Translate

Kamis, 26 Maret 2015

Sejarah Purwokerto

Luas wilayah Kota Purwokerto adalah 3.585,34 ha, terdiri dari tanah sawah kering, perkebunan negara/ swasta/ perorangan dan lain-lain termasuk sungai, jalan dan kuburan. 
Wilayah kota Purwokerto saat ini terdiri atas 28 kelurahan yang terbagi dalam 4 wilayah kecamatan. Kecamatan Purwokerto Utara terdiri atas 7 kelurahan, kecamatan Purwokerto Selatan ada 7 kelurahan, kecamatan Purwokerto Barat ada 7 kelurahan juga dan kecamatan Purwokerto Timar juga ada 7 kelurahan. 
Sedangkan batas wilayah kota Purwokerto yaitu; sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Karang Lewas, sebelah utara dengan Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Baturraden, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Sokaraja dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Patikraja dan Kecamatan Sokaraja.      

Wilayah kota Purwokerto terletak di bagian selatan Propinsi Jawa Tengah, terdiri atas 4 kecamatan dan 28 kelurahan berpenduduk sekitar 208.160 jiwa. Adanya jalur regional yang menghubungkan kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang melalui Kota Purwokerto yang menyebabkan kota ini menjadi pusat simpul jalur transportasi dan distribusi. Sedangkan menurut sistem perkotaan di Jawa Tengah, peranan dan fungsi kota Purwokerto adalah sebagai pusat utama wilayah pembangunan poros Cilacap. 

Berdasarkan letak geografis, wilayah kota Purwokerto dibagi dalam tiga kawasan, yaitu :
Lingkungan rural (daerah pedesaan atau pinggiran) yang meliputi sebagian Kecamatan Purwokerto Utara dan Purwokerto Selatan.
Lingkungan urban (perkotaan) yaitu sebagian Purwokerto Utara dan Purwokerto Timur.
Lingkungan transisi, yaitu kecamatan Purwokerto Barat.

Fasilitas perekonomian yang ada meliputi perusahaan, bengkel, pasar, hotel supermarket/ pertokoan dan home industri. Di bidang pendidikan, sosial dan budaya terdapat sarana pendidikan mulai dari TK sampai perguruan Tinggi dan beberapa lembaga pendidikan lain. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban di wilayah Purwokerto menggunakan sistem keamanan lingkungan secara terpadu. 

Secara umum Purwokerto sesuai dengan fungsinya terdapat 4 jenis lingkungan kota, yaitu  :
Lingkungan perdagangan dan perkantoran, berlokasi di daerah pusat kota, sepanjang jalan regional dan berkembang lancar sepanjang beberapa jalan arteri.
Pada bagian tengah kota, penggunaan lahannya untuk perumahan, berkembang konsentris terhadap pusat kota.
Fasilitas pendidikan dasar dan menengah menyebar di beberapa bagian kota dan masih berlokasi di sekitar wilayah pusat kota.
fasilitas sosial yang paling menonjol adalah fasilitas kesehatan berlokasi di beberapa pusat kota, ada yang di wilayah bagian barat, timur dan utara.
Kota Purwokerto dalam menyelenggarakan pemerintahan, menggerakan pembangunan dan dalam membina masyarakat selalu bertolak dari kondisi, potensi dan kemungkinan pengembangannya di masa yang akan datang. Adapun potensi yang dimiliki Kota Purwokerto dapat dikelompokkan dalam 2 aspek yaitu sumber daya manusia dan sumber daya alam. Sumber daya manusia merupakan motor penggerak lajunya pembangunan, sehingga selalu diupayakan pembinaanya, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Potensi sumber daya alam secara geografis di samping memiliki letak strategis sebagai kota sentral terhadap kota-kota lain dalam wilayah kabupaten Banyumas, dilaluinya jalur regional yang menghubungkan kota-kota di Jawa Tengah    juga memiliki peran sebagai jasa koleksi dan distribusi hasil-hasil pertanian dan industri kecil.

Dengan Surat Keputusan Bupati Kepala daerah Tingkat II nomor 130/1207/1988, pada waktu itu Bupati Djoko Sudantoko, telah ditetapkan motto Kota Purwokerto/ Kabupaten Banyumas. Motto diperlukan sebagai motivasi memacu jalannya pembangunan. Karena itu, dipilih motto kota ‘SATRIA’ yang dirasa tepat untuk Kabupaten Banyumas yang beribu kota di Purwokerto. Satria di sini mengandung dua pengertian. Pertama, Satria adalah singkatan atau akronim dari Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah dan Aman. Motto yang terkandung dalam ungkapan Satria ini sejalan dengan usaha-usaha pembangunan yang sedang dan terus dilaksanakan pemerintah daerah. Peran Satria sebagai motto, etos kerja bagi aparat dan masyarakat juga sebagai sasaran atau arah pembangunan. Kedua, Satria mempunyai pengertian sifat masyarakat Banyumas yang “cablaka”. Artinya Jujur, terbuka (terus terang), tulus ikhlas, mempunyai loyalitas, dedikasi yang tinggi dan berani sebagai watak seorang ksatria. Sosok Bawor sebagai tokoh wayang khas Banyumas menjadi trade mark.
Dari segi historis, Banyumas memang banyak melahirkan satria, baik dari zaman perjuangan maupun zaman pembangunan dewasa ini. ‎Di barisan militer , Banyumas memang gudangnya, seperti Panglima Besar Jenderal Sudirman, Jendral gatot Subroto, dan Letjen Suprapto. Di bidang kesehatan, tercatat Prof. Dr. Margono Sukaryo sebagai ahli bedah pertama di Indonesia. Kini nama nya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum Purwokerto. Di bidang koperasi, perintisnya adalah R A. Wiria Atmaja, patih Banyumas  saat itu. K.H. Abu Dardiri perintis berdirinya Departemen agama. Dunia Perbangkan yang kini tumbuh menjamur, ternyata perintis pertamanya juga putra Banyumas yaitu Margono Joyohadikusumo (ayah Prof. Sumitro Djojohadikusumo).  
Arah yang ingin dicapai dari slogan atau motto Purwokerto kota Satria adalah :
1.   Sejahtera               :   Kondisi masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
2.   Adil                       :   Kesejahteraan yang merata dalam arti seluruh wilayahnya.
3.   Tertib                     :   Situasi masyarakat yang serba tertib dalam kehidupannya.
4.   Rapi                       :   Keadaan tertata sebagai dampak lanjut dari ketertiban.
5.   Indah                     :   Dalam arti enak dilihat dan nyaman
6.   Aman                    :   Suasana tentram dan tenang sehingga pembangunan lancar.

Pertumbuhan ekonomi nasional dewasa ini telah berlangsung cukup significan dan dampaknya berpengaruh langsung terhadap perkembangan daerah perkotaan, yang biasanya diiringi pula dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dari lajunya secara alamiah. Didukung oleh pesatnya industrialisasi dan perdagangan, maka daerah perkotaan, dalam hal ini Purwokerto mempunyai peranan yang semakin besar dalam kegiatan ekonomi nasional. Dengan demikian cita-cita Kota Satria akan segera terwujud yaitu masyarakat Banyumas atau Purwokerto yang didam-idamkan yaitu masyarakat yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerta Raharja.
‎‎
Purwokerto adalah kota kecil yang cukup berkembang dan berkualitas. Banyak tokoh yang jadi pahlawan serta jadi pengharum nama Bangsa yang lahir dari kota ini. 
Pada awalnya Purwokerto adalah sebuah hutan dan mulai ada perkampungan sejak pertengahan abad 18M. Purwokerto awalnya didirikan di sebelah utara pasar Wage. Makam Kyai Purwo sebagai bukti sejarah awal berdirinya Purwokerto.

Asal usul kota Purwokerto 

Ketika terjadi pemberontakan Cina yang sering disebut geger Pacinan pada tahun 1742M, banyak pembesar Kraton Kartasura lari meninggalkan kraton. Sebagian lari ke arah timur. Konon Sunan Pakubuwono termasuk yang lari ke arah timur. 

Sesampai di sebuah desa beliau beristirahat di bawah pohon mangga sambil makan buah mangga, Ketika beristirahat Sang Sunan bersabda kepada para pengikutnya : Saksikanlah, suatu ketika tempat ini diberi nama Pelem Wulung. Pelem artinya mangga dan Wulung adalah jenis suatu mangga. Sampai kini desa itu bernama Premulung yang asalnya Pelemwulung.

Sebagian lagi lari ke arah barat, mencari keselamatan masing-masing. Untuk mencari tempat yang aman, para pengungsi sebagian lari terus ke arah barat. Sekitar dua puluh lima orang telah sampai di daerah Kadipaten Banyumas. Dan terus menuju utara ke arah Gunung Slamet. Dan sampai lah rombongan yang di pimpin oleh Kyai Kartisara sampai di sebuah tempat yang cukup datar.

Keadaannya waktu itu masih hutan rimba. Merasa sudah sampai daerah yang dianggap aman mereka mulai membabat hutan. Tempat itu dijadikan pekarangan dan ladang serta perkebunan. Rumah-rumah pun dibuat secara gotong royong untuk tempat tinggal mereka. 

Daerah yang tadinya hutan, banyak dihuni binatang liar dan mahluk-mahluk halus serta menyeramkan, kini menjadi suatu desa yang aman dan makmur. disamping pertanian, sebagian juga ada yang memiliki keahlian lain dagang, pertukangan dan ada yang pandai dalam ilmu kekebalan ataupun ilmu gaib

Di antara mereka yang dianggap mempunyai ngelmu bernama Kyai Kartisara. Kyai Kartisara sangat disegani dan dihormati orang-orang di tempat itu. Karena itu dia dianggap sebagai "sesepuh"nya. Lama-kelamaan daerah pinggiran gunung Slamet bagian selatan yang tadinya hutan itu menjadi suatu desa yang aman. Namun desa itu belum mempunyai nama. 

Karena itu Kyai Kartisara mengusulkan agar desa itu diberi nama Purwakerta. Purwa artinya awal mula; Kerta artinya aman atau damai. Jadi Purwakerta artinya awal mula yang damai. 
Nama itu disepakati oleh semua penduduknya. Dan Kyai Kartisara pun di panggil dengan sebutan Kyai Purwo (Mbah Purwo)  
Rumah-rumah bertambah, hutan-hutan pun banyak berubah, banyak ladang dan sawah. Banyak orang-orang dari kampung lain yang singgah, ada juga yang pindah. Sehingga desa itu semakin ramai dan indah. 

Kyai Kartisara mempunyai seorang putera bernama Kendang Gumulung. Kendang Gumulung juga menuruni bakat ayahnya. Sehingga, setelah Kyai Kartisara meninggal dia menggantikan kedudukan sang ayah. Kemudian Kendang Gumulung yang memiliki ilmu kesaktian seperti ayahnya berpindah tempat. Di tempat ini pun banyak orang yang berguru padanya. Orang-orang yang mau belajar atau berguru ke tempat tinggal Kendang Gumulung menyebutnya kepeguron. Peguron artinya tempat berguru. 

Dari kata Peguron lama kelamaan menjadi Peguwon. Di kemudian hari tempat ini disebut orang desa Peguwon. Setelah meninggal Kendang Gemulung dimakamkan di desa peguwon. Hingga kini orang menyebutnya makam kyai Kendang Gemulung.
Demikianlah riwayat  asal mula kota purwokerto. Orang Banyumas sendiri menyebut purwokerto dalam dialek Banyumas Purwakerta atau puraketa. ‎

Kepeloporan Kyai Patih Wirjaatmadja

Selama ini kita hanya mengenal BRI sebagai lembaga perkeriditan rakyat yang ada Di negri ini dan sedikit yang tau siapa sebenarnya pencetus Perkeriditan tersebut. Akan saya tulis sejarah sang Maestro Perkeriditan yang dari Purwokerto tersebut.
Suatu hari, dalam tahun 1894, seorang guru  penduduk Banyumas mengadakan pesta tayuban secara besar-besaran dalam rangka menghitankan anaknya.

Seorang patih banyumas, Raden Bei Aria Wirjaatmadja (selanjutnya disebut patih Wiraatmadja) yang menghadiri hajatan tersebut merasa heran, mengapa seorang guru bisa mengadakan pesta begitu besar dan meriah. Menurutnya tidak mungkin gaji guru (saat itu) cukup untuk membiayai pesta tersebut.

Setelah pesta khitanan selesai Patih Wiraatmadja mendekati guru itu dan secara halus menanyakan sumber biaya pestanya.

Ternyata guru tersebut berhutang kepada seorang Tionghoa untuk membiayai pestanya dengan bunga yang sangat tinggi. Bahkan, kemudian diketahui bahwa beban bunga pelunasan hutang tersebut benar-benar di luar kemampuan guru itu. Patih Wirjaatmadja lantas menawaarkan bantuannya. 

Dia menawarkan untuk memberikan pinjaman dengan bunga rendah guna melunasi hutang guru tersebut. Jangka waktu pelunasannya pun cukup panjang, yakni 20 bulan, sehingga cicilan bulanannya sangat ringan dan terjangkau oleh kemampuan sang guru. Dengan senang hati guru  itu menyutujui tawaran Patih Wirjaatmadja. Patih Wirjaatmadja pun menggunakan uang pribadinya untuk melunasi hutang guru tersebut, sehingga hutangnya beralih kepada sang Patih. Dengan uluran tangan ini, sang guru terbebas dari jeratan pelepas utang.
  
Patih Wirjaatmaadja menduga tidak hanya guru tersebut yang terjerat hutang kepada pelepas uang dan ia tidak ingin hanya menolong guru itu saja. Setelah melakukan penelitian secara seksama, terlihat kenyataan yang memprihatinkan. Banyak di antara pejabat pangreh praja atau pegawai negeri bamgsa Indonesia yang terlibat hutang dengan bunga tinggi dan menghadapi kesulitan dalam pengangsurannya. 

Karena dikenal sebagai pegawai dan ahli keuangan yang baik, maka Patih Wirjaatmadja mendapat kepercayaan untuk mengelola uang kas masjid yang jumlahnya pada bulan April 1894 mencapai F,4000.,-(empat ribu gulden/nilai uang Belanda).
Dengan seizin atasannya, E.Sieburg,Patih Wirjaatmadja memperluas penggunaan kas masjid itu untuk pinjaman kepada para pegawai negeri, para petani, dan tukang yang terjerat hutang.

Untuk menampung angsuran dari para peminjam uang kas masjid itu, Patih Wirjaatmadja membentuk lembaga semacam bank yang diberi nama " DE POERWOKERTOSCHE HULPEN SPAARBANK DER INLANDSCHE HOOFDEN " (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pribumi Purwokerto). Dengan demikian uluran tangan Patih Wirjaatmadja berupa pemberian pinjaman pribadi dan kas masjid dengan angsuran ringan tersebut mulai menampakkan bentuknya sebagai kegiatan perbankan dan menjadi awal kegiatan "Bank Perkreditan Rakyat" di Indonesia.

Atasan E.Siburgh belakangan mengetahui penggunaan uang kas masjid tersebut. Dengan alasan uang kas masjid hanya boleh digunakan untuk kepentingan masjid, turunlah surat perintah bertanggal 21 April 1894 agar uang kas masjid tersebut segera dikembalikan. Sieburgh yang mengetahui maksud baik dan kejujuran. Patih Wirjaatmadja, segera turun tangan. Dia menyebarkan surat edaran untuk mengumpulkan "dana penolong" dan dalam waktu yang tidak begitu lama terkumpullah dana lebih dari F.400,-.
  
Selain untuk mengembalikan uang kas masjid, dana yang terkumpul dari masyarakat Purwokerto (termasuk orang-orang Eropa) tersebut, juga dimanfaatkan untuk meneruskan "kegiatan bank" yang telah dirintis oleh Patih Wirjaatmadja. Dengan modal dana ini, ditambah uang hasil angsuran para peminjam uang kas masjid, maka pada tanggal 16 Desember 1895, didirikanlah secara resmi bank perkreditan rakyat pertma di Indonesia dengan nama " HULP EN SPAARBANK DER INLANDSCHE BESTUURS AMBTENAREN " (Bank Bantuan dan Simpinan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi). Bank tersebut kemudian kemudian manjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan tanggal 16 Desember 1895 dijadikan sebagai hari kelahiran BRI. Atas jasa-jasanya tersebut di atas, maka patih Wirjaatmadja dikenal sebagai "Bapak Perkreditan Rakyat".
Patih Wirjaatdja pensiun setelah selama lebih dari 40 tahun menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada pemerintah secara patuh dan jujur. Pada usia enam puluh tahun dianugrahi sebutan "Rangga" dan kemudian "aria". Sedangkan di kalangan masyarakat luas ia dikenal dengan sebutan "Kyai Patih".
  
Dalam perkembangan selanjutnya, berkat jasa-jasa Patih Wirjaatdadja di bidang perkoperasian, pada tanggal 12-08-1989 ia mendapat penghargaan "HATTA NUGRAHA" dari DEKOPIN besama-sama dengan tokoh koperasi lainnya yaitu Margono Djojokoesoemo almarhum. Yang mendirikan BNI yang sama sama Putra Banyumas. ‎

2 komentar:

  1. saya AHMAD SANI posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai BURU BANGUNAN gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259
    tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan





    BalasHapus
  2. Ass Wr Wb, Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya ini RISWANTO AKIL seorang TKI dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar IBU YOSHI yg dari singapur tentan Pesugihan AKI ZYEH MAULANA yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya juga saya mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk menarik dana Hibah Melalui ritual/ghaib dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti dan mendapat hasil tarikan RM.347.000 Ringgit ,kini saya kembali indon membeli rumah dan mobil walaupun sy Cuma pekerja kilang di selangor malaysia , sy sangat berterimakasih banyak kepada AKI ZYEH MAULANA dan jika anda ingin seperti saya silahkan Telefon di 085298275599 Untuk yg di luar indon telefon di +6285298275599,Atau Lihat Di internet KLIK DISINIsaya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI ZYEH MAULANA saya Bisa sukses. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, ini adalah kisah nyata dari seorang TKI,
    KEAMPUHAN ZIKIR AKI ZYEH MAULANA
    1.Penarikan Dana Hibah Melalui Bank Ghaib
    2.Penarikan Uang Melalui Mustika
    3.Ritual Angka Tembus Togel/Lotrey
    4.Jimat Pelaris
    5.Perintah Tuyul
    Dan Masih Banyak Lagi, AKI ZYEH MAULANA Banyah Dikenal Oleh Kalangan Pejabat, Pengusaha Dan Artis Ternama Karna Beliau adalah guru spiritual terkenal di indonesia. Untuk yg punya rum terimakasih atas tumpangannya
    SYARAT SEBAGAI BERIKUT:
    BERJANJI AKAN MEMBANTU SESAMA YANG MEMBUTUHKAN
    BERJANJI TIDAK AKAN SOMBONG DAN SELALU RENDAH HATI
    BERJANJI AKAN MEMULAI HIDUP YANG BARU BERJALAN KE JALAN YANG BENAR,
    BERLUTUT DAN MEYEMBAH KEPADA ALLAH SWT.
    "Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"

    "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan." Kata Abu Umamah radhiyallahu 'anhu: "Setelah membaca do'a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membari Petunjuk." (HR Abu Dawud 4/353)


    PENARIKAN UANG MENGUNAKAN MUSTIKA

    BalasHapus