Translate

Jumat, 23 Oktober 2015

Pentingnya Belajar

Seperti yang kita ketahui bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. hukum wajib disini berlaku untuk ilmu agama mencakup ilmu fiqih seperti tata cara shalat, tata cara wudhu dan lain sebagainya. tanpa ilmu agama, maka dikhawatirkan seorang muslim melakukan keasalahan dalam ibadahnya sehingga amal ibadahnya tidak diterima oleh ALLAH SWT. ilmu agama tentu sangat berguna dalam menimbang segala sesuatu yang kita alami selama hidup di dunia yang singkat ini. seseorang yang berpegang kepada Al-Qur'an dan Assunnah maka dia akan menjalani segala aktifitasnya berdasarkan dasar dasar islam, sehingga hidupnya akan berkah dan senantiasa mendapat limpahan rahmat dan pahala dari ALLAH SWT.

Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang hala dan mana yang haram, denga ilmu kita bisa mengerjakan shalat dengan benar, menjalankan puasa dengan benar serta mampu menyikapi berbagai macam persoalan hidup sesuai syariat islam yang benar. karena seperti yang kita ketahui ditengah perkembangan zaman yang semakin jahiliyah seperti saat ini, ilmu agama sangat penting untuk menimbang segala sesuatu yang muncul dihadapan kita. mereka yang tidak berilmu malah akan berlaku sebaliknya, yaitu menyelesaikan berbagai macam persoalan dengan hawa nafsunya.

Pentingnya belajar dan menuntut ilmu sudah sangat jelas diterangkan ALLAH SWT dan telah dituangkan dalam Al-Quran surat Al Mujadalah sebagai berikut


يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ALLAH SWT ridho dan senang dengan mereka yang berjihad dalam menuntut ilmu sehingga ALLAH SWT akan mengangkat derajatnya. sehingga sudah jelaslah bahwa seorang muslim yang ikhlas dalam menuntut ilmu akan mendapatkan manfaat dan keutamaan yang besar. ia akan senantiasa hidup dengan cara cara yang islami dan sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW.

Nah, kali ini muslim fiqih akan menyajikan info mengenai kumpulan dalil dari mahfudzot dan hadist hadist Nabi Muhammad SAW yang membahas tentang fadhilah, keutamaan dan kewajiban seorang muslim dalam menuntut ilmu. 

Menuntut ilmu agama adalah kewajiban setiap Muslim
عن أنس بن مالك , قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 223. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]‎

Keutamaan Orang yang Paham didalam Masalah Agama

قال حميد بن عبد الرّحمن سمعت معاوية خطيبا يقول , سمعت النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول : ” من يرد الله به خيرا يفقّهه في الدّين , وإنّما أنا قاسم , والله يعطي , ولن تزال هذه الأمّة قائمة على أمر الله لا يضرّهم من خالفهم حتّى يأتي أمر الله

Humaid bin Abdurrahman berkata : “Aku mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu’anhu dalam khutbahnya dia berkata : “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya niscaya Allah akan berikan ia pemahaman dalam (masalah) agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi dan Allah yang memberi. Umat ini senantiasa tegak diatas agama Allah, dan tidak merugikan mereka orang – orang yang menyelisihi mereka hingga datang ketentuan Allah.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah didalam Shahih nya, hadits no 71 dan Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan didalam Shahihnya, hadits semisalnya, hadits no 2392/100/1037]

Keutamaan Berjalan Menuntut Ilmu, Ahli Ilmu dan Ilmu adalah Warisan Para Nabi

عن كثير بن قيس قال : كنت جالسا عند أبي الدّرداء في مسجد دمشق , فأتاه رجل , فقال : يا أبا الدّرداء , أتيتك من المدينة – مدينة رسول الله صلّى الله عليه وسلّم – لحديث بلغني أنّك تـحدّث به عن النّبـيّ . قال : فما جاء بك تـجارة ؟ . قال : لا . قال : ولا جاء بك غيره ؟ . قال : لا . قال : فإنّي سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول : ” من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهّل الله له طريقا إلى الجنّة , وأنّ الـملائكة لتضع أجنحتها رضا لطالب العلم , وإنّ طالب العلم يستغفر له من في السّماء والأرض حتّى الحيتان في الـماء , وإنّ فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب , إنّ العلماء هو ورثة الأنبياء , إنّ الأنبياء لم يورّثوا ولا درهما , إنّما ورّثوا العلم , فمن أخذه , أخذ بـحظّ وافر

Dari Katsir bin Qais Radhiyallahu’anhu, dia berkata : “Ketika aku sedang duduk disebelah Abu Darda’ di Masjid Damaskus. Tiba – tiba datang seorang laki – laki kepadanya, lalu laki – laki itu berkata : “Wahai Abu Darda’, Aku datang kepada mu dari kota Madinah –kota Madinah Rasulullah- untuk keperluan sebuah hadits yang sampai kepada ku bahwa engkau pernah meriwayatkan nya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Abu Darda’ berkata : “Apakah kamu datang (sekalian) untuk berdagang?” Dia menjawab : “Tidak” Abu Darda’ berkata lagi : “Apakah kamu datang (sekalian) untuk keperluan selain itu?” Dia (laki – laki itu) menjawab : “Tidak” Abu Darda’ berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap – sayap nya. Karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang menuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada didalam air. Sesungguhnya keutamaan seorang alim (ulama) dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi. Dan Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.”

[Hasan Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah dalam Sunan nya hadits no 223, Imam Abu Daud rahimahullah dalam Sunan nya, hadits no 3641. Imam Ibnu Hibban rahimahullah didalam Shahih nya hadits no 88. Imam At-Tirmidzi rahimahullah didalam Sunan nya hadits no 2682, Imam Ad-Darimi rahimahullah didalam sunan nya, hadits no 342, Imam Ahmad rahimahullah didalam Musnad nya, hadits no 21612 (tahqiq Ahmad Syakir) atau no 21715 (tahqiq Syuaib dkk). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, dan dihasankan oleh Syaikh Syu’aib, Syaikh Fawwaz, Syaikh Khalid, Syaikh Hamzah]

Berlindung kepada Allah dari malas menuntut ilmu dan ilmu yang tidak bermanfaat

عن عبد الله بن الحارث قال : كان إدا قل لزيد بن أرقم : حدّثنا ماسمعت من رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول : لا أحدّثكم إلاّ ماكن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم حدّثنابه . ويأمرنا أن نقول : اَللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ . اَلْلهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا , أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا , أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا . اَلْلهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ , وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ , وَمِنْ عِلْمٍ لاَيَنْفَعُ , وَدَعْوَةٍ لاَ تُسْتَجَابُ

Dari Abdullah bin Al-Harits Rahimahullah, ia berkata : Kebiasaan Zaid bin Arqam Radhiyallahu’anhu ketika dikatakan kepadanya : Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam..! maka ia (Zaid) menjawab : “Aku tidak akan menceritakan kepada mu kecuali sesuatu yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ceritakan kepada kami dan beliau memerintahkan kami untuk membaca doa : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat kikir, sifat pengecut serta dari adzab kubur.” “Ya Allah karuniakanlah kepada jiwa ku ketakwaan, serta bersihkanlah, karena Engkau sebaik – baik pembersihnya. Engkau adalah pengaturnya serta pemiliknya.” “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, ilmu yang tidak bermanfaat, serta doa yang tidak dikabulkan.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 5553. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani didalam Shahih Sunan An-Nasa’i]

Doa agar diberi keberkahan pada ilmu yang sudah dipelajari dan meminta ditambahkan ilmu yang bermanfaat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول :

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ , وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ , وَزِدْنِيْ عِلْمًا , وَالْحَمْدُ لِلّهِ عَلَى كُلِّ حَالِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah berilah aku manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepada ku. Ajarilah aku akan apa yang bermanfaat untuk ku dan tambahkanlah ilmu ku. Segalapuji bagi Mu yang Allah, pada segala keadaan.” [Shahih dengan penguat : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 251, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani didalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 205]

Didalam riwayat yang lain, juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berdoa :

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ , وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ , وَزِدْنِيْ عِلْمًا , وَالْحَمْدُ لِلّهِ عَلَى كُلِّ حَالِ , وَأَعُوْذُ باِللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah berilah aku manfaat dari apa yang Engkau ajarkan kepada ku. Dan ajarilah aku akan apa yang bermanfaat untuk ku dan tambahkanlah ilmu ku. Segalapuji bagi Mu yang Allah pada segala keadaan. Dan aku berlindung kepada mu ya Allah dari azab Neraka” [Shahih dengan penguat : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 3833. Dan Diriwayatkan juga oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 3599. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Mengikat Ilmu dengan mencatatan, memahami dan menghafalnya.

عن عبد الله بن عمرو قال : كنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه , فنعتنى قريش وقالوا : تكتب كلّ شيء سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم , ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر يتكلّم في الغضب والرّضا؟ فأمسكت عن الكتب فذكرت ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم , فأومأ بأصبعه إلى فيه وقال : ” أُكْتُبْ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ , مَاخَرَجَ مِنْهُ إِلاَّ حَقٌّ “

Dari Abdullah bin Umar –Radhiyallahu’anhu- ia berkata : “Aku menulis segala apapun yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan aku bermaksud menghafalnya. Kemudian masyarakat Quraisy melarangku. Mereka mengatakan : “Kamu menulis segala sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, sementara Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah manusia yang terkadang ia berbicara dalam keadaan marah dan terkadang ridha?” Kemudian aku berhenti menulis. Kemudian hal tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Saat itu beliau menujuk mulutnya dan beliau bersabda : “Tulislah, Sesungguhnya Demi Dzat yang jiwa ku berada didalam genggaman tangan-Nya. Tidak ada yang keluar dari ku melainkan kebenaran.”

[Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 501. Dishahihkan oleh Husain Salim dalam takhrij Sunan ad-Darimi hal 429. Dalam sebagian cet hadits ini no 484. Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 3646. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud 2/408. Dishahihkan juga oleh Syaikh Syuaib hafizhahullah didalam Takhrij Sunan Abu Daud 4/489-490. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah didalam Musnad nya, hadits no 6510. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib dan kawan – kawan dalam Takhrij Musnad 11/57-58]‎

Hilangnya ilmu dan Bahayanya Berfatwa Tanpa Ilmu

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه يقل : سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول : إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمِ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ , وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء , حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا , اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًاجُهَّالاً , فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ , فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu’anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari (dada) manusia. Akan tetapi diangkatnya ilmu dengan cara mewafatkan para Ulama. Sehingga apabila tidak tersisa lagi orang alim (ulama), maka manusia akan menjadikan orang – orang bodoh menjadi pemimpin (ulama) mereka. Ketika mereka (orang bodoh yang diangkat menjadi ulama) ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

[Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah didalam shahihnya hadits no 6796:2673 dan Imam At-Tirmidzi rahimahullah didalam sunan nya hadits no 2652]

Keutamaan Mempelajari al-Qur’an dan Mengajarkan nya

عن عثمان رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : ” خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Dari Utsman Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik – baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkan nya.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 5027. Diriwayatkan juga oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 2907. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 1402]

Dalam riwayat yang lain juga

عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال : قال النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ” إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

dari Utsman bin Affan Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling utama diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkan nya.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 5028. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 2908 dan Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 211]

Keutamaan Mempelajari Hadits dan Mengajarkan nya

عن عبد الرّحمن بن عبد الله بن مسعود يُحَدِّثُ , عَنْ أَبِيْهِ , عَنْ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : ” نَضَّرَ اللهُ امْرَأَ , سَمعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبلَّغَهَا , فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ , ثَلاَثُ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلمٍ : إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلّهِ , وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ , وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ , فَإنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهمْ ”

Dari Abdurrahman bin Abdullah bin Masud yang bercerita dari ayahnya dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Semoga Allah memperindah wajah orang yang mendengar ucapan ku, kemudian dia menyadarinya, menjaga nya dan menyampaikan nya. Berapa banyak orang yang menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih berilmu daripadanya. Ada tiga hal yang tidak akan mengkhianati hati seorang muslim yakni mengikhlaskan amala perbuatan karena Allah, menasehati para pemimpin kaum muslimin dan terus berada pada barisan jamaah kaum muslimin. Sesungguhnya dakwah (kebaikan) akan mengelilingi mereka dari arah belakang mereka.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 2658. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (3/61) dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no 404]
Memperbanyak Istighfar Dalam Majelis Ilmu

عن ابن عمر رضي الله عنه قال : كاَنَ يُعَدُّ لِرَسُولِ الله صلّى الله عليه وسلّم فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُوْمَ : ” رَبِّ اغْفِرْلِيْ , وَتُبْ عَلَيَّ , إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الْغَفُوْرُ ”

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, dia berkata : “Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bisa dihitung dalam satu majelis sebelum berdiri pergi, beliau mengucapkan sebanyak seratus kali : “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Pengampun.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 3434. Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 1516. Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 3814. Diriwayatkan juga oleh Imam An-Nasa’i rahimahullah didalam Sunan al-Kubra, hadits no 10219. Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Hibban rahimahullah didalam Shahih nya, hadits no 927 dan Imam Ahmad rahimahullh didalam Musnad nya, hadits no 4726. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah didalam Adabul Mufrad hadits no 618. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah didalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/414-415 dan Shahih Ibnu Majah no 3814 dan Dishahihkan juga oleh Syaikh Syuaib dalam banyak tempat, diantaranya dalam Takhrij Sunan Abu Daud juz 2 hal 627 dan Takhrij Sunan Ibnu Majah juz 2 hal 719]‎

Berkeinginan Kuat Menjadi Seperti Orang lain yang Memiliki Ilmu

عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم : ” لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ , وَرَجُلٌ آتَاهُ الله الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu berkata : bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Tidak boleh Hasad kecuali dalam dua perkara. 1.Terhadap orang yang diberi harta oleh Allah, lalu dia menghabiskan nya dijalan yang benar. 2.Dan terhadap orang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkan nya kepada orang lain.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah didalam Shahih nya, hadits no 73, juga dalam hadits no 1409, 7141 dan 7316]

Malu dan Berpaling Dari Menuntut Ilmu

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم بَيْنَمَا هُوَ جَالِسُ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرِ , فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه وسلّم وَذَهَبَ وَاحِدٌ , قَالَ : فَوَقَفَا عَلَى رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه وسلّم فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيْهَا , وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ , وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهَبَا . فَلَمَّا فَرَغَ رَسُوْلُ الله صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : ” أَلاَ أَخْبِرُكُمْ عَنِ الْنَّفَرِ الثَّلاَثَةِ ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ الله , وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ , وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ ”

Dari Abu Waqid al-Laitsi bahwa ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sedang duduk dalam majelis di masjid dikelilingi oleh para sahabat, tiba – tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah dan yang satunya lagi pergi. Kedua orang itu berdiri dihadapan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, salah seorang dari mereka melihat celah di sela majelis lalu dia duduk disitu. Dan satu lagi duduk dibagian belakang majelis. Sementara yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Sesudah menyampaikan nasehat (ceramah) beliau bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang tadi? Adapun orang yang pertama, ia mendekati Allah, maka Allah pun mendekatinya. Orang yang kedua, ia malu – malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Adapun orang yang ketiga, ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.” [Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 66 dan hadits no 474]‎

Diantara Tanda – Tanda Hari Kiamat adalah Diangkatnya Ilmu dan Tersebarnya Kebodohan Terhadap Agama.

أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ , وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ , وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ , وَيَظْهَرَ الزِّنَى

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Diantara tanda – tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, banyaknya orang minum khamar dan perzinaan dilakukan dengan terang – terangan.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah didalam shahih nya, hadits no 6785 : 2671]

Kesalahan Didalam Menuntut Ilmu yang Harus Dihindari

حَدَّثَنِي ابْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِك عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صلّى الله عليه وسلّم يَقُوْلُ : ” مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ , أَوْلِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ , أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ , أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ

Dari Ibnu Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu agar dia dianggap sebagai ulama, atau untuk berdebat dengan orang bodoh, atau untuk memalingkan wajah orang lain kepadanya. Maka Allah akan memasukkan nya kedalam neraka.” [Hasan : Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah didalam sunan nya, hadits no 2654. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah didalam Sunan Suanan At-Tirmidzi jilid 3 hal 59-60 no hadits sama]‎

Bahaya Menuntut Ilmu Untuk Mencari Dunia

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم : ” مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ , لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا , لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma wanginya surga pada hari kiamat”. [Hadits Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 252. Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud rahimahullah dalam sunan nya, hadits no 3664. Diriwayatkan juga oleh Imam Ibnu Hibban rahimahullah dalam shahih nya, hadits no 78. Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Hakim rahimahullah dalam Al-Mustadrak nya, hadits no 288. Dishahihkan oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi rahimahullah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dan Syaikh Syu’aib hafizhahullah dalam beberapa kitab takhrij nya.]

Ilmu itu adalah kenikmatan dari Allah, maka hendaklah selalu menjaga keikhlasan.

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ ، قَالَ : تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ : أَيُّهَا الشَّيْخُ ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : نَعَمْ ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا ، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ ، قَالَ : قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ ، فَقَدْ قِيلَ , ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا ، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ ، قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ , وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ ، فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا ، قَالَ : فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ ، قَالَ : مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ ، فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ .”

Dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata : “Ketika orang – orang telah beranjak pergi dari hadapan Abu Hurairah, berkatalah Natil seorang penduduk Syam, dia bertanya : “Wahai Syaikh, sampaikanlah kepada ku sebuah hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.!” Abu Hurairah menjawab : “Baiklah, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak adalah orang yang mati syahid (dimedan perang). Kemudian dia diperlihatkan semua kenikmatan yang pernah Allah berikan kepada nya, dan dia mengakui semua nikmat itu. Lalu Allah bertanya : “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?” Dia (orang mati syahid) menjawab : “Aku telah berperang karena-Mu, sehingga aku mati syahid.” Allah berfirman : “Engkau Dusta (Bohong), sebenarnya engkau berperang hanya karena ingin disebut sebagai pemberani, dan engkau telah dipanggil demikian.” Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk menyeret dengan wajahnya dan melemparkan nya kedalam neraka. Dan setelah itu, didatangkan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkan ilmu dan membaca al-Qur’an, dia akan dihisab dan diperlihatkan semua kenikmatan yang pernah Allah berikan kepadanya, dan dia mengetahui semua nikmat itu. Lalu Allah bertanya kepadanya : “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?” Dia menjawab : “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkan ilmu, dan aku membaca al-Qur’an karena Mu.” Allah berfirman : “Engkau Dusta (Bohong), sebenarnya engkau belajar ilmu agar disebut Ulama, dan membaca al-Qur’an agar engkau disebut sebagai Qari’, dan engkau telah dipanggil demikian.” Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk menyeret dengan wajahnya dan melemparnya kedalam neraka. Dan setelah itu didatangkan pula seseorang laki – laki yang mendapatkan keluasan rezeki dari Allah. Dia akan dihisab dan diperlihatkanlah semua kenikmatan yang pernah Allah berikan kepadanya, dan dia pun mengetahui semua nikmat itu. Lalu Allah bertanya kepada nya : “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?” Dia menjawab : “Aku tidak meninggalkan sedikitpun jalan yang Engkau cintai melainkan aku berinfaq padanya karena Mu.” Allah Berfirman : “Engkau Dusta (Bohong), sebenarnya engkau melakukan semua itu hanya ingin disebut sebagai seorang darmawan dan engkau telah dipanggil demikian.” Kemudian Allah memerintahkan para malaikat untuk menyeret dengan wajahnya dan melemparnya kedalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah didalam Shahih nya, hadits no 4923 : 1905]

Ilmu yang bermanfaat, pahalanya akan mengalir terus walaupun pemilik nya sudah mati.

عن أبي هريرة أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ , أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apabila anak Adam (seorang manusia) meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga : 1. Shadaqah Jariyah, 2. atau Ilmu yang Bermanfaat, 3.atau Anak Shaleh yang mendoakan nya.” [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih nya no 1631, dishahihkan oleh Imam Muslim rahimahullah]‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar