banyak menampilkan metoda baru dan banyak menyajikan trobosan baru, yang memperkaya khazanah keilmuan. Mereka tetap menampilkan khazanah keilmuan baru, meskipun banyak pula teori-teori lama yang masih dipakai. Dengan kata lain, mereka menampilkan gagasan dan kreatifitas yang baru, seolah-olah hidup mereka disiapkan untuk menjadi penerus Imam Sibawaih (Penggagas munculnya Nahwu dan Shorof,.). Atas dasar itu, Alfiyah Ibn Malik adalah kitab yang amat banyak dibantu oleh ulama-ulama lain dengan menulis syarah (ulasan) dan hasyiyah (catatan pinggir) terhadap syarah itu.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun, para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Di sela-sela itu muncullah beberapa kreasi baru dari beberapa ulama yang memberikan catatan pinggir (hasyiyah) terhadap kitab-kitab syarah. Syarah Alfiyah yang ditulis pertama adalah buah pena putera Ibn Malik sendiri, Muhammad Badruddin (w.686 H). Syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah yang diuraikan oleh ayahnya, seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq, tanazu’ dan sifat mutasyabihat. Kritikannya itu aneh tapi putera ini yakin bahwa tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin mengarang bait Alfiyah tandingan dan mengambil syahid dari ayat al-Qur’an.

Disitu tampak rasional juga, tetapi hampir semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama. Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labak ini, sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz Karena itu, penulis-penulis Syarah Alfiyah yang muncul berikutnya, seperti Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan Al-Asymuni, banyak meralat alur pemikiran putra Ibn Malik tadi. Meskipun begitu, Syarah Badrudin ini cukup menarik, sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya, seperti karya Ibn Jama’ah (w.819 H), Al-‘Ainy (w.855 H), Zakaria al-Anshariy (w.191 H), Al-Sayuthi (w.911 H), Ibn Qasim al-Abbadi (w.994 H), dan Qadli Taqiyuddin ibn Abdulqadir al-Tamimiy (w.1005 H).

Di antara penulis-penulis Syarah Alfiyah lainnya, yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini, adalah Al-Muradi, Ibnu Hisyam, Ibnu Aqil, dan Al-Asymuni.

Al-Muradi (w. 749 H) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain Al-Damaminy (w. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibn Hisyam ketika menyusun Al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi yang muridnya Abu Hayyan itu.

Ibnu Hisyam (w.761 H) adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah . Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufa, Bashrah dan semacamnya. Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah Al-Sa’di al-Maliki al-Makki, dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ( ta’liq ) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. 905 H).

Ibnu Aqil (w. 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Penulis berpendapat, bahwa kitab ini adalah Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren, dan banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlariy.

Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. 929 H). Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing. Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibn Malik, Al-Muradi, Ibn Aqil, Al-Sayuthi, dan Ibn Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya.

Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga, antara lain : Hasyiyah Hasan ibn Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi, Hasyiyah al-Hifni, dan Hasyiyah al-Shabban. Dalam muqaddimah hasyiyah yang disebut akhir ini, penulisnya mencantumkan ulasan, bahwa metodanya didasarkan atas tiga unsur, yaitu 
(a) Karangannya akan merangkum semua pendapat ulama nahwu yang mendahului penulis, yang terurai dalam kitab-kitab syarah al-Asymuni. 
(b) Karangannya akan mengulas beberapa masalah yang sering menimbulkan salah faham bagi pembaca. 
(c) Menyajikan komentar baru yang belum ditampilkan oleh penulis hasyiyah sebelumnya. Dengan demikian, kitab ini bisa dinilai sebagai pelengkap catatan bagi orang yang ingin mempelajari teori-teori ilmu nahwu.

Itu sebagian Ulama Spanyol di masa lalu yang keilmuan Beliau2 masih di gunakan di lapisan masyarakat islam dan non Islam 
Semoga ada manfaatnya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar