Translate

Selasa, 13 Maret 2018

Kisah Sayyidah Zainab Binti Ali

Zainab lahir pada 6 H sebagai anak ketiga—setelah Hasan dan Husain—dari pasangan yang mulia, Fathimah binti Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib. Ia tumbuh dalam kehidupan yang mulia walau sederhana. Putri Ali yang juga dikenal sebagai Zainab Al-Kubra ini dilahirkan saat Rasulullah masih hidup.

Menurut para Ahli Tarikh, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra mewarisi keberanian, kepahlawanan dan kefasihan dalam berbicara dari ayahandanya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, serta kebajikan, kelembutan, dan pengorbanan dari ibundanya Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra. Sementara dua orang kakak lelakinya, Sayyidina Hasan dan Husein mendapat gelar dari Rasulullah saw sebagai Pemimpin para pemuda Ahli surga.

Seperti ayahandanya, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra juga dikenal suka belajar dan mencintai ilmu, itu sebabnya, pandangannya dalam ilmu dan makrifat cukup mendalam. Berkat kecerdasannya itu pula, beliau dijuluki Aqilah Bani Hasyim ( wanita cerdas dari Bani Hasyim ).

Menjelang dewasa, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra menyaksikan sebuah tragedy, yang mendorongnya berkewajiban menyelamatkan Ahlul Bait ( keturunan Rasulullah saw ). Ketika Sayyidina Husein, kakaknya gugur syahid dipancung dalam perang Karbala. Bersama para wanita dan anak-anak, Sayyidatuna Zainab meronta, merintih dan menjerit dibawah langit Karbala yang menghitam oleh mendung.

Jauh sebelumnya, Allah swt sudah mengisyaratkan nasib Sayyidatuna Zainab kepada kakeknya, Rasulullah saw. Kala itu pada hari tertentu, Rasulullah saw sering menciumi wajah wajah mungil si kecil Zainab dengan isak tangis tertahan dan linangan air mata. Terbayang oleh Rasulullah saw penderitaan cucunda tercinta itu. Di sela-sela kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran Sayyidatuna Zainab, para sahabat melihat suasana mendung di rumah Rasulullah saw.

Kemulian Ahlul Bait

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ زَكَرِيَّاءَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ شَيْبَةَ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ قَالَتْ قَالَتْ عَائِشَةُ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Artinya:Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin 'Abdillah bin Numair dan lafazh ini milik Abu Bakr keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dari Zakaria dari Mush'ab bin Syaibah dari Shafiyyah binti Syaibah dia berkata; 'Aisyah berkata; "Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumahnya dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Tak lama kemudian, datanglah Hasan bin Ali. Lalu Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Kemudian datanglah Husain dan beliau pun masuk bersamanya ke dalam rumah. Setelah itu datanglah Fatimah dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Akhirnya, datanglah Ali dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Lalu beliau membaca ayat Al Qur'an yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya." (Al Ah zaab: 33). {{H. R. Muslim, Kitab : Keutamaan sahabat, Bab : Keutamaan Ahli Bait Nabi saw, no. Hadist : 4450}

Kelahiran Sang Srikandi Karbala

Kebahagian menyelemuti segenap kaum muslimin berkat kemenangan pada waktu perang Badar, namun kebahagian ini seakan sirna dalam sekejap ketika salah seorang putri nabi yang bernama Zainab binti Muhammad mengalami peristiwa yang tragis, Zainab menghembuskan nafasnya yang terakhir diperjalanan dari Mekah menuju Madinah al-Munawwarah untuk menetap disana bersama keluarganya. Diperjalanan rombongan putri rasulallah SAW diikuti kaum musyrikin Mekah dan salah seorang diantara mereka mengancam Zainab dengan tombak sehingga mengejutkan unta yang dikendaraainya. Ia pun terjatuh dari unta,  naas hijrahnya ke Madinah merupakan perjalanannya yang terakhir dan perjalanan yang abadi menuju sisiNya. Ia meninggal disebabkan pendarahan akibat mengalami keguguran kandungan yang baru berusia beberapa bulan. Alangkah sedihnya Nabi Muhammad SAW, harus merelakan putrinya dan calon cucunya mendahuluinya menghadap sang ilahi. Mendung nestafa dan duka menaungi keluarga Nabi Muhammad SAW sampai akhirnya.........adiknya Zainab, yakni Fatimah az-Zahra melahirkan puterinya yang pertama, sebagai mengingat kenangan manis terhadap putrinya Zainab yang telah mendahuluinya maka sang kakek memberi nama pada cucu perempuannya yang pertama dengan nama Zainab. Mendung nestafa dan duka berlahan-lahan dihembuskan oleh angin kegembiraan dengan hadirnya keluarga baru ditengah Nabi Muhammad SAW yakni Zainab yang dilahirkan pada tahun enam hijriyah.

Ketika Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW menangis untuk pertama kalinya sebagai sapaan kepada dunia, alam sebagai ayat kauniyah Ilahi memberikan satu tanda lewat mendung yang menyungkup langit Madinah sebagai pertanda akan terjadi satu peristiwa yang besar yang mengiringi kehidupan Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Kita ingat bagaimana sang mega menaungi Muhammad ketika beliau berniaga kenegeri Syam sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.

Ahli sejarah dan ahli kebatinan menegaskan bahwa mendung tersebut sebagai pertanda bahwa sosok Zainab kelak akan menjadi salah satu orang yang mulia yang akan mengarungi kehidupan dengan penuh kegetiran  cobaan dan hinaan sebagaimana kakeknya sendiri. Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW menjadi saksi sejarah pembantaian ahlul bait, cucu, cicit Nabi Muhammad SAW oleh umatnya sendiri. Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW tampil sebagai Srikandi Karbala yang mengobarkan semangat perjuangan lewat retorikanya yang indah luar biasa. Untaian mutiara lewat tutur katanya yang menjadikan malapetaka di Karbala sebagai malapetaka yang abadi dan menjadikan tanggal tragedinya sebagai tanggal berkabung tahunan, tanggal nestafa dimana kesedihan dan penderitaan ahlul bait diresapi dan dihayati oleh sebagian besar umat islam dengan berbagai bentuk penghayatan yang memiliki nilai-nilai pengorbanan, penderitaan dan penghinaan. Ya... lewat Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW  lah tragedi Karbala menjadi salah satu tragedi yang kekal tak lekang ditelan zaman.

Beban Derit Masa Kecil Srikandi Karbala

Masa kecil Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dilaluinya dengan penuh kebahagian dibawah pengawasan dan limpahan kasih sayang kedua orang tuanya dan kakeknya sang insanul kamil Muhammad, namun kebahagian itu begitu cepat berlalu, hanya sekejap kebahagiannya bersama sang kakek tercinta, mereka dipisahkan oleh sang maut, hanya lima tahunan Zainab merasakan belaian kasih sayang dari kakeknya setelah itu ia tidak pernah lagi merasakan belaian kasih sayang dari sang kakek, kesedihan Zainab semakin memuncak hanya berkisar sekitar enam bulan dari kepergian sang kakek, ibunda tercinta Fatimah az-Zahra menyusul  sang kakek untuk selamanya. Fatimah setelah kepergian ayahanda tercinta selalu dirundung kesedihan dan tinta pilu sejarah mencatat setelah kepergian Nabi, Fatimah selama kurun waktu menjelang kewafatannya tidak pernah tersenyum. Hari-hari dilalui Fatimah dengan kesedihan yang mendalam, tangisan yang menyayat pilu. Para sejarawan membuat perbandingan sebagai perumpamaan orang-orang mulia yang larut dalam kesedihan yang mendalam. Mereka menghitung bahwa Fatimah sebagai salah seorang dalam tinta sejarah yang teramat sedih, menangis pilu sebagai ungkapan perasaan yang mendalam kepada ayahnya nabi Muhammad saw, selain itu ada Nabi Adam yang menangis karena menyesal memakan buah Khuldi dan melanggar laranganNya, Nabi Nuh menangisi kaummnya yang inkar kepada tuhannya dan ditenggelamkan oleh air bah, Nabi Ya’qub menangis karena rindu kepada putranya Yusuf, Nabi Yahya menangis arena takut akan neraka dan Fatimah menangisi kepergian ayahnya.

Fatimah yang dirundung duka teramat dalam hanya menunggu kedatangan sang pemutus nikmat malaikat maut karena ia telah diberi kabar gembira dari Nabi bahwa ia orang yang pertama dari kalangan keluarga Nabi Muhammad yang akan menyusulnya.

Termaktub dalam riwayat Hadits

حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا فَاطِمَةَ ابْنَتَهُ فَسَارَّهَا فَبَكَتْ ثُمَّ سَارَّهَا فَضَحِكَتْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ لِفَاطِمَةَ مَا هَذَا الَّذِي سَارَّكِ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَكَيْتِ ثُمَّ سَارَّكِ فَضَحِكْتِ قَالَتْ سَارَّنِي فَأَخْبَرَنِي بِمَوْتِهِ فَبَكَيْتُ ثُمَّ سَارَّنِي فَأَخْبَرَنِي أَنِّي أَوَّلُ مَنْ يَتْبَعُهُ مِنْ أَهْلِهِ فَضَحِكْتُ

Telah menceritakan kepada kami [Manshur bin Abu Muhazim] Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim] yaitu Ibnu Sa'ad dari [Bapaknya] dari [Urwah] dari [Aisyah] Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] lafazh ini miliknya Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] dari [Bapaknya] bahwa [Urwah bin Jubair] Telah menceritakan kepadanya, dari [Aisyah] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam memanggil Fathimah, anaknya. Beliau membisikinya & ia pun menangis, lalu beliau membisikinya & ia pun tersenyum. Aisyah berkata; Saya bertanya kepada Fathimah; 'Apa yg dibisikkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam kepadamu hingga kamu menangis, kemudian beliau berbisik kepadamu & kamu tersenyum?
ia menjawab; Beliau berbisik kepadaku & memberitahuku akan kematiannya, aku pun menangis. Kemudian beliau berbisik kepadaku & memberitahuku bahwa saya adl orang yg pertama kali mengikutinya dari keluarganya maka aku pun tersenyum. [HR. Muslim No.4486].

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ زَكَرِيَّاءَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ فِرَاسٍ عَنْ عَامِرٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اجْتَمَعَ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُغَادِرْ مِنْهُنَّ امْرَأَةً فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ تَمْشِي كَأَنَّ مِشْيَتَهَا مِشْيَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَرْحَبًا بِابْنَتِي فَأَجْلَسَهَا عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ إِنَّهُ أَسَرَّ إِلَيْهَا حَدِيثًا فَبَكَتْ فَاطِمَةُ ثُمَّ إِنَّهُ سَارَّهَا فَضَحِكَتْ أَيْضًا فَقُلْتُ لَهَا مَا يُبْكِيكِ فَقَالَتْ مَا كُنْتُ لِأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ فَرَحًا أَقْرَبَ مِنْ حُزْنٍ فَقُلْتُ لَهَا حِينَ بَكَتْ أَخَصَّكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِيثِهِ دُونَنَا ثُمَّ تَبْكِينَ وَسَأَلْتُهَا عَمَّا قَالَ فَقَالَتْ مَا كُنْتُ لِأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا قُبِضَ سَأَلْتُهَا فَقَالَتْ إِنَّهُ كَانَ حَدَّثَنِي أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُهُ بِالْقُرْآنِ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً وَإِنَّهُ عَارَضَهُ بِهِ فِي الْعَامِ مَرَّتَيْنِ وَلَا أُرَانِي إِلَّا قَدْ حَضَرَ أَجَلِي وَإِنَّكِ أَوَّلُ أَهْلِي لُحُوقًا بِي وَنِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ فَبَكَيْتُ لِذَلِكَ ثُمَّ إِنَّهُ سَارَّنِي فَقَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُونِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ أَوْ سَيِّدَةَ نِسَاءِ هَذِهِ الْأُمَّةِ فَضَحِكْتُ لِذَلِكَ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah]; Dan telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Numair] dari [Zakaria]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair]; Telah menceritakan kepada kami [Bapakku]; Telah menceritakan kepada kami [Zakaria] dari [Firas] dari ['Amir] dari [Masruq] dari ['Aisyah] dia berkata; "Suatu ketika para istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkumpul tanpa ada seorang pun dari mereka yang tidak hadir saat itu. Tak lama kemudian, datanglah Fatimah dengan berjalan kaki yang mana cara jalannya persis dengan cara jalannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika melihatnya, maka beliau pun menyambutnya dengan mengucapkan: "Selamat datang hai puteriku yang tercinta!" Setelah itu beliau mempersilahkannya untuk duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. kemudian sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tersenyum gembira. Lalu saya (Aisyah) bertanya kepada Fatimah; 'Ya Fatimah, Apa yang membuat kamu menangis? Fatimah menjawab; "Sungguh saya tidak ingin menyebarkan rahasia yang telah dibisikkan Rasulullah kepada saya." Aisyah berkata; maka aku katakana; Aku tidak pernah melihat kebahagian yang lebih dekat dengan kesedihan seperti hari ini. Lalu Aku bertanya kepadanya ketika dia menangis; Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengistimewakanmu dari kami dengan ucapannya, hingga kamu menangis? Aku bertanya terus tentang apa yang diucapkan Rasulullah kepadanya, namun dia tetap menjawab; 'Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.' Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia, saya hampiri Fatimah seraya bertanya kepadanya; 'Hai Fatimah, saya hanya ingin menanyakan kepadamu tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu yang dulu kamu tidak mau menjelaskannya kepada saya.' Fatimah menjawab; Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan sesuatu kepada saya, beliau memberitahukan; "bahwasanya Jibril & beliau biasanya bertadarus Al Qur'an satu kali dalam setiap tahun & kini beliau bertadarus kepadanya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Sesungguhnya kamu adl orang yg paling pertama menyusulku dari kalangan ahlul baitku. Sebaik-baik pendahulumu adl aku.' Fatimah berkata; 'Mendengar bisikan itu, maka saya pun menangis. Kemudian ketika Rasulullah berbisik lagi kepada saya: 'Hai Fatimah, maukah kamu menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau sebaik-baiknya wanita umat ini?
Lalu saya pun tertawa karena hal itu. [HR. Muslim No.4488].

Akhirnya pesan dari Nabi pun terbukti Fatimah menjadi orang yang pertama menyusul Rasulallah, tinggallah Zainab kecil yang memperhatikan bagaimana sosok ibunya dibaringkan, dikubur dipemakaman Baqi’ sebagaimana hal tersebut terjadi kepada kakeknya, instingnya yang tajam membuat ia mengerti bahwa hari tersebut merupakan hari yang terakhir ia melihat sosok ibunda yang tercinta. Zainab menangis lirih didekapan sang ayah tercinta Ali bin Abi Thalib yang tertunduk sayu menatap gundukan makam isteri yang tercinta, dengan suara lirih sang ayah tercinta Ali bin Abi Thalib mengucapkan salam perpisahan untuk orang yang mereka cintai disaksikan oleh putra dan putri mereka. ‘salamku untukmu ya Rasulallah! Salamku ya isteriku tercinta! dari cucumu dan anak-anakmu. Sungguh teramat berat bagiku menghadapi cobaan ini, belum kering aiar mata menangisi kepergian Zainab, engkau ya Rasulallah berlalu juga menyusul putrimu yang tercina, masih basah gundukkan makam mu ya Rasulallah, Fatimah isteriku yang tercinta pergi untuk selamanya berkumpul dengan kalian ya Rasulallah. Hanya setitik iman dan kesabaranlah yang membuatku mampu bertahan dari cobaan yang teramat berat ini, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik jalan yang terang sebagai pelita untuk kami menghadapi ujian ini, salamku untukmu ya Rasulallah! Salamku ya isteriku tercinta! dari cucumu dan anak-anakmu. Selamat tinggal isteriku yang tercinta, semoga kita akan berkumpul lagi ditempat yang telah ia janjikan’. Dengan langkah yang lesu Ali pulang kerumah diiringi oleh putra-putri mereka, malam berlalu dengan cepat, tiba-tiba Zainab merasakan keadaan yang sunyi, sepi mencekam, tiada terdengar senda gurauan dari ibunda yang tercinta, ia sadar ia telah kehilangan, ditinggalkan sosok yang teramat mengasihinya, yang tinggal hanya secercah kenangan yang manis yang menjadi bunga tidur baginya dan saudara-saudarinya.

Peristiwa-peristiwa yang pilu yang dialami oleh Zainab membuat ia tumbuh menjadi lebih dewasa dibandingkan anak seusianya, ia hadir menjadi sosok ibu bagi Hasan, Husin dan adiknya paling kecil Ummu Kaltsum, ya... ia hadir sebagai ibu yang teramat belia yang berumur kurang lebih sepuluh tahun bagi saudara-saudarinya. Kegetiran hidup yang dialami Zainab menjadikan ia sosok remaja yang tabah, sabar dan penuh kasih sayang bagi saudaranya. Masa remajanya dilewati dengan membimbing, menjaga saudara-saudarinya yang lain sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pesan ibunnya agar ia selalu berada disisi, menemani saudaranya yang lain sepeninggalan ibunya.

Rumah Tangga Zainab

Masa remaja Zainab telah berlalu ia hadir sebagai sekuntum bunga ahlul bait dengan kecantikan yang memukau dan kepribadian yang mulia. Perihal kecantikannya diibaratkan oleh Abdullah bin Abu Ayyub al-Anshary dengan ungkapannya, ‘demi Allah, saya belum pernah melihat wajah seperti Zainab, seolah-olah wajahnya indah bercahaya bak rembulan. Kepribadiannya menyerupai ibunya Fatimah az-Zahra, sabar dalam segala hal lemah-lembut budi perangainya, ketaqwaan dan keluasaan ilmu sebanding dengan ayahnya Ali. Kecerdasan dan keluasaan ilmunya inilah Zainab mendapat gelar ‘Aqilah Bani Hasyim{wanita cerdas dari kalangan bani Basyim}, gelar kehormatan yang ia sandang hingga akhir hayatnya.

Pemuda yang terpilih menyunting sekuntum bunga ahli ba’it adalah Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib bin Abd Muthalib, sosok yang sangat dermawan, pemurah, keturunan dari bani Hasyim, masa kecil Abdullah dihabiskan di Ethiopia atau negeri Habsyah, karena orang tuanya merupakan pemimpin rombongan yang hijrah ke Habsyah  yakni Ja’far bin Abi Thalib. Abdullah tumbuh denga putra mahkota negeri habsyah bahkan putra mahkota tersebut merupakan saudara sepersusuannya. Keeistimewaan Abdullah ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi, ’adapun Abdullah, dia sangat mirip denganku baik dari bentuk fisik maupun perangainya’.

Mereka berdua merupakan  pasangan sejoli yang ideal, dari pernikahan mereka dikarunia tiga orang putra yakni Ja’far, Ali dan ‘Aun serta dua orang puteri yang bernama Ummu kaltsum dan Ummu Abdullah. Perihal dua anaknya yang lelaki dikabarkan meninggal dunia dalam usia yang muda dan hanya menyisakan Ali yang melanjutkan garis keturunan ‘Aqilah sedangkan putrinya Ummu kaltsum menurut riwayat dipinang oleh Khalid bin Yazid bin  Mu’awiyah.    

Bahtera rumah tangga ‘Aqilah dengan Abdullah bin Ja’far tidak berlangsung sampai keakhir hayat, karena ia berpisah dengan Abdullah dengan beberapa alasan yakni keinginannya untuk terus berada disisi saudaranya Husin guna memenuhi wasiat ibunya, kedua Abdullah menikahi Ummu kaltsum bin Ali bin Abi Thalib yang merupakan saudara kandung dari Zainab, setelah Ummu kaltsum berumah tangga dengan Umar bin Khattab yang memperoleh keturunan dengan nama Zaid, sepeninggalan Umar ia dinikahi oleh Muhammad ibn Ja’far, sepeninggalan Muhammad bin Ja’far baru ia dinikahi oleh Abdullah bin Ja’far setelah menceraikan kakaknya Zainab. Alangkah perih dan getirnya kehidupan Zainab.

Peristiwa Karbala

Penderitaan silih berganti menghampiri Zainab, ayahnya Ali ra, menghembuskan nafas yang terakhir karena ditikam dengan kejam oleh Abdurrahman bin Muljam pada waktu melaksanakan sholat shubuh, dengan perasaan yang perih Zainab merelakan kepergian ayahnya dipangkuannya. Ya... khalifah Ali berpulang ke pangkuan ilahi Rabbi setelah peristiwa yang menimpanya, beliau wafat pada tanggal 21 Ramadhan 40 H.

Sembilan tahun kemudian malapetaka kembali menghampiri keluarga ahlil bai’t, Hasan dengan cara yang keji dan licik dibunuh oleh Mu’awiyah dengan perantaraan isterinya yang tergiur oleh kemilau materi dunia, Ja’dah binti Asy’ats ibn Qais tega meracuni suaminya sendiri demi mengejar materi. Untuk kedua kalinya Zainab menyaksikan kematian orang-orang yang dicintainya di atas pangkuannya.

Waktu terus berlalu kini tibalah giliran Husin yang terus-menerus diintai maut setiap saat karena sikap Husin yang tida mau tunduk dan berbait kepada Yazid penerus Mu’awiyah. Suhu politik semakin memanas, keadaan ahlu bait semakin rentan tidak ada sedikitpun perlindungan dari penguasa kota Madinah hanya masyarakatnya yang setia menjaga keamanan ahlul bait keadaan yang tidak memungkin ini membuat Husin berinisiatif hijrah ke Mekah yang diikuti oleh hampir seluruh ahlil bait kecuali Muhammad ibnu Hanafiyah yang tinggal di Madinah karena suatu alasan. Hijrah Husin ke Mekah selain untuk menunaikan ibadah Haji, dia juga ingin menunjukkan sikapnya yang tegas melawan tirani penguasa yang zalim, momentum Haji merupakan saat-saat yang tepat untuk mengingatkan umat agar senantiasa menentang tirani penguasa yang zalim.

Setelah menetap di Mekah sekian waktu rombongan Husin pun bersiap-siap menuju Kufah atas undangan penduduknya yang ingin bergabung dan membai’at Husin sebagai khalifah mereka, namun kenyataan yang terjadi sangat memilukan, penduduk kufah dengan janji-janji semu satu persatu meninggalkan Husin karena alasan takut akan penguasa kufah kala itu. Hingga akhirnya sampailah rombongan ahlul bait di lembah Karbala, lembah kematian, mereka menyongsong maut yang telah diramalkan. Pada tanggal satu Muharram sampailah rombongan dilembah yang disebut Karbala. Imam Husin sendiri menegaskan bahwa Karbala merupakan singkatan dari karb wa bala, tempat kegelisahan dan prahara, nama lain dari karbala adalah Nainawa, al-Ghadiriyah, dan syathiul furat.
 
Ditempat inilah terjadi pembantaian terhadap ahlul bait dan orang-orang yang setia bersama mereka. Rombongan Husin yang terdiri dari tujuh puluh tiga laki-laki dewasa yang siap bertempur menghadapi empat ribu pasukan dibawah pimpinan Umar bin Sa’ad bin abi Waqqash dan gubernur kufah Ubaidullah bin Ziyad ‘alaihim la’natullah.

Peperangan yang tidak seimbang, satu persatu pahlawan karbala gugur sebagai syahid menentang tirani kezaliman hingga yang tersisa hanya panglima Karbala yang gagag berani Husin ra, yang terus mengayunkan pedangnya diantara ribuan musuh-musuh Allah. Hingga pada saat matahari terbenam diufuk barat pada tanggal 10 Muharram 61 H atau 20 Oktober 680 M, Husin ra, roboh berimbah darah dengan keadaan yang mengenaskan dengan kondisi yang tercabk-cabik, 33 bekas tusukan tombak, 34 bekas sabetan pedang dan dengan kondisi kepala yang terpisah dari badan yang dilakukan oleh Syimir bin Dzil Jauzan untuk dipersembahkan sebagai hadiah bagi penguasa zalim.

Dalam satu riwayat ditegaskan, telah bercerita kepadaku Muhammad bin Al Husain bin Ibrahim berkata, telah bercerita kepadaku Husain bin Muhammad telah bercerita kepada kami Jarir dari Muhammad dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu; "'Ubaidullah bin Ziyad disodorkan kepala Al Husain 'alaihis salam (setelah dipenggal orang) maka dia meletakkannya ke dalam baskom kemudian ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya kekepala Husin. {H. R.  Bukhari, Kitab Perilaku Budi Pekerti yang Terpuji, Bab, Sifat Terpuji Hasan dan Husain, no. Hadist: 3465}.

Pada sore hari Asyura ketika Zainab Sa menyaksikan Imam Husain as jatuh di atas tanah dan musuh-musuh berada di sekitar tubuhnya dengan bertujuan membunuhnya, ia keluar dari kemahnya. Ia memanggil Ibnu Sa'ad dengan panggilan yang demikian:

"یابن سَعد! اَیقتَلُ اَبُو عبداللّه وَ انتَ تَنظُرُ اِلَیهِ؟"

"Hai putra Sa'ad! Abu Abdillah akan dibunuh sementara engkau hanya melihatnya?"

Ibnu Sa'ad tidak menjawab sedikitpun. Kemudian Zainab Kubra berteriak:

"وا اخاه! وا سیداه! وا اهل بیتاه! لیت السماء انطبقت علی الارض و لیت الجبال تدكدكت علی السهل"

"Oh saudaraku! Oh pemimpinku! Oh keluargaku! Oh, andai saja langit berbalik jatuh ke bumi! Oh, andai saja gunung hancur dan pecahannya terpencar di tepian pantai."  Sayidah Zainab Sa dengan rangkaian kata-kata ini, telah memulai priode kedua kebangkitan Asyura. Zainab mendatangi saudaranya dan menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, "Ya Allah, terimalah pengorbanan ini!"

Ia melewati malam keterasingan para syahid di padang sahara dengan iringan tangis, lantunan yang memilikan hati-hati yang lara, air mata dan rintihan duka para kekasih sambil merawat para yatim. Ia lewatkan malam itu dengan salat dan bermunajat kepada Tuhan hingga subuh.

Sikap Zainab sa Pada Peristiwa Pembunuhan Saudaranya

Ketika berada di samping tubuh Imam Husain as, Sayidah Zainab sa menghadap ke arah Madinah dan menyampaikan ratapan-ratapan yang memilukan hati:

"وا محمّداه! بَناتُكَ سَبایا وَ ذُرّیتُك مُقَتّله، تسفی علیهم رِیحُ الصّبا، و هذا حُسینٌ مجزوزُ الَّرأسِ مِنَ القَفا، مَسلُوبُ العمامِةِ و الرِّداء"

"Ya Nabi, mereka ini adalah anak-anak perempuanmu yang berjalan dalam keadaan tertawan. Mereka adalah anak-anak keturunanmu dengan tubuh berlumuran darah, tergeletak di atas tanah dan tubuh mereka diterpa angin. Ya Rasulullah! Inilah Husain yang kepalanya telah terpenggal dari lehernya, jubah serta sorbannya dijarah."
"Ayahku bukan tebusan orang yang menjarah pasukan-pasukannya, kemudian merusak kemahnya! Bukan tebusan seorang musafir yang sudah tidak memiliki harapan untuk kembali."

Perkataan dan rintihan-rintihan Sayidah Zainab sa telah mempengaruhi kawan dan lawan. Mereka semua dibuatnya terpaksa menangis.

Dengan suara lirih Zainab mengumandangkan syair ketika sayyidina Husin dibunuh dengan keji.’apa yang kalian katakan jika Nabi bertanya kepada kalian, apa yang kalian perbuat wahai umatku?  Atas itrah dan keluargaku setelah kepergianku, kalian aniayai diantara keluargku hingga berlumuran darah. Inikah balasan yang kalian berikan setelah kutunjukkan jalan kebenaran?

Lalu apakah dengan syahidnya para pahlawan Karbala peristiwa ini berakhir? Jawabnya adalah tidak, justeru dengan syahidnya para pahlawan Karbala, peristiwa ini menjadi abadi tak lekang oleh zaman berkat jasa-jasa Srikandi Karbala yang mengobarkan nilai-nilai perjuangan menentang tirani penguasa yang lalim.

Setelah seluruh pahlawan Karbala gugur, kaum wanita dan anak-anak menjadi tawanan perang pasukan Syaitan Ubaidillah, tawanan perang yang dipimpin langsung oleh Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, memasuki kota Kufah sebagai tawanan diiringi oleh tatapan sayu dan tangisan pilu penduduk Kufah yang telah mengingkari dan mengkhianati keluarganya.

Dengan tatapan tajam Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW  memandangi penduduk Kufah yang dilewatinya dan berhenti sejenak ia pun berkata dengan nada yang tinggi, tajam mencela prilaku buruk penduduk Kufah,’’ amma ba’du, wahai penduduk Kufah, benarkah kalian menangis? Semoga saja air mata kalian tak kunjung kering! Semoga isak tangis kalian tak kunjung berhenti! Kalian semua adalah ibarat wanita yang merusak tenunannya setelah pintalan yang kuat sehingga menjadi berserakan kembali, kalian mnjadikan sumpah perjanjian sebagai keduk penipuan diantara kalian, ketahuilah! Alangkah buruknya dosa yang kalian kerjakan!, sungguh demi Allah, menangislah kalian sepuas-puasnya dan kurangilah tertawa kalian! Kalian telah menghapus perasan malu pada diri kalian sendiri, sungguh demi Allah, kalian tidak akan mampu mensucikan jiwa-jiwa kalian yang keji lagi kotor meskipun kalian berendam seumur hidup dalam kolam air yang suci. Bagaimana kalian dapat menghapus dosa kalian setelah apa yang kalian perbuat terhadap cucu-cucu Rasulallah saw, nabi terakhir, pembawa risalah ilahi, tumpuan kalian mengharapkan syafaatnya, yang memberikan petunjuk kehidupan kepada kalian semua. Cucu-cucunya kalian perlakukan dengan penuh kehinaan. Sadarkah kalian, hati siapa yang kalian permainkan, darah siapa yang kalian tumpahkan dan wanita mulia mana yang kamu hinakan? sungguh demi Allah, kalian semua telah melakukan dosa yang teramat besar.’’
Satu ungkapan emosional dari Sayyidah Zainab terhadap penghianatan penduduk Kufah. Zainab tampil sebagai Srikandi Karbala yang membakar semangat perjuangan rakyat Kufah lewat tutur katanya yang tajam menusuk perasaan penyesalan yang mendalam di sanubari rakyat Kufah setelah sepeninggalannya.

Gema Yang Abadi

Setelah beberapa hari menjadi tawanan di kota Kufah, rombongan  Sayyidah Zainab dikirim ke Damaskus untuk menghadap Yazid bin Mu’awiyah, oleh Yazid rombongan tersebut dikirim pulang ke Madinah, Zainab hidup dirundung duka nestafa yang tiada berkesudahan, ia hidup dengan melawat dari satu kota kekota yang lain hingga sampai kenegeri Mesir pada awal bulan Sya’ban 61 H, dan menetap di rumah Maslamah bin Makhlad al-Anshary, hanya satu setengah tahun setelah peristiwa tragis di Karbala Sayyidah Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW   menghembuskan nafasnya yang terakhir di negeri ratu Cleopatra, sore hari, pada hari minggu yang cerah tanggal 14 Rajab 62 H, sayyidah Zainab binti Ali, cucu Nabi Muhammad SAW menyusul keluarganya yang tercinta.
Namun kehidupannya yang singkat setelah tragedi Karbala mampu merubah peta sejarah umat islam, lewat tutur kata yang tegas yang menyisakan penyesalan yang mendalam bagi penduduk Kufah.

Penduduk Kufah sungguh teramat menyesal atas perbuatan yang mereka lakukan, karena mereka turut andil besar dengan terbunuhnya ahlul bait. Malam-malam berlalu mereka dihantui oleg rasa bersalah yang berkepanjangan gema suara sayyidah Zainab ra, seakan-akan terus terdengar ditelinga mereka,’’ wahai penduduk Kufah, benarkah kalian menangis? Semoga saja air mata kalian tak kunjung kering! Semoga isak tangis kalian tak kunjung berhenti! . ilahi mengabulkan do’a Zainab ra, penduduk Kufah mulai merasakan sengatan dan tikaman penyesalan, semenjak detik-detik pertama, dimana Srikandi Karbala mulai memainkan peranannya yang tegas dan mengharukan lewat untaian mutiara kata-kata yang tajam menusuk jiwa terdalam.

At-Thabary dan Ibnu Atsir menerangkan,’’penduduk Kufah diam membisu setelah mendengar teriakan Srikandi Karbala, sayyidah Zainab, selama dua-tiga bulan, mereka merasa seolah-olah dinding rumah mereka berlumuran darah setiap harinya, setelah kepergian Zainab digiring ke kota Damaskus, mereka satu sama lin saling menyalahkan, mereka sadar telah melakukan kesalahan yang besar, karena merekalah yang mengundang Husin untk datang kek kota mereka dengan memberikan janji jaminan keamanan.

Dinidng-dinding rumah di kota Kufah setiap waktu seakan-akan terus memantulkan gema teriakan sayyidah Zainab,’ sungguh demi Allah, menangislah kalian sepuas-puasnya dan kurangilah tertawa kalian! Kalian telah menghapus perasan malu pada diri kalian sendiri, sungguh demi Allah, kalian tidak akan mampu mensucikan jiwa-jiwa kalian yang keji lagi kotor meskipun kalian berendam seumur hidup dalam kolam air yang suci. Bagaimana kalian dapat menghapus dosa kalian setelah apa yang kalian perbuat terhadap cucu-cucu Rasulallah saw”. Penduduk kufah terus dihantui perasaan bersalah yang teramat sangat sehingga mencapai puncak pada tahun 65 H atau sekitar 4 tahun setelah syahidnya para pahlawan Karbala, di Kufah terjadi pergolakan politik yang mencekam, penduduk Kufah yang dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam membentuk pasukan dengan nama at-tawabun orang-orang yang bertaubat yang menggemakan seruan ‘mari menuntut balas atas syahidnya pahlawan Karbala’.

Inilah awal pemberontakan terhadap Daulah Umayyah, setahun kemudian terulang lagi peristiwa Karbala, pasukan yang turut andil membantai pahlawan Karbala ditangkap dan diadili dengan hukuman yang sama, sebagaimana mereka membunuh 73 syuhada ditanah Karbala, di satu tempat dihukum secara massal sebanyak 248 pasukan yang turut menyerang pahlawan Karbala, Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa’ad bin Abu Waqqash dan putranya Hafash turut menjadi koraban tragedi ini kepala-kepala mereka yang turut menyerang pahlawan Karbala dipenggal dan dikirim ke Madinah sebagai bentuk rasa penyesalan yang teramat dalam dari penduduk Kufah.

Pasukan at-Tawabun telah berlalu, hilang ditelan masa......namun mereka meninggalkan taobat dan penyesalan atas pengkhianat terhadap ahlul bait sebagai warisan yang mengerikan kepada generasi-generasi mereka di kemudian hari.........dan Srikandi Karbala, Sayyidah Zainab-lah yang menjadikan gugurnya Husin di Karbala sebagai malapetaka yang abadi lewat retorika, untaian kata yang indah, tajam menusuk perasaan kepada penduduk Kufah yang menjadikan janji sebagai kedok penipuan.

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar