Translate

Kamis, 08 Januari 2015

Gunung Wudang (bhu tong)

Gunung Wudang terletak di wilayah Kota Shi Yan Propinsi Hubei barat-laut, di sebelah timur adalah kota kuno Xiangfan, sebelah selatan adalah hutan primitif Shennongjia, dan sebelah utara adalah daerah waduk Sungai Danjiang yang menjadi daerah sumber air untuk poyek penyaluran air ke utara dari selatan Tiongkok. 

Puncak Tianzhu , puncak utama Gunung Wudang setinggi 1.612 meter dari permukaan laut terkenal di seluruh Tiongkok dengan julukan " Pilar Penyangga Langit". Puncak-pucak lain di sekitarnya yang berjumlah 72 buah jauh lebih rendah daripadanya, dan dari kejauhan terbentuk secara alami panorama unik di mana 72 puncak seperti membungkuk menghadap puncak utama.
Gunung Wudang merupakan tanah kramat Agama Dao yang terkenal di Tiongkok. Kaisar Chendi Dinasti Yuan mensakralkan gunung tersebut sebagai tanah kramat. Dan sampai Dinasti Ming, oleh Kaisar Shizhong gunung tersebut diberi penghargaan gunung nomor satu di antara lima gunung yang terkenal di Tiongkok . 

Pada zaman Dinasti Tang, dibangun kelenteng yang pertama yaitu Kelenteng Wulong atau Kelenteng Lima Naga di gunung tersebut, dan kelenteng itu diperluas terus pada zaman Dinasti Song. 

Untuk mengembangkan Agama Dao Wudang, Kaisar Yongle dari Dinasti Ming merekrut sekitar 300 ribu tentara , rakyat dan tukang yang ahli untuk membangun Kelenteng Gunung Wudang yang dirancang menurut kisah dalam kitab suci Agama Dao. Kelenteng itu merupakan suatu kelompok bangunan raksasa yang terdiri atas 33 kelenteng yang dibangun dengan menyusuri satu garis dari kota kuno Jinzhou sampai puncak Tianzhu sepanjang 70 kilo meter. 

Maka setelah diselesaikannya pembangunan Kota Terlarang (Istana Kekaisaran) dan Kuil Langit yang merupakan proyek-proyek berskala besar, yaitu pada tahun 1412, Kaisar Zhuli memerintahkan tukang dan buruh sebanyak 300 ribu orang supaya kedua proyek itu dipindahkan ke Pegunungan Wudang untuk membangun kelompok bangunan agama Dao di sana. Pembangunan di Pegunungan Wudang itu berlangsung selama 13 tahun hingga selesai. Pembangunan yang bersakala begitu besar adalah tiada taranya dalam pembangunan di gunung-gunung terkenal lainnya di Tiongkok.

Bangunan-bangunan di Gunung Wudang dibangun menurut dongeng agama Dao. Dari kaki gunung sampai ke Balairung Emas di Puncak Pilar Langit dipasang "jalan dewa" sepanjang 70 kilometer. Sepanjang jalan itu dibangun sekelompok bangunan yang sangat mengagumkan.

Balairung Emas di Gunung Wudang adalah suatu bangunan yang berciri khas di Puncak Pilar Langit, dan merupakan balairung perunggu berlapis emas yang besar yang ada di Tiongkok sekarang ini.

Tingginya 5 meter dan lebarnya 4 meter. Di dalam balairung itu disemayamkan patung Mahakaisar Zhen Wu Pencipta Agama Tao yang terbuat dari tembaga berlapis emas dengan beratnya tercatat 10 ton. 

Menurut catatan, balairung emas itu ditempa dengan 20 ton tembaga dan 300 kilogram emas di Beijing, kemudian diangkut ke Gunung Wudang yang letaknya di bagian selatan Tiongkok. Balairung Emas adalah konduktor baik listrik sehingga setiap kali kilat, menyambar bola sinar akibat kilat bergelinding mengelilingi balairung tersebut. Pemandangan itu dijuluki penduduk setempat sebagai "api menempa balairung". Yang aneh ialah, setiap kali dikenakan kilat, balairung itu tidak pernah mengalami kerusakan, bahkan tampak baru dan cemerlang seperti bangunan yang baru saja selesai dibangun. 

Hal-hal aneh lain yang mengagumkan mengenai balairung emas itu masih banyak, misalnya di satu gedung bertingkat lima di Kuil Fuzhen terdapat satu pilar yang menunjang 12 belandar; di satu ruang yang lain terdapat satu genta yang berciri khas sangat istimewa, yaitu setiap kali genta itu dibunyikan, suaranya hampir tidak terdengar di dalam ruang di mana genta berada, tapi bunyi genta itu terdengar nyaring sekali di luar ruang tersebut. 

Selain itu, di Gunung Wudang masih terdapat banyak sekali bangunan agama Dao yang sangat mengagumkan. Bangunan-bangunan itu dibangun di atas gunung dengan menyesuaikan diri dengan kemegahan gunung sehingga kelihatannya sangat harmonis dengan pemandangan alam. Keharmonisan itu justru manifestasi filsafat agama Dao yang mengutamakan "hidup berdampingan secara harmonis dengan alam".

Luas bangunan kelenting itu seluruhnya mencapai lebih dari 1,6 juta meter persegi, dan dibangun dengan memakan waktu lebih 10 tahun. Sejauh ini Gunung Wadang telah menyandang sejumlah predikat antra lain warisan budaya dunia, daerah wisata kelas 4 A, daerah pemandangan kultur tingkat nasional, unit benda budaya penting yang dilindungi negara, forum penting kegiatan agama seluruh negeri, kampung halaman silat Wushu dan Taman Nasional .

Silat Wudang adalah salah satu aliran silat yang tertua dan paling berpengaruh di Tiongkok, sama seperti Silat Shaolin telah menyemarakkan dunia persilatan Tiongkok dengan keunggulan dan keistimewaannya masing-masing .

Berikut kami keistimewaan dari Gunung Wudang. 

Pertama, kelompok bangunan kuno di Gunung Wudang termasuk sangat langka di antara bangunan-bangunan kuno Tiongkok, baik ditinjau dari segi skala, kerapian struktur dan keindahan dekorasinya. Bangunan-bangunan di gunung tersebut dibangun pada posisi dan lingkungan yang paling ideal, baik di lembah yang dalam maupun di tebing yang curam, dan diupayakan seserasi mungkin dengan lingkungan alam sekeliling, sehingga dijuluki sebagai Museum Prestasi Bangunan Kuno Tiongkok. 

Setiap unit bangunan dibangun pada posisi yang paling layak di puncak, bukit, lereng , tebing maupun lembah, dengan memanfaatkan sepenuhnya kemegahan, keunikan dan keindahan lingkungan alam sekeliling, sehingga membentuk konsep artistik seperti dunia kayangan. 

Keharmonisan itu telah memanifestasikan sepenuhnya ide agama Dao tentang manusia adalah bagian integral dari alam , dan menciptakan bentang alam hasil perpaduan harmonis keindahan alam dan keindahan sosial budaya.

Keistimewaan lain dari Gunung Wudang ialah suasana kemisteriusan yang terdapat pada gunung tersebut. Bentang alam Gunung Wudang sangat beraneka-ragam, curam berbahaya, puncak-puncak yang aneh menakjubkan , pemandangan yang indah permai dan lembah hijau yang sunyi. Bukit-bukit sambung menyambung bagaikan ombak samudera, puncak-puncak menjulang tinggi bak pencakar langit, sungai-sungai kecil mengalir gemercik sepanjang masa di dasar lembah, dan hutan-hutan sering berselimutkan kabut sehingga lebih menambah kemisteriusan suasana . 

Di musim semi, Gunung Wudang terlihat lebih hijau semarak, 1001 macam bunga bersaing bermekaran. Di musim panas, pucak dan bukit sering bersaputkan awan dan kabut, sehingga lebih menyerupai dunia kayangan. 

Di musim rontok, pemandangan di Gunung Wudang akan lebih mempesona, daun-daun berganti warna menjadi kuning keemas-emasan atau merah menyala, dan bunga-bunga Kasia harum semerbak. Dan sampai musim dingin, setelah salju turun, Gunung Wudang akan berselimutkan salju putih, warna putih dan hitam seolah-olah berdominan di sana, sehingga bentangan alam di gunung tersebut bagaikan lukisan tradisional Tiongkok dengan tinta bak, indah dan megah.

Keistimewaan lain dari Gunung Wudang yalah kebudayaannya yang merupakan khazanah bangsa. Gunung Wudang adalah gunung terkenal agama Dao, dan oleh umat agama Dao gunung itu disakralkan sebagai gunung dewata. Gunung itu pernah dijadikan tempat untuk mengadakan upacara agama Dao atau Buddha yang terbesar di Tiongkok. Rincian tentang kebudayaan agama Dao di Gunung Wudang sangat kaya, dan kebudayaan Wudang yang diwakili agama Dao merupakan bagian komponen penting dari kebudayaan tradisional bangsa Tionghoa.

Silat Wudang yang sudah bersejarah lama itu juga merupakan salah satu keistimewaan dari Gunung Wudang . 

Konon dikisahkan seorang pendeta agama Dao terkenal bernama Zhang Sanfeng dengan bakat dan kepandaiannya telah berhasil menciptakan aliran silat yang dinamakan Neijiaquan yang menggunakan tenang untuk menundukkan gerak, dan dengan lembut menaklukkan keras. Aliran silat tersebut menjadi satu aliran besar dalam dunia persilatan di Tiongkok, dan sangat terkenal di dunia.

Zhang Sanfeng (Chang Sanfeng/Thio Samhong/Thio Kunpo).

Di masa mudanya, Thio Sam Hong adalah murid yang sangat berbakat di Kuil Shaolin. Karena diperlakukan semena-mena oleh para seniornya, beliau keluar dari Kuil Shaolin dan belajar mengembangkan Kungfu sendiri dengan memperhatikan berbagai fenomena alam seperti terpaan angin keras terhadap pohon bambu, pertarungan bangau dan ular, kokohnya pertahanan belalang sembah dari terpaan angin, dan lain-lain. Setelah mengerti dan memahami Intisari Alam Semesta, Thio Sam Hong muda menyepi di gunung Hua San untuk menyempurnakan ilmu-ilmunya. Pada saat beliau turun gunung, beliau menjelajahi seluruh Tiongkok dan mengadu ilmunya dengan para ahli bela diri dan para pendekar dari berbagai aliran. Berdasarkan literatur kuno, tercatat dua pertarungan yang sangat terkenal. Pertarungan yang pertama adalah pertarungan antara Thio Sam Hong dengan pegulat nomor satu Mongol yang sangat besar, kuat dan agresif. Belakangan diketahui bahwa pegulat tersebut juga sangat ahli dalam berbagai aliran Kungfu Tiongkok. Pegulat Mongol tersebut konon mengalahkan banyak petarung Kuil Shaolin dan sejumlah pendekar aliran keras lainnya. Pertarungan antara Thio Sam Hong dengan Pegulat Mongol tersebut dimenangkan oleh Thio Sam Hong dengan ilmu barunya, yaitu Tai Chi Quan/Taijiquan. Pertarungan kedua adalah pertaruangan Thio Sam Hong yang seorang diri mengalahkan lebih dari 100 orang gangster di sarang penyamun hanya dengan tangan kosong. Semenjak itu, Thio Sam Hong diakui oleh seluruh kalangan persilatan sebagai Pendekar Tanpa Tanding saat itu. Setelah merasa cukup dalam perantauanya, Thio Sam Hong naik ke gunung Wudang (Butong) dan mendirikan Perguruan Wudang dengan basis utama pengajarannya, yaitu Taoisme. Thio Sam Hong sendiri diyakini merupakan Pencipta Ilmu Tai Chi, dan sangat ahli dalam Ilmu Tao Yin (Nei Kung/Nei Gong). Konon Thio Sam Hong hidup dalam 3 (tiga) zaman dinasti, yakni Dinasti Song, Dinasti Yuan(Monggol, dan Dinasti Ming (Han), dan Thio Sam Hong dikenal sebagai immortal Taoist.
Silat Wushu Gunung Wudang berkaitan mendalam dengan filsafat yang dijunjung oleh agama Dao. Para penganut agama Dao biasanya berlatih silat Wushu sambil mengadakan studi tentang agama Dao. 

Silat Wushu mengutamakan pembugaran badan dan bela diri. Silat Wudang tampaknya halus dan lambat gerak-geriknya, tapi justru kehalusan dan kelambatan itulah dapat mengalahkan silat yang geraknya cepat dan keras. Silat Wudang juga terkenal dengan keunggulannya untuk mengalahkan lawannya tanpa bergerak lebih dulu, melainkan tunggu lawannya yang memukul lebih dulu dan baru membalasnya. Pendek kata, Silat Wudang sama terkenal dengan Silat Shaolin di Tiongkok .
Keistimewaan lain dari Gunung Wudang yalah sangat kayanya sumber daya tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat tradisional Tiongkok, sehingga dijuluki sebagai Gudang Obat Alami Tiongkok. 

Hampir setiap pendeta agama Dao di gunung tersebut dapat mengobati penyakit dengan resepnya sendiri yang sangat mujarab.

Keistimewaan lain dari Gunung Wudang yalah musik agama Dao yang sangat khas dan berharga sebagai komponen penting warisan budaya agama Dao Gunung Wudang. Musik agama Dao itu merupakan perpaduan antara musik istana, musik rakyat dan musik agama, memiliki gaya tersendiri yang anggun, santai dan mistik. 

1 komentar: