Translate

Kamis, 15 September 2016

Sejarah Kyai Ageng Wonolelo

Ki Ageng Wonolelo adalah cucu dari syekh Dumadil Qubro atau lazim juga disebut Pangeran Blancak Ngilo.Ataucucu buyut dari kanjeng Sunan Lawu. Ayah Ki Ageng Wonolelo adalah Syeh Kaki, salah satu dari dua anak Pangeran Blancak Ngilo. Saudara Syeh kaki adalah Syeh Bela Belu. Sedang dua saudara Ki Ageng wonolelo adalah Syeh Wasibageno dan Panembahan Bodo.

Kisah Ki Ageng Wonolelo dimulai ketika Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Brawijaya V mengalami masa surut. Ditengah suasana yang demikian Prabu Brawijaya V mengumpulkan semua putera-putrinya. Pada Intinya semua putra-putrinya diperintahkan untuk menyebar diseluruh penjuru Nusantara. Mereka semua diperintahkan untuk bertapa brata dan mengamalkan semua kebaikan demi kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian diharapkan kelak mereka semua menjadi orang yang berguna secara lahir batin bagi lingkungan tempat tinggalnya. Dengan begitu mereka akan menjadi panutan atau pemimpin di berbagai wilayah itu.

Dari sekian putra-putri Prabu Brawijaya itu hanya Pangeran Blancak Ngilolah yang tidak kelihatan menghadap. Hal ini menggelisahkan hati PrabuBrawijaya.Prabu Brawijayapun mendatangi kediaman Pangeran Blancak Ngilo.Ketika sampai disana Prabu Brawijaya merasa terkejut sekaligus gembira.Pasalnya didalam rumah itu kelihatan bahwa Pangeran Blancak demikian tekun bersemadi.

Prabu Brawijaya pun menanyakan kabar Pangeran Blancak Ngilo sekaligus memberikan titahnya agar Pangeran Blancak Ngilo pergi ke sudut-sudut wilayah Nusantara untuk mengembangkan wilayah tersebut sekaligus  menyebarkan agama. Pangeran Blancak Ngilopun mengajukan usulan agar Prabu Brawijaya bertindak adil atau membagi adil semua perintah dan wasiatnya.Membagi adil ini dalam bahasa Jawa disebut didum adil  dibagi secara adil atau merata.Berdasarkan hal ini Pangeran Blancak Ngilo kemudian mengembara dan menyamar dengan nama Syeh Dumadil Qubro .Nama Dumadil berasal dari usulannya agar didum adil seperti tersebut diatas.

Sebelum mengembara, Syeh Dumadil Qubro menghadap kepada gurunya yakni Syeh Maulana Maghribi. Ada banyak petuah atau wejangan yang diberikan  Syeh Maulana Maghribi kepada Syeh Dumadil Qubro. Ia juga mengatakan bahwa pengembara annya nanti akan sampai di alas Mentaok.Dialas Mentaok ini akan bertemu seseorang yang amat tinggi ilmunya. Akan tetapi Syeh Maulana Maghribi tidak memberitahukan siapa nama orang tersebut sekalipun beberapa kali Syeh Dumadil Qubro mendesak gurunya untuk memberitahukan jati diri orang tersebut.

Pengembaraan Syeh Dumadil Qubro dilakukan dengan menuju arah barat dari kerajaan Majapahit.Syeh Maulana Maghribipun  dalam hati berkehendak untuk mengunjungi tempat tinggal Syeh Dumadil Qubro .Tidak terkatakan bagaimana sulit dan beratnya pengembaraan Syeh Dumadil Qubro ini. Perjalananannya pun sampai di Hutan atau Alas Mentaok. Saat itu Alas mentaok terkenal akan kelebatan pepohonannya sekaligus terkenal akan kewingitan dan binatang-binatang liarnya.
Prabu Brawijaya V berputra salah satunya Pangeran Blacak Ngilo (Jumadil Qubro) berputra salah satunya Syekh Kahki saudara  Syekh Bela-Belu (Syekh Bela-Belu, makamnya di Parangtritis) berputra 1. Ki Ageng Wonolelo (Syekh Jumadigeno), 2. Ki Ageng Gribig (Syekh Wasibageno), dan 3. Panembahan Bodo (Joko Bodo) Beliau yang membuka hutan di wilayah ini menjadi pemukiman penduduk dan berdakwah di sini. Hingga kini beliaulah yang menururnkan warga masyarakat Pondok Wonolelo. Ada pula paguyuban Trah Ki Ageng Wonolelo. Kirab Budaya Ki Ageng Wonolelo dilangsungkan di Dusun Pondok Wonolelo, Widodomartani, Nganglik, Sleman, DIY lebih dahulu (sekira seminggu) dari pada Kirab Budaya Ki Ageng Gribig di Jatinom, Klaten pada setiap Bulan Sapar atau Saparan (kalender Jawa), karena Ki Ageng Wonolelo merupakan Kakak Ki Ageng Gribig. Saya berasumsi, Belanda takut juga karena wilayah ini basis Islam. Belanda tak cukup nyali untuk berani-berani melawan militansi Islam, apalagi Ki Ageng Wonolelo itu trah Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Kemudian saya berkunjung ke Makam Ki Ageng Wonolelo.

Diceritakan Pangeran Blancak Ngilo Diperintahkan lelono ke arah barat yaitu ke hutan Mentaok dan disana menyamar dengan berganti nama dengan Syekh Djumadil Qubro yang ditemani oleh Kyai Hajar dan Syeh Maulana Magribi.

Dalam perjalanannya pangeran Blancak Ngilo berhenti di Karang Ngelo (daerah Kota Gede) dan bermukim disitu. Sejak itu Pangeran Blancak Ngilo disebut dengan Ki Ageng Karang Ngelo.

Pada saat itu gunung merapi selalu mengeluarkan lahar, supaya lahar tersebut tidak mengalir ke selatan yang akan merusak pedesaan dan kota, maka pangeran Blancak Ngilo, atau Ki Ageng Karang Ngelo pindah di lereng Merapi di pinggir Turgo kemudian tempat tersebut diberi nama padukuhan Turgo, disitu Ki Ageng Karang Ngelo berganti nama Ki Ageng Turgo.
Syeh Jumadigeno putra dari Syeh Khaki itulah yang kemudian bermukim dan menetap di dusun Pondok Wonolelo, dan sampai sekarang dijuluki atau terkenal dengan nama Ki Ageng Wonolelo.

Ki Ageng Wonolelo merupakan tokoh penyebar agama Islam di daerah Pondok Wonolelo, dan Beliau seorang yang mempunyai ilmu kebatinan tinggi pada masanya. Karena ilmunya itu maka, Raja Mataram pernah Mengutusnya pergi ke Kerajaan Sri Wijaya di palembang yang pada masa itu mbalelo atau membangkang terhadap Mataram dan berhasil menahlukkan dengan baik.

Asal-Usul Dusun Pondok Wonolelo
Menurut cerita orang adanya atau asalmulanya sebuah dusun itu karena dahulu ditempat itu ada tanaman, binatang, atau simbol lainnya yang kemudian oleh orang pertama yang ada di tempat itu simbol-simbol tadi dijadikan nama dusun. Untuk mengetahui asal-usul dusun Pondok Wonolelo dan nama-nama dusun disekitarnya melalui wawancara dan cerita orang maka penulis mendapatkan informasi tentang asal mula adanya dusun Pondok Wonolelo.

Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno diperintahkan oleh Ayahnya yaitu Syeh Khaki  untuk berguru kepada Eyangnya Pangeran Blancak Ngilo (Kyai Ageng Turgo) di Gunung Turgo. Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno berangkat ke arah utara sesuai dengan petunjuk Syekh Meloyo agar berjalan menelusuri sungai. Perjalanan mereka berdua tidaklah semudah sekarang.

 Dahulu belum ada jalan kecuali sungai yang hulunya ada di gunung merapi, naik bukit menyusuri tebing yang curam, batu terjal dan besarpun harus dilalui dengan tidak menghiraukan bahaya yang selalu mengintai. Baik dari binatang buas, maupun para penyamun, ataupun arus sungai serta kerasnya alam.

Pada suatu saat Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno dihentikan oleh para penyamun karena mereka sangat sakti maka penyamun itu akhirnya menjadi pengikutnya. Perjalanann mereka berhenti dan istirahat di bawah pohon beringin karena sudah penat perjalanannya. Dalam istirahatnya itu Syekh Jumadigeno melihat kearah selatan dan mendengar suara gejrat-gejrit terus menerus. Setelah dilihat ternyata suara batu yang terdorong air terjun, kemudian tempat itu dinamai hutan Garjitowati.

Pandangan Syekh Jumadigeno terus keselatan dan terlihat kolam luas dan sangat jernih, sehingga tempat itu dinamakan Pachitokan yang kemudian hari (sekarang) dibangun Kraton Yogyakarta.

Perjalanan terus dilanjutkan ke utara menyusuri sungai yang berkelak kelok sampai beberapa  hari kemudian melihat bulus (kura-kura) yang berkeliaran (saba) di hutan (wana) maka Jumadigeno berkata besok dikemudian hari tempat ini dinamakan Wanasaba dan Mbulus. Berjalan keutara melihat bulus kecil kemudian tempat itu diberi nama Ketulan. Perjalanan diteruskan keutara dengan menelusuri sungai dan tebing disitu ada angin dalam bahasa Jawa disebut barat kencang, maka tempat itu diberi nama Baratan. Kemudian mereka istirahat berteduh dibawah pohon pakis yang besar melihat kearah puncak gunung merapi mendung dan kemudian tempat itu diberi nama Kemendung. Perjalanan sampai tidak melihat tegalan dan pemukiman penduduk, yang terlihat hanyalah lereng dan hutan yang terjal maka dikemudian hari dinamai Kemput (sudah sampai batas terakhir). Syekh Jumadigeni dan Syekh Wasibageno setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka bertemu dengan Eyangnya. Di Gunung Turgo mereka diberi ilmu kanuragan, ilmu agama, dan nasehat-nasehat suci. Mereka disuruh untuk mengembara  kehutan malelo untuk membabad hutan serta mengamalkan ilmu-ilmunya, dan tinggal ditempat pamannya Syekh Jimat. Syekh Jumadigeno dibekali dengan  Bandil, Rasukan Ontrokusumo (gondil), Kopyah, dan Kitab Suci Al-Qur’an.Syekh Wasibageno dibekali dengan Gribig.

Di hutan yang bernama Wonogiri mereka bertemu dengan orang yang sedang menyambung ayam yaitu Surenggodo dan Surenggono, kedua orang itu di peringatkan oleh Syekh Jumadigeno agar tidak menyambung ayam karena menurut ajaran suci itu tidak diperbolehkan. Kedua penyambung ayam itu tidak mau akhirnya mereka berkelahi dan akhirnya mereka menjadi pengikut Syekh Jumadigeno dan Syekh Wasibageno, dan tempat itu diberi nama Sawung sari.

Syekh Wasibageno duduk diatas Gribig dan memejamkan matanya ternyata gribig itu melayang-layang ke udara dan membawa Wasibageno ke arah timur turun di tengah hutan Duarawati, kemudian duduk semedi mengheningkan cipta. Setelah membuka mata ternyata berada di bawah pohon jati yang masih muda dalam bahasa jawa anom, dan tempat itu diberi nama Jatianom. Syekh Wasibageno diberi sebutan Kiai Ageng Gribig oleh para pengikutnya karena selalu di atas gribig.

Syekh Jumadigeno bersama pengikutnya sampe di suatu tempat di beri nama Pakem. Di tempat ini Syekh Jumadigeno beristirahat dan melihat kearah tenggara ada sebuah hutan yang malelo (jelas). Kedua pengikutnya terlempar kearah tenggara. Syekh Jumadigeno terkejut melihat kejadian itu, beliau terus melompat untuk mengikuti kedua muridnya itu.

Terlemparnya Surenggodo dan Surenggono akhirnya jatuh di bawah pohon asem yang sangat besar di hutan Malelo. Karena merasa lelah dan lapar maka mereka beristirahat sambil memakan (diemplak-emplok) buah asem itu, maka di kemudian hari tempat itu diberi nama Ngemplak. Syekh Jumadigeno sampe ke tempat murid-muridnya berada dan melihat mereka haus dan kelaparan, maka dengan ilmu jaya kawijawan dipetiknya lidi pucang (pinang) dilemparkan kedalam jurang, seketika itu juga muncul mata air yang jernih. Mereka melanjutkan perjalanan keselatan dan bercocok tanam disuatu tempat karena tidak betah tinggal disitu maka ditempat ini dikemudian hari bernama dusun Ngalian. Mereka pindah tempat kearah timur, disini Surenggodo disuruh membuat wadung (kapak besar), maka tempat ini diberi nama dusun Kwadungan.

Sebelum sholat subuh mereka melanjutkan perjalanan keutara melewati sungai yang diberi nama sungai Tepus. Di hutan Malelo Syekh Jumadigeno bersemedi dalam semedinya mendapat wangsit agar membabat hutan itu dengan menggunakan Bandil pemberian Gurunya. Setelah sholat Subuh Syekh Jumadigeno memutar-mutar Bandil diatas kepalanya sambil membaca doa serta mantra pemberian Eyangnya. Semua kehendak Tuhan pasti terjadi, pohon-pohon pada tumbang hanya pohon kedaung yang masih tegak berdiri dengan bunga-bunga yang indah dan asri. Tempat ini akhirnya diberi nama dusun Wonolelo. Di sini Syekh Jumadigeno mendirikan rumah Trajumas, rumah ini lain dari pada yang lain, karena sokoguru tidak ada yang dipasah atau dipahat cuman dipeceli menggunakan kapak, andernya cuman satu, penyangganya enam, dan berbentuk limas. ‎Rumah ini dipercayai sebagai rumah tiban, karena sepengetahuan penduduk rumah itu tiba-tiba ada tanpa ada yang tahu siapa dan kapan membuatnya.

Disamping mendirikan rumah, Syekh Jumadigeno mendirikan Masjid untuk sholat berjamaah dengan para pengikutnya atau santrinya. Semakin banyak orang-orang yang berguru ngaji kepada beliau, bahkan dari tempat-tempat yang jauh, sehingga mereka harus mondok di tempat itu, karena banyak yang mondok, maka Syekh Jumadigeno mendirikan Pondok Pesantren. Di tempat itu dulunya hutan Malelo dalam bahasa Jawa disebut Wono, maka Syekh Jumadigeno memberi nama Pondok Wono Malelo, yang lama kelamaan menjadi Pondok Wonolelo. Syekh Jumadigeno oleh murid-muridnya dipanggil Ki Ageng yaitu orang yang dianggap besar jasanya dan memimpin serta membimbing masyarakat, karena beliau memimpin serta menjadi guru ngaji atau Kyai di Pondok Wonolelo, akhirnya beliau mendapat sebutan serta gelar Ki Ageng Wonolelo. Karena jasa-jasanya maka, Ki Ageng Wonolelo dipercayai oleh warga setempat sebagai Cikal Bakal adanya dusun Pondok Wonolelo.          

Asal-Usul Upacara Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo

 Upacara tradisional sangat erat kaitannya dengan kebudayaan suatu daerah atau suatu suku bangsa. ‎Upacara merupakan perangkat lambang upacara yang tidak sekedar berfungsi sebagai reservasi akan tetapi sebagai stimuli of emotion. Selain itu upacara tradisional juga merupakan sumber informasi kebudayaan yang tidak tertulis tetapi mempunyai arti yang sangat penting baik bagi anggota masyarakat pendukungnya terutama yang muda maupun bagi orang lain yang berminat memahaminya. Dalam hal ini upacara tradisional menjadi jembatan penghubung antara tradisi budaya masyarakat terdahulu dengan masyarakat sekarang dan akan datang, karena upacara tradisional diwariskan kepada anak cucu meskipun selalu ada perubahan dan penyesuaian sejalan dengan perjalanan waktu.

‎Adapun benda - benda pusaka yang dikirab meliputi; Kitab suci Al-Quran peninggalan Ki Ageng Wonolelo. 

Keberadaan Al-Quran ini menjadi bukti bahwa dirinya merupakan seorang ulama besar dan penjadi bukti bahwa kitab suci Al- Quran merupakan dasar pokok untuk mengajarkan agama islam kepada murid-muridnya. Kedua yakni Bandil, Bentuknya bola kecil ada tali dan ada pegangannya. 

Pernah digunakan Ki Ageng Wonolelo saat babat alas untuk mendirikan Pondok Wonolelo. Konon saat itu, bandil diputar-putarkan diatas kepala lantas dilemparkan ke arah pohon - pohon besar yang membuat pohon tersebut mengering dan bertumbangan. Namun sayang, bandil hilang dan tidak pernah ditemukan.

Ketiga yaitu Baju Ontrokusumo, bentuknya menyerupai rompi dan berfungsi untuk menciptakan kekebalan pada tubuh si pemakainya. Baju ini pernah digunakan Ki Ageng Wonolelo saat babat alas. Baju tersebut dikenakan supaya badan si pemakainya tidak kena senjata tajam, tidak diganggu binatang buas, tidak diganggu jin, setan serta banas pati tidak berani mendekat. 

Kemudian Kopyah yang diyakini pernah digunakan Ki Agung Wonolelo saat menaklukan kerajaan Palembang tanpa melalui peperangan. Dikisahkan bahwa pada saat itu, Ki Ageng Wonolelo memiringkan kopyahnya setelah menjalankan ibadah shalat jumat. Seketika masjid dan bumi Palembang ikut miring dan membuat orang - orang berjatuhan.

Kelima yaitu Potongan Kayu Jati Mustoko Masjid, berupa potongan kayu jati biasa yang dulunya digunakan untuk membangun surau atau masjid. Keenam, tongkat yang digunakan sebagai senjata sehingga selalu dibawa Ki Ageng Wonolelo saat menghadapi berbagai rintangan selama menyebarkan agama islam. 

Ketujuh, sesaji berupa tumpeng robyong sebagai simbol untuk menghilangkan keruwetan dari segala macam gangguan dan sebagai lambing kesuburan. Sedangkan ingkung ayam merupakan simbol kepasrahan terjadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu ada pula Pisang Ayu, Kembang Telon, Buah - Buahan, Daun Kluwih 5 lembar serta Tumpeng Lima Golong Tujuh yang bermakna waktu dibagi menjadi kedalam tujuh hari dan terdiri atas lima pasaran.

Terakhir yakni Gunungan Apem. Bentuknya menyerupai gunung dengan mengerucut lancip keatas. Melambangkan bahwa pencipta alam semesta hanyalah satu yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Gunungan apem tersebut menjadi atraksi budaya yang menarik lantaran jumlahnya cukup banyak mencapai 1,5 ton. Apem akan dibagikan kepada seluruh warga sebagai teladan kepada Ki Ageng Wonolelo yang dikenal sebagai seorang dermawan.

Tradisi gunungan apem ini pun memiliki kisah tersendiri. Menurut kisah yang diyakni warga sekitar, Syeikh Jumadigeno atau Ki Ageng Wonolelo merupakan sosok ulama besar. Ia sudah berkali - kali menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Ia juga kerap ziarah ke Mekah bersama Syeikh Wasibogeno. 

Dikisahkan pada bulan sapar tahun alip 1511, diperlambangi sinengkalan "Ratu Suci Tataning Jagad" Syeikh Jumadigeno ziarah ke Mekah. Sepulangnya berziarah, ia membawa oleh - oleh berupa roti gimbal yang masih hangat. Roti tersebut terbuat dari tepung beras sejenis apem.

Sementara anak cucu, para santri dan tetangga Ki Ageng Wonolelo sudah berkumpul di rumahnya sambil menunggu kepulangan Ki Ageng Wonolelo beserta berkah dan buah tangan dari Mekah. Kebetulan saat itu malam Jumat dan terang bulan. Setibanya di rumah, Ki Ageng kemudian memberikan wejangan dan siraman rohani yang dilanjutkan dengan pembagian roti gimbal atau yang lebih dikenal dengan sebutan kue apem. Kue apem ini konon berasal dari kata afuwun yang berarti ampunan. 

Maksudnya, supaya anak cucu dan para tetangga yang menyimak ceramahnya kemudian memperoleh hidayah untuk selalu memohon ampunan kepada Allah SWT. Ki Ageng Wonolelo juga memerintahkan untuk selalu berbuat kebajikan serta memperbanyak sedekah.

Berawal dari kisah itulah kemudian warga melaksanakan tradisi membuat apem setiap bulan safar. Semula apem tersebut dikumpulkan dengan cara kenduri kemudian dibawa ke makam Ki Ageng Wonolelo. Setelah acara bacaan thoyibah, tahlil dan tabur bunga selesai, apem akan dibagikan dari cungkup makam Ki Ageng Wonolelo kepada seluruh pengunjung yang berziarah di makamnya.

Kian lama, peminat tradisi pembagian apem dan tradisi berziarah ini semakin banyak. Sehingga jumlah apem yang dibagikan pun semakin banyak pula. Sehingga pembagian apem di cungkup makam dinilai sudah tak memungkinkan lagi. Maka pada tanggal 10 Maret 2001 kemudian dibuatkan panggung khusus untuk penyebaran apem. Sehingga pembagian apem pun dipindah ke panggung dengan cara disebar untuk diperebutkan kepada penonton. Tradisi ini pun berlanjut hingga sekarang.

Ada beberapa orang yang meyakini bahwa apem tersebut bisa digunakan sebagai tolak bala hama tanaman dan berkah lainnya. Namun tak sedikit pula yang hanya sekadar ingin melestarikan kekayaan budaya. Namun, di luar itu semua, setiap peringatan saparan, ratusan orang selalu datang untuk berebut apem. Mereka rela berdesakan dan berlomba dengan penonton lainnya demi memperoleh apem yang dikemas menggunakan plastik yang dibentuk menyerupai gunungan.

Pelaksanaan upacara saparan tidak dapat lepas dari riwayat atau asal usul dusun Pondok Wonolelo tempat pelaksanaan upacara tersebut. Riwayat tersebut diyakini kebenaran dan keberadaannya oleh masyarakat setempat. Menurut William R. Bascom yang telah dikutip oleh James Danandjaja cerita semacam itu diklasifikasikan sebagai legenda, yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar pernah terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Ditokohi oleh manusia yang kadang-kadang mempunyai sifat luar biasa atau sakti dan kadang-kadang dibantu oleh makhluk halus, terjadi di dunia, dan waktunya belum terlalu lampau.

Dinamakan Upacara Tradisi Saparan Wonolelo karena upacara ini diambil dari nama tokoh leluhur dusun Pondok Wonolelo yaitu Ki Ageng Wonolelo yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai cikal bakal pembuka Pondok Wonolelo dan yang telah menurunkan penduduk asli Pondok Wonolelo. Acara ini diadakan pada bulan Safar karena meninggalnya Ki Ageng Wonolelo adalah pada bulan Safar, malam jum’at legi dan pada masa sekarang ini tradisi saparan dijadwalkan oleh dinas pariwisata pada bulan Safar jum’at pertama.

Awal mula pelaksanaan upacara tradisi saparan ini dimulai pada tahun 1968 setelah anak keturunan Ki Ageng Wonolelo membentuk trah Wonolelo. Mbah Guno keturunan ke-7 dari Ki Ageng Wonolelo adalah yang membentuk trah Wonolelo agar anak keturunan Ki Ageng Wonolelo dapat berkumpul. Dasar adanya upacara saparan Wonolelo ini yaitu ilham yang dahulu pernah diterima oleh Bapak Purwowidodo (mantan lurah Widodomartani) ketika sedang bersemedi.

Diadakan upacara ini karena untuk mengenang atau mengingat kembali leluhur yang telah menjadikan dusun Pondok Wonolelo. Selain itu juga untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam yang berhasil khususnya di Pondok Wonolelo dan sekitarnya. Acara ini juga untuk memohon perlindungan dan barokah, agar masyarakat Wonolelo terhindar dari segala macam gangguan gaib yang sekiranya dapat mendatangkan mala petaka.

Dahulu waktu pertama kali diadakan saparan Wonolelo dalam pengaraan pusaka, pusaka-pusaka itu dikirab hanya dengan dibopong ditutupi dengan kain putih. Dalam perkembangannya pusaka-pusaka itu dikirab dengan menggunakan joli-joli. Awal mula kirab pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dikirab dari rumah Bapak Purwowidodo menuju makam Ki Ageng Wonolelo. Beberapa tahun kemudihan kirab dimulai dari bekas kantor kecamatan Ngemplak di Dusun Jangkang  menuju masjid, baru dari masjid diadakan upacara dilanjutkan kirab menuju makam Ki Ageng Wonolelo. Pada tahun 2002 sampe sekarang kirab pusaka dimulai dari masjid petilasan Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo.

Awal mula perayaan saparan Wonolelo tidak diakhiri dengan pembagian atau perebutan kue apem tapi dengan pembagian Sego Gurih (nasi uduk) yang ditempatkan dalam cekethong (wadah yang dibuat dari daun pisang). Karena sego gurih dirasa banyak terbuang percuma, karena tumpah saat diperebutkan sehingga dianggap mubadzir, maka diganti dengan kue apem. Pergantian sego gurih menjadi kue apem dilakukan oleh trah setelah melalui beberapa kali pertemuan untuk mencari jenis makanan yang tepat. Alternatif yang disepakati adalah kue apem dengan makna bahwa nama apem dihubungkan dengan bahasa Arab Afu’un yang artinya ampunan. Selain itu karena bentuknya bulat menyerupai payung, maka apem juga dianggap sebagai lambang payung yang artinya pengayoman atau perlindungan. Oleh karena itu lambang apem atau simbol dari permohonan ampun dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.‎  

Gambaran Upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo              

Pada hakekatnya upacara saparan ini merupakan upacara trah atau keluarga yang bersifat religius magis. Trah yang dimaksud adalah seluruh keturunan dari tokoh leluhur yang menjadi pusat perhatian dalam upacara tersebut. Akan tetapi pelaksanaan upacara ini adalah seluruh warga Pondok Wonolelo, karena upacara ini dilakukan untuk menghormati jasa-jasa leluhur mereka yaitu Ki Ageng Wonolelo yang merupakan cikal bakal adanya dusun Pondok Wonolelo dan agar dusun Pondok Wonolelo terhindar dari mara bahaya. Pada intinya pelaksanaan upacara ini adalah kirab pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dan gunungan apem yang diakhiri dengan perebutan apem oleh para peziarah dan pengunjung upacara tersebut.

Persiapan Upacara Saparan
Penyelenggaraan Upacara Tradisi Saparan Wonolelo melibatkan berbagai pihak terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam perkumpulan trah Ki Ageng Wonolelo. Mereka inilah yang terlibat langsung dalam  penyelenggaraan upacara saparan, sebab mereka inilah yang mempunyai kepentingan langsung atas terselenggaranya upacara saparan. Disamping anggota trah masyarakat sekitar tempat saparan berlangsung juga ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan saparan Wonolelo. Pemerintah daerah setempat juga ikut mendukung atas terselenggaranya upacara saparan Wonolelo.

Untuk memperlancar penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo ini terlibat pula pihak-pihak pemerintah daerah setempat khususnya pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Namun yang paling utama adalah keluarga trah Ki Ageng Wonolelo. Keterlibatan pemerintah daerah setempat itu wajar, mengingat bagaimanapun penyelenggaraan upacara adat saparan Wonolelo ini merupakan upacara tradisional yang memberikan ciri-ciri adat istiadat budaya masyarakat setempat melibatkan diri dalam penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan agar upacara saparan dapat berjalan dengan lancar adalah diadakan musyawarah trah Ki Ageng Wonolelo dengan berkoordinasi dengan pemerintah Widodomartani dan pihak Dinas Pariwisata untuk membahas segala sesuatu yang perlu dipersiapkan agar pelaksanaan upacara adat saparan Wonolelo dapat berjalan dengan baik. Maka untuk mengurus segala kepentingan penyelenggaraan upacara saparan Wonolelo ini dibentuk suatu panitia, yang dikenal dengan nama Panitia Saparan Ki Ageng Wonolelo. Panitia inilah yang nantinya akan bertanggung jawab atas terselenggaranya upacara adat saparan Wonolelo, sejak dari persiapan upacara saparan sampai berakhirnya upacara saparan Wonolelo.

Perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah pengumpulan benda-benda pusaka Ki Ageng Wonolelo, karena pusaka-pusaka Ki Ageng Wonolelo tersimpan secara terpisah oleh anak cucu keturunan Ki Ageng Wonolelo, yang dianggap mampu dan kuat menyimpan pusaka tersebut.

Perlengkapan lain perlu dipersiapkan adalah joli-joli sebanyak pusaka yang akan diarak. Joli adalah sebuah bangunan kecil berbentuk seperti rumah joglo digunakan sebagai tempat pusaka yang akan diarak. Di samping joli juga dipersiapkan tombak sebanyak prajurit yang mendampingi dan mengiringi joli yang berisi pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo. Selain itu juga dipersiapkan sesaji-sesaji. 

Kelengkapan yang harus ada adalah kue apem, apem ini merupakan sajian penting yang harus ada. Apem tersebut dibungkus plastik satu persatu agar saat disebar nanti bila jatuh ketanah tidak kotor. Apem ini dibuat gunungan sehingga oleh masyarakat setempat disebut dengan gunungan apem, pada tahun 2008 ini dibuat apem sebanyak satu ton. Apem-apem tersebut dibuat oleh anak keturunan Ki Ageng Wonolelo dan masyarakat Pondok Wonolelo secara bergotong royong.

Jauh-jauh hari sebelum saparan dimulai diadakan kerja bakti membersihkan tempat-tempat yang akan digunakan uapacara, seperti Makam dan Masjid Ki Ageng Wonolelo. Selain itu juga membersihkan lapangan dan pekarangan-pekarangan sebagai tempat pasar malem, membuat pagar-pagar tempat parkiran, dan memasang pamflet-pamflet untuk membuat pengumuman akan  dimulainya acara saparan beserta untuk tempat jadwal hiburan pasar malem.

Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo
Acara ini adalah sebagai puncak acara semua kegiatan yang di dalamnya ditampilkan upacara religius yang berupa ritual, semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo dikeluarkan untuk dikirabkan. Kirab pusaka dimulai dari halaman Masjid peninggalan Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo dengan diikuti oleh sesepuh Trah, Putro Wayah, Para Santri dan alim Ulama, Prajurit, Dinas Pariwisata, Muspika Kecamatan Ngemplak dan Group-Group kesenian. Kirab pusaka dilaksanakan pada hari Kamis pon malam Jum’at Wage, tanggal 14 Februari 2008, pukul 20.00wib sampai selesai.

Untuk menunggu persiapan acara kirab dikumandangkan gending karawitan yang diikuti oleh semua komponen pendukung acara. Sehabis sholat isyak group karawitan sudah mulai berbunyi untuk mengiringi tamu undangan yang datang, setelah karawitan berhenti dilanjutkan dengan Drum Band SD Karangan dan Drum Band SMP N 1 Ngemplak.

Keluarnya peserta barisan Kirab Pusaka dari daerah persiapan menuju tempat upacara yaitu di halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo. Dari arah utara Masjid keluar barisan pembawa umbul-umbul, Dewan Pinisepuh Trah Ki Ageng Wonolelo, pembawa besek dan kemenyan, pembawa ting, Pengageng di iringi pendamping dua orang, pemikul joli-joli Pusaka, gunungan Apem, dan sesaji, para Ulama yang langsung menempatkan diri di halaman Masjid, dan para group Sholawat.

Dari arah selatan keluar Putri Bayang Kari, Putri domas, diikuti Drum band prajurit, dan Pawang Jathilan. Pawang jathilan ini keluar terlebih dulu dan menempatkan diri disebelah utara panggung karawitan sebanyak 25 orang dan disebelah selatan panggung karawitan sebanyak 25 orang yang membuat pagar betis penonton. Setelah barisan kirab sudah siap ditempatnya masing-masing dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Gambyong, baru kemudian acara inti dimulai.
Acara kirab di buka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al- Qur’an oleh petugas yang telah ditunjuk oleh panitia saparan Wonolelo. Acara selanjutnya yaitu sambutan Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, sambutan dari pemerintah daerah setempat yaitu Kepala Desa Widodomartani, Camat Ngemplak, dan sambutan dari Bupati Sleman yang diwakili Oleh Wakil Bupati Sleman.

Acara  sambutan-sambutan selesai dilanjutkan dengan pembacaan sejarah singkat Ki Ageng Wonolelo.  Pembacaan sejarah selesai dilanjutkan dengan pertunjukan fragmen yang menceritakan tentang riwayat Ki Ageng Wonolelo saat diberi pusaka oleh Gurunya saat bersama adiknya Ki Ageng Gribig, dan cerita saat Ki ageng Wonolelo sdang membabad Hutan Malelo yang sekarang telah menjadi sebuah dusun.

Kemudian pembawa joli-joli pusaka maju dan pusaka-pusaka ini selanjutnya diletakkan didekat makam Ki Ageng Wonolelo. Pusaka yang pertama dimasukkan ke dekat makam adalah: Al-Qur’an yang selanjutnya diikuti kopyah, Gondil, Cupu, dan teken. Setelah benda-benda pusaka diletakkan di dekat makam, dilanjutkan dengan tahlil dan Do’a bersama, diikuti dengan tabur bunga ataunyekar di makam Ki Ageng Wonolelo.

Tabur bunga dilakukan oleh semua kerabat Ki Ageng Wonolelo secara bergantian dilanjutkan oleh para peziarah. Setelah acara tabur bunga selesai gunungan apem ditaruh ditengah lapangan untuk diperebutkan dan sebagian ditaruh di panggung untuk disebar oleh para petugas yang telah ada diatas panggung. Para barisan kirab kembali ke Masjid Ki Ageng Wonolelo secara berurutan seperti barisan semula. 
Maksud dan Tujuan Upacara 
Upacara yang merupakan kelakuan atau tindakan simbolis manusia sehubungan dengan kepercayaan atau keyakinan adalah mempunyai maksud dan tujuan untuk menghindarkan gangguan dari roh jahat. Dengan demikian maksud dan tujuan upacara adat yang diselenggarakan oleh suatu warga masyarakat tidak lain untuk menghindarkan atau menjauhkan dari gangguan roh jahat dan mendapatkan perlindungan dari roh atau arwahnya para leluhur, untuk itulah upacara adat selalu diselenggarakan.

Sehubungan dengan itu, maka maksud dan tujuan Upacara adat Saparan Wonolelo yang diselenggarakan oleh masyarakat Pondok Wonolelo itu antara lain:
1.      Untuk mengenang atau mengingat kembali leluhur mereka yang menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Di samping itu juga untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam, khususnya di Pondok Wonolelo dan di daerah sekitarnya.‎
2.      Untuk mengumpulkan anak keturunan Ki Ageng Wonolelo yang tergabung dalam organisasi kekerabatan trah Ki Ageng Wonolelo yang tersebar di kawasan Yogyakarta.‎
3.      Untuk mohon perlindungan dan barokah Tuhan agar masyarakat Pondok Wonolelo dijauhkan dari segala macam gangguan gaib yang sekiranya mendatangkan petaka bagi masyarakat. Melalui upacara ini anak keturunan Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo dan di mana saja berada selalu diberi hidup tentram, bahagia, kesejahteraan dan keselamatan dalam lindungan kebesaranNya.‎
4.      Mendukung Yogyakarta khususnya kabupaten Sleman sebagai Daerah Wisata Budaya, mengajak generasi muda untuk lebih menggali dan memahami tingginya nilai-nilai budaya dan seni daerah yang ada di indonesia.
5.      Memberikan wahana kesenian rakyat dan menumbuhkan rasa memiliki, menyayangi, memperhatikan serta melestarikan budaya Indonesia terutama oleh Bangsanya.‎
6.      Mengajak generasi muda untuk lebih menggali dan memahami tingginya nilai-nilai budaya dan seni daerah yang ada di Indonesia.
7.      Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi di dalam kegiatan saparan.

Maksud dan tujuan diadakan upacara ini memiliki harapan terutama dikalangan muda terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo agar dapat mewarisi nilai-nilai ajaran Ki Ageng Wonolelo yang besar dan luhur untuk menyebar agama Islam di Pondok Wonolelo dan sekitarnya.
Nilai-nilai dalam Upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo
Dalam upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo ini terdapat nilai-nilai yang luhur yaitu nilai luhur ketauladanan dan nilai luhur kebersamaan.

Nilai luhur ketauladanan, dalam pelaksanaan upacara adat saparan ini memberikan gambaran dan wawasan mengenai perjuangan dari leluhur yang telah menurunkan mereka, terutama keturunan Ki Ageng Wonolelo. Disamping itu juga mengenal Ki Ageng Wonolelo sebagai penyebar agama Islam. Nilai ketauladan disini yaitu nilai-nilai yang dimiliki Ki Ageng Wonolelo yang patut kita teladani. Karena Ki Ageng Wonolelo selalu berbuat baik sesuai dengan ajaran-ajaran Islam dan mempunyai budi pekerti yang luhur.

Nilai luhur kebersamaan dan kekerabatan, yaitu bahwa dalam pelaksanaan upacara adat dilakukan secara bersama-sama oleh trah Ki Ageng Wonolelo dan masyarakat Pondok Wonolelo. Trah Ki Ageng Wonolelo berkoordinasi dengan penduduk Pondok Wonolelo, kemudian membentuk suatu kapanitiaan sehingga mereka dapat bekerja sama dalam melaksanakan upacara adat Saparan Wonolelo sehingga pelaksanaan upacara dapat berjalan dengan lancar. Itu terbukti pada awal upacara yang merupakan tahap persiapan upacara masyarakat secara bersama-sama bergotong royong melaksanakan kerja bakti membersihkan dan memperbaiki jalan-jalan dusun dan membuat pagar-pagar untuk tempat parkiran maupun membuat panggung-panggung untuk hiburan diarea pasar malem.

Kebersamaan juga nampak ketika sedang mempersiapkan perlengkapan sesaji. Mereka membuat sesaji secara bersama-sama, kemudian dalam mengaturnya banyak melibatkan warga masyarakat yang secara khusus mendapat tugas untuk mempersiapkannya.

Dalam pembuatan gunungan apem masyarakat Pondok Wonolelo dan trah Ki Ageng Wonolelo secara bersama-sama tiap keluarga secara sukarela mengirimkan apem kepada panitia saparan untuk selnjutnya oleh panitia saparan dibuat gunungan apem. Sebelum dibuat gunungan apem-apem tersebut dibungkus satu persatu agar nanti saat disebarkan jatuh ketanah tidak kotor.

Pelaksanaan Upacara Saparan Wonolelo melibatkan orang banyak, maka untuk mensukseskan pelaksanaan ini masyarakat Pondok Wonolelo membagi tugas masing-masing agar pelaksanaan Upacara Saparan Wonolelo dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Nilai kekerabatan pun tampak jelas, karena mereka dapat bekerja sama dengan baik antara warga masyarakat Pondok Wonolelo dan anggota trah Ki Ageng Wonolelo. Upacara ini juga sebagai ajang untuk mengumpulkan anak cucu keturunan Ki Ageng Wonolelo.

Konsep Mistik
Pada umumnya mistik dapat dimengerti sebagai suatu pendekatan spiritual non diskursif kepada persekutuan jiwa dengan Tuhan atau apa saja yang dipandang sebagai Tuhan yang transenden, maka ciri khasnya adalah kebatinan, menjauhi dunia menuju persatuan dengan Yang Esa, yang transenden.‎   

Dalam kamus filsafat, disebutkan bahwa mistisisme memiliki pengertian secara bahasa Inggris mytycism, Yunani ‎mycterion, dari mytes (orang yang mencari rahasia-rahasia tentang kenyataan), danmyien (menutup mata sendiri). Selanjutnya diberikan beberapa pengertian tentang mistik yang kesemuanya hampir searah, yaitu:
Keyakinan bahwa kebenaran terakhir tentang kenyataan tidak dapat diperoleh melalui pengalaman biasa dan tidak melalui intelek (akal budi) namun melalui  pengalaman mistik atau intuisi mistik yang non rasional.
pengalaman non rasional dan tidak biasa tentang realitas yang mencakup seluruh (sering tentang suatu realitas transenden) yang memungkinkan diri bersatu dengan realitas yang biasanya dianggap sebagai sumber atau dasar eksistensi semua hal.
Mistisisme secara harfiah berarti pengalaman batin, yang tidak terlukiskan, khususnya yang mempunyai ciri religius dalam arti yang luas dimengerti sebagai kesatuan yang mendalam dengan Allah.
Mistisme adalah bahwa Tuhan dikenal didalam bagian-bagian yang terdalam dari jiwa manusia secara eksperensial.
Sebagai bagian dari masyarakat timur, mistik merupakan hidup keseharian bagi orang Jawa yang sejak dahulu kala tumbuh subur. Suburnya kehidupan mistik ini selain dipengaruhi oleh karena tidak puasnya masyarakat Jawa terhadap sistem agama mereka yang berbntuk slametan. memberikan saji-sajian pada waktu tertentu dan ditempat-tempat tertentu, serta berziarah kemakam-makam, juga disebabkan oleh pola sosial masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat Jawa dituntut untuk tampil sempurna, dan memberi kesan yang baik di depan publik.

Konsep mistik dalam upacara saparan Ki Ageng Wonolelo ini merupakan manunggaling kawulo lan Gusti karena didalam upacara ini masyarakat ingin mendekatkan diri dengan Allah dengan cara berziarah dan berdzikir di makam Ki Ageng Wonolelo sehingga dengan cara ini mereka akan lebih dekat dengan Allah atau dengan kata lain mereka akan mendapatkan sifat zuhud terhadap dunia, yaitu meninggalkan kesenangan dunia yang bersifat sementara untuk berbakti kepada Allah.

Dalam upacara tradisi saparan ini juga terdapat sesaji-sesaji yang maksud dari sesaji itu adalah menggambarkan manunggaling kawulo lan Gusti yang menciptakan manusia alam dan seisinya. Disini juga memberikan pesan bahwa seharusnya manusia selalu ingat kepada Gusti yang memberikan hidup dan jasad seisinya untuk hidup manusia itu sendiri.  
Semoga bermanfaat ‎

1 komentar:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
    saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
    jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    BalasHapus