Translate

Rabu, 11 Juli 2018

Siapakah Ahlussunnah Waljama'ah Sebenarnya

Sangat penting kiranya memahami lebih jauh inti daripada aqidah ahlu sunnah wal jama’ah yang memang sejatinya itu adalah sebuah aqidah yang bisa menyelematkan keimanan dan keislaman seorang muslim sampai masuk pada tempat yang di ridhoi Alloh S.W.T.

Penjabaran mengenai aqidah Ahlu sunnah Wal Jama’ah itu memang sangatlah luas dibutuhkan pengkajian ilmu yang begitu mendalam dan mendasar agar tidak meimbulkan keslahfahaman satu sama lain apalagi meyesatkan, karena itu sangatlah membahayakan ideologi aqidah itu sendiri.

Nah dalam memberikan penerangan mengenai hal tersebut Ulama Ahlu sunnah memberikan penjelasan yang detail dengan sebuah rangkuman yang mungkin bisa jauh lebih di pahami oleh orang awwam.

Rasululloh S.A.W Bersabda :

عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِيْ اخْتِلاَفاً شَدِيْدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَاْلأُمُوْرَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه ابن ماجه)

"Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Ibnu Majah. Hadis senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Penamaan Ahlus-Sunnah telah ada sejak generasi pertama Islam. Ketika menafsirkan firman Allah ta’ala :

يَوْمَ تَبْيَضّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدّ وُجُوهٌ فَأَمّا الّذِينَ اسْوَدّتْ وُجُوهُهُمْ أَكْفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu." (QS. Ali ‘Imran : 106); Ibnu ‘Abbas berkata :

حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة, وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة

“Adapun orang yang putih wajahnya, mereka adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah; adapun orang yang hitam wajahnya, mereka adalah Ahlul-Bid’ah dan sesat”  [lihat Tafsir Ibnu Katsir  3/139; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421].

Kemudian istilah ini menjadi sangat masyhur di era selanjutnya akibat munculnya berbagai penyimpangan dalam agama. Di antara ulama terdahulu yang menyebut istilah Ahlus-Sunnah di antaranya :

1.    Al-Hasan (Al-Bashri) rahimahullah berkata :

يا أهل السنة ترفقوا رحمكم الله فإنكم من أقل الناس

“Wahai Ahlus-Sunnah, berlaku baik/lembutlah ! Semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian. Karena sesungguhnya kalian adalah golongan yang paling sedikit dari kalangan manusia” [Syarh Ushuuli I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh Al-Laalikai 1/57].

2.    Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata :

إني أخبر بموت الرجل من أهل السنة وكأني أفقد بعض أعضائي

“Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus-Sunnah, seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku” [idem, hal. 60].

3.    Malik bin Anas rahimahullah berkata :

أهل السنة الذين ليس لهم لقب يعرفون به، لا جهمي ولا قدري ولا رافضي

”Ahlus-Sunnah adalah orang-orang yang tidak mempunyai laqab/gelar tertentu yang mereka dikenal dengannya. (Mereka) bukanlah Jahmiy, bukan Qadariy, dan bukan pula Rafidliy” [Al-Intiqaa’ oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, hal. 35].

4.    Al-Waki’ (guru Al-Imam Asy-Syafi’i) rahimahullah berkata :

أهل السنة يقولون : الإيمان : قول وعمل ، والمرجئة يقولون : الإيمان قول ، والجهمية يقولون : الإيمان : المعرفة

“Ahlus-Sunnah mengatakan : Iman itu perkataan dan perbuatan. Murji’ah mengatakan : Iman itu perkataan saja. Adapun Jahmiyyah, mereka mengatakan : Iman itu hanya ma’rifat saja” [Asy-Syari’ah oleh Al-Imam Al-Ajurri 1/288].

5.    Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata ketika menjelaskan beberapa prinsip aqidah dalam masalah taqdir:

مثل حديث: «الصادق المصدوق» ومثل ما كان مثله في القدر والرؤية والقرآن وغيرها من السنن مكروه، ومنهي عنه، لا يكون صاحبه، وإن كان بكلامه سنة من أهل السنة حتى يدع الجدال ويسلم. ويؤمن بالآثار

“…..(Tidak boleh baginya untuk berbicara tanpa ilmu) sebagaimana hadits Ash-Shadiqul-Mashduq (yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) dan hadits-hadits yang semisal dalam masalah taqdir, ru’yah (yaitu melihat Allah di surga kelak bagi kaum mukminin), Al-Qur’an, dan yang lainnya dari sunnah-sunnah. Hal ini adalah dibenci dan dilarang. Pelakunya tidak termasuk Ahlus-Sunnah – walaupun perkataan (kadang) mencocoki sunnah – sampai ia meninggalkan perdebatan dalam masalah-masalah tersebut dan mengimani atsar” [Ushulus-Sunnah lil-Imam Ahmad bin Hanbal dari riwayat ‘Abdus bin Malik Al-‘Athaar].

6.    Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata :

وأما الصواب من القول في رؤية المؤمنين ربهم عز وجل يوم القيامة ، وهو ديننا الذي ندين الله به ، وأدركنا عليه أهل السنة والجماعة فهو : أن أهل الجنة يرونه على ما صحت به الأخبار عن رسول الله

“Adapun yang benar dari permasalahan melihatnya kaum mukminin kepada Rabbnya ‘azza wa jalla di hari kiamat, maka hal itu merupakan agama kami yang kami beragama dengannya. Dan kami mengetahui bahwa Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berpendapat bahwa Ahlul-Jannah akan melihat Allah sesuai dengan khabar yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Sharihus-Sunnah oleh Ath-Thabari hal. 4]

Adapun pengertian/definisi dari Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah), maka Ibnul-Jauzi rahimahullah menjelaskan :

ولا ريب في أن أهل النقل والأثر المتبعين آثار رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وآثار أصحابه هم أهل السنة لأنهم على تلك الطريق التي لم يحدث فيها حادث : وإنما وقعت الحوادث والبدع بعد رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه .

“Tidak dapat diragukan lagi bahwa Ahlun-Naql wal-Atsaradalah orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beserta para shahabatnya. Mereka adalah Ahlus-Sunnah, karena mereka berada di atas jalan tersebut yang di sana tidak ada hal-hal yang baru diada-adakan. Sebab, hal-hal yang baru dan bid’ah itu baru muncul sepeninggal Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya” [Talbis-Iblis oleh Ibnul-Jauzi 1/24].

Abu Muhamad bin Hazm (Ibnu Hazm) rahimahullah berkata :

وأهل السنة الذين نذكرهم أهل الحق ومن عداهم فأهل البدعة فإنهم - إي أهل السنة - الصحابة رضي الله عنهم وكل من سلك نهجهم من خيار التابعين رحمة الله عليهم، ثم أصحاب الحديث ومن اتبعهم من الفقهاء جيلا فجيلا إلى يومنا هذا ومن اقتدى بهم من العوام في شرق الأرض وغربها رحمة الله عليهم

“Ahlus-Sunnah yang kami sebutkan adalah Ahlul-Haq, sedangkan selain mereka adalah ahlul-bid’ah. Sesungguhnya mereka (Ahlus-Sunnah) adalah para shahabat radliyallaahu ‘anhum dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari kalangan tabi’in – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka, kemudian Ashhaabul-Hadits dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan fuqahaa, generasi demi generasi, sampai sekarang ini. Demikian pula orang-orang yang mencontoh mereka dari orang-orang awam di bagian Timur dan Barat bumi ini. Semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka semua” [Al-Fashlu fil-Milal wal-Ahwaa’ wan-Nihaal oleh Ibnu Hazm 2/113 – melalui perantaraan ’Aqiidatu Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah fish-Shahaabatil-Kiraam]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

لأنهم متمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، وما اتفق عليه السابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان

“Karena mereka (Ahlus-Sunnah) adalah orang-orang yang berpegang-teguh kepada Kitabullh (Al-Qur’an) dan Sunah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan apa-apa yang disepakati oleh As-Saabiquunal-Awwaluun dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” [Majmu’ Al-Fataawaa oleh Ibnu Taimiyyah 3/375].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وهم أهل السنة والجماعة : المتمسكون بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وبما كان عليه الصدر الأول من الصحابة والتابعين وأئمة المسلمين في قديم الدهر وحديثه

“Mereka adalah Ahlus-Sunnah : (Yaitu) orang-orang yang berpegang-teguh pada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan pada apa-apa yang ada pada generasi awal dari kalangan shahabat, tabi’in, dan imam-imam kaum muslimin, baik pada masa dahulu dan sekarang” [Tafsir Ibnu Katsir 3/434].

Al-Alusiy rahimahullah berkata :

(اعلم) أن أهل السنة والجماعة هم أهل السلام والتوحيد، المتمسكون بالسنن الثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في العقائد والنحل والعبادات الباطنة والظاهرة......فإن السنة في الأصل تقع على ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، وما سنه أو أمر به من أصول الدين وفروعه،......وتطلق أيضا على ما كان عليه السلف الصالح في مسائل الامامة والتفضيل، والكف عما شجر بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

“(Ketahuilah) bahwasannya Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, mereka adalah Ahlul-Islam wat-Tauhid, orang-orang yang berpegang-teguh pada sunah-sunnah yang telah tetap dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hal aqidah, madzhab, dan ibadah baik secara bathin ataupun dhahir….. . Kata As-Sunnah itu pada asalnya adalah setiap perkara yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di atasnya dan apa yang telah sunnahkan atau perintahkan dengannya, baik dalam permasalahan ushuluddin maupun permasalahan furu’….. (Kata ini) juga dimutlakkan pada setiap perkara yang mana as-salafush-shalih berada di atasnya, baik dalam masalah imamah, pengutamaan (di antara shahabat), maupun menahan diri dari setiap perkara yang para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berselisih padanya” [Ghayaatul-Amaaniy fir-Radd ‘alan-Nabhaaniy oleh Mahmud Syukri Al-Alusi 1/428].

Memelihara Kebersamaan dan Kolektifitas.

Firman Allah SWT:

إِنَّ الذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ إنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْن (الأنعام: 159)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamaNya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159)

Ayat diatas memberikan pengertian bahwa orang-orang yang membuat perpecahan dalam agama dan menciptakan golongan-golongan sendiri maka mereka telah meninggalkan jalan yang benar.

Terkait dengan pengertian ayat tersebut, kenyataan yang ada bahwa Ahlussunnah selalu menjaga kebersamaan dan kolektifitas. Perbedaan yang ada tidak sampai menimbulkan perpecahan yang menyebabkan mereka menjadi beberapa golongan, apalagi sampai mengkafirkan, membid’ahkan dan memfasiqkan. Hal inilah yang membedakan Ahlussunnah wal jamaah dengan aliran-aliran sempalan lainnya.

Dalam hal ini al-Imam Abdul Qahir al-Baghdadi dalam kitab al-Farq bain al-Firoq mengatakan;

الفصل الخامس: في بيان عصمة الله أهل السنة عن تكفير بعضهم بعضا. أهل السنة لا يكفّر بعضهم بعضا، وليس بينهم خلاف يوجب التبري والتكفير، فهم إذن أهل الجماعة القائمون بالحق، والله تعالى يحفظ الحق وأهله، فلا يقعون في تنابذ وتناقض، وليس فريق من فرق المخالفين إلا وفيهم تكفير بعضهم لبعض، وتبري بعضهم من بعض كالخوارج والروافض والقدرية حتى اجتمع سبعة منهم في مجلس واحد فافترقوا عن تكفير بعضهم بعضا وكانوا بمنزلة اليهود والنصارى حين كفّر بعضهم بعضا حتى قالت اليهود ليست النصارى على شيء وقالت النصارى ليست اليهود على شيء.

“Bab Lima, menerangkan tentang penjagaan Allah terhadap Ahlussunnah wal jamaah dan dari saling mengkafirkan antara sesama mereka. Ahlussunnah wal jamaah tidak saling mengkafirkan antara sesama mereka. Di antara mereka tidak ada perselisihan pendapat yang membawa pada pemutusan hubungan dan pengkafiran. Oleh karena itu, mereka memang golongan al-Jama’ah (selalu menjaga kebersamaan dan keharomonisan) yang melaksanakan kebenaran. Allah selalu menjaga kebenaran dan pengikutnya, sehingga mereka tidak terjerumus dalam ketidakharmonisan dan pertentangan. Dan tidak ada satu golongan diantara golongan-golongan sempalan, kecuali diantara mereka terjadi sikap saling mengkafirkan dan memutus hubungan, seperti aliran Khawarij, Syi’ah dan Qodariyah (Mu’tazilah), sehingga pernah suatu ketika tujuh orang dari mereka berkumpul dalam satu majlis, lalu mereka berbeda pendapat dan mereka berpisah dengan saling mengkafirkan antara yang satu dengan yang lain. Mereka tidak ubahnya orang Yahudi dan Nasrani pada saat saling mengkafirkan. Orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, dan orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai satu pegangan’.

Sikap saling mengkafirkan dan membid’ahkan dalam satu aliran telah menjadi trend di kalangan intern ulama Wahhabi. Dahulu orang Wahhabi membid’ahkan, mengkufurkan dan mengatakan syirik terhadap kaum Muslimin diluar golongan mereka. Namun, kini mereka menyebarkan bid’ah dan kafir terhadap ulama sesama Wahhabi. Misalnya, Abdul Muhsin al-Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah. Al-Albani juga menvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya sebagai musuh tauhid dan Sunnah.

Realita perpecahan tersebut menjadi bukti bahwa Wahhabi memang bukan pengikut Ahlussunnah wal jamaah.

Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki,Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).
Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita, Indonesia. Dan al-Hamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin diseluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko,Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi di negara-negara lainnya seperti di afrika, eropa, amerika dan australia .

Berikut pernyataan para ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah:

وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151)

“Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi” (Hasyiyah Al-‘Adwi, Ali Ash-Sha’idi Al-‘Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105).

والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4)

“Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu ‘anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)” (Hasyiyah At-Thahthawi ‘ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4).

وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38)

“Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy’ari)” (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38).

Sebutan Ahlussunnah Wal-Jama’ah bagi Asy’ariyyah dan “pemimpin Ahlussunnah Wal-Jama’ah” bagi Abul Hasan al-Asy’ari, hanyalah sebagai suatu penghargaan dari para ulama setelah beliau atas jasa-jasa beliau dalam menyusun aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah serta perjuangan beliau dalam mempopulerkan dan menyebarluaskannya di saat aqidah sesat Mu’tazilah masih berkuasa. Tentunya, ini tidak berarti bahwa faham Asy’ariyyah atau Maturidiyyah adalah satu-satunya yang sah disebut sebagai Ahlussunnah Wal-Jama’ah, sebab baik Abul Hasan al-Asy’ari maupun Abu Manshur al-Maturidi hanyalah menyusun apa yang sudah diyakini oleh para ulama salaf yang bersumber kepada al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., dan atsar para Shahabat. Jadi, mereka hanya menyusun apa yang sudah ada, bukan mencipta keyakinan yang sama sekali baru.

Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah menulis;

قال الشهاب الخفاجي رحمه الله تعالى في نسيم الرياض: والفرقة الناجية هم أهل السنة والجماعة، وفي حاشية الشنواني على مختصر ابن أبي جمرة: هم أبو الحسن الأشعري وجماعته أهل السنة وأئمة العلماء لأن الله تعالى جعلهم حجة على خلقه وإليهم تفزع العامة في دينهم وهم المعنيون بقوله : «إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة».

“As-Syihab al-Khofaji berkata dalam kitab ‘Nasim al-Riyadh’, golongan yang selamat adalah Ahlussunnah wal jamaah. Dan dalam catatan pinggir as-Syanwani atas Muhtashor Ibnu Abi Jamroh terdapat keterangan, “mereka adalah Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikutnya yang merupakan Ahlussunnah dan pemimpin para ulama, karena Allah swt. menjadikan mereka hujjah atas mahlukNya dan hanya mereka yang menjadi rujukan kaum Muslimin dalam urusan agama, mereka yang dimaksud dengan sabda Nabi e; sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan.”

Penjelasan Hadratussyaikh tersebut seiring dengan hadits shohih berikut ini:

عن إبراهيم العذري قال: قال رسول الله : «يحمل هذا العلمَ من كل خلَف عدولُه ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين». (رواه البيهقي).

“Dari Ibrahim al-Udzri ra. dia berkata, Rasulullah bersabda: ‘Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dalam setiap generasi. Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi kelompok yang ekstrim, kebohongan mereka yang bermaksud jahat dan penafsiran mereka yang bodoh.”(HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini memberikan penjelasan bahwa ajaran agama Islam akan selalu disampaikan dari generasi ke generasi oleh para ulama yang dapat dipercaya, yang selalu membersihkan ajaran agama dari pemalsuan dan kebohongan.

Berkaitan dengan substansi hadits tersebut apabila kita mengkaji sejarah peradaban Islam, maka akan dijumpai bahwa para pakar yang menjadi rujukan kaum muslimin dalam berbagai disiplin ilmu agama hingga kini adalah para ulama yang mengikuti madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.

Di saat para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah merasa berbahagia dengan mengakui diri sebagai pengikut ajaran Asy’ariyyah, kaum Salafi & Wahabi justeru malah melepaskan diri dari ikatan itu, dan memberlakukan terminologi umum tentang Ahlussunnah wal-Jama’ah yang tidak ada hubungannya dengan Asy’ariyyah. Itu memang hak mereka, tetapi masalahnya, bila di dalam mempelajari aqidah tidak ada format baku yang disepakati atau tidak ada ikatan SANAD ILMU YANG TERSAMBUNG dengan para ulama terdahulu dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta atsar para Shahabat, maka akan ada banyak orang yang dapat seenaknya mengaku sebagai Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan hanya bermodal dalil-dalil yang mereka pahami sendiri. Dan keadaan ini berbahaya bagi keselamatan aqidah umat Islam.

Jadi, siapakah yang lebih pantas disebut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, kaum Salafi & Wahabi yang memahami aqidah para ulama salaf dengan caranya sendiri sehingga berbeda kesimpulan dengan para ulama salaf itu, ATAUKAH para pengikut Asy’ariyyah yang menerima ajaran aqidah ulama salaf secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui para guru dan kitab-kitab mereka serta TIDAK BERTENTANGAN dgn mereka generasi salaf?

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar