Translate

Sabtu, 28 Januari 2017

Ketika Mata Melihat Akal Akan Mentafsirkan

“Bukankah kita bersama telah menyaksikan peristiwa demi peristiwa itu.” Begitu kata Shalahuddin al Ayyubi, saat al Qadhil Fadhil hendak melanjutkan penulisan sejarah perjalanan kepemimpinannya beserta beragam penaklukan-penaklukannya.
Tapi Hakim yang juga juru tulis di zaman Shalahuddin Al Ayyubi itu justru menyahut dengan ungkapan yang menakjubkan. “Sebagian telah aku saksikan, sebagian lagi tidak,” begitu mula penjelasannya. Lalu ia lebih menegaskan lagi, “Dan juga, banyak orang menyaksikan peristiwa-peristiwa itu.”

“Jika masing-masing orang menceritakannya, hasilnya akan berbeda. Mata bisa melihat, akal yang menafsirkan. Tapi sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar, akan dicerna oleh hati dan diolah dalam pikiran.” Pungkasnya memberikan alasan yang sekaligus hikmah pengajaran akan nilai sebuah periwayatan sejarah.

Begitulah Abdurrahim al Qadhil Fadhil, pemimpin Diwan Insya’ ash Shalahi. Yaitu Majelis Penulis, Pengarang, dan Sastrawan. Tugasnya menggandakan naskah, surat, kitab dan lainnya dengan tulisan manual.

Banyak orang yang memiliki peranan besar dalam sejarah, tetapi kisah mereka cenderung terlupakan. Di antara orang-orang semacam ini adalah seorang negarawan bernama Abu Ali Abdurrahim bin Ali bin al Hasan al Asqolani al-Basyani (1131-1199/1200), atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Qadhi al-Fadhil.

Saat membahas tentang Shalahuddin dan keberhasilannya dalam Perang Salib, banyak yang lupa bahwa sebenarnya ada banyak orang di sekitar Shalahuddin yang memiliki peranan sangat besar dalam perjalanan karirnya serta pencapaian keberhasilannya.

Di antara orang-orang itu, al-Qadhi al-Fadhil termasuk yang berada di posisi teratas. Al-Qadhi al-Fadhil dilahirkan di Kota Ascalon (Asqalan) di tengah pergolakan konflik dan Perang Salib di wilayah itu. Ia pindah ke Kairo beberapa waktu sebelum Ascalon jatuh ke tangan pasukan salib pada pertengahan tahun 1153. Tubuh al-Qadhi al-Fadhil memiliki cacat, yaitu tulang punggungnya bongkok (humpback), sehingga ia terpaksa menutupinya dengan sejenis kain penutup yang terjulur dari kepala hingga melewati punggungnya (kain taylasan).

Kekurangannya ini kadang menjadi sumber celaan orang lain serta menjadikannya seorang yang sangat sensitif. Ia juga digambarkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya sebagai seorang yang berwajah buruk.

Seorang penyair dari Maroko pernah menulis kepada temannya seperti ini:

”Saya berada di pemandian umum al-Fayyum dan tiba-tiba saya melihat … seseorang yang sangat aneh muncul (dan ia) tidak memiliki kepala ataupun leher. Wajahnya tenggelam ke dalam dadanya dan jenggotnya berada di perutnya. Dia tampak seperti seseorang yang kita kenal.”

Yang ia maksud dengan kalimat terakhir adalah al-Qadhi al-Fadhil. Pernah suatu kali al-Qadhi al-Fadhil diutus ke Mosul. Ketika buah-buahan dihidangkan, beberapa penguasa menyindirnya dengan mengatakan, ”Buah mentimunmu bengkok.” Al-Qadi al-Fadhil segera menjawabnya dengan mengatakan, ”Kubis kami lebih baik dari buah mentimunmu.”

Terlepas dari itu semua semua ia tidak pernah berputus asa dalam menjalani hidupnya dan tidak mundur dalam meraih kecemerlangan. Ia bahkan mencapai sebuah keberhasilan yang tidak mampu diraih oleh kebanyakan orang yang memiliki kesempurnaan wajah dan tubuh.

Al-Qadhi al-Fadhil memiliki kemauan yang kuat serta karir yang sangat menonjol. Ia merupakan seorang yang shalih, taat beribadah, memiliki ilmu agama yang mendalam, serta menguasai seni menulis yang sangat indah. Kehebatannya dalam menulis dan menggunakan bahasa yang indah diakui oleh banyak sejarawan.

Al-Dzahabi di dalam Siyar A’lam Nubala menyatakan, ”Kelihaian seni menulis surat dan keindahan menyusun redaksi telah terhenti pada al-Qadhi al-Fadhil.”

Ia bekerja pada pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Kairo. Ia meniti karir di kerajaan itu hingga ia memegang kedudukan sebagai pemimpin administrasi kerajaan. Karena ketika itu Dinasti Fatimiyah sedang berada dalam pergolakan internal yang parah dan terancam oleh invasi pasukan Salib, al-Qadhi al-Fadhil, atas persetujuan dan perintah Khalifah Fathimiyah, berperan dalam membangun komunikasi serta surat menyurat dengan Khalifah Abbasiyah di Baghdad dan Nuruddin Zanki di Suriah.

Hal ini berdampak pada masuknya pasukan Suriah dibawah kepemimpinan Shirkuh dan Shalahuddin ke Mesir serta penguasaan atas negeri itu pada tahun 1169. Ketika Shalahuddin ditetapkan sebagai wazir di Mesir, ia menghadapi tantangan yang serius dalam upaya mengubah Dinasti Fatimiyah yang berhaluan Syiah menjadi Sunni serta dalam mengalihkan loyalitasnya ke Baghdad.

Ia tidak bisa serta merta mengubah haluan negeri itu, karena masih banyaknya pendukung Ismailiyah yang berada di pemerintahan Mesir. Namun berkat bantuan dan nasihat al-Qadhi al-Fadhil, proses perubahan itu bisa dilakukan dalam waktu kurang dari tiga tahun. Setelah beberapa pemberontakan kecil yang dapat segera diketahui dan ditindak, pada tahun 1171 doa shalat Jum’at di Mesir dibacakan untuk Khalifah Abbasiyah. Pada waktu yang bersamaan, khalifah terakhir Fatimiyah meninggal dunia.

Tentang ini, Shalahuddin berkomentar dengan nada simpati, ”Kalau saja kami mengetahui bahwa ia akan meninggal pada hari Jum’at ini (10 Muharram 567H; 1171), kami tidak akan membuatnya sedih dengan menghapuskan namanya pada khutbah Jum’at.”

Al-Qadhi al-Fadhil langsung meresponsnya dengan kata-kata berikut, ”Tetapi kalau ia mengetahui Anda tidak menghapus namanya dari khutbah Jum’at, mungkin dia tidak akan (jadi) meninggal dunia.”

Hadia Ragheb Dajani-Shakeel dalam disertasinya, Al-Qadi al-Fadil: His Life and Political Career, menyebutkan bahwa proses eliminasi kerajaan Fatimyah dan peralihannya menjadi sebuah kesultanan Sunni dilakukan dalam tiga tahap:

Pertama, membersihkan administrasi pemerintahan serta kekuatan militer Mesir dari para pendukung Ismailiyah.

Kedua, mempersiapkan masyarakat melalui propaganda dan pendidikan yang mengkritisi keyakinan dan kebijakan Fatimiyah.

Ketiga, membangun dan mengokohkan administrasi serta militer yang mendukung kepemimpinan Shalahuddin.

Semua itu tidak mungkin dijalankan Shalahuddin tanpa adanya bantuan orang dalam di pemerintahan Mesir, dalam hal ini al-Qadhi al-Fadhil. Karena itu tidak salah jika seorang penulis, Muhammad al-Abdah, menyebutnya sebagai “among those who revived the Sunnah.”

Sejak masa itu, al-Qadhi al-Fadhil menjadi orang kepercayaan Shalahuddin al-Ayyubi.

Nasihatnya selalu didengar oleh sang Sultan, baik dalam masalah administrasi pemerintahan, ekonomi, maupun militer. Ia juga menjadi penasihat yang baik bagi Shalahuddin dan mengingatkannya terhadap hal-hal yang dituntun dalam agama. Ketika Shalahuddin sibuk berperang dan berusaha mengambil alih wilayah Mosul, sebuah kota Muslim di Irak yang belum mau tunduk pada kekuasaannya, ia tiba-tiba jatuh sakit.

Al-Qadhi al-Fadhil kemudian menasihatinya agar fokus dalam memerangi pasukan Salib. “Anda sebaiknya tidak lagi memerangi sesama Muslim setelah Allah memberikan kesembuhan,” katanya kepada Shalahuddin. “Anda sekarang mesti mengarahkan seluruh perhatian untuk memerangi pasukan salib.” Shalahuddin menerima nasihatnya itu.

Kedudukannya pada kesultanan yang dipimpin oleh Shalahuddin digambarkan dengan sangat baik oleh seorang penulis:

Al-Qadhi al-Fadhil, semoga Allah merahmatinya, merupakan (seorang petinggi) kesultanan Shalahuddin (al-dawla al-Shalahiyya). Ia merupakan sekretarisnya, wazirnya, tuannya, penasihatnya, serta penyuplai tentaranya. Ia menanggung seluruh bebannya, memerintah seluruh wilayahnya … ketika sang Sultan sedang pergi (dari Mesir atau dari Suriah), ia memerintah sebagai wakilnya, atau membantu deputinya, baik deputinya itu merupakan salah satu adik atau anak Sultan.

Ia menerima kepercayaan itu hingga Shalahuddin meninggal dunia pada tahun 1193. Setelah itu, ia menarik diri dari dunia politik hingga ia meninggal dunia sekitar enam tahun kemudian. Kelihatannya, ia tidak merasa cocok dengan situasi politik selepas wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi.

Di samping peranan politik, al-Qadhi al-Fadhil mempunyai banyak peranan penting lainnya. Ia mencatat berbagai peristiwa yang terjadi pada masa ia menjabat di pemerintahan dan catatannya itu berjumlah banyak dan menjadi rujukan bagi para sejarawan yang hidup setelahnya. Ia juga dikatakan mendirikan sebuah perguruan tinggi, Darb al-Mulukhiyah, di Kairo, dan tampaknya Abul Qasim al-Shatibi, seorang qari terkenal, menjadi salah satu pengajar utama di lembaga pendidikannya itu. Selain itu ia juga menerjuni bidang bisnis dan memiliki perniagaan di Hindia dan Maroko.

Hakim yang mulia, dengan segenap hikmah yang ia miliki dan ia bagikan kepada setiap yang berinteraksi dengannya. Ia sangat mendalami unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsik dari setiap ungkapan. Ialah sang ahli makna-makna inovatif. Selalu ada makna baru dari ungkapannya, dan selalu ada ungkapan baru untuk setiap pemaknaannya.

“Mata bisa melihat, akal yang menafsirkan.” Ini adalah salah satu ungkapan indah darinya, dengan makna yang begitu dalam; disampaikan kepada pemimpin besar bernama Shalahuddin al Ayyubi. Rasanya, kita perlu berulang menyeksamai ungkapan ini; Mata Melihat, Akal Menafsirkan.

Sosok yang sangat menggemari tulis-menulis dan buku-buku itu, sebagaimana dikatakan al Muwaffaq Abdul Lathif, sungguh tak jemu-jemu menghampiri Shalahuddin al Ayyubi untuk menuliskan sejarah pemerintahannya langsung dari lisan Shalahuddin al Ayyubi. Sepertinya ia paham betul untuk menghadirkan keutuhan Sejarah perlu menyatukan teks dan konteks. Maka sejarah perjalanan Shalahuddin, harus keluar dari lisan Shalahuddin sendiri.

Sungguh, ini adalah bentuk ketawadhu’an al Qadhil Fadhil. Sebab ia sejatinya bisa saja menuliskannya sendiri. Toh, ia memiliki kecakapan menulis dan kekuatan merekam setiap kejadian. Bahkan, sejatinya ialah yang telah menjadi penasehat bagi Shalahuddin al Ayyubi; yang karenanya sebagian besar konteks kebijakan Shalahuddin telah ia pahami juga. Atau, sebagian besar kebijakan-kebijakan itu lahir dari pendapatnya.

Sebagaimana Abu Syaamah berkomentar tentangnya dalam kitab Ar Raudhatain, “Ia memiliki pendapat yang bagus dan pemikiran cerdas, dihormati di mata Sultan Shalahuddin yang selalu merujuk pendapatnya dan meminta nasehatnya dalam menghadapi berbagai masalah berat. Sultan cenderung patuh kepadanya. Tidaklah Sultan menaklukkan berbagai wilayah, melainkan setelah mengikuti pendapat-pendapatnya.”

Toh, ia pula yang telah mendampingi seluruh perjalanan kepemimpinan Shalahuddin al Ayyubi. Ia telah mendampingi Shalahuddin dalam banyak hal; sebagai administrator angkatan bersenjata melawan pasukan Eropa, membentuk pasukan Ayyubiyah dan menyiapkan sistem administrasinya, menjadi bagian kementerian pemerintahan Sholahuddin, membungkam perlawanan Dinasti Ubaidiyah, menata administrasi Mesir agar bersatu di bawah kekhilafahan, menjadi juru bicara Shalahuddin di banyak diplomasi dan berperan di beragam medan Jihad Shalahuddin. Lalu, apa lagi yang belum ia ketahui dari perjalanan Shalahuddin?

Maka, tak heran bila Shalahuddin meresponnya dengan berkata, “Bukankah kita bersama telah menyaksikan peristiwa demi peristiwa itu.”

Namun sekali lagi, jawaban indah nan hikmah al Qadhil Fadhil telah memberikan banyak pengajaran. “Sebagian telah aku saksikan, sebagian lagi tidak. Dan juga, banyak orang menyaksikan peristiwa-peristiwa itu. Jika masing-masing orang menceritakannya, hasilnya akan berbeda. Mata bisa melihat, akal yang menafsirkan. Tapi sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar, akan dicerna oleh hati dan diolah dalam pikiran.”

Ungkapan al Qadhil Fadhil ini setidaknya memahamkan kita pada 3 pelajaran:

Pertama; Urgensi sejarah itu, bukan semata tentang apa yang kita saksikan. Sebab bila hanya berdasar kesaksian, berapa banyak yang telah menyaksikan sejarah. Namun urgensi sejarah itu, terkait tafsir akan peristiwa-peristiwanya.

Kedua; Urgensi menulis sejarah, bukan semata tentang cerita-cerita yang kita kumpulkan. Sebab bila hanya berdasar kumpulan-kumpulan cerita, berapa banyak yang akan bebas menuliskannya dengan hasil yang berbeda-beda bahkan simpulan yang berbeda-beda. Namun urgensi menulis sejarah, terkait periwayatan sejarah hingga tersambung pada orang pertama yang memahami konteksnya.

Ketiga; Urgensi sejarah dan urgensi menuliskannya tersebut, pada akhirnya untuk menyelamatkan segenap manusia dari korban perasaannya sendiri. Sebab bagi yang tak melihat dan tak mendengar suatu peristiwa, cenderung akan mencerna dengan segenap perasaan hatinya yang kemudian menjadi nutrisi bagi alam pikirannya. Tentu perasaan yang dominan, seringkali menghambat seseorang dalam mengoptimalkan akal guna mendapatkan hikmah dari sesuatu hal. Maka, sejarah yang tertulis beserta tafsir dari pelakunya, akan meminimalisir dominasi perasaan karena ketidak-pahaman.‎

1 komentar:


  1. Bolavita Agen Sabung Ayam S128 Bonus Setiap Deposit Agen permainan Sabung Ayam S128, membuka jasa layanan judi online yang mengunakan taruhan uang
    Ayam Laga Online merupakan permainan adu ayam / tarung ayam online yang menyediakan pertandingan adu ayam, adu ayam filipina, sabung ayam bangkok


    Boss Juga Bisa Kirim Via :
    Wechat : Bolavita
    WA : +6281377055002
    Line : cs_bolavita
    BBM PIN : BOLAVITA ( Huruf Semua )

    BalasHapus