Translate

Kamis, 01 Desember 2016

Akidah Imam Abu Bakr Al-Humaidi

Beliau adalah 'Abdullah bin Az-Zubair bin 'Isa bin 'Ubaidullah bin Usamah, Abu Bakar al-Humaidi al-Maki rahimahullah, salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, salah seorang murid dari imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan salah seorang guru yang paling masyhur dari imam Al-Bukhari rahimahullah, dan guru dari Abu Hatim rahimahullah, Abu Zur'ah rahimahullah dan ulama2 salaf lainnya, dan beliau termasuk salah seorang imam dari imam2 Ahlus Sunnah. ‎

Al-Hakim rahimahullah mengatakan :

 الحميدي مفتي أهل مكة ومحدثهم وهو لأهل الحجاز في السنة كأحمد بن حنبل لأهل العراق

"Al-Humaidi adalah mufti-nya penduduk Mekkah dan muhadits mereka. 
Kedudukan Al-Humaidi bagi penduduk Hijazdalam masalah sunnah, sama seperti kedudukan Ahmad bin Hanbal bagi penduduk 'Iraq."
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah 1/66)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan :

الحميدي عندنا إمام

“Al-Humaidi rahimahullah di sisi kami adalah seorang imam”
(Tadzkiratul-Huffazh 2/3)

Al-Marwazi rahimahullah mengatakan :

سمعت إسحاق بن راهويه يقول الأئمة فى زماننا الشافعى والحميدى وأبو عبيد

“Aku mendengar Ishaq bin Rahawaih rahimahullah mengatakan : “Imam2 pada jaman kami adalah Asy-Syafi’i rahimahullah, Al-Humaidi rahimahullah, dan Abu ‘Ubaid rahimahullah”.
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra 2/140)

Abu Hatim rahimahullah mengatakan :

أثبت الناس في  ابن عيينة الحميدي وهو رئيس أصحاب ابن عيينة .... ثقة إمام

"Orang yang paling tsabit dalam riwayatnya ibnu 'Uyainah adalah Al-Humaidi, dan Al-Humaidi ini adalah pemimpinnya sahabat2 Sufyan bin 'Uyainah,...... dan ia adalah seorang yang tsiqah dan imam."
(Al-Jarh wa At-Ta'dil 5/28)

Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan :

الحميدى إمام فى الحديث

"Al-Humaidi adalah imam dalam hadits."
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra 2/106)

Demikianlah, dapat kita lihat tingginya kedudukan beliau di kalangan ulama2 Ahlus-Sunnah.
Adapun diantara yang beliau katakan dalam masalah 'Aqidah ini adalah :
1. Iman kepada Qadar 

Beliau rahimahullah mengatakan :

السنة عندنا : أن يؤمن الرجل بالقدر خيره وشره ، حلوه ومره ، وأن يعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه ، وأن ذلك كله قضاء من الله ـ عزوجل ـ

“As-Sunnah di sisi kami adalah bahwa seseorang itu beriman kepada qadar baik dan buruk. Dan bahwasannya seseorang itu mengetahui bahwa apa2 yang ditetapkan menimpa dirinya tidak akan luput darinya dan apa2 yang ditetapkan tidak menimpa dirinya tidak akan mengenai dirinya, dan bahwa semua itu merupakan qadha dari Allah ‘Azza wa Jalla.” ‎
(Ushulus-Sunnah, halaman 36-37)‎

2. Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan iman itu bertambah dan berkurang

Beliau rahimahullah mengatakan :

وأن الإيمان قول وعمل يزيد وينقص ولا ينفع قول إلا بعمل ولا عمل قول  إلا بنية  ، ولا قول وعمل ونية إلا بسنة .

“Bahwasannya iman itu adalah perkataan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang. Tidaklah bermanfaat perkataan kecuali dengan perbuatan dan tidaklah perbuatan dan perkataan melainkan dengan niat, sedangkan tidaklah perkataan, perbuatan dan niat itu melainkan dengan sunnah.” ‎
(Ushulus-Sunnah, halaman 37-38)

Beliau rahimahullah juga berkata :

وسمعت سفيان يقول : الإيمان قول وعمل ويزيد وينقص " .

“Dan aku mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan : “Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan iman itu bertambah dan berkurang.”
(Ushulus-Sunnah, halaman 41)
3. Pujian kepada para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam –semoga Allah ridha kepada beliau semua-. 

Beliau rahimahullah lalu mengatakan :

والترحم على أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم كلهم ، فإن الله ـ عزوجل ـ قال } والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان { [الحشر 10] فلن يؤمن إلا بالإستغفار لهم ، فمن سبهم أو تنقصهم أو أحداً منهم فليس على السنة.

“Dan memohonkan rahmat terhadap sahabat2 Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam semuanya, sebab sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman : 
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Q.S Al-Hasyr ayat 10)
Maka tidaklah seseorang itu beriman melainkan dengan memohonkan ampunan untuk mereka semua radhiyallaahu ‘anhum. 
Barangsiapa yang mencaci sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataupun salah seorang diantara mereka, dan barangsiapa yang menghina sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ataupun salah seorang diantara mereka radhiyallaahu 'anhum, maka dia tidaklah berada di atas sunnah.” ‎
(Ushulus-Sunnah, halaman 38-39)

Sebagaimana juga perkataan guru beliau, yaitu Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah mengatakan :

وقد أثنى الله - تبارك وتعالى - على أصحاب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم في القرآن والتوراة والإنجيل، وسبق لهم على لسان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم من الفضل ما ليس لأحد بعدهم، فرحمهم الله، وهنأهم بما آتاهم من ذلك ببلوغ أعلى منازل الصديقين والشهداء والصالحين 

"Sungguh Allah telah memuji para sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam Al-Quran, Taurat dan Injil dan Allah telah memberikan kepada mereka keutamaan-keutamaan lewat lisan rasul-Nya yang tidak diperoleh oleh seorangpun setelah mereka. 
Semoga Allah merahmati mereka dan memberikan keselamatan kepada mereka dengan apa yang Allah berikan kepada mereka itu untuk sampai ke tingkatan yang paling tinggi dari tingkatan para shiddiqin, syuhada dan shalihin."
(Manaqib Asy-Syafi'i lil-Baihaqi 1/442)

Dan diantara dalil yang menunjukan pujian Allah secara umum kepada sahabat2 Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diisyaratkan oleh imam Asy-Syafi'i rahimahullah ini adalah firman Allah :
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar."
(Q.S Al-Fath ayat 29) 
4. Al-Quran itu adalah kalam Allah ta’ala

Beliau rahimahullah mengatakan :

والقرآن : كلام الله ، سمعت سفيان [ بن عيينة ] يقول :" القرآن كلام الله ، ومن قال مخلوق فهو مبتدع ، لم نسمع أحدا يقول هذا " .

“Al-Quran adalah kalamullah. Aku mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah mengatakan : “Al-Quran adalah kalamullah, dan barangsiapa yang mengatakan Al-Quran itu makhluq, maka dia adalah seorang mubtadi’. 
Tidak pernah aku mendengar seorangpun yang berkata seperti ini (bahwa Al-Quran itu adalah makhluq).” ‎
(Ushulus-Sunnah, halaman 40)

Ini adalah aqidah yang sama sebagaimana guru beliau, yaitu Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah mengatakan :

ما لقيت أحدا منهم - يعني من أساتذته - إلا قال : من قال في القرآن إنه مخلوق فهو كاف

”Tidaklah aku menjumpai satupun di antara mereka –yakni guru-guru imam2 Asy-Syafi'i rahimahullah– kecuali ia mengatakan : "Barangsiapa yang mengatakan tentang Al-Qur’an bahwa Al-Quran itu adalah makhluk, maka ia telah kafir”
(Al-Asma’ wa Ash-Shifat 1/613)

Diantara dalil bahwa Al-Quran ini adalah kalamullah ialah sebagaimana Allah sebutkan sendiri :
"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah.."
(Q.S At-Taubah ayat 6)
5. Orang2 mu’min akan melihat Allah pada hari kiamat nanti

Beliau rahimahullah mengatakan :

والإقرار بالرؤية بعد الموت .

“Dan menetapkan tentang melihat Allah setelah mati (yakni kelak pada hari kiamat).” ‎
(Ushulus-Sunnah, halaman 41)

Ini adalah aqidah yang sama sebagaimana guru beliau, yaitu Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.
Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i rahimahullah mengatakan :

 والله لو لم يوقن محمد بن إدريس أنه يرى ربه في المعاد لما عبده في الدنيا

"Demi Allah, kalau sekiranya Muhammad bin Idris (yakni beliau sendiri) tidak meyakini bahwa ia akan melihat Rabb-Nya di akhirat, niscaya tidaklah ia  akan menyembah-Nya di dunia”
(Manaqib Asy-Syafi’i 1/419)

Dan aqidah yang sama yang dipegang oleh imam Malik rahimahullah, beliau mengatakan :

 الناس ينظرون إلى الله تعالى يوم القيامة بأعينهم

"Manusia akan melihat Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti dengan mata mereka”
(At-Tashdiq bin-Nazhari ila Allah Ta'ala fil-Akhirat halaman 41)

Dan aqidah yang sama yang dipegang oleh imam Ahmad rahimahullah, beliau pernah mengatakan :

من قال : إن الله تعالى لا يُرى، فهو كافر

“Siapa saja yang mengatakan : "Sesungguhnya Allah tidak dapat dilihat (di akhirat), maka ia telah kafir.”
(Asy-Syari’ah, 2/10)

6. Itsbat atau Menetapkan Shifat2 Allah 

Beliau rahimahullah mengatakan :

وما نطق به القرآن والحديث مثل : } وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم { [ المائدة 64] ومثل } والسموات مطويات بيمينه { [الزمر :67] وما أشبه هذا من القرآن والحديث لا نزيد فيه ولا نفسره ، نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة ونقول }الرحمن على العرش استوى { [طه :5] ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي

"Apa2 yang diucapkan oleh Al-Quran dan al-Hadits, semisal : "Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu.." atau contoh yang lainnya : "dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.", ataupun ayat2 Al-Quran dan hadits2 lain yang serupa dengan itu, maka kami tidaklah akan menambahkan kedalamnya dan tidak pula menafsirkannya.
Kami berhenti pada apa yang Al-Quran dan as-Sunnah berhenti atasnya, dan kami katakan : "Ar-Rahman yang istiwa di atas 'Arsy.", dan barangsiapa yang menyangka selain daripada ayat ini, maka dia adalah seorang mu'athil jahmiy."
(Ushulus-Sunnah)

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar