Translate

Sabtu, 14 April 2018

Serat Sejarah Kademangan Gumelem

Masyarakat Desa Gumelem, Kecamatan Susukan ternyata sangat bangga akan kekayaan dan keindahan alamnya, panorama yang menghiasi suasana desa menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang dari luar desa. Dari sekian banyak lokasi dan obyek yang dapat dijadikan wisata  beserta cerita-cerita yang berkembang . Di Desa Gumelem terdapat salah satu bukit panorama yang dinamakan Lembah Girilangan. Ketinggian Puncak bukit memang  tidak terlalu tinggi, namun dapat dirasakan kesejukan serta dapat menikmati keindahan panorama alam disekililingnya, di puncak bukit Girilangan terdapat peninggalan kuno dan mempunyai nilai sejarah tinggi yang dibangun sekitar abad 16 yaitu sebuah bangunan kuno yang terbuat dari kayu yang berbentuk cungkub atau makam serta tumpukan bata merah yang tertata rapi guna melindungi sebuah makam dari seorang yang Kharismatik di masa kejayaan Kerajaan Mataram , yaitu Ki Ageng Giring.

Ki Ageng Giring yang juga bergelar Ki Ageng Penderesan, bukanlah penduduk asli Desa Gumelem  dia adalah seorang pembesar yang datang dari keluarga Kerajaan Mataram. Perjalanan Ki Ageng Giring hingga sampai di Gumelem ternyata banyak mengalami kendala dan halangan serta ujian dari yang Kuasa namun dengan bekal keimanan yang kuat wilayah demi wilayah dilaluinya disetiap atau dimana Ki Ageng Giring tinggal pastilah Ki Ageng Giring meninggalkan jejak atau petilasan yang hingga saat ini dapat terlihat di Dukuh Bogem Desa Salamerta yang merupakan makam anaknya yang bernama Nawangsasi,  di Dukuh Kramat Desa Dermasari terdapat petilasan yang di gunakan untuk menenangkan diri  guna memohon  petunjuk kepada yang Kuasa.

Berbeda dengan dukuh, dusun, dan desa desa lain yang dilalui Ki Ageng Giring dalam usahanya mensyiarkan ajaran Islam , Desa Gumelem  nampaknya wilayah yang paling berarti bagi Ki Ageng Giring.

Ketika itu ki ageng giring beserta pengikut pengikutnya akan menempuh perjalanan dari Kramat Dermasari ke dukuh giring gunung kidul namun di dukuh Karang Lewas Ki Ageng Giring wafat karena usianya yang sudah sepuh. Sebelum meninggal beliau berpesan, beliau ingin dimakamkan di tempat yang tinggi atau di atas bukit.

Dengan rasa hormat, para pengikutnya memandikan jenazah Ki Ageng Giring di sumur Wringin Mbeji Desa Gumelem Kulon serta membuat keranda untuk membawa jenazah meneruskan perjalanan ke Dukuh Giring di wilayah Kabupaten Gunung kidul. Dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat yang telah ditentukan para pengikut  Ki Ageng Giring juga dihadapkan oleh beberapa peristiwa yang mengejutkan hal ini memang Ki Ageng Giring memiliki kelebihan atau kesaktian dalam masa hidupnya. Pengikut atau santri Ki Ageng Giring adalah manusia biasa yang punya kemampuan sangat  terbatas sehingga di suatu tempat di kaki Gunung Wuluh karena kelelahan , keranda yang digunakan untuk membawa jenazah Ki Ageng Giring pun diletakan di atas tanah, karena makin lama makin berat, tidak selang berapa lama juga tanah yang menjadi tempat landasan keranda juga lama kelamaan menurun ( ambles ) atau mendek. Dibukalah keranda jenazah Ki Ageng Giring. Seluruh pengikutnya yang setia bersama Ki Ageng Giring menjadi kaget dan bingung karena jenazah Ki Ageng Giring ternyata tidak ada lagi di dalam keranda  atau hilang. Dalam kebingungan, seluruh pengikut Ki Ageng Giring memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa sehingga seluruh pengikutnya dan santrinya sepakat untuk memakamkan keranda Ki Ageng Giring di sebuah bukit.

Untuk menandai keranda jenazah Ki Ageng Giring dimakamkan ,masyarakat Desa Gumelem dan sekitarnya menamakan Bukit Girilangan, dengan arti kata Ki Ageng Giring hilang. Dan lokasi tanah yang mendek hingga saat ini dikenal oleh masyarakat adalah Lemah Mendek. Bukit Girilangan kian menjadi indah. Makam Ki Ageng Giring pun makin banyak yang mengunjungi atau berziarah, ini dapat menjadi bukti bahwa Ki Ageng Giring adalah seorang yang di masa hidupnya mempunyai karisma dan kewibawaan yang tinggi. Hingga pada jamanya juga ,Raja Mataram R.Sutawijaya yang bergelar di Panembahan Senopati Ing Alogo Panotogomo juga mengutus saudaranya yang bernama Ki Udhakusuma untuk merawat Makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.

Sebagai utusan seorang raja yang akhirnya juga menjadi Demang  Pertama di Gumelem, dalam usahanya merawat Makam Ki Ageng Giring di Girilangan adalah dengan membangun sebuah cungkub di sekitar tahun 1816 masehi di lanjurtkan dengan membuat sebuah pagar keliling dari tumpukan bata merah dan  sebuah Gapura di depan cungkub.

Rasa hormat, bakti terhadap kebesaran jiwa Ki Ageng Giring ternyata masih sangat kental dan melekat pada masyarakat Gumelem dan sekitarnya bahkan banyak  sekali orang yang datang dari wilayah Kabupaten lain yang berziarah ke makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.

Cagar Budaya ini belum mendapatkan perhatian dan perawatan yang baik, oleh karena itu perlu langkah nyata melindunginya agar tetap terjaga. Perawatan masih swadaya oleh juru kunci dan warga, dan pengunjung yang melakukan ziarah ke Girilangan.

Untuk memasuki area makam terlebih dahulu melewati jalan berbatu dan menanjak. Tepat dipinggir sebelah kiri jalan terdapat sebuah lempeng batu yang dikenal sebagai batu sajadah, batu yang kerap digunakan untuk menjalankan ibadah shalat oleh para peziarah. Memasuki teras kedua yang ada hanya dataran pendek dengan beberapa tanaman kembang kamboja ditiap sisinya, begitu juga pada teras ke tiga. Pada teras ke empat terdapat sebuah bangunan pendopo yang biasanya dipergunakan sebagai tempat upacara adat para peziarah seperti selamatan dan sebagainya. Pada teras ke lima terdapat sebuah bangunan berbentuk gapura dari susunan batu bata yang dibentuk menyerupai bentuk ornamen candi dengan pintu kayu jati berukir yang sudah berumur ratusan tahun. Pintu inilah satu-satunya jalan masuk menuju makam.

Seperti pada makam-makam kuno lainnya, bentuk bangunan makam Ki Ageng Giring berupa sebuah cungkub beratap. Menurut juru kunci, kisah perjalanan Ki Ageng Giring juga sangat kental hubungannya dengan nama Desa Gumelem, yaitu dari kisah perjalanannya menuju Desa Giring Kabupaten Gunung Kidul. Saat rombongan sedang menyeberang hampir saja hanyut terbawa arus sungai yang deras, karena kejadian itulah desa yang dulunya bernama Desa Karang Tiris diganti menjadi Desa Gumelem dari kata kelelem atau tenggelam.

Setelah Ki Ageng Giring pergi untuk selamanya, Panembahan Senopati mengutus panglima perangnya yang bernama Wanakusuma alias Udakusuma alias Hasan Besari alias Ki Ageng Gumelem untuk menjaga makom Ki Ageng Giring sekaligus menjadi Demang disana. Diberinya tanah oleh Raden Sutawijaya dan Ki Ageng Gumelem menjadi Demang pertama di Desa Gumelem. Pada saat Ki Ageng Gumelem berangkat ke Desa seluas 972.802 hektar itu, Ki Ageng Gumelem membawa serta pengawal dan para abdi. Diantara abdi sastra, budayawan, seniman dan lain sebagainya. Maka dari itu sampai sekarang banyak kebudayaan Gumelem yang erat kaitannya dengan Mataram, salah satunya Batik dan Empu pandai besi.

Setelah Ki Ageng Gumelem, Kademangan diteruskan turun temurun yaitu kepada Demang Wiraredja, Cipta Suta I, Cipta Suta II, Mbah Sokaraja, Mbah Beji dan Nurdaiman I. Pada jaman Nurdaiman I, yang merupakan Putra Dari arsitek Mesjid Agung Nursulaiman di Banyumas. Gumelem pecah menjadi 2 bagian, yaitu Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. Gumelem Wetan diwariskan kepada Nurdaiman II, Gumelem Kulon diwariskan kepada Demang Nurasma. Selanjutnya setelah masa pemerintahan Demang II, ada Demang Mertadipa, Dipadipura, Krama Diwirya, Iman Wiredja, Iman Subandi dan yang menjadi Demang terakhir adalah Iman Wasisto pada kisaran tahun 1953. Krama Diwirya sebenarnya bukan Demang, karena Demang Iman Wiredja masih terlalu kecil dan belum mampu memimpin. Maka digantikan Krama Diwirya selama 25 tahun. Demang terakhir ” Iman Subandi ” memiliki nasib paling hina ( miskin ). Karena ada undang-undang pengalihan lahan dan pemerintahan. Dia mendaftar menjadi kepala desa, namun tidak dipilih oleh warganya. Maka beliau menjual harta bendanya termasuk rumahnya. Itulah sebabnya, bangunan pendopo maupun rumah demangnya sudah hilang dan berganti menjadi bangunan rumah pribadi yang cukup modern. Yang masih tersisa dan menjadi saksi adalah sebuah gerbang dan talud jalan menuju rumah Demang.

Sampai sekarang setiap hari Senin dan Kamis banyak orang yang berziarah ke Makam Ki Ageng Giring ataupun Ki Ageng Gumelem. Setiap malam Kamis Wage, sekitar 200 orang mengadakan Mujjahadah atau Doa bersama. Ketika akhir bulan Sadran, bisa berlipa-lipat para penzirah ke Girilangan.

Masjid aT-Taqwa Gumelem

Lokasi Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Masjid Besar Kauman atau Masjid At Taqwa dibangun pada tahun 1670 oleh Kyai Nur Daiman (Anak dari Kyai Nur Sulaiman; yang membangun Masjid Agung Banyumas). Bangunan utama ditopang 4 saka guru yang berpenampang bulat. 12 tiang terdapat disekeliling saka guru. Keunikan dari Masjid At Taqwa adalah umpak yang berbentuk bejana, terbuat dari batu andesit. Di atas mihrab terdapat inskripsi dengan huruf arab pegon, tertulis pada usuk. Inskripsi serupa juga terdapat di atas pintu utama, namun menggunakan huruf jawa .

MESKIPUN dari si­si kemegahan ba­ngunan banyak yang menga­lah­kan, keberadaan Masjid Jami At Takwa atau yang se­ring disebut Masjid Agung Gumelem, Kecamatan Su­sukan tidak akan dilupakan orang. Selain berperan besar da­lam pengembangan agama Islam di Banjarnegara, masjid berukuran 12×20 meter yang berada di Dusun Kauman me­miliki sejumlah keunikan. Meski telah berusia lebih dari 300 tahun dan pilar-pilar uta­manya belum pernah di­ganti, namun hingga kini ma­sih berdiri kokoh. Dalam ba­ngunan utama terdapat empat sa­ka guru berpenampang bu­lat, sedang di sekelilingnya sa­ka guru terdapat 12 tiang ma­sih belum lapuk dimakan usia. Kesemuanya masih berdiri te­gak pada umpak sebagai alas ber­bentuk bejana atau periuk yang terbuat dari batu andesit.

Di atas mih­rab terdapat in­kri­psi dengan hu­ruf arab pegon yang ditulis pada usuk. Inkripsi serupa juga ter­da­pat di bagian atas pintu utama masjid, namun meng­gu­nakan huruf jawa. Sedang arti dari tulisan tersebut belum diketahui.

Karena itu, tidak menghe­ran­kan kalau bangunan yang didirikan sekitar tahun 1670 oleh Kyai Nur Daiman, anak kandung dari Kyai Nur Sulaiman yang membangun Masjid Nur Su­lai­man Banyumas termasuk da­lam aset bangunan cagar bu­daya di Kabupatan Ban­jar­ne­gara dan dilindungi oleh Dinas Pa­riwisata dan kebudayaan (Disparbud).

Namun bila ditinjau dari per­kembangan agama Islam di Gu­melem, mengingat pada za­man pemerintahan Pa­nem­bah­an Senopati yang memerintah di kerajaan Mataram antara ta­hun 1586-1601, maka per­kembangan agama Islam telah ada sebelum abad 16. Se­hing­ga, tidak mustahil bila pada abad tersebut juga telah berdiri sebuah masjid. Diperkirakan, masjid tersebut juga dibangun oleh para wali, bahkan ada yang mengatakan bahwa ber­sa­maan dengan pembangunan masjid Agung Demak.

Cikal bakal keberadaan masjid Jami At Takwa juga tidak lepas dari sejarah wilayah setempat. Sebelum ada masjid tersebut, Gumelem dikenal sebagai bekas daerah perdikan atau keputihan.

Di dalam buku Benda Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara yang diterbitkan Disparbud Banjarnegara tahun 2006, awal cerita di Gumelem terdapat tokoh agama yang sekaligus sebagai pendiri desa yaitu Kiai Hasan Bisri. Dia mempunyai dua orang anak bernama Jokonino dan Wirakusuma.

Pada pembrontakan Gunung Tidar, Wirakusuma ikut memberontak, sementara di lain pihak Jokonino diperintahkan diperintahkan untuk menumpas pemberontakan. Dalam peperangan tersebut, Wirakusuma mati. Tapi sebelum mati, Wirakusuma sempat mengatakan kepada Jokonino kalau mereka adalah saudaranya yang telah berpisah lama.

Di hadapan Raja Solo, Kiai Hasan Bisri tidak mengakui kalau Wirakusuma adalah anaknya, namun Jokonino mengatakan kalau Wirakusuma adalah kakaknya. Karena telah berbuat salah, Wirakusuma dipenggal kepalanya. Setelah pemenggalan kepala selesai, baru Kiai Hasan Bisri bersedia mengakuinya. Kepala Wirakusuma dimakamkan di Solo, sedangkan tubuhnya di Gumelem. Berkat jasanya menumpas pemberontak, Jokonino diberi hadiah tanah yang kini menjadi desa Gumelem. Setelah beberapa tahun, Masjid Besar Gumelem didirikan.

Merunut pada sejarah atau riwayat secara turun temurun di wilayah Kademangan Gumelem, dikenal beberapa istilah, yakni Pekuncen, Mijen, Pesantren dan Keputihan. Grumbul Kuncen karena dulunya merupakan tempat tinggal juru kunci makam dan masjid. Adapun grumbul Pesantren karena dulunya sering digunakan untuk menyebarkan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar