Translate

Jumat, 05 Agustus 2016

Sejarah Pesantren Gebang Tinatar

Sejarah Pesantren Gebang Tinatar / Masjid Tegalsari dimulai dari Dsn. Setono, Tegalsari , Kecamatan Jetis sekitar 6 km selatan Kota Ponorogo Daerah tersebut awalnya berupa hutan yang dibuka oleh Pangeran Sumende, yang berasal dari Tembayat beserta tiga pengikutnya yaitu Kyai Donopuro, Kyai Noyopuro dan Kyai Wongsopuro. Selain pengikut, tiga ulama itu juga merupakan guru spiritual Pangeran Sumende.

Para ulama tersebut membangun desa dan mendirikan masjid dan pesantren tidak jauh dari kali Keang.keberadaan masjid tersebut sampai sekarang masih ada, yaitu masjid Baiturrahman di dusun Setono, Tegalsari. sesuai angka tahun yang tertera di tembok depan masjid bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1600 M, jauh sebelum pesantren Tegalsari didirikan. 
Salah satu santri pesantren Setono adalah putra kyai Ageng Grabahan Caruban bernama Besari sangat pandai Karena kepandaiannya lalu dijadikan menantu oleh Kyai Nursalim dari Dsn. Mantub, Ds. Ngasihan, Jetis. Kemudian Besari diberi tanah oleh Kyai Donopuro disebelah timur Desa Setono yang selanjutnya didirikan Masjid dan Pesantren Tegalsari. 

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Susuhunan Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi Kraman / pemberontakan yang dikenal sebagai “Geger Pecinan” dipimpin oleh Raden Mas Garendi / Sunan Kuning, seorang Pangeran keturunan Tionghoa berhasil menduduki istana. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. 

Susuhunan Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Ditengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning, kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Muhammad Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri di Pesantren Gebang Tinatar, dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah. Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Muhammad Besari, Allah swt mengabulkan doa Paku Buana II kembali bertahta di Keraton Kartosuro. Dari beberapa kisah, Kyai Hasan Besari mengutus salah satu santri Gebang Tinatar yang bernama Bagus Harun Basyariyah putra Pangeran Nolojoyo (Dugel Kesambi) Bupati Sumoroto untuk ikut memadamkan pemberontakan. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Muhammad Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Muhammad Bashari (Besari). Kemudian desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. 

Pesantren Tegalsari atau Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari adalah salah satu pesantren bersejarah di Indonesia. Pesantren ini terletak di desa Tegalsari kecamatan Jetis Ka‎bupaten Ponorogo pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari. Pesantren ini memiliki ribuan santri, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Di antara santri-santrinya yang terkenal adalah Pakubuwono II penguasa Kerajaan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito se‎orang Pujangga Jawa yang masyhur dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto.

Dalam sejarahnya, Pesantren Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini.

Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakangPakubuwono II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah swt mengabulkan doa Paku Buana II. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buana II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.

Setelah Kyai Ageng Muhammad Besari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Besari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Namun Pesantren Tegalsari telah banyak mengantarkan anak keturunan dan santrinya menjadi kyai-kyai pesantren ,tokoh kerajaan dan tokoh nasional yang kharismatik hingga sekarang ini diantaranya yang keturunan Kyai Hasan Besari adalah :
1. Kyai Zainal putra kesembilan dari Kyai Muhammad Besari yang menjadi Raja Selangor Malaysia
2. Kyai Moh. Muhji menjadi Raja penerus dari Ayahandanya dan Nyai Ngaisah Dinobatkan sebagai Sultan Johor Malaysia. 

Alumni Santri Tegalsari . Diantaranya :
1. Susuhunan Paku Buwana II atau Sunan Kumbul, Raja Kerajaan Mataram Kartasura
2. Bagus Harun Basyariyah pendiri desa Perdikan Sewulan, Dagangan Madiun dikenal sebagai Kyai Ageng Basyariyah. Salah seorang trah Ki Ageng Basyariah adalah Presiden RI ke 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur)
3. Muhammad Bin Umar pendiri Desa Perdikan Banjarsari, Dagangan Madiun
4. Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur
5. Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. ia diambil menantu oleh Kyai Khalifah (Penerus Kyai Hasan Besari Tegalsari) dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.
6. Santri besarnya adalah Bagus Darso yang dikenal dengan sebutan KH Abdul Mannan yang mendirikan Pondok Pesantren Termas, Pacitan pada 1830.
7. H.O.S. Cokroaminoto Tokoh Pergerakan Nasional (lahir di Desa Bakur, Madiun, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 – meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 17 Desember1934 pada umur 52 tahun) masih keturunan Kyai Bagus Hasan Besari, Tegalsari

Kyai Mohammad Besari adalah 3 bersaudara (putra Kyai Ageng Grabahan atau dikenal pula sebagai Kyai Anom Besari Caruban) adalah :
1. Kyai Kotib Anom, dimakamkan di Srigading-Kalangbret-Tulungagung
2. Kyai Mohammad Besari, Tegalsari, Ponorogo.
3. Kyai Noer Sodiq ,dimakamkan di Jetis-Tegalsari, yang menurunkan 6 putra yaitu : 1) Kyai Mukmin yang dimakamkan di Mlarak-Ponorogo. 2) Ny. Amad 3) Ny Zakariya 4) Ny. Suratman 5) Kyai Mubarak 6) Kyai Idris

Sepeninggal Kyai Ageng Hasan Besari, kejayaan Pesantren Tegalsari tinggal kenangan. Jumlah santrinya kian menyusut. Walaupun demikian, banyak para santri dan anak cucunya yang mengembangkan agama Islam dengan mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Salah satu yang terbesar adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di wilayah kecamatan Mlarak. Pondok ini didirikan oleh tiga orang cucu Kyai Ageng Hasan Besari.

Jika anda sekalian ingin mengetahui berbagai potret pesantren di Indonesia, khususnya daerah Jawa, kurang afdhol rasanya kalau belum menelisik lebih jauh keberadaan Pesantren Gebang Tinatar, atau yang sekarang dikenal masyarakat dengan sebutan Pesantren Tegalsari. Pesantren yang terletak didesa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo ini adalah cikal bakal seluruh pesantren yang ada di Indonesia. 

Seorang peneliti Belanda, Martin Van Bruinessen mengatakan bahwa sebelum keberadaan pesantren Tegalsari ini, belum ditemukan satu bukti-pun yang menunjukkan adanya sistem pesantren di Indonesia.  Tentu saja pandangan Martin ini berangkat dari gambaran pesantren sebagaimana yang jamak kita lihat sekarang. Yaitu: punya sistem kurikulum, punya masjid beserta pondokannya, dan pastinya: ada seorang Kyai yang mengasuh para santrinya. Dalam klasifikasi tersebut, pada abad 18 Gebang Tinatar-Tegalsari Ponorogo dalah yang pertama. Sewaktu diasuh oleh Kyai Kasan Besari selama 60 tahun (1800-1862 M) Gebang Tinatar-Tegalsari mencapai masa keemasannya. Ribuan santri dari berbagai daerah berduyun-duyun menuntut ilmu di pesantren ini.

Sejauh ini belum diketahui secara pasti kapan persisnya Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari didirikan. Menurut F. Fokkens dalam ‘ De Priesterschool te Tegalsari’ yang diterbitkan 1877, Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari sudah berdiri pada tahun 1742. Kyai Ageng Muhammad Besari, pendiri sekaligus pengasuh pertama pesantren ini dikenal Fokkens sebagai seorang pertapa yang mengasingkan diri. Hidupnya hanya diabdikan untuk beribadah kepada Tuhan. Tiap harinya ia hanya makan dari akar-akaran. Banyak orang yang berdatangan kesana untuk belajar Al-qur’an. Lambat laun pengikutnya semakin banyak dan kemudian menetap di desa yang dikenal dengan nama Tegalsari ini.

Karena banyaknya orang yang datang dan kemudian menetap di Tegalsari, maka didirikanlah sebuah masjid yang dikelilingi oleh pondokan-pondokan kecil untuk tempat tinggal para santri. Saat Fokkens mengunjungi Tegalsari, desa itu sudah tampak ramai dan maju. Pohon-pohon rindang berjajar rapi dipinggir-pinggir jalan desa yang dekat dengan pasar Wage itu. Sebuah pasar yang saat Fokkens kesana sudah ramai dikunjungi orang. Rumah-rumah penduduk terlihat besar-besar dengan halamannya yang begitu luas. Memasuki area pesantren, Fokkens sudah mendapati sebuah rumah besar model pendopo dengan temboknya yang tebal.  Rumah itu adalah tempat tinggal sang Kyai. Masjid dibangun terpisah dari rumah kyai. Arsitektur masjid saat itu sudah terlihat mewah dan besar. Beratap dua sirap dan memiliki satu serambi. Lantainya setinggi empat kaki dan diberi tangga. Dibelakang masjid terdapat sebuah makam keluarga.  Disekeliling masjid terdapat pondokan-pondokan yang terbuat dari bambu. Lantai pondok juga terbuat dari bambu dan dibikin lebih tinggi dari permukaan tanah.  Didepannya terdapat teras yang bisa dipakai untuk istirahat. Disetiap kamar terdapat rak dari bambu tempat menyimpan buku dan kertas. Para santri memiliki lumbung-lumbung  padi sebagai tempat menampung kebutuhan makan mereka selama dipondok. Satu lumbung digunakan oleh empat sampai lima orang santri. Mereka menjaganya secara bergantian.

Selama dipondok, mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Para santri dari keluarga kaya mencukupi kebutuhan mereka dengan bekal dari keluarganya. Sedangkan santri dari keluarga miskin membantu kyai bekerja disawah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Para santri kebanyakan berasal dari luar daerah ponorogo, seperti: Banten, Priyangan, Cirebon, Karawang, Yogyakarta, Surakarta, Kedu, Magelang dan Madiun. Pada saat diasuh oleh Kyai Kasan Besari, menurut Van Der Chijs, Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari telah memiliki sekitar 3000 an santri. Saking besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok. Bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, seperti: desa Nglawu, Bantengan, Malo, Joresan dan lain-lain.

Sejak awal didirikannya masjid dan pondokan-pondokan, Bahasa Arab sudah mulai diajarkan di Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari. Dan pada perkembangannya, kitab-kitab agama Islam juga banyak dikaji dipesantren ini. Hingga saat ini masih ditemukan beberapa kitab peninggalan masa awal Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari. Sebut saja misalnya: Al-Munhati, Jauharuttauhid, Jauharussamin Liummil Barohain dan kitab Tajwid. Tidak diketahui siapa penulis beberapa kitab tersebut. Namun dari tulisannya, diduga penulisnya adalah satu orang dan pernah belajar di Tanah suci Mekah. Kitab-kitab tersebut menggunakan keterangan berbahasa arab dan kertasnya juga tidak berasal dari daerah sekitar Tegalsari, melainkan kertas yang identik dengan kertas-kertas yang ada didaerah arab pada masa lalu. Tidak diketahui pula kapan kitab-kitab itu ditulis, hanya pada halaman pertama kitabJauharussamin Liummil Barohain tertulis bulan Jumadil Awal tahun Alif. Selain itu, ditemukan juga Tiga jilid Kitab Fiqh Syarh Fathul Mu’inkarangan Zainuddin Al-Malibari. Penulisan kitab Syarh tersebut dilakukan oleh beberapa orang dari beberapa generasi. Penulisnya adalah: Muhammad Jalalain, Hasan Ibrahim, Hasan Yahya, Hasan Ilyas, dan Muhammad Besari.

Terdapat juga satu bendel kitab yang dimungkinkan paling tua usianya. Sampulnya terbuat dari kulit dan kertasnya adalah kertas gedok dari Tegalsari. Pada halaman pertama bendelan kitab yang sudah sangat lusuh dan mulai hancur ini terdapat catatan proses terjadinya desa Tegalsari sebagai ‘tanah perdikan’. Disebutkan juga jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang tinggal disana pada masa awal berdiri. Selanjutnya, didalam bendelan kitab ini juga terdapat penggalan karya fiqh yang tidak jelas dikutip dari kitab apa. Yang jelas teksnya menggunakan huruf Arab Pegon atau Arab Melayu. Disamping itu, pada halaman berikutnya juga ditemukan Syarh kitab fiqh yang tidak lengkap berjudul “Al-Muharror” karangan Abul Qosim Arrafi (wafat 1226 M). Diperkirakan syarh kitab ini ditulis oleh Kasan Yahya pada tahun 1800-an. Terdapat juga penggalan kitabFathul Wahhab karangan Zakariya Al-Ansharei (wafat 1277). Kitab lainnya yang terdapat dalam bendelan kitab itu adalah kitab Faroil. Namun tidak diketahui juga siapa penulis dan tahun penulisan dari kitab yang terakhir ini.

Lebih lanjut, menurut J.F.C Gerishe, seorang ahli Literatur Jawa, selain mengajarkan Al-qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam, Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari juga mengajarkan berbagai macam ilmu Kejawen dan ilmu Kesaktian. Dalam laporan yang disampaikannya di Nederlands Bijbelgenootschap di Amsterdam, Gerishe mengatakan: “Walaupun Tegalsari telah mengajarkan kepada 3000 santrinya bagaimana membaca Al-qur’an, tetapi disisi lain, disana juga mengajarkan rahasia-rahasia Budha dan kepercayaan Kejawen yang masih dipertahankan oleh kyai-kyai setelah masa transisi Islam di Jawa”.

Hal tersebut diatas, juga selaras dengan pandangan Simuh, seorang penulis buku-buku tentang Ronggowarsito. Ia mengatakan bahwa disamping memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku agama Islam, Pesantren Tegalsari juga memiliki perpustakaan Kejawen. Kesimpulannya tersebut berangkat dari beberapa fakta tentang Kyai yang membawa Gebang Tinatar-Tegalsari menuju masa kejayaannya, yaitu: Kyai Kasan Besari. Selain terkenal dengan kesaktiannya, kyai Kasan Besari adalah menantu Pakubuwono IV. Dengan demikian, Kyai Kasan Besari adalah seorang priyayi. Dan sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu bahwa setiap priyayi bisa dipastikan mempunyai koleksi kitab-kitab kejawen. Belum lagi, dibawah asuhannya telah lahir seorang pujangga jawa kenamaan; Raden Ngabehi Ronggowarsito. Hal ini memperkuat dugaan Simuh. Selain itu, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh LHKP-PD Muhammadiyah Yogyakarta yang berjudul‘Kesultanan Majapahit’ menyebutkan bahwa ‘Kitab Jangka Jayabaya’ yang sampai saat ini terkenal dimasyarakat sebagai karangan Ronggowarsito maupun Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri, sebenarnya adalah karya Kyai Kasan Besari dari Tegalsari ini. Kitab yang dipercaya masyarakat berisi ramalan ‘Jaman Edan’ dan ‘Ratu Adil’ itu sebenarnya adalah analisis sosial yang akan dijadikan acuan merumuskan ‘program pembudayaan’ didaerah Ponorogo dan sekitarnya. Sebagaimana disebutkan namanya, ‘Jongko’ adalah ‘Penjongko’atau hal-hal yang direncanakan. Jadi ia hanyalah proyeksi; bukan ramalan. Karena ditulis dalam bahasa sastra, maka dikemudian hari pesan tersiratnya tak banyak ditangkap oleh masyarakat. Namun demikian, Belanda menangkap tujuan Kyai Kasan Besari ini. Belanda kemudian menjebloskannya kedalam penjara selama beberapa tahun. Maka dari itu, penulisan kitab tersebut dilanjutkan oleh muridnya; Ronggowarsito.
Dalam perkembangannya, pesantren ini telah melahirkan tokoh-tokoh ternama. Diantaranya adalah Pakubuwono II, raja Kasunanan Kartasurya. Dia mengenyam pendidikan di Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari ketika Kerajaan Kartasura sedang menghadapi ‘Geger Pecinan’. Pemberontakan kelompok Tionghoa tersebut dipimpin oleh cucu Sunan Mas yang bernama Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning. Karena kualahan, Pakubuwono II terpaksa menyingkir kearah timur dan kemudian berlindung dipesantren yang diasuh oleh Kyai Ageng Mohammad Besari ini. Setelah ‘nyantri’ disana beberapa lama, Pakubuwono II akhirnya dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1743 M. Kemampuannya mengalahkan kelompok Mas Garendi tersebut tidak lepas dari bantuan Kyai Ageng Muhammad Besari beserta murid- muridnya. Atas jasa Kyai Ageng Besari mengembalikan kedudukan Pakubuwono II inilah, maka Tegalsari dibebaskan dari pembayaran pajak kepada kerajaan Kartasura atau disebut sebagai ‘Tanah Perdikan’.
Selanjutnya, pesantren ini juga melahirkan sastrawan besar yang karyanya tetap melegenda lintas zaman. Bagus Burhan, yang dikemudian hari bergelar Raden Ngabehi Ronggowarsito telahmondok dipesantren ini sejak usia 12 tahun. Pujangga terakhir Keraton Surakarta yang terkenal dengan ramalannya tentang ‘Zaman Edan’ ini adalah putra dari Mas Pajangswara dan cucu Yasadipura II. Seorang peneliti dari Jepang, Takashi Siraishi, dalam karyanya ‘Zaman Bergerak’ mengatakan: “Tidak ada yang dapat lebih jelas menggambarkan transformasi budaya di Surakarta pada abad XIX ini daripada tempat yang diduduki oleh R.Ng Ranggawarsita. Saat itu. melalui kemampuan bahasanya, ia melegitimasi kekuasaan”. Menurut Takashi, pada zamannya, tulisan-tulisan Ronggowarsito sudah disebarkan melalui percetakan, bukan melalui naskah tulisan tangan sebagaimana penulis-penulis yang lain. Dan juga, penikmat karya-karya Ronggowarsito bukanlah sekedar didalam lingkaran kraton, melainkan juga anggota komunitas Indo-Jawa-Tionghoa yang terpelajar.

Tak ketinggalan, Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang dikenal dengan HOS. Cokroaminoto adalah santri sekaligus keluarga dari Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari. Pahlawan Nasional yang lahir di Madiun 16 Agustus 1883 ini adalah ketua Syarekat Islam, sebuah organisasi pergerakan pertama di Indonesia. Pada masa kepemimpinan cucu Bupati Ponorogo, RT Tjokronegoro inilah Syarekat Islam mencapai masa kejayaannya. Dalam catatan Takashi Siraishi menyebutkan: “Pd hari Sabtu dibulan Juni, sekitar 2000 anggota baru diinisiasi (baca: diajak) oleh sekelompok orang..Keanggotaan SI meningkat dg pesat….Asisten Residen Surakarta memperkirakan jumlah anggotanya mencapai 35.000 orang pd awal Agustus”. Masyarakat berbondong-bondong menjadi anggota Syarekat Islam karena menganggap bahwa Cokroaminoto adalah ‘Ratu Adil’ sebagaimana yang diramalkan oleh Ronggowarsito. Selain itu, banyak tokoh pergerakan lainnya yang kemudian mendirikan berbagai aliran politik di Indonesia juga menjadi murid Cokroaminoto. Sebut saja misalnya: Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia sekaligus pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI); Bung Tomo, pengobar perlawanan arek-arek Surabaya terhadap agresi Belanda, yang sekaligus juga pendiri partai Gerakan Indonesia (Gerindo); Semaoen dan Marco Kartodikromo yang kemudian menjadi tokoh awal Partai Komunis Indonesia (PKI), Kartosuwiryo, penggagas Negara Islam Indonesia (NII), dan banyak lagi tokoh pendiri organisasi pergerakan lainnya yang juga ‘nyantri’ kepada cicit Kyai Kasan Besari ini.

Sejarah mencatat, sepeninggal Kyai Ageng Muhammad Besari tampuk kepemimpinan Pesantren ini secara berturut-turut dipegang oleh: Kyai Kasan Ilyas (1773-1800), Kyai Kasan Yahya (1800), kyai Kasan Besari (1800-1862), dan Kyai Kasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 atau setelah generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut.

Selanjutnya, pada saat pesantren ini dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapatlah seorang santri yang sangat menonjol diberbagai bidang keilmuan. Ia adalah Sulaiman Jamaluddin, cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia terkenal sangat dekat dengan Kyainya. Maka tak heran seusai menyelesaikan belajarnya dipesantren ini, ia diambil menantu oleh Kyai Khalifah. Sulaiman Jamaludin kemudian menjadi Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyainya memimpin pesantren. Bahkan Kyai Khalifah akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor. Sebuah desa yang terletak disebelah timur laut dari Tegalsari. Lambat laun, pesantren baru di desa Gontor ini mengalami perkembangan yang begitu pesat sehingga mengalahkan popularitas Gebang Tinatar-Tegalsari. Pesantren di desa Gontor tersebut adalah cikal bakal pesantren besar yang kini dikenal masyarakat dengan nama Pondok Modern Gontor.

Demikianlah, meski sekarang masyarakat sekitarpun sudah tidak begitu mengenal nama ‘Pesantren Gebang Tinatar’ ini, namun sejarah telah mencatatnya sebagai peletak dasar pondasi kepesantrenan di Nusantara. Meskipun kiprah Kyai Ageng Muhammad Besari dan Kyai Kasan Besari hanya melegenda dalam ingatan sebagian masyarakat?yang bahkan sering rancu dalam membedakan keduanya?, setidaknya nyaris semua jaringan pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa hampir bisa dipastikan punya pertalian darah dengan keduanya. Bahkan menurut info yang sedang ditelusuri oleh penulis, karya-karya dari Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari ini banyak bertebaran di perpustakaan-perpustakaan universitas luar negeri seperti Harvard University dan Leiden University. Tak heran memang, untuk universitas yang tersebut terakhir ini cikal bakalnya adalah lembaga riset kepustakaan Jawa yang bernama Javanologi di Surakarta. Dan salah satu peneliti yang paling menonjol disana adalah santri Gebang Tinatar-Tegalsari,, Ronggowarsito.

Situs Masjid Tegalsari

Masjid Tegalsari adalah peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742 pada jaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II. Masjid Tegalsari diperkirakan dibangun sekitar abad ke-18 oleh Kyai Ageng Muhammad Besari. Pada awalnya ukuran masjid itu masih relatif kecil. Bangunan masjid diperluas lagi oleh cucu Kyai Ageng Hasan Besari, yaitu Kyai Hasan Besari II agar menampung jumlah jamaah yang lebih banyak. Kyai-kyai Tegalsari inilah yang banyak menyiarkan Agama Islam di wilayah Ponorogo sampai lereng Gunung Lawu. Masjid dengan arsitektur jawa ini memliki 36 tiang, yang mengandung arti jumlah wali / wali songo 
( 3 + 6 = 9) yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa dan atap berbentuk kerucut yang mengambarkan Keagungan Allah Swt. Serta didalam masjid ini pula tersimpan kitab yang berumur 400 tahun yang ditulis oleh Pujangga Ronggowarsito. Komplek Masjid Tegalsari terdiri dari tiga bagian yaitu: 

1. Dalem Gede / kerajaan kecil yang dulunya merupakan pusat pemerintahan 
2. Masjid Tegalsari
3. Komplek makam Kyai Ageng Mohamad Besari

Di sebelah timur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Presiden Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Di area rumah tinggal Kyai Ageng Besari ( Dalem Jero ) terdapat pula sebuah bangunan kecil. Persis sebelah barat Dalem Jero berupa Langgar ( mushola kecil ). Di situlah Ronggowarsito pernah di gembleng. 

Masjid Tegalsari berada di RT. 01, RW. 01, Dukuh Gendol, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tepatnya, terletak 10 km arah tenggara dari pusat kota (Searah dengan jalur Pondok Pesantren Walisongo, Desa Ngabar, Kecamatan Siman dan Al-Mawadah, Desa Coper, Kecamatan Jetis). 

Bangunan Masjid tampak depan sudah direnovasi, sebelum masuk masjid ada 2 buah batu pijakan yang dulunya adalah sebuah bagian dari benda peninggalan sejarah peradaban kuno yang kemungkinan adalah fragmen sebuah candi. Ini bukan tidak mempunyai maksud tertentu tentang arti letak dan posisinya atas batu pijakan ini. Batu pijakan di depan masjid ini bukan sebuah “batu kosong” seperti pada umumnya batu-batu alam tetapi dianggap istimewa karena diambil dari sebuah tempat “angker” punden, atau bagian dari sebuah artifak atau situs atau candi atau bahkan sebuah arca utuh yg ditanam di depan masjid yang dijadikan sebagai perlambang “agomo” telah mengalahkan “tradisi sesat” pada jaman atau saat itu pada medio tahun 70-80 an. 

Dalam bahasa setempat batu itu disebut “watu bancik” atau tempat “ancik-ancik” atau tempat menongkrong atau batu pijakan. “Sesembahmu aku jadikan cuma sebagai pijakan bagi setiap orang yang akan masuk masjid”. Mungkin begitu kira-kira pesannya. Karena pada saat itu juga hingga kini masih banyaknya “laku” warga desa setempat mendatangi punden atau artifak kuno atau tempat angker lainnya dengan maksud yang tidak sinkron dengan ajaran suci. Maka para agamawan memilih jalur terjal ini meski jalur itu merusak arti sebuah potret kehidupan masa lalu atas sebuah peradaban Jawa (khususnya). 

Masjid Tegalsari merupakan bagian dari cagar budaya, satu diantara sekian banyak obyek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo, merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad / Hasan Besari seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW. Sehingga banyak kyai karismatik lahir dari santri atau keturunan Tegalsari. karena Tegalsari banyak melahirkan orang-orang yang Degdaya atau sakti maka sampai sekarang pun dipercaya banyak orang sebagai salah satu tempat yang mempunyai daya tarik, keunikan dan kekhasan.

Menurut Mbah Sujak, sesepuh Desa Tegalsari yang juga juru kunci Kompleks Makam Kyai Ageng Muhammad Besari di Kompleks Masjid Tegalsari mengakui hampir tiap hari dikunjungi ratusan orang untuk Ngalap Berkah atau mencari hidayah. Apalagi dalam bulan suci Ramadhan maupun menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, puluhan ribuan pelajar melakukan dzikir dan doa bersama serta sholat hajad. Beberapa keunikan Masjid Jami Kyai Muhammad Besari menurut Mbah Sujak, antara lain adalah Kubah masjid yang terbuat dari tanah liat (sejenis gerabah) yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Kubah ini menurut cerita pada jaman Belanda pernah di tembak berkali-kali namun tidak rusak sedikitpun. “Soko guru berjumlah empat buah yang masing-masing mempunyai kekuatan tersendiri apabila ada orang yang berdoa di dekat tiang tersebut dan didukung oleh tiang-tiang penyangga Masjid lainnya,” tutur Mbah Sujak. Selain itu payung kebesaran yang konon bisa dipergunakan sebagai penangkal atau tolak balak mana kala ada kerusuhan di desa Tegalsari. 

“Dalem Njero juga diyakini sebagai tempat bermunajat yang paling ampuh,” ulasnya. Alumni pondok Tegalsari ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab Masjid Tegalsari pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. “Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya,” ujar Afif Azhari. Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak. Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalamakara.‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar