Translate

Sabtu, 24 Februari 2018

Pegang Mushaf Al-qur'an Saat Sholat


Salah satu ibadah sunat paling utama yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad saw adalah membaca ayat-ayat al-Qur’an terlebih apabila dilakukan dalam shalat. Bahkan hukum sunat ini dapat berubah menjadi wajib seperti  membaca surat Al-Fatihah dalam shalat  menurut madzhab Syafi’i.

Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah membuat satu bab dalam kitab Shahih-nya berjudul :

إمامة العبد والمولى - وكانت عائشةُ يؤُمُّها عبدُها ذَكوانُ من المصحف

“Keimaman seorang budak dan maulaa – ‘Aaisyah pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwaan dengan membaca mushhaf” [Mukhtashar Shahih Al-Bukhaariy ].

Al-Bukhaariy membawakan atsar di atas secara mu’allaq, namun di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Daawud sebagai berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ، " أَنَّهُ كَانَ يَؤُمُّهَا عَبْدٌ لَهَا فِي مُصْحَفٍ".

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idriis, dari Syu’bah, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, dari ayahnya, dari ‘Aaisyah : Bahwasannya ia pernah diimami oleh budaknya dengan membaca mushhaf [Al-Mashaahif, hal. 656 no. 791– shahih].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَسَارٍ , قَالَ : أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، " أَنَّهُ كَانَ يَؤُمُّهَا غُلامٌ لَهَا فِي الْمُصْحَفِ".

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-Qaasim, dari ayahnya, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya ia pernah diimami budaknya dengan membaca mushhaf” [idem, hal. 656-657 no. 792 - shahih].

Juga Ibnu Abi Syaibah rahimahullah :

حدثنا وكيع قال : حدثنا هشام بن عروة، عن أبي بكر بن أبي مليكة : أن عائشة أعتقت غلاما لها عن دبر، فكان يؤمها في رمضان في مصحف

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Urwah, dari Abu Bakr bin Abi Mulaikah : Bahwasannya ‘Aaisyah pernah membebaskan budaknya jika ia (‘Aaisyah) meninggal, dimana budak tersebut mengimaminya di bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/86 (2/338) no. 7294].

Selain riwayat di atas, ada riwayat-riwayat lain dari kalangan salaf yang menyatakan pembolehannya, antara lain :

1.‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ ، أَخْبَرَنَا يُونُسُ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنِ الْقَاسِمِ، أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ , فَتُصَلِّي فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin ‘Umar : Telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus, dari Az-Zuhiy, dari Al-Qaasim : Bahwasannya ‘Aaisyah pernah shalat pada bulan Ramadlaan atau yang lainnya dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 657 no. 793 - shahih].

2.Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.

حدثنا يحيى بن آدم قال : حدثنا عيسى بن طهمان قال : حدثني ثابت البناني قال : كان أنس يصلي وغلامه يمسك المصحف خلفه، فإذا تعايا في آية فتح عليه

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Iisaa bin Thahmaan, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Tsaabit Al-Bunaaniy, ia berkata : “Adalah Anas shalat sedangkan budaknya memegang mushhaf di belakangnya. Apabila ia ragu/lupa pada satu ayat, maka budaknya membukakan mushhaf untuknya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87 (2/338) no. 7300 – shahih].

3.Muhammad bin Siiriin rahimahullah.

حدثنا محمد بن يحيى، نا عبد الرزاق، عن معمر، عن أيوب، عن ابن سيرين : أنه كان يصلي والمصحف إلى جنبه، فإذا تردَّد نظر في المصحف

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahyaa : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Ibnu Siiriin : Bahwasannya ia pernah shalat sedangkanmushhaf ada di sisinya. Apabila ia ragu-ragu (dalam bacaannya), ia melihat mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 662-663 no. 813 – shahih].

4.Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy rahimahullah.

حدثنا أحمد بن سعيد الهمداني، نا عبد الله بن وهب، نا معاوية بن صالح، عن يحيى بن سعيد الأنصاري قال : لا أرى بالقراءة من المصحف في رمضان بأسا - يريد القرآن - .

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’iid Al-Hamdaaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb : Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy, ia berkata : “Aku memandang tidak mengapa membaca mushhaf di bulan Ramadlaan (ketika shalat) – maksudnya adalah Al-Qur’an – [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 660 no. 805 – hasan].

5.Al-Hakam bin ‘Utaibah rahimahullah.

حدثنا أبو داود، عن شعبة، عن الحكم في الرجل يؤم في رمضان يقرأ في المصحف : رخَّص فيه

Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud, dari Syu’bah, dari Al-Hakam tentang laki-laki yang mengimami pada bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf : Ia memberikan keringanan padanya [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87 (2/338) no. 7296 – shahih].

6.Al-Hasan Al-Bashriy dan Az-Zuhriy rahimahumallah.

أبو داود الطيالسي، عن شعبة، عن منصور، عن الحسن ومحمد قالا : لا بأس به

Abu Daawud Ath-Thayaalisiy, dari Syu’bah, dari Manshuur, dari Al-Hasan dan Muhammad, mereka berdua berkata : “Tidak mengapa dengannya (membaca mushhaf ketika shalat)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/87(2/338) no. 7297 - shahih].

Catatan : Ada riwayat lain dari Al-Hasan yang menyatakan kebenciannya sebagaimana akan dibawakan di bawah.

7.Maalik bin Anas rahimahullah.

حدثنا أبو الربيع قال : أنا ابن وهب قال ؛ سمعتُ مالكا وسئل عمَّن يؤم الناس في رمضان في المصحف ؟. فقال : لا بأس بذلك إذا اضطروا إلى ذلك

Telah menceritakan kepada kami Abur-Rabii’ : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Aku mendengar Maalik, dan ia pernah ditanya tentang orang yang mengimami orang-orang di bulan Ramadlaan dengan membaca mushhaf ?. Maka ia berkata : “Tidak mengapa dengan hal itu jika ia terpaksa melakukannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daawud dalam Al-Mashaahif, hal. 661 no. 808 – shahih].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

لو قرأ القرآن من المصحف لم تبطل صلاته سواء كان يحفظه أم لا ، بل يجب عليه ذلك إذا لم يحفظ الفاتحة . . . وهذا الذي ذكرناه من أن القراءة في المصحف لا تبطل الصلاة مذهبنا ومذهب مالك وأبي يوسف ومحمد وأحمد

“Meskipun ia membaca Al-Qur’an dari mushhaf, makatidak membatalkan shalatnya, sama saja apakah ia menghapalnya ataukah tidak. Bahkan wajib baginya jika tidak hapal Al-Faatihah.... dan inilah yang telah kami sebutkan dari madzhab kami (Syaafi’iyyah), Maalik, Abu Yuusuf, Muhammad, dan Ahmad bahwa membacamushhaf tidak membatalkan shalat” [Al-Majmu’, 4/27].

Namun pembolehan Maalik bin Anas rahimahulah ini adalah untuk shalat sunnah, dan ia membencinya jika dilakukan pada shalat fardlu, sebagaimana dikatakan Ibnul-Qaasim rahimahullah :

وقال مالك لا بأس ان يؤم الامام بالناس في المصحف في رمضان في النافلة (قال ابن القاسم) وكره ذلك في الفريضة

“Dan Maalik berkata : ‘Tidak mengapa seorang mengimami manusia dengan membaca mushhaf di bulan Ramdlan pada shalat sunnah”. Ibnul-Qaasim berkata : “Dan ia membenci hal tersebut pada shalat fardlu” [Al-Mudawwanah, 1/283].

Dari  rujukan diatas, kami memberikan beberapa gambaran sebagai  berikut:

Pertama, apabila mushaf tersebut terletak dan terpampang didepan mushalli (orang yang shalat), maka hukumnya tidak masalah  seperti  mushaf yang dipigura atau dilaminating lalu dipasang didepan pengimaman dan imam membacanya ketika shalat.

Kedua, mushaf tersebut terletak disebelah atau disaku orang yang shalat. Apabila memang demikian kondisinya, maka yang perlu diperhatikan adalah cara pengambilan serta meletakkannya kembali berikut membukanya. Selama dalam proses pengambilan, meletakkan serta membuka tersebut tidak tergolong melakukan  banyak aktifitas, maka hukum membaca mushaf tersebut tetap dibenarkan. Sedangkan apabila dalam proses yang kami sebutkan dianggap melakukan banyak aktifitas, maka dalam pandangan madzhab Syafii  hal ini  dianggap dapat membatalkan shalat sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih mereka.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca mushaf ketika sedang melaksanakan shalat hukumnya boleh selama tidak melakukan aktifitas-aktifitas yang dapat membatalkan shalat. Pendapat ini sekali lagi mengacu kepada pandangan madzhab Syafi’i. Berbeda dengan pendapat  sebagaian pengikut madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa hal yang demikian (membaca mushaf ketika shalat) dianggap membatalkan shalat.

Kontradiktif dengan pendapat di atas yang membolehkan, ada sebagian salaf yang membencinya sebagaimana ada dalam beberapa riwayat berikut :

1.Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy rahimahullah.

حدثنا وكيع قال حدثنا سفيان عن عطاء عن أبي عبد الرحمن أنه كره أن يوءم في المصحف .

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Athaa’, dari Abu ‘Abdirrahmaan : Bahwasannya ia membenci mengimami dengan membaca mushhaf [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/338) no. 7302 – shahih].

2.Ibraahiim An-Nakhaa’iy rahimahullah.

حدثنا أبو معاوية عن الاعمش عن إبراهيم أنه كرهه أن يوءم الرجل في المصحف كراهة أن يتشبهوا بأهل الكتاب

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim : Bahwasannya ia membenci seorang laki-laki yang mengimami dengan membaca mushhaf, dengan kebencian bahwasannya hal itu menyerupai Ahlul-Kitab [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/338) no. 7303 – shahih].

3.Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah.

حدثنا وكيع قال حدثنا هشام الدستوائي عن قتادة عن الحسن أنه كرهه وقال هكذا تفعل النصارى

Telah menceritakan kepada kami Wakii’ : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad-Dastuwaaiy, dari Qataadah, dari Al-Hasan : Bahwasannya ia membenci hal tersebut, dan berkata : “Begitulah yang dilakukan oleh orang Nashara” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/339) no. 7307 – shahih].

4.Hammaad bin Abi Sulaimaan dan Qataadah rahimahumallah.

حدثنا أبو داود عن شعبة عن حماد وقتادة في رجل يوءم القوم في رمضان في المصحف فكرهاه

Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud, dari Syu’bah, dari Hammaad dan Qataadah tentang laki-laki yang mengimami satu kaum di bulan Ramdlaan dengan membaca mushhaf, maka mereka berdua membencinya [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 5/88 (2/339) no. 7307 – shahih].

5.Mujaahid rahimahullah.

عن الثوري، عن منصور، عن مجاهد أنه كرهه

Dari Ats-Tsauriy, dari Manshuur, dari Mujaahid : Bahwasannya ia membencinya [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq, 2/419 no. 3928 - shahih].

Adapun Abu Haniifah rahimahullah, maka ia melarang membaca mushhaf baik dalam shalat fardlu ataupun shalat nafilah karena dapat membatalkan shalat, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Kaasaaniy dalam Badaa’ish-Shanaai’ (2/611) – lihat pula Mukhtashar Ikhtilaafil-‘Ulamaa lith-Thahawiy oleh Al-Jashshash, 1/207 no. 145.

Imam memegang Mushaf

Kasus imam yang memimpin shalat jamaah sambil membawa atau membaca mushaf, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Al-Kasani menyebutkan,

ولو قرأ المصلي من المصحف فصلاته فاسدة عند أبي حنيفة. وعند أبي يوسف و محمد: تامة ويكره. وقال الشافعي: لا يكره.

“Jika ada orang yang shalat sambil membaca mushaf, maka shalatnya batal menurut Imam Abu Hanifah, sementara menurut Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani (dua murid senior Imam Abu Hanifah), shalatnya sah, namun makruh. Kemudian Imam asy-Syafii berpendapat, “Tidak makruh.” (Bada’i ash-Shana’i, 1:236).

Selanjutnya al-Kasani menyebutkan alasan masing-masing pendapat,

Abu Hanifah menganggap ini membatalkan shalat karena dua hal:

Pertama, bahwa orang yang shalat sambil membawa mushaf, membolak-balik halaman mushaf, melihat mushaf, dst. adalah gerakan yang terlalu banyak, padahal itu bukan bagian dari shalat. Sementara itu juga tidak diperlukan ketika shalat, sehingga hal ini merusak shalatnya.

Kedua, orang yang menjadi imam sambil membawa mushaf, dia membaca teks dari mushaf. Padahal orang yang membaca teks termasuk belajar, sebagaimana dia belajar dari teks yang lain, sehingga ini bisa membatalkan shalat.

Sementara ulama yang tidak menghukumi batal beralasan dengan hadis tentang Dzakwan (bekas budak Aisyah)

أن مولى لعائشة يقال له: ذكوان كان يؤم الناس في رمضان وكان يقرأ من المصحف

“Bahwa mantan budak Aisyah, yang namanya Dzakwan, beliau mengimami masyarakat ketika Ramadhan dan beliau sambil membaca mushaf.”

Kemudian, melihat mushaf termasuk ibadah, membaca mushaf juga ibadah, dan menggabungkan satu ibadah dengan ibadah yang lain, tidak menyebabkan batal. Hanya saja, semacam ini dimakruhkan, karena menyerupai Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani, yang shalat dengan membaca kitabnya).

Sedangkan Imam asy-Syafi’i beralasan bahwa itu bukan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir, karena kita juga makan apa yang mereka makan, dan itu tidak disebut meniru kebiasaan ahli kitab. (Bada’i ash-Shana’i, 1:236)

Badruddin Al-Aini mengatakan:

“Zahirnya menunjukkan bolehnya membaca dari mushaf ketika shalat. Ini merupakan pendapat Ibnu Sirin, Hasan al-Bashri, al-Hakam, dan Atha’. Anas bin Malik juga pernah menjadi imam, sementara ada anak di belakang beliau yang membawa mushaf. Apabila beliau lupa satu ayat, maka si anak tadi membukakan mushaf untuk beliau. Imam Malik juga membolehkannya ketika tarawih, sementara an-Nakhai, Said bin Musayib, dan asy-Sya’bi membencinya. Mereka mengatakan: ‘Itu seperti perbuatan orang Nasrani.’” (Umdatul Qori, Syarh Shahih Bukhari, 5:225)

Membedakan antara shalat sunnah dengan shalat wajib perlu dalil, karena apa saja yang berlaku pada shalat wajib, berlaku juga untuk shalat sunnah, kecuali ada dalil yang memang membedakannya. Dan di sini tidak ada.

Jika dikatakan ia dilarang karena akan terjadi banyak gerakan (di luar shalat) sehingga dapat membatalkan shalat, maka telah shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan di luar shalat karena ada kebutuhan.

حدثنا محمد بن أبي عمر. حدثنا سفيان عن عثمان بن أبي سليمان وابن عجلان. سمعا عامر بن عبدالله بن الزبير يحدث عن عمرو بن سليم الزرقي، عن أبي قتادة الأنصاري؛ قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يؤم الناس وأمامه بنت أبي العاص وهي ابنة زينب بنت النبي صلى الله عليه وسلم على عاتقه. فإذا ركع وضعها. وإذا رفع من السجود أعادها.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Utsmaan bin Abi Sulaimaan dan Ibnu ‘Ajlaan, keduanya mendengar ‘Aamir bin ‘Abdillah bin Az-Zubair menceritakan hadits dari ‘Amru bin Sulaim Az-Zuraqiy, dari Qataadah Al-Anshaariy, ia berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam sedang mengimami manusia dan Umamah binti Abil-’Ash – ia adalah anak dari Zainab bintu Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam – (digendong) di atas pundakya. Apabila beliau rukuk, maka beliau meletakkannya, dan apabila beliau akan berdiri dari sujud, maka beliau kembali (menggendongnya)” [Diriwayatkan Muslim no. 543].

حدثنا أحمد بن حنبل ومسدد وهذا لفظه قال ثنا بشر يعني بن المفضل ثنا برد عن الزهري عن عروة بن الزبير عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أحمد يصلي والباب عليه مغلق فجئت فاستفتحت قال أحمد فمشى ففتح لي ثم رجع إلى مصلاة

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Musaddad – dan ini adalah lafadhnya - , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bisyr, yaitu Ibnul-Mufadldlal : Telah menceritakan kepada kami Burd, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sedangkan pintu yang ada di dekatnya dalam keadaan tertutup. Lalu aku datang, dan minta dibukakan. Beliau berjalan, lalu membukakan pintu untukku, kemudian kembali ke shalatnya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 922; hasan – lihat Shahih Sunan Abi Daawud, 1/257].

Sudah sepatutnya kaum muslimin, terlebih lagi mereka yang dipercaya menjadi imam shalat berjama’ah, bersemangat menghapalkan Al-Qur’an, Bagaimanapun juga, berdiri membaca Al-Qur’an dengan hapalan di dada adalah lebih baik, lebih khusyu’, dan lebih sempurna daripada membaca dengan melihat dan/atau memegang mushhaf.

Jika hal itu dilakukan tanpa ada keperluan/kebutuhan, maka makruh karena Allah ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya...” [QS. Al-Mukminuun : 1-2].

حدثنا قتيبة بن سعيد عن بكر يعني بن مضر عن بن عجلان عن سعيد المقبري عن عمر بن الحكم عن عبد الله بن عنمة المزني عن عمار بن ياسر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن الرجل لينصرف وما كتب له إلا عشر صلاته تسعها ثمنها سبعها سدسها خمسها ربعها ثلثها نصفها

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, dari Bakr, yaitu Ibnu Mudlar, dari Ibnu ‘Ajlaa, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari ‘Umar bin Al-Hakam, dari ‘Abdullah bin ‘Anamah Al-Muzanniy, dari ‘Ammaar bin Yaaisr, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya seseorang menyelesaikan shalatnya, dan tidak dituliskan baginya (pahala) kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya dari shalatnya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 796; hasan – lihat Shahiihul-Jaami’, hal. 335 no. 1626].

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar