Translate

Sabtu, 17 Februari 2018

Posisi Kepala Mayat Saat DiSholatkan

Sebagian kaum muslimin ketika menshalati jenazah, meletakkan kepala mayit di sebelah kanan imam (sebelah utara menurut orang Indonesia, pen). Sebagian lagi meletakkan kepala mayit di sebelah kiri imam (sebelah selatan menurut orang Indonesia, pen). Sebagian lagi bingung, mengikuti pendapat yang mana. Berikut ini ulasannya. Semoga bermanfaat.

Posisi Imam Shalat menurut as-Sunnah

Jika mayitnya adalah seorang wanita, maka imam berdiri di sisi tengah mayit.

Samurah bin Jundub radliyallahu anhu berkata:

صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِي نِفَاسِهَا فَقَامَ عَلَيْهَا وَسَطَهَا

“Aku melakukan shalat di belakang Nabi shallallahu alaihi wasallam atas mayit wanita yang mati karena nifasnya. Maka beliau berdiri padanya di sisi tengahnya.” (HR. al-Bukhari: 1245, Muslim: 1602, an-Nasa’i: 390, at-Tirmidzi: 956, Abu Dawud: 2780 dan Ibnu Majah: 2780).

Dan jika si mayit adalah orang laki-laki, maka imam berdiri di sisi kepalanya.

Abu Ghalib al-Khayyath berkata:

شَهِدْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ فَقَامَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَلَمَّا رُفِعَ أُتِيَ بِجِنَازَةِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ أَوْ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقِيلَ لَهُ يَا أَبَا حَمْزَةَ هَذِهِ جِنَازَةُ فُلَانَةَ ابْنَةِ فُلَانٍ فَصَلِّ عَلَيْهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا فَقَامَ وَسَطَهَا وَفِينَا الْعَلَاءُ بْنُ زِيَادٍ الْعَدَوِيُّ فَلَمَّا رَأَى اخْتِلَافَ قِيَامِهِ عَلَى الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ قَالَ يَا أَبَا حَمْزَةَ هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ الرَّجُلِ حَيْثُ قُمْتَ وَمِنْ الْمَرْأَةِ حَيْثُ قُمْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا الْعَلَاءُ فَقَالَ احْفَظُوا

“Aku menyaksikan Anas bin Malik menshalati atas jenazah seorang laki-laki, maka beliau berdiri di sisi kepalanya. Ketika jenazah tersebut diangkat, maka didatangkan lagi kepada beliau jenazah seorang wanita Quraisy atau Anshar. Maka dikatakan kepada beliau: “Wahai Abu Hamzah! Ini adalah jenazah Fulanah bintu Fulan, mohon engkau menshalati atasnya!” Maka beliau pun menshalatinya dan berdiri di sisi tengahnya. Di sisi kami ada Ala’ bin Ziyad al-Adawi. Ketika ia (Ala’) melihat perbedaan posisi berdirinya Anas bin Malik atas jenazah laki-laki dan wanita, maka ia bertanya: “Wahai Abu Hamzah! Apakah seperti ini posisi berdiri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap jenazah laki-laki seperti posisi berdirimu dan juga posisi berdiri beliau terhadap jenazah wanita seperti posisi berdirimu?” Anas menjawab: “Benar.”Maka Ala’ menoleh kepada kita dan berkata: “Hafalkanlah (pelajaran ini, pen)!” (HR. Ahmad: 12640, at-Tirmidzi: 955 dan ia menilai hadits hasan, Abu Dawud: 2779 dan Ibnu Majah: 1483. Asy-Syaukani berkata dalam Nailul Authar (4/453): “Perawi sanadnya adalah orang-orang tsiqat.” Hadits ini di-shahih-kan oleh Ibnul Mulaqqin dalam al-Badrul Munir: 5/257).

Perbedaan Pandangan

Pada hadits di atas tidak dijelaskan apakah posisi kepala jenazah berada di sisi kanan imam (sisi utara imam menurut orang Indonesia, pen) ataukah di sisi kiri imam (sisi selatan imam menurut orang Indonesia, pen). Dari sinilah muncul perbedaan pandangan para ulama.

Ulama Hanafiyah

Menurut al-Allamah Ibnu Abidin rahimahullah, ulama bermadzab Hanafi yang wafat tahun 1252 H. Beliau menyatakan:

(قَوْلُهُ وَصَحَّتْ لَوْ وَضَعُوا إلَخْ) كَذَا فِي الْبَدَائِعِ ، وَفَسَّرَهُ فِي شَرْحِ الْمُنْيَةِ مَعْزِيًّا لِلتَّتَارْخَانِيَّةِ بِأَنْ وَضَعُوا رَأْسَهُ مِمَّا يَلِي يَسَارَ الْإِمَامِ ا هـ فَأَفَادَ أَنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ رَأْسِهِ مِمَّا يَلِي يَمِينَ الْإِمَامِ كَمَا هُوَ الْمَعْرُوفُ الْآنَ ، وَلِهَذَا عَلَّلَ فِي الْبَدَائِعِ لِلْإِسَاءَةِ بِقَوْلِهِ لِتَغْيِيرِهِمْ السُّنَّةَ الْمُتَوَارَثَةَ

“(Ucapan pemilik matan “Dan shalat jenazahnya tetap sah jika mereka meletakkan…dst”): maksudnya (sebagaimana dalam al-Bada’i (Bada’ius Shana’i karya Al-Kasani, pen), dan ditafsirkan dalam Syarh Al-Maniyyah)… adalah meletakkan kepala mayit di sisi kiri imam. Selesai. Maka keterangan ini memberikan faedah bahwa as-Sunnah di dalam meletakkan kepala mayit adalah di sisi kanan imam sebagaimana yang dikenal sekarang. Oleh karena itu penulis al-Bada’i  memberi alasan jeleknya (meletakkan kepala mayit di sisi kiri imam, pen) dengan ucapannya “karena mereka telah mengubah as-Sunnah yang turun temurun.” (Raddul Mukhtar alad Durril Mukhtar: 6/282).

Ulama Malikiyah

Menurut penukilan al-Allamah Muhammad bin Yusuf al-Abdari rahimahullah, ulama bermadzhab Maliki yang wafat tahun 897 H. Beliau menukilkan:

(رَأْسُ الْمَيِّتِ عَنْ يَمِينِهِ) ابْنُ عَرَفَةَ : يَجْعَلُ رَأْسَ الْمَيِّتِ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ فَلَوْ عَكَسَ فَقَالَ سَحْنُونَ وَابْنُ الْقَاسِمِ: صَلَاتُهُمْ مُجْزِئَةٌ عَنْهُمْ . ابْنُ رُشْدٍ : فَالْأَمْرُ فِي ذَلِكَ وَاسِعٌ .

“(Kepala mayit di sebelah kanan imam). Ibnu Arafah menyatakan bahwa kepala mayit diletakkan di sisi kanan imam, seandainya terbalik (kepala di posisi kiri, pen), maka menurut Sahnun dan Ibnul Qasim, maka shalat mereka telah mencukupi (tidak usah diulang, pen). Ibnu Rusyd (penulis Bidayatul Mujtahid, pen) berkata: “Perkara ini luas (boleh di kanan atau di kiri imam, pen).” (At-Taj wal Iklil Syarh Mukhtashar Khalil: 2/352).

Lain lagi menurut al-Allamah ad-Dasuqi rahimahullah, ulama bermadzhab Maliki yang wafat tahun 1230 H. Beliau berkata:

وَ( قَوْلُهُ رَأْسُ الْمَيِّتِ عَنْ يَمِينِهِ ) جُمْلَةٌ حَالِيَّةٌ مِنْ إمَامٍ وَ ( قَوْلُهُ إلَّا فِي الرَّوْضَةِ الشَّرِيفَةِ ) أَيْ فَإِنَّهُ يَجْعَلُ رَأْسَ الْمَيِّتِ عَلَى يَسَارِ الْإِمَامِ جِهَةَ الْقَبْرِ الشَّرِيفِ

“Dan ucapan matan (Kepala mayit di sebelah kanan imam) adalah jumlah yang menjadi hal dari imam. Dan ucapan matan (kecuali (jika mayit dishalatkan, pen) di Raudlah yang mulia), maksudnya adalah bahwa kepala mayit diletakkan di kiri imam pada arah kuburan ar-Rasul yang mulia.” (Hasyiyah ad-Dasuqi alasy Syarhil Kabir: 4/149).

Ulama Syafi’iyah

Menurut al-Allamah Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairami rahimahullah, ulama bermadzab Syafii yang wafat tahun 1221 H. Beliau menyatakan:

وَيُوضَعُ رَأْسُ الذَّكَرِ لِجِهَةِ يَسَارِ الْإِمَامِ وَيَكُونُ غَالِبُهُ لِجِهَةِ يَمِينِهِ خِلَافًا لِمَا عَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ الْآنَ أَمَّا الْأُنْثَى وَالْخُنْثَى فَيَقِفُ الْإِمَامُ عِنْدَ عَجِيزَتِهِمَا وَيَكُونُ رَأْسُهُمَا لِجِهَةِ يَمِينِهِ عَلَى عَادَةِ النَّاسِ الْآنَ

“Dan kepala mayit laki-laki diletakkan di sisi kiri imam dan sebagian besar tubuhnya di sisi kanannya, dengan menyelisihi apa yang dilakukan manusia sekarang. Adapaun mayit wanita dan banci, maka imam berdiri pada sisi pantatnya dan kepalanya di sisi kanannya, sesuai dengan kebiasaan manusia sekarang.” (Hasyiyah al-Bujairami alal Minhaj: 4/500).

Begitu pula menurut penukilan al-Allamah Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah, ulama bermadzab Syafii yang wafat tahun 974 H. Beliau menukilkan:

وَفِي هَامِشِ الْمُغْنِي لِصَاحِبِهِ وَالْأَوْلَى كَمَا قَالَ السَّمْهُودِيُّ فِي حَوَاشِي الرَّوْضَةِ جَعْلُ رَأْسِ الذَّكَرِ عَنْ يَسَارِ الْإِمَامِ لِيَكُونَ مُعْظَمُهُ عَلَى يَمِينِ الْإِمَامِ ا هـ

“Dan di dalam catatan kaki Al-Mughni (Mughnil Muhtaj karya asy-Syarbini, pen) (terdapat keterangan) bahwa yang lebih utama sebagaimana pendapat as-Samhudi dalam Hasyiyah Ar-Raudlah (Raudlatut Thalibin karya an-Nawawi, pen) adalah menjadikan kepala mayit laki-laki di sebelah kiri imam agar sebagian besar tubuhnya berada di sisi kanan imam. Selesai.” (Tuhfatul Muhtaj Syarh Minhajith Thalibin: 11/186).

Ulama Hanabilah

Menurut al-Allamah Abdullah bin al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumullah, ulama Nejd terdahulu. Beliau berkata:

وأما صفة موضعهم بين يدي الإمام للصلاة عليهم، فتجعل رؤوسهم كلهم عن يمين الإمام، وتجعل وسط المرأة حذا صدر الرجل، ليقف الإمام من كل نوع موقفه، لأن السنة أن يقف عند صدر الرجل ووسط المرأة.

“Adapun sifat letak kumpulan jenazah di depan imam untuk dishalati atas mereka, maka kepala mereka semua diletakkan di sisi kanan imam. Dan sisi tengah mayit wanita diluruskan dengan sisi dada mayit laki-laki agar imam dapat berdiri pada posisi yang tepat sesuai dengan macam mayit. Karena menurut as-Sunnah adalah berdiri di sisi dada mayit laki-laki dan sisi tengah mayit wanita.” (Ad-Durarus Sunniyyah fil Kutubin Najdiyyah: 5/83).

Ulama Salafiyyah Masa Kini

Menurut asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah, ulama Madinah masa kini. Beliau ditanya:

السؤال: هل ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه جعل رأس الميت في صلاة الجنازة عن يسار الإمام، ورأس المرأة عن يمينه؟ الجواب: كلهم يكونون عن يمينه، مثل وضعهم في القبر، ومثله لو صلى عليهم وهم في القبر، فإن الميت يكون في القبر مستقبل القبلة، وما نعرف شيئاً يدل على خلاف ذلك.

Pertanyaan: “Apakah terdapat keterangan yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau menjadikan kepala mayit laki-laki di sebelah kiri imam dan kepala mayit wanita di sebelah kanan imam?” Jawab: “Semua kepala mayit diletakkan di sebelah kanan imam seperti ketika diletakkan di kuburan. Demikian pula ketika menshalati mereka ketika mereka sudah dikubur. Maka si mayit di kuburannya menghadap kiblat dan kami tidak mengetahui keterangan yang menyelisihi ini.” (Syarh Sunan Abi Dawud: 17/159).

Adapun al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah, ulama besar Saudi Arabia, maka beliau mempunyai pandangan yang berbeda lagi. Beliau berkata:

تنبيه: لا يشترط أن يكون رأس الميت عن يمين الإمام، فيجوز أن يكون عن يسار الإمام ويمينه. خلافاً لما يعتقد بعض العامة من أنه لا بد أن يكون عن يمينه.

“Peringatan: Tidak dipersyaratkan meletakkan kepala mayit di sisi kanan imam. Sehingga boleh meletakkannya di sisi kiri imam dan juga sisi kanannya. Berbeda dengan apa yang diyakini oleh sebagian orang awam yang mengharuskan meletakkan kepala mayit di sisi kanan imam.” (asy-Syarhul Mumti’: 5/317).

Beliau juga menegaskan dalam kesempatan lainnya:

فإن كان ذكرا قام الإمام عند رأسه وإن كانت أنثى قام عند وسطها ولا فرق أن يكون الرأس عن يسار الإمام أو عن يمين الإمام لأنه لم يرد في ذلك سنة معينة ولو أن ذاهب ذهب إلى أن يكون الرأس عن يسار الإمام لتكون جملة الميت عن يمين الإمام لكان له وجه لكننا لا نعلم في هذا سنة فالمسألة سهلة وما ظنه بعض الإمام من أن الميت يكون رأسه عن يمين الإمام فهذا لا أصل له اجعله عن يمينك أو عن يسارك المهم أن الرجل تقف عن رأسه والمرأة عند وسطها

“Jika mayitnya adalah laki-laki, maka imam berdiri di sisi kepalanya. Jika mayitnya wanita, maka imam berdiri di sisi tengahnya. Dan tidak ada bedanya antara posisi kepala mayit di sisi kiri imam atau sisi kanan imam, karena tidak terdapat sunnah tertentu yang menjelaskannya. Dan seandainya seseorang berpendapat bahwa kepala mayit berada di sisi kiri imam agar sebagian besar tubuh mayit berada di sisi kanan imam, maka pendapat tersebut memiliki wajah (sebagaimana pendapat Syafiiyah, pen). Akan tetapi kami tidak mendapati sunnah dalam perkara ini (yang sesuai sunnah di kiri ataukah di kanan, pen). Dan apa yang disangkakan oleh sebagian imam bahwa kepala mayit harus di sebelah kanan imam, maka persangkaan ini tidak ada asalnya. Silakan kamu letakkan kepala mayit di sisi kanan atau sisi kirimu. Yang penting, jika mayit laki-laki, maka kamu berdiri di sisi kepalanya dan jika wanita, maka kamu berdiri di sisi tengahnya.” (asy-Syarhul Mukhtashar ala Bulughil Maram lil  Utsaimin: 4/47).

ووقوف الإمام والمنفرد على وسط الرجل، وعند منكبي المرأة، ويكون رأس الميت عن يمينه، رجلاً كان أو امرأة، إلا في الروضة الشريفة، فإنه يكون عن يساره ليكون جهة القبر الشريف؛ وأما المأموم فيقف خلف الإمام كما يقف في غيرها من الصلاة. (الفقه على مذاهب الأربعة: 1/475 ط: دار الكتب العلمية)

Imam dan munfarid berdiri di tengah mayit lelaki dan pundak perempuan. Posisi kepala mayit di arah kanan imam, baik laki-laki atau perempuan, kecuali di Raudlah yang mulia. Jika disana, maka kepala mayit berada di arah kiri imam, agar lurus ke arah maqam Rasul yang mulia. Adapun makmum, maka ia berdiri di belakang imam seperti berdiri pada shalat-shalat yang lain. (Al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah; 1/475 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah)

وفي البجيرمي ما نصه ويوضع رأس الذكر لجهة يسار الإمام ويكون غالبه لجهة يمينه خلافا لما عليه عمل الناس الآن ويكون رأس الأنثى والخنثى لجهة يمينه على عادة الناس الآن ع ش والحاصل أنه يجعل معظم الميت عن يمين المصلي فحينئذ يكون رأس الذكر جهة يسار المصلي والأنثى بالعكس إذا لم تكن عند القبر الشريف أما إذا كانت هناك فالأفضل جعل رأسها على اليسار كرأس الذكر ليكون رأسها جهة القبر الشريف سلوكا للأدب كما قاله بعض المحققين ا هـ (تحفة المحتاج : 3/156 ط: دار إحياء التراث العربي)

Dalam al-Bujairami disebutkan sebagai berikut: Kepala laki-laki diletakkan di arah kiri imam dan sebagaian besar badan mayit berada di arah kanan imam. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat saat ini. Dan kepala perempuan dan huntsa di arah kanan imam menurut kebiasaan manusia. Kesimpulannya, sebagian besar badan mayit diposisikan di arah kanan mushalli. Dengan demikian, kepala lelaki berada di arah kiri. Untuk perempuan sebaliknya, jika tidak berada di maqam Rasul. Jika di sana, maka yang lebih afdol adalah meletakkan kepala perempuan di sebelah kiri imam seperti kepala mayit lelaki, agar lurus dengan arah maqam rasul sebagai bentuk adab. Hal ini sebagaimana yang yang dikatakan ulama muhaqqiqin. (Tuhfatul Muhtaj: 3/156 cet. Dar Ihya’ Turats al-Arabi)

Pangkal Perbedaan

Letak perbedaan pendapat mereka adalah pada anggapan terhadap mayit. Apakah mayit itu dianggap sebagai imam ataukah mayit itu dianggap sebagai makmum. Kalangan Syafi’iyyah menganggap bahwa mayit itu dianggap sebagai makmum. Dan barisan makmum bagian kanan lebih utama daripada barisan sebelah kiri. Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan:

وَعُلِّلَ بِأَنَّ جِهَةَ الْيَمِينِ أَشْرَفُ وَقَضِيَّةُ هَذِهِ الْعِلَّةِ أَنْ يَكُونَ الْأَفْضَلُ فِي الرَّجُلِ الذَّكَرِ جَعْلَهُ عَلَى يَمِينِ الْمُصَلِّي فَيَقِفُ عِنْدَ رَأْسِهِ وَيَكُونُ غَالِبُهُ عَلَى يَمِينِهِ فِي جِهَةِ الْمَغْرِبِ وَهُوَ خِلَافُ عَمَلِ النَّاسِ

“Dan (meletakkan kepala mayit laki-laki di sebelah kiri imam, pen) diberi alasan, bahwa arah kanan adalah lebih utama. Konsekuensi dari alasan ini bahwa yang paling utama dari mayit laki-laki adalah meletakkannya di sisi kanan orang yang sholat. Maka ia berdiri di sisi kepala mayit laki-laki dan sebagian besar tubuhnya berada di sebelah kanannya di sisi timur. Dan ini menyelisihi perbuatan manusia.” (Tuhfatul Muhtaj ala Syarhil Minhaj: 11/186).

Lain Syafi’iyyah, lain lagi Hanabilah.Mereka menganggap mayit sebagai imamsehingga kebanyakan mereka meletakkan kepala mayit di sebelah kanan seperti kebiasaan manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menukilkan pendapat Abul Ma’ali dari kalangan Hanabilah:

لَوْ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ وَهِيَ مَحْمُولَةٌ عَلَى الْأَعْنَاقِ أَوْ عَلَى دَابَّةٍ أَوْ صَغِيرٍ عَلَى يَدَيْ رَجُلٍ لَمْ يَجُزْ لِأَنَّ الْجِنَازَةَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَامِ

“Jika seseorang menshalati jenazah sedangkan ia masih dibawa di atas leher-leher, atau di atas binatang atau masih dibawa seseorang, maka tidak boleh (dishalati, pen). Ini karena jenazah itu dianggap sebagai imam.” (al-Fatawa al-Kubra: 5/360).

Dan perbedaan anggapan (imam ataukah makmum) ini tidaklah cukup melegakan di dalam memutus perbedaan pendapat selagi tidak didasarkan pada dalil yang kuat.

Jika ada ulama yang menyamakan posisi mayit ketika dishalatkan dengan posisi mayit ketika dikuburkan dengan berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَاسْتِحْلَالُ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

“Dan (di antara 9 dosa besar adalah) menghalalkan Baitul Haram, kiblat kalian dalam keadaan hidup ataupun mati.” (HR. Abu Dawud: 2490, al-Baihaqi dalam al-Kubra: 6970 (3/408) dan ath-Thabrani dalam al-Kabir: 13789 (17/47).

Maka saya menyatakan: Makna ‘kiblat kalian dalam keadaan hidup’ adalah menghadap kiblat ketika kalian melakukan shalat, bukan dalam semua keadaan orang hidup, seperti makan dan minum, berkendara, mengobati pasian dan sebagainya. Demikian pula makna ‘ataupun mati’. Maksudnya adalah mayit dikubur dalam keadaan menghadap kiblat. Dan tidak semua keadaan mayit diharuskan menghadap kiblat seperti ketika dimandikan, dikafani, dishalati dan ditandu di atas keranda. Al-Allamah asy-Syaukani rahimahullah berkata:

وقد استدل بهذا على مشروعية توجيه المريض إلى القبلة ليموت إليها لقوله صلى الله عليه وسلم: “قبلتكم أحياء وأمواتا” وفيه نظر لأن المراد بقوله: “أحياء” عند الصلاة وبقوله: “أمواتا” في اللحد، والمحتضر حي غير مصل فلا يتناوله الحديث وإلا لزم وجوب التوجه إلى القبلة على كل حي وعدم اختاصه بحال الصلاة وهو خلاف الإجماع

“Dan hadits di atas dijadikan dalil atas disyariatkannya menghadapkan orang yang menghadapi kematian (naza’, pen) ke arah kiblat. Dan pendalilan ini perlu ditinjau lagi, karena maksud sabda beliau“dalam keadaan hidup” adalah ketika shalat dan yang dimaksud sabda beliau“dalam keadaan mati” adalah di liang lahat. Orang yang sedang menghadapi kematian adalah masih hidup dan tidak sedang melakukan shalat, sehingga tidak termasuk hadits ini. Dan jika tidak, maka setiap orang hidup akan diwajibkan menghadap kiblat dan tidak dikhususkan ketika shalat saja. Dan ini menyelisihi ijma’.” (ad-Dararil Mudliyyah: 1/130-131).

Sesorang yang melakukan shalat jenazah boleh meletakkan kepala mayit di sisi kanan ataupun di sisi kirinya. Maka hendaknya dalam suatu tempo ia meletakkan kepala mayit di sisi kanannya dan dalam tempo lain ia meletakkan kepala mayit lain di sisi kirinya, agar orang awam mengerti bahwa meletakkan kepala mayit di sisi kanan bukanlah suatu sunnah.

Hendaknya setiap orang bersikap lapang dada terhadap perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini, apalagi bersikap keras dan memusuhi. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

لَا أُعَنِّفُ مَنْ قَالَ شَيْئًا لَهُ وَجْهٌ وَإِنْ خَالَفْنَاهُ

“Aku tidak akan bersikap keras terhadap orang yang berpendapat sesuatu masalah yang masih mempunyai sisi pendalilan, meskipun kami menyelisihinya.” (al-Furu’ li Ibni Muflih: 1/172).

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

1 komentar: