Translate

Senin, 02 April 2018

Makna Filsafat Dalam Tradisi Jamasan Pusaka

Setiap bulan Jawa Sura, masyarakat Jawa umumnya dan Yogyakarta, senantiasa menyelenggarakan berbagai ritual budaya yang berorientasi kebatiniah. Ada berbagai ritual yang di gelar, antara lain ritual wungon, ada kungkum di tempuran, ada yang mengadakan sarasehan dan dianjutkan dengan upacara lampah ratri mubeng kampung atau bahkan mubeng beteng kraton Yogyakarta atau mengarak kebo bule Kyai Slamet dan ada pula yang melakukan persiapan dan jamasan tosan aji seperti keris, tombak dan lain sebagainya.

Menelaah Makna Batiniah Jamasan Tosan Aji atau Siraman Tosan Aji

Sebagai dasar landasan dilaksanakannya ritual jamasan Tosan Aji adalah semangat Tri Mataram yakni Mangasah Mingising Budi, Mamasuh Malaning Bumi dan Hamemayu Hayuning Bawono. Membuat budi dan pikiran dan rasa perasaan manusia semakin tajam, menghilangkan segala keangkaramurkaan yang merupakan bencana bagi bumi serta ikut melestarikan dunia sehingga dunia bisa menjadi tempat yang nyaman bagi manusia untuk hidup yang bermartabat, tidak hanya hidup hidupan atau asal hidup.

Oleh karena itulah di dalam pelaksaan jamasan atau siraman pusaka tosan aji melalui tahap-tahap yang perlu diteliti dalam nafas batiniah karena semua aktivitas dan ritualisme Jawa umumnya sarat makna dan banyak kandungan spiritual filosofis di dalamnya. Dalam melihat jamasan tosan aji yang kita perlu mencermati adalah adanya nilai batiniah yang dikandung dalam jamasan tersebut, bukan hanya semata-mata membersihkan secara fisik benda besinya.

Mengapa jamasan tosan aji biasanya dilakukan pada bulan Suro? lantaran bulan Suro memang dikhususkan bagi segala aktivitas manusia yang  secara khusus dihunjukkan kepada orientasi keilahian. Bulan Jawa pertama bagi orang Jawa memang dipilih untuk kegiatan yang berbau keilahian dan manusia masih mempunyai sisa sebelas bulan lain yang bisa digunakan untuk beraktivitas yang berkaitan dengan kepentingan manusiawi. Untuk kepentingan inilah kalau kita lihat jamasan tosan aji mengandung makna spiritual yang mendalam sebagai sebuah penghayatan/ungkapan manusia yang ingin meluruskan jalan hidupnya yang tengah mengembara di dunia ini. Jamasan tosan aji bagi orang Jawa merupakan sebuah wahana memeriksa diri atau mawas diri dengan menggunkan sarana atau panduan keris atau tosan aji lainnya, yang dibersihkan.

Ada sedikitnya 3 tahap yang dilakukan untuk setiap jamasan dan memerlukan ubarampe jamasan, atau disebut sarana/perlengkapan jamasan dan yang mengandung makna batiniah. Umbarampe yang ada umumnya merupakan symbol atau doa dan harapan yang terwujud dalam makanan dan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang merupakan simbolisasi dari berbagai harapan dan doa.

Misalnya adanya ubarampe atau sarana, tumpeng punar yang merupakan harapan agar dengan jamasan manusia Jawa mampu menjadikan jiwanya punar, dalam bahasa Jawa punar jiwa sehingga semakin menjadikan dirinya berwibawa. Semakin mempunyai kewibawaan yang tinggi dan dipandang oleh masyarakat.

Di dalam sarana ada dian yang menyala, dengan harapan agar hidup manusia itu mampu menjadi pepadhang, cahaya bagi manusia lain. Urip iku urub, urub iku laras, laras iku respati, respati iku careming katentreman. Hidup adalah sebuah partisipasi membangun dunia, oleh karena itu tujuan harusnya selaras, keselarasan itu menjadikan yang melihat merasa senang karena mengena di hati dan semua itu akhirnya bermuara di dalam ketentraman dunia dan ketentraman hati.

Ada degan atau kelapa muda yang sudah diperes atau siap digunakan. Cengkir atau degan ini mengharapkan agar dalam melaksanakan sikap mawas diri dengan tekad yang kuat, kencenging pikir dan disertai dengan harapan yang indah dan baik yang dimanisfestasikan dalam gula kelapa setangkep. Berbarengan dengan itu, juga disuguhkan pisang sanggan dari jenis raja pulut yang melambangkan harapan agar manusia senantiasa dekat dan menyatu dengan alam, dengan sesamanya dan dengan Tuhannya. Ada pula suruh ayu atau daun sirih yang melambangkan agar manusia dalam melaksanakan jamasan tosan aji mampu menimba ilmu yang ada di dalam laku jamasan dan bisa dibumikan, atau dilaksanakan di dalam kehidupan nyata.

Adanya ingkung ayam diharapkan manusia senantiasa menekung dan bersujud di hadapan Allah Yang Maha Tinggi. Kemudian adanya jajan pasar melambangkan manusia senantiasa rukun antar sesamaya dan alamnya dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhannya yang dilandasi dengan filsafat Tumengaa ing Akasa, tumungkula ing pertiwi, sikap hormat kepada orang tua, kepada alam dan kepada Yang di Langit. Semua ini dimanifestasikan dalam ubarampe yang berupa jajan pasar yang berupa buah-buahan yang berada di dalam taanah, pala kapendhem, buah-buahan di atas tanah-pala kasimpar, dan buah-buahan yang tergantung, pala gumantung.

Di samping itu biasanya nasi yang dihidangkan dibarengi dengan berbagai macam sayur yang terpenting adalah adanya buah kacang panjang yang simbolisasinya mempunyai harapan, mumpung jantng isih jumangkah, jangkepana panjange pandonga lan punjunge panyuwunan, artinya selagi masih hidup lengkapilah dia dan harapan dengan tindakan yang nyata. Jadi doa dan harapan tidak hanya dibiarkan kosong melompong tanpa daya dan upaya yang maksimal, tetapi harus disertai sebuah usaha keras untuk mewujudkan hidup menjadi sebuah bukti kebaikan bagi sesama hidup.

Lalu yang biasanya ada adalah adanya kelekan sepasang, kelekan adalah anak ayam yang masih berbunyi kelek-kelek. Sebuah pertanda anak ayam ini mencari induknya, sebagai mana manusia yang rindu pada perindungan Tuhan lantaran ancaman bencana dan bahaya di dunia. Manusia diharapkan senantiasa mencari Tuhannya dalam aras pencarian kebatinan dalam persatuan dengan Tuhan untuk mewujudkna Manunggaling Kawula Gusti dan Gusti Lawan Kawula.

Lambang-Lambang Mengemuka Tidak Saja dalam Ubarampe atau Sarana, Tetapi Juga dalam Jamasannya Sendiri.

Misalnya dalam jamasan perlu disiapkan berbagai sarana ntuk membersihkan seperti kuas yang tidak saja satu tetapi paling tidak tiga buah. Ada pula jeruk nipis yang sudah dihilangi kulitnya atau serengnya dalam bahasa Jawa. Kemudian jeruk ini diperas dan diambil airnya. Air ini baik untuk membersihkan kerisnya atau pun untuk sarana pencampuran warangan. Ada pula kawul atau iratan atau seratan dari pohon bambu yang tahan terhadap hewan kecil-kecil atau bubuk. Ada pula air  bersih dan air bunga. Sebelum dilaksanakan jamasan umumnya dilakukan ritual doa ucapan syukur bahw masih dipercaya untuk merawat dan melestarikan hasil budaya leluhur.

Dalam ritual jamasan sendiri, ada tiga tahapan yang harus dilalui manusia yaitu :

Tahapan Pertama

Yakni memutihkn keris atau tosan aji lainnya. Di masa dulu, memutihkan keris ini dilakukan pada malam hari dengan harapan bahwa sambil melakukan pemutihan keris, juga melakukan  mawas diri apa yang sudah diperbuat selama satu tahun. Apa kelebihan dan apa kekurangan yang pantas dicatat dalam kehidupan. Dengan adanya mawas diri ini, diharapkan agar manusia semakin maju dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik dan lebih tajam rasa perasaannya dan bersih hatinya.

Disamping mempunyai makna filosofi, juga mempunyai makna fungsional agar air jeruk yang ditorehkan di dalam bilah keris makin meresap dan membuat keris semakin baik. Karena kalau dilakukan siang hari warna keris akan menjadi hijau dan tidak selaras dengan harapan yang mencucinya.

Bisa jadi hampir tiga malah pemutihan ini dilakukan dalam upaya lebih mengenal diri dan kekurangan manusia masing-masing. Pelaksanaan pemutihan di malam hari juga diharapkan manusia semakin insyaf akan tugas luhur misinya di dunia bahwa ia hanya ditugaskan oleh Yang Empunya Hidup untuk bisa semakin menjadikan dunia semakin indah dan memberikan bukti kebaikan kepada sesama hidup.

Tahap Kedua

Perlu diingat bahwa warangan ini sejatinya adalah racun, arsenikum yang bila termakan manusia bisa meninggal. Namun anehnya kalau digunakan untuk mewarangi pusaka menjadikan pusaka indah. Ini tentu mengandung makna yang sangat dalam yang pantas dibedah.

Proses pewarangan sendiri, umumnya dilakukan di pagi hari sekitar jam sembilan pagi dengan harapan sinar ultraviolet Matahari masih banyak. Ini mengandung makna bahwa manusia perlu memohon terang Ilhi agar setelah diam mawas diri menjadi manusia yang baik dan sanggup melaksanakan segala titah Allah yang tertera dalamm berbagai kitab suci yang diturunkan. Bersamaan dengan itu, bilah keris yang sudah putih laksana kertas gerenjeng kemudian dijatuhi warangan dengan dioleskan sedikit demi sedikit. Ingat sedikit demi sedikit. Hal ini pula perlu disadari bahwa barang duniawi bagi manusia sebenarnya adalah sarana. Tetapi orang bakal terkena racun kalau terjerat dalam perburuan harta benda semata. Ini sebuah peringatan bagi manusia bahwa harta duniawi sebenarnya hanyalah sarana kehidupan untuk lebih memartabatkan manusia dan bukannya menjadi tujuan utama.

Kalau harta benda duniawi menjadi tujuan utama, bisa jadi manusia jatuh ke dalam jerat semu yang masuk dalam keracunan yang tidak mungkin selamat di akhirat. Kelebihan warangan berefek merusak bagi keris atau tombak sehingga hanya muncul hitam saja. oleh karena itulah perlu keselarasan dalam memberikan warangan ini sehingga benar-benar muncul pamor yang  indah yang juga diharapkan menjadikan manusianya semakin berwibawa setelah melakukan mawas diri dengan berbagai laku kehidupan seperti yang diterakan dalam berbagai laku keutamaan.

Tahap Ketiga

Tahapan mengolesi tosan aji dengan minyak wangi seperti cendana, mawar, melati dan seterusnya. Hal ini mengandung makna bahwa hidup manusia setelah melalui rangkaian dua tahapan kehidupan mawas diri dan melakukan koreksi dirinya untuk menebarkan keharuman nama. Niyat ingsung nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.

Bahwa manusia harusnya kembali membulatkan tekad dirinya untuk memberikan amal bukti baik kepada masyarakat, sesama dan lingkungannya berlandaskan tekad hati yang senantiasa baik, tak pernah menyakiti dan tidak pernah mempunyai sikap mencurigai dan ramah serta bersahabat kepada siapa saja, diteruskan dengan mengajak siapa saja untuk melakukan hal-hal yang baik, berkata yang jujur dan adil serta mengajak di jalan Allah.

Semua sikap dan laku itu kemudian ditambah dengan laku keutamaan. Bahwa manusia hidup itu perlu didukung dengan bukti nyata laku keutamaan dan membuktikan amal bukti kebaikan. Kalau manusia Jawa mampu mengedepankan itu semua maka urusannya menjadi lebih mudah.

Itulah makna memberikan wewangian bagi tosan aji dan bukannya untuk melestarikan pemahaman yang salah bagi setan dan sebagainya. Sekali lagi langkah kebatinan dan spiritualitas Jawa itu biasanya dimasukkan dalam berbagai lambang di dalam kehidupan orang Jawa dari pakaian, makanan, bangunan, senjata dan lain sebagainya, sehingga manusia Jawa perlu cermat dalam melihat hal ini dan yang penting lagi bahwa Jawa di sini bukan berarti etnik Jaa saja, tetapi Jawa dalam arti yang lebih luas yakni Javana, yakni hidup secara arif dan bijaksana, sehingga siapapun bisa menjadi Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar