Translate

Kamis, 15 September 2016

Sejarah Kyai Ageng Kiringan

SYECH ABDULLAH ASYIQ IBNU MUHAMMAD ABDUL SYAKUR‎

Dalam berbagai tulisan termasuk jejak Walilullah di Pati nama Syech Abdullah Asyiq atau Ki Ageng Kiringan memang tidak ada yang menyinggungnya, bahkan dalam Web Kab Pati atau Dinas Pariwisata Pemprov Jateng, Nama Ki Ageng Kiringan tidak dimasukkan dalam obyek wisata religi di Kabupaten Pati. Padahal Ki Ageng Kiringan cukup dikenal di daerah Tayu dan jasanya sangat besar dalam menyebarkan Islam.‎

Menurut cerita tutur tinular, Syech Abdullah Asyiq atau Ki Ageng Kiringan  adalah putra dari Muhammad Abdul Syakur adalah murid sunan Muria yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam di daerah Tayu dan sekitarnya.

Ki Ageng Kiringan mempunyai seorang isteri bernama Dewi Limaran dan mempunyai seorang putri bernama Sumiyem, yang lebih di kenal dengan Nyi Branjung. Ki Ageng dan Nyai Ageng sudah lama tidak di anugerahi putra laki-laki, maka Ki Ageng dan Nyai Ageng Kiringan pergi menghadap gurunya Sunan Muria (Raden Umar Said), untuk menyampaikan keinginannya agar dianugerahi seorang Putra laki-laki.‎

Kanjeng Sunan Muria memberikan nasehat kepada Ki Ageng dan Nyai Ageng agar bersabar, dan memohon kepada Allah SWT agar diberi putra laki-laki.

Setelah diberikan nasehat dan petunjuk oleh Sunan Muria, Ki Ageng dan Nyai Ageng pamit kembali ke Kiringan, malam nya Nyai Ageng bermimpi ditemui seorang laki-laki yang gagah dan sudah beruban. Lalu Nyai Ageng menceritakan mimpinya kepada Ki Ageng dan mendiskusikan mimpinya semalam.

Selang beberapa hari Nyai Ageng Kiringan mengandung, tentu saja disambut bahagia oleh keduanya yang memang mendambakan seorang anak laki-laki. Setelah sekian lama mengandung, Nyai Ageng melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama SARIDIN, yang berasal dari kata Syah dan Ridho, yang artinya mendapat Ridlo Allah SWT.

Memang cerita Saridin atau Syech Jangkung ini ada dua versi, salah satunya Saridin adalah putra Sunan Muria yang  dilarung ke sungai dan diangkat oleh Ki Ageng Kiringan sebagai anaknya.
Suatu ketika Sunan Bonang berkunjung ke Muria, sesampainya di padepokan Sunan Muria tidak ada, beliau sedang berkunjung ke Sunan Kudus, sambil menunggu Sunan Muria datang, Sunan Bonang meminjam kancip untuk membelah pinang guna berkinang menjadi dua bagian sama besar. Yang satu diberikan kepada Nyai Sujinah isteri Sunan Muria, yang satu dipergunakan sama Sunan Bonang.
Setelah beberapa lama menunggu, ternyata Sunan Muria tidak kunjung datang, akhirnya Sunan Bonang mohon diri untuk kembali pulang ke Lasem. Namun apa yang terjadi?? Setelah Sunan Bonang pergi, ternyata sesaat setelah kepergian Sunan Bonang, Nyai Sujinah langsung hamil 5 bulan. Dan setelah Sunan Muria datang beliau sangat terkejut, karena tiba2 isterinya hamil, akhirnya Sunan Muria marah dan menuduh Nyai Sujinah berzina dengan orang lain.
Akhirnya Nyai Sujinah diusir dari kasunanan Muria, dengan perasaan malu Nyai Sujinah pergi meninggalkan padepokan Muria. Hingga akhirnya Nyai Sujinah putus asa  dan memutuskan hendak bunuh diri  mencebur ke Sungai, beruntung tangannya dipegang oleh Kanjeng Sunan Kalijogo yang tiba-tiba datang dan selamatlah Nyai Sujinah.
Tidak berselang lama maka lahirlah si jabang bayi yang oleh Nyi Sujinah  di larung ke sungai dan ditemukan oleh Ki Ageng Kiringan atau Syech Abdullah Asyiq dan diangkat sebagai anak, lalu diberi nama SARIDIN atau Syech Jangkung.‎

Konon Saridin ini mempunyai kesukaan blayang atau berkelana, baik untuk mencari ilmu maupun untuk melakukan syiar terhadap Islam.

Mengenai kebenaran cerita ini, penulis kembalikan sepenuhnya kepada pembaca sekalian.

Syech Abdullah Asyiq atau Ki Ageng Kiringan sendiri makamnya terdapat di Dukuh Kiringan-Punden Rejo-Tayu, atau 30 Km dari Kota Pati arah jalan Tayu Jepara.

Diatas  pintu cungkup makam terdapat tulisan dalam huruf arab yang berbunyi :

”NGADEKE CUNGKUP MAKAM KIAGENG KIRINGAN BIN MUHAMMAD NEK DESO KIRINGAN, WULAN MUHARAM/SURO DINO SENIN TANGGAL 12 TAHUN 1304 MASEHI, TERANG KANG BANGUN SING NGUWATI BAGUS SALMAN BONGSO JIN”

DAN DIBAWAH TULISAN TERSEBUT TERDAPAT TULISAN HURUF ARAB KECIL YANG BERBUNYI :

”MONGSO SENTOLO CATUR KANG TUNGGAL”

Dan ada terusan sedikit yang tidak bisa terbaca termasuk oleh juru kunci makam Mbah Mahzum.

Makam Ki Ageng Kiringan sangat ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, khususnya pada malam Jum’at, mereka bertawasul di Makam Ki Ageng Kiringan.

Banyak masyarakat dari berbagai daerah yang melaksanakan syukuran di Makam Ki Ageng Kiringan. Ini dilakukan bila keinginan atau do’a nya dikabulkan Allah SWT.

Khol dilaksanakan setiap tanggal  7 sd 9 bulan besar, biasanya ribuan peziarah dari berbagai penjuru datang berduyun-duyun ke Makam Ki Ageng Kiringan.

Sejarah Bedug Yang Berbunyi Sendiri

Konon dari cerita turun temurun, bedhuk Kiringan bunyi sendiri bila terjadi musibah sungai Kiringan terjadi banjir bandang.

Bunyi bedhuk Kiringan ini tidak hanya terdengan di sekitar dukuh Kiringan saja, tetapi juga sampai ke desa-desa disekitarnya. Masyarakat sendiri sampai sekarang mempercayai hal itu.

Di dalam bedhuk Kiringan sendiri terdapat sebuah piring kecil, namun sekarang kondisinya sudah pecah dan masyarakat sendiri tidak merawatnya.

Bahkan pernah ada orang yang datang ke Kirngan menemui juru kunci Makam Mbah Mahzum, yang menanyakan Bedhuk, Kentongan dan tongkat pegangan untuk khutbah Jum’at.

Barang2 tersebut akan diminta oleh orang tersebut, dan sebagai gantinya akan dipugarkan Masjid Kiringan sesuai permintaan, meskipun dengan biaya yang sangat besar. Namun permintaan tersebut langsung ditolak oleh juru kunci makam, karena masyarakat tidak berani menanggung akibatnya serta barang2 tersebut memang harus dijaga dan dilestarikan sebagai peninggalan Ki Ageng Kiringan.

Disamping keajaiban Bedhuk Kiringan, di masjid Kiringan juga terdapat sumur tua, dan sampai sekarang masih di jaga baik oleh  juru kunci makam dan juru kunci masjid.

Konon sumur tersebut dahulu air nya digunakan orang untuk melakukan ritual sumpah, tetapi oleh juru kunci Makam waktu itu KH IRSYAD (almarhum), tidak diperkenankan lagi orang melakukan sumpah di  Makam Ki Ageng Kiringan. Sumur tersebut menurut ceritera dibuat oleh murid Ki Ageng Kiringan yang bernama Abdul Rozaq atau yang lebih dikenal dengan Mbah Rozak, yang sekarang makamnya ada di Desa Jembul Wunut Kecamatan Gunung Wungkal atau tepatnya di Dukuh Gosari.

Dahulu tongkat yang digunakan saat khotib berkhutbah Jum’at jumlahnya ada 2 (dua) buah.

Namun waktu itu sungai Kiringan terjadi banjir bandang dan sampai mengikis dukuh Kiringan tinggal beberapa meter dibelakang masjid.   Dan bila terjadi banjir terus menerus tidak menutup kemugkinan tanah yang ada dibelakang masjid akan terus terkikis dan membahayakan masjid serta pemakaman yang ada di belakang masjid.

Maka suatu ketika terjadi banjir besar lagi yang sangat membahayakan keberadaan masjid, maka oleh Ki Ageng Kiringan diambilnya salah satu tongkat tersebut dan ditancapkan ditempat yang dilanda banjir.

Anehnya sewaktu tongkat ditancapkan ditanah, banjir yang semula akan menerjang masjid Kiringan, tiba-tiba pindah/bergeser ke selatan dukuh Kiringan. Lokasi bekas sungai tersebut, dinamakan Kali Tengah, yang artinya bekas tengah-tengah sungai yang menjadi areal persawahan yang sangat subur.

AKIBAT PEMINDAHAN TEMPAT WUDLU

 Dahulu didepan masjid Kiringan terdapat kolam/tempat wudlu yang dibangun oleh Ki Ageng Kiringan.

Kolam tersebut dialiri air dari sungai Kiringan yang dialirkan persis melalui tengah-tengah makam Kiringan. Waktu itu air yang mengalir tidak pernah surut meskipun kemarau sangat panjang. Dan kolam/tempat wudlu tersebut tidak pernah kekurangan air.

Tiba-tiba pengurus Masjid waktu itu berkeinginan untuk memindahkan tempat wudlu dari depan masjid ke samping masjid agar masjid dapat diperluas dan direhab lebih modern.

Anehnya sejak tempat wudlu dipindah dan air sungai Kiringan tidak dialirkan lagi ke kolam/tempat wudlu, sejak saat itu pula air sungai Kiringan kering dan tidak bisa untuk mengairi persawahan yang ada di desa Punden Rejo dan sekitarnya. Sawah-sawah yang dulunya sangat subur tidak kekurangan air, kini menjadi kering kerontang dan hanya bisa ditanami palawijo atau menjadi sawah tadah hujan. Masih banyak kejadian-kejadian penting lainnya yang tidak bisa kami tuliskan satu persatu.

SYECH ABDUL ROZAK  (MBAH ROZAK JEMBUL), MURID MBAH ABDULLAH ASYIQ

Mbah Dul Rozak,demikian masyarakat di desa Jembul Wunut kecamatan Gunung Wungkal  dan Ngablak Kecamatan Cluwak Pati  sering menyebutnya, nama aslinya Abdul Rozak Muhammad Abdullah, beliau berasal dari Bejagung Tuban Jawa Timur, yang konon masih mempunyai garis keturunan dengan Raden Khasan atau Raden Patah.

Dari daerah asalnya beliau hendak menuju Demak , sesampai di wilayah Kemaguhan sekarang Kropak beliau singgah dan menetap di Kropak hampir sepertiga dari hidupnya.

Sebenarnya beliau berkeinginan untuk berguru kepada Saridin atau Syech Jangkung, tapi oleh Syech Jangkung disarankan untuk berguru kepada ayahnya yaitu Syech Abdullah Asyiq atau Ki Ageng Kiringan.

Setelah melalui perjuangan yang berat akhirnya Abdul Rozak menemukan padepokan Ki Ageng Kiringan atau Syech Abdullah Asyiq di Dusun Kiringan-Punden Rejo.

Namun Rozak tidak langsung diterima sebagai murid, untuk sementara diterima sebagai abdi membantu pekerjaan sehari-hari. Meskipun sebagai abdi, Rozak menerima pekerjaan tersebut dengan ikhlas, sehingga akhirnya Rozak diterima sebagai murid Ki Ageng Kiringan.

Suatu ketika Ki Ageng Kiringan memerintahkan Rozak untuk membuat sumur, walaupun saat itu musim kemarau, pada tengah malam beliau berdo’a agar apa yang dikerjakan mendapat ridlo Allah SWT. Pada malam itu juga beliau keluar rumah serta memanjatkan do’a sekaligus menghentakkan kaki tiga kali.

Bersamaan itu juga sudah menjadi lubang sumur, akan tetapi belum keluar sumber airnya., sampai pagi harinya Ki Ageng Kiringan menemukan Rozak duduk bersila disamping sumur buatannya, sambil tetap berdo’a kepada Allah SWT.

Tiba2 beliau mengambil keranjang yang ada dirumah gurunya, untuk mengambil air dengan keranjang tersebut ke sungai. Keranjang tsb seperti timba saja, air yg diambil Rozak dari sungai dimasukkan ke sumur, yang akhirnya muncul sumber air di sumur tersebut.

Ada kemungkinan sumur yang dibuat oleh Mbah Rozak adalah sumur yang saat ini ada di dalam masjid Kiringan, yang airnya tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang.

Berkat ketekunannya, Ki Ageng Kiringan menjadikan Abdul Rozak sebagai murid kesayangan dan mengawinkan dengan seorang wanita bernama Ni Tambi, dan Abdul Rozak diberi tanah disebelah barat Kirngan atau yang sekarang disebut dukuh Kesambi.

Namun kebiasaan Abdul Rozak di Kropak tak bisa begitu saja beliau tinggalkan. Seni tayub masih menjadi kegemarannya, maka suatu ketika beliau datang ke Desa Giling untuk bergabung disana. Arak pun sempat diminumnya sehingga beliau mabuk sampai esuk harinya masih ada di desa Giling.

Karena beliau tidak bisa berjalan , maka beliau membuat sayembara pada siapa saja yang mampu menggendongnya maka akan diberi hadiah berupa tanah pelintahan yang ada di Ngablak. Dengan hadiah tsb sudah banyak orang yang berusaha menggendong beliau, namun tidak ada satu orangpun yang mampu, sehingga datanglah seorang yang dianggap danyang Giling yang bernama DROMO WONGSO. Ki Danyang ini yang sanggup menggendong Abdul Rozak sampai Ngablak dan berhak atas tanah pelintahan tersebut.‎

Namun pada suatu ketika Abdul Rozak menderita sakit, sampai tidak terasa sebelah kakinya terluka dan mengeluarkan nanah karena terlalu lama berbaring ditempat tidur tidak bisa jalan.

Setelah beliau dapat berjalan berganti penyakit yang dideritanya, yang semua keluar nanah kemudian menjadi borok yang semakin parah,sampai2 beliau mengeluarkan ultimatum “ Bagi siapa saja yang masih keturunan Ngablak, akan terlaknat bila minum arak”

Pernah diceritakan setelah Rozak mengeluarkan ultimatum, ada seseorang yang kebetulan melewati Ngablak hendak menjual arak, sesampai diwilayah Abdul Rozak, maka botol2 arak tersebut meledak semua.

Pada suatu saat Rozak akan membersihkan  borok pada kakinya di sungai, namun aliran sungai tersebut  mengalir di  hilir yang biasa dipakai untuk berwudlu Ki Ageng Kiringan. Karena menimbulkan bau yang kurang sedap pada air yang mengalir, maka Ki Ageng Kiringan menyarankan agar Abdul Rozak membersihkan boroknya di dekat pohon  Bendo yang katon (kelihatan), dan kelak dinamakan desa Bendokaton. Namun sungainya masih satu arah melewati Bangkol, Kiringan serta Tayu. Sehingga sangat menggangu aktivitas Ki Ageng Kiringan beserta murid-muridnya. Maka diutuslah salah satu murid untuk menemui Abdul Rozak agar Rozak mencuci boroknya di selatan desa Ngablak, yakni Jembul yang waktu itu masih termasuk wilayah Ngablak.

Akhirnya dengan susah payah Abdul Rozak menuju Jembul dengan bantuan isterinya. Dan beliau berhenti di sebuah sungai kecil atau Kalen (bhs Jawa) untuk membersihkan boroknya yang yg sudah mulai berdarah. Namun anehnya bau air yang dipakai untuk membersihakan borok tersebut baunya menjadi harum/wangi , maka oleh Abdul Rozak dinamakan “Kalen Kembang”.

Sakit yang diderita Abdul Rozak rupanya dibawa sampai beliau wafat, pada hari Ahad Wage bulan Dzul Qoidah beliau kembali pulang keharibaan Allah SWT untuk selama-lamanya.

Oleh karenanya bagi penduduk Jembul bila terserang borok pada kakinya besar kemungkinan ajalnya dekat . Hal ini kemungkinan bila si penderita  mengindap diabetes, atau sering disebut borok RITI. Marine yen Mati atau sembuhnya kalau sudah meninggal.

Tidak berselang lama Ni Tambi menyusul sang suami pulang ke Rahmatullah , keduanya dimakamkan di GOSARI secara berdampingan. Sampai sekarang banyak para peziarah dari luar daerah yang datang untuk bertawasul dimakam Mbah Rozak.‎

BERDIRINYA MASJID KIRINGAN‎

Sampai sekarang belum ditemukan literature atau bukti tentang berdirinya Masjid JAMI’ Kiringan, hanya cerita dari tutur tinular yang diperoleh oleh penulis.

Menurut riwayat Masjid Kiringan didirikan oleh Ki Ageng Kiringan atau Syech Abdullah Asyiq, sebagai pusat penyebaran Islam di daerah Tayu dan sekitarnya. Mengenai tahun berdirinya sampai sekarang belum diketemukan bukti-bukti otentiknya. Namun masjid Kiringan pernah mengalami beberapa kali pemugaran. Menurut almarhum Modin Kashuri, masjid Kiringan pernah dipugar di Jaman Lurah Ayahnya Mbah Wiryo Wiyoto pada tahun 1925 M.

Masjid Kiringan sebelum berdiri seperti sekarang ini, konon mengalami beberapa kali perpindahan, yang pertama akan didirikan di Desa Kedungbang persisnya di sebuah tempat dimana orang menyebutnya punden Pesigit, namun entah karena apa, tiba2 masjid tidak jadi dibangun di daerah tersebut.

Yang kedua Masjid Kiringan akan dibangun didekat sumber air yang sering disebut belik Kiring, namun ditempat ini Masjid tidak jadi didirikan juga. Akhirnya Ki Ageng Kiringan meminta petunjuk Allah SWT agar dapat mendirikan masjid dilokasi yang tepat. Tempat untuk bersemedi Ki Ageng Kiringan dalam merencanakan pendirian Masjid disebuah tanah lapang, yang sampai sekarang orang sekitar menyebut sawah Karang, artinya  tempat untuk mengarang dalam membangun masjid.

Dan Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan permintaan Ki Ageng Kiringan, sehingga mendapatkan petunjuk dalam mendirikan masjid, yaitu sekitar 300 m arah selatan dari tempat beliau bersemedi.

Berdirinya Masjid Kiringan sendiri konon disertai datangnya angin kencang dan tidak diketahui asal usulnya. Dan tembok Masjid Kiringan terbuat dari batu bata dengan ukuran 40 X 25 cm dengan ketebalan sekitar 10 Cm. Bukti batu bata untuk pembuatan Masjid Kiringan sampai sekarang masih tersimpan beberapa biji dan bisa dilihat di Kiringan.

Saat ini Masjid Kiringan sudah dipugar lagi dan bentuknya lebih modern, tetapi tidak mengurangi keaslian nya, terakhir dilakukan pemugaran tahun 2011 M.‎

1 komentar:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
    saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
    jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    BalasHapus