Translate

Selasa, 03 April 2018

Petilasan Prabu Siliwangi Di Gunung Hejo Purwakarta

Gunung Hejo yang melingkar di tol Cipularang menyimpan penuh misteri. Gunung yang dikelilingi perkebunan karet Perkebunan Nusantara VIII Gunung Hejo-Cikumpay oleh warga dan penziarah dijadikan tempat keramat.

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Hejo dikenal sebagai tempat ritual pemujaan dan juga pesugihan. Konon katanya banyak orang dari berbagai daerah datang ke sini untuk meminta kekayaan dan sebagainya. Gunung Hejo sendiri dianggap sebagai salah satu lokasi kerajaan gaib terbesar di Pulau jawa.

Asal mula dinamakan Gunung Hejo adalah pernah terjadi kebakaran hutan di area Hejo. Hingga meluluhlantahkan semua area tersebut. Saat bencana tersebut, semua hangus terbakar, Tetapi hanya Gunung Hejo yang tidak tersentuh api sedikitpun. Pernah juga terjadi musim kemarau yang panjang hampir 9 bulan lamanya. Pohon dan semak belukar kekeringan, bahkan dedaunan menguning rontok  Namun anehnya hanya pohon-pohon di sekitar area Gunung itu  yang masih berwarna hijau, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya "Gunung Hejo". Gunung Hejo letaknya cukup jauh dari jangkauan pemukiman masyarakat umum.

Dalam sejarahnya, Gunung Hejo merupakan tempat petilasan dari raja-raja Pasundan di jaman dahulu seperti Prabu Kiansantang, Prabu Siliwangi, Kyai Haji, Ki Buyut Sepuh dan Raden Surya Kencana. Di sini mereka sering melakukan pertemuan untuk membahas berbagai macam hal, mulai dari pemerintahan hingga agama.

Di sana, hampir tiap hari didatangi penziarah yang datang dari berbagai daerah tidak hanya pulau Jawa bahkan sampai datang dari Batam. Kuncen Gunung Hejo, Jaya Sukaya  mengatakan, Gunung Hejo yang berada di Desa Gunung Hejo, Kecamatan Darangdan, Purwakarta selama ini dijadikan tempat keramat oleh orang-orang.

Menurutnya, di Gunung Hejo itu tidak ada makam orang suci ataupun wali tapi di sana sebagai tempat Patilasan Kasuhunan Prabu Siliwangi. "Cerita orang tua dulu bahwa Prabu Siliwangi menjadikan Gunung Hejo sebagai tempat kompromi," katanya.

Ketika didesak pertanyaan, dengan siapa Prabu Siliwangi berkrompomi, apakah dengan makhluk gaib atau dengan pasukan apa ? Kuncen Gunung Hejo itu tidak bisa memberikan jawaban.

Di atas Gunung Hejo terdapat sebuah tempat yang dianggap keramat. Tempat ziarah yang selalu dikunjungi orang itu merupakan bangunan berbentuk makam. Namun menurut kuncen Jaya, bangunan itu sebenarnya bukan makam tapi tempat patilasan. "Bangunan mirip makam itu merupakan kebaikan dari orang Sumedang yang berhasil setelah berziarah ke sini," kata Jaya.

Tempat patilasan Prabu Siliwangi itu merupakan puser dayeuh berupa seonggok batu yang menutup lubang yang sangat dalam. Keangkeran Gunung Hejo yang dianggap sebagai sebuah mitos menjadi buah bibir masyarakat seiring dengan banyaknya terjadi kecelakaan di ruas tol Cipularang terutama Km 97-90 arah Bandung-Jakarta.

Jaya menambahkan, mitos Gunung Hejo yang dianggap angker dengan kerap meminta tumbal sebenarnya hanya ungkapan dari mulut ke mulut saja. Namun yang jelas, kata Jaya, di Gunung Hejo itu dulu menjadi tempat bernaung binatang monyet tapi sekarang sudah punah.

Letak petilasan itu berada di Kilometer 96,2 Tol Cipularang, tepatnya di sebelah kiri arah Bandung menuju Jakarta. Untuk menuju ke kawasan Gunung Hejo orang bisa menaiki anak tangga yang ada di samping tol tersebut. Wujud petilasan menyerupai makam dengan batu terbungkus kain putih. Di batu itulah konon Prabu Siliwangi dulu sering bertapa.

Karena saking pentingnya tempat ini, akhirnya banyak orang yang menganggap Gunung Hejo sebagai tempat keramat. Setiap malam jumat kliwon banyak peziarah yang datang ke tempat ini untuk meminta berkah, kekayaan, dan hal-hal duniawi lainnya.

Beberapa masyarakat mempercayai jika daerah ini dijaga oleh berbagai macam makhluk halus, di antaranya ada yang bernama Dewi Campaka, Jin Barkola, dan Hanoman. Selain itu, ada juga yang sering melihat penampakan wanita cantik dengan badan setengah ular.

Salah satu kisah mistis lainnya adalah seputar pembangunan jalan tol Cipularang. Seperti kita ketahui, banyak perbukitan yang dipotong ketika membangun jalan tol ini. Namun Gunung Hejo menjadi pengecualian karena tidak dipotong dan justru jalan tolnya yang memutari bukit ini.

Hal tersebut menimbulkan banyak dugaan jika Gunung Hejo memang dijaga oleh makhluk halus sehingga tidak bisa dipotong. Namun jika melihat sejarahnya, maka bisa jadi Gunung Hejo tidak ditembus untuk melindungi peninggalan budaya yang ada di sana.

Untuk bisa sampai di gunung ini harus melewati terowongan yang berada persis di bawah jalan tol. Setelah cukup jauh berjalan akhirnya sampai di kaki gunung hejo. Terlihat begitu tinggi menjulang dan kokoh, seakan menantang siapapun yang berani mendakinya. Untuk menuju kaki gunung ini akan dihadapkan dengan titian anak tangga yang terbuat dari besi ringan yang terlihat sudah ada patahan di beberapa anak tangganya. Tanah licin dan lembab khas hutan tropis menyambut. Bebatuan berselimut lumut dan lapuk menjadi penanda sudah tuanya usia hutan ini. Ditambah pohon-pohon tinggi besar menjadi penanda bahwa pastilah usia pohon ini pun sudah ratusan tahun.

Ada papan informasi yang menjelaskan bahwa ini adalah tempat bertemunya Prabu Siliwangi dengan Kian Santang. Di dalamnya terdapat sumbat batu yang katanya disebut puseur dayeuh, sebuah lubang yang ditutupi kain putih. Banyak sisa pembakaran kayu yang bisa dilihat di sekitar puseur dayeuh. Tak heran, karena petilasan ini dikeramatkan oleh masyarakat dan menjadi tempat tujuan para pelaku tapa. Sisa sesajen terlihat di salah satu sudut tak jauh dari sumbat batu, juga tenda seadanya yang dipakai untuk “menginap(?)”.  Sedikit bergidik rasanya ketika sampai di sudut itu.

Banyak orang meyakini Gunung Hejo, adalah sebuah kerajaan Jin yang selalu mengganggu pengguna jalan, dan diangap Keramat.

Bahkan di tempat Gunung Hejo juga ada ritual pemujaan yang disinyalir hanya untuk  mencari kekayaan, makin menambah daya mistis dan serem.

Disekitar Gunung Hejo juga ada 7 mata air yang kono diceritakan adalah tempat bermandinya orang orang yang suci.

Seperti yang dikatakan banyak warga penunggu gaib Gunung hejo bisa digambarkan adalah sesosok mahlukyang sangat tinggi besar warga menyebutnya dengan sebutan Hejo, itu Asal Usul yang diberikan oleh warga Gunung hejo.

Bagi warga setempat Gunung Hejo adalah tempat destinasi Wisata keluarga yang terletak diantara perbukitan di daerah Darangdan, Kabupaten Purwarkata, Jawa Barat.

Sekilas tentang Sejarah Gunung Hejo yang dikenal dengan keangkeranya, dahulu kala tempat ini adalah petilasan para Raja Raja tempat ini dijadikan sebagai tempat berunding hingga membahas semua dari berbagai hal, yang bisa memakmurkan rakyat hingga masalah Agama.

Di sekitar gunung itu juga terdapat sebuah cadas atau gunung batu yang dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan Gunung Patenggeng atau Gunung Masigit. Konon diceritakan, tempat ini sebagai petilasan putra maharaja Prabu Siliwangi.

Sementara di sebelah barat gunung, terdapat gunung berbukit. Tempat ini, dipercaya sebagai markas Belanda yang banyak benda-benda berharganya, seperti peti besi, emas, dan besi-besi tua peninggalan Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar