Translate

Sabtu, 07 April 2018

Kramat Badigul Petilasan Yang Sudah Banyak Kerusakan

Badigul, begitu orang menyebut bukit kecil di kota Bogor bagian Selatan ini. Selintas tak ada yang nampak istimewa pada segundukan tanah di atas lahan seluas 5000 meter persegi itu. Hanya ruput halus lapangan golf yang mengelilinginya. Di sisi barat berdiri sebuah bangunan sport center milik perumahan elite Rancamaya. Di sisi lain nampak sebuah gedung megah pusat penelitian dan pengembangan agama Budha. Bukit itu sendiri kini telah menjadi miliki perumahan Rancamaya.

Namun 25 tahun lalu, sebelum Badigul digusur pengembang Rancamaya, bukit ini adalah sebuah tempat yang amat dikeramatkan masyarakat Sunda. Betapa tidak, Badigul diyakini sebagai tempat mandapa Prabu Siliwangi. Di bukit ini sang Prabu sering semedi hingga kemudian ngahiyang menghadap Sang Pencipta. Dulu orang berbondong-bondong berziarah pada leluhur mereka di bukit Badigul yang luasnya masih 5 hektar. Saat itu masih terdapat beberapa alat gamelan sunda yang memiliki kekuatan magis, namun kini menghilang entah ke mana.

Mayoritas masyarakat Bogor meyakini Kerajaan Pakuan Pa­jajaran beribukota di Batutulis. Begitu pula dengan buku-buku sejarah kerajaan-kerajaan yang eksis di tanah Pasundan, pada umumnya menilai Kerajaan Paja­jaran berpusat di Kota Bogor.

Jejak ibukota Kerajaan Pa­jajaran di Bogor diperkuat oleh keberadaan Prasasti Batutulis. Prasasti ini dibuat Prabu Sura­wisesa pada 1533, menggunakan aksara Sunda kuno, dituangkan dalam 8,5 baris. Prabu Surawis­esa adalah putra Sri Baduga Ma­haraja Ratu Aji di Pakuan alias Prabu Siliwangi. Ia melanjutkan tahta sebagai Raja Pajajaran setelah sang ayah wafat. Prabu Siliwangi wafat pada akhir 1521. Prasasti Batutulis dibuat untuk mengenang 12 tahun wafatnya Prabu Siliwangi.

Prabu Surawisesa melukiskan kepemimpinan sang ayah sebagai era keemasan Sunda. Pada era Prabu Siliwangi daerah kekua­saan Pajajaran membentang ko­koh, yang mencakup sebagian Lampung, seluruh wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten hingga barat Jawa Tengah. Se­dangkan rakyat Pajajaran diki­sahkan hidup makmur, damai dan sejahtera. Peneliti asal Portu­gis, Scopio menyebut era Prabu Siliwangi sebagai kepemimpinan yang adil dan bijaksana.

Semua mafhum Batutulis sebagai prasasti penting perjala­nan Kerajaan Pajajaran. Namun belum banyak masyarakat yang tahu bila Badigul memiliki nilai sejarah yang berkorelasi erat dengan Batutulis.

Dalam Prasasti Batutulis diki­sahkan, jasa-jasa besar Prabu Siliwangi saat bertahta sebagai raja Pajajaran pada 1482-1521 alias selama 39 tahun, yakni membuat parit (pertahanan) Pakuan, membuat tanda perin­gatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, dan membuat Telaga Rena Mahawijaya.

Rancamaya memiliki mata air yang sangat jernih. Tahun 1960-an di hulu Cirancamaya ini ada sebuah situs makam kuno dengan pelataran berjari-jari 7,5 m tertutup hamparan rumput halus dan dikelilingi rumpun bambu setengah lingkaran. Dekat makam itu terdapat pohon hampelas, patung badak setinggi kira-kira 25 m dan sebuah pohon beringin.

Dewasa ini seluruh situs sudah “dihancurkan” orang. Pelatarannya ditanami ubi kayu, pohon-pohonannya ditebang dan makam kuno itu diberi saung. Di dalamnya sudah bertambah sebuah kuburan baru, lalu makam kunonya diganti dengan bata pelesteran, ditambah bak kecil untuk peziarah dengan dinding yang dihiasi huruf Arab. Makam yang dikenal sebagai makam Embah Punjung ini mungkin sudah dipopulerkan orang sebagai makam wali. Kejadian ini sama seperti kuburan Embah Jepra pendiri Kampung Paledang yang terdapat di Kebun Raya yang “dijual” orang sebagai “makam Raja Galuh”.

Lokasi Telaga Renamahawi­jaya diperkirakan berada di seki­tar Badigul. Konon danau ini mengelilingi bukit Badigul. Bukit Badigul sendiri dalam sejumlah literatur, dikisahkan sebagai tem­pat semedi raja-raja Pajajaran kala itu. Badigul merupakan tem­pat “suci” para raja untuk ber­munajat kepada sang pencipta.

Telaga yang ada di Rancamaya, menurut Pantun Bogor, asalnya bernama Rena Wijaya dan kemudian berubah menjadi Rancamaya. Akan tetapi, menurut naskah kuno, penamaannya malah dibalik, setelah menjadi telaga kemudian dinamai Rena Maha Wijaya (terungkap pada prasasti). "Talaga" (Sangsakerta "tadaga") mengandung arti kolam. Orang Sunda biasanya menyebut telaga untuk kolam bening di pegunungan atau tempat yang sunyi. Kata lain yang sepadan adalah situ (Sangsakerta, setu) yang berarti bendungan.

Bila diteliti keadaan sawah di Rancamaya, dapat diperkirakan bahwa dulu telaga itu membentang dari hulu Cirancamaya sampai ke kaki bukit Badigul di sebelah utara jalan lama yang mengitarinya dan berseberangan dengan Kampung Bojong. Pada sisi utara lapang bola Rancamaya yang sekarang, tepi telaga itu bersambung dengan kaki bukit.

Bukit Badigul memperoleh namanya dari penduduk karena penampakannya yang unik. Bukit itu hampir "gersang" dengan bentuk parabola sempurna dan tampak seperti "katel" (wajan) terbalik. Bukit-bukit disekitarnya tampak subur. Badigul hanya ditumbuhi jenis rumput tertentu. Mudah diduga bukit ini dulu "dikerok" sampai mencapai bentuk parabola. Akibat pengerokan itu tanah suburnya habis.

Bagidul kemungkinan waktu itu dijadikan "bukit punden" (bukit pemujaan) yaitu bukit tempat berziarah (bahasa Sunda, nyekar atau ngembang=tabur bunga). Kemungkinan yang dimaksud dalam "rajah Waruga Pakuan" dengan Sanghiyang Padungkulan itu adalah Bukit Badigul ini.

Kedekatan telaga dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanagara selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi (Setu Gangga) yang terletak dalam istana Kerajaan Indraprahasta (di Cirebon Girang). Setelah bermandi- mandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai.

Spekulasi lain mengenai pengertian adanya kombinasi Badigul-Rancamaya adalah perpaduan gunung-air yang berarti pula SUNDA-GALUH].

Menurut kesaksian warga asli Rancamaya, pada awal pemban­gunan kompleks perumahan dan padang golf Rancamaya tahun 1992-1993, warga setempat sem­pat menyampaikan keberatan. Mereka berkeyakinan, di Badigul terdapat sejumlah menhir, prasas­ti serta beberapa makam keramat “karuhun” alias raja-raja Paja­jaran. Kini puing-puing sejarah tersebut sudah terkubur tanah.

Lokasi Makam Prabu Siliwangi?

Terdapat ragam opini ma­syarakat terkait lokasi makam Prabu Siliwangi. Ada yang be­ranggapan makam raja Sunda paling masyhur itu berada di Badigul. Ada pula yang menilai makam sang prabu berada di Gunung Salak. Berbagai tragedi Gunung Salak pun kerap dikait-kaitan sejumlah pihak dengan informasi keberadaan tempat “suci” raja-raja Sunda di sana. Pendapat berikutnya, makam­nya terdapat di Kebun Raya Bogor. Opini lainnya, ia dimak­amkan di Leuweung Sancang, Pamengpeuk, Garut.

Sebagian tokoh berpandangan makam Prabu Siliwangi berlokasi di Bukit Badigul. Dasarnya adalah dalam berbagai literatur sejarah-sejarah Sunda diungkapkan, bahwa Prabu Siliwangi dimak­amkan di Badigul, Rancamaya. Karenanya, ia kerap dijuliki “Sang Mokteng ing Rancamaya”, yang artinya yang dipusarakan di Rancamaya.

Sejumlah orang tua, buday­awan Sunda, dan kiai “khos” yang memiliki daya linuwih tinggi yang pernah penulis jumpai di beberapa daerah juga berpandangan, bahwa makam Prabu Siliwangi berlokasi di Ba­digul. Diantaranya, yait Guru Teupa (Empu) Kujang Pajajaran, Abah Wahyu Affandi Suradina­ta. Menurutnya, dari berbagai catatan-catatan sejarah yang di­bacanya, makam Prabu Siliwangi berlokasi di Badigul.

Sebelum digusur oleh pengembang Rancamaya, Badigul sangat dikeramatkan masyarakat Sunda. Lokasi ini kerap didatangi peziarah yang datang dari berbagai penjuru negeri. Orang berbondong-bondong mendatangi Badigul untuk napak tilas dan memberikan doa kepada leluhur Pajajaran.

Setelah areal Bukit Badigul dikuasai pengembang Rancamaya, sejak saat itu situs tersebut ikut punah ditelan zaman. Hingga kini belum terlihat adanya upaya, baik dari pengembang maupun Pemda Bogor untuk mengembalikan status Badigul sebagai situs bernilai sejarah tinggi bagi eksistensi Kerajaan Pajajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar