Translate

Minggu, 15 Januari 2017

Imam Al-Kisa'i Mahaguru Qiro'ah

Pernahkah Anda mendengar nama Imam Al-Kisa`i? Saya yakin Anda pernah mendengarnya, atau bahkan sering. Beliau adalah Imam besar dari ulama Nahwu dan Qira'ah, rujukan utama penduduk Kufah di abad kedua Hijriyyah.
Di bidang Qira'ah, beliau merupakan salah satu Imam Qira'ah yang tujuh (al-qurra` as-sab'ah), riwayat beliau sampai sekarang masih dibaca dan diajarkan. Dan di ilmu Nahwu, beliau adalah pimpinan al-madrasah al-kuufiyyah, yaitu sebuah aliran di bidang ilmu Nahwu, seperti istilah madzhab dalam ilmu fikih.

Dan semua orang -terutama thalabatu al-'ilm- tentu mengetahui, bahwa beliau adalah seteru utama Imam Sibawaih, yang kepadanya ri`aasah (kepimpinan) madrasah al-bashriyyah dinisbatkan. Dan kebanyakan perbedaan pendapat dalam masalah Nahwu, semuanya bermuara kepada pemikiran kedua Imam tersebut.

Nama Beliau‎

Abu al-Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Bahman bin Fairuz al-Kisa'i(bahasa Arab: أبو الحسن علي بن حمزة بن عبد الله بن بهمن بن فيروز الكسائي), atau lebih dikenal sebagai Al-Kisa'i (Lahir di Kufah pada tahun 119 H/737, wafat di Ray pada tahun 189 H/809 pada usia 70 tahun) adalah seorang ulama dibidang Qira'at al-Qur'an, Imam Qira'at Ketujuh dari Imam Qira'at Tujuh dan merupakan salah satu pendiri madrasah nahwu di Kufah.‎

Dan Al-Kisa`i adalah julukan yang beliau peroleh setelah berihram mengenakan kain yang tidak lazim dipakai saat ihram, kain itu di dalam bahasa Arab disebut kisaa`. Maka mulai saat itu beliau dijuluki Al-Kisa`i dan beliau lebih dikenal dengan julukannya daripada nama aslinya.

Guru-Gurunya

Dalam ilmu bahasa Arab dan Nahwu, beliau berguru kepada guru yang sama dengan Imam Sibawaih, yaitu Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Masyaallah, dari tangannya lahir dua ulama besar yang menjadi rujukan dalam masalah bahasa/Nahwu.

Adapun Al-Quran, beliau belajar dari Imam Hamzah. Bahkan beliau menyetorkan hafalannya kepada gurunya tersebut sebanyak 4kali. Dan bacaan gurunya itu yang terlihat pengaruhnya pada bacaan beliau.

Dan beliau juga belajar dari Muhammad bin Abi Laila dan Isa bin Umar Al-Hamadzani. Adapun al-huruf (ilmu huruf Al-Quran), beliau belajar dari Syaikh Abu Bakr bin Ayyasy (Syu'bah).

Murid-muridnya‎

Ad-Duri
Abu al-Harits Al-Laits bin Khalid
Nashir bin Yusuf
Qutaibah bin Mihran
Ahmad bin Suraij
Abu 'Ubaid
Yahya al-Farra
Khalaf bin Hisyam
Hisyam bin Mu'awiyyah, dalam ilmu nahwu
Yahya al-Farra, dalam ilmu nahwu

Perjalanannya dalam mendakwahkan ilmu 
Semasa hidupnya ia terkenal sebagai seorang yang sangat mengerti tentang Qiraat hingga dijadikan imam. Ia mempunyai banyak murid, ketika mengajar ia duduk di kursi dan membaca Quran dari awal hingga akhir, sedangkan murid-muridnya tekun mendengarkan. Imam al-Kisa-i juga terkenal sebagai orang yang menguasai ilmu tata bahasa arab terutama ilmu nahwu.
Banyak para ulama yang meriwayatkan (belajar) qiro’ah (bacaan)dari Imam al-Kisai, dan mereka yang belajar tersebut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Yang banyak periwayatannya : Seperti Ibrahim bin Zadzan, Ibrahim bin Aharsisy dan Ahmad bin Jubair, Ahmad bin Abi Suraij dan Hafsh bin Umar ad-Daury, Abdul Rahman bin Wafid dan Abdullah bin Ahmad bin Dzakwan – Rawi bin Amir -, Isa bin Sulaiman, Fadhlu bin Ibrahim, Abu ‘Ubaida al-Qasim bin Salam, al-Laits bin Khalid, Yahya bin Adam, Yahya bin Ziyad al-Khawarizmy dan selain mereka.
2. Yang sedikit periwayatannya: Ishaq bin Israel, Hajib bin al-Walid, Hajjaj bin Yusuf Ibnu Qutaiba, Halaf bin Hisyam al-Zary – Imam -, Zakharia bin Yahya al-Anmathi, Abu Haywah Syuraih bin Yazid, Mohammed bin Yazid Al Rifai, Yahya bin Ziyad al-Faroi, Yakub Aldourgui dan Yakub Hadrami.

Al-Kisa`i pernah didebat seorang ahli fiqih madzhab Hambali Muhammad bin al-Hasan al-Faqih:

مَا تَقُولُ فِيمَنْ سَهَا فِي سُجُودِ السَّهْوِ، هَلْ يَسْجُدُ مَرَّةً أُخْرَى؟ قاَلَ الْكِسَائِي: لاَ، قَالَ: لِمَاذَا؟ قَالَ: لِأَنَّ النُّحَاةَ تَقُولُ: التَّصْغِيْرُ لاَ يُصَغَّرُ

“Apa pendapatmu tentang orang yang lupa tidak sujud sahwi. Apakah dia harus sujud lagi?” Dia menjawab, “Tidak, karena para ahli nahwu berkata, ‘yang sudah diperkecil tidak bisa lagi dikecilkan lagi.’” [Wafayâtul A’yân (III/296) oleh Ibnu Khallikan dan Tarîkhhul Baghdâd(XIV/151) oleh al-Khathib al-Baghdadi]

Orang-orang Kufah berkata:

لَناَ ثَلَاثَةُ فُقَهَاءَ فِي نُسُقٍ، فَلَمْ يَرَ النَّاسُ مِثْلَهُمْ: أَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ، وَلَنَا ثَلَاثَةُ نَحْوِيِّينَ كَذَلِكَ وَهُمْ: أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ حَمْزَةَ الْكِسَائِي وَأَبُو زَكَرِيَا يَحْيَى بِنْ زِيَّادٍ الْفَرَّاءِ وَأَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى ثَعْلَبَ

“Kami memiliki tiga ahli fiqih yang manusia tidak melihat yang menyamai mereka: Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad bin al-Hasan. Kami juga memiliki tiga ahli nahwu: Abul Hasan Ali bin Hamzah al-Kisa`i, Abu Zakaria Yahya bin Ziyat al-Farra`, dan Abul Abbas Ahmad bin Yahya Tsa’lab.” [Mu’jamul Udabâ` (I/212) oleh Yaqut al-Hamawi]

Al-Kisa`i berkata, “Aku, Abu Yusuf al-Qadhi, dan Harun ar-Rasyid pernah berkumpul. Abu Yusuf menghina nahwu sambil berkata, ‘Apa gunanya nahwu?’ Maka, aku pun menjawab untuk memperlihatkan kepadanya keutamaan nahwu, ‘Apa pendapatmu tentang seseorang yang berkata kepada orang lain:

أَنَا قَاتِلُ غُلاَمِكَ

Sementara yang lain berkata:

أَنَا قَاتِلٌ غُلَامَكَ

Mana di antara keduanya yang akan Anda beri hukuman?’

Dia menjawab, ‘Aku akan menghukum mereka semua.’ Harun berkata kepadanya, ‘Anda tergesa-gesa. Dia itu pakar bahasa Arab.’ Abu Yusuf merasa malu dan berkata, ‘Lantas bagaimana?’ Al-Kisa`i berkata, ‘Yang berhak mendapat hukuman adalah yang berkata (أَنَا قَاتِلُ غُلاَمِكَ) karena perbuatannya telah terjadi. Adapun yang berkata (أَنَا قَاتِلٌ غُلَامَكَ) tidak dihukum karena perbuatannya akan datang dan belum terjadi. Hal ini sebagaimana firman Allah:

«وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا * إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ»

“Dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali jika Allah menghendaki.”  [QS. Al-Kahfi [18]: 23-24] Seandainya tanwin tidak berfaidah untuk waktu besok, tentulah Allah telah membolehkannya.’ Setelah itu, Abu Yusuf memuji bahasa Arab dan nahwu.” [Mu’jamul Udabâ` (II/66) oleh Yaqut al-Hamawi]

Pada kesempatan lain, terjadi tanya jawab antara al-Kisa`i dengan al-Qadhi Abu Yusuf Ya’qub di majlisnya Harun ar-Rasyid. Al-Kisa`i berkata, “Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang berkata kepada istrinya, ‘Kamu dithalaq dithalaq dithalaq.’” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq atau dithalaqatau dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq kemudian dithalaq kemudian dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq ‎dan dithalaq dan dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” Al-Kisa`i berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Ya’qub salah dua dan benar dua. Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq dithalaq dithalaq,’ jatuh satu thalaq karena yang lainnya hanya taukid, sebagaimana ucapan, ‘Kamu berdiri berdiri berdiri,’ atau, ‘Kamu mulia mulia mulia.’ Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq atau dithalaqatau dithalaq,’ mengandung keraguan sehingga jatuh satu. Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq kemudian dithalaq ‎kemudian dithalaq,’ jatuh tiga thalaq karena masanya berurutan, begitu juga untuk ucapan, ‘Kamu dithalaq dan dithalaq dan dithalaq.’” [Inbâhul Ruwât ala Anbâhin Nuhât (II/261) oleh al-Qifthi]
Pujian Ulama Terhadapnya

Kepakarannya dalam nahwu tidak tersamar bagi orang-orang semasanya maupun sesudahnya. Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَبَحَّرَ فِي النَّحوِ، فَهُوَ عِيَالٌ عَلَى الكِسَائِيِّ

“Barangsiapa yang ingin mempelajari nahwu secara mendalam, maka semuanya terkumpul pada al-Kisa`i.” [Siyar ‘Alâmin Nubalâ` (IX/ 132) oleh adz-Dzahabi]

Ibnu al-Anbari berkata:

اجْتَمَعَ فِيْهِ أَنَّهُ كَانَ أَعْلَمَ النَّاسِ بِالنَّحوِ، وَوَاحِدَهُم فِي الغَرِيْبِ، وَأَوحَدَ فِي عِلْمِ القُرْآنِ

“Orang-orang telah sepakat bahwa dia adalah orang yang paling berilmu dalam nahwu, satu-satunya yang paling berilmu dalam kosa kata sulit, dan nomor satu dalam ilmu al-Qur`an.” [Ibid (IX/132)]

Kisah-kisah hidup al-Kisa`i yang dicantumkan para ahli sejarah banyak melibatkan Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid al-Abbasi. Hal ini dikarenakan kedekatannya dengan Harun sebagai gurunya sekaligus pendidik dan pengajar dua putranya al-Amin dan al-Ma’mun.

Adz-Dzahabi berkata, “Al-Kisa`i memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Harun ar-Rasyid karena menjadi guru untuk anaknya yang bernama al-Amin. Sehingga dia memperoleh kehormatan dan harta yang melimpah.” [Ibid (IX/134)]

Ismail bin Ja'far Al-Madani -beliau termasuk murid senior Imam Nafi'- berkata:" Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bagus bacaan Al-Qurannya dari Al-Kisa`i".

Sebagian ulama berkata: "Dahulu apabila Al-Kisa`i sedang membaca Al-Quran atau berbicara, seakan-akan ada malaikat yang menjelma dan berbicara".

Imam Yahya bin Ma'in -rahimahullahu- berkata: "Aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku ini, orang yang lebih baik bahasanya dari Al-Kisa`i".

Al-Fudhail bin Syadzan berkata: "Setalah Al-Kisa`i menyelesaikan  Al-Quran pada (gurunya) Hamzah, ia pergi ke kampung Arab Badui, ia tinggal dan berbaur dengan mereka serta mempelajari bahasa mereka, setelah ia kembali ke kota, ia menjadi ahli bahasa".‎

Karya-Karyanya

Para ahli sejarah menulis dalam buku-buku mereka bahwa Imam Al-Kisa`i mempunyai beberapa karya tulis/buku, dan mereka juga menyebutkan nama judul-judul buku yang pernah ditulis oleh beliau.

Di antara judul karya Imam Al-Kisa`i sebagaimana disebutkan ahli sejarah adalah sebagai berikut:

1- Ma'anii Al-Qur`an ( معاني القرآن ).

2- Al-Qira`aat ( القراءات ).
3- An-Nawaadir ( النوادر ).
4- An-Nahwu ( النحو ).
5- Al-Hijaa` ( الهجاء ).
6- Maqthuu' Al-Qur`aan wa Maushuuluh ( مقطوع القرآن وموصوله ).
7- Al-Mashaadir ( المصادر ).
8- Al-Huruuf ( الحروف ).
9- Al-Haa`aat ( الهاءات ).
10- Asy'aar ( أشعار ).
Namun faktanya, sampai saat ini kita tidak pernah menemukan bukti fisik akan keberadaan buku-buku tersebut. Mungkin buku-buku beliau termasuk yang dibakar dan dimusnahkan oleh bangsa Tatar (Mongol) ketika mereke menyerbu khilafah islamiyyah di Baghdad hingga runtuh, yang saat itu berada di tangan Dinasti Abbasiyyah.

Sebelum berpisah dengan al-Kisa`i, penulis ingin membawakan sebuah kisah yang begitu berkesan bagi penulis pribadi. Al-Kisa`i berkata, “Setelah selesai mengajar al-Qur`an kepada manusia aku bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata kepadaku, ‘Kamu al-Kisa`i?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ ‘Ali bin Hamzah?’ Aku menjawab, ‘Benar wahai Rasulullah.’ ‘Yang kemarin mengajar al-Qur`an kepada umatku?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ ‘Bacalah untukku.’ Lisanku seakan enggan kecuali membaca surat ash-Shaffat. Lalu aku pun membaca:

«وَالصَّافَّاتِ صَفًّا * فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا * فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا»

Beliau menjawab, ‘Bagus!’ Tetapi beliau melarangku idgham pada ayat pertama.” [Ibid (II/265)]

Wafatnya Imam Al-Kisai

Beliau meninggal dalam sebuah perjalanan bersama rombongan Khalifah Harun Ar-Rasyid menuju Khurasan, tepatnya di sebuah desa bernama Ranbawaih, dan beliau dimakamkan di sana.

Dan wafat juga di tempat dan hari yang sama seorang ulama besar, sekaligus murid senior Abu Hanifah yang bernama Muhammad bin Al-Hasan. Khalifah Harun Ar-Rasyid berkata: "Pada hari ini, kita telah memakamkan (tokoh) Nahwu dan Fikih bersamaan".

Imam Al-Kisa`i wafat pada tahun 189H dalam usia 70 tahun. Semoga Allah merahmatinya, dan semua ulama Islam.‎

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar