Translate

Kamis, 22 Maret 2018

Sejarah Kehidupan Sayyid 'Alwi Bin Achmad Basyaiban

Bermula dari kegagalan Daendels dan pasukan gabungan Belanda-Perancisnya mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, maka pada 1811 jatuhlah pulau Jawa kedalam kekuasaan cengkraman Inggris. Pembaguan Jalan Raya Pos dan pabrik – pabrik senjata di Jawa ternyata tidak mampu membendung ekspedisi laut terbesar sepanjang sejarah, setidaknya sampai pecah perang dunia II. Melalui penandatanganan Rekapitulasi Tuntang, maka berakhir sudah pemerintahan Belanda-Perancis di bawah pimpinan adik Napoleon Bonaparte atas Jawa. Sejak saat itulah, Sir Thomas Stamford Raffles bertugas sebagai Gubernur Jendral atas Hinda Belanda.

Setahun setelah Inggris berkuasa atas Tanah Jawa, Kesultanan Yogyakarta dibantu Kasunanan Surakarta melakukan pemberontakan kepada pemerintah Inggris. Pemberontakan ini di jawab Raffles dengan sebuah penyerbuan besar – besaran yang dikenal dengan “Geger Sepoy”. Peperangan ini mengakibatkan luluh lantaknya Kraton Yogyakarta dan dijarahnya harta benda Keraton. Tidak hanya itu, kekalahan Kesultanan Yogyakarta juga berakibat pada diserahkannya beberapa wilayah Kesultanan ke tangan Inggris. Pada 1 Agusuts 1812, Dataran Kedu yang mana Magelang termasuk di dalamnya berpindah tangan kepada pemerintahan Raffles. Penyerahan Dataran Kedu ini menjadi awal mula perubahan pola struktur pemerintahan Tanah Jawa, khususnya Magelang yang dulunya bercorak feodalistik menjadi tataran pemerintahan kolonial.

Raden Mas Ngabehi Danoekromo : Bupati Pertama Magelang

Membicarakan Eyang Seda Perang (demikian ia dipanggil oleh anak keturunan RT Danuningrat 1) tidak akan pernah lepas dari sejarah orang Arab di Nusantara, sejarah pendudukan Inggris, dan secuil cerita perang Diponegoro. Bupati Magelang pertama ini memang masih keturunan Arab, muncul saat pendudukan Inggris, dan tewas saat perang Diponegoro. Meski sudah tidak murni berdarah Arab, kasus nikah campur keluarga Danuningrat dan Raden Saleh menurut Snouck Hurgronye tidak akan terjadi lagi. Untuk lebih lengkapnya marilah kita ulas satu demi satu.

Melihat posisi Magelang yang sangat strategis ditengah – tengah pulau Jawa, maka Raffles menjadikan Magelang sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu. Ia menunjuk seorang resident bernama John Crawfurd untuk membenahi administrasi pemerintahan local di Karesidenan ini. Dalam tugas interennya, Crawfurd membutuhkan seorang pribumi untuk membantunya berurusan dengan pemerintahan lokal lain dan kepada rakyat setempat. Maka diambilah seorang mantan asisten Patih Danurejo III dari Yogyakarta bernama Danoekromo sebagai Bupati Pertama Magelang. Pada tanggal  30 November 1813 resmi sudah Danoekromo yang bernama asli Alwi Bin Said Abdar Rahim Bach Caiban (Basyaiban) menyandang gelar Raden Mas Ngabehi Danoekromo.

Danuningrat I mempunyai nama Jawa Danukromo. Sebagai keturunan Arab, ia mempunyai nama kecil Alwi dengan nama keluarga (marga) Basyaiban. Basyaiban merupakan salah satu marga keturunan nabi Muhammad dan merupakan kabilah yang pertama kali bermigrasi. Kabilah Hadramaut ini menuju Hijaz, kemudian Ahmadebad India, dan kemudian ke Cirebon.

Abdurrahman sang moyang setelah menginjakkan kaki di Cirebon berhasil memperistri Syarifah Khadijah putri Kesultanan Cirebon yang masih keturunan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dan konon masih keturunan nabi Muhammad pula. Dari pasangan ini lahirlah tiga putra yaitu Sulaiman, Abdurrahim dan Abdul Karim. Seperti keluarga Arab pada masanya, mereka aktif menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa dan membuat khawatir VOC. Salah satu putra mereka yaitu Sulaiman kemudian tinggal di Krapyak Pekalongan dan mempunyai 4 putra yaitu Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir dan Ali Akbar. Sulaiman kemudian berdakwah lagi menuju Solo. Di Solo ia dikenal sebagai seorang yang sakti mandraguna dengan nama Sayid Sulaiman. Kesaktiannya membuat takjub Raja Mataram dan menginginkannya bergabung dengan pihak kerajaan. Sulaiman enggan dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk berguru di Pesantren Sunan Ampel. Utusan Raja Mataram berhasil mengetahui keberadaannya dan memintanya datang ke Solo. Singkat cerita, ia kemudian berangkat ke Solo namun berdoa bahwa apabila perjalanan itu membawa keburukan lebih baik ia mati saja. Ternyata ia kemudian sakit di perjalanan dan meninggal di Mojoagung. Ia dikenal sebagai Sayid Sulaiman Mojoagung atau Pangeran Kanigoro atau mbah Sulaiman.

Anaknya yaitu Abdul Wahab kemudian mempunyai anak Muhammad Said. Muhammad Said mempunyai anak bernama Ki Mas Ahmad, seorang guru ngaji di keraton Yogyakarta. Ki Mas Ahmad ini mempersunting anak patih keraton Yogyakarta (1755-1799) yang pernah menjadi Bupati Banyumas tahun 1749-1755, yaitu Danurejo I. Ki Mas Ahmad di kemudian hari mengundurkan diri dan menetap di Krapyak. Dari pernikahannya lahirlah 3 anak yaitu Hasyim, Abdullah, dan Alwi. Hasyim adalah Wongsorejo (RT Wongsodirjo I). Abdullah adalah panglima pasukan berkuda bergelar Tumenggung Alap-alap di Madiun yang menikahi putri HB II GKR Kartodipuro. Alwi adalah Danoekromo sang bupati Magelang.

Dengan demikian, dari segi silsilah Alwi ini saya berikan khusus satu paragraf. Nama lengkap beliau adalah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Muhammad Said bin Abdul Wahab bin Sulaiman Mojoagung /Pangeran Kanigoro bin Abdurrohman Tadjuddin Muhyuddin bin Muhammad bin Umar bin 'Abdullah bin Umar bin Muhammad Asy-Syaibah bin Ahmad Basyeiban Ba'Alawi bin Abu Bakar Basyaiban bin Muhammad Assadillah bin Hasan At-thurobi bin Ali bin Muhammad Al-Faqih Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbad bin Ali Khola Ghosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Alawiyyin bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Nagieb bin Ali Uroidhi bin Ja'far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyid Husein bin Fatimah Az-Zahra binti MUHAMMAD SAW.

Danukromo muda sebagai cucu Danurejo I berhasil mendapatkan jabatan di Kantor Kepatihan Yogyakarta. Di situ ia bekerja selama 4 tahun sebagai Asisten Pertama Danurejo II (1799-1811). Pada tahun 1810, ia menjadi Demang Bojong di Kedu dengan tanah lungguh sebanyak 100 cacah. Pada November 1811 setelah Danurejo II terbunuh, ia kembali ke Jogja melayani Danurejo III yang baru menjabat hingga geger sepei. Saat keraton Jogja jatuh ke tangan Inggris dan Raffles memberlakukan landrent di wilayah Kedu pada 10 September 1812, maka Crawfurd sang residen membutuhkan orang yang cakap dari Jogja sehingga mempekerjakan Danoekromo sebagai asisten hingga Desember 1813 saat ia diangkat menjadi Bupati Magelang.

Danoekromo diangkat menjadi Bupati Magelang pertama sesuai Magelang Vooruit 1935 yaitu : "...menoeroet beslit Goebernemen pada 30 Nopember 1813 Mas Angabei Danoekromo ditetapkan dalam djabatannja oleh Pemerintah Belanda bergelar Raden Toemenggoeng Danoeningrat."

Bagi Magelang, Mas Ngabehi Danoekromo sangat berjasa bagi cikal bakal perkembangan Magelang. Pada awal – awal pemerintahannya, ia membangun infrastruktur utama pendirian sebuah pusat pemerintahan baru. Layaknya kabupaten – kabupaten lain di Jawa, keberadaan aloon – aloon, masjid dan rumah Bupati adalah satu paket komponen penting yang mutlak harus ada dalam sebuah pusat pemerintahan. Dalam penentuan lokasi pusat pemerintahan barunya ini, Danoeningrat tentunya tidak main – main. Konon untuk menentukan lokasi aloon – aloon, Mas Ngabehi Danoekromno harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada gurunya. Menurut petunjuk sang guru, sebuah tanah lapang diantara Desa Gelangan dan Desa Meteseh adalah lokasi yang paling tepat sebagai pusat pemerintahan Bupati Magelang. Selain bertanah lapang, lokasi itu juga sudah ditumbuhi pohon beringin yang membuat tanah ini sangat representatif sebagai aloon – aloon Kabupaten.  Setelah penentuan lokasi aloon – aloon, maka Mas Ngabehi Danoekromo mulai mendirikan rumah bupati (regentswoning) disebelah utara aloon – aloon dan sebuah Masjid Agung (Groote Moskee) dibarat aloon - aloon.

Raffles yang mengagumi kebudayaan Jawa, mendukung langkah sang adipati dalam membuat alun-alun. Di samping sesuai dengan kultural Jawa, juga sejalan dengan pola pembangunan di Kerajaan Inggris pada masanya.

Dalam peradaban Jawa, rumah kediaman penguasa (Kraton, Kadipaten) selalu dilengkapi dengan sebidang alun-alun yang melambangkan konsep Ketuhanan, atau dalam ruang kosong ada kehidupan yang dilambangkan dengan pohon beringin. Alun-alun secara kultural Jawa merupakan simbol keluasan titah manusia di dunia di mana unsur makrokosmos dengan mikrokosmos berpadu sebagai sebuah hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta, dan secara horisontal antara manusia dengan alam dan sesamanya.

Setelah Hindia Belanda kembali ke pangkuan Kerajaan Belanda pada tahun 1813, Magelang secara otomatis juga menjadi daerah kolonial Belanda lagi. Sejak itu, Belanda mulai mengembangkan Magelang menjadi kota yang maju dengan mendirikan sejumlah gedung di sekitar alun-alun tersebut, sepertiGPIB (1817), Klenteng Liong Hok Bio (1864), Gereja Santo Ignatius (1865), Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren(1878), Kantor Pos (1845), Menara Air (1920), dan lain-lain. Dari sinilah pembangunan berbagai infrastruktur terus berkembang pesat pada masanya.

Di samping fungsinya sebagai lambang kebesaran dan wibawa penguasa, sejak dulu alun-alun bukan sekadar lapangan, tetapi juga memiliki fungsi ganda, yakni di samping sebagai ruang terbuka kota, saat ini kegiatan-kegiatan tertentu yang bersifat rekreasi tak jarang digelar pula di alun-alun. Kini, fungsi alun-alun sudah berubah wajah, namun sebagai elemen kota berupa ruang terbuka umum, ruang publik, masih sangat diperlukan, dan bahkan alun-alun menjadi penanda penting dari Kota Magelang.

Setelah kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai Bupati Magelang, Raden Mas Ngabehi Danoekromo harus mengalami gejolak politik antara Inggris dan Belanda. Perjanjian London yang berisi penyerahan kembali semua bekas jajahan Belanda yang pernah direbut Inggris membuat Magelang kembali ke tangan Kerajaan Belanda. Penyerahan kekuasaan Inggris ini terjadi di Benteng Willem I Ambarawa pada 19 Agustus 1816. Dibawah pemerintahan Belanda ini, Raden Mas Ngabehi Danoekromo kembali diangkat menjadi Bupati Magelang dengan gelar Raden Tumenggung Aryo Danoeningrat (Danoeningrat I).

Pada perkembangannya, sang regent berhasil memimpin dan membangun kota dengan baik. Pihak Belanda juga mengakui bahwa ia berhasil menjadi pengayom orang Belanda sehingga mereka sangat kehilangan saat ia tewas di perang Diponegoro.

Perang Diponegoro yang dimulai terhitung 20 Juli 1825 langsung meletup serentak se-Jawa karena sang pangeran telah mengirim puluhan surat kepada para tumenggung di Jawa. Pada tanggal 23 Juli 1825 di Pisangan timur Magelang, Mulyosentiko dengan pasukan 400-500 orang bersenjatakan senapan berhasil menghadang bala bantuan Belanda yang sedang menuju Yogyakarta. Beberapa orang Belanda tewas, F30.000 berhasil dirampas dan dibawa ke Selarong.

Pada tanggal 31 Juli 1825 Pangeran Diponegoro mengutus çaraka Kasan Besari untuk menyampaikan surat ke masyarakat Kedu. Isinya agar membantu perjuangan mengusir penjajah, bagi yang melawan akan dipenggal lehernya. Ajakan ini ditanggapi dengan baik oleh rakyat di distrik Barat maupun Timur Magelang, namun tidak didukung oleh sang Bupati Magelang. Mungkin tumenggung beranak enam orang dari GKR Anom putri sultan ini berpikir bahwa ia mendapat jabatan dan kekuasaan dari Belanda sehingga inilah saat untuk membalas budi. Padahal, nun jauh di mancanegara timur di Madiun sang kakak Abdullah atau Tumenggung Alap-alap mengikuti ajakan Diponegoro untuk memberontak.

Mertawijaya dari desa Benda, distrik Probolinggo, Kedu selatan, tampil dalam gelanggang perang bersama saudaranya yaitu Raden Tumenggung Sumadirja, keduanya putra kepala distrik Kradenan di daerah Kedu Selatan. Probolinggo sebagai salah satu distrik Magelang di Tenggara ternyata menjadi salah satu basis Diponegoro dan terkumpul 55.000 orang yang kemudian menyerbu kota sang bupati yang hanya dijaga 50 orang pasukan Belanda. Rumah-rumah pejabat Belanda dibakar.

Danuningrat kemudian mengumpulkan kekuatan ke Dimoyo (Jumoyo) dan berjaga di pos Kalijengking (700 meter di utara makam Cina). Kalijengking merupakan kali kecil saat ini namun saat itu merupakan sungai yang lebih besar, mengecil karena pernah terlewati luapan lahar Gunung Merapi sehingga hulu sungai terhambat material hingga kini. Tentang Danuningrat ini, Pangeran Diponegoro sempat menuliskannya dalam autobiografi beliau sebagai berikut : "Secanegara memberitahukan, di Dimaya terdapat barisan besar dari daerah Kedu, Yang menjadi pemandi barisan Belanda ini Raden Tumenggung Danuningrat. Jumlahnya lebih dari 2.000 orang. Oleh karena merasa tidak mampu menghadapinya. Secanegara memberi tahu ke Selarong. Secanegara dan Kertanegara diberi bantuan prajurit Bulkiya, 363 orang banyaknya. Yang menjadi pemandunya Ki Muhammad Bahwi, yang waktu masih di Tegalreja menjadi penghulu. Usianya telah tua, namun hatinya sangat berani."

Ki Muhammad Bahwi bersikeras ingin ikut berperang dan rela mati berperang sabil sehingga ia kemudian konon diberi nama Muhammad Usman Ali Basah. Prajurit Bulkiya juga mempunyai dua orang Tumenggung yakni Haji Abdul Kadir, dan Haji Mustafa. Keduanya sangat pemberani. Kepada Secanegara dan Kertanegara juga disertakan dua orang ulama berpangkat Tumenggung yakni kyai guru di Mlangi bernama Muhammad Salim dan kyai guru di Kasongan bernama Abdul Rakup. Abdul Kadir, Muhammad Salim, Kasan Besari adalah anak K.H.Nur Iman (BPH Sandiyo)  pemilik pondok Mlangi yang merupakan cikal ratusan ponpes di Jawa. Salim tewas dalam pertempuran ini sementara Kasan Besari kelak menemani Pangeran Diponegoro di pengasingan.

Kyai Usman Ali Basah mengerahkan kekuatan tombak pusaka pemberian bernama Ki Barutuba. Tombak pusaka itupun menyala. Melihat itu, semua prajurit Bulkiya semakin berani dan tidak ada yang merasa khawatir. Usman Ali Basah yang memimpin sayap kanan-kiri kemudian memberi aba-aba kepada teman-temannya. Bedug dibunyikan bertalu-talu, gong dan siyem bergantian berbunyi menghancurkan mental pasukan Danuningrat. Prajurit Bulkiya pun mengamuk maju serentak. Tembakan pasukan Danuningrat tidak mempunyai pengaruh apa-apa bagi pasukan ini. Saking ketakutannya, pasukan Belanda di bawah komando Hilmer tercatat hanya sempat menyulutkan meriam sebanyak 3 kali. Selanjutnya tombak dan sangkur pun beradu, pedang dan keris bergantian mencabut nyawa.

Dalam suratnya tertanggal 28 September 1825 kepada Jenderal De Kock, Residen Kedu Lo Clereg antara lain menyatakan bahwa Kalijengking Pos selatan karesidenan Kedu, " pagi hari telah diserang sebuah pasukan yang lebih besar. Letnan Hilmer telah terluka terkena sebuah peluru dan tujuh orang prajurit bersenjata bedil telah gugur di medan pertempuran. Sementara itu juga ada kemungkinan Bupati Magelang telah menjadi korban. Magelang menghadapi bahaya yang sangat besar, oleh karena distrik-distrik disebelah barat dan timur tidak mungkin dapat dipertahankan". Prediksi Lo Clereg kemudian terbukti benar karena sang bupati tewas dan dipenggal lehernya, sementara sembilan orang Belanda turut tewas. Nasib bupati Magelang ini ternyata menyusul nasib sama yang dialami oleh bupati Menoreh (=Temanggung) Ario Sumodilogo yang dipenggal oleh demangnya sendiri setelah dikejar berhari-hari hingga hutan daerah Krasak. Sang anjing peliharaan turut ditikam berkali-kali namun berhasil lari membawa sabuk sang bupati hingga rumah kadipaten. Sang anjing memandu anak buah Sumodilogo sampai tempat mayat sang bupati terbujur kaku tanpa kepala di bawah pohon besar. Sang anjing yang penuh luka di sekujur tubuh besarnya langsung mati menyusul tuannya di tempat itu. Sumodilogo dimakamkan di tempat tersebut dengan buah kelapa sebagai ganti kepalanya. Kedua kepala bupati tersebut dibawa ke Selarong dan diterima Sentot Alibasya Prawirodirdjo yang konon masih bersaudara. Kedua kepala dimakamkan di Selarong dengan baik dan konon sang penjagal kepala mengalami kematian yang sama yaitu terpenggal pula. Entahlah.

Dalam silsilah bupati Danuningrat I tercatat beberapa pendahulu yang dikenal sakti mandraguna misalnya Sayid Sulaiman Mojoagung. Hal ini membuat beberapa orang menghubungkan cara kematian Danuningrat I dengan cara dipenggal karena ia juga dikenal sakti dan mempunyai ilmu rawa rontek. Seperti kita tahu, masa lalu dipenuhi banyak kisah kesaktian para tokoh yang tidak bisa dipahami sebagian generasi saat ini. Adapun penjelasan logis tentang pemenggalan itu bisa dihubungkan dengan surat ancaman Diponegoro untuk memenggal kepala bagi pengikut Belanda. Entahlah.

Pada 1971, tercatat Apong dan Prawoto berhasil menembusi masyarakat Selarong melalui pertemuan berkali-kali. Akhirnya setelah diadakan pertunjukan wayang dan upacara ruwatan, kedua kepala diijinkan diambil untuk disatukan dengan tubuhnya menggunakan bis AMN. Kepala Danuningrat disatukan dengan tubuhnya di makam keluarga Payaman sementara kepala Sumodilogo sang eyang kapiten disatukan dengan tubuhnya di Krasak Temanggung.

RT Danuningrat meninggal dalam perang di Kalijengking tadi pada tanggal 30 September 1825 atau 19 Muharram 1241 H. Dalam Perang Diponegoro selama lima tahun itu, delapan ribu orang serdadu Eropa dan tujuh ribu serdadu pribumi tewas sementara 2/3 lahan pertanian di Kedua rusak.

Mendiang Bupati Pertama Magelang tersebut meninggalkan seorang putera lelaki yang telah berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda sebagai wakil kolektor penghasilan negeri dan telah kawin dengan puten Bupati Pekalongan dan menggantikan ayahnya menjadi RT Danuningrat II Pada tahun 1826. Pada tahun 1862 beliau diganti oleh puteranya Sa’id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III. Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA’ID yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa’id bin Hamdani balik dari haji (Mekkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para Pangeran Jawa Kuna.

Demikianlah kisah perjalanan hidup sang Bupati Pertama Magelang, Danoeningrat I. Ia adalah orang yang berjasa dalam pendirian Nagari Magelang yang harus tewas dengan cara dipenggal pada masa Perang Jawa. Walaupun menurut keturunan Danoeningrat peran sang Bupati pertama Magelang itu mendukung Belanda pada perang Jawa masih bisadiperdebatkan, namun yang jelas diluar semua kontroversi yang menyelimuti kisah sang Bupati, Danoeningrat adalah sosok manusia yang pertama membangun Magelang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar